Sakura berdiri di depan cermin kamarnya, menatap dirinya. Aku sudah dewasa sepertinya. Sudah lama aku tak melihatnya. Kaos coklat muda dengan celana bahan krem telah mengganti piyamanya usai ia membersihkan diri.

Dua pekan lagi sudah wisuda. Hmm, yukata juga sudah mama siapkan di rumahnya. Sebaiknya hari ini aku ke kampus, siapa tahu ada info kerja. Sakura terus membatin.

"Sakura-chan, kau mau pergi tidak? Aku mau berangkat," ujar Naruto sambil berdiri di depan pintu kamar Sakura yang memang terbuka. Sakura menyadari maksud Naruto untuk naik mobil bersama. Sakura mengangguk dan menghampiri meja belajarnya, menyiapkan beberapa barang. Mengayunkan kedua tangannya untuk menata isi tasnya.

"Ino bagaimana?" tanya Sakura. Ino selama ini selalu di rumah karena memang usahanya dilakukan dari rumah. Berdagang online. Bisa saja dia libur. Batin Sakura.

"Biasa, jualan," jawab Naruto. Akhirnya tidak berapa lama kedua manusia itu sudah naik mobil CR-Z keluaran Toyota.

Sakura menyadari perbedaan mereka bertiga dalam satu rumah. Naruto yang keluarganya borjuis, Ino yang dididik menjadi enterpreneur sejak kecil oleh keluarga sederhananya, dan dirinya sendiri yang memang dididik sebagai gadis manis dan baik. Sebagai pegawai yang berdedikasi.

Namun, perbedaan itu tidak menjauhkan mereka bertiga yang berbeda dunia. Ino dan Sakura masih senang bergantian memasak, atau kadang bila sempat, memasak bersama. Naruto mengurus rumah, terutama menjaga keamanan rumah mereka.

Jalanan Tokyo terlihat seperti biasa, penuh dengan kesibukan warganya. Sakura melihat ke arah perempatan yang dipenuhi pejalan kaki. Angannya melayang pada suatu malam 3 tahun lalu.

Hari sudah larut ketika sebuah mobil beridentitas membelah jalan lengang Tokyo. Supir taksi sedang menempelkan tangannya di setir, mengarahkan mobilnya ke tujuan dua penumpang di belakangnya: Universitas Swasta Konoha.

Sementara sang supir fokus menatap jalanan, dua penumpangnya sedang berdiskusi: tepatmya berdebat. Lelaki berambut merah tua dengan gadis berambut merah muda atau pink.

"Sudah kubilang jangan ikut ke Teater," ujar sang lelaki.

"Kau tak tahu, dosen yang menyuruh. Lagipula, aku mendapat peran jaksa di drama itu. Itu tugas akhirku."

"Lalu kenapa? Apa lantas kau harus ikut? Kau bisa pinjam DVD drama padaku," sang lelaki tidak menatap perempuan yang diajaknya bicara.

"Apa kau peduli selama ini dengan kuliahku? Tidak. Kau hanya menuntut. Kau hanya peduli pada tugasku sebagai sekretarismu di organisasi."

"Sakura.." Lelaki itu mulai memanggil sang perempuan.

"Bawa aku pulang sekarang, Gaara. Buat apa kau bawa aku ke kampus?" Gadis yang dipanggil Sakura itu mulai memperdengarkan suara serak. Menandakan ia sedang menangis.

"Tapi, aku tak bisa biarkan tetanggamu melihat kau pulang selarut ini. Pukul 1 pagi," Gaara mengelak.

"Lalu kau mau aku ke mana?" tanya Sakura, kini nadanya menunjukkan tuntutan.

"Menginap di asrama kampus, bersama Hinata."

Mendengar jawaban Gaara, Sakura semakin kesal. Wajahnya sudah mulai memanas.

"Bilang saja kau ingin bertemu dengan Hinatamu. Cih, menggunakan aku sebagai alasan. Aku mau pulang, Gaara."

Gaara menoleh, mendapati wajah Sakura mulai basah. Sepertinya ia baru saja menangis.

Kenapa aku tak menyadarinya? Gaara membatin. Seketika itu juga ponsel Sakura berdering.

"Ya, Hinata," sapa Sakura, menekan suaranya agar terdengar biasa.

"Sakura, kau ke asramaku, kan? Tadi Gaara yang bilang."

"Aku mau pulang saja."

"Jangan, Sakura. Bagaimana pandangan tetanggamu? Selama ini kau dikenal baik."

"Kalau kalian ingin bertemu, tak perlu menggunakan aku."

KLEK! Sakura menutup teleponnya.

"Sakura. Kau keterlaluan," ujar Gaara melihat ucapan Sakura yang terakhir tadi. Matanya sudah menampakkan ketidakpercayaan akan ucapan Sakura. Selama ini ia mengira Sakura adalah orang paling pengertian.

"Pak, tolong ke Perumahan Toyota," Sakura meminta pak supir untuk mengubah arah tujuan. Sang supir mengiyakan dan berbelok di tempat yang tepat, sebuah pertigaan. Bila lurus, mereka akan sampai di Universitas Konoha, tapi pak supir memilih berbelok.

"Sakura."

"Kalau tak mau, turunlah. Aku bisa pulang sendiri," ujar Sakura, kukuh dengan keinginannya.

Aku tak bisa membiarkanmu, Sakura. Kau perempuan. Gaara membatin di tengah berkecamuknya amarah. Akhirnya ia pasrah tubuhnya dibawa taksi ke rumah Sakura.

Kalau Naruto tidak berlibur ke Malaysia, pasti aku ada yang menjemput. Ino, sabarlah di rumah. Sakura membatin.

Taksi itu berhenti di depan rumah Sakura, dan Ino berdiri di pagar, menunggu Sakura. Ia sudah dikabari via sms tadi.

Saat Sakura merogoh tasnya demi menemukan uang untuk membayar, Gaara sudah melunasi biaya taksi itu.

"Sakura, aku pulang." Gaara naik lagi ke taksi setelah mengantar Sakura. Menembus kegelapan malam berdua dengan pak supir.

"Hei, kau diam?" tanya Naruto. Tangannya masih memegang kemudi mobil. Sakura menoleh kemudian memamerkan senyum termanisnya.

"Teringat seseorang," jawabnya. Kemudian jari lentiknya menekan tombol di salah satu komponen mobil, radio-tape. Dicarinya saluran radio yang menjadi favoritnya, channel 2. Tak berapa lama, music pop ballad mengalun, dengan suara Ayumi Hamasaki terdengar. Naruto membiarkan saja ulah sepupunya itu.

"Kau mau ke mana Sakura?" tanya Naruto lagi. Mereka sudah melewati Kantor Kementerian Pendidikan. Gedung dengan 14 lantai itu terlihat biasa saja dibanding gedung-gedung lain di sisinya yang jauh lebih menjulang.

"Kampus." Ujar Sakura, menjawab pertanyaan Naruto.

"Hmm, kita satu tujuan, ya? Kau mau temani aku makan, Sakura? Kau pasti kangen ramen di kampus," ujar naruto. Sakura menoleh.

"Benarkah masih ada? Lalu, siapa yang masak? Masih Kak Ayame?" tanya Sakura. Naruto menggeleng.

"Setelah nikah, Kak Ayame pergi ke Osaka," Naruto menyanggah perkiraan Sakura. Melihat Sakura menunjukkan wajah lesu, Naruto segera menyambung, "tapi rasanya masih enak, kok."

Akhirnya mereka berdua kembali pada kesibukannya masing-masing sepanjang perjalanan. Saat di depan gerbang, Sakura hanya menoleh sejenak ke gedung organisasi yang dulu ditempatinya selama 3 tahun.

"Ayo. Eh, Hinata!" panggil Naruto. Sakura menoleh demi mendengar nama adik kelasnya disebut. Hinata? Senyum tipis yang segera pudar telah ditampakkan Sakura untuk adik kelasnya.

"Sakura nee-chan, apa kabar?" sapa Hinata sembari bertanya. Sakura tersenyum dan menjawab sekadarnya. Basa-basi biasa. Naruto yang terlihat senang melihat Hinata, mengajaknya makan ramen.

"Wah, senangnya, tapi aku sedang mengerjakan laporan, Naruto. Gaara sudah menunggu," ujar Hinata, menolak halus permintaan Naruto. Sakura tidak menunjukkan perubahan ekspresi di wajahnya, sama seperti hatinya yang tak menunjukkan ekspresi apapun. Baginya Gaara tidak seperti dulu lagi. Baginya Hinata sudah tidak seperti dulu lagi. Akhirnya Hinata pamit dan membiarkan kedua rekannya berjalan menuju kantin.

Sementara itu, Hinata berjalan menuju gedung organisasi. Lantai 2 adalah tempat mereka semua—Sakura, gaara, dan dirinya—berkumpul dahulu, berbagi sedih dan ceria.

Pintu kayu berukuran 2x1 meter menyambutnya. Warna biru, warna khas jurusan mereka, menjadi ciri khas ruang itu. Tak hanya pintu, tapi juga keseluruhan warna dinding, dihiasi warna gradasi, masih biru.

Hinata masuk dan mendapati sosok lelaki gagah di depannya, sedang menghadap komputer. Kaos coklat muda yang dipakainya membuat Hinata meronakan wajahnya. Gaara terlihat sangat keren dengan penampilannya sekarang.

"Eh, Hinata," sapa Gaara ketika menyadari ada suara selain dirinya di ruangan itu.

"Iya, Gaara. Aku ingin mengerjakan laporan," ujar Hinata. Gaara menoleh.

"Pakai saja laptopku," ujar Gaara kemudian. Hinata menatap ruangan rapi dan wangi ini, mencari-cari sosok kotak berukuran 12" milik Gaara, yang skinnya berwarna biru. Lambang intermilan menjadi logo identitas laptop itu. Hinata menggeleng pelan, kemudian menghampiri laptop itu.

"Mana yang lain?" tanya Gaara sambil asik menatap komputer organisasi. Matanya sedang melihat foto-foto 3 tahun lalu yang masih ada di arsipnya.

"Sebentar lagi datang. Tadi ada Sakura nee-chan," jawab Hinata.

Tepat saat Gaara mendengar nama Sakura, matanya juga sedang melihat foto Sakura dalm balutan jas almamater, duduk manis di sebuah kursi. Ia memegang mikrophone, mungkin menjadi moderator. Gaara diam. Dendrit-dendrit di otaknya sedang menyambungkan nama Sakura dengan foto di depannya, juga beberapa memori terkait mereka berdua.

"Gaara, aku bawa bento. Ini untukmu," ucap Sakura sambil mengangsurkan kotak makan siang padanya.

"Wah, arigato, Sakura. Kau tahu saja aku belum makan," jawab Gaara.

"Dan kau malas makan kalau sudah ada proyek," sahut Sakura dengan nada meledek. Keduanya tertawa.

"Aku takut kau sakit, Gaara. Kau kan ketua." Ucap Sakura saat Gaara menyuapkan nasi ke mulutnya. Sakura hanya menatap, memandangi Gaara yang lahap makannya.

"Kau tak takut dibilang anak kecil, bawa bento setiap hari?" tanya Gaara.

"Meminimalisir pengeluaran kan bagus, Gaara," sahut Sakura.

Gaara mengingat salah satu kejadian bersama Sakura.

Kau memang baik pada semua temanmu, Sakura. Tapi, kenapa kau pergi di saat kami membutuhkanmu? Kenapa kau menghindar kala kami meminta bantuanmu? Gaara membatin.

Ia masih ingat kala 3 tahun lalu ia ditolak Sakura untuk membantu pengerjaan proposal untuk birokrat kampus. Sejak itu Sakura pergi dari kehidupannya meski masih 1 kampus. Sejak saat itu ia tak mengetahui keadaan Sakura. Seolah Sakura ditelan bumi. Bahkan Naruto tidak memberi tahu tentang Sakura meski sering Gaara traktir ramen.

Inikah saatnya? Sakura, kau datang ketika 2 pekan lagi kita akan benar-benar berpisah. Lagi-lagi gaara membatin.

"Sakura di mana, Hinata?" tanya Gaara akhirnya. Bila harus selesai episodeku dengannya, maka biar hari ini terakhir aku bertemu.

Hinata mendongak, menunjukkan wajah cantiknya yang selalu membuat pria tergila-gila.

"ke kantin bersama Naruto," jawab Hinata. Tak perlu menghitung detik, Gaara sudah beranjak dari kursinya dan berlari keluar.

"Apa Sakura masih berharga untukmu, Gaara?" tanya Hinata, saat tak ada siapapun di ruangan itu. Mata Hinata menangkap objek di layar komputer yang tadi digunakan Gaara. Wajah Sakura yang terpampang.

Gaara seperti lelaki kesetanan. Ia berlari di antara mahasiswa lain, terkadang berjalan cepat bila melewati dosen maupun orang-orang yang dilihatnya lebih tua. Gaara hanya menuju satu tempat: Ichiraku ramen.

Setelah menguras tenaganya, menuruni tangga gedung kegiatan mahasiswa, ia berjalan cepat, melewati satpam kampus, menuju gedung lain yang lantai dasarnya berisi kantin. Dan Ichiraku ramen di sana tentunya.

Gaara menyeberangi jalan besar antara gedung-gedung di kampus biru Konoha. Dilihatnya beberapa mahasiswa sedang berkerumun, seperti sedang asyik dengan sebuah bahasan. Tapi ia tidak sedang memikirkan apa yang mereka bahas. Ia hanya memikirkan apa yang akan ia katakan pada Sakura nanti. Dilihatnya Ichiraku ramen tinggal beberapa meter lagi.

Sakura, tunggu aku.

Sementara itu, Sakura tidak memesan ramen meski Naruto membujuk.

"Aku yang traktir," ujar Naruto. Sakura menggeleng.

"Ayolah, Sakura. Kau sejak bertemu Hinata jadi lesu begini?" tanya Naruto. Sakura mengarahkan matanya dari meja makan ke wajah Naruto. Naruto melihat mata sayu di depannya.

"Jus alpukat saja, Naruto," ujar Sakura. Naruto mengangguk dan memanggil pelayan.

Gadis berpakaian khusus kantin itu menghampiri meja Naruto dan Sakura.

"Ramen tempura pedas 1, jus jeruk 1, jus alpukatnya 1," ujar Naruto.

Sakura terus memamerkan senyumnya pada sang pelayan berambut hitam itu, sampai akhirnya ia mendengar suara yang tak asing.

"Lemonade 1 ya," ujar suara bass itu. Sakura menolehkan kepalanya, mendapati sosok Gaara di hadapannya, sedang berdiri.

"Hai, Sakura," ucap gaara sambil tersenyum. Senyum di wajah Sakura mulai memudar, terganti dengan ekspresi datar di wajahnya.

"Gaara, duduklah di sini," ucap Naruto. Pelayan pergi setelah mencatat pesanan mereka bertiga.

Sementara Sakura, ia tidak berekspresi.

-tsuzuku-

Nakamura, salam kenal juga. Iya, ini sedang berusaha memanjangkan kisah di chapter ini ^.^

Azuka, arigato. Semoga terus oke dan semakin oke ya gaya menulisnya sya

Utsukushi, ehehehe. Mungkin usulan itu bisa dipakai kelak :D

Nurika, ini diupdate…maaf lama ^.^

Amber, hehe, dimaklumi kok ^.^ sekarang bisa komen?

All, terima kasih sudah membaca ^.^ *sya tunggu reviewnya. Flame gapapa, kritik membangun malah bagus.