A/N: Hai! ini chapter dua! oh iya, ada reader yang bertanya. Maaf ya, ff ini nggak akan jadi rate M. kkk mian...

Oke, sekarang please enjoy the chapter, and please review after that^^


[CHAPTER 2 / 5]

Forcing

Jaehwan tengah berada di balkon kamarnya. Matanya masih merah dan berkaca-kaca karena tangis yang tak kunjung henti. Ia menghela nafas. Mungkin itu akan jadi terakhir kalinya ia bertemu dengan Taekwoon. Ia tak ingin melihat Ny. Jung menyakiti Taekwoon atau dirinya lagi.

Ketika Jaehwan hendak menghapus air mata dari pipinya, ia meraskan sepasang lengan yang jenjang melingkan di pinggang rampingnya. Ia menolehkan kepalanya, dan melihat kepala Taekwoon yang bersandar di pundaknya.

"H- hyung?"

"Aku merindukanmu, Jaehwan-ah.." Taekwoon mengendus aroma tubuh Jaehwan.

"Bukannya ibumu melarangmu keluar selama seminggu?"

"Oh, kau sempat mendengarnya?" Tanya Taekwoon, kali ini menatap Jaehwan. Jaehwan mengangguk dengan malu-malu. Pria dibelakangnya terkekeh. "Well.. Aku terlalu merindukanmu sampai-sampai aku tak bisa hanya berdiam di rumah, mendengarkan umma mengoceh sepanjang malam."

Jaehwan tersipu ketika Taekwoon mengecup bahunya yang sedikit terekspos.

"Tu- tunggu, hyung.." Jaehwan mendorong Taekwoon perlahan, dan berbalik. Ia menatap dalam mata hyung-nya. "Ibumu melarang kita untuk saling bertemu."

"Sudah kubilang jangan khawatir dengan itu, kan?"

"Tapi hyung.. Aku tak mau terus berada dalam kondisi ini, di mana aku tak bisa mencintai orang yang kucintai dengan tenang. Aku tak mau terus berada dalam rasa sakit ini hanya karena mencintai seseorang yang dilarang untuk berhubungan denganku. Meski tahu orang itu sangat mencintaiku, dan dia tahu aku juga sangat mencintainya. Aku ingin menghentikan semua hal yang membuatku tersiksa. Aku... Minta maaf, hyung."

Taekwoon menatap Jaehwan penuh rasa tak percaya. Ia merasakan kepalan tangan Jaehwan makin kencang di dadanya. Tangan Taekwoon pun beranjak untuk mengelus pipi Jaehwan yang penuh air mata.

"Ka- kau tak bermaksud untuk-" Taekwoon menghentikan kalimatnya, tak cukup berani untuk mengatakannya.

Sedangkan tangisan Jaehwan makin kencang. Ia tahu bahwa pria yang lebih tua di depannya ini sudah tahu apa yang akan ia katakan. Ia sendiri sebenarnya belum cukup berani untuk mengatakan hal ini. Karena meskipun ia sangat tak ingin merasakan derita ini lagi, di lubuk hati terdalamnya, ia benar-benar mencintai Taekwoon. Namun, ia tak ingin melanjutkan hubungan yang membuatnya menderita seperti.

Jaehwan menarik nafas dalam, dan mencoba untuk berhenti menangis. Kemudian ia angkat kepalanya untuk menatap mata Taekwoon yang masih tak percaya. Melihat tatapan mata itu, keberanian Jaehwan seketika tenggelam sedalam mungkin ke dalam tanah.

Tidak. Bagaimana pun, ia harus mengatakannya.

"Kita... Kita harus... Putus, hyung."

Hening.

Jaehwan kembali menangis hebat. Taekwoon masih membatu. Tiba- tiba, tangan Taekwoon menggenggam kedua pergelangan Jaehwan dengan kasar, membuat Jaehwan meringis kesakitan.

"Tidak. Kita tak harus putus, Jaehwan. Kita tak boleh, dan tak akan pernah putus."

"Tapi, hyung. Apapun yang kita lakukan tak akan pernah membuat ibumu merestui hubungan kita. Kecuali ada cara untuk memaksanya, tapi tak ada cara satupun! Akh, hyung! Lepaskan, kau menyakitiku!"

Amarah Taekwoon melonjak sampai ke atas kepalanya. Ia merasakan sesuatu masuk ke dalam tubuhnya. Dan Jaehwan menyadari perubahan di mata Taekwoon. Sepasang mata itu, itu bukan milik Taekwoon.

"H- Hyung- Gyaa!"

Jaehwan menjerit ketika Taekwoon tiba-tiba menarik pergelangan tangannya, dan mendorongnya hingga jatuh ke tempat tidur. Mata Jaehwan membulat ketika ia lihat mata Taekwoon. Sangat berbeda. Sepasang mata itu tidak terlihat lembut dan penuh cinta seperti yang biasa Jaehwan lihat. Sepasang mata itu terlihat penuh dengan amarah dan nafsu.

"Masih ada satu cara, Jaehwan-ah." Mencondongkan tubuhnya mendekati Jaehwan, dan ketika jarak antara bibir mereka tinggal tersisa beberapa inchi, "Dan meski pun kau tidak menginginkannya, aku akan tetap melakukannya. Karena hanya ini cara yang tersisa."

Belum sempat Jaehwan membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, Taekwoon sudah menyerang bibirnya terlebih dahulu. Ia menjilati dan menggigiti bibir bawah Jaehwan. Dan meski Jaehwan bertanya-tanya dalam hatinya mengapa ciuman Taekwoon berbeda dari yang biasa ia terima, sesungguhnya ia menikmati apa yang ia dapatkan saat ini.

Merasakan kedua lengan Jaehwan melingkari lehernya, Taekwoon menyimpulkan bahwa Jaehwan sudah siap dengan apapun yang akan ia lakukan setelah ini. Ia menyeringai dalam ciuman itu, sebelum membawa tangannya ke pinggang milik lelaki yang lebih muda ini, kemudian meraba-raba bagian itu. Kemudian ia mengangkat kaus Jaehwan sampai dadanya, dan meraba-raba abs Jaehwan yang belum terlalu terbentuk.

Menyadari pergerakan aneh yang dilakukan Taekwoon di tubuhnya, Jaehwan mengerti apa yang akan Taekwoon lakukan. Dan tidak, Jaehwan tidak menginginkan ini. Karena menurutnya, hal ini hanya bisa dilakukan bila mereka sudah menikah. Dan kenyataanya, mereka belum menikah.

Jaehwan langsung menendang Taekwoon menjauh dari atas tubuhnya, kemudian bangun dari posisi tidurnya. Sedangkan Taekwoon menggeram kesakitan di lantai tempatnya terjatuh.

"A- apa yang kau lakukan?!" teriak Jaehwan. Wajahnya memerah karena perbuatan hyung-nya barusan.

Taekwoon tertawa sini sembari berdiri dari posisinya.

"Aku melakukan satu-satunya cara yang bisa kita lakukan." Ucapnya. Suaranya sangat rendah, membuat Jaehwan menelan ludahnya karena ketakutan. Ia berjalan mendekati lelaki yang lebih muda itu. Mata bertemu dengan mata. Tubuh Jaehwan mulai gemetar. "Dengar, Jaehwan. Ini satu-satunya cara memaksa ibuku untuk merestui hubungan kita. Setelah ini, aku berjanji, aku akan bertanggung jawab."

Mata Jaehwan kembali melebar.

"HELL NO, HYUNG! Aku tak akan pernah melakukan ini denganmu! Aku tak akan pernah melakukannya dengan siapapun sebelum menikah!" Jaehwan kembali menangis. "Sekarang, jika kau memang ingin melakukannya, keluar dari rumahku, dan lakukanlah dengan orang lain!"

Taekwoon mempertajam tatapannya pada Jaehwan.

"Sayang sekali. Aku hanya akan melakukannya dengan orang yang kucintai, Jaehwan. Dan orang itu adalah kau. Aku pastikan, kau tak akan menyesali ini. Jaehwan, aku mencintaimu."

"Tidak, hyung- Ahh.."

Jaehwan mendesah ketika Taekwoon mendekatkan wajahnya ke leher putih Jaehwan, dan menciuminya tanpa henti.

Malam itu, kamar Jaehwan terasa sangat panas. Jaehwan terus mendesah sedangkan Taekwoon terus menciumi dan meraba-raba seluruh tubuh Jaehwan. Jaehwan tidak mengingankan ini. Ia mencoba menendang, memukul dan mendorong tubuh pria di atasnya itu menjauh. Namun Taekwoon terlalu egois akan tubuh dan cinta Jaehwan. Ia ingin memiliki Jaehwan hanya untuk dirinya.

.

.

.

Taekwoon masih mencoba mengatur nafasnya yang tersengal, merebah di kasur. Jaehwan menangis, tubuhnya meringkuk di samping Taekwoon. Mereka baru saja melakukannya. Mereka melakukan hal yang seharusnya tak mereka lakukan. Hal yang hanya boleh dilakukan oleh pasangan yang sudah menikah. Setidaknya itu tanggapan Jaehwan.

Melirik ke arah lelaki yang lebih mudah itu, Taekwoon memutuskan untuk bangun dari posisinya. Ia menatap Jaehwan yang masih menangis.

"Jaehwan. Kenapa kau menangis?" Taekwoon meletakkan tangannya di pipi Jaehwan, namun di tepis oleh sang pemilik.

"Kau bertanya kenapa?! KAU BARU SAJA MEMPERKOSAKU!"

Mata Taekwoon membulat. Rasa bersalah tiba-tiba merasukinya.

"Ka- kau berpikir begitu?"

"Apa maksudmu? Tentu saja aku berpikir begitu! Aku pernah bilang kepadamu bahwa aku tak ingin melakukannya tanpa menikah terlebih dahulu." Isak tangis Jaehwan makin terdengar keras, pelukan pada lututnya juga makin erat.

"Jaehwan." Taekwoon menarik Jaehwan ke dalam pelukannya. Jaehwan mencoba mendorongnya, namun ia merasa sangat lemah karena tangisnya. Ia pun hanya bisa menenggelamkan pelukannya lebih dalam ke dada kekasihnya. "Maafkan aku.. Hanya saja aku- Ada sesuatu dalam hatiku yang menyuruhku melakukannya bila aku tak ingin kehilangan dirimu. Dan aku tak mau kehilangan dirimu. Maka dari itu aku melakukan ini. Maafkan aku, Jaehwan. Aku mencintaimu. Aku terlalu mencintaimu dan tak ingin kehilanganmu."

Taekwoon menarik dagu Jaehwan dan membawanya kedalam sebuah ciuman. Kali ini, Taekwoon mencium Jaehwan dengan sangat lembut. Tak ada tambahan lidah, hanya bibir dengan bibir. Jaehwan pun merasa lebih tenang. Ia menutup matanya, menikmati bibir Taekwoon bergerak di atas bibirnya.

Meski pun Jaehwan menikmatinya, ia ingin ini jadi yang terakhir. Ia tak bisa tetap bersama Taekwoon karena pria itu sudah menodainya. Meski Jaehwan sangat mencintai Taekwoon, ia tak ingin melihatnya lagi. Setelah ini, setelah menciumnya untuk yang terakhir kali.

Setelah berapa lama, Taekwoon melepas ciumannya dari Jaehwan. Keduanya membuka mata, menatap satu sama lain selama beberapa detik. Tangan Taekwoon masih berada di pipi Jaehwan. Membelainya dengan lembut.

"Apa kau memaafkanku?" Tak mendapat jawaban, Taekwoon malah mendapat tamparan di pipinya. Ia menatap Jaehwan dengan bingung. "Jae-"

"Kau bodoh atau apa?! Tidak mungkin aku memaafkanmu semudah itu!" Jaehwan mendorong Taekwoon dengan keras hingga pria itu jatuh ke lantai. Jaehwan pun turun dari tempat tidur dan mulai mengumpulkan pakaian Taekwoon dari lantai. Kemudian ia lempar semua itu ke tangan sang pemilik dan mendorongnya keluar dari kamarnya. "Sekarang keluar dari rumahku sebelum ibuku pulang dan tahu apa yang tadi kau lakukan!"

"Jaehwan, tolong dengarkan aku-"

"Aku tak ingin mendengar apa-apa lagi darimu, hyung! Aku tak ingin melihatmu lagi! AKU BENCI PADAMU!"

Dengan itu, Jaehwan membanting pintu di depan Taekwoon, dan langsung menguncinya. Taekwoon hanya bisa terdiam di sana, mendengar Jaehwan menangis di balik pintu itu. Taekwoon pun memutuskan untuk mengenakan pakaiannya di sana agar ia bisa langsung pulang. Namun sebelum ia beranjak pergi, ia menyandarkan kepalanya di pintu kamar Jaehwan.

"Maafkan aku. Aku hanya ingin kau tahu. Bahwa aku melakukannya karena aku mencintaimu, Jaehwan." Tak mendengar ada jawaban, Taekwoon menghela nafas. "Aku minta maaf. Aku akan pergi sekarang."

Kemudian Taekwoon berjalan keluar dari rumah Jaehwan. Tapi di pintu depan, ia bertemu orang tua Jaehwan yang baru saja sampai di rumah.

"Oh, Jung Taekwoon. Hai! Kau mau pulang?" Ny. Lee menyapanya.

"Ne. Sudah larut malam."

Tuan Lee menyadari senyuman Taekwoon itu palsu.

"Apa kau baik-baik saja, anak muda? Ada yang terjadi di antara kau dan Jaehwan?"

Kedua orang tua Jaehwan sudah tahu tentang hubungan mereka dan mereka tak punya masalah dengan itu. Mereka malah berpikir bahwa Taekwoon adalah pria yang baik dan gentle. Dan kalau bukan untuk Taekwoon, mereka tak akan mengizinkan Jaehwan untuk berhubungan dengan pria lain. Mereka benar-benar menyukai Taekwoon, sampai-sampai mereka sudah menganggapnya sebagai anak sendiri. Makanya, melihat pria muda ini sedikit tak nyaman, mereka merasa khawatir.

"Ti- tidak! Tak ada yang terjadi, ahjussi." Taekwoon menggeleng. Sebenarnya ia ingin mengatakan apa yang baru saja terjadi. Tapi mereka bisa saja membunuhnya di tempat bila ia melakukannya. "Sebenarnya, ia sedikit marah padaku karena aku melakukan sedikit kesalahan. Tapi kami baik-baik saja. Aku akan segera mengatasinya."

Orang tua Jaehwan saling bertukar pandang.

"Ah, aku harus permisi sekarang. Selamat malam, ahjussi, ahjumma."

.

.

.

.

ToBeContinued