Robotique Monogatari

Bleach © Tite Kubo

Genre : Romance, Melodrama, Comedy, Fantasy.

Pairing : Ichigo Kurosaki x Rukia Kuchiki

Warning : OOC, Slight, etc.

·•· ·•· ·•·

''Nona, korban laki-laki bernama Byakuya Kuchiki, ia berhasil diselamatkan.''

''Benarkah?'' gadis itu menarik nafas lega, ''Bagaimana dengan nee-chan ku Dokter?''

Perlahan Dokter itu menaruh tangannya dipundak sang gadis, tanpa berkata-kata Dokter itu hanya menggelengkan kepala perlahan dengan wajah sendu.

''...'' gadis itu mulai berlinangan air mata disela kebisuannya.

Entah bagaimana gadis itu bisa terlihat kuat mengetahui salah seorang kerabat terdekatnya pergi untuk selamanya meninggalkan dirinya. Namun satu hal yang pasti dan bukanlah sebuah kebohongan, bahwa gadis itu benar-benar merasakan kehilangan yang pahit saat ini.

Meski ia berusaha bertahan bahwa dirinya baik-baik saja, tetapi pada kenyataannya gadis itu terjatuh lemas diatas lantai-lantai Rumah Sakit.

''Nona!'' Dokter itu panik, meskipun sebelumnya ia sudah menduga akan begini jadinya.

''Aku... Ingin melihat nee-chan ku...'' gadis itu mencoba berdiri.

Dokter itu miris melihat expresi datar sang gadis yang masih berlinangan air mata dihadapannya, ''Perlu ku bantu?''

''Aku bisa sendiri...'' tolaknya dengan menampik halus tangan sang Dokter yang berniat membantunya.

Setelahnya, gadis itu berjalan terhuyung memasuki ruangan dimana tubuh nee-chan tercintanya tertidur untuk selamanya.

Tak hanya sang Dokter yang dapat merasakan seberapa sedih sang gadis kala itu. Seorang paman yang sempat duduk bersebelahan dengannya pun turut merasakan hal yang sama, membayangkan seorang gadis remaja semuda itu dapat menahan perasaan yang harusnya bergejolak tetapi ia lebih memilih untuk menahan semua perasaan itu sendirian.

·•· 30 minute after ·•·

Gadis itu nampak kembali, usai melihat jasad sang Kakak. Ia berjalan kecil demi mencapai tempat duduk yang sempat ia duduki sebelumnya.

''Aku turut berduka untukmu, nak.''

Gadis itu menengok kearah suara yang sepertinya tengah berbicara kepadanya. Dan, anak itu mendapati sosok paman asing tadi.

''Arigatou.'' ujarnya lesu, ''Keluarga paman sudah ada kabarnya?'' gadis itu berbasa-basi.

Paman itu hanya menggeleng lemas, namun ia masih bisa memberikan segores senyuman pada gadis disampingnya itu.

''Semoga mereka baik-baik saja...'' ucap sang gadis tanpa menoleh kearah sang paman, namun ucapannya terdengar tulus.

''Arigatou...'' ujar paman itu, ''Pihak keluargamu belum datang melihat?'' tanyanya lagi.

Gadis itu menengok kearah sang paman, ''Mereka yang didalam sana keluargaku, paman.''

''Ah? Maksudku, kedua orang tuamu, nak.''

Gadis itu terdiam sejenak dengan tatapan kosong, sementara paman disebelahnya masih menunggu jawaban.

''Kedua orang tuaku tidak datang melihat tapi sebaliknya, nee-chan ku lah yang akan datang melihat mereka.'' ujar sang gadis datar.

Paman itu terkejut dan jadi merasa tak enak hati, ''Ma-Maaf, aku tidak tahu―''

''Tidak apa-apa, paman. Tidak perlu minta maaf.'' gadis itu tersenyum lesu.

Paman itu tak tahu harus berkata apa, karena jika ia diposisi anak itu pastilah dunia terasa gelap untuk dijalani seorang diri.

''Aku memiliki dua anak kembar yang sepantaran denganmu, nak. Salah satunya sedikit mirip denganmu. Dan mereka masih didalam sana, mendapatkan perawatan medis.''

''Mereka berusia lima belas tahun sepertiku?'' tanya sang gadis bermaksud menyadarkan sang paman yang pasti sempat mengira dirinya seusia anak SD.

Sepasang mata paman itu melebar dan alisnya terangkat tinggi, lagi-lagi ia sudah salah bicara.

''T-Tidak. Mereka tidak seusiamu. Tapi, aku memiliki seorang anak lagi yang seusiamu.''

''Begitukah? Aku yakin kami berdua berbeda jauh, sampai paman menyamakan aku dengan kedua anak kembar paman yang masih SD.''

''Ya, anakku lebih tinggi darimu, nak.'' ujar paman itu yang kembali salah berbicara.

Kali ini gadis itu yang mendapatkan giliran melebarkan kedua violetnya dihadapan sang paman.

''A-Aku tidak bermaksud mengejekmu, nak. Ma―''

''Tidak, memang kenyataannya tubuhku ini pendek. Paman tidak perlu berkata maaf yang tidak perlu.'' jelas si gadis yang kelihatannya memang tidak marah.

''...''

''...''

Mereka berdua sama-sama terdiam dan kemudian, ''Hahaha...'' mereka tertawa kecil.

''Sulit dipercaya, disaat-saat seperti ini kita masih bisa tertawa ya, paman?''

''Ya. Anggap saja aku sedang menghiburmu, nak.'' ucap paman itu sembari tersenyum.

''Dan anggaplah aku juga sedang menghibur paman.'' jawab si gadis sambil membalas senyuman yang diberikan paman itu.

''Kau... Anak yang sangat unik.''

''Bagaimana paman bisa berkata begitu? Paman bahkan tidak mengenalku dan kita baru saja berbicara.''

''Karena kau mirip dengan seseorang yang sepertinya pernah ku kenal. Caramu bersikap, berbicara, beberapa dari kepribadianmu mirip dengan seseorang. Hanya saja aku lupa siapa...'' terang paman itu sembari terus mencoba mengingat.

''Biasanya hal yang ingin kita ingat terlupakan dengan begitu mudah. Sedangkan hal yang ingin kita lupakan, teringat begitu saja. Jadi, jangan terlalu memaksa mengingatnya, paman. Nanti juga teringat dengan sendirinya.''

Paman itu terkejut bukan main dengan setiap perkataan yang keluar dari mulut sang gadis sedari awal, perkataannya terdengar jauh lebih dewasa dibandingkan dengan usia sang gadis itu sendiri.

''Kurasa kau benar. Boleh aku tahu siapa namamu, nak?''

Tanpa berfikir panjang gadis itu menjawab, ''Rukia Kuchiki.''

Gadis bernama Rukia itu menjulurkan tangannya untuk berjabat dan memperkenalkan diri.

''Aku―''

''Tuan Kurosaki?'' panggil seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi.

''Ya, Dokter! Bagaimana keadaan mereka? Boleh aku masuk?'' tanya laki-laki itu dan tak menyadari ia telah mengabaikan jabat tangan gadis yang baru saja memperkenalkan diri kepadanya.

''Anda... Bisa melihat langsung kedalam, tuan.'' jawab Dokter itu.

Sebelum laki-laki bernama keluarga Kurosaki itu meninggalkan tempatnya, ia berbalik melihat anak gadis dibelakangnya, ''Maaf nak– Hm, Nona Rukia aku harus―''

''Tidak perlu minta maaf, paman. Silahkan, keluargamu sudah menunggu didalam.'' potong Rukia halus sembari memberikan senyum manisnya yang belum ia tunjukan sedaritadi.

Tanpa berfikir panjang, paman itu memasuki ruang operasi setelah sebelumnya membalas senyum manis Rukia.

.

.

.

''Rukia!'' seseorang memanggil nama itu sembari berlari dilorong Rumah Sakit tempat ia berada.

''Kaien-nii? Bagaimana kau bisa kesini?'' tanya Rukia bingung.

''Kecelakaan ini menjadi topik utama banyak media berita. Mereka juga mencantumkan nama-nama korban. Aku sempat tidak percaya ketika nama Kuchiki muncul disalah satu daftar korban kecelakaan, tapi ketika aku memastikannya sendiri dari seorang wartawan yang aku kenal, aku langsung buru-buru kesini!''

''Beritanya menyebar secepat itu?''

''Itu tidak penting! Yang penting sekarang bagaimana keadaanmu? Byakuya dan Hisana? Mereka baik-baik saja kan?'' tanya Kaien memastikan.

''...'' Rukia tidak tahu harus memulai darimana, ''Aku... Baik-baik saja, hanya luka ringan. Byakuya-nii juga baik-baik saja tapi harus dirawat secara intensif. Dan Hisana-nee...''

''TIDAAAKKK!'' teriak laki-laki disebuah ruang operasi. Tak hanya teriakannya yang melebur, namun suara tangisannya pun ikut pecah bersamaan.

Rukia dan Kaien menoleh kearah ruangan yang berada dekat dengan mereka berdua itu.

''Paman itu...'' ucap Rukia, tatapannya meredup ketika melirik kearah ruangan tersebut.

''Paman siapa?'' tanya Kaien yang mendengar ucapan Rukia.

''Ah? Pa-Paman itu, bersama keluarganya merupakan salah satu korban kecelakaan. Sepertinya salah seorang keluarganya bernasib sama dengan nee-chan.'' jelas Rukia yang terdengar abstrak bagi Kaien.

''Apa maksudmu, Rukia?'' emerald Kaien membulat sempurna, ''Hi-Hisana...?''

Rukia memaklumi keterkejutan Kaien, dengan kembali berwajah lesu gadis itu mengangguk pelan kearah laki-laki dihadapannya.

·•· The next day: Funeral Place, Karakura ·•·

Awan berduka tengah menyelimuti semua orang disini. Setiap tetes air mata berjatuhan tiada henti seiring berlangsungnya acara pemakaman. Isakan tangis dari lubuk hati yang terdalam ikut menyeruak, seakan tak merelakan kepergian seseorang yang sudah tak bernyawa didalam sebuah peti mati dihadapan mereka.

Perlahan-lahan peti dihantarkan kedalam galian tanah, setelahnya satu per satu orang terdekat dari kerabat yang ditinggalkan ikut menguburi peti yang mulai tak nampak wujudnya itu karena mulai tertimbun pasir tanah.

Saat ini, tak ada yang rasa kehilangannya melebihi seorang gadis yang masih terisak dipelukan seorang wanita paruh baya ditempat yang berjarak paling dekat dengan makam itu.

''Aku tidak ingin nee-chan milikku ada disana, Miyako-nee... Hikz...'' ucap gadis itu parau.

Wanita itu mengelus tubuh sang gadis dipelukannya, ''Ssh... Jangan berkata begitu Rukia, nee-chanmu tidak akan tenang kalau kau tidak melepaskannya...''

''Tapi– Tapi– Hikz... Aku tidak bisa kalau tidak ada nee-chan... Tanpa nee-chan apalah artinya aku hidup sendiri, Miyako-nee... Hikz...''

''Rukia...'' bisik kecil Miyako yang turut merasakan kesedihan Rukia dari tangisan serta tutur kata gadis itu.

Wanita itu mengeratkan pelukannya kepada Rukia, ''Kau tidak sendirian, Rukia. Masih ada Byakuya, Kaien, aku dan teman-temanmu yang sangat menyayangimu disini. Kau tidak boleh berkata begitu...'' sebuah tetesan air mata menjadi penutup atas kalimat terakhir yang diucapkan Miyako.

Rukia hanya membisu, namun ia berterima kasih karena perkataan wanita yang tengah memelukanya saat ini cukup meringankan setengah beban dihatinya.

Seterusnya, pemakaman masih berlangsung dengan memberikan doa serta karangan bunga sebagai tanda penghormatan terakhir bagi seorang nama diatas batu nisan, Hisana Kuchiki...

·•· On The Same Funeral, Karakura ·•·

Tak jauh dari lokasi pemakaman, terdapat acara pemakaman lain yang juga sedang berlangsung. Para pelayat berbondong pulang ketika selesai memberikan ucapan berduka cita.

''Isshin, aku turut berduka untuk Masaki...''

Tangis Isshin semakin pecah ketika sahabat baiknya memberikan sebuah pelukan duka.

''Terima kasih sudah datang Urahara, Masaki pasti senang kau ikut mengantarnya ke tempat peristirahatannya yang terakhir ini.''

''Jangan begitu, kita kan berteman sejak lama. Maka ini sudah jadi kewajibanku.''

Isshin masih bisa memberikan senyumnya ketika Urahara berkata demikian.

''Oh! Bagaimana dengan anak-anakmu?''

''Karin dan Yuzu hanya luka ringan, meski begitu hingga sekarang mereka masih terbaring dirumah sakit dan belum sadarkan diri.'' jelas Isshin datar.

''Ichigo?''

''Dokter bilang lukanya cukup parah, entah benturan darimana yang Ichigo dapatkan ketika kecelakaan itu terjadi, hingga membuat lima belas persen organ dalamnya tidak berfungsi.''

Urahara melebarkan sepasang matanya, ''Separah itu? Lalu bagaimana?''

''Entahlah... Persepsi Dokter sama denganku, secara medis ia sudah tidak ada harapan. Jika alat bantu medis dilepas dari tubuhnya, maka ia akan bernasib sama dengan Ibunya...'' Isshin kembali bersedih.

''Isshin...'' bisik Urahara yang turut merasakan kesedihan temannya itu, ''Aku yakin pasti ada jalan terbaik! Jangan menyerah begitu saja! Kau juga seorang Dokter kan? Buatlah sebuah percobaan yang dapat menyembuhkan anakmu, carilah caranya sesulit apapun!''

''Berbicara saja memang mudah, Urahara.''

''Maksudku... Isshin, didunia ini tidak mungkin ada masalah yang tidak bisa diselesaikan...''

''Tentu ada, sebagai contohnya adalah masalah yang sedang aku alami ini...''

''Isshin, aku sedang tidak bercanda!''

''Dan kau pikir aku menganggap demikian?''

Urahara semakin tak tega melihat sahabatnya itu sudah diambang keputus asaan. Tatapan sahabatnya itu pun sekarang terlihat kosong, seolah sama dengan bayangan diotak Isshin akan hari-harinya kedepan.

''Aku akan membantumu!''

''...?'' Isshin termanggu kebingungan.

·•· A Few Days Later ·•·

Rukia baru saja keluar dari kamar pribadinya dan sedang menuju ruang makan. Pagi ini adalah hari pertamanya disekolah, setelah hampir seminggu lebih mendapatkan liburnya di semester pertama.

''Ohayou...''

''Eh? Rukia? Ohayou! Baru saja aku akan memanggilmu.''

Rukia tersenyum kearah wanita itu sembari mengedarkan pandangan matanya kesekitar ruangan disana.

''Kaien sudah pergi pagi-pagi sekali tadi, katanya ada urusan mendadak dikantor. Jadi, hari ini kita hanya makan pagi berdua saja.''

''Kenapa Miyako-nee tidak ikut pergi? Bukankah biasanya kalian berangkat bekerja bersama?'' tanya Rukia.

Sembari menyajikan makanan diatas meja makan Miyako menjawab, ''Aku dan Kaien sudah sepakat, selama Byakuya dirawat di Rumah Sakit aku akan mengambil cuti untuk merawat dan menjagamu disini.''

''Apa?'' Rukia terkejut, ''Itu terlalu berlebihan Miyako-nee, aku sudah cukup besar untuk menjaga diriku sendirian dirumah.''

''Aku tahu kau sudah besar, Rukia. Tapi, ini hanya sementara saja, sampai Byakuya sudah benar-benar pulih dan sudah bisa pulang.'' terang Miyako lagi.

''...'' Rukia tertegun dihadapan meja makan.

''Rukia? Kau kenapa? Kata-kataku ada yang salah ya?'' tanya Miyako yang jadi merasa tidak enak.

''Eh? Ti-Tidak kok!'' sanggah Rukia cepat, ''Apa makanannya sudah siap, Miyako-nee? Aku sudah lapar dan harus cepat-cepat ke sekolah.'' ujarnya mengalihkan pembicaraan.

·•· ·•· ·•·

''Kau pasti bercanda!''

''Aku tidak bercanda! Aku serius!''

Dua orang laki-laki dewasa diruangan yang penuh peralatan bertekhnologi canggih disana, tengah terlibat pembicaraan serius dan penuh dengan ketegangan.

Sejak awal sama sekali tak ada kecocokan antara akar permasalahan dengan solusi yang dibicarakan diantara mereka.

Yang satu terlihat optimis dengan gaya bicaranya, beserta pemikirannya yang terasa diluar nalar secara logika. Sedangkan yang satu lagi sebaliknya, pesimis serta pemikirannya lebih realita.

Sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan?

''Memang sebelumnya kau pernah menghidupkan nyawa seseorang yang sudah tidak ada harapan?''

''Jangan berkata begitu, Isshin! Ichigo itu anakmu! Sebagai ayah harusnya kau memberikannya semangat, harapan serta alasan agar dia bertahan dan berjuang untuk hidup!''

Mendengar temannya berkata demikian, tentu Isshin merasa buruk sebagai seorang ayah. Laki-laki berjanggut itu tak mampu berkata-kata lagi.

''Sudah kubilang kan? Aku akan membantumu―''

''Urahara! Kau pikir masuk akal memasukan alat-alat tekhnologi gilamu itu kedalam tubuh anakku agar dia bisa bertahan hidup?''

''Aku sudah bilang kan? Percayakan padaku!''

''Kau gila!'' ujar Isshin tak percaya, ''Kalau dia mati bagaimana?'' sepasang pelupuk Isshin mulai membendung air mata.

''Kau sendiri kan yang bilang, anakmu hanya bisa bertahan hidup karena peralatan medis?'' Urahara seolah tengah mengingatkan temannya itu, ''Dan jika peralatan medis itu dilepas dari tubuhnya, kau tahu pasti kan apa yang akan terjadi?''

''Lalu?'' Isshin seolah menantang Urahara.

''Dasar bodoh! Hidup dalam tidur dengan peralatan medis seperti itu apa gunanya?''

Isshin tak dapat menjawab kali ini. Memang apa yang dikatakan Urahara semuanya benar. Tapi...

''Setidaknya aku tidak akan merasa kehilangan jika Ichigo terus tertidur seperti ini. Aku tidak akan merasakan penyesalan yang sama, seperti telah gagal melindungi Masaki.''

''Kau benar-benar bodoh! Kau ingin anakmu hidup tapi kau tidak memberinya kesempatan! Justru kau akan menyesal jika tidak mencobanya!'' lagi-lagi nada tinggi serta kata-kata yang keluar dari Urahara menghujam Isshin.

''Anakku bukan bahan percobaan!'' ujar Isshin tegas namun tanpa expresi, ''Sepertinya sudah cukup hari ini, kita bertemu lagi dilain kesempatan!'' tutupnya sembari berjalan menuju pintu keluar.

''Isshin! Aku belum selesai bicara!'' Urahara mencoba menyusul langkah sahabatnya itu, ''Aku sama sekali tidak menganggap anakmu sebagai bahan percobaan! Aku benar-benar tulus ingin membantumu dan Ichigo!''

''Kenapa?'' Isshin berhenti melangkah dan bertanya dengan tatapan tajam kearah mata dibelakangnya.

''Apa menolong sahabat sendiri harus ada alasan―''

''Kenapa kau bilang ingin membantu 'anakku' Ichigo?''

Urahara tersentak hingga kemudian terdiam ketika mendapati temannya bertanya demikian, dengan penekanan pada kata 'anakku'.

''Karena dia adalah anak dari sahabatku yang sudah kuanggap seperti anakku sendiri. Apa itu jelas?'' ucap Urahara mantap.

Isshin tentu tersentuh mendengar Urahara berkata seperti itu, hanya saja kebimbangan hatinya yang tak menentu masih belum bisa mengambil keputusan atas penawaran penuh resiko dari temannya tersebut.

Memang niat Urahara sangat baik, namun salah-salah nyawa anaknya-lah yang akan menjadi taruhan.

''Terus terang saja aku sangat senang kau mau membantuku, Urahara. Tapi, aku harus memikirkannya lagi matang-matang.''

''Apa lagi yang kau ragukan―''

''Maaf– Maaf, Urahara. Aku harus ke Rumah Sakit sekarang.''

Tanpa berpamitan umum yang biasanya dilakukan banyak orang Jepang, Isshin melenggang pergi begitu saja dengan perasaan bimbang dengan pikirannya yang terus mengganggu.

·•· ·•· ·•·

Suara gesekan dari pintu kelas terdengar nyaring oleh beberapa penghuni didalamnya. Sebagian ada yang memperhatikan sosok siapakah yang akan muncul dibalik pintu, dan sebagiannya lagi tidak, karena sedang asik mengobrol atau melakukan aktivitas lain yang dianggap lebih penting.

''Rukia-chan?'' panggil seorang anak perempuan yang tengah dikelilingi temannya yang lain dibaris pojok belakang kelas.

Awalnya hanya teman-teman dari anak perempuan yang memanggil nama Rukia itu yang menengok kearah Rukia, namun setelahnya semua pandangan siswa-siswi dikelas itu tertuju menatap Rukia yang belum bergeming didepan pintu.

Anak perempuan itu menghampiri Rukia beserta dengan teman-temannya yang lain.

''Rukia! Kemarin kami melihat beritanya ditelevisi! Kau tidak apa-apa kan? Atau kau terluka parah?'' tanya anak perempuan berambut orange panjang itu penuh perhatian.

Rukia tersenyum simpul, ''Aku baik-baik saja, Orihime. Lihat kan?''

''Syukurlah! Kami semua mengkhawatirkanmu Rukia-chan! Aku dan teman-teman yang lain mencoba menghubungimu waktu itu tapi kenapa tidak bisa?'' tanya Orihime memastikan.

''Eh? A-Aku juga tidak tahu, Orihime... Hehe...'' jawab Rukia sekenanya.

Jujur saja ia senang banyak teman-temannya yang mengkhawatirkannya saat ini, hanya saja disentil seputar pertanyaan kecelakaan waktu itu, mau tak mau membuat Rukia jadi mengingat nee-channya.

''Rukia! Kami, turut berduka atas Hisana-nee...'' ujar seorang anak perempuan lain yang berperawakan maskulin disamping Orihime.

''Kami semua berencana datang ke acara pemakaman Hisana-nee waktu itu, tapi karena saat itu masing-masing dari kami berada ditempat lain menghabiskan liburan bersama keluarga, kami jadi tidak bisa datang.'' ujar anak perempuan yang rambutnya bercepol satu.

''E-Eh?'' Rukia tersentak, ''A-Arigatou, Tatsuki... Momo... Dan yang lainnya...'' Rukia berusaha menunjukan dirinya baik-baik saja, agar teman-temannya tidak terlalu mencemaskan keadaan dirinya saat itu, ''T-Tidak usah dipikirkan, sudah ada niat ingin datang saja aku sudah sangat senang dan berterima kasih.''

Sejenak suasana disana menjadi hening dan entah kenapa jadi membuat masing-masing dari mereka merasa canggung.

Tak mau membahas kejadian itu lebih jauh dan tak ingin membuka kenangan pahit Rukia lagi, masing-masing dari mereka kembali melakukan aktivitas mereka yang sempat terhenti.

Meski begitu, tak jarang masing-masing dari mereka memberikan senyuman hangat kepada Rukia ketika gadis violet itu tengah berjalan menuju meja belajarnya dan melalui beberapa pasang mata dari mereka.

·•· ·•· ·•·

Ruangan disini terisi dengan bau obat-obatan yang cukup menyengat. Setiap dinding koridor ruangan pun lebih didominasi dengan warna putih pucat―meski dibeberapa tempat tidak demikian―.

Beralih ke salah satu tempat dimana Isshin berada saat ini. Ia terus saja terduduk lemas dihadapan ranjang Rumah Sakit, tempat dimana anak laki-laki kesayangannya terbaring tak sadarkan diri, sejak kecelakaan terjadi hingga sekarang.

Sesekali setiap bendungan air matanya menetes dipipi, ia selalu mengusapnya dengan cepat, seolah tak ingin memperlihatkan kesedihannya pada anaknya, Ichigo.

Perlahan Isshin menarik tangan Ichigo dari balik selimut, kemudian ia genggam erat dengan kedua tangannya.

''Ichigo...'' bisiknya pelan, ''Anak laki-laki tou-san... Ayo bangun... Jangan tidur terus...''

''Kau lupa? Harusnya, besok kau sudah masuk sekolah, Ichigo... Apa kau tidak merindukan teman-temanmu?''

Isshin berbicara kepada Ichigo, seolah anaknya itu tengah setia mendengar dan berharap merespon segala pertanyaan yang telah terucap.

''Apa kau tidak merindukan Karin dan Yuzu?'' lagi ujar Isshin seraya tersenyum, ''Apa kau... Tidak merindukan tou-san?'' sekarang ia kembali menangis.

Selagi Isshin terhanyut dalam tangisannya, tiba-tiba seorang Dokter datang memasuki ruangan tersebut. Sempat merasa tidak enak ketika melihat salah seorang teman seprofesinya itu masih dalam keadaan kalut, tapi mau tak mau ia harus menghampirinya untuk memberitahukan sesuatu.

''Ehem! Isshin.''

Buru-buru Isshin menghapus air matanya sebelum melihat lawan bicaranya saat itu.

''Ah? Ryuken? Mau mengecek keadaan Ichigo ya?'' tanya Isshin sembari berdiri.

''Oh? Y-Ya– Hm, Maksudku... Tidak...'' jawabnya tiba-tiba gugup.

Sebenarnya Isshin menyadari keanehan itu, apalagi mendapatkan jawaban dari Ryuken yang demikian.

''Lalu?''

''Oh! Hm, Isshin kau tahu kan aku bukan orang yang suka berbasa-basi?''

''...'' Isshin tak menjawab.

''Baiklah. Sebelumnya aku minta maaf, tapi alat bantu anakmu sepertinya harus dilepas.''

Isshin cukup shock mendengar perkataan Ryuken ketika itu, sekujur tubuhnya terasa lemas, tapi ia masih bisa menahan berat tubuhnya dengan sisa tenaga yang masih ia miliki.

''Ke-Kenapa?''

''Isshin... Jangan berpura-pura, kita sama-sama tahu alasannya.''

''Aku tidak tahu.''

Wajah Ryuken terlihat ragu dihadapan Isshin, ''Isshin?'' ia memastikan.

''Aku tidak akan mengikuti keinginanmu itu, biarkan anakku tetap bernafas dengan segala alat bantu medis yang ada ditubuhnya. Biarkan ia merasakan tiap helaan oksigen yang masuk kedalam tubuhnya agar ia bisa bernafas―''

''Ia bisa bernafas tapi tidak akan pernah bisa sadar lagi!''

''Setidaknya ia tidak mati!''

''Isshin jangan bodoh! Kau sendiri Dokter kan? Kau tahu apa yang terjadi pada anakmu kan?''

Keadaan diruangan itu semakin memanas dengan adanya suara teriakan nyaring dari Isshin dan Ryuken. Harusnya hal ini tidak terjadi, mengingat tempat dimana mereka berada saat ini adalah Rumah Sakit.

''Aku tahu! Tapi aku menolak semua kenyataan itu! Aku tidak mau kehilangan salah satu anggota keluargaku lagi...'' terang Isshin yang perlahan mulai melemah dan kembali menitikan air mata.

Sejujurnya Ryuken bukanlah tipe orang yang gampang tersentuh, bahkan sekalipun untuk seseorang yang selalu ia anggap rival itu kala menuntut ilmu bersama ketika berada disebuah perguruan tinggi.

Namun jujur, baru kali ini Isshin memperlihatkan kerapuhannya dihadapannya. Dimata Ryuken, terkadang Isshin adalah sosok aneh yang berlebihan dan terkadang terkesan menyebalkan jika sedang berhadapan dengannya disuatu kesempatan.

Tapi, hanya untuk kali ini saja Ryuken sepertinya mengerti perasaan Isshin.

''Isshin, ini bukan kemauanku. Pihak kepala Rumah Sakit yang mengambil keputusan. Dan kau tidak ada pilihan lain.''

Isshin terdiam, mendengar pihak kepala Rumah Sakit disebut-sebut tentu ia tidak bisa menampik lagi.

Sungguh, masalah ini sangat membuatnya bingung. Belum hilang rasa duka atas ditinggal seorang istri tercinta, juga atas kondisi Karin dan Yuzu yang belum pulih benar, sekarang ia harus dihadapkan dengan masalah baru.

Isshin terus memejamkan kedua matanya, seolah berharap akan ada jawaban yang datang kepada dirinya atas masalah yang satu ini. Dan tiba-tiba saja...

Isshin kembali membuka matanya, ''Tidak! Aku punya pilihan!'' ujarnya tegas.

''Apa?'' Ryuken terlihat bingung dengan pernyataan Isshin yang tedengar penuh percaya diri.

''Berapa lama pihak kepala Rumah Sakit memberiku waktu mengambil keputusan?''

''Eh? Sekitar, satu minggu.''

''Baiklah kalau begitu.'' ujar Isshin sembari melenggang keluar dari ruangan itu, setelah sebelumnya melirik Ichigo dengan senyuman yang sedikit dipaksakan.

'Ichigo... Tunggulah sebentar, ayah akan menjemputmu dari garis kematian sial ini...'

·•· 続 け て ·•·

Arigatou Gozaimasu atas review pada chapter sebelumnya. Begitu juga bagi kalian yang sudah mau meluangkan waktu untuk membaca fic ini ^^

Terima kasih banyak untuk para pe-review:

Reiji Mitsurugi, Ray Kousen7, hirumaakarikurosakikuchizaki, Suzuhara yamami, dsb-(silent readers)

Juga yang sudah menjadikan saya sbg fav. author berikut fic'na:

hirumaakarikurosakikuchizaki

Replied Review :

Reiji Mitsurugi: Moshi-moshi Reiji-san (boleh saya panggil begitu? ^^) | Terima kasih banyak ya atas respon (+) dari reviewmu :) | Salam kenal jg dengan saya author yg nampaknya paling amatir dari semua author yang ada DX *plakk | Benarkah? *bernafas lega* Gamzahamnida Reiji-san ^^ | Tentu, review saya sll terbuka koq *plakk XD kalo blh jujur saya msh amatiran soal menulis dan sprt'na bahasa yg saya gunain d'crt msh agak belibet DX tapi dgn masukan (+) dari kamu saya akan berusaha bljr menjadi lbh baik lagi ^^ | Sarannya saya terima dgn senang hati kok, terima kasih banyak Reiji-san, mampir lagi kesini yaa~ :D

Ray Kousen7: Konnichiwa! ^^ | Arigatou ^^ Gomen ya klo diawal crt kesannya garing XD | Saya rasa di chapt ini kamu ud temuin jwbn'na kan? Yap! Paman Isshin :) | Keadaannya akan diulas chapter per chapter ya Ray-san *plakk XD | Terima kasih banyak atas semangat'na & sudah mau menunggu, oshu! Semangat! Mampir kesini lagi yaa~ :D

hirumaakarikurosakikuchizaki: Arigatou ^^ | masukan kamu boleh juga :D tapi kalo harus dijadikan main saya rasa blm soal'na tragedi'na hanya diawal cerita *digeplak hiruma-san* XD | Terima kasih banyak atas respon (+) dan semangat'na ^^ mampir kesini lagi yaa~ :D

Suzuhara yamami: Moshi-moshi! ^^ | Arigatou Suzu-san (boleh dipanggil begitu? XD) gomen kalo diawal terasa garing DX | oke deh terima kasih banyakkk :D mampir kesini lagi yaa~ :D

Review