Author :
Thesweetbaek (Baekhachu)
Title : The Three Brothers
Mainpair : ChanBaek
Carck Pair :
HunBaek
KaiBaek
Genre :
Romance, Family, Hurt/Comfrot
Rated : T
WARNING!
BOYS LOVE, MANXMAN, YAOI, SHOUNEN-AI, TYPOS.
Baekhyun sibuk menatap layar monitor persegi panjang yang terletak di depannya saat ini, dengan cahaya seadanya dan hanya mengandalkan penerangan dari layar monitor tersebut, Baekhyun tetap menekan huruf demi huruf acak yang berada di keyboard komputernya penuh terampil, namun sesaat kemudian ia menekan tombol 'CTRL-A' dan kemudian menekan 'backspace' dan menghilangkan kata-kata yang sudah ia rangkai sebelumnya.
Dia menghela napasnya dan kembali ingin berkutat pada karya ilmiahnya itu, tetapi dia sendiri tidak tahu harus mengetikan apalagi di sana. Semuanya sudah buyar karena masalahnya akhir-akhir ini. Baekhyun beralih membuka laci mejanya dan mengambil sebuah kartu nama di sana. Dia mengigit bibir bawahnya seraya menimbang-nimbang pilihannya lagi.
Oh ayolah, mau dikemanakan wajah manisnya itu saat teman sekuliahannya tahu bahwa dia merangkap sebagai seorang babysitter nantinya, tetapi di sisi lain, Baekhyun memerluka uang dan pekerjaan itu menjanjikan untuknya. Batas waktunya adalah besok. Baekhyun hanya memiliki waktu semalaman untuk menentukan pilihannya antara mau atau tidak untuk mengurusi tiga yang baru akan masuk Sekolah Menengah Atas.
"Apa aku terima saja? Lagipula yang akan 'ku urusi itu hanyalah tiga bocah yang akan masuk SMA," monolog Baekhyun yang kali ini sudah tidak tertarik lagi mengerjakan karya ilmiahnya. Kemudian, ia mengambil dompetnya dan menilik isi di dalamnya yang hanya tersisa lima lembar uang 10.000 won. Dan, uang itu hanya cukup untuk memberikannya makan selama seminggu saja, itupun juga harus dihemat juga.
"Rasanya, aku benar-benar ingin menangis," cicitnya dengan sedikit rengekan, lalu menyembunyikan wajah cantiknya di balik lipatan tangannya di atas meja tersebut.
Sesaat kemudian, Baekhyun kembali duduk dengan tegap, kali ini wajahnya sudah dipenuhi keyakinan yang sangat besar.
"Aku akan menerimanya!"
-o0o-
Di sinilah Baekhyun berdiri, sebuah gedung pencakar langit yang 80%-nya adalah kaca. Terkadang, Baekhyun selalu bertanya pada dirinya sendiri tentang bagaimana arsitek membangun bangunan yang dominannya adalah kaca ini. Benar-benar menakjubkan!
"Dari mana aku bisa masuk?" bisik Baekhyun pada dirinya sendiri sembari mengedarkan pandangannya ke segela sudut depan gedung tersebut. Wajah pucat itu semakin pucat tatkala kakinya berjalan masuk ke dalam sana, tangannya bahkan tak berhenti bergetar sedari tadi.
Baekhyun menunjukan kartu nama tersebut ke resepsionis. "Di mana aku bisa bertemu nama yang berada di dalam kartu nama ini?"
Resepsionis itu mengambil kartu nama itu dari Baekhyun dan tersenyum manis. "Apa anda sudah membuat janji kepada Presedir Park?"
"Huh?" Baekhyun tampak kebingungan. "Tuan Park mengatakan kalau aku harus menemuinya hari ini."
"Baiklah, silakan dari sini lalu itu adalah liftnya," Resepsionis itu menunjukan arah liftnya, Baekhyun mengikuti arah tangan resepsionis itu dan menganggukan kepalanya ketika menemukannya. "Lalu, anda ke lantai 30, di sanalah ruangannya Presedir Park."
Baekhyun mengambil kartu nama itu dan sedikit membungkuk kepada resepsionis itu, lalu mengikuti intruksi pertama resepsionis tersebut untuk menaiki lift. Baekhyun tak menyadari bahwa ada tiga orang bocah dengan seragam SMPnya tengah memperhatikannya dengan saksama dari atas sampai bawah. Bukan apa, masalahnya, Baekhyun sekarang tengah memakai pakaian yang seadanya, sangat seadanya dengan celana jins dan jaket tebal yang warnanya sudah tak menarik lagi
"Tch... pakaian zaman apa yang ia gunakan?" Si pucat dengan mata paling sabit di antara mereka bersuara dengan pandangan merendahkan Baekhyun.
"Menurutku, Hyung itu sangat menarik bagiku, aku menyukainya!" Kali ini, bocah yang kulitnya paling gelap di antara mereka menanggapinya. Lalu, keduanya memandangi bocah dengan mata bulat dan tinggi yang paling menonjol di antara mereka yang sedari tadi hanya diam saja sambil menatap Baekhyun tanpa lepas sedikitpun.
Saat menyadari bahwa dia dijadikan objek pandangan, si mata bulat itu pun memelototi kedua adiknya itu.
"Kenapa kalian memandangiku seperti itu?" tanyanya sedingin es dan sedatar tembok.
"Tidak biasanya kau memandani seseorang selama itu, Hyung," kata si pucat dengan nada yang sedikit menggoda. Dia menggerakan kepalanya ke sana kemari agar tak bertemu tatapan mematikan dari kakak tertua mereka itu (sebenarnya, mereka bertiga hanya berbeda setahun saja).
"Aku sama sekali tidak melihatnya mengedipkan mata sedetikpun," sahut si tan sedikit bersiul-siul dan terkikik kecil.
Si mata bulat itu memutar bola matanya malas dan memilih untuk meninggalkan keduanya dan masuk ke dalam lift khusus untuk petinggi perusahaan saja.
"Yak! Tunggu kami!"
-o0o-
"Kalian harus menuruti pengurus kalian ini selama ayah keluar negeri, mengerti?" ketiga remaja yang tengah duduk di sofa panjang berwarna putih tulang itu mengangguk, tidak semua remaja di sana mengangguk, hanya si tan dan si pucat yang mengangguk, sedangkan si mata bulat yang berada di antara kedua adiknya itu hanya diam dan menatap lurus ke arah sang ayah.
"Park Chanyeol, dengarkan ayahmu ini, jangan membuat pengasuh kalian ini kewalahan lagi dan berakhir dengan pengunduran dirinya." Si mata bulat itu membuang wajahnya tak acuh, seolah tak ingin mendengar apapun lagi dari ayahnya itu.
"Kenapa ayah begitu yakin?" tanya si tan yang sebenarnya penasaran untuk menanyakan hal ini kepada ayahnya itu, dan pertanyaan itu pun didukung dengan anggukan Sehun.
"Karena, ayah hanya mengikuti perasaan ayah yang mengatakan bahwa pengurus kalian itu akan datang," jawab sang ayah sambil mengolah frasa-frasa agar dapat mencairkan suasana canggung di antara mereka. Si tan dan si pucat itu tertawa, meskipun terasa hambar sekali tetapi mereka berusaha menyenangkan hati sang ayah. Namun, tidak dengan Chanyeol yang hanya menggertakan giginya sedari tadi, kebiasaannya ketika berada di keadaan yang menyulitkan untuknya.
Tuan Park dan ketiga anaknya ini memang tidak dalam keadaan batin yang erat, mereka begitu renggang karena pekerjaan Tuan Park yang memerlukan ayah mereka tersebut kerja siang-malam untuk memberikan apa yang mereka inginkan, sedangkan ibu mereka sudah tidak ada lagi di dunia ini. Hal itulah yang membuat hubungan mereka renggang, bahkan si mata bulat itu membenci ayahnya dari ujung rambut sampai mata kaki. Sangat membencinya, hanya saja...
TOK... TOK... TOK...
Mereka dikejutkan dengan ketukan pintu ruang kerja sang ayah yang langsung memecahkan suasana yang kembali berubah menjadi lebih rumit itu. Tuan Park berdehem sejenak dan berteriak sedikit untuk memberikan izin masuk kepada si pengetuk pintu. Dan, tampaklah Baekhyun dari balik pintu yang membuka pintu tersebut dengan terbata-bata.
Demi Tuhan, Baekhyun tak menyangka bahwa Tuan Park benar-benar direktur utama di perusahaan ternama ini. Baekhyun sama sekali tidak bisa mengira hal tersebut. Dia merasa malu, lebih-lebih rasanya dia ingin segera membenapkan kepalanya ke bathup.
Chanyeol, si mata bulat
Jongin, si tan
Sehun, si pucat
Mereka bertiga ternganga tak percaya melihat siapa di depan mereka sekarang dengan wajah malu yang tertunduk begitu dalam hingga membuat mereka kesulitan untuk melihat wajah Baekhyun.
Baekhyun tak berhenti berdoa—juga mengumpat sebenarnya—untuk dirinya yang terlalu bermuka tebal ini. Astaga, Baekhyun belum pernah merasa semalu ini kepada orang lain.
"Bukannya ini Hyung yang tadi?" bisik Jongin kepada kedua saudaranya yang masih terpaku pada satu objek hidup di depan mereka itu.
"Woah, jadi ini yang akan mengurus kita? Yang benar saja!" balas Sehun masih dengan nada berbisiknya, hanya saja dia sedikit menaikan intonasi suaranya sehingga Baekhyun dan Tuan Park dapat mendengar apa yang dia bicarakan saat ini.
"Tolong, enyahkan dia dari dunia, aku akan sangat malu jika dia yang akan menjadi pengurusku!" balas Chanyeol dengan suara beratnya, tanpa adanya nada berbisik sama sekali, begitu frontal dan kasar.
Dan, Baekhyun sungguh merasa terhina dengan perkataan remaja yang paling besar tubuhnya daripada dua saudara yang lainnya itu. Baekhyun sampai membuka mulutnya tak percaya mendengar hinaan langsung itu. Baekhyun menahan kegeramannya dengan mengepalkan kedua tangannya hingga memerah, lebih-lebih air wajahnya terlihat berubah sedemikian rupa.
"Ehem, Baekhyun-ssi," panggil Tuan Park menghancurkan saat-saat canggung itu dan langsung saja membuyarkan Baekhyun dari kegeramannya. Dia benar-benar membutuhkan uang sekarang, jadi dia tidak bisa secara seenaknya membantai remaja bermata besar itu saat ini.
"Y-ya, Tuan?" sahut Baekhyun terbata-bata menanggapi panggilan dari Tuan Park tersebut.
"Itu adalah Park Sehun, anak termuda saya." Tuan Park menunjuk sisi kanan Chanyeol yang terdapat Sehun di sana sedang memerhatikan Baekhyun yang tampak tegang dan gugup. "Dia tidak ramah, tetapi tidak juga sampai dikatakan terlalu penutup, dia akan mengeluarkan sifat aslinya ketika berada di antara orang yang benar-benar mengerti dirinya."
Baekhyun mengangguk, mengerti dengan penjelasan Tuan Park.
"Dan, itu adalah Park Jongin, anak keduaku." Telunjuk Tuan Park bergeser ke arah Jongin yang tersenyum dan melambaikan tangannya kepada Baekhyun, sedangkan Baekhyun menanggapinya dengan anggukan dan juga senyuman. "Berbeda dengan Sehun, Jongin benar-benar kepribadian yang ramah dan terbuka kepada siapapun, lihatlah seberapa lebar senyumnya untukmu."
Jongin mendelik ayahnya sebal dan membuat Baekhyun tertawa kecil.
"Dan, itu adalah Park Chanyeol, anak tertuaku." Telunjuk Tuan Park turun dan digantikan dengan pandangan lesu.
"Maafkan dia, ya? Chanyeol orangnya memang seperti itu, dia pribadi yang begitu dingin dan sinis, jadi untuk anak saya yang satu ini, kau harus berhati-hati," bisik Tuan Park tepat di telinga Baekhyun, begitu berbisik sehingga ketiga anaknya itu benar-benar tidak tahu apa yang sedang ayahnya itu bicarakan kepada Baekhyun.
Baekhyun mengangguk, mengerti dengan penjelasan-penjelasan yang dilontarkan Tuan Park sebelumnya.
"Chanyeol, Jongin, Sehun, mulai saat ini Hyung ini akan menjadi pengurus kalian, dan jangan perlakukan dia sebagai pesuruh, perlakukan mereka sebagai keluarga!" peringat Tuan Park sembari menatap wajah-wajah anaknya yang menampilkan berbagai ekspresi.
Sehun yang tak merespon sama sekali, tetapi sorot datar dan dinginnya sama sekali tak lepas dari Baekhyun.
Jongin yang tersenyum begitu bersahabat dan menangguk semangat.
Chanyeol yang Baekhyun sendiri tidak tahu ekspresi apa itu, lebih-lebih remaja tampan itu sama sekali tidak mau saling menatap.
"Hari ini, bawalah Hyung kalian ini bersama kalian ke rumah dan perkenalkan letak-letak rumah kita, karena mulai besok ayah sudah harus ke Ero—."
"Kau memanfaatkan pekerjaanmu untuk bersama 'perusak' itu, 'kan?" Chanyeol memotong perkataan ayahnya.
Sontak saja, suasana di sana berubah drastis, bahkan Jongin yang penuh senyuman sedari tadi menjadi murung seketika, tetapi Sehun masih bisa bertahan dengan wajah datarnya. Namun, Baekhyun masih bisa melihat sorot kebencian dan kesedihan ketika mata Sehun memandang sang ayah.
Baekhyun sebenarnya tidak mengerti dengan drama keluarga di depannya itu, jadi dia akan pura-pura buta dan tuli untuk sesaat. Dia hanyalah orang luar yang keluarganya sudah bangkrut dan tak pantas menyampuri urusan konglomerat seperti Tuan Park.
"Hah? Hahahaha!" Jongin tertawa hambar karena tidak enak pada Baekhyun yang tidak tahu apa-apa dan harus mendengar perkataan sang kakak tadinya. Dia berdiri dari posisinya, lalu mengitari meja dan merangkul bahu Baekhyun yang lebih pendek darinya itu seakan-akan mereka sudahkenal sejak lama.
"Bagaimana kalau, sekarang kita ke rumah kami dan memperkenalkan semuanya kepadamu? Hyung, kau harus tahu, aku mendapat juara pertama untuk mempresentasikan sesuatu, kau tidak akan bosan nantinya." Baekhyun mengangguk canggung dan mengikuti Jongin untuk keluar dari ruangan yang seisinya penuh kecanggungan itu. Dan, Baekhyun pun merasa yang dilakukan Jongin sudah tepat sekali.
Dan kini, hanya tersisa Chanyeol dan Sehun yang masih terdiam di sana sambil menatap sang ayah dengan tatapan yang begitu datar dan dingin. Tuan Park dapat melihat semua kebencian-kebencian itu dari sepasang mata kedua anatnya itu.
"Ayah. Bahkan, panggilan itu sama sekali tidak cocok untukmu," kata Sehun yang mulai bersuara, tetapi begitu sakarsme. Matanya sudah berkaca-kaca namun enggan untuk keluar saat itu juga.
"Aku pergi!" Sehun keluar dari sana untuk menyusul Jongin dan pengurus barunya itu.
"Sehun!" cegah Chanyeol kepada Sehun yang hampir menyentuh knop pintu tersebut. Sehun berusaha mati-matian untuk tidak lepas kontrol dan mengeluarkan suara cengengnya itu. Mereka bertiga harus memperlihatkan bahwa mereka tidak bisa diperlakukan seperti ini oleh ayah mereka sendiri. Kenyataan yang harus diperhatikan bahwa mereka kurang mendapatkan kasih sayang yang semestinya dari ayah mereka itu.
"Aku ikut denganmu, berlama-lama dengan ayah benar-benar membuatku seperti merasakan neraka yang nyata," sahut Chanyeol sembari membuka dua kancing seragam teratasnya dengan kasar membuat jahitannya sedikit terlepas. Kemudian, kaki panjangnya tersebut melangkah keluar dari sana dahulu sebelum Sehun yang masih terdiam di depan pintu, sedangkan kakak tertuanya itu sudah berada di luar sana.
"Kami hanya sedikit kecewa padamu, Ayah. Sedikit kecewa," lirih Sehun menggertakkan giginya, lalu keluar dari ruangan itu, mengikuti jejak kedua kakaknya. Meninggalkan Tuan Park yang terdiam di sofanya sambil mengeratkan kesepuluh jarinya masing-masing.
"Maafkan ayah kalian ini, Anak-anakku. Hanya saja, ini yang terbaik untuk kalian bertiga."
-o0o-
Baekhyun menunduk resah tatkala ketiga remaja tampan di depannya menatapnya begitu tajam dan dalam seperti menelanjanginya hidup-hidup di sana. Belum ada satupun yang membuka suara mereka, Baekhyun apalagi, dia seolah dikelilingi oleh tiga polisi, padahal yang saat ini berada di depannya adalah tiga bocah yang akan menghadapi Ujian Nasional mereka. Namun, beruntung sekali Baekhyun kali ini, karena seorang waitress di cafe tersebut datang dan memecahkan keheningan di antara mereka.
"Ada yang ingin anda pesan, Tuan?" tanya Waitress tersebut sambil bersiap-siap untuk menyatatkan pesanan pelanggannya disebuah memo di tangannya.
"Kami bertiga, Americano Coffee." Jongin menjawabnya serta mewakili kedua saudaranya yang lain juga. Lalu, pandangannya berputar ke arah Baekhyun. "Kau?"
"A-aku Orange Juice saja," jawab Baekhyun seraya terbata-bata, dia melipat kedua belah bibirnya ke dalam mulutnya, sementara kesepuluh jarinya sibuk bertautan di bawah meja untuk menetralkan rasa gugupnya saat ini. Baekhyun juga bingung, kenapa dia bisa bersikap seperti ini, padahal di depannya ini tidaklah lebih dari tiga bocah SMP yang akan menghadapi Ujian Sekolahnya, sudah dijelaskan tadi. Namun, entahlah, rasanya berbeda sekarang.
Jongin yang memnadang satu per satu wajah Sehun dan Chanyeol yang menatap datar ke arah Baekhyun yang juga tidak sanggup mengeluarkan sepatahkata pun. Jongin sangat tahu, bahwa laki-laki dewasa di depannya itu sangatlah tidak nyaman dengan suasana yang terjadi saat ini, dan Jongin pun merasakan hal yang sama. Begitu aneh, apalagi ditambah sikap Chanyeol dan Sehun yang tak bisa beramah-tamah dengan orang baru, jujur saja, Sehun dan Chanyeol adalah orang yang membosankan.
"Tidak apa!" Suara Jongin mengejutkan Baekhyun, tetapi tidak untuk kedua saudaranya yang biasa-biasa saja.
"Huh?" Baekhyun tak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Jongin. Dan, dia merasakan air suasana di sini malah bertambah tak nyaman.
"Kau jangan sungkan terhadap kami, Hyung!" Baekhyun mengerjap setengah terkejut dan tak percaya pada Jongin yang tersenyum padanya kali ini.
Jongin sedikit meringis mendengar ucapannya sendiri, bahkan sekarang Chanyeol dan Sheun mengerutkan dahinya bingung. Tetapi, lagi-lagi suasana terpecah dengan kedatangan Waitress tadi dengan nampan yang membawa 4 gelas di atasnya, lalu meletakkannya dengan perlahan di depan keempat orang tersebut, sesuai pesanan.
"Silakan diminum." Setelah mengucapkan itu, Waitress itu pergi dan kembali membangun suasana canggung di antara mereka.
"Baiklah," kata Chanyeol mengejutkan mereka semua, termasuk Sehun yang langsung menoleh ke arah Chanyeol. Remaja tampan itu tidak lagi bersandar pada punggung kursi dan malah saat ini kedua tanganny terlipat di atas meja dengan angkuhnya dan memandang Baekhyun dengan pandangan yang sulit sekali diartikan oleh Baekhyun sendiri.
"Kau bisa menjadi pengurus kami, ditambah juga mendapatkan perlakukan yang baik, tetapi kami akan membuat peraturan untukmu, Baekhyun-ssi," lanjut Chanyeol dengan wajah tenang dan santainya, tidak memedulikan tawa ejekan dari Sehun. Karena, Sehun sangat tahu bahwa tadi yang sangat menentang pengurus baru mereka ini adalah Chanyeol, dan sekarang Chanyeol mengatakan bahwa dia menerima Baekhyun sebagai pengurus mereka. Hebat, hati beku Chanyeol benar-benar tidak bisa ditebak sama sekali.
"Peraturan tersebut berisi..."
KKEUT
Akhirnya, FF ini bisa selesai juga / akh! Yuu pikir, FF ini gak akan pernah terlanjuti lagi, eh tau-tau nih otak lagi gak mampet untuk FF ini hehehe... Dan, untuk FF ini akan khusus saja untuk pembaca di FFN wkwkwk...
Maafkan Yuu bila FF ini banyak sekali typonya dan sama sekali tidak nyambung dengan alurnya :3 Bhaksss...
Oke deh kalau gitu...
REVIEW KALAU KALIAN INGIN FANFIC INI DILANJUTKAN .
