Kali ini aku jatuh. Jatuh dalam jurang air mata dan rasa sedih yang selama ini kutahan. Jatuh dan kalah oleh air mata adikku. West, Ludwig, Jerman, kau adikku yang kusayangi dengan teramat sangat, mana mungkin aku menganggapmu penggangu? Bagaimana mungkin kau mengganggu tidurku? Aku bisa tidur tenang karena tahu kau baik-baik saja!
Aku menyayangimu dari lubuk hatiku. Karena itu aku menahan semua beban ini. Berusaha tersenyum dihadapanmu, berharap tak memberimu beban. Aku tak ingin meninggalkanmu. Mein Gott! Aku tak pernah mau dipisahkan darimu. Tapi apa yang bisa kulakukan? Aku yang sudah hancur seperti ini. Aku yang sudah tak punya sisa apapun untuk berdiri. Akhirnya aku hanya bisa memberimu senyum, berharap itu mengurangi bebanmu. Berharap itu menenangkan hatimu.
Ludwig, aku jatuh dalam jurang putus asa sejak tahu kita harus berlutut terinjak di bawah kaki para sekutu. Aku tak mau kau melihatku seperti ini. Karenanya, kututupi semuanya dengan senyum, dengan semua tingkah laku yang kusebut 'awesome' itu. Cih! Apa itu 'awesome'? Kau tahu, aku hanya pecundang! Hanya pengecut yang kalah dari rasa malu hingga menutupi semuanya dibalik kata 'awesome'.
Aku benar-benar tak ingin pergi! Kau tahu? Saat dimana aku membaca surat dari Old Fritz, adalah saat dimana duniaku hancur. Tapi aku tahu, kau masih ada dihadapanku, selamat dan baik-baik saja. Karenanya aku bangkit sekali lagi untukmu. Untukmu adik kecilku, bukan untuk Old Fritz, rakyatku, bahkan bukan untuk Hungaria.
Kukumpulkan semua serpihan diriku untuk membantumu tetap berdiri. Langkahi mayatku adikku! Aku rela! Apapun asal kau tetap hidup! Agar kau tetap menjadi adik yang kusayangi dan kubanggakan seperti selama ini.
Aku masih tenggelam dalam tangis dan tak menyadari adikku sudah berdiri disampingku sampai ia memanggil, "Bruder?"
Aku tak bisa berkata apa-apa, bahkan hanya untuk sekedar menjawab panggilannya. Aku hanya bangkit dan memeluknya, membuat tangisku makin menjadi. Aku merasakan tetesan hangat dipundakku, kurasakan tangan besarnya memelukku. Kami menangis, tenggelam dalam lautan lara. Tak perlu kata-kata. Dia tahu aku mendengar semua isi hatinya, dan aku yakin dia tahu isi hatiku hanya dengan melihat air mataku. Tak perlu kata, cukup satu pelukan hangat dan sendu air mata.
"Dummkopf.." Setelah lama kutenggelamkan tangisku didadanya aku berusaha bicara, walau dalam getar pita suara, "Kau.. jangan pernah.. berpikir.. seperti.. itu.. lagi!" Kulepaskan pelukanku, berusaha menatap matanya.
"Ja.. Ja Bruder.. maafkan.. aku." Dia kembali memelukku dan membenamkan wajahnya di bahuku, "Ich liebe meinen Bruder [Aku menyayangimu kak]." Aku hanya tersenyum lemah mendengarnya.
Tiga hari berikutnya kujalani dengan tidak terlalu banyak berpikir. Aku hanya melakukan apa yang bisa kulakukan. Pemerintahan jelas berangsur-angsur dibubarkan, tak ada lagi yang bisa kulakukan untuk mempertahankannya.
Siang hari setelah kejadian yang-amat-sangat-melankoli itu aku hanya diam dirumah, merenung. Merenung kenapa aku tak bisa mengangkat satu dus penuh tomat yang Italia bawa. Rasanya aku tak selemah itu. Di sisi lain kulihat West bisa menambah jumlah putaran larinya, seperti tenagaku berpindah ke tubuhnya. Aku berpikir dan sampai pada kesimpulan yang sebenarnya mudah sekali, jelas saja tenaga–atau kekuatan tubuhku—berpindah, toh sebagian rumahku akan menjadi 'Jerman' tak lama lagi.
Walau begitu, aku tak mau jadi sampah tak berguna di akhir hayatku. Kuputuskan untuk membantu rakyat disekitarku yang ingin bermigrasi ketempat yang lebih aman. Membantu mereka mengurus perizinan—yeah, dengan izinku semuanya akan mudah, bermain dengan anak-anak sementara orangtua mereka mengepak barang yang tersisa, bahkan membantu tukang kentang menghitung sisa dagangannya.
"Ein.. zwei.. drei.. vier.. [satu.. dua.. tiga.. empat..] ng?" Perhatianku teralih pada sosok dua bocah yang merengek pada ibu yang sedang membereskan barang bawaan mereka.
"Ayolah, ibu kan sudah janji!"
"Iya! Ayo!"
Rasa penasaran menggelitikku.
"Onkel[paman], semuanya sudah beres setelah bungkusan yang ini selesai kuhitung, kan?" Aku berusaha mengkonfirmasi pekerjaanku.
"Ja. Tinggal yang itu."
Setelah mendapat jawaban pasti, kupercepat hitunganku. Begitu selesai, segera berdiri dan beranjak.
"Onkel! Semuanya sudah selesai ya!"
"Ja! Vielen Dank! [Ya! Terima kasih banyak!]"
"Bitte! Kalau ada yang bisa kubantu lagi, bilang saja ya!" Sahutku ceria.
"Hahaha.. Nein, Herr Preuβen, mungkin ini terakhir kalinya kau membantuku, terimakasih untuk semuanya."
"Eh?" Jujur saja, aku tak ingin mengerti maksud ucapannya. Melihat wajahku, paman penjual kentang hanya memberiku senyum lembut sebelum berkata,
"Maksudku berterimakasih adalah, terimakasih sudah menjadi negara, rumah, serta kampung halaman yang besar, teduh, nyaman dan tentram. Aku bangga memiliki darahmu Herr Preuβen."
Diam sejenak dan angin berhembus, menerpa wajah, mengacak rambut albinoku dan uban lelaki tua dihadapanku. Aku bahagia akan rasa cinta yang diberikan seorang rakyat padaku, menandakan perjuanganku tak sia-sia. Hatiku bergelora. Tapi kejadian yang menanti diujung minggu menggantinya dengan lara. Aku tak punya daya. Akhirnya hanya senyum lembut yang kuberikan padanya.
Dia memelukku erat, aku kaku. Lagi-lagi menahan air mata diujung pelupukku. Oh, jangan panggil aku cengeng. Coba kau tanya orangtuamu bagaimana perasaan mereka saat akan meninggalkanmu, dan mereka akan menganggap normal air mataku.
"Terimakasih. Terimakasih banyak. Aku—kami semua—mencintaimu. Aku tak akan melupakan asalku. Tak akan kuhilangkan rasa bangga sebagai 'Prusian'. Dimanapun aku hidup kelak, kau tetap negaraku. Satu, dan tak terganti."
Kubalas pelukannya, kuusap punggung renta itu. Berharap menentramkannya. Hanya seuntai kata lembut yang bisa kuucapkan.
"Vielen Dank Onkel."
Negaraku hilang. Eksistensiku melayang. Sungguh tak ada dipikiran, pelukan dari rakyat tersayang akan menentramkan saat ajal membayang. Berjuang, berdarah, dan jiwa-jiwa melayang ditengah medan perang seakan hanya siluet untuk dikenang.
Setelah beberapa saat dia melepaskanku. Menepuk pundakku dan menatap lembut mataku.
"Kau mirip dengan anakku yang tewas di medan perang." Katanya sendu, lagi-lagi bibirku hanya melengkung. "Kuharap kau menemukan kebahagianmu sebelum kembali padaNya."
"Ja." Jawabku lemah. Kenapa tiba-tiba terbayang Hungaria?
"Sebaiknya kau istirahat, wajahmu pucat." Ucapnya lembut.
"Tidak paman, aku tak mau diam saja disaat seperti ini, gak awesome! Aku yakin masih banyak yang membutuhkanku." Aku menjawab dengan semangat. Cengiran menghiasi wajahku saat menunjuk keluarga pengungsi yang anak-anaknya masih merengek.
Paman penjual kentang hanya menghela nafas sebelum berujar, "Yah, kalau itu memang maumu aku tidak bisa apa-apa. Toh, aku tak mungkin jadi satu-satunya rakyat awesome yang kau bantu, kan?" dia mengakhiri dengan cengiran lebar.
Aku memperlebar cengiranku saat kata awesome terlontar dan benar-benar beranjak pergi, "Ja! Aufwiedersehen [Selamat tinggal] Onkel!"
"Aufwiedersehen Herr Preuβen!"
Aku melambaikan tangan dan melangkah pergi, menghampiri dua bocah pirang yang masih merengek pada sang ibu.
"Gute Tag. Ada yang bisa kubantu disini bocah-bocah awesome?"
"Herr Preuβen!" Sapaanku berhasil mengalihkan perhatian mereka yang sekarang memeluk perutku.
"Ah, Gute Tag Herr Preuβen." Sapa si ibu, "Maaf, mereka merepotkanmu."
"Hahaha.. Tidak kok." Aku menjawab sekenanya, "Nah, sebenarnya kalian mau apa? Rasa awesome kalian bisa berkurang drastis kalau merepotkan Mutti." Aku bertanya sambil mengelus rambut kedua anak itu dan berjongkok untuk menyamakan tinggi dengan mereka.
"Habis.. Ibu kan sudah janji akan menemani kami main hari ini." Jawab si adik laki-laki.
"Iya, ibu janji menemani kami main menggantikan ayah." Tambah si kakak perempuan.
"Memang ayah kalian kemana?" Tanyaku tanpa tahu efek dari pertanyaan itu.
"Ayah pergi membawa senjatanya dengan bangga sekali. Tapi lama tak kembali." Jawab sikecil polos.
"Tapi minggu kemarin ayah kembali didalam peti sambil tertidur, kata ibu, ayah tak akan bangun lagi, jadi ibu yang akan menemani kami." Lanjut si kakak.
Sekelilingku seakan berhenti. Dadaku sesak, nafasku sulit dan air dingin serasa mengguyur tengkukku. Kulirik si ibu yang hanya menggeleng lemah dan membuang muka, berusaha menutupi isakannya. Kepalaku kosong. Kuraih dua bocah bertampang bingung dihadapanku, kurengkuh mereka dalam peluk.
"Maafkan aku." Bisikku lemah. Tanpa sadar meneteskan air mata di rambut pirang mereka.
"Herr Preuβen kenapa? Kok bilang maaf?"
Aku tak cukup kuat melindungi kalian. Tak cukup besar untuk kalian bernaung tanpa rasa cemas.
"Apa ada yang sakit? Kok nangis?"
Hatiku sakit nak, kalian terlalu kecil untuk ditinggal sosok seorang ayah.
Mestinya aku tahu perang tak akan membawa kita kemana-mana. Mestinya aku sadar perang tak akan menghasilkan apa-apa. Mestinya aku sudah tak merasa. Tapi kenapa sembilu masih bisa membuatku terluka?
"Herr Preuβen?" Panggilan kedua anak itu membuatku tersadar lagi. Kutatap kedua anak itu.
"Aku tak apa-apa kok." Kujawab rasa cemas dalam wajah mereka. "Nah, bagaimana kalau kalian main denganku saja? Waktuku luang sekali hari ini." Lanjutku sambil tersenyum lebar.
"Benarkah?" Mereka bertanya berbarengan, rasa cemas benar-benar hilang dari wajah.
"Herr Preuβen, tidak apa-apakah?" Tanya si ibu menghampiriku.
"Tidak apa-apa. Tenang saja. Lagipula kau mesti mengurus surat-surat tidak awesome itu untuk keluar dari sini, kan? Biar aku yang jaga mereka. Temui kami di taman saat semuanya beres."
Wajah si ibu terlihat membaik. Senyum mulai tampak diwajahnya.
"Danke Herr Preuβen."
"Bitte Frau." Aku menjawab singkat dan menggendong si adik di leherku. "Nah, ayo berangkaaattt." Lanjutku sambil berlari kecil, diikuti si kakak perempuan di belakangku.
Kami cukup lama bermain, tak sadar matahari sudah tak lagi diatas kepala. Kami telentang kelelahan dibawah rindangnya pohon oak sambil menunggu datangnya ibu mereka. Angin berhembus, membelai wajah. Hening beberapa saat sampai si adik terduduk bersuara.
"Herr Preuβen, kenapa kau harus pergi?"
"Eh?"
"Ibu, kakek, dan kakak penjual es krim bilang karena kau akan pergi, maka kami juga harus pergi dari sini." Si kakak menambahkan dan ikut terduduk. Aku bangkit dan menyandarkan punggungku pada batang besar pohon oak, ikut terduduk ditengah mereka.
"Kapan kau kembali?" Pertanyaan ini sulit. Jujur saja.
"Eh, er… Mungkin aku kembali, mungkin tidak." Bohong itu tidak awesome!
"Sama seperti ayah?" Sekarang pertanyaanmu hebat nak, aku harus jawab apa?
"Yah, boleh dibilang begitu."
"Kenapa? Semuanya selalu bilang kau hebat dan kuat. Kau negara, tak bisa dikalahkan dengan pedang, atau bahkan panah dan peluru!" Ujar si bocah laki-laki sambil memukul dadaku.
"Aku percaya kau berbeda dengan ayah, dengan kami semua. Aku percaya kau tidak akan mati semudah itu. Tapi.. uh.. kenapa.. hik.. kau harus pergi..hik.." Si kakak menambahkan dengan berderai air mata.
Kurangkul dua anak itu dalam pelukanku sementara mereka terus terisak, teringat akan ayah mereka dan mungkin lelah akan ini semua. Aku terus memeluk mereka dan tanpa sadar mengeratkannya.
"Shuush.. Tenang ya, tenang.. Lihat aku masih disini kan? Tenang ya." Aku berusaha menenangkan mereka sambil mengusap punggung mereka.
"Hik.. ayah.. uh.."
"Uh.. aku.. ingin kuat.. aku.. ingin jadi negara.. hik.. supaya bisa melindungi ayah.. supaya bisa bertarung bersamamu.. hik.."
Aku tercekat. Tertohok tepat di ulu hati. Tidak nak, kuharap keinginanmu tak terkabul.
"Hush.. Sudah.. diam ya.." Aku melepaskan dan mengelap air mata mereka. Teringat air mata Ludwig yang langsung kutepiskan.
"Dengarkan aku." Mendengar nada bicaraku berubah mereka menatapku. "Dengar, kalian harus mensyukuri hidup kalian sekarang, oke?"
"Ta, tapi.. Kalau aku jadi negara, aku tidak mudah mati dan bisa bertarung bersamamu." Si kakak berusaha mengumpulkan tenaganya kembali.
Kutatap dia sebelum membalas. Sosoknya mirip Hungaria kecil, hanya saja berambut pirang dan matanya lembut. Hungaria, kapan ya terakhir kita perang bersama? Sebelum akhirnya kau memutuskan pergi bersama pianis manja itu?
"Kau tahu? Tuhan memberikan kalian nyawa agar kalian bisa kembali padaNya dengan tenang dan mudah. Tapi pada kami para 'negara' Dia tak berbelas kasih. Kami memang tak bisa mati hanya dengan peluru dan panah, tapi kertas dan perjanjian, bisa membuat kami tersiksa." Aku berhenti sesaat, menatap mereka yang ragu-ragu.
"Nah, makanya kalian sebagai warga kami, teman kami, keluarga kami, harus tetap bertahan dan kuat. Supaya negara kalian tetap bertahan. Oke?" Aku mengubah nadaku menjadi riang dan mengacak rambut mereka.
Sesaat mereka ragu, tapi kembali tersenyum kecil.
"Ja, Herr preuβen"
"Bagus, kalian awesome!" Cengiran kembali di wajahku. Mereka saling menatap sesaat dan ikut menampilkan tawa sebelum kembali memelukku.
"Schwester[kakak]! Jangan ikut memeluk Herr Preuβen!"
"Memangnya kenapa? Kalau sudah besar aku mau jadi istri Herr Preuβen!" Aw, aku tersanjung nak.
"Gak mungkin! Iya kan?" Tanya si adik sambil melirikku. Uh.
"Hahaha.. Masih terlalu cepat nona cilik, kalau kau tumbuh jadi gadis baik, akan kupertimbangkan." Jawaban aman yang agak gombal.
"Tuh, lihat? Wee.."
Si adik cemberut dan kembali membalas, "Tapi, Herr Preuβen sudah punya pacar tahu! Si kakak cantik berambut cokelat yang pakai bunga ditelinga kanannya!" Ah, aku tersentuh. tapi aku baru saja ditolaknya nak. Walaupun secara tak langsung? Yap, tanda tanya.
"Dia bukan pacarnya! Kakak perempuan itu kan pacaran sama pianis kacamata yang dari rumah besar itu!"
Auch.
Dan pertarungan terus berlanjut dengan pangkuanku sebagai arenanya—mereka tak peduli tentu saja. Setelah keduanya lelah, tanpa sadar mereka tertidur dipangkuanku. Kuelus lembut rambut pirang mereka. Wajah damai dua malaikat di pangkuanku membawa pikiran menjauh beberapa tahun atau bahkan abad yang lalu. Waktu aku dan gadis itu masih punya fisik sekecil mereka.
"Hei Prusia."
"Hm?"
"Aku terkadang iri dengan mereka."
"Iri?"
"Mereka tertawa, berlari, berkeringat—"
"Bukannya kita juga baru saja ngelaku— Aw.."
"Jangan potong ucapanku! Maksudku, mereka bermain dan tidak memikirkan apa-apa. Tertawa bebas, lelah, lalu tertidur, dan bangun tanpa memikirkan apa-apa. Tidak memikirkan perang, tidak melihat darah, dan tidak terbebani dengan perasaan gundah berkepanjangan."
"Hungaria, kau demam?"
"Aku serius tahu."
"Heh, tumben. Tapi kau ingat tidak sedang bicara dengan siapa? Aku ini si awesome Prusia! Lihat saja, akan kubuat satu tempat dimana kau bisa lari sampai lelah, tertawa sampai mual, dan tertidur sampai ngiler di bawah pohon!"
Seringai muncul dibibirku. Aahh Hungaria, lihatlah aku tak melupakan janjiku padamu. Tak hanya taman yang bisa kubuat untukmu, seribu menara pun akan kulakukan kalau itu untukmu.
Angin kembali berhembus menerpa wajahku dan anak-anak itu. Mereka meringkuk merubah posisi. Kulihat senyum mereka terpulas, entah kenapa membuatku membayangkan si Spanyol pedo itu akan iri sekali melihatku seperti ini. Dengan cengiran di wajahku kualihkan pandanganku ke langit. Membayangkan gadis itu ada disini bersama kami. Berlari, tertawa, berkeringat, dan telentang menentang langit. Aku melirik sikecil saat dia menggeram. Ah, Hungaria, kenapa anak-anak ini bukan anak kita?
Apa yang kulakukan ini membantu mengusir rasa cemas, tapi tidak untuk rasa sendu. Klise memang, tapi semua sudut kota—maupun negara—ini penuh dengan bayangan Hungaria. Dan tentu saja si aristokrat manja Austria.
Muak dengan kelebatan bayang mereka, kuputuskan membantu rakyatku di gedung pemerintahan. Tapi begitu aku menuruni satu persatu tangga landai di halaman gedung, perasaanku sudah tak bisa kudeskripsikan lagi. Sedih? Miris? Kesal? Entahlah, terlalu banyak rasa merangsek masuk secepat rasa cemas menghilang. Tapi yang kutahu sebuah kejadian langsung berkelebat dibenakku.
"Hungaria, kau tidak pantas tahu pakai baju perempuan, tubuhmu macho begitu!"
'Kau terlalu cantik, kembalilah jadi prajurit. Agar aku tak tersiksa menahan rasa ingin menerkammu'
"Kau! Berarti selama ini kau memperhatikan tubuhku terus ya? Mesum!"
Anak tangga pertama.
"Enak saja kau bilang aku mesum!"
'Aku cuma tak bisa mengalihkan perhatianku darimu'
"Memang kenyataannya! Siapa yang merobek baju dibagian 'itu' untuk membalut lukaku hah?"
Anak tangga kedua.
"Yah, beraninya mengungkit masa lalu. Buktikan yang sekarang dong!"
"Kalau yang sekarang sih, tidak perlu bukti! Semuanya sud—"
Anak tangga ketiga.
"Hungaria, awas!"
'Gawat! Apa kau baik-baik saja?'
"Aaww.. Sakit… Kau telat memberitahunya, bodoh!"
Anak tangga keempat.
"Kau juga salah, jalan ga hati-hati!"
'Mestinya aku berjalan didepanmu untuk mengantisipasi ini'
"Kau baik-baik saja Hungaria?"
Anak tangga keempat.
"A, Austria.. Uh.. Mungkin baik?"
'Tidak, kau tidak baik. Lenganmu berdarah, lututmu biru, bajumu tercoreng debu dimana-mana'
"Tanganmu tergores begitu. Harus cepat dicuci, nanti infeksi. Ayo kuantar, bisa berdiri?"
Anak tangga keempat.
"Bisa kok, cuma begini saj— Aww…"
'Gendong dia ala tuan putri sekarang bodoh'
"Bodoh, sok kuat banget sih! Ayo ku—"
Anak tangga keempat.
"Austria, tidak perlu memapahku! Biar si bodoh itu saja! Aku jatuh, kan gara-gara dia."
"Tidak apa-apa. Ayo."
Anak tangga keempat.
"Enak saja gara-gara aku! Kan kau yang jalannya tidak hati-hati!
"Iya, iya. Terserah kau saja tuan yang-terlalu-awesome-sampai-menolong-berdiri-saja-tidak."
Anak tangga keempat.
'Ha. Ha. Makan itu pengecut! Tidak punya nyali…'
Diam.
'…Kau yakin ada benda tergantung diantara kakimu? Banci!..'
Diam!
'…Kau sebut dirimu prajurit? Mengulurkan tangan saja kaku!..'
Diam suara sialan!
'..Mati saja sana!'
Anak tangga kelima. Bola mataku terbungkus air yang terus kutahan agar tak menitik. Brengsek.
