Akemashite Omedetou Gozaimasu!

oXxXxXo

Naruto © Om Kishi

oXxXxXo

"Waai~ Senangnya hatiku~ Kini kita ke kuil~"

Selama perjalanan, Obito nyanyi-nyanyi gaje—yang mengakibatkan Akatsuki dikira orang gila oleh orang-orang yang melihat. Dan tentu saja, Itachi yang jaim dan nggak suka dengan keributan, langsung mendamprat Obito.

"Hoei! Obito-Yaoi! Bisa diem nggak!? Berisik tau!"

"Iih... Tachi-chan kenapa sih?" tanya Obito (sok) imut sambil memanyunkan bibirnya. "Dari tadi marah-marah mulu... Baru putus sama Dei-chan ya?"

BLETAK!!

"Aku Straight tau (un)!"

"Uuh..." rintih Obito sambil memegangi kepala 'Mickey Mouse'-nya. "Aku 'kan cuma bercanda..."

"Lain kali tiada maaf bagimu, un!" ancam Dei dengan death glare.

'Huwee~ Dei-chan serem!' batin Obito.

"Ya sudah!" seru Hidan tiba-tiba. "Kalo nggak boleh nyanyi itu, kita nyanyi yang lain aja!"

"Yosh!" jawab Yahiko semangat.

"Menuju Medan, naik mobil sedan! Ketemu setan, di tengah jalan!" Akatsuki—kecuali Itachi—kembali bernyanyi dengan lantangnya plus ekpresi wajah nan bego.

"Wah... Anak-anak itu kenapa ya?" bisik seseorang.

"Nggak tau... Biarkan saja mereka..."

"Ck ck ck... Masih kecil sudah begitu. Mau jadi apa mereka nanti?"

Itachi menundukkan kepalanya dan menutupi wajahnya dengan tangan kanannya. "Malunya aku..." gumamnya pelan.

"Menuju laut, naik mobil butut!" Akatsuki bernyanyi lagi. "Ketemu Uut, di tengah laut!"

"Eh!? Mereka tau Uut Permatasari!?" tanya seseorang agak syok.

"Astaga... Dapat ajaran dari mana itu!?"

"Teman-teman..." panggil Itachi lesu.

"Ng?"

"Tolong... Berhenti menyanyikan lagu itu...." pinta Itachi dengan wajah memelas.

"Eh? Kenapa?" tanya Kisame.

"Malu tau... Diliatin banyak orang..." jawab Itachi sembari memberikan death glare.

"Huh! Tachi-chan banyak maunya nih!" gerutu Obito.

"Iya! Mengganggu suasana aja!" timpal Konan.

"Kalian nggak malu apa, diliatin banyak orang sampe dikira orang gila!?" balas Itachi.

"Nggak tuh." jawab Akatsuki lainnya dengan tampang inosen plus serempak.

Itachi swt. Dan setelah itu, Itachi mengomeli mereka.

Lalu mereka melanjutkan perjalanan.

-Kuil Konoha-

"Waai~ Kuil! Kuil!" Obito berlari memasuki kawasan kuil dengan riangnya. Ia benyanyi-nyanyi dan menari-nari.

"Dasar Tobi sinting, un..." kata Dei swt.

"Emang." respon yang lainnya.

"Yosh!" seru Yahiko tiba-tiba. "Ayo kita masuk ke kuil-nya!" bocah berkimono oranye itu menunjuk ke kuil yang terletak di atas sebuah bukit.

Yahiko baru saja hendak melangkahkan kakinya, tapi lengan kanannya keburu ditahan oleh Hidan.

"Nande, Hidan?" tanya Yahiko. "Lepasin dong!"

"Kau ngomong ke siapa?" Hidan balik nanya dengan ekspresi wajah bingung.

"He?"

"Semuanya udah pada berpencar tuh. Nggak tau ke mana..." ujar Hidan sembari menengok ke sekelilingnya.

"Ghee!?" teriak Yahiko syok. "Ke-ke mana mereka!?"

--

"Tayuya-chan, un!" panggil Dei riang.

"..."

"Tayuya-chan, un!" panggil Dei lagi. Tapi cewek berkimono peach itu masih diam, tidak merespon. Padahal Dei yakin, kalo Tayuya pasti mendengar panggilan cinta Dei –Author dibom- Ralat, suaranya.

"..."

"Tayu—"

"Oi, Tayuya." Seorang cowok berambut abu-abu datang menghampiri Tayuya. "Ada yang memanggilmu tuh. Masa' kau nggak dengar?" tanyanya sembari menunjuk Dei.

"Iya, yang berkimono biru muda itu." timpal kembarannya. "Kenalanmu ya?"

"..." Tayuya diam sesaat. Kemudian ia menoleh sebentar ke arah Dei—dan langsung mendapat sambutan senyum sejuta watt dari Dei, sukses membuatnya langsung merinding—dan menoleh ke arah anak kembar tadi yang bernama Ukon dan Sakon. "Aku nggak kenal. Paling cuma anak hilang," jawab Tayuya tanpa perasaan.

"Nandayo, un!?" tanya Dei syok plus lebay. "Tayuya-chan jahat, un!"

Kalau saja Dei membawa saputangan, saat ini dia pasti sudah menangis super lebay sambil menggigit saputangan tersebut.

"Ah! Ketemu kau, Dei-chan!" seru Hidan.

"Hidan?"

"Leader nyariin tuh." Hidan menarik lengan Dei. "Ayo cari yang lainnya!"

"Hidan, imouto-mu jahat, un!" adu Dei.

"Imouto? Tayuya maksudmu?" Hidan menaikkan sebelah alisnya.

"Iya, un! Masa' tadi dia bilang dia nggak kenal aku, un!?"

"Masa bodo' ah! Bukan urusanku!" jawab Hidan tak berperasaan, sama seperti Tayuya tadi.

"Un!?"

"Ayo cepat! Nanti kita didamprat Leader!"

--

"Itachi! Obito! Sasori! Kisame!" panggil Yahiko.

"Itachi-kun! Obito nii-chan! Saso-kun! Kisame-kun!" panggil Konan sembari melihat sekelilingnya.

"Itachi! Obito nii-san! Sasori! Kisame!" panggil Nagato.

"Hah..." Yahiko menghela nafas dan berhenti berjalan. "Mereka itu ke mana sih!? Ngerepotin orang saja!" Yahiko mencak-mencak GaJe. Habis sudah kesabarannya.

"Sabar, Yahiko-kun..." Konan menepuk-nepuk pundak Yahiko. "Tadi Yahiko-kun bisa menemukanku dan Nagato-kun di kolam ikan koi. Siapa tahu Yahiko-kun juga bisa menemukan mereka berempat." Konan tersenyum kecil, berusaha menghibur Yahiko.

"Iya sih, tapi—"

"Yahiko, itu mereka!" Nagato menunjuk ke sebuah pohon tua.

Yahiko dan Konan menoleh ke arah yang ditunjukkan Nagato tadi. Dan benar saja, mereka berempat—tunggu, bertiga? Tampak mengelilingi sebuah pohom dan menoleh ke atas. Entah apa yang sedang mereka lakukan. Yahiko, Nagato, dan Konan pun berlari menghampiri mereka.

"Itachi!" panggil Yahiko.

"Leader-sama?" Itachi menoleh.

"Hah... Hah..." Yahiko mengatur nafasnya. "Kalian sedang apa di sini?" tanyanya. "Ayo cepat! Nanti antrian di kuil bisa menjadi lebih panjang!"

"Eh? Ma-matte, Leader-sama!" sela Kisame sedikit panik.

"Nggak ada tunggu-tungguan lagi. Kita harus ce—"

"Eh? Di mana Obito nii-san?" tanya Nagato.

"Eh? Benar juga ya..." ujar Konan. "Pantas saja aku merasa ada yang hilang."

"Itu. Di sana." Sasori menunjuk ke atas pohon. Dan di salah satu cabangnya, terdapat Obito yang gemetar ketakutan.

"Minna-chan! Tolongin aku dong! Aku takut!" tangis Obito.

Yahiko, Nagato, dan Konan jawsdropped.

"Ke-kenapa kau bisa nyangkut di atas pohon!?" tanya Yahiko.

"Tadi aku mau nangkep burung gereja yang lagi hinggap di sini. Pas aku udah nyampe di sini, burung itu malah terbang pergi, dan aku nggak bisa turun! Gyaang~" jawab Obito dengan air mancur dari matanya.

Kali ini, Yahiko, Nagato, dan Konan swt.

"Obito nii-chan! Bertahanlah! Kami akan menurunkanmu!" seru Konan.

"Seperti kucing saja. Bisa naik, tapi nggak bisa turun." sahut Kakuzu yang datang tiba-tiba.

"Kakuzu nii-san?"

"Hah..." Zetsu—yang berada di sebelah Kakuzu—mengela nafas. "Benar. Seperti kucing," katanya sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.

"Kakuzun, Zekkun, Zecchi! Tolongin aku! Jangan cuma komentar doang!" tangis Obito semakin menjadi-jadi.

"Kalau kau memanggilku Zecchi sekali lagi, aku tidak akan menolongmu." ancam Zeri dengan death glare.

"Huwaa~ Gomen! Tolongin aku!"

'Baka yaro...' batin Sasori.

"Gimana cara kita nurunin dia?" tanya Itachi. "Obito-Yaoi itu berat, nggak mungkin kita gendong dia turun." Itachi menggelengkan kepalanya.

"Pakai tangga saja!" usul Kisame.

"Di sekitar sini nggak ada tangga." respon Sasori.

"Ehmm... Bener juga ya..."

"Huwaaa~ Help me!" Obito meronta-ronta.

Krek...

"U-uwaa! Jangan bergerak, O-Obito!" seru Sasori panik.

"Aku nggak peduli! Pokoknya tolongin aku!" Obito makin meronta-ronta.

Krek... Krek...

"Ah! Dahannya!"

"Lari!!" komando Yahiko.

Krek!!

Dahan pohon yang ditumpangi Obito patah. Akibatnya, Obito—dan dahan itu—jatuh ke bawah.

BRUUGH!!

"Aduh... Komando-mu telat, Leader-sama..." rintih Itachi.

"Maaf..." respon Yahiko dengan mata berkunang-kunang.

"Itachi benar; Obito berat..." kata Kisame.

"Huweee~ Sakit..." rintih Obito.

Yak! Tepat sekali! Obito—juga si dahan—jatuh ke bawah dan menimpa Yahiko, Itachi, Kisame, Nagato, dan Sasori.

"Untung aja aku udah lari duluan..." gumam Konan lega.

.

"Huh! Kalian lama, un!" gerutu Dei.

"Gomen, gomen..." Yahiko menunduk minta maaf.

"Leader-chan memalukan!" ujar Obito sok marah.

"Kita telat ngumpul gara-gara kau kan...?" Yahiko men-death glare Obito.

"Yahiko-kun, cepat!" seru Konan. "Kuilnya mulai ramai!" Konan menarik lengan Yahiko dan menunjuk ke kuil.

"Eee!? Gawat!" Yahiko langsung menoleh ke arah kuil. "Kalau begini, bisa-bisa kita dapat antrian paling belakang!"

"Ayo, cepat ke kuil!" komando Kisame.

"Yosh!"

Mereka pun langsung berlari menuju kuil. Meskipun jadi agak lambat karena kimono dan geta yang mereka pakai.

Beberapa kali mereka menabrak orang-orang yang sedang berjalan, lalu mereka segera meminta-maaf masih sambil terus berlari.

'Cepat, cepat... Harus cepat!' batin Yahiko sambil terus berlari.

"Uuh... Ramai sekali sih!" gerutu Kakuzu. "Membuang waktu saja. 'Time is money' tau!" lanjutnya jengkel.

"Daripada ngomong gitu, mending cepetan!" balas Yahiko dengan peneriakan di kata terakhir.

Dan ketika mereka sampai di kuil, di antrian paling belakang, mereka semua langsung jawsdropped seketika.

"A-antriannya..." ujar Kisame syok.

"Panjang sekali..." sambung Sasori nggak kalah kaget.

"Ini semua gara-gara kau, Tobi!" Dei berjinjit dan menjitak kepala Obito.

"Aw!" jerit Obito. "Sakit tau, Dei-chan!"

"Oi, ini bukan waktunya untuk berantem 'kan?" Zetsu meleraikan.

"Berantem saja. Aku dukung Obito yang akan menang." sahut Zeri, menatap Dei dan Obito yang kini sedang jambak-jambakan.

"Yosh! Kalo gitu aku dukung Dei-chan!" seru Hidan semangat.

Zetsu pun swt.

"Kita serobot saja antrian ini." Itachi mengusulkan.

"Eeh!? Tapi menyerobot itu nggak baik loh, Tachi-chan..." nasehat Obito yang sekarang lagi cakar-cakaran sama Dei.

"Diam kau. Ini semua 'kan gara-gara kau." balas Itachi tajam. Dan tentu saja itu merupakan panah mental bagi Obito.

"Kurasa... Itachi ada benarnya juga..." sahut Nagato pelan. "Lagipula, kita anak kecil. Orang-orang pasti tidak akan menyadari kalau kita menyerobot."

"Baiklah kalau begitu," ujar Yahiko. Kemudian ia menunjuk ke langit dengan dramatis-nya dan berkata, "Kita serobot antrian ini!"

"Yosh!"

Yahiko hanya mau mengikuti saran dari Nagato. Karena saran dari Nagato selalu happy-ending. Tidak seperti saran dari Obito yang pernah membuatnya kecebur ke got, nyaris ketabrak mobil, bahkan dikejar anjing-anjing se-Konoha.

Lalu mereka pun mulai berlari—berjalan cepat, saking ramainya mereka tidak bisa berlari—dan menyempil di kerumunan orang-orang tersebut. Mereka pun terus berdesakan dengan orang-orang itu, sampai akhirnya mereka mendapat tempat. Kira-kira 5 orang lagi, barulah giliran mereka. Dan Nagato benar, orang-orang tidak menyadari kalau Akatsuki menyerobot.

"Hore! Giliran kita!" seru Obito riang. Ia pun langsung melempar koin, lalu menarik tali lonceng-nya dan menepuk tangannya, kemudian berdoa.

Begitu pula yang lainnya. Mereka memejamkan mata masing-masing, dan berdoa dalam hati. Dengan harapan besar supaya doa mereka terkabul.

'Aku mau jadi pemimpin yang baik!'

'Aku... Aku mau jadi seperti Yahiko. Yahiko yang hebat, ceria, dan semangat...'

'Semoga aku bisa bertambah akrab dengan Sasori-kun...'

'Aku ingin punya Action-Figure yang bagus.'

'Semoga Tayuya-chan menyukaiku, un!'

'Aku mau jadi anak baik. Aku nggak mau diipanggil Obito-Yaoi lagi sama Tachi-chan!'

'Moga aja teman-temanku mau masuk agama Jashin!'

'Aku mau jadi kaya. Biar uang jajanku ditambah.'

'Semoga Zeri nggak menggangguku lagi.'

'Aku pengen terus gangguin Zetsu.'

'Aku ingin jago berenang!'

'Aku ingin—'

Itachi baru saja hendak mengatakan keinginannya. Tapi wajah seorang pria terlintas di benaknya tiba-tiba. Pria berambut hitam panjang dengan model setengah jabrik. Pria yang selalu tersenyum bodoh. Pria yang selalu menemaninya di saat Fugaku dan Mikoto sedang pergi.

'Madara Ji-san...' batin Itachi. 'Ya... Aku ingin akrab kembali dengan Madara Ji-san! Kumohon, kabulkanlah!'

Itachi menjauhkan jarak antara kedua telapak tangannya; ia sudah selesai berdoa. Lalu ia menoleh ke sekelilingnya. Akatsuki yang lain sudah tidak ada. Apa mungkin mereka melupakannya?

"Itachi!" panggil Kakuzu.

"Kakuzu?" Itachi segera mencari asal suara itu. Akhirnya Uchiha kecil itu menemukan Kakuzu dan yang lainnya di dekat sebuah pohon besar.

"Kenapa kalian nggak bilang-bilang kalau sudah pergi?" tanya Itachi agak kesal.

"Gomen, gomen..." jawab Kisame sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Habisnya tadi kau berdoa lama sekali. Makanya kami meninggalkanmu dulu."

"Hah... Tumben kau berdoa lama sekali. Biasanya kau paling males berdoa," ujar Sasori sembari melipat kedua tangannya di depan dadanya. "Hei, Itachi?"

"Yah..." Itachi menatap ke langit setelah menatap Sasori sebentar. "Ada satu hal yang mengganjal di hatiku tadi."

"Level bahasamu tinggi sekali sih." sahut Zetsu.

Itachi tersenyum kecil—nyaris tak terlihat.

"Minna! Minna! Cepat lihat ke langit, un!" panggil Dei tiba-tiba. "Sebentar lagi kembang apinya mau dimulai, un!" serunya bersemangat.

"Eh? Mana, mana?" Hidan mendongak ke langit.

Mendengar suara orang-orang yang mulai menghitung mundur, Akatsuki pun ikut menghitung secara serempak. "5... 4... 3... 2..."

"Satu!! Fire, un!!"

Syuuut...

Sebuah kembang api diluncurkan ke langit.

DHUAAAR!

Dan tampaklah bunga api berwarna keemasan yang indah.

Dari satu kembang api itu menjadi dua, dua menjadi tiga, tiga menjadi empat. Dan setelah empat kembang api diluncurkan sekaligus, di langit langsung terlihat banyak sekali kembang api lain yang indah. Ada yang membentuk seperti air mancur, bunga, dan ada juga yang membentuk tulisan 'HAPPY NEW YEAR!!'.

Pertunjukan kembang api berlangsung selama 15 menit. Setelah itu, orang-orang mulai bubar. Dan Akatsuki memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.

.

-1 Januari, jam 8 pagi di Kediaman Uchiha-

"Ohayou gozaimasu, minna!" sapa Sasuke yang baru bangun tidur. Dia berlari menuruni tangga dan kemudian memeluk Mikoto yang sedang menyiapkan zoni.

"Ah, ohayou, Sasu-kun." sapa Mikoto tersenyum manis. "Di atas kotatsu ada nengajou untukmu," kata Mikoto sembari menoleh ke arah kotatsu.

"Waaai! Nengajou! Nengajou!" Sasuke langsung berlari menuju kotatsu dan membaca nengajou yang diberikan untuknya.

"Untuk: Uchiha Sasuku

Selamat tahun baru, Sasuku! Semoga panjang umur!

Dari: Inuzuka Kiba"

"Namaku Sasuke, bukan Sasuku!" Sasuke tertawa kecil melihat Kiba yang salah menulis namanya dan ucapan semoga panjang umur itu. Lalu Sasuke melihat kartu pos yang lain dan membacanya.

"Untuk: Sasuke-Teme

Selamat tahun baru, Teme! Semoga model rambutmu bisa berubah di tahun ini! ^^v

Dari: Uzumaki Naruto"

Sasuke terdiam beberapa saat. "Apa maksudnya ini? Semoga model rambutku berubah!?" tanyanya kesal.

"Untuk: Uchiha Sasuke

Sasuke-kun~ Selamat tahun baru ya! Kuharap di tahun ini Sasuke-kun mendapat peruntungan yang baik.

Dari: Haruno Sakura"

Dan masih ada banyak kartu pos yang lainnya.

"Oh, kamu populer juga ya, Sasuke?" tanya Madara yang sedang berjalan menuju kotatsu.

"Madara ji-chan!" Sasuke menoleh ke Madara.

Hari ini, Madara tampak lain dari biasanya. Biasanya ia selalu tersenyum riang dan berkata dengan nada ceria. Tapi kali ini, dia tampak murung sekali dan berkata dengan sangat lesu.

"O-Oji-chan kenapa?" tanya Sasuke khawatir. Tidak biasanya Madara seperti ini.

"Hae?" Madara mengangkat kepalanya sedikit, menoleh ke Sasuke. "Ooh... Oji-chan baik-baik aja kok... Cuma kurang tidur..." jawabnya bohong.

"Oya, Ji-chan. Ini nengajou untuk Ji-chan dariku!" Sasuke memberikan Madara sebuah kartu pos sambil tersenyum lebar.

"Ah, makasih..." kata Madara lesu. Bukannya membacanya, ia malah meletakkannya di atas lantai begitu saja. Padahal biasanya ia langsung membacanya dengan nepsong.

"Ohayou..." sapa Itachi yang sedang berjalan menuruni tangga.

"Ohayou, Ita-kun," respon Mikoto.

"Oh, kamu sudah bangun, Itachi?" tanya Fugaku.

Itachi mengangguk kecil.

"Tachi-chan!" panggil Obito. Dia berlari menuju Itachi dan langsung memeluknya. "Ohayou gozaimasu~"

"Kau ini... Mengganggu kedamaian di rumah orang saja sih..." gerutu Itachi jengkel.

"Hehe..." Obito tersenyum inosen.

"Aniki, keadaan Madara ji-chan seram!" Sasuke memeluk kaki Itachi.

"..." Itachi terdiam melihat Madara. Kemudian ia menghela nafas dan berjalan mendekatinya.

"Tachi-chan?" Obito melepaskan pelukannya dari Itachi.

"Aniki?" Sasuke mendongak, menatap Itachi. Itachi sendiri memberi isyarat supaya Sasuke juga melepaskan pelukannya.

Itachi semakin mendekati Madara. Lalu ia berdiri tepat di belakang Madara dan berkata, "Oji-san."

Madara menoleh ke Itachi. "Oh, Ita-chan."

Itachi menggigit bibir bagian bawahnya. "Akemashite omedetou gozaimasu, Ji-san." Itachi memberikan Madara selembar kartu pos.

Mata Madara langsung terbuka lebar. Ia terpaku. Tidak percaya dengan apa yang barusan Itachi katakan. Biasanya, Itachi tidak pernah mengucapkan itu padanya.

Madara memandangi kartu pos itu, lalu menatap Itachi.

Itachi menghela nafas. "Ambillah. Ini dariku untuk Ji-san."

Madara pun langsung memeluk Itachi dengan eratnya. "Huwooo~ Arigatou gozaimasu, Ita-chan!!" tangisnya lebay, masih sambil memeluk Itachi.

"Uuh... Se-sesak..." rintih Itachi yang hampir kehabisan nafas.

"Madara ji-chan sayang Ita-chan!"

"Hmph..." Itachi tertawa kecil.

Baguslah kalau ia sudah berbaikan dengan Madara.

Yah... Meskipun sering berantem, tapi pada akhirnya juga, Itachi dan Madara selalu berbaikan kembali. Ini memang suatu ikatan yang aneh.

"Selamat tahun baru juga, Ita-chan..."

Owari


Ket:

zoni: Makanan khusus Tahun Baru di Jepang.

nengajou: Kartu Pos Tahun Baru.


A-ara... Udah telat (banget) ngapdet, jadinya juga GaJe lagi...

Huweee... Gomennasai, minna-san! Selama beberapa saat ke depan, Sei bakal suka telat apdet fic yang lainnya.

Gomennasai!