"Hm~~" Lengguhan itu keluar dari mulut keringnya. Dengan beberapa kali kerjapan mata, akhirnya pemuda yang sedang berbaring itu bisa membiasakan diri dengan lampu penerangan di kamarnya. Dengan perlahan ia mencoba melihat disekitarnya. Melihat ke arah kirinya dengan cukup sulit. Serasa ada yang melilit di wajahnya. Membuat dirinya cukup kesulitan untuk menengok.

Tangan kurus dan pucat itu terangkat. Meraba sesuatu di bagian mulut dan hidungnya. Sesuatu yang mengembung dengan selang di ujung benda tersebut menutup bagian hidung dan mulutnya.

Helaan nafas ikut terluar ketika dirinya menyadari apa itu.

Masker oksigen.

Sudah berapa lama ia tertidur kali ini?

.

.

.

== Run ==

.

.

.

Cast : Cho Kyuhyun (Super Junior), Shim Changmin (DBSK) and other

Genre : Angst, Brothership, Friendship, Hurt/Comfort

The Series

.

.

.

== by terunobozu ==

.

.

.

== Chapter 2 ==

.

.

.

Pertama yang Kyuhyun lihat adalah seorang pemuda yang sedang duduk di samping tempat tidurnya. Kepalanya menunduk dengan kosentrasi penuh. Jemari-jemari tangannya dengan lihai menari-nari di atas keypad-keypad benda persegi berwarna putih.

Dia mengernyit melihat benda itu. Meski pandangannya terasa blur namun ia sangat yakin mengenali benda persegi yang berada di tangan pria yang duduk di samping ranjangnya. Itu miliknya. PSP putihnya. Kekasih tercintanya —yea, dirinya mulai kembali menggombal pada PSP-nya.

"Itu PSP ku..." Suara itu masih terdengar serak dan lirih. Bahkan mungkin hanya terdengar seperti bisikan. Ditambah dengan masker oksigen yang masih menutupi sebagian wajahnya.

—Tapi setidaknya, suara itu cukup untuk menyadarkan pemuda yang sedari tadi berada di 'dunia lain'nya dan duduk di samping ranjang Kyuhyun. Pemuda yang baru Kyuhyun sadari tengah duduk di sebuah kursi roda, bukan di tempat kedua orang tuanya ataupun Cho Ahra dan Choi Siwon —kakak kandung dan kakak iparnya— biasanya duduk untuk menemani dirinya.

Ia mengangkat kepalanya. Menatap lurus ke arah Kyuhyun dan mengeluarkan senyuman andalannya yang terkesan lebih seperti seringaian daripada senyuman. Dan saat itu Kyuhyun sadar siapa pemuda itu. 'Si bocah kursi roda'.

"Ini memang PSP-mu. Kau menjatuhkannya di taman. Ingat?" Pemuda itu menyodorkan PSP putih itu ke arah Kyuhyun.

Tangan pucat Kyuhyun terulur dan mengenggam PSP putih miliknya. Beberapa detik kemudian, tangan itu kembali terkulai di atas kasur.

"Ternyata kau sudah mencapai level yang tinggi dihampir semua game di PSP-mu. Bahkan sebagian sudah kau selesaikan. Tapi sayang, games dalam PSP-mu jadul semua." Pemuda itu mengkerucutkan bibirnya. Entah apa maksudnya melakukan hal itu. Tsk! Seperti anak kecil saja.

Kyuhyun menekan tombol di balik bed sebelah kanannya. Membuat bed bagian atasnya bergerak melawan gravitasi bumi. Membentuk sudut pada kasur tersebut. Sekitar 30 derajat pembentukan sudut pada kasur itu, Kyuhyun menghentikan tekanan jarinya. Ia menatap sekilas pada PSP putih yang tergeletak di telapak tangannya. Helaan nafas kembali terdengar. "Setidaknya aku hanya ingin bertanggung jawab menyelesaikan semua games dalam PSP-ku. Jika aku menambah games baru, itu akan menambah tanggung jawabku." Sorot matanya sayu. Wajah pucatnya menyunggingkan senyum sinis yang begitu lemah. Senyum meremehkan pada takdir yang tengah merenggut mimpinya. "Dan aku tak yakin punya waktu banyak untuk bertanggung jawab menyelesaikannya..." Lirihnya.

Changmin—sang bocah berkursi roda— hanya bisa menunduk mendengar penuturan Kyuhyun. Pendengarannya pasti tak salah menerima gelombang suara yang dikeluarkan Kyuhyun, dan ia yakin dengan bentuk nada yang diperolehnya. Itu adalah bentuk keputusasaan. Sama seperti dirinya. Putus asa.

"Apa kau sudah menyerah?"

Kyuhyun mengalihkan pandangnnya dari PSP putih itu. Menatap Changmin dengan sorot bingung.

"Suster Ahn sudah memberi tahuku tentang sakitmu." Lanjut Changmin.

Kepala itu menengadah. Menatap mata Kyuhyun yang memandangnya sayu. "Apa kau sudah menyerah?" Tanyanya lagi.

Kyuhyun masih terperangah bingung. Namun beberapa detik kemudian, senyuman tulus itu terpahat dari paras pucatnya. Ia menggeleng pelan. "Anni! Aku tidak akan pernah menyerah." Jawab Kyuhyun mantap. "Kau sendiri, apa kau sudah menyerah?" Kali ini mata Kyuhyun nampak menantang wajah dihadapannya.

Sekarang giliran Changmin yang merenggut bingung. Alisnya saling terkait hampir bersentuhan. "Maksudmu?"

"Mimpimu sebagai pelari." Jawab Kyuhyun santai. "Apa kau sudah menyerah?"

"Bagaimana kau bisa tahu?"

Kyuhyun memutar bola matanya mendengar Changmin yang malah balik bertanya. "Jika kau punya suster Ahn, maka aku juga punya suster Kim. Kau ingat?"

Changmin berpikir sejenak. Mencoba mengumpulkan kepingan puzzle dari clue yang berhasil ia dapat. Ah! Kenapa otaknya jadi begitu perlu banyak waktu hanya untuk menemukan maksud perkataan Kyuhyun.

Kyuhyun menghela nafas ketika melihat Changmin sama sekali tidak meresponnya. "Suster Kim memberitahuku tentang dirimu. Kau tahu? Terkadang suster-suster di sini cukup menyebalkan." Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kenapa semua informasi begitu cepat menyebar dari mulut mereka. Dasar perempuan. Sangat mirip dengan Noona." Lanjut Kyuhyun dengan wajah so' dewasanya.

Changmin hanya tersenyum menanggapi perkataan Kyuhyun. Ah! Ia baru mengerti sekarang. Salahkan Rumah Sakit ini yang telah membuat otaknya jadi lamban dalam berpikir.

"Jadi, apa kau sudah menyerah?" Tanya Kyuhyun kembali ke topik awal.

Changmin mengangkat bahunya sebagai pertanda ia pun tidak tahu. "Entahlah."

"Hei! Kau sudah menyerah?"

Senyuman hambar itu mencuat dari bibirnya. "Aku sudah tidak bisa berjalan, jadi tidak mungkin menjadi seorang pelari."

"Bagaimana dengan terapi? Mungkin kau bisa berjalan kembali? Menjadi pelari lagi?"

Changmin menggeleng pelan. "Percuma. Jika pun aku bisa berjalan, mungkin sudah tidak ada kejuaraan yang bisa ku ikuti."

"Kau kan bisa mencobanya?"

"Tak akan ada yang berubah."

"Hei, kau belum mencobanya."

"Percuma!"

"Loser!" Celetuk Kyuhyun.

"Ya!" Changmin mengangkat kepalanya tidak terima. Ia hampir saja meledak jika saja Kyuhyun tidak sedang menatapnya dengan tajam kini. Sorot mata itu serasa lebih menyeramkan dibanding emosinya yang sedang mencuat karena perkataan Kyuhyun tadi. Dengan sendirinya, emosi Changmin langsung menghilang. Digantikan oleh rasa aneh dalam dirinya.

"Loser!" Kata itu kembali keluar dari mulut Kyuhyun bersamaan dengan sorotnya yang semakin tajam. "Aku bahkan divonis Dokter tak akan sanggup bertahan lebih dari 1 tahun. Tapi aku masih berharap... aku masih mencoba... untuk hidup." Air mata mengalir dari mata sayu Kyuhyun. Secara tidak langsung hal itu cukup menampar Changmin. "Kau hanya di vonis lumpuh sementara. Dan kau sudah menyerah? Apa-apaan itu? Kau bahkan masih punya hidup sehatmu..."

"Itu berbeda!"

"Tentu saja sama!"

"Berbeda!"

"Apanya yang berbeda?"

"Aku lumpuh! LUMPUH!" Tanpa sadar Changmin telah berteriak di Kamar Kyuhyun. Hal ini sepertinya masih menjadi hal yang begitu sensitif bagi Changmin.

Berterima kasihlah kepada pagi yang saat itu masih melayani mereka, sehingga hanya ada dirinya dan Kyuhyun dalam ruangan itu. Ditambah dengan kamar Kyuhyun yang merupakan kamar VVIP sehingga tidak ada penghuni lain dalam kamar itu. "Kau tahu bagaimana rasanya? Keadaan seperti ini membuatku seperti orang yang tidak berguna dan mati..." Changmin menghentikan perkataannya sejenak. "Dan mati kurasa lebih baik..."

Kyuhyun mengempalkan tangannya ketika Changmin mengatakan hal itu. "Mati? Kau tahu apa bocah? Ribuan orang bertahan demi menghindari kata mati dan kau dengan seenaknya mengatakan ingin mati?" Kyuhyun mengambil bantal yang menjadi sandaran punggungnya. Melemparnya begitu saja pada Changmin.

"Ya!"

"Pergi!"

"Apa kau mengusirku?"

"PERGI!"

Changmin tersentak mendengar Kyuhyun yang berteriak padanya. "Kau serius mengusirku?"

"Terimakasih karena sudah mengembalikan PSP-ku. Kurasa kau tak punya urusan lagi di sini. Kau bisa pergi."

"Kau mengusirku?" Changmin masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

"Sebentar lagi jadwal kemoterapiku. Kau bisa pergi sekarang."

Changmin menghela nafas sejenak sebelum akhirnya tangannya bergerak menuju roda kursinya. Mengayuhnya menjauh dari ranjang Kyuhyun dan menghampiri pintu kamar rawat tersebut. Dirinya tidak diterima lagi di kamar itu.

"Jika kau masih berpikir seperti itu, jangan pernah berani menemuiku lagi."

Changmin berhenti sejenak mendengar perkataan Kyuhyun. Ia menolehkan kepalanya pada Kyuhyun yang kini sedang mengembalikan ranjanganya pada posisi semula —lurus. Membaringkan diri tanpa beralaskan bantal. Mencoba tertidur kembali. Nafasnya tampak tersenggal dibalik selang oksigen yang melilit hidungnya. Perasaan bersalah itu kini muncul. Entah dari mana datangnya.

Apa aku melakukan kesalahan?

-000-

Suster Ahn memasuki kamar Changmin. Wanita berumur tiga puluh tahun itu tersenyum pada Changmin yang tengah duduk di ranjangnya —menyandarkan punggungnya pada ranjang.

"Siang!" Sapa suster Ahn berjalan mendekat. Ia memeriksa sesaat selang infusan beserta tabungnya dan menuliskannya pada papan yang berisi kertas yang sedari tadi ia bawa. "Bagaimana kabarmu hari ini, Changminnie?" Tanya Suster Ahn dengan tangan yang masih terampil bergerak. Ia meletakkan 'papan catatan' itu dan mengambil pengukur tensi darah lalu memasangkannya di lengan Changmin. Memompanya sejenak dan menghentikan pompaan ketika tangan satunya yang sedari awal memegang pergelangan tangan Changmin merasa detakan nadi Changmin mempercepat lajunya. Ia kembali tersenyum. "Ada masalah?" Tanya Suster Ahn. Tangannya kembali mengambil papan catatan dan menuliskan sesuatu di sana.

"Suster..."

Suster Ahn mengangkat kepalanya ketika Changmin memanggilnya. "Iya?" Senyum manis itu kembali mengembang.

"Sejak kapan Kyuhyun masuk Rumah Sakit ini?" Tanya Changmin sambil menunduk. Entah kenapa, sejak pengusiran yang dilakukan Kyuhyun kepadanya tadi pagi membuatnya merasa bersalah pada Kyuhyun. Dan rasa penasaran akan Kyuhyun pun ikut timbul dalam dirinya.

Suster Ahn menghentikan aktifitas menulisnya. Ia mengambil kursi yang biasanya diduduki pengunjung itu untuk mendekat ke samping ranjang. Setelah dirasa posisinya pas, Suster Ahn langsung menempatkan diri —duduk di atas kursi tersebut. "Ada apa?"

Changmin menggeleng lemah. "Sepertinya aku telah melakukan kesalahan pada Kyuhyun, Suster." Kepala itu tertunduk. Tangannya saling mengait di atas paha. "Aku hanya ingin tahu tentangnya... mungkin dengan begitu aku bisa menyimpulkan letak kesalahanku."

Suster Ahn tersenyum mendengar penuturan remaja berusia 16 tahun dihadapannya. "Baiklah. Aku akan menceritakannya. Tapi itu rahasia ya..."

Changmin memandang Suster Ahn dengan antusias lalu segera mengangguk.

-000-

Anyeong~~ I'm come back. Thangks for your appreciation on my fic. I'm very honored for that. It's time to reply our reviews... ^^

Sunny : ini udah lanjut. Terimakasih chingu *hug*

Kyu-Kyu : Sakit apa ya? Hehe, ini sudah dilanjut. Terimakasih chingu *hug*

Trueetr : hehe, tapi sepertinya ini lama ya? ^^\ but, Terimakasih chingu *hug*

Cho-i-fa : Kyu sakit apa ya? Di episode ini belum dijelaskan ya? Gomen... endingnya kyu mati gak ya? Yang pasti itu rahasia, hehe... Ini udah dilanjut. Terimakasih chingu *hug*

Blackyuline : Sad ending ya? Hehe, dari genrenya udah ketahuan bakal sad. Tapi saya agak kurang percaya diri apakah cerita ini bakal beneran sad. Semoga cara penyampaian saya mampu menyalurkan 'sad sense' hehehe... tapi masalah sad or happy end, itu rahasia. Apapun bisa terjadi... hehe ^^V Terimakasih chingu *hug*

JAESA : Hehe, bukan romance chingu. Saya gak berani dan gak mampu bayangin kalau bikin romence... jadi friendship aja ya? ^^ sakitnya mungkin dijelaskan di next part. Kenapa judulnya Run ya? Nanti Jaesa-san juga tahu, hehe... Dan inilah friendship Changkyu... *alah* u_u. ^^ Terimakasih chingu *hug*

Karin : Ah, Arigatou karin-san. Syukurlah kalau merasa enjoy... *langsung lega*. Sad end atau happy end masih rahasia saya. Dan semua kemungkinan bisa terjadi hehe... apakah Kyu meninggal? Hihihi... Terimakasih chingu *hug*

Park YUIrin : Anyeong *bow*. Hehehe... kalau update cepet kayaknya kurang bisa deh YUI-san. Gomen... *bow* Hehe, gak kepingin jadi suster Kim saja? Kan bisa nemenin KyuKyu? Tapi saya tetap milih jadi author, biar bisa menyiksa mereka dalam cerita saya... hehe *digampar massa* Ok deh, Terimakasih chingu *hug*

Honey : Terimakasih chingu *hug* ini udah dilanjut... ^^\

Takishinka Rinku Imnida : ini udah update.. Terimakasih chingu *hug*

Komozaku Mikirau Shin : Anyeong *bow* PSP-nya diambil Changmin kok... tapi tak diceritakan secara eksplisit, hehe... Ok deh. Ini lanjutannya! Terimakasih chingu *hug*

Kyuminjoong : ChangKyu belum saling kenal chingu. Mereka baru ketemu di rumah sakit. Changmin sebel karena ia merasa tempat itu (baca: bawah pohon oak) adalah tempatnya. Dan ia selama ini ia gak pernah nemu Kyu ada di sana. Maklumlah, Oppa kan lagi dalam massa sensitif hehehe... Kyu sakit apa? Masih rahasia... ^^ Ok, ini dah di update!^^

MagnaeGyu : Anyeong~~ *bow*. Yes I'm ^0^... Ah, arigatou chingu. Kyu sakit apa ya? Masih dirahasiakan. Yupz! Hwaiting! Terimakasih chingu *hug*.

Aul : Pendek ya? Gomen... inilah kemampuan saya U_U... ini ada lanjutannya kok aul-san ^^ Terimakasih chingu *hug*

Sparkyu :Hwah ! ^/^ Terimakasih chingu *hug*

Yooshi704 : Sakit apa ya? Rahasia! ^^ Tapi kenapa minnie yang disalahin? *Meluk Oppa* Terimakasih chingu *hug*

KyuELF15 : Ah? 0.0 Nado Saranghae... *hug too* ^^a Kyu sakit? Dibuat menderita? Ok! Bisa diatur *evil smirk/plak* hahaha Terimakasih chingu *hug*

Dhedingdong :Hahaha... XD Oke ini udah lanjut. Terimakasih chingu *hug*

Fiuh~~~ akhirnya selesai balas review. But, I have a bad news. I'll hiatus for 1 month. Hehehe... ^^

I get my mid exam in the college. So, I'm very sorry for that. Would you like to praying me for the exam? Ok deh... See you next month! ^^/