xxx Evil In Your Heart xxx
xxx Chapter 2 : Servant of Evil xxx
xxx Disclaimer : Original Story of PV Servant of Evil (VOCALOID©)by (gk tau xp ) xxx
xxx Naruto© Masashi Kishimoto xxx
xxx The Fanfiction by Rouri a.k.a Ma'I xxx
.
Summary : Keegoisan telah membuat Putri secara tidak langsung membunuh ratusan orang. Dia membiarkan hatinya dimakan setan. Bahkan dia telah membunuh hati seseorang yang senantiasa mengabdikan seluruh jiwa dan raga kepadanya. Membiarkan diri seseorang menderita dalam kesakitan yang tak Nampak. Pengorbanan nyawa demi adik 2up!
.
Kerajaan, tempatku tinggal. Dimana keputusan menyeluruh ada di tangan raja―Putri tepatnya, yang adalah saudari kembar imutku sendiri. Saudari yang teramat ku sayangi. Sekali pun seluruh dunia adalah musuhnya, aku akan tetap melindunginya. Dia, gadis berhati setan.
Kau adalah Nona-ku,dan aku adalah pelayanmu. Hamba senang bisa melayani Nona sepanjang waktu. Hamba abdikan nyawa dan waktu hamba hanya untuk Nona. Jika pun hamba harus menjadi setan demi melindungi Nona, maka hamba akan lakukan.
Jadi, kau hanya tinggal tersenyum dan tertawa di suatu tempat.
Uchiha Sai
.
Lonceng berdentang megah seolah mengundang tangisan sepasang bayi kembar. Hari ini, kedua bayi berambut hitam pekat ini dinobatkan sebagai penerus kerajaan dengan berkah yang diturunkan Tuhan melalui suara lonceng gereja yang menggetarkan telinga bayi. Entah konyol atau tidak, tapi orang-orang dewasa pada waktu itu mempercayainya. Bahkan kedua orang tua bayi ini serta merta tersenyum bahagia sambil mengendong bayi kembarnya. Bodoh.
~Sumpah, author ngantuk~
Namaku Uchiha Sai. Aku mempunyai saudari kembar bernama Uchiha Sasuke. Namun, keegoisan orang dewasa telah menciptakan takdir bercabang sepasang anak kembar yang menyedihkan. Sejak lahir kami sudah diberikan tugas untuk meneruskan pemerintahan kerajaan. Tugas tersebut dibagi secara kurang adil kepadaku dan saudariku. Alasan egois orang dewasa menyobek masa depan kami menjadi 2. Sasuke di bawa pergi entah kemana. Sementara aku tetap di sini. Kami dipisahkan sejak kecil, dimasa-masa yang seharusnya menjadi masa menyenangkan. Sekarang, takdirku adalah menjadi pelayan untuk Nona. Sementara saudari kembar ku sendiri diajari untuk memimpin sebuah kerajaan. Itu kabar terakhir yang ku dapat. Meski lonceng gereja memberkahi kami, nasib ini tetap harus terjadi. Nasib menyedihkan. Berkah untuk Sasuke.
Tahun demi tahun berlalu. Kini aku telah menjadi pelayan yang dilatih sempurna. Aku bukan sembarang pelayan murahan. Meski umurku baru menginjak 16 tahun, tetapi aku mempunyai sertifikat berrank S. Dengan bekal ini, ku putuskan keluar dari akademi dan tak menerima seluruh tawaran pekerjaan dari berbagai kerajaan. Menjelajahi dunia untuk mencari saudari kembarku, itu lah tekadku. Memang aku tak tahu dimana dia berada dan aku juga sama sekali tak mempunyai petunjuk yang mendukung tentang keberadaanya. Tapi takdir anak kembar adalah menjadi satu. Aku berhasil menemukan yang menjadi Putri Agung nan berkuasa. Satu-satunya yang membuatku yakin akan keberadaan saudari kembarku adalah ketika aku menemukan sebuah jam besar―pada bangunan gereja―dengan lonceng raksasa di jantung salah satu negara. Pasalnya, di kedua samping jam ada patung yang jelas aku tahu patung siapa. Itu adalah aku dan saudariku. Rupanya dia masih mengingatku meski 11 tahun lamanya tak bertemu.
Akhirnya aku bekerja di Istana sebagai Kepala Pelayan sekaligus pelayan pribadi Putri. Ini adalah sebuah ketidakadilan. Orangtua kami meninggalkan warisan berharga bagi Sasuke yang berhak atas kerajaan. Dan memberikan warisan pahit bagiku. Meski tugas pelayan adalah kehendak dari orang dewasa, tetapi aku melakukannya dengan senang hati. Karena aku bekerja untuk Nona―Putri Sasuke―Saudari kembar tersayangku, ku persembahkan hidupku hanya untuk melindungi Nona. Bahkan jika untuk melindungi Nona aku harus menjadi setan, maka akan ku lakukan. Selama aku melihat tawa dan senyum di wajah Nona―saudari yang ku sayangi melebihi apapun di dunia ini. Aku tak mau kehilangan dia lagi. Menjadi pelayan pun tak masalah. Setidaknya dia tetap menganggapku sebagai saudara kembar dan aku tetap melihat senyumannya.
Seberat apapun tugasku, semuanya menjadi ringan karena aku melaksanakannya demi orang yang paling ku sayangi di alam semesta ini. Aku melakukannya dengan hati. Aku paling senang ketika Putri tersenyum melihat camilannya yang berbentuk lucu. Dan aku suka sekali mengahabiskan waktu bersamanya. Waktu bermain yang dulu pernah sirna.
"Sai…"
"Hn?"
"Bagaimana bisa kau membuat bentuk kue semanis ini?" Tanyanya bernada polos. Semburat merah jambu dipipi putihnya membuatku gemas ingin mencubit.
"Bagaimana ya?" jawabku berpura-pura bingung. Aku sama sekali tak mencari jawaban. Mataku tertuju oleh Nona. Susah dibelokkan seolah ada tiang besi yang menahannya. Menikmati wajah polos elok Sasuke. Dia lucu sekali. Memainkan makanannya sambil tiduran di atas rumput. Bukankah ini pemandangan yang menyejukkan hati?
"aku hanya membayangkan senyuman Nona,"
Mata Nona beralih cepat ke arahku. Dimakannya kue jahe berbentuk bebek berwarna-warni itu dalam satu lahapan. Sehingga pipinya mengembung imut mirip bakpao. "Sungguh?" tanyanya kurang jelas. Aku terkekeh kecil mendengar suara lucu Nona yang penuh oleh makanan.
Beberapa kali Nona mendehem lalu meminum teh yang ku sodorkan, baru lah dia kembali berkata "Bagaimana bisa? Memangnya senyumanku mirip kue-kue ini ya?"
Dan aku….tertawa lepas. Bukan karena kalimat Nona, melainkan karena moment ini. Moment yang baru ku alami lagi setelah sekian lama terlupakan. Rasanya ini mimpi. Anak kembar yang dulu terpisah, kini kembali bersatu dalam sebuah candaan. Aku amat bersyukur.
Suatu hari, aku mengantar Nona pergi ke pesta dansa di negara tetangga. Aku menemani Nona sampai masuk ruangan. Setelah itu aku menunggu di luar karena aku tak punya hak diam di dalam sebagai pelayan luar. Walau pun aku saudara kembarnya tetapi seragam pelayan ini membuatku tak boleh berlama-lama di dalam. Sempat aku merasa kasihan pada nasibku ini. Namun semua itu segera ku tepis .
Kereta kuda demi kereta kuda berlalu lalang siap diparkir setelah tuan-tuannya turun. Sampai secara tak sengaja aku melihat gadis berambut coklat bermata lavender turun dari kereta kuda biru. Entah kenapa aku merasa dia tamu yang berbeda dari seluruh tamu yang ku lihat. Dia turun dari kereta dengan sangat anggun. Ketika dia tersenyum rasanya hatiku mencair seperti mentega swiss di pagi hari yang biasa ku pakai untuk melumuri roti bakar. Suaranya yang menggetarkan gendang telinga mencitrakan keramahan pemiliknya. Mata lavender keunguan yang jelas-jelas membuatku tak bisa berpaling. Sama seperti efek senyuman Nona terhadap mataku. Namun mata lavender ini berefek berbeda terhadap perasaanku. Mataku tertuju padanya meski aku tahu ada aturan pelayan tak boleh memandang lekat-lekat orang yang derajatnya lebih tinggi. Dia terlalu cantik. Oh, dia berbalik memandangku! Semula ku kira aku akan berada dalam masalah, tetapi Nona itu malah mengangguk ramah seraya tersenyum memperingatkan. Ahh…sungguh baik hati. Aku rasa, aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Sungguh menawan sekali Nona itu. Sayang, dia menggandeng laki-laki―Pangeran berambut kuning―yang artinya dia bukan perempuan single.
Sepulang dari pesta, tiba-tiba Nona menjadi pemurung. Dia terlihat bersedih. Tentu aku tidak menginginkan ini. Aku selalu melayani semaksimal mungkin. Pelayan bersertifikat seperti ku sukar sekali membuat kesalahan―memang seharusnya begitu. Aku ingin melihat wajah senyumnya, bukan kemurungan seperti ini. Nona sama sekali tak bercerita apa-apa pada ku―saudara kembarnya. Ada apa sebenarnya?
"Mau wafel, Nona?" tawarku yang berharap mampu mengembalikan senyumnya. Tetapi Nona hanya menggeleng singkat. Dia menolak? Menolak wafel yang adalah camilan favoritnya?
Maka hari itu pun datang, ketika Nona tiba-tiba meminta sesuatu yang sulit ku kabulkan… agar seluruh gadis bermata lavender mati. Perintah yang terasa menusuk. Hati ku terguncang. Bagaimana mungkin? Itu artinya, gadis yang pernah ku jumpai juga harus ikut mati? Gadis ramah bermata lavender!
Apakah aku sanggup membunuh orang yang aku cintai demi orang yang aku sayangi? Aku tak tahu. Aku masih terguncang. Hatiku mendadak sakit. Mana yang harus ku dulukan? Mana yang lebih penting?
"Aku tidak mau tahu. Pokoknya seluruh gadis bermata lavender! MEREKA HARUS MATI!" kata Nona ketika aku memintai alasan. Kalimat itu bukan alasan yang ku inginkan, Nona. "Sai…ku mohon…" dan aku tak sanggup ketika dia memanggil namaku dengan nada memelas. Kesucian hatiku luntur demi Nona tersayangku. Mungkin aku sanggup melakukan tindakan bengis hanya karena mendengar suara itu. Aku tetap seorang Pelayan, dan saudari yang sangat ku sayangi ini adalah Nona-ku.
Nasib bercabang membagi Lovely twins.
Meskipun menyakitkan, asal bisa melihat mu tersenyum, apapun akan ku lakukan. Aku benar-benar menyangimu, Nona. Sangat…
"camilan hari ini wafel bintang cerah secerah Nona." adalah kalimat yang sering kali ku katakan dengan tersenyum hangat membiarkan Nona sedikit penasaran dengan bentuk camilan yang ku buat.
Di setiap siang aku berharap terus dapat bermain bersamamu. Melayani mu, bercanda denganmu, dan melihat tawamu. Sebuah tawa yang benar-benar polos dan aku tidak ingin bilamana tawa itu menghilang. Jika Nona berharap gadis itu mati, aku akan melaksanakan perintahnya. Apa pun yang terjadi.
Tetapi kenapa air mataku tak berhenti mengalir? Bukan kah keputusan mematuhi perintah Nona adalah benar? Dan Nona kembali tertawa, tapi kenapa? Kenapa ada secerca rasa sakit ketika wajah senyum itu nampak? Tuhan…benarkah dulu Engkau pernah memberkahiku melalui dentuman lonceng gereja?
Aku benci mengingat hari itu dimana hari akhir untuk bangsa Hyuuga. Aku ingat jelas bagaimana tangan ini membunuh orang-orang tak berdosa. Masih terlihat jelas bagaimana darah gadis yang ku cintai melumuri pisau ku. Tentu masih terdengar jelas juga percakapan singkat antar kami berdua ―aku dan gadis bermata lavender―waktu itu…
"Maaf, Nona…" kataku ramah begitu mengunjungi salah satu toko roti. Kunjungan yang sangat tidak menyenangkan.
"Ya? Ada roti yang ingin anda beli?" jawabnya ramah. Cocok dengan wajah senyumnya.
"tidak. Permisi Nona, bolehkah…aku…." Kalimatku terputus-putus, tak kuasa melanjutkannya.
"Ya?" dia mengerut penasaran. Kami bertatapan cukup lama. Nampaknya dia kesulitan melihat―tepatnya mencari―mataku yang tertutup jubah. Tiba-tiba terdengar jeritan menyakitkan dari jajaran rak roti. Pandangan gadis ini beralih ke sana, namun tak lama karena dia segera kehilangan pandangannya. Bahkan dia tak punya waktu untuk menjerit merasakan kesakitan. Memang itu maksudku. Tak perlu dengan rasa sakit.
"Bolehkah….aku tahu…nama mu?" tanyaku lemas melengkapi kalimat yang belum terselesaikan tadi, masih menatap mata gadis ini. Mata lavender melotot kaget diserang tiba-tiba, dibunuh tepatnya. Dia mungkin tak merasa sakit, tapi hatiku yang merasa sakit meski tak terkena pisau setajam ini.
Mungkinkah hari itu adalah mimpi? Karena aku masih tidak percaya telah membunuh gadis yang ku cintai. Cinta pada pandangan pertama yang juga cinta pertamaku. Darahku mendesir dingin membuat bulu kuduk berdiri tiap kali ingat darah yang melumuri pisau dan tubuh gadis yang ku cintai. Ugh. Perintah itu adalah satu-satunya perintah yang meninggalkan luka hati.
Lantas, perjunganku membahagiakan Nona Sasuke apakah cukup sampai di situ? Tidak. Beberapa hari selanjutnya, orang-orang dari kerajaan lain Nampak berbondong-bondong dengan api kemarahan. Bahkan tak jarang terlihat banyak diantara mereka mengacung-acungkan senjata. Tak perlu cari tahu, aku tahu maksud mereka. Mengincar Nona. Ini persis seperti dugaanku. Sepintar apapun aku membersihkan jejak atas tragedy Hyuuga, pada akhirnya pasti ketahuan juga. Sebelum lebih lama lagi, kemarahan orang-orang kota mungkin akan menjatuhkan kami. Sekali pun kami―aku dan Nona―pantas menerima ini, tetapi aku akan menentang mereka.
Dalam keadaan panic, aku mendekap Nona dalam pelukan yang ku harap dapat menenangkannya. Bisa ku rasakan…betapa tubuhnya gemetar ketakutan. Bisa ku rasakan…betapa kuat usahanya menahan isak. Bisa ku rasakan betapa sakitnya kerongkonganku menahan jerit frustasi.
"ini, aku pinjami pakaianku. Pakai ini dan pergilah!" kataku ramah sambil memberikan satu stel pakaian pelayan. Ku tampilkan wajah ramah seolah-olah tak ada bahaya macam apapun mengancam. "Semuanya akan baik-baik saja, kita kembar, tak satupun orang yang mengetahui fakta itu. Tidak akan ada yang memperhatikan. Kau mirip sekali denganku" aku berusaha meyakinkan Nona yang benar-benar berwajah khawatir. Matanya berkaca-kaca siap menangis. Oh, dia ketakutan. Maafkan aku Nona, maaf….telah membuatmu masuk dalam ketakutan ini.
"Aku tidak mau pergi!" bantahnya dengan suara sumbang
"Tidak. Kau harus pergi" aku mengusap lembut rambut hitam kelamnya. Menikmati bentuk onyx yang bercucuran air mata untuk yang terakhir kali. Mencium wangi shampoo khasnya yang mungkin juga untuk terakhir kali. Meski kali ini dibingkai wajah tangis, bukan tawa. Berjanjilah untuk tak pernah melupakanku, Nona…
"Sai…sai!" rengeknya yang jelas-jelas dibantah telingaku untuk tidak peduli.
"Cepat, pergi!" sentakku berusaha setegas mungkin.
"Aku tidak mau…kakak! Kakak…"
Sasuke….memanggilku 'kakak'? untuk yang pertama kalinya dia memanggilku kakak… kenapa harus dalam situasi seperti ini? Letupan demi letupan pecah dalam dada ini. Aku sendiri kurang faham dengan perasaan ini. Ku rasakan gembira sekaligus sedih, ku rasakan kesal, marah, lucu dalam satu waktu. ahh ini sangat membingungkan.
Ku kecup kening putih pucat polosnya dan merasakan getaran nafas ketakutan. Hatiku menjerit sakit. Tahu bahwa ini adalah kecupan perpisahan. Aku tak bisa menerima. Sangat tidak bisa. Belum 2 tahun aku bersama Sasuke setelah sekian lama berpisah. Yang tadi merupakan kecupan singkat, kecupan pertama dan terakhir dari seorang kakak seperti ku.
Aku memaksa Nona pergi. Bahkan aku mendorongnya keluar ke pintu belakang Istana sebelum pasukan berhasil mengurung istana. Rakyat Uchiha tidka bisa menahan mereka lebih lama lagi. Selain itu, banyak juga rakyat yang berkhianat terhadap negara. Aku tidak merasa heran atau marah atas pengkhianatan yang mereka lakukan. Itu wajar dan memang sepantasnya.
Kau adalah seorang tawanan, adik ku sayang. Jika kau dinyatakan sebagai setan, maka darah setan yang sama dalam tubuhmu ikut mengalir di urat-urat nadiku. Biar ku ganti posisimu. Aku juga masih setan, dan kematianku tak akan sia-sia. Biarkan aku yang menjadi dosamu. Pergilah kau surga untuk tersenyum tentram dalam kebahagianmu, dan aku akan pergi ke neraka demi kesalamatanmu. Menjagamu dari sini. Menikmati senyumanmu dari sini. Meski pun seluruh dunia menjadi musuh mu, aku selalu melindungi mu. Jadi, tetaplah tersenyum!
Sesuai rencana, kini aku berpura-pura menjadi Nona. Bertukar identitas adalah cara terakhir yang bisa menyalamatkannya. Nasib benar-benar membagi pasangan kembar yang bersedih ini.
Aku tetap seorang pelayan dari Nona. Jika untuk melindunginya perlu menjadi setan,akan ku lakukan. Harus ku lakukan…
Layaknya Nona bila sedang berhadapan dengan orang luar, aku bertingkah angkuh begitu orang―mirip cewek tapi berambut cowok―dengan baju zirah berwarna Red menemukanku. Aku tetap duduk tenang sambil menyeruput teh hangat. Dia menggebrak meja membuat tehku lumber ke meja. Beberapa kue melompat kecil samapi ada hancur. Mata orang ini seolah berkata : ikut-aku-atau-kau-mati!
"Bisakah berlaku lebih sopan kepada seorang Putri, huh?" gumamku berlagak kesal. Gumaman samar namun cukup jelas untuk didengar. Sebisa mungkin aku berlagak sama persis dengan Nona agar kedok ku tak terbongkar.
Aku tak bisa melawan. Jika aku kabur, maka nyawa Nona tetap terancam. Dengan menyerahkan diri, artinya semua orang beranggapan Nona tak kemana-kemana. Ada di depan mata. Yang artinya juga bagiku, Nona asli dalam keadaan benar-benar aman.
Sudah dua hari aku dipenjara. Tak diberi makan apa lagi minum. Bagiku, siksaan ini tak seberapa bila dibandingkan dengan keselamatan Nona. Aku bisa bertahan jika begini saja. Ku pikir aku akan dipenjara lebih lama lagi, namun siang itu Red armor membuka sel dan menemuiku dengan mata emerald berkilat.
"Kau," ujarnya datar.
Aku memberinya tatapan layu sementara dia tak berhenti menusukku dengan mata emerald beningnya.
"kau bukan Putri 'kan?"
Beberapa saat aku terdiam. Harus kah aku mengaku? Ah…aku tidak bisa berfikir tenang dengan rantai yang membelit leher dan kaki. Akhirnya aku hanya tersenyum tipis tanpa tahu apa maksudnya. Karena aku tak mungkin mengaku setelah ku pikir-pikir lagi.
"Kenapa?" aku berbalik bertanya dengan nada yang menantang. "Pendekar pedang. Merah, seolah-olah gelas kaca yang dinodai darah…"
Dia mengeluarkan pedangnya secepat kilat. Menebas udara dan berhenti tepat 1cm dekat leherku. Gerakan yang luar biasa cepat.
"Kenapa kau melakukan ini?" suara Red Armor berubah dingin. "apa yang kau dapatkan dari ini?" aku sama sekali tidak berusaha menjawab.
"Sekarang, kau yang ditangkap. Apakah kau akan mencoba melarikan diri? Kau tidak bisa melakukannya dengan tangan kurus berantai begini."
Yang dia katakan mungkin separuh benar. Tapi aku tak punya rencana melarikan diri meskipun kedokku sudah terbongkar.
"Hukumanmu adalah eksekusi kematian tanpa ada kesempatan bebas. Kau tidak bisa lari dari kematian."
Aku tak membutuhkan persiapan mental untuk melakukan ini. Fakta bahwa Nona (Sai yang menjadi Sasuke) meninggal akan melindungi Nona (Sasuke) dari mata curiga.
Che,Sial! Malah teringat masa-masa bahagia ku bersama Nona.
Jadi….
"Kenapa kau melakukannya sampai sejauh ini? Apa yang memberikanmu kekuatan? Apakah kau ingin mengakatakan bahwa kau berhutang banyak pada Anak Setan itu?" Tanyanya beruntut.
….aku hanya ingin melihat senyumannya. Hanya itu. Apakah benar-benar membutuhkan satu ons kekuatan untuk sesuatu 'sepicik' itu?
"Kekuatan? Hutang? Che!" jawabku datar. Sedikit terkekeh merendahkan. "Aku kasihan kepada mereka yang tidak bisa berkorban tanpa hal-hal tersebut." "Aku tak membutuhkannya."
Si Red Armor Nampak kaget dengan pernyataanku. Matanya membulat. Apakah dia tidak pernah mendengar kalimat sungguh-sungguh seperti ini? Ataukah dia tak percaya atas pengakuanku?
"Itu kenapa….aku tidak tahu siapa kau sebenarnya." Katanya sambil perlahan-perlahan menurunkan pedang dari leherku. "Tapi kau serupa dengannya. Gadis itu….aku tidak bisa mempercayai kebanggaan yang kau miliki terhadap dia, sehingga kau mampu melakukan semua ini."
Dia memasukkan kembali pedangnya. Seraya berkata "Putri melakukan hal yang tak termaafkan dan perbuatan tak berkemanusiaan. Kau, dengan tololnya mengikuti perintah Putri. Aku tidak bisa memaafkan itu. Aku tak bermaksud mengampunimu." Dia berbalik pergi.
"Bagaimana pun juga, tak seharusnya aku bersimpatik pada mu. Kau merasa bebas bermain dengan Putri sampai saat pengeksekusianmu. Ku biarkan rencanamu berjalan lancar" Si Cewek rambut merah itu pun berlalu pergi dengan bantingan pintu super keras.
Entah lah…apakah ini artinya Nona sudah aman atau belum. Mungkin saja cewek galak itu berniat mencari Sasuke. Oh, ku mohon….pergi sekarang juga, Nona!
Secepat yang kau bisa…
Sejauh yang kau bisa…
Bisakah kau mengabulkan keinginanku, Nona?
~Kok kaki gue gatel-gatel?~
"fakta bahwa Putri (Sai yang menyamar menjadi Putri) meninggal akan melindungimu (Sasuke yang menjadi Sai) dari mata curiga."
~gatel banget! Tapi gua gk budugan kok…~
Lonceng berdentang menggema ke seluruh negeri. Tiba saatnya waktu ku berhenti berputar. Aku berbaring pasrah di altar penghukuman setelah dipenjara 2 hari. Tinggal menunggu rasa sakit di leher dan berhenti bernafas.
Jadi, tolong…
Aku menyukai senyumanmu dan aku akan melakukan apapun untuk melindungi itu. Pergi, Nona! Pergi! Berlari menjauh dari sini!
Fikiran ku tentang Nona segera kabur. Selanjutnya aku harus lebih meyakinkan semua orang bahwa aku adalah Putri Sasuke, bukan Sai Si Pelayan. "Wah…waktunya camilan siang." Aku melontarkan kalimat enteng hanya Berharap Red Armor memang tidak mengatakan apapun soal identitasku yang sebenarnya kepada Pangeran Naruto. Jika pun dia sudah terlanjur mengatakannya, ku harap tak seorang pun percaya. Lalu aku pun memejamkan mata dan sebelum lonceng berakhir menggema, aku mengharapkan harapan rapuh….
'Jika aku bisa dilahirkan kembali, maka aku ingin bersama mu lagi, bermain denganmu lagi….Nonaku sayang... '
Rasanya waktu ini singkat sekali. Seperti baru saja tadi ku buat kue wafel kesukaan Nona.
.
Teng…teng…
Craaaat!
Teng…
Dentuman lonceng gereja berakhir…
Sepasang bayi kembar yang ketika lahir diperdengarkan berkah lonceng gereja, ternyata tidak membuat hasil apa-apa, hanya fakta bodoh. Kau tidak bisa menjadi manusia yang diberkahi hanya oleh lonceng. Karena kematianku diiringi oleh lonceng yang mengiringi kelahiranku juga.
~BAD DAY!~
Chapie 2 rampung juga! XDDDDDDD Gimana? Angst gk? Nggk ya? tapi aku berusaha keras biar ini jadi sedih. Huh..huh…kasian deh gue.
Ok….chap 3 menunggu. Judul chap depan : The Message of Regret. Udah ke baca kan dari judulnya aja? Hmm… so let's wait it!
Okelah yang chap1 emang garing==' *ngaku dengan berat hati*
'itulah kenapa aku tidak tahu siapa kau sebenarnya' adalah dialog Karin yang gue bold. Kenapa? Karena takut kalian gk ngerti maksudnya apa. Hahaha dari pada chap ni jadi garing gara-gara gk bsia dimengerti kea chap 1, mending gue jelasin.
Karin emang tahu Sai itu bukan Putri yang asli alias Sasuke. Maksud 'siapa sebenarnya' ntu : Siapa itu Sai, kok dia mau-maunya ngorbanin nyawa buat orang hina kayak Sasuke. En ada hubungan apa antara Sai dan Sasuke.
Just give me review, ok?
