Chapter 1 Reality
Dalam pandangan realist, dunia adalah sistem yang anarki di mana konflik akan terus terjadi. Masing-masing negara memiliki kepentingannya yang akan mereka capai dengan berbagai cara termasuk berperang. Tapi kurasa, negara bukannya suka perang, mereka hanya hanya terlalu takut membuka diri karena takut akan disakiti. Mereka hanya suka untuk bersembunyi di balik tembok kuat proteksionisme, menganggap bahwa itu adalah cara paling tepat menjaga semuanya tetap aman.
Naomi Rane
Present
AND THEN
Disclaimer
EXO and others characters are not mine
Pairing
KAISOO
And others official pair
Warn
Out of characters (maybe), Typo(s), BL, Very slow updates !
Kyungsoo bukanlah orang suka berbicara, lebih suka mendengar, lebih suka menulis. Ia suka memperhitungkan dan memperkirakan banyak hal sebab ia juga banyak tidak menyukai hal-hal. Saat memilih masuk ke International Relations pun, ia telah memperhitungkan banyak hal. Namun, jika ada hal yang tidak muncul di list perkiraannya, maka itu adalah yang akan ia hadapi ruang-ruang kelas. Ia pikir ia hanya akan duduk di sana, mendengarkan apa yang dosen sampaikan, mengerjakan tugas bila ada, lalu mendapat nilai tinggi. Ia pikir IR akan membuatnya satu jengkal lebih jauh dari kehidupan masyarakat di sekitarnya yang memuakkan. Dan ia rela membahas relasi antar negara yang membosankannya demi mendapatkan jarak sejengkal itu. Namun nyatanya, beberapa kali, mau - tidak mau, ia tetap harus menghadapi materi-materi yang dekat dengan berbagai isu dalam masyarakat di negaranya sendiri. Ia sudah semester 3 sekarang, sudah mulai terbiasa, tapi Prof. Yesung datang mengoyakkan keterbiasaan itu.
Prof. Yesung adalah dosen yang ia kenal paling dekat dengan mahasiswa, mungkin karena wajah dan penampilannya yang lebih mirip mahasiswa tingkat akhir ketimbang dosen. Dia tidak pernah merasa kesal dengan dosen manapun, tapi Prof. Yesung hari itu berhasil membuatnya mengingat sesuatu yang tidak ingin ia ingat. Membuat hatinya kembali merasakan marah yang teramat sangat, amarah yang dulu ia kubur dengan terkatung-katung.
"Kalian mendengar kasus yang menghebohkan baru-baru ini kan? Tentang seorang anak perempuan berusia 13 tahun yang diperkosa 8 orang." Para mahasiswa hanya bergumam sebagai tanda bahwa apa yang dikatakan Prof. Yesung menarik atensi mereka.
"Hari ini saya ingin kita mendiskusikan hal itu. Ini memang cukup jauh dari keilmuan kita, namun hal ini bisa menjadi dasar untuk mata kuliah studi gender nanti. Selain itu, saya ingin kalian lebih melatih kepekaan dalam menganalisis isu. Nah diskusi kita adalah mana yang salah dalam kasus pemerkosaan, laki-laki yang tidak bisa menjaga nafsu atau perempuan yang berpakaian provokatif?" Sehun mengacungkan tangannya bermaksud memberi tanggapan.
"Menurut saya perempuanlah yang salah. Laki-laki memiliki sifat alamiah untuk tergoda pada wanita seksi, karena itulah perempuan harus menjaga cara berpakaiaannya. Seperti yang orang-orang bilang, kucing akan selalu tertarik pada ikan."
Para perempuan mulai ribut dengan pernyataan Sehun sementara Kyungsoo sibuk mengontrol dirinya, jemarinya mengcengkram celana, ia tidak suka topik ini sebanyak ia tidak menyukai kenangan masa lalu.
Hyuna menimpali, "Saya rasa kita tidak bisa menyalah perempuan karena memakai baju terbuka. Mereka bisa memakai apapun yang mereka mau. Saya pernah melihat penelitian kecil, tidak semua perempuan korban pemerkosaan memakai baju terbuka saat kejadian."
Pernyataan Hyuna didukung oleh Jongin yang kebetulan berada di samping Kyungsoo karena mereka satu kelompok. "Selain bukti yang disampaikan Hyuna, kita juga bisa melihat bahwa justru di negara-negara yang masyarakatnya cenderung konservatif justru lebih banyak terjadi kasus pemerkosaan dibanding negara dengan masyarakat liberal yang kebanyakan berpakaian terbuka."
"Saya juga kurang setuju dengan logika Sehun. Jika seperti itu, bukankah kita sama saja menganggap lelaki adalah makhluk brengsek secara alamiah. Padahal brengsek bukanlah sifat yang dibawa dari lahir oleh manusia termasuk laki-laki," Suho menanggapi dengan nada bijak dan santun seperti biasanya.
Melihat mahasiswa yang antusias menyampaikan pendapatnya, Prof. Yesung kemudian mengambil alih, memilih untuk mengomentari tanggapan terkahir, dari Suho. Ia mengatakan sesuatu tentang eksperimen kecil yang ia tonton yang memberinya konklusi bahwa apa yang kamu pakai mempengaruhi sikap orang terhadapmu. Secara langsung dan terang-terangan ia bahkan menunjukan kesetujuannya pada pernyataan Sehun. Satu hal yang Kyungsoo pelajari tentang Prof. Yesung adalah dia bukanlah tipe dosen yang akan menengahi adu argument mahasiswa, ia telah memiliki pemikiran tersendiri yang tidak bisa diganggu gugat sehingga pada akhirnya ia bepihak pada mahasiswa yang memiliki pendapat serupa.
Kyungsoo hampir menghancurkan salah satu lapisan dinding yang ia buat. Ia hampir saja mengangkat tangannya untuk membanta semua yang dikatakan Prof. Yesung. Ia mungkin saja bisa berakhir emosional dan berkata "orang-orang sepertimu tidak tahu apapun tentang pahitnya realita harusnya diam saja." Tapi untung saja waktu perkuliahan sudah selesai. Terimakasih pada keterlambatan dosen itu memasuki kelas hingga waktu yang ia miliki lebih sedikit. Pada akhirnya, Kyungsoo kembali ke apartemen kecilnya dengan suasana hati yang tidak nyaman.
.
.
.
.
Jika orang-orang terdekat Jongin ditanya seperti apa sosok Jongin di mata mereka, maka dapat dipastikan orang-orang jajaran special itu ― keluarga inti, beberapa kerabat, dan beberapa sahabat ― akan menjawab bahwa Jongin adalah sosok menyenangkan, santai, cukup humoris, dan juga cerdas. Lain halnya jika yang ditanya adalah orang-orang yang tidak sedekat itu ― anggota seorganisasi dan orang-orang yang mengenalnya dari berbagai lomba debat yang ia ikuti ― akan menjawab bahwa Jongin adalah sosok yang sangat cerdas, terkadang sangat serius, namun terkadang juga melucu. Sosok Jongin sama, namun sifat mana yang lebih menonjol sangat berbeda tergantung seberapa dekat orang itu untuk mengupas karakter Jongin.
Bagi Jongin sendiri, ia hanyalah sosok yang menggilai English Debating. Tujuan jangka pendeknya sangat jelas, ia akan memasuki Model United Nation, dan menjadi Ketua English Debating Club. Tujuan jangka panjangnya pun sejelas itu, ia akan menjuarai kompetisi English Debating paling bergengsi, lalu menjadi seorang diplomat handal. Mungkin Jongin memang seperti yang disebut Kyungsoo sebagai orang yang kelewat jago berbicara.
Orang-orang seperti itu mungkin kebanyakan berakhir memiliki penampilan nerd yang seketika menodai selera para penikmat fashion, tapi Jongin sama sekali jauh dari kata nerd, freak, ataupun anti – social. Ia menikmati pertemanan dan memiliki beberapa sahabat dekat. Baginya sahabat adalah mereka yang tepat untuk ia ajak bersenang-senang, menikmati kesenangan di sela-sela ambisinya.
Yang tidak masuk dalam rencana detailnya adalah bertemu dengan orang yang akan membuatnya merasakan apa yang ia rasakan pada Kyungsoo, pria mungil bermata bulat terang. Perasaan itu bukanlah cinta ataupun tingkatan yang lebih rendah seperti suka. Perasaan itu adalah tipe perasaan aneh tapi menggelitik, mengganggu tapi adiktif. Saking adiktifnya, ia membuat dirinya semakin larut dalam perasaan itu setiap waktu.
Seperti saat ini, raganya ada di kamar nyamannya, tapi pikirannya melalang buana mengingat Kyungsoo. Ia bertanya-tanya mengapa ia terlihat sangat tidak nyaman tadi? Mengapa ia terlihat mati-matian menahan gelisah? Ia bahkan sempat melihat laki-laki mungil itu meremas kain celananya dan mengepalkan tangannya, meski wajahnya tetap datar. Ia bahkan berani bertaruh si mata bulat itu telah melukai kulit telapak tangannya sendiri.
Ada apa? Apa karena topik diskusi? Tapi jika iya, apa yang membuat laki-laki itu begitu tidak nyaman dengan topik tersebut? Apakah ia pernah… Jongin buruh-buruh menghalau pikirannya, ia bahkan tidak berani membayangkan. Ah lagi pula mengapa si mata bulat itu sangat misterius.
Jongin masih tenggelam dalam pemikirannya ketika notifikasi masuk di e-mailnya. Kyungsoo mengupdate blog-nya, gumamnya tanpa sadar. Ia memang sudah seperti stalker saja. Semua akun social media Kyungsoo ia follow dan memastikan bahwa ia mendapat notifikasi di setiap update.
Saya bukannya tidak setuju dengan pernyataan bahwa caramu berpakaian mempengaruhi bagaimana sikap orang terhadapmu. Saya hanya berpikir kalimat itu akan lebih tepat jika diubah menjadi "caramu berpakaian mempengaruhi bagaimana orang berpikir tentangmu." Poin pentingnya adalah pemikiran tidak selalu berujung menjadi tindakan. Setiap orang memiliki akal dan pikiran yang membuat mereka bisa mengontrol diri. Terkadang saya (dan saya yakin orang lain juga) merasa kesal hingga berpikir memukul orang, tapi itu hanya pikiran yang tidak berakhir menjadi tindakan karena saya mampu mengontrol diri.
Lalu dalam kasus pemerkosaan terhap perempuan, mengapa orang-orang memilih untuk menempatkan kesalahan pada perempuan yang jelas-jelas menjadi korban? Padahal sudah jelas korban pemerkosaan tidak selalu berpakaian provokatif. Tapi pelaku pemerkosaan jelas-jelas tidak mampu mengontrol diri, entah tidak mampu menahan nafsu bejadnya atau karena pengaruh alkohol.
Berapa banyak lagi korban yang harus berjatuhan hanya karena masyarakat memilih berdiri di sisi pelaku? Apa harus menunggu orang-orang terdekat yang menjadi korban untuk menyadari kesalahan terletak pada apa dan siapa?
Hanya karena satu eksperimen yang tidak menyeluruh, orang-orang langsung menarik konklusi buta. Bagaimana jika ekperimen itu sedikit diinovasi? Eksperimen yang banyak dijadikan orang (termasuk dosen saya) sebagai landasan itu dilakukan di tempat yang sama dengan pakaian wanita itu yang diubah, eksperimen pertama menggunakan pakian provokatif dan yang kedua memakai pakain sopan dan tertutup. Saat berpakaian terbuka, perempuan itu mendapat banyak cat call dari banyak lelaki. Saat berpakaian sopan dan tertutup, tidak ada orang yang hirau.
Tapi bagaimana jika eksperimen itu diubah sedikit. Jangan hanya dilakukan pada satu tempat. Coba saja ubah latarnya, pertama di tempat yang dihuni orang-orang religius, tempat kedua adalah gang-gang yang diisi preman-preman. Lihat perbedaan apa yang akan terjadi.
Jongin tertegun membaca konten blog Kyungsoo. Biasanya Kyungsoo hanya mengupload tema-tema seputar IR, analisis berbagai isu hubungan antar-negara, isu organisasi internasional, dan isu internasional lainnya. Tapi kali ini Kyungsoo meninggalkan itu dan membahas perdebatan di kelas.
Ada apa? Ia sangat ingin bertanya pada Kyungsoo. Tapi hubungan mereka bahkan tidak menjadi lebih dekat. Setelah klub jurnalistik berakhir dan jeda semester dengan libur yang sangat panjang, ia dan Kyungsoo sudah sangat jarang mengobrol. Selama ini yang membuat ia dan Kyungsoo mengobrol di luar tugas jurnalistik adalah tentang Conan, tapi saat ini kesamaan favorite itu pun tidak bisa membuat kedekatan mereka bertahan. Ah hubungan seperti mengobrol tentang anime tidak seharusnya disebut kedekatan, pikirnya sinis.
Kyungsoo jelas membuatnya seperti naik roller – coaster, terkadang perasannya membumbung saat mereka mengobrol santai, tapi terkadang juga perasaannya mengambang di awang-awang saat laki-laki itu bahkan tidak menghiraukannya berhari-hari, melirik saja tidak.
Jongin meletakkan selulernya, menghela nafas, lalu memejamkan mata mencoba untuk tidur.
Kyungsoo mampu membuatnya seperti ini, tapi Jongin masih saja yakin itu bukan perasaan suka. Entah karena perasaan itu tidak jelas, kadang muncul ke permukaan dan kadang samar. Atau karena sifat Kyungsoo yang kadang jauh - kadang dekat, kadang mengajak terbang – kadang membuatnya terhempas. Atau mungkin Jonginlah yang harus memperbaharui kamus romansanya yang lama tak tersentuh.
.
.
.
.
"Bagaimana kabarmu? Apa uang yang eomma kirimkan sudah habis?"
"Baik, ma dan uangnya masih banyak"
"Baiklah, eomma mungkin akan mengunjungimu bulan ini"
"Nde"
Dan begitulah percakapan telpon antara ibu dan anak berakhir.
Kyungsoo bukannya tidak dekat dengan ibunya. Meski telah tinggal berpisah sejak lima tahun lamanya, tapi ikatan batin mereka melebihi kuatnya benang nilon kualitas terbaik sekalipun. Kyungsoo hanya pulang ke kampung halamannya saat libur panjang dan ibunya hanya mengunjunginya saat kebetulan ada urusan penting di Seoul.
Tapi demi apapun, ibunya adalah satu-satunya orang yang cintai di bumi. Ibunya adalah satu-satunya alasan ia bertahan hidup di dunia yang memuakkan ini. Ibunya adalah satu-satunya alasan mengapa ia masih menatap masa depan. Tapi ibunya juga menjadi salah satu alasan ia suka melarikan diri.
Memikirkan ibunya membuat Kyungsoo merasa lelah. Ia memejamkan matanya, membayangkan wajah teduh ibunya, membayangkan orang-orang yang pernah ia sayangi. Ah air matanya menetes lagi. Seperti yang sudah-sudah.
Di langit-langit kelam meski berbintang, peri-peri kesedihan mencatat pertanyaan hati jiwa-jiwa yang rapuh..
Mengapa yang paling dicintai bisa begitu menyakiti?
Mengapa begitu sulit berdamai dengan masa lalu?
Mengapa kematian satu orang bisa membawa jiwa orang lain turut pergi?
Mengapa?
Di bagian langit lain, peri-peri cinta juga mencatat..
Bagaimana dua manusia bisa berakhir bersama, jika yang satu bergelut dengan segala kesamaran dan yang lain sibuk dengan segala kerapuhan? Sementara pemilik kesamaran itu bahkan tidak tahu jika ia hanya harus memperjelas dengan mengakui. Sementara pemilik kerapuhan itu tidak tahu bahwa ia hanya harus perlahan berdamai dengan dirinya yang telah ia siksa begitu lama.
Ah andai semudah itu.
.
.
.
TBC
