Untuk yang tidak login :
Hana : ini udah lanjut ya .
amayy : hehe, ini udah lanjut kok . /big hug/
.
.
.
2) Mengenalnya
.
.
.
Honestly adalah secara jujur; terus terang;
dengan tulus ikhlas; serta dengan tulus hati
Ino POV
Konoha, 09:30 PM
Aku menutup pintu apartemenku pelan. Aku berjalan terhuyung ke sofa berwarna cream, lalu duduk selonjor. Sebenarnya, hari ini melelahkan sekali. Baru saja aku masuk, sudah disuguhi oleh berkas-berkas yang harus diketik.
Aku mengeliat, menyempurnakan posisi tidur yang nyaman disofa.
A-yo ladies and gentleman
Junbiga dwaessdamyeon bureulge yeah
Ttan nyeoseokdeulgwaneun dareuge
Gini-gini aku k-popers, ya.
Tiba-tiba, ponselku berdering. Aku melihat sebentar pada layar monitor, nama Sakura terpampang jelas.
"Halo?" aku mengangkat telpon dari Sakura.
"Halo, Ino? Kamu dimana?" tanyanya dari seberang telpon.
"Aku diapartemen, kenapa?" aku bingung.
"No, aku kesitu sama Tenten ya?" pinta Sakura.
"Iya, kesini aja. Alamatnya…" aku menyebutkan alamat apartemenku.
"Ok,"
Sakura menutup sambungan telpon lebih dulu. Aku menaikkan bahuku. Yah, aku harus menunggu makhluk-makhluk tersebut datang.
20 menit kemudian…
TOK TOK
Aku berlari kecil menuju pintu, lalu membukanya. Kulihat Sakura dan Tenten tersenyum kepadaku, mereka juga membawa tas ransel. Emangnya aku ngajak kemah?
"Hai, Ino!" sapa Tenten senang. "Masa tamu diluar?"
Aku mengernyit. "Ah, maaf. Silahkan masuk," kataku mempersilakan mereka masuk.
Mereka duduk disofa. Aku menutup pintu apartemenku.
Aku menghampiri mereka. "Kalian kenapa bawa ransel?" tanyaku heran.
"Nginap bisa kali," ujar Sakura sambil memakan camilan yang ada diatas meja.
"Um, bener kata Sakura!" Tenten juga memakan camilan dengan lahap.
Aku tersenyum kecil. "Kalian kayak orang yang gak makan seminggu ya?" ejekku.
Mereka tak memperdulikan omonganku, karena sibuk dengan aktivitas memakan camilan. Aku menghela napas sejenak, lalu berjalan ke kamar yang ada disebelah kamarku sambil membawa kedua tas ransel mereka.
Aku menaruh tas mereka di atas kasur. Mereka mengikutiku, kemudian duduk dikasur yang lumayan lebar.
Tenten menaikkan satu alisnya. "Satu kasur berdua?" tanyanya heran.
Sakura melotot kepadaku. "2 in 1?"
Hah, apaan 2 in 1?
"Kamu kira joki 3 in 1?" celetukku.
"Itu 3 in 1 Ino sayang, ini 2 in 1," ucap Tenten.
"Kok malah ngomongin joki 3 in 1 sih?" tanyaku kesal.
"Hehe, santai bisa sih mbak,"
Aku menghela napas kedua kalinya.
Sakura membuka tas ransel yang bergambar persis seperti baju tentara, aku curiga itu punya adik laki-lakinya.
"Itu punya adikmu ya?" tanyaku terus terang.
Sakura tampak malu. "Iya Ino-chan, hehe," Sakura cengengesan salah tingkah.
"Dia emang gitu, kalo tasnya gak sreg, dia langsung minjem punya adiknya!" jelas Tenten jujur.
"Eh, diem kamu, Ten!" Sakura mencubit pipi Tenten.
Tenten membalas Sakura dengan pukulan yang oh wow.
"Ten, aku nyubit kamu pelan! Kok malah kamu mukul aku keras sih? Tenaga you kan kayak gorilla!" cibir Sakura.
"Terserah me dong, me kan yang mukul! Huuu!" Tenten menjulurkan lidahnya.
Aku hanya bisa cekikikan melihat mereka berdua.
Aku melirik kearah jam dinding. Jam menunjukkan pukul 10 malam.
"Udah jam 10 nih, aku balik ke kamar ya?"
Perkelahian antara Tenten dan Sakura terhenti, mereka langsung mengangguk secara bersamaan.
Aku bergegas pergi ke kamarku, yah… maklum saja, jam tidur malamku sekitar jam 10-an, sudah kebiasaan dari kecil.
Konoha, 07:00 AM
Keesokan harinya, aku menyiapkan sarapan pagi untuk kami bertiga. Tenten dan Sakura belum muncul, mungkin mereka belum bangun. Aku menata piring-piring yang berisikan daging, serta sayuran.
TAP TAP
Aku melirik ke samping kanan, terlihat Tenten sedang mengucek-ucek matanya. Ia duduk dikursi, sesekali ia menguap.
"Hoahhmm,"
Aku duduk didepannya. "Hei, cuci muka dulu sana!" pintaku.
Tenten hanya mengangguk lemas.
Setelah mencuci muka, ia kembali duduk dikursinya. Ia mengambil nasi, serta lauk pauk. Sebelum ia memasukkan suapan pertama, aku menghentikannya.
"Ten, berdoa dulu,"
Ia mengangguk, lalu berdoa sesuai perintahku. Setelah berdoa, ia melanjutkan aktivitas makannya.
Aku juga ikut mengambil nasi, serta lauk pauk.
"Huaah,"
Suara desahan tersebut terdengar dari belakangku, otomatis aku menoleh.
"Ng, Tenten udah makan ya…" gumam Sakura sambil berjalan linglung ke kursi yang berada di sebelah Tenten.
"Kamu makan juga ya Sakura," perintahku.
"Iya, Ino-chan." ucapnya.
Tenten menaruh sendoknya. "Ino, kalo aku duluan selesai, nanti aku duluan yang mandi ya!" ujarnya.
Aku mengangguk.
Kami bertigapun memakan makanan kami tanpa ada yang bersuara.
Setelah makan, kami mandi secara bergantian.
Kalian tahu? Kami kesusahan memilih baju formal yang terlihat simple. Perempuan memang pengen terlihat cantik dong ya, maklum aja.
Konoha, 10:15 AM
Kami bertiga menunggu Gaara dihalte dekat apartemenku, sejujurnya dia orang yang lumayan lelet serta lamban jika disuruh-suruh.
"Uhh, mana sih si Gaara? Capek nih!" Tenten menghentak-hentakkan kakinya.
Sudah setengah jam kami menunggu, tapi tidak ada tanda-tanda munculnya Gaara.
Aku mulai terserang bosan kalau harus menunggu lebih lama lagi. Kulirik kedua sahabatku, mereka tampak kesal karena Gaara terlambat.
TIN TIN
Akhirnya!
Kami bertiga langsung berlari ke sebrang jalan, tentunya menghampiri mobil Gaara.
"Dasar, jadi orang kok lelet banget ya?"
"Kakiku pegel nih nunggu you,"
"Gaara, Gaara."
Kami bertiga mencerocos Gaara setelah masuk ke dalam mobilnya, Gaara hanya tersenyum kecut menanggapi kami.
Yah, mending berbicara dengan pohon daripada Gaara.
"Mister Kakashi ada ngirim email gak?" tanya Sakura memecah keheningan.
Kami menggeleng.
"Jadi, kita harus ke kantor dulu?"
"Gak, kita langsung ke bandara." Jawab Gaara datar.
"Yaudah deh," gumam Sakura.
Heningpun kembali terjadi lagi. Sakura tampak fokus pada ponselnya, Tenten asyik memandang ke luar jendela, lalu Gaara fokus menyetir mobil. Aku? Apalah dayaku yang hanya bisa duduk manis dijok paling belakang. Sumpah, ini nista!
Konoha, 01:05 PM
Akhirnya, sampai juga dibandara. Aku merentangkan tanganku ke udara, hitung-hitung buat menghirup udara segar dan untuk menghilangkan rasa pegal dibagian punggung.
"Dimana ya pak Mister Asuma?" tanya Tenten sambil celingak-celinguk ke kiri dan kanan.
Sakura menaikkan bahunya. "Entahlah, Ten. Eh, Gaar, kamu telpon Mister Asuma ya!" pintanya.
Gaara langsung menghubungi nomor Mister Asuma.
"Halo, Mister?"
"Iya, anda dimana Mister?"
"Oh, baiklah, saya kesana bersama teman-teman,"
"Baik, Mister."
Kami bertiga menatap intens Gaara. Ia yang sepertinya mengerti tatapan kami, ia langsung berkata.
"Kita ke cafe yang ada di dekat pintu masuk bandara."
Setelah sampai dicafe yang dimaksud Gaara, kami menghampiri tempat singgahnya Mister Asuma. Ia sedang berbincang-bincang bersama pria berpakaian formal.
"Ah, kalian! Silahkan duduk," pinta Mister Asuma.
Aku duduk disebelah Gaara, sekali-kali duduk dekat sama cowok datar.
"Saya mau mengenalkan kerabat saya pada kalian," ucap Mister Asuma, beliau memberi jeda sejenak. "Perkenalkan, dia Hatake Kakashi, pembimbing kalian pada saat wawancara tentang kejadian yang menimpa suatu daerah."
Kami berempat bersalaman dengan pria berpakaian formal tadi –namanya Mister Kakashi. Oh, ternyata lumayan juga wajahnya.
"Selama kalian wawancara, Mister Kakashi akan menjadi penulis apa yang kalian tanyakan pada seorang saksi mata." jelas Mister Asuma.
"Kami akan wawancara didaerah mana, Mister?" tanya Tenten yang keheranan.
"Saya gak tau, nanti kalian akan digiring sama Mister Kakashi ke tempat kejadian tersebut. So, saya gak ikut-ikutan." ujar Mister Asuma sedikit bercanda.
"Ih, gimana sih, Mister? Kok malah gak ikut-ikutan?" celetuk Sakura kesal.
"Saya hanya menunggu kalian selesai, lalu mengkoreksi apa yang kalian lakukan. Semua tanggung jawab saat didaerah tersebut bukan saya ya, tetapi Mister Kakashi."
"Mister Asuma mah gitu orangnya," canda Gaara.
"Mister Kakashi umurnya berapa ya? Jangan-jangan sama kayak Mister Asuma?" tanyaku curiga.
Mister Asuma berdecak, lalu tertawa. "Aduh, kamu kok ketemu orang langsung nanya umur sih? Apa jangan-jangan kamu memang diajarin gitu?" ia memijit keningnya.
"Ya, gitu sih Mister," ucapku sekenannya.
Tenten menatap padaku dengan tatapan mengejek, aku menjulurkan lidahku kearah Tenten.
"Jadi, Mister Kakashi sendirian membimbing kami berempat?" tanyaku pada Mister Kakashi yang sedari tadi hanya tertawa kecil. Ketiga sahabatku mengangguk menghadap Mister Kakashi, tampaknya mereka juga kebingungan.
Mister Kakashi tersenyum sekilas. Lalu berkata, "Tentu tidak, saya mempunyai partner," katanya sembari menyeruput kopi.
"Dimana, Mister?" Tenten melihat ke sekeliling ruangan.
"Sebentar lagi dia akan datang."
"Tunggu aja, kalian kok jadi orang gak sabaran sih ya?" canda Mister Asuma, lalu tertawa geli.
"Yah, namanya juga cewek, selalu gak sabaran!" seru Tenten.
"Emangnya aku cewek?" Gaara memicingkan matanya.
"Kali aja kamu mau jadi cewek, Gaar."
"You nyuruh me?"
"Oh, yes."
"Apa hakmu menyuruhku jadi cewek?"
"Tentu saja wajahmu Gaar, kan kamu babyface!"
Kami semua tertawa renyah ketika Tenten bilang kalau Gaara wajahnya babyface, kecuali Gaara. Ia langsung merengut kesal karena Tenten mengejeknya.
"Maaf, saya terlambat."
Kami semua menghentikan acara tertawa berjamaah, kemudian menoleh secara bersamaan kearah suara berasal.
Seorang pemuda berambut hitam kelam, sembari menjinjing tas kantornya. Menurutku, umurnya seperti Gaara.
"Oh, tidak apa-apa. Mari, duduk!" ucap Mister Kakashi.
Pemuda itu memandang kami semua, lalu duduk disebelah Sakura.
"Ini dia," Mister Kakashi sepertinya antusias saat hadirnya pemuda ini. "Ini yang kumaksud partnerku. Kenalin, dia Uchiha Sasuke. Oh ya, panggil saja Sasuke."
Aku mengernyitkan dahi, ketiga sahabatku pun begitu. Sasuke? Memangnya umurnya berapa? Aku mau bertanya, tetapi nanti diejek lagi.
"Kok Sasuke aja?" tanya Gaara mewakili pertanyaan yang ada dipikiran kami.
"Yah, umur dia saja baru 25 tahun. Kalian mau manggil dia dengan sebutan 'Mister Sasuke' gitu?" celetuk Mister Kakashi.
"Gaklah Mister, umurnya beda sedikit saja sama kita," sahut Tenten.
Aku dan Sakura mengangguk setuju.
"Ya sudah, karena sekarang kita sudah ngumpul, kita langsung check-in saja," pinta Mister Kakashi sebelum berjalan menuju pintu keluar cafe.
Kami mengikutinya dari belakang.
"Umm, saya pamit ya? Masih banyak urusan dikantor," seru Mister Asuma sembari melihat jam ditangannya.
"Oh yaudah, gak apa-apa. Terima kasih sudah mengantar," ujar Mister Kakashi.
"Iya, sama-sama. Kalian jaga kesehatan ya, dan juga semoga saja kalian dapat topik yang menarik, hehe. Sampai jumpa!" pamit Mister Asuma melambaikan tangan pada kami semua.
Konoha, 04:10 PM
Aku mencari tempat duduk yang tertulis ditiketku. Nomor 12A. Ternyata ditengah, dan disebelah jendela, aku kok hoki ya?
Aku memasukkan tas ranselku ke bagasi yang ada di atas. Lalu, duduk manis menunggu siapakah yang duduk disebelahku. Kalau aku duduk dengan Tenten, kami tidak akan habis bergosip ria. Kalau Sakura, kami akan bercerita tentang makanan. Kalian tahu? Sakura itu pecinta makanan. Kalau aku duduk dengan Gaara, kami akan berhening ria.
Kok susah ya nyari pasangan tempat duduk?
BRUK
Aku tersentak ketika seseorang menduduki kursi yang ada disebelahku. Aku menoleh. Lalu, aku mendapati Sasuke sedang memakai sabuk pengaman.
What the… Sasuke?
Mimpi apa aku semalam?
Kalau boleh jujur, Sasuke itu sangat tampan, mempunyai badan yang ah waw, serta hidung yang mancung. Aku merasa diriku akan meleleh.
"Umm," aku ragu untuk membuka suara.
Sasuke langsung menatapku.
Aku sedikit terkejut, tenggorokanku tercekat.
"Ng… Anu, anda duduk disini?" tanyaku tak masuk akal.
Ya iyalah dia duduk disini, toh dia udah duduk disini daritadi, batinku.
"Ya," ucapnya singkat. "Kenapa?" tanyanya dengan wajah datar.
"Tidak apa-apa," seruku lirih.
"Kau…" ia menjeda ucapannya. "Formal sekali." komentarnya.
"Yah –yah, kau kan orang yang lebih tua dari aku,"
"Oh,"
Hanya 'oh' saja?
"Err, aku lupa namamu… siapa ya?" tanyaku. Sebenarnya, aku sudah tau namanya.
"Sasuke."
"Oh, err… salam kenal ya?" ujarku canggung.
"Ya," Sasuke mengangguk sekilas, lalu ia fokus mengamati pramugari yang menjelaskan cara memakai pelampung yang benar.
Aku sudah bosan melihat pramugari memeragakan itu, aku bahkan sudah berkali-kali naik pesawat. Tentu saja, aku sudah hapal seperti apa caranya.
Aku melirik Sasuke dari ekor mataku. Ia masih fokus pada pramugari yang masih memperagakan keamanan penumpang.
Aku tersenyum kecil.
Dia tampan, batinku lagi.
A/N :
Kasih tau saya kalo masih ada nama 'ASING' ya, hehe.
Dan juga, maaf kheun saya kalo si Sasuke nampang cuman secuplis doang .
Ini 'kan masih dalam part perkenalan /halah/ /dikamehameha/.
Cerita aslinya udah saya publish juga diwattpad saya wkkwkwk /digaplok/.
Mind to review, minna? Thanks!
