.

.

.

"Ino.."

Suara tersebut bagaikan hembusan angin yang lambat laun dengan sukses menarik Ino dari alam bawah sadar.

Chu~p

Lidah Itachi menari diatas permukaan kulit leher Ino, harusnya perlakuan itu menaikan gairahnya, namun sekeras apapun Ino mencoba untuk menikmati, gairahnya tidak juga timbul sama sekali.

"Enghh akhh! Itachi Nii"

Ino beralih menatap Itachi, menyelami iris hitam Itachi yang melayangkan tatapan heran.

"S- sakit Itachi Nii"

Ino menoleh kearah bawah, dan Ino terkejut begitu melihat tubuhnya dan tubuh Itachi sudah menyatu.

Dan dengan sekali hentakan diari Itachi, tubuhnya dan tubuh Itachi kini benar-benar saling menyatu.

Membuat Ino menjerit.

"Ada apa? Hm?"

Dirinya dan Itachi kini saling bertatapan, Ino berusaha sesantai mungkin menarik senyum dibibirnya.

Sebelah tangannya mengusap helai rambut Itachi.

"Tidak apa-apa, aku.. hanya takut"

Pipi Ino bersemu, melihatnya Itachi pun mengembangkan senyum.

"Benarkah? Jadi apa sekarang Ino chan masih takut?"

Kepala Ino menggeleng.

"Tidak Itachi Nii, t- teruskan saja"

Keduanya kini melepaskan tertawaan kecil, sebelum kemudian bibir Ino dan Itachi bertemu.

Selanjutnya Itachi meneruskan kegiatannya, sedangkan Ino kini kembali melayang bersama pikirannya kemasa-masa yang lalu.

Bibirnya memang tak henti-hentinya mendesah, tubuhnya menikmati saja penyatuan dengan Itachi.

Tapi tidak dengan pikirannya, Ino benar-benar terganggu dengan keberadaan Izuna.

Ia takut kenangan dengan Izuna itu nanti akan terkuak, Ino tidak sanggup mengatakan pada Itachi jika Izuna itu merupakan seseorang yang menjalin hubungan paling lama dengannya.

Apalagi Izuna itu sudah memiliki istri, jika sampai keluarga besar Uchiha tahu, bisa-bisa keluarga kecil Izuna juga hancur.

Greb

Ino terkejut, Itachi membalikan posisinya, hingga sekarang ia yang berada diatas.

Itachi meremas dadanya dengan kuat, sejujurnya Ino merasakan sakit, tapi didalam hatinya tidak mau mengungkapkannya.

Ia ingin Itachi menikmati tubuhnya sepenuhnya, terserah Itachi, lagipula tubuhnya ini sudah menjadi hak milik Itachi.

Itachi memegang kedua pangkal pahanya, lalu menaik turunkan tubuhnya.

Membuat milik Itachi masuk seluruhnya, Ino pun memejamkan matanya.

Rasa nikmat yang menderanya, berhasil membawanya seolah terbang.

Dan berhasil mengalihkan pikirannya dari Izuna.

"Aahhh.."

Suara tubuh bagian bawahnya dengan tubuh bagian bawah Itachi semakin terdengar, bahkan kini terdengar saling beradu.

Tak lama sesuatu mengalir keluar, Ino reflek menoleh kebawah dan melihat cairan putih sudah membasahi organ intim mereka berdua.

Ino kemudian bangkit dan berbaring disamping Itachi lalu memeluk Itachi.

"Nande?" Itachi mengelus rambut Ino.

Ino menggeleng.

"Tidak apa-apa, aku mencintaimu"

Itachi tertawa pelan, "Aku juga mencintaimu"

"Hoamm"

Itachi menguap, setelahnya menutup mata.

Ino menumpu wajahnya diatas wajah Itachi.

"Itachi Nii, masa tidur duluan"

Dengan mata memejam Itachi meraih pinggang Ino dan membawa tubuh Ino kepelukannya.

"Ayo tidur, aku mengantuk Ino"

Lama terdiam Ino kemudian mengangguk.

"Besok pagi dilanjut lagi" sambung Itachi.

Sekali lagi pipi Ino merona, lalu kemudian memukul dada Itachi.

"Itachi!"

oOOo

Ting Tong

Jam menunjukan pukul 09.30 pagi, bel pintu depan berbunyi, Ino penasaran dengan tamu yang datang diwaktu pagi begini.

Kalaupun ibu atau ibu mertuanya yang datang pasti mereka akan menelpon dulu.

Ting Tong

Bel pintu kembali berbunyi.

Drrt Drrtt

Dan saat akan keluar ponsel ditangan Ino berdering, dan saat melihat siapa yang menelpon.

Rasa penasaran Ino seketika meluap.

"Moshi Moshi Kaa-San"

"Ino, aku meminta Sasuke dan Izuna mengantarkan kado pernikahan kalian berdua, jadi sediakan saja mereka minum ya"

Ino jadi mematung.

"Ino?"

"Ah Hai Kaa-San, baik"

Setelah sambungan telpon berakhir, Ino pun melangkah kedepan, kemudian membuka pintu, adik iparnya serta seseorang yang membuat pacu jantungnya lebih cepat berdiri tepat didepannya.

"Lama sekali, mana Nii-San?" tanya Sasuke setengah mendumel.

Ino dengan kaku menunjuk kearah dalam.

"Itachi-Kun masih tidur, Sasuke-Kun" jawab Ino.

"Sou"

"Kami mengantarkan kado kalian, banyak sekali dimobil"

Ino mengangguk seadanya.

"Iya Sasuke-Kun silahkan kalian bawa masuk, tolong ya"

"Ya ya" sahut Sasuke.

Sedangkan Ino sesekali melirik Izuna, dan objek yang dilirikpun berlagak seolah didepannya tidak ada orang.

Izuna melangkah masuk, membawa serta susunan kado ditangannnya.

Ditempatnya Ino mematung.

"Bangunkan Nii-San, Ino"

Ucapan Sasuke membuat Ino seketika tersadar.

"Oh Hai Sasuke-Kun"

Sasuke dan Izuna secara bersamaan berjalan keluar menuju mobil.

Ino kemudian berbalik, berjalan dengan penuh lamunan menuju kamar, dan Ino terkejut saat sebuah tangan menariknya.

Ketika menoleh, kedua bola mata Ino sesaat melebar.

"Itachi Nii"

"Kau sudah bangun?"

"Kenapa berjalan sambil melihat kebawah begitu? Apa yang menarik dilantai?"

Ino tersenyum kaku, "A- Ano.."

"Lihat depanmu, kau hampir menabrak tembok Ino"

Bahu Ino tergelak saat melihat yang ditunjuk oleh Itachi.

"Ada apa? Dari tadi malam kau sudah mulai tidak fokus?"

Ino menggeleng, lalu memeluk Itachi dan menggesekan kepalanya didada Itachi.

"Tidak apa-apa, aku mau kebelakang, membuatkan minum untuk kalian"

"Sasuke mencarimu Itachi Nii"

Itachi mengangguk.

"Iya tadi ibu menelponku juga, jadi mana Sasuke dan Izuna?"

Itachi menepuk pelan puncak kepala Ino.

"Didepan Itachi-Nii, mereka mengantarkan kado kita, Itachi Nii bantu saja mereka"

"Baiklah"

.

.

.

Didepan meja dengan posisi duduk berhadap-hadapan, tiga orang dengan ikatan keluarga itu bercengkerama.

Tertawa selepas mungkin, bercanda dan saling melemparkan ejekan satu sama lain.

Ino hanya memperhatikan dari sudut lain.

Iris biru lautnya melirik satu persatu dari tiga orang itu, dan masing-masing dari orang itu membangkitkan satu demi satu kenangan yang pernah terjadi.

Terutama Izuna.

Dibanding dengan Itachi kenangan bersama Izuna lebih banyak.

Tapi bukan maksud Ino ingin menduakan cinta Itachi.

Disini Ino hanya bingung dengan pertemuan tak terduga dengan orang itu, mengapa malah terjadi disaat pergelaran pernikahannya.

Pria itu sudah banyak membuatnya menangis dan menderita, dan kini ia muncul lagi.

Namun kemunculannya kali ini tidak merusak hubungannya dengan Itachi, melainkan rasa tenang dihati Ino jadi terusik.

Banyak sekali pertanyaan yang timbul.

"Ino!?"

Suara Itachi menggema diruangan, sebelum kedapatan Itachi bahwa sedari tadi pekerjaannya hanya mengawasi mereka, Ino sekencang mungkin berlari menuju dapur.

Ia memutar kran di westafel dan kemudian membasuh tangannya, ia mengatur geriknya agar terlihat sesantai mungkin seolah ia sudah lama berada didapur.

"Ino!?"

Itachi sekali lagi memanggil namanya.

"H-Hai Itachi Nii?" jawab Ino seolah ia baru mendengar.

"Disini ternyata, Ino aku pergi sebentar dengan Sasuke dan Izuna ya"

Ino diam, lalu kemudian menatap Itachi.

"Tidak lama kan Itachi Nii"

Itachi mengangguk seraya menepuk pinggang Ino.

"Iya, sebentar saja"

"Baiklah"

Itachi menarik senyum.

"Aku pergi sebentar ya"

"Iya"

.

.

.

Ting Tong

Ting Tong

Alis Ino mengerut, perasaannya baru lima belas menit yang lalu Itachi pergi.

Dan sekarang Itachi sudah pulang?

Ino pun berlari menuju pintu luar, dan dengan buru-buru membuka pintu.

Dan saat membuka pintu mata Ino membelalak.

"Kau!?" ujar Ino setengah memekik.

Merasa kedatangan orang itu hanya mendatangkan masalah untuknya, Ino secepat mungkin menutup pintu.

Namun karena tenaga Ino kalah kuat, pintu yang semula nyaris tertutup itu kini terbuka lebar dengan tubuh Ino yang terhempas ketembok.

Brug!

"Itai!"

Ino memegangi punggungnya.

Izuna pun langsung masuk, lalu mengunci pintu.

"Mau apa kau?" Ino berujar sinis.

Izuna pun mendecih tak kalah sinis.

"Aku hanya ingin berbicara sebentar denganmu"

"Apa? Kau tenang saja, aku tidak akan bercerita pada Harumi-San kalau aku adalah selingkuhanmu dulu"

Izuna melayangkan tatapan mematikan.

Lalu mencengkeram dagu Ino.

"Kau yang mengejarku, dan kau yang mengemis cintaku meskipun sudah ditolak berkali-kali"

Kalimat barusan tepat menusuk jantung Ino, perasaan Ino baru semenit Izuna menginjakan kakinya disini.

Dalam waktu sesingkat itu pula pria itu sudah berhasil menghancurkan harga dirinya.

"Laki-laki kesepian mana yang mau menyia-nyiakan keuntungan yang berada didepan mata seperti itu? Kau saja yang kelewat percaya diri kalau aku mau berhubungan serius denganmu"

Ia tidak berkutik membantah kalimat Izuna, karena apa yang dikatakan Izuna memang sebuah fakta.

Tapi tidak kah kata-kata itu sangat keterlaluan.

Pelupuk mata Ino mulai dipenuhi cairan bening.

"Memang aku yang bodoh, lagipula aku sudah tidak peduli, kau jangan khawatir aku tidak akan mengatakan apapun pada orang-orang, jadi pergilah" usir Ino.

Air mata mulai menjatuhi pipinya.

Ditempatnya Izuna tertawa sinis.

"Arrogan sekali kau"

"Tanpa kau suruh pergi pun aku akan segera pergi, tapi sebelum pergi, aku ingatkan kau dan kau camkan baik-baik"

Dengan mimik wajah angkuh Izuna menunjuk wajah Ino.

"Kalau sampai hal itu terbongkar, aku tahu tidak ada sumber yang lain, selain kau"

"Dan kalau sampai terjadi, kau harus siap menanggung akibatnya"

Tangan Izuna merambat keleher Ino, lalu mencekiknya.

"Kau mengerti"

Dengan wajah memerah Ino mengangguk ketakutan.

.

.

TBC

Halo~ everybodyyy

Udah dilanjutin ya :D

Semoga suka lah ya.

Bdw, Arigatou for review.

Guest | Lmlsn

Shinji gakari |Fina |RyuiMochi97

ericajulyhonoka | hime yamanaka

INOcent Cassiopeia | Adekk

Uchiha Cullen738 | Juwita830

After All, happy idul fitri

Mohon maaf lahir & batin.

Love you All.