What happen with Rin (again)?!

•••

Tiga bulan berselang, Sesshomaru kembali dibingungkan oleh tingkah istrinya. Mood Rin berubah-ubah dengan cepat. Dan yang terparah, semua yang dilakukan Sesshomaru selalu salah.

Rin pun selalu bangun lebih dulu dan terburu-buru pergi ke kamar mandi, saat ditanya kenapa, bukannya menjawab, Rin malah marah besar, sampai mengusir Sesshomaru dari kamar.

Angin sepoi-sepoi mengayunkan rambut panjang perak milik Sesshomaru.

Jraasshh.

Suara air yang disemprotkan melalui slang membasahi daun-daun dan bunga-bunga yang disiram Sesshomaru, membuat suasana sore itu terasa segar. Syukurlah Kagome masih sering pulang kedunianya, dan selalu membawakan barang-barang yang dibutuhkan oleh Rin, seperti slang untuk menyiram tanaman-tanaman di halaman kastil.

Dengan tatapan datar, Sesshomaru menggeser tangannya, membasahi akar tanaman yang lebih besar.

"Sesshomaru-sama!" Seruan dan suara langkah kaki terburu-buru Jaken membuat Sesshomaru mengangkat wajahnya. "Sesshomaru-sama, Rin, Sesshomaru-sama!"

"Rin?" Gerak tubuh Sesshomaru menjadi siaga, "Kenapa dengan Rin?"

"E-etto," Jaken menunduk, meremas-remas tangannya, gugup dan takut, "Rin marah-marah lagi."

Lagi? Sesshomaru melempar slang yang terhubung kealiran sungai kecil yang mengelilingi kastil. "Sekarang, apa lagi masalahnya?"

Takut-takut Jaken mengangkat wajahnya, menatap Sesshomaru, "Rin tidak mau makan sayur, Sesshomaru-sama."

Hanya karena itu? Sesshomaru melangkah meninggalkan tanaman yang baru setengahnya ia sirami. Sebelum masuk kedalam kastil, ia memutar badannya, menatap Jaken yang berdiri tepat dibelakangnya.

"Ada apa Sesshomaru-sama?"

"Lanjutkan sirami kebun Rin, aku tidak mau dia juga marah karena hal ini."

"Ba-baik, Sesshomaru-sama."

Setelah mengatakan itu, Sesshomaru kembali melangkahkan kakinya, masuk kedalam kastiel. Baru melewati pintu saja, ia sudah bisa mendengar teriakan Rin dari arah ruang makan.

"Daging!"

Sesshomaru menghela nafas, hal seperti ini sudah terjadi sejak beberapa hari yang lalu. Rin sering mempermasalahkan hal apapun yang tidak ia sukai. Sampai hal kecil sekali pun.

"Tuan Sesshomaru?"

Sesshomaru mengerjap, Rin sudah berdiri didepannya, menatapnya dengan pongah.

"Saya ingin kerumah Kagome-neechan."

"Kau tidak jadi makan?"

"Saya tidak ingin makan!" Teriak Rin tiba-tiba, "Saya ingin ke rumah Kagome-neechan."

Sessshomaru tidak mengerti, tidak ada yang salah dengan pertanyaannya, kenapa Rin harus berteriak seperti itu?

"Kalau Tuan tidak mau mengantar, saya akan pergi sendiri."

Sesshomaru belum sempat mengeluarkan sepatah katapun, Rin sudah menghentakan kakinya, berjalan menuju pintu kastil.

"Rin?"

Rin tidak menggubris panggilan Sesshomaru, ia terus saja berjalan hingga sampai dipekarangan kastil.

"Jaken-sama!"

Jaken yang mendengar teriakan Rin langsung melemparkan slang dan berlari menghampirinya. Sesshomaru sudah memperingatkan Jaken soal perubahan mood Rin yang drastis, jadi ia tidak mau menambah masalah tuannya.

"Ada apa, Rin?"

Rin mendengus kasar, "Antar saya ke rumah Kagome-neechan!"

"Hee?" Jaken mengerjap. Menatap Sesshomaru yang berdiri dibelakang Rin.

Rin melotot pada Jaken, "Sesshomaru-sama tidak mau mengantar."

"Aku tidak bilang seperti itu."

Rin langsung memutar badannya, menatap tajam Sesshomaru, "Tuan mengatakan itu, dengan sangat jelas."

"Aku tidak bilang seperti itu."

Rin memutar badan, mengibaskan tangan dan rambutnya, tidak mau mendengar pembelaan diri Sesshomaru.

"Kalau kau juga tidak mau mengantar, saya akan pergi sendiri."

Rin menunggu, tapi Jaken juga tidak bisa langsung mengiyakan permintaan Rin, karena ia harus menunggu perintah Sesshomaru.

"Kau bersekongkol dengan Sesshomaru-sama! Kalian tidak mau saya pergi dari kastil! Kalian menginginkan saya terkurung disini sendirian!"

"Rin!" Sesshomaru memperingatkan, Rin sudah benar-benar keterlaluan, tidak ada yang pernah berpikir untuk mengurung Rin di kastil.

"Apa? Kalian jahat!" Rin mendorong Sesshomaru, hingga laki-laki itu mundur kebelakang, "Saya tidak mau bicara dengan kalian!"

Jaken melongo. Sesshomaru memijat pelipisnya yang terasa berdenyut sangat keras, tingkah baru Rin lebih mengesalkan dari bulan-bulan sebelumnya.

"Sesshomaru-sama, apa yang harus kita lakukan?"

Sesshomaru menghembuskan nafas dengan sangat pelan, "Panggilkan Kagome."

"Ha-hai, tuan."

Setelah Jaken pergi, Sesshomaru kembali menghela nafas, dan menghampiri Rin dikamarnya. Namun ternyata pintu dikunci dari dalam.

Tok, tok.

Sesshomaru mengetuk pintu, dan tidak ada respon dari dalam.

"Rin."

"Pergi! Saya tidak mau bicara dengan tuan!"

Sesshomaru terpaku.

"Sesshomaru-niichan!"

Sesshomaru langsung menoleh, kelegaan tersirat diwajahnya, begitu melihat Kagome berjalan mendekat kearahnya, namun dahinya mengernyit melihat siapa yang berjalan dibelakang manusia itu, Inuyasha.

Pantas saja secepat kilat, Kagome sudah sampai di kastilnya. Manusia setengah siluman itu mengantarnya. Kenapa ia harus heran?

"Tuan Jaken bilang sesuatu telah terjadi pada Rin, ada apa, niichan?"

Sesshomaru baru akan membuka mulutnya, suara klik, menggema disepanjang lorong, pintu terbuka dan Rin melongok dari balik pintu.

"Rin?"

Rin menoleh pada Sesshomaru, menatapnya dengan garang.

"Rin?"

"Neechan!" Rin langsung menoleh pada Kagome, dan berseru senang, "Ayo masuk, kita harus bicara."

"Kenapa?"

Rin menarik tangan Kagome, membawanya masuk kedalam kamar, "Sesuatu yang aneh terjadi pada Sesshomaru-sama—"

Hanya itu yang bisa Sesshomaru dengar sebelum Rin menutup pintu dan menguncinya kembali.

Sesshomaru memutar badannya, menatap Inuyasaha yang bersiul dengan kedua tangan yang terlipat dibelakang kepala, dan Jaken yang melongo mendengar perkataan Rin sebelum pintu ditutup.

Siapa yang Rin bilang aneh?

"Apa yang aneh?" Kagome menarik kursi rias Rin, dan duduk menghadap Rin yang duduk di pinggir tempat tidur.

Rin menggigit bibir, gugup, "Sepertinya aku hamil."

"Hamil?!" Kagome berseru kaget, menutup mulutnya dengan kedua tangan, "Kau yakin?!"

Rin mengangguk yakin, "Aku sudah telat datang bulan sejak tiga minggu yang lalu."

"Apa kau merasa..." Kagome menggerak-gerakan tangannya, memberi isyarat.

"Mual?" Kagome mengangguk, "Ya."

"Seberapa sering?"

"Cukup sering."

"Hmph," Kagome melipat tangan didada, menunduk dengan dahi mengernyit, "Rin, apa kau sering melakukan... itu?"

"Itu?"

"Ya, itu," Wajah Kagome bersemu.

"O-oh!" Rin mengangguk kaku, "Cu-cukup sering."

"Cukup sering?" Kagome mendekatkan wajahnya pada wajah Rin, menatap gadis yang lebih muda itu lekat-lekat, "Seberapa sering? Setiap malam? Pagi? Malam dan pagi?"

"Neechan!" Rin menutup wajahnya yang merona sampai ke telinga, "Aku tidak mau memberitahumu."

Kagome terbahak, "Mungkin saja, kau memang mengandung."

Rin mendengus, "Benarkan?"

"Ya. Lalu apa kaitannya dengan niichan?"

Rin menundukan kepalanya dan menghela nafas panjang, "Tuan Sesshomaru selalu tidak mengerti mauku, dia jadi banyak bertanya, dan berisik."

"Niichan berisik? Kau yakin?"

Rin cemberut, "Neechan tidak percaya padaku?"

"Bukan begitu..." Tapi, Sesshomaru berisik, itu seperti bukan dia. "Kau sudah memberi tahu dia soal kehamilanmu?"

"Soal itu,"

"Soal itu?"

"Aku tidak yakin tuan akan menerima kehamilanku."

Kagome mengerjap bingung, "Hee? Aku tidak mengerti."

"Neechan tahu sendiri tuan Sesshomaru tidak pernah mempercayai pun menyukai manusia, kecuali kita, tentu saja. Tuan juga tidak pernah menyukai manusia setengah siluman seperti tuan Inuyasha, mungkin, sekarang tuan Sesshomaru sudah tidak berniat menyingkirkan tuan Inuyasha, tapi tuan juga tidak pernah mengakui keberadaannya. Dan, bagaimana jika anakku ini ternyata manusia, atau manusia setengah siluman. Bagaimana kalau tuan Sesshomaru tidak mau menerima anak ini?"

"Hee, Rin, kau tidak boleh berpikir seperti itu," Kagome pindah duduk ke sebelah Rin, melingkarkan tangannya di bahu gadis itu, "Lebih baik kau membicarakan hal ini lebih dulu dengan niichan, dan juga jangan lupa untuk membicarakan sikap... aneh niichan." Err, Kagome benar-benar tidak yakin jika yang bersikap aneh itu Sesshomaru.

"Aku tahu."

•••

Sesshomaru menatap lurus ke arah Inuyasha yang duduk santai dan bersiul didepannya. Jam besar yang dibawakan Kagome sebagai hadiah pernikahan mereka dulu, berdentang lima kali. Sudah lebih dari satu jam Rin dan Kagome berada dikamar, dan sudah lebih dari satu jam juga dirinya terperangkap duduk berdua bersama manusia setengah siluman yang sampai saat ini masih ia benci. Jaken? Ia melanjutkan menyirami kebun Rin.

Suara tawa geli Kagome menarik perhatian Sesshomaru, siluman garang itu langsung berdiri.

Wajah geli Kagome, dan wajah merona Rin muncul melewati lorong. Sesshomaru menatap kedua wanita itu dengan kerutan didahinya.

Rin berdiri diambang pintu, sedang Kagome berjalan kearah Inuyasha dan mengerling pada Sesshomaru, "Ayo pulang."

Inuyasha berdiri menatap Kagome dengan dahi mengernyit, "Masalahnya sudah selesai?"

Kagome mengangguk dan tersenyum lebar, "Iya."

"Sou ka na." Inuyasha mengangguk-anggukan kepalanya, "Ya sudah."

"Rin ingin bicara denganmu, kak." Kagome mengedipkan matanya pada Sesshomaru, yang langsung mendapat sikutan tidak suka dari Inuyasha.

"Ayo cepat."

Kagome terkikik geli, ia melambaikan tangannya pada Rin, tanpa di antar pemilik kastil, Kagome dan Inuyasha melesat pergi dari sana.

Sepeninggal Kagome dan Inuyasha, Sesshomaru masih terpaku ditempatnya, ia tidak mau mengambil resiko memulai percakapan yang akan membuat Rin marah, lagi.

Dengan kepala menunduk malu-malu, Rin menghampiri Sesshomaru dan meraih tangannya, "Ayo bicara di kamar."

Sesshomaru tidak mengatakan apapun, membiarkan saja, Rin menariknya. Mungkin masalah benar-benar sudah terselesaikan.

Sesampainya di kamar, Rin menarik Sesshomaru agar duduk si tepi ranjang, sedangkan dirinya sendiri, berdiri dihadapan Sesshomaru dengan tangan melingkari leher suaminya.

"Tuan..."

"Hn?" Sesshomaru mendekatkan wajahnya pada wajah Rin, mencium istrinya, dan dengan sangat pelan menarik Rin agar berbaring ditempat tidur.

"Tuan!" Rin memekik, mendorong dada Sesshomaru agar menjauh, "Aku tidak mau itu."

"Tidak mau?" Sesshomaru mengerjap. Mengajaknya kekamar dengan malu-malu, dan melingkarkan tangan dileher... Apa ia salah mengartikan isyarat istrinya?

Rin menghela nafas panjang, ia tidak mungkin menolak hal seperti ini tanpa alasan. Jadi ia naik ke tempat tidur, menarik Sesshomaru agar berbaring bersamanya.

Sesshomaru menciumnya lagi, tangannya merogoh kebalik punggung Rin, menarik tali yang mengikat yukata yang dipakai istrinya, namun lagi-lagi Rin mendorongnya.

"Kenapa Rin?" Sesshomaru bangun dan mendudukan dirinya, begitu pun Rin, "Kau sedang datang bulan?"

Pipi Rin merona, setiap kali dirinya menolak, Sesshomaru selalu mengaitkannya dengan hal itu, "Tidak, bukan itu."

"Kenapa?" Sesshomaru mengangkat dagu Rin, menatap wajahnya yang terlihat ragu, "Ada apa?"

Rin malah memeluk Sesshomaru, menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.

"Kau baik-baik saja?" Sesshomaru mendorong pelan bahu Rin, agar ia bisa melihat wajahnya, namun Rin menolak dan malah mengeratkan pelukannya. "Rin, katakan apa masalahmu." Dan, sekali lagi, Rin menggelengkan kepala.

Sesshomaru menghela nafas pelan, ia membalas pelukan Rin, membiarkannya merasa nyaman dan tenang.

Cukup lama mereka berpelukan, Rin yang melepas pelukannya lebih dulu, "Tuan."

"Hn?"

Rin menghela nafas panjang, menundukan kepalanya, "Bisa tidak, jika malam ini kita libur?"

Sesshomaru mengernyit, bukan sekali ini Rin menolak, masih kental diingatannya, Rin selalu menolak jika setiap datang bulan. Tidak mood, tidak mau disentuh, bahkan tidak mau melihat wajahnya.

"Hn," Sesshomaru mengangguk samar, menarik lengan Rin agar kembali berbaring.

"Tuan?" Rin menyamankan tubuhnya, memain-mainkan tangannya didada Sesshomaru, "Apa tuan marah karena aku menolak?"

Sesshomaru menarik nafas sebelum berkata, "Tidak."

Rin menghela nafas lega, "Tuan, boleh tidak aku bertanya lagi?"

"Hn."

"Apa pendapat tuan tentang manusia?"

Tanpa berpikir pun Sesshomaru bisa menjawabnya dengan mudah, "Makhluk kotor, menjijikan, rendah, berego tinggi, dan tidak tahu diri."

"O-oh begitu," Rin menghela nafas berat, ia sudah tahu itu sejak lama, kenapa sekarang ia harus merasa sakit hati? "Bagaimana dengan manusia setengah siluman?"

"Sama saja."

Rin merasakan matanya memanas, Sesshomaru begitu membenci dua makhluk itu. Sudah pasti Sesshomaru tidak akan bisa menerima anaknya jika kelak terlahir sebagai manusia pun manusia setengah siluman.

"Itu yang aku pikirkan sebelum aku mengenalmu."

Rin mendongak dengan cepat.

Sesshomaru tersenyum tipis, mengusap perut rata Rin, "Aku berpikir, mungkin saja banyak manusia yang memiliki sifat jelek, karena didikan yang salah dari orang tua mereka."

Rin mengerjap, "Tu-tuan?"

"Mungkin jika seorang manusia terlahir kebumi, dan dididik dengan baik oleh orang yang baik, maka dia akan tumbuh menjadi orang yang baik."

Rin mendudukan tubuhnya, menahan tangan Sesshomaru agar berhenti mengusap perutnya, "Tu-tuan?"

"Mungkin, jika bayi ini, dididik oleh ibu yang cerewet, keras kepala, dan riang sepertimu, dia juga akan tumbuh menjadi manusia yang cerewet dan keras kepala..."

"Tuan!" Rin memekik, menutup mulutnya dengan tangan.

"...Atau tumbuh menjadi manusia setengah siluman yang periang dan banyak bertanya."

"Tu-tuan, tu-tuan tahu, saya..."

"Aku tahu," Sesshomaru ikut duduk dan menarik lengan Rin agar mendekat, "Aku tahu kau tengah mengandung."

"Tapi..."

"Aku tahu kekhawatiranmu tentang bayi yang akan kau lahirkan kelak. Aku tahu kau takut aku tidak akan menerima bayi ini, jika nanti terlahir sebagai manusia ataupun manusia setengah siluman."

Rin mendongak, menatap nanar Sesshomaru, "Bagaimana tuan bisa tahu?"

Sesshomaru mengetuk telinganya, "Kau lupa kalau suamimu ini memiliki pendengaran yang tajam."

Rin mengerjapkan matanya beberapa kali. Astaga! Bagaimana bisa ia lupa jika suaminya siluman yang hebat?!

"Aku mendengar semua pembicaraanmu dengan Kagome."

"Tuan menguping?!" Tuduh Rin dengan tatapan polos.

Sesshomaru menatap datar, "Tidak. Aku mendengar dengan jelas seruan Kagome."

"So-sou ka," Rin menghela nafas lega, "Jadi..."

"Aku menerima anak kita, manusia, setengah siluman, apapun kelak yang terlahir dari rahimmu. Aku menerimanya Rin."

"Tapi, bagaimana jika anak ini perempuan bukan laki-laki."

"Apa salahnya dengan anak perempuan?"

"Bagaimana jika sifatku yang menurun pada anak kita, bukannya sifat tuan?"

"Yang harus dikhawatirkan," Sesshomaru menangkup wajah Rin, dan menciumnya, "Jika sifatku menurun pada anak kita."

Rin mengerjap, "Kenapa?"

"Aku tidak ingin anakku bersikap dingin dan tidak memiliki perasaan."

Dahi Rin mengernyit, "Aku suka sifat tuan yang dingin, selalu terlihat keren, dan menjadi pusat perhatian semua orang."

Ekspresi Sesshomaru berubah menjadi sangat datar, "Apa kau sedang mengejekku?"

Rin terkikik geli.

"Kau mengejekku."

"Tuan!" Rin memekik kaget, Sesshomaru menjatuhkannya ke tempat tidur, menekan kedua tangannya diatas kepala, "Tuan! Aku tidak mood!"

Sesshomaru menjatuhakan tubuhnya di atas Rin, menyurukan wajanya di leher istri mungilnya dan menggeram disana, "Jadi, aku harus bersabar lagi?"

Rin melingkarkan kedua tangannya di leher Sesshomaru, memeluknya dengan erat dan tertawa. Sekarang sudah tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Sesshomaru pasti akan selalu bersabar untuk dirinya, dalam hal apapun.

"Rin."

"Iya tuan?"

Rin bergidik, bibir Sesshomaru berada ditelinganya, "Sikapmu yang berubah, bukan aku."

...O-oh.

••owari••

"Aku tahu." Ucap Inuyasha.

"Bagaimana kau tahu Rin hamil? Kau menguping?" Selidik Kagome.

"Kau lupa kalau aku ini siluman," Inuyasha menunjuk telinga anjingnya.

"Ah, iya. Kalau begitu... Niichan?"

"Dia juga tahu. Kau harus lihat tubuhnya menegang saat kau berseru Rin hamil."

"So-sou ka."

"Uh'um," Inuyasha melingkarkan tangannya dipinggang Kagome, dan berbisik, "Bagaimana kalau kita buat juga?"

Mata Kagome membulat, "Kau harus menjauhi tuan Miroku!"

•••

a/n : Gaje ya? Membosankan ya? Sabar(?) saja ya.

Saya merubah pikiran saya. Mungkin FF ini akan saya tambah 2/3 chapter lagi. *grins*

...Dan, terima kasih yang sudah review. Mau saya kasih chuu satu-satu? Sebagai ungkapan terimakasih. *winks*