Meeting his family

Minami Luigi:tapi bnr kok aku bikin cerita ini gak ambil inspirasi dari yg penting sudah cukup umur.

SharifAisha: Yup kalo Gray ama Lucy selesai, bakalan Rogue.

Author: terima kasih atas review dukungannya … nyangka bisa ada yang review… on the story

Hina:I'm not own Ft

Meeting his Family

Lucy bangun saat matahari belum ada di atas ia mandi, Lucy pun memutuskan untuk duduk di balkon atas sambil menuangkan inspirasi yang ada di otaknya ke atas kertas. "Kau sudah bangun?"tanya Gray yang baru saja bangun dari tidurnya.

"Ohayou Gray"sapa Lucy.

"Ohayou,sebelum aku lupa Ibu dan Kakak – kakaku akan makan siang disini"kata Gray.

"Biar aku tebak kau mau aku memasakkan?"tebak hanya mengangguk. "Kalau begitu temani aku belanja"kata Lucy riang. "Sebelum itu ini"kata Gray sambil mengeluarkan kotak kecil berwarna biru dari saku bajunya. "Apa itu Gray?"tanya Lucy.

"Cincin keluargaku percaya"jawab Gray santai. Cincin yang diberikan Gray berwarna putih dengan batu safir biru diatasnya.Cukup mahal untuk pernikahan sandiwara pikir Lucy. Gray pun menyematkan cincin itu jari manis Lucy.

Bibir Lucy komat – kamit membaca daftar belanja yang ada di tangannya sementara Gray 'Sang Suami' mendorong kereta troly disamping Lucy." Jadi kita masih lama?" tanya Gray yang sudah kesal.

"Ya"jawab Lucy tenang. Dengan cepat Lucy dan Gray pun mengantri dikasir."Kau bisa masak Lucy?"tanya Gray selagi mengantri."Kau meragukanku Mr Fullbuster"jawab Lucy. Gray hanya menaikkan salah satu alisnya. "Kita lihat saja nanti."kata Lucy.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 saat mereka berdua sampai dirumah. Dengan cekatan Lucy memasak. Dalam waktu setengah jam Lucy selesai memasak spaghetti bolognase, selesai memasak dengan segera ia bersiap – siap untuk kedatangan keluarga Gray.

Lucy mengenakan gaun putih bermotif bunga matahari dengan lengan balon dan kerah 'v'. Ia juga mengenakan kalung dengan rantai emas putih dan liontin dengan bentuk snowflakes. Lucy hanya mengenakan bedak setipis mungkin dan lipstik berwarna pink lembut. Lucy juga membiarkan rambutnya terurai hanya jepitan rambut putih yang menghiasi. Sedangkan untuk Gray hanya mengenakan kemeja berwarna putih dan celana jeans hitam.

Selagi menunggu keluarga Gray datang. Lucy dan Gray duduk bersama di teras balkon. "Ne Gray, kenapa kau menolak di jodohkan?" tanya Lucy penasaran.

"Aku menyukai orang lain,teman masa kecil"jelas mendengarkanya dengan seksama."Kabar yang ku dengar dia tinggal kota Clover."lanjut Gray.

"Karena itu kau tinggal di kota Clover untuk mencari dia"kata hanya mengangguk."Aku pikir aku sudah menemukannya"kata Gray pelan.

Tiba – tiba suara bel berbunyi, Lucy dan Gray membuka pintu."Gray "panggil seorang wanita paruh baya.

"Mama,apa kabar?"tanya Gray.

"Baik,Ultear kakakmu juga ikut"kata wanita yang kemudian diketahui bernama Ur tersenyum kecil.

"Mama,kenalkan Lucy istriku"kata Gray mengenalkan Lucy,sementara Lucy hanya tertunduk malu."Sangat cantik Gray,"komentar Ur.

"Lucy,Aku ibunya Gray titip dia ya"kata Ur dengan senyum yang sangat lebar.

"Gray pintar memilih istri"kata Ultear sambil memeluk Lucy.

"Ur-san dan Ultear-san terlalu menyanjung"kata Lucy sambil mempersilahkan mereka duduk.

"Panggil aku mama Lucy"pinta Ur sambil menggengam tangan Lucy."Kau boleh memanggil aku kakak, aku sangat ingin adik perempuan"Kata Ultear bahagia.

"Baik mama dan kak Ultear"jawab Gray yang terpaksa membuat teh karena Lucy menjadi seperti boneka dikelilingi ibu dan kakaknya.

Saat makan siang pun tiba, mereka semua duduk di meja makan sambil menikmati masakan Lucy. Gray pun mengakui kelezatan masakan dan Ultear pun ingin pindah ke rumah Gray agar bisa menikmati masakan Lucy yang langsung di tolak mentah – mentah oleh Gray dengan alasan masih pengantin baru.

Jam menunjukkan pukul tiga sore saat Ur dan Ultear pamit pulang. Lucy dan Gray mengantarkan mereka berdua sambil berpegangan tangan. Selesai mengantarkan ibu dan kakaknya Gray membantu Lucy mencuci piring."Gray,ibu dan kakakmu sangat menyenangkan"kata Lucy sambil menguap.

"Tidurlah Lucy aku yang memberesakan sisanya"kata Gray.

"Tapi Gray…"belum selesai Lucy menyelesaikan kata – katanya. Gray memberikan tatapan – aku-bisa mengerjakan-sendiri- pada Lucy membuat yang bersangkutan langsung menuju tempat tidurnya dan memasuki alam mimpi.

Hanya butuh lima belas menit bagi Gray untuk menyelesaikan segala cucian piring kemudian ia mampir ke kamar Lucy. Gray memandang Lucy dengan penuh kasih , "Tolong cepatlah ingatlah aku"bisik Gray setelah itu ia mengecup kening Lucy pelan.