Disclaimer : Masashi Kishimoto

(Sedikit terinspirasi dari drama Korea Witch Yoo Hee)

Pairings : SasuSakuKarin, etc

Warnings : AU (Versi AU dari Naruto RTN), Typo/s, Sangat OOC

DLDR

.

.

.

" . . ."

"Tak ada yang salah disini." Ajaib, seakan mampu membaca pikiran, perkataan Sakura barusan menjawab pertanyaan yang ada di benak Sasuke. "Semua ini adalah ide bibi Mikoto. Beliau bilang ini adalah satu-satunya cara untuk mendekatkan kita berdua, dan selama tidak merugikanku, aku sama sekali tidak keberatan. Kalau kau terganggu dengan kehadiranku di sini, aku bisa menganggapmu tak ada."

"Hah, yang benar saja. Hal konyol apalagi nanti yang akan dilakukan oleh ibuku. Dan lagi apa tidak terbalik, ini kan kamarku seharusnya kau tidak boleh mengabaikan keberadaanku," kata Sasuke masih mencoba bersabar.

"Sasuke, sebaiknya kau bereskan barang-barang yang ada di koperku," Sakura mengabaikan sama sekali seluruh perkataan Sasuke barusan. Ia malah berdiri dan mengambil ancang-ancang untuk berjalan menuju pintu keluar. Tapi sebelum benar-benar pergi ia sempat berpesan kepada Sasuke, "Aku akan kembali sekitar pukul lima sore. Kuharap ketika aku datang, semuanya sudah rapi. Sampai jumpa Sasuke," ia melongos pergi, meniggalkan Sasuke yang masih berdiri dengan kakunya. Terlalu banyak kejutan yang didapatnya pada pagi ini membuat fungsi kerja otaknya sedikit berjalan lamban.

BRAKK

Dan suara pintu yang tertutup pun menandakan bahwa hari-hari yang dilaluinya akan terasa semakin berat saja. Tanpa ia ketahui bahwa hari ini pun adalah awal dari kisah cintanya (mereka yang terlibat di dalamnya) yang masih panjang untuk mencapai sebuah akhir. Entah itu bahagia atau tidak. Kita lihat saja kemana takdir akan membawa mereka.

.

.

Hari sudah menjelang siang. Suasana di SD Genin sangat ramai mengingat sekarang adalah jam pulang sekolah.

"Karin, kau sudah mau pulang?" tanya Suigetsu sambil membereskan barang-barangnya dan bersiap pulang. Mereka berada di ruang guru yang sudah mulai sepi. Hanya tinggal mereka berdua karena para staf pengajar yang lain sudah pulang semenjak bel terakhir berbunyi.

"Belum, kau pulang duluan saja. Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, sekalian menunggu waktu karena sore ini aku harus membina kegiatan ekskul kesenian," jawab Karin tanpa mengalihkan perhatiannya dari lembaran kertas dihadapannya. Sesekali ia membenarkan letak kacamatanya.

"Ya sudah tapi jangan lupa makan. Hati-hati, jangan pulang terlalu larut, aku tahu kau suka yang gratisan tapi jika ada orang tak dikenal yang menawarimu tumpangan jangan kau terima."

Terkekeh pelan, Karin menanggapi wejangan dari teman berisiknya, "Iya, cerewet. Sudah sana pulang."

"Iya, daa . . . muach," pamit Suigetsu tak lupa memberikan cuiman jarak jauh dengan gayanya yang berlebihan.

"Ck. Dasar autis."

.

.

Sementara itu, di GLORIA HOTEL sedang terjadi kehebohan. Pasalnya sang nona besar Haruno Sakura mengadakan inspeksi mendadak besar-besaran. Seluruh pegawai tanpa terkecuali dikumpulkan di dalam aula utama. Tak ada suara yang terdengar di sana kecuali suara hentakan heels sepatu Sakura yang berjalan sambil memperhatikan pegawai satu persatu hingga sedetail-detailnya. Tak ada satupun yang luput dari mata tajam sang nona besar.

Sesekali ia berhenti dan berkomentar jika melihat ada yang salah atau hal yang menurutnya mengganggu.

"Akimichi Chouji, kau tahu apa kesalahanmu," tanyanya dengan pandangan menusuk terhadap chef yang ada di hadapannya.

" Aku tidak merasa melakukan kesalahan, nona," jawab Chouji mantap dengan tampang setenang mungkin karena ia memang merasa tidak membuat suatu kesalahan apapun.

"Kau memang tidak salah. Yang salah adalah berat badanmu. Dengan berat seperti itu, akan menghambat kecekatanmu dalam bergerak, apalagi kau adalah chef. Aku tidak ingin badanmu yang besar menghalangi ruang gerak chef yang lain. Kinerja chef yang buruk pasti akan sangat merugikan hotel. Kuberi kau waktu untuk menyingkirkan lemak yang tidak berguna itu selama dua bulan. Aku paling tidak suka mendengar kata gagal. Kau mengertikan maksudku?"

Perkataan Sakura barusan seakan meruntuhkan topeng tenang yang sedari tadi setia bertengger di wajah Chouji. Dengan tergagap ia menjawab, "A-aku me-mengerti nona."

"Hm," jawab Sakura. Kemudian langkahnya kembali menyusuri satu persatu pegawai dihadapannya hingga ia berhenti di depan gadis cantik berambut pirang. Yamanaka Ino.

"Rokmu terlalu pendek, make up-mu terlalu tebal, bulu matamu terlalu lentik, seragammu terlalu ketat dan heels-mu terlalu tinggi. Biar ku jelaskan Yamanaka, statusmu di sini adalah resepsionis, bukan artis ataupun model. Aku tak mau tahu yang jelas besok, jika kau masih sayang dengan pekerjaanmu, ubah total segala hal berlebihan yang ada padamu, mengerti?"

"Mengerti nona," jawab Ino sambil berusaha menghilangkan rasa gugupnya. 'Aduh kebelet, rasanya aku ingin berlari ke toilet' tambahnya dalam hati karena rasa gugup yang berlebihan.

Langkah Sakura berhenti pada pegawai terakhir yang berdiri paling ujung. Ya, paling ujung karena ia datang paling akhir (terlambat).

"Uchiha Sasuke, aku rasa kau tahu dengan sangat jelas kesalahan apa yang kau buat."

"Aku terlambat," jawab Sasuke sekenanya. Dalam hati ia ingin sekali memaki Sakura.

'Memangnya ini semua salah siapa?!' batinnya. Ya, Sasuke terlambat karena sibuk membereskan kamarnya yang sekarang menjadi kamar mereka berdua. Ia sangat kewalahan mengatur letak barang bawaan Sakura yang super-super banyak, padahal kamar dan lemari pakaian Sasuke sudah lumayan besar namun masih belum cukup menampung barang-barang mereka berdua. Alhasil, ia mengorbankan setengah populasi bajunya untuk dititipkan di rumah orang tuanya.

"Bagus kau menyadarinya. Kali ini aku memakluminya karena aku tahu alasan kau terlambat. Kau pasti sedang membereskan pakaian ku di kamarmu, bukan?"

Kontan seluruh kerumunan pegawai yang berkumpul di sana membuat suara dengungan akibat bisikan-bisikan yang dibuat mereka karena mendengar kata-kata Sakura tadi. Perkataannya tadi jelas menyiratkan kalau telah terjadi 'sesuatu' di antara mereka yang di artikan sebagai sesuatu yang 'ehemehem' oleh para pegawai.

Sementara Sasuke masih syok mendengar ucapan frontal Sakura.

"Aa, aku sekalian akan mengumumkan sesuatu. Mulai hari ini dan seterusnya, aku akan tinggal di hotel, tepatnya tinggal bersama dengan Sasuke. Jangan bergosip yang tidak-tidak tentang kami karena apapun yang kami lakukan adalah hal pribadi dan tidak ada hubungannya dengan kalian jadi kalian jangan ikut campur. Kurasa cukup sampai di sini. Silahkan melanjutkan pekerjaan kalian. Terima kasih."

Double shock untuk Sasuke.

.

.

"Arrghh!" Sasuke mengerang frustasi sesaat setelah ia berada di ruangannya. Entah mengapa AC yang ada di ruang kerjanya tak sanggup mendinginkan kepalanya yang terasa panas dan berat sebelah. Menghempaskan bokongnya kasar di atas kursi, ia menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajahnya . Sesekali jarinya memijit pelan keningnya yang berkerut menahan pusing. Sasuke berpikir kalau sekarang ia butuh sedikit refreshing.

Tiba-tiba suatu ide muncul dikepalanya. Sekelebat bayangan gadis manis berambut merah menyala menari-nari di benak Sasuke. Segera saja Sasuke menekan beberapa tombol di handphone miliknya.

"Halo Karin . . ."

.

.

GLORIA HOTEL, 9.30 PM

Haruno Sakura baru saja selesai mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Malam ini adalah malam pertama di mana ia dan Sasuke tinggal bersama. Ia memang telah berada di kamar 135 semenjak jam lima sore tadi namun, partner sekamarnya masih belum menampakkan rambut bokong ayamnya.

Terang saja, Sasuke si pemuda berambut bokong ayam itu sedang asyik berkencan dengan kekasihnya. Setelah menelpon Karin siang tadi, ia langsung melesat menuju SD tempat Karin mengajar sekalian menemani kekasihnya itu untuk membina murid-muridnya yang ikut eskul kesenian. Tak sampai disitu, Sasuke mengajak Karin berkencan dan ditutup dengan acara dinner romantis yang telah disiapkan Sasuke khusus untuk kekasihnya.

KRIETT

Sakura yang pada saat itu sedang berada di pantry segera berjalan kearah pintu masuk saat mendengar suara pintu yang dibuka dari luar.

"Kau, dari mana saja?" tanya Sakura dengan pandangan menyelidik saat dilihatnya Sasukelah yang membuka pintu barusan.

"Aa Sakura, kau mengagetkan ku saja. Kukira kau hantu," jawab Sasuke sambil senyum-senyum tak enak. Terlalu asyik bersama Karin, ia lupa kalau ada penghuni baru dikamarnya. Apalagi Sakura sedang mengenakan baju tidur terusan berwarna putih pucat dengan rambut pink panjangnya yang ia biarkan terurai. Membuat Sasuke sedikit bergidik karena Sakura terlihat seperti makhluk halus yang sedang menampakkan diri."Tadi aku ada janji bertemu dengan temanku," kata Sasuke sambil meletakkan sepatunya di atas rak.

"Oh, kau sudah makan? Tadi aku sudah masak dan aku sengaja menunggumu datang agar kita dapat makan bersama. Anggap saja sebagai ucapan terima kasihku karena kau telah membereskan pakaianku," jelas sekali kalau kata-kata yang diucapkan oleh Sakura tulus dan sama sekali tidak dingin seperti biasanya.

Mata Sasuke tampak sedikit melotot saat mendengar kata-kata Sakura tadi. Dia berpikir sejak kapan nona besar Haruno Sakura menjadi jinak kepadanya? Bahkan tadi Sakura berterima kasih. Apa mungkin Sakura kembali menjadi Sakura 14 tahun yang lalu?

"Maaf membuatmu menunggu Sakura, tadi aku sudah makan malam bersama temanku itu. Kau makan saja sekarang," jawab Sasuke tak enak. "Umm . . . aku mandi dulu ya Sakura, kalau kau mau tidur, tidur saja di kasur, malam ini dan seterusnya aku akan tidur di sofa ruang tengah," tambahnya sambil mengambil handuk berlalu menuju kamar mandi.

"Kau membuat waktuku yang berharga terbuang dengan sia-sia lagi, Sasuke." Ah, Sakura kembali lagi ke sifat aslinya yang dingin dan ketus. Tapi kalau diperhatikan lebih jelas lagi, terdapat gurat kekecewaan yang tersirat di wajahnya. Padahal, ia telah mencoba untuk melakukan hal yang selama ini sangat-sangat jarang dilakukannya. Memasak. Ya, Sakura sedang mengikuti saran dari bibi Mikoto yang menginginkan agar hubungan keduanya menjadi lebih baik.

.

.

Hari telah menunjuk pukul dua belas malam tapi Sasuke belum juga terlelap. Ia masih belum terbiasa tidur di atas sofa. Berbagai macam posisi telah ia coba namun masih belum menemukan posisi yang nyaman baginya. Cara terakhir yang ia coba agar bisa tertidur adalah menghitung domba. Tapi baginya menghitung ayam jauh lebih keren jadi, mulailah ia menghitung ayam masuk kandang.

Satu ayam ganteng masuk kandang, dua ayam ganteng masuk kandang, tiga ayam ganteng masuk kandang, dan begitulah seterusnya hingga pada giliran tiga puluh dua ayam ganteng masuk kandang ia berhenti. Dia berhenti bukan karena tertidur melainkan karena mendengar suara pintu kamar tidurnya yang terbuka. Ia melihat sekelebat bayangan wanita berambut pink keluar dari sana. Tapi ia memilih untuk berpura-pura tidur. 'Mungkin Sakura keluar karena haus,' pikirnya.

Alih-alih berjalan menuju panrty, Sakura berjalan menuju sofa tempat Sasuke tertidur. Ternyata ia membawa selimut tebal di tangannya.

"Dasar idiot, sudah tahu di luar dingin tapi tidur tidak menggunakan selimut. Bagaimana kalau kau sakit," kata Sakura kepada Sasuke yang (pura-pura) tidur di depannya.

Diselimutinya tubuh Sasuke yang masih setia dengan acting pura-pura tidur. Sakura juga sempat membenarkan posisi kepala dan kaki Sasuke yang menjuntai tak karuan. Sasuke bisa merasakan deru nafas Sakura menyapu kulit wajahnya saat wanita itu mencoba membenarkan posisi kepalanya.

Sebelum kembali ke kamar, Sakura sempat membisikkan kata 'Selamat malam' sambil mengecup singkat kening Sasuke.

Bagai dialiri listrik ribuan volt, kecupan singkat Sakura tadi membuat darah disekujur tubuh Sasuke berdesir hebat.

'Apa Sakura tadi sedang mengigau?' batin Sasuke ragu.

Namun siapa sangka, beberapa saat setelah Sakura datang, menyelimutinya, dan mengecup keningnya, ia langsung tertidur lelap. Biarpun Sasuke belum menyadarinya, tidak bisa dipungkiri kalau perlakuan Sakura tadi membuat dirinya merasa nyaman.

.

.

Pagi hari di kamar nomor 135, tampak sepasang manusia sudah berpakaian rapih dan duduk di kursi pantry. Di depan mereka sudah tersaji dua porsi nasi goreng dan dua gelas ocha hangat buatan Sasuke. Sejak kemarin malam, Sakura masih bersifat seperti biasanya. Cuek. Ia seakan lupa dengan apa yang dilakukan terhadap Sasuke tengah malam tadi. Hah, andai Sakura tahu kalau semalam Sasuke tidak benar-benar tertidur.

Mereka makan dengan tenang. Hanya suara dentingan garpu dan sendok yang terdengar. Sesekali Sasuke tersenyum jika tanpa sengaja ia melihat Sakura yang tengah mengunyah makanannya. Mau tidak mau ia ingat tentang kejadian mengejutkan yang dialaminya semalam.

"Ehem." Sakura berdehem menyadari Sasuke yang dari tadi terus mencuri pandang ke arahnya.

Sasuke yang tertangkap basah hampir saja tersedak nasi goreng yang ada di mulutnya. Cepat-cepat ia meneguk ocha yang ada di sisi kanannya untuk menetralisis rasa tak nyaman pada tenggorokannya.

Sementara Sakura hanya menyeringai menyadari kebodohan tunagannya itu.

Setelah keduanya selesai menyantap sarapan mereka, Sakura memulai pembicaraan, "Sasuke, besok sampai seminggu kedepan aku akan mengunjungi salah satu cabang hotel yang ada di Kirigakure, bersiap-siaplah karena kau akan ikut bersamaku."

"Eh," respon Sasuke sambil mengerutkan alisnya.

"Kenapa, kau keberatan?"

"Tidak, tentu tidak. Cabang hotel di Kiri kan dekat dengan pantai, artinya kita bisa sekalian liburan," jawab Sasuke antusias.

"Teserah kau saja. Hari ini kau pulang jam berapa?"

"Aku belum tahu, tapi lain kali kalau kau memasak sesuatu jangan menungguku, makan saja duluan. Aku pergi dulu ya," jawab Sasuke sekalian pamit. Kali ini ia sudah siap-siap memakai sepatunya, bersiap untuk menuju ruang kerjanya.

"Tidak usah menunggu, ya," gumam Sakura sangat pelan dan pastinya tidak akan bisa terdengar oleh Sasuke yang sudah berada diluar.

.

.

Tak ada hal penting yang terjadi sepanjang hari ini bagi Sasuke dan Sakura. Sakura tetap setia di ruangannya menangani beberapa berkas yang harus ditanda tangani olehnya. Begitu juga dengan Sasuke yang masih berkukat dengan laptopnya, namun siang tadi ia sempat menelpon Karin untuk mengabari bahwa seminggu kedepan ia akan bertugas mengunjungi cabang hotel yang berada di Kirigakure.

Tentu saja Sasuke tidak memberi tahu kalau ia hanya akan pergi berdua saja dengan Sakura. Bahkan Sampai sekarang ia belum menceritakan apapun tentang apa yang terjadi pada dirinya dan Sakura. Sasuke tidak bermaksud untuk menghianati Karin atau bahasa kasarnya adalah berselingkuh. Hanya saja ia masih menunggu saat yang tepat untuk mengatakan seluruhnya. Lagipula, ia belum bisa menemukan cara untuk membebaskannya dari masalah yang membelitnya saat ini, berada diantara Karin (kekasihnya) dan Sakura (tunagannya).

Sasuke terus menggeliat di atas sofanya seperti malam kemarin. Ia tetap tidak bisa tidur meskipun telah menghitung ayam ganteng masuk kandang sebanyak hampir seratus kali. Dan lagi-lagi hal yang tak diduga olehnya terjadi. Sakura mengendap-endap keluar dari kamar sambil membawa selimut. Kejadian yang sama terulang kembali. Sakura menyelimuti Sasuke yang berpura-pura tidur dan mengecup singkat keningnya. Namun kali ini ada yang berbeda. Kata-kata yang diucapkan oleh Sakura saat mengecup keningnya sedikit berbeda dengan yang apa yang diucapkannya semalam. Kata-kata yang sukses membuat Sasuke kesulitan menelan salivanya dan membuat jantungnya berdebar kencang.

'Selamat malam Sasu, aku menyayangimu'

Dan perlahan Sasuke pun terlelap.

.

.

Rasanya baru sekejap Sasuke tidur, tiba-tiba sebuah tarikan kasar memaksanya untuk terduduk. Ia terkejut bukan main. Bagaimana tidak, matanya saja masih terpejam dan ia sendiri masih dalam keadaan yang tidak bisa membedakan mana mimpi dan mana kenyataan.

Sambil menugucek(?) matanya, ia berusaha melihat siapakah pelaku yang tega membangunannya dari mimpi indahnya semalam. Setelah kesadarannya pulih 100%, tampak jelas terlihat Sakura yang telah berdiri berkacak pinggang dengan wajah murka.

"Kau ingin kubuat tertidur selamanya, eh pemalas?" sindir Sakura kepada Sasuke yang bangun kesiangan. Padahal hari ini mereka harus pergi ke Kiri. Biarpun jarak antara Konoha-Kiri hanya sekitar tiga setengah jam menggunakan mobil tapi tetap saja mereka harus berangkat pagi-pagi. Sakura berencana akan berangkat pukul tujuh tepat, sedangkan sekarang sudah jam tujuh lewat lima menit dan Sasuke belum bersiap-siap.

"Dasar tidak berguna. Kutunggu kau di parkiran. Kuberi waktu 15 menit dan jika terlambat, bersiaplah kau menerima hukuman dariku saat kita tiba di Kiri. Aku pergi." Sebaiknya Sasuke harus berhati-hati jika Sakura sudah mengancam karena nona besar Haruno Sakura tidak pernah tidak serius dengan ancamannya.

Dengan waktu yang cuma lima belas menit, Sasuke memutuskan untuk tidak mandi. Cukup dengan gosok gigi dan cuci muka saja. Setelah itu ia bergegas memasukkan pakaiannya asal kedalam koper. Ia tak sadar kalau tanpa sengaja ia memasukkan pakaian dalam Sakura yang terselip diantara tumpukan baju-bajunya.

Sementara itu Sakura yang sudah berada di dalam mobil menghela nafas bosan sambil sesekali melirik jam di pergelangan tangan kirinya. Baru saja ia akan memaki Sasuke yang bangun kesiangan, ia melihat sesosok pemuda berambut mencuat berjalan tergesa-gesa ke arahnya sambil menyeret koper di tangan kanannya. Melihat tampang Sasuke yang berantakan, timbul niat iseng Sakura untuk mengerjai Sasuke.

"Sasuke cepat, waktu 15 menitmu akan habis dalam 10, 9, 8 . . ." Sakura membuka kaca mobilnya dan berteriak kepada Sasuke sambil menghitung mundur. Sasuke yang mendengar teriakan Sakura semakin mempercepat langkahnya, " . . . 5, 4, 3 . . ." Sakura masih tetap menghitung mundur, dan kali ini Sasuke sudak berlari sambil mengangkat kopernya, tak lagi diseret.

" . . . 2, 1." Tepat saat Sakura menyebut angka satu, Sasuke telah membuka pintu mobil yang berada di samping Sakura dengan napas ngos-ngosan dan wajah memerah karena lelah berlari.

"Hahh . . .haah . . .aku hah . . .tepat waktu," ucap Sasuke putus-putus karena masih mengatur nafasnya. Ingin sekali ia menjitak kepala Sakura yang sedang memandangnya datar, namun sesaat kemudian ekspresinya berubah.

"Hahaha . . . kau lucu sekali Sasuke." Sakura tertawa.

Tawa yang tak pernah dilihat dan didengar lagi oleh Sasuke selama belasan tahun. Tawa yang selama ini Sasuke rindukan. Mungkinkah Haruno Sakura, teman masa kecilnya telah kembali.

.

.

"Hoek . . . hoek," Sasuke muntah. Ia mabuk darat. Sesaat setelah mereka tiba di Kiri, Sasuke segera mencari semak-semak terdekat untuk menuntaskan rasa mualnya. Sementara Sakura berdiri di belakangnya sambil menepuk pelan punggung Sasuke. Sasuke mendengar Sakura terkekeh di belakangnya, "Bisa-bisanya kau tertawa disaat aku tengah sekarat," sindir Sasuke.

Awalnya, Sasuke yang menyetir. Namun setelah setengah perjalanan, wajahnya berubah menjadi pucat. Ia pun mengaku kepada Sakura kalau kebiasaan mabuk daratnya dari dulu masih belum sembuh. Mendengar pengakuan Sasuke bukannya prihatin Sakura malah menertawainya. Entah mengapa, hari ini ia menjadi sering tertawa. Akhirnya Sakura yang mengambil alih kemudi di sisa perjalanan.

"Ya sudah, ayo masuk. Semua kerperluan kita di sini sudah di atur. Kita akan menginap di Suite room nomor 43. Koper dan tas kita biar dibawa oleh pelayan disini, kau masuk dan istirahat saja dulu aku masih ada urusan," ajak Sakura meskipun terkesan seperti perintah sambil masih setia menepuk-nepuk punggung Sasuke. Sebenarnya ia tak tega juga menertawai Sasuke, tapi melihat wajah sengsara Sasuke adalah hiburan tersendiri bagi Sakura. Baginya, wajah sengsara Sasuke sangat menggemaskan. Ahh, rasanya sudah lama sekali ia tidak merasakan perasaan menyenangkan seperti ini.

.

.

Hari sudah siang saat Sasuke tebangun dari tidurnya, rasa mabuk yang tadi dirasakannya sudah berangsur-angsur membaik. Ia menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan kamar mencari sosok berwarna pink. Namun nihil, ia tidak dapat menemukan sosok pink itu. Baru saja Sasuke ingin beranjak dari tempat tidurnya, ia melihat berbagai macam obat dan juga bungkusan makanan yang berada di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Terdapat note kecil yang terselip di antara obat-obatan tersebut.

Aku pulang agak malam, jangan kemana-mana tanpa seizinku.

Jangan lupa diminum obatnya. Habiskan makananmu, jika tidak kau harus mengganti uang yang aku keluarkan untuk membeli semuanya 100 kali lipat. Manfaatkan kebaikanku semaksimal mungkin. Mengerti?

-Haruno Sakura-

"Hah, ada-ada saja dia," gumam Sasuke. Ia masih bingung dengan jalan pikiran Sakura yang sulit ditebak. Memang Sakura menyebalkan, ketus, dan angkuh namun Sasuke sadar dibalik itu semua Sakura adalah pribadi yang hangat. Mungkin karena selama ini ia hanya kesepian, pikir Sasuke.

.

.

Tepat pukul tujuh malam Sakura telah kembali ke kamar mereka. Dilihatnya Sasuke yang tertidur di depan televisi yang masih menyala.

"Sasu, Sasuke bangun," ia mengguncang bahu Sasuke pelan.

" Nghh, kau sudah pulang?" tanya Sasuke.

"Pertanyaan bodoh. Cepat bangun aku tahu kau pasti belum makan malam," ujar Sakura sambil sedikit membereskan meja kecil yang ada di depan televisi.

TOK TOK TOK

"Ah, sudah datang. Cepat sekali," gumam Sakura sambil berjalan menuju pintu.

Setelah pintu dibuka, tampak seorang pelayan membawa trolly berisi berbagai macam hidangan di atasnya.

"Ini pesanan anda, nyonya," kata sang pelayan ramah.

"Baik, letakkan disana," tunjuk Sakura kearah meja di depan Sasuke.

Sementara Sasuke masih memandang aneh berbagai macam hidangan di depannya. Ia kurang tahu nama-nama dari makanan itu. Yang jelas disana terdapat dua porsi steak entah apa namanya, beberapa dessert, salad buah-buahan, minuman yang mungkin adalah wine, dan yang paling mencolok adalah keberadaan cheese cake ukuran medium yang berada di tengah-tengah meja.

Setelah pelayan tadi meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan, tiba-tiba suasana menjadi canggung. Sasuke menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena binggung harus bagaimana.

"Eumm Saku, ini makan malam kita?" tanya Sasuke kepada Sakura yang sekarang telah duduk di sebelah kanannya. Sakura menoleh kearah Sasuke sambil mengangguk singkat.

"Ya, sebenarnya hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kedua mendiang orang tuaku," jawab Sakura masih dengan tampang datarnya. Sasuke masih terus memperhatikan Sakura. Menantikan apa yang selanjutnya akan dikatakan oleh gadis bersurai pink itu. "Setiap tahun aku selalu merayakannya. Sendirian."

Nada suara Sakura berubah menjadi agak berat, seakan membendung beribu emosi yang mati-matian ditahannya. Haruno Sakura sedang berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh. 'Tapi kebetulan malam ini kau ada disini menemaniku. Kupikir tak ada salahnya berbagi sedikit kebahagiaan denganmu. Lagipula kau adalah tunanganku, calon orang yang akan menemani hari-hariku nanti," ujar Sakura langsung mengalihkan pandangannya kearah cheese cake yang ada di tengah meja. Ia tidak mau Sasuke melihat matanya yang mulai berkaca-kaca. Biarlah malam ini ia menunjukkan sisi terlemah dirinya kepada Sasuke, salah satu orang yang paling ia sayangi.

Sekedar pemberitahuan saja, saat masih anak-anak dulu, Sakura sempat mengagumi dan menyukai sosok Sasuke, bocah usil yang sering menemaninya bermain, hanya saja ia masih terlalu muda untuk menyadarinya (sampai sekarang juga masih belum sadar). Jadi bisa dibilang kalau Sasuke adalah cinta pertama, atau cinta monyet Sakura kecil.

"Saku," panggil Sasuke pelan.

"Ya?"

"Terima kasih."

.

.

Lagi-lagi malam ini Sasuke tidak bisa tidur dengan nyenyak. Tidak, dia tidak sedang tidur di sofa. Setelah makan dan sedikit mengobrol dengan Sakura dan bersiap untuk tidur, Sakura mengajaknya untuk tidur di ranjang yang sama. Tentu saja dengan cara khas Sakura, menyeret Sasuke dengan paksa agar mau tidur di sampingnya karena Sasuke sempat menolak. Bahkan Sakura sempat menyumpahi Sasuke agar bermimpi buruk jika pemuda berambut mencuat itu tetap memaksa untuk tidur di sofa. Dan voila, jadilah sekarang mereka tidur seranjang dengan sebuah guling sebagai pembatas di antara mereka.

Jadi Sasuke tidak bisa tidur karena pikirannya bercabang kemana-mana. Tepatnya bercabang dua, antara Karin dan Sakura. Sungguh ia merasa sangat pusing dengan segala hal yang telah menimpa hidupnya.

Karin tidak tahu kalau Sasuke telah memiliki tungangan. Begitu pula sebaliknya, Sakura tidak mengetahui kalau tunangannya itu sudah memiliki kekaasih sebelum bertemu dengannya.

Apalagi sikap sakura beberapa hari belakangan ini benar-benar aneh. Membuat Sasuke bertanya-tanya, 'Apakah Sakura mulai menyukaiku?'

Tak kunjung mendapat pencerahan atas pertanyaannya, ia memutuskan untuk berusaha agar bisa tertidur. Seperti biasa, dengan cara menghitung ayam ganteng masuk kandang. Namun lagi-lagi Sasuke mencoba untuk berimprovisasi menjadi-

Sakura berkagebunshin menjadi dua.

Sakura berkagebunshin menjadi tiga.

Sakura berkagebunshin menjadi empat.

Begitulah seterusnya hingga ia terlelap pada bunshin Sakura yang ke enam puluh delapan.

.

.

Seperti biasa, Sakura bangun lebih dulu dari Sasuke. Dan pagi hari ini, tepat ketika Sakura membuka matanya, ia disuguhi pemandangan yang err . . .indah - setidaknya begitulah yang ada dipikirannya. Wajah Sasuke yang berada kurang dari sepuluh senti dihadapannya membuat Sakura seperti kehilangan kesadaran. Tentu saja, karena biar bagaimanapun Sakura adalah wanita normal. Bohong jika ia tidak merasakan apapun ketika melihat lawan jenisnya, apalagi Sasuke yang memiliki wajah di atas rata-rata, berada pada jarak sedekat itu. Tapi tunggu, apa itu di sudut bibir Sasuke? Liur kah? Aw, runtuh sudah kekaguman Sakura atas pesona Sasuke saat melihat 'iler' yang terukir indah di wajah Sasuke.

'Dasar liur tak berguna,' umpat Sakura dalam hati.

Pelan-pelan ia beranjak turun dari ranjang agar tidak membangunkan Sasuke, mengambil handuk dan berjalan menuju kamar mandi.

Suara kucuran air yang beasal dari kamar mandi membangunkan Sasuke dari tidurnya. Sambil mengucek pelan matanya yang masih menyesuaikan diri dengan cahaya matahari pagi, ia berjalan menuju balkon. Kebetulan kamar mereka adalah kamar yang memiliki view paling bagus. Hamparan laut biru serta bebatuan besar menjadi pemandangan pertama yang Sasuke lihat ketika berada di balkon.

Karena udara pagi di Kiri sangat dingin, ia tidak tahan berlama-lama berdiri di balkon. Sambil menunggu Sakura selesai mandi, ia membongkar isi tasnya yang belum sempat ia susun di lemari. Betapa terkejutnya ia saat mendapati pakaian dalam *ehem* underware Sakura yang terselip di antara tumpukan underware miliknya. Ia bukan terkejut karena tak sengaja memasukkan underware Sakura karena memang dari awal ia memasukkan bajunya secara acak-acakkan, jadi ia tidak heran kalau terbawa dengan benda milik Sakura. Hanya saja, yang dilihatnya itu adalah underware Micky Mouse dengan renda ditepiannya yang lebih cocok dipakai oleh anak SD, ia tak menyangka kalau nona besar sekelas Haruno Sakura masih memakai daleman yang seperti ini. Sungguh diluar dugaannya.

Tepat saat Sasuke tengah beresperimen dengan menarik-narik ujung underware Sakura hingga ukurannya mencapai batas maksimal, Sakura keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan selembar handuk yang bahkan tidak cukup panjang untuk menutupi paha mulusnya.

"Aa Sasuke, sepertinya kau mendapat mainan baru," sindir Sakura saat melihat Sasuke yang asyik bermain-main dengan underwarenya. Nada bicaranya memang biasa saja tapi Sasuke dapat merasakan aura tidak enak yang menguar dari tubuh Sakura.

"A-anu 'itu' tadi tidak sengaja berada di dalam koperku, su-sumpah," jawab Sasuke gelagapan karena Sakura sedang berjalan kearahnya sambil memelototkan kedua emeraldnya.

Baru saja Sakura ingin mengambil underwarenya yang berada di tangan Sasuke dengan brutal, hal yang memalukan terjadi.

Handuk yang melilit tubuhnya tiba-tiba terlepas.

Dan sialnya, dibalik handuk putih itu ia tidak mengenakan sehelai benangpun.

Sasuke yang menjadi satu-satunya saksi hidup insiden memalukan itu melihat seluruh tubuh polos Sakura tanpa berkedip. Hingga akhirnya Sasuke mimisan.

Mimisan karena ia baru saja 'mencicipi' tinjuan maut Sakura yang mendarat tepat di wajahnya.

.

.

Disinilah Sakura dan Sasuke sekarang. Berjalan-jalan di sepanjang pantai yang membentang di sekitar hotel. Lokasinya lumayan sepi karena pantai disana hanya ramai ketika musim liburan. Awalnya Sakura menolak mentah-mentah ajakan Sasuke yang ingin berjalan-jalan di pantai dengan alasan masih ada pekerjaan yang harus ia urus. Namun karena Sasuke mengancam akan melapor kepolisi karena Sakura telah menganiayanya hingga menyebabkan hidungnya berdarah, akhirnya dengan sangat terpaksa ia mengiyakan ajakan Sasuke.

"Sakura sebaiknya kau lepaskan sepatumu, lihat lebih seru kalau kau berjalan tanpa alas kaki," saran Sasuke saat melihat Sakura mengenakan high heels untuk berjalan-jalan dipantai. Dan lihat, nona besar Haruno Sakura masih setia dengan pakaian favoritnya. Setelan rok dan juga blazer, namun tetap modis. Dipadukan dengan scarf yang melilit lehernya serta perpaduan warna yang elegan dan pas dari atas hingga bawah membuatnya terlihat selayaknya sosialita kelas atas. Benar-benar tipikal wanita karir.

Sasuke masih bingung, Sakura ini sebenarnya mau jalan-jalan di pantai atau mau pergi bekerja? Berbeda dengan penampilan Sasuke yang hanya mengenakan kaos putih lengan pendek dan celana selutut yang sewarna dengan kaosnya.

"Aku tidak mau kakiku terkontaminasi oleh bakteri pasir pantai yang menjijikkan," jawab Sakura sambil memandang jijik pada pasir-pasir pantai yang tak berdosa.

"Ck, kau benar-benar tidak tahu cara menikmati hidup. Kutunjukkan padamu cara bersenang-senang."

Tepat saat Sasuke menyelesaikan kalimatnya ia menggendong Sakura dan berlari menuju laut.

"Kyaa . . . turunkan aku. Apa yang kau lakukan, bodoh! Kau ingin aku meninju wajahmu yang tak berguna itu lagi Sasuke idiot?!" maki Sakura yang masih meronta-ronta dalam gendongan Sasuke.

BYURR

Sasuke mengabulkan keinginan Sakura untuk melepaskan dirinya.

"Ups, bukankah tadi kau yang meminta untuk diturunkan," kata Sasuke dengan tampang tanpa dosa karena telah sukses menceburkan Sakura ke laut. Melihat kondisi Sakura yang sudah basah kuyup ia tertawa terbahak-bahak.

"Sasuke bodoh, kau harus tanggung jawab. Aku akan menghapus tawa dari wajah bodohmu itu. Rasakan pembalasanku!" ujar Sakura menggebu-gebu.

Dan tiba-tiba BYUUR . . .

Sakura mendorong dengan sadis tubuh Sasuke yang tidak sempat mengelak karena Sakura melakukannya dengan sangat cepat.

"Hahaha . . .pembalasanku harus dua kali lipat lebih kejam daripada apa yang kau lakukan kepadaku," lagi, Sasuke berhasil membuat Sakura tertawa lepas. Namun tawa Sakura kali ini lebih mengarah kearah negatif. Tawa iblis.

Sasuke yang berusaha berdiri terjatuh lagi karena Sakura sepertinya tidak memberinya kesempatan untuk berdiri. Tiga kali percobaan dan Sasuke selalu gagal. Akhirnya pada kesempatan ke empat, bukannya berdiri, ia malah menarik Sakura hingga ikut terjatuh bersamanya.

Belum cukup, Sasuke mencipratkan air kearah Sakura. Seakan tak mau dirinya dikalahkan, Sakura membalas serangan Sasuke dengan semangat berapi api.

Mereka terus bermain air hingga tidak sadar kalau hari sudah beranjak sore. Bahkan Sasuke tidak menyadari kalau sedari tadi Suigetsu menelponnya berkali-kali karena ponselnya ia tinggal di kamar. Karena panggilannya tak kunjung di angkat, Suigetsu memutuskan untuk mengirim pesan singkat.

Sasuke, cepat kembali ke Konoha.

Tadi pagi Karin kecelakaan dan sekarang sedang di rawat di RS Konoha.

.

.

Uzumaki Karin, wanita bersurai merah yang biasanya ceria tersebut kini terbaring tak berdaya di bangsal nomor 02 RS Konoha. Di pergelangan tangannya tertancap selang infus yang sudah hampir habis. Terdapat perban yang melilit dahi dan lengan kanannya. Sementara memar dan lecet menghiasai bagian tubuhnya sana-sini. Suigetsu yang biasanya berisik dan cerewet pun kini hanya duduk terdiam disisi kanannya. Ia bersyukur luka Karin tidak terlalu parah.

"Tadi aku sudah menghubungi Sasuke," bisiknya pelan.

Mengerti maksud perkataan Sugetsu, Karin hanya memejamkan matanya dan berucap, "Sudah kubilang jangan menghubunginya dulu. Aku hanya tidak mau dia khawatir dan mengganggu pekerjaannya."

"Kau selalu saja seperti ini. Cuma memikirkan Sasuke tanpa menghiraukan keadaanmu sendiri," balas Suigetsu sambil mengupas apel yang didapat Karin saat beberapa siswa mengunjunginya.

"Kau tahu kan bagaimana bebasnya kehidupan Sasuke sebelum bertemu denganku? Makanya aku tak mau terlalu mengekangnya."

Tentu saja Suigetsu sangat tahu bagaimana kelakuan Sasuke sebelum bertemu dengan Karin. Menjadi pelanggan setia berbagai macam klub malam ternama di Konoha, mabuk-mabukan, dan jangan lupakan kebiasaanya bergonta-ganti pasangan sesering Sakura menyebut kata 'tidak berguna' setiap harinya.

"Lalu, apa yang Sasuke katakan?" lanjut Karin penasaran. Ia sedikit meringis saat tak sengaja menggerakkan lengan kanannya yang terbalut perban.

"Dia bilang . . ." Suigetsu berhenti sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya, "dia akan segera datang," pada akhirnya ia memutuskan untuk berdusta.

.

.

"Aku duluan,"

"Tidak akan kubiarkan, apa kau tak pernah mengetahui islilah 'Ladies First'?"

"Hn? Kau wanita?"

"Tentu saja, kau masih belum yakin? Bukankah tadi pagi kau sudah melihat se-mu-a-nya?"

Wajah Sasuke mendadak merah saat Sakura yang tanpa perasaan malu atau risih sedikitpun mengungkit-ungkit tentang insiden kecil tadi padi. Sementara Sakura malah semakin melotot dan terkesan menantang Sasuke. Ia tak akan kalah. Apapun yang terjadi ia harus menggunakan kamar mandi lebih dulu.

Mereka sekarang sedang berdebat sengit di depan pintu kamar mandi lebih tepatnya, berebutan untuk mandi lebih dulu karena kondisi mereka yang lengket akibat bermain air laut. Masing-masing tak ada yang mau mengalah hingga Sakura memberikan solusi.

HOMPIMPA

Dan Sakura kalah telak dengan skor 0-5.

"Sial. Kuberi kau waktu 10 menit. Gunakan waktumu sebaik-baiknya karena jika kau terlambat, aku tidak segan-segan mendobrak pintu tak berguna ini," umpat Sakura kesal. Ia paling tidak suka dengan yang namanya kekalahan. Bahkan kalah hompimpa sekalipun.

"Iya, iya. Atau kau ingin kita mandi bersama?" balas Sasuke sedikit menggoda Sakura yang tampaknya tidak tergoda sama sekali.

"Iya, saat kau kumandikan menggunakan spritus. Cepat masuk, waktumu kurang dari 8 menit lagi," Sakura mendorong tubuh Sasuke kasar ke dalam kamar mandi dan membanting pintu tepat di depan wajah Sasuke.

Belum sampai lima menit Sasuke berada di kamar mandi, Sakura sudah merasa bosan dan mulai mengumpat karena Sasuke tak kunjung selesai. Langkahnya yang akan mengetuk pintu kamar mandi terhenti saat ia melihat ponsel Sasuke yang tergeletak di atas tempat tidur. Entah kenapa, tiba-tiba ia merasakan rasa penasaran yang sangat tinggi saat melihat benda itu.

Sambil berpura-pura untuk membereskan tempat tidur yang memang sudah rapi, ia menyentuh ponsel Sasuke yang kebetulan bertipe touchscreen.

"Ups, aku tidak sengaja," gumam Sakura menyeringai licik. Ia emang berniat untuk mengecek 'isi' dari ponsel Sasuke. Namun, ia merasa harga dirinya seakan tak berguna jika ia dengan sengaja kepo terhadap benda privasi orang lain, sekalipun itu milik tunagannya. Jadi ia merekayasa agar segalanya terlihat seperti kebetulan. Tipikal Sakura yang berharga diri tinggi.

Dan kebetulan yang lain adalah saat itu Sasuke lupa mengunci ponselnya. Langsung saja belasan panggilan tak terjawab dengan nama kontak Suigetsu terpampang jelas di sana. Dan kali ini (benar-benar tidak sengaja) Sakura membuka pesan yang berasal dari Suigetsu.

"Siapa Karin?" guman Sakura setelah membaca pesan dari Suigetsu.

Karena sudah terlanjur, sekalian saja Sakura membaca seluruh pesan masuk dan keluar di handphone Sasuke. Namun nihil. Karena kebiasaan Sasuke adalah langsung menghapus pesan yang ia terima setelah ia baca ataupun sebaliknya.

Masih diselimuti rasa penasaran terhadap seseorang yang disebut-sebut bernama Karin, Sakura mencoba membuka folder foto Sasuke. Teradapat puluhan foto disana dan rata-rata berisi figure gadis yang sama. Gadis berambut merah terang dan berkacamata dengan berbagai macam ekpresi. Dan satu foto hampir membuat Sakura menjatuhkan ponsel Sasuke. Foto Sasuke dan gadis berambut merah itu tengah berciuman. Ciuman tepat di bibir.

Gadis itukah yang bernama Karin?

Entah mengapa separuh dari dirinya merasa tidak suka saat melihat foto itu. Ada perasaan tidak rela saat melihat Sasuke disentuh oleh wanita manapun selain dirinya. Perasaan egois yang mengatakan bahwa Sasuke adalah miliknya.

Saking sibuk dengan pemikirannya, Sakura tidak sadar kalau Sasuke telah keluar dari kamar mandi mengenakan celana jeans selutut dan handuk kecil yang tergantung di lehernya, "Aku tidak terlambatkan Saku, eh . . .," kata-kata Sasuke terhenti saat melihat benda yang berada di genggaman Sakura.

"Sakura, kau mem . . ."

"Siapa Karin?" porong Sakura tanpa membiarkan Sasuke menyelesaikan kata-katanya.

"Sebaiknya kau segera mandi, badanmu menggigil," Sasuke mencoba mengalihkan pembicaraan. Kali ini ia telah memakai kaos polo berwarna biru dongker polos ke tubuhnya yang juga kedinginan.

"Seseorang yang bernama Karin itu sekarang sedang dirawat di rumah sakit. Ini," kata Sakura sambil berjalan menghampiri Sasuke yang berdiri di samping tempat tidur sekalian menyerahkan ponsel miliknya.

"Seseorang yang bernama Suigetsu tadi mengirimimu pesan," ujar Sakura dengan nada suara yang tak biasa. Sedikit bergetar.

Tanpa babibu, Sasuke segera menyambar jaketnya yang tergeletak di pinggiran sofa. Onyxnya seakan tak fokus dan gerakan Sasuke menjadi kacau. Ketara sekali kalau pemuda itu sekarang tengah panik luar biasa. Dan Sakura tak pernah melihat Sasuke sepanik ini sebelumnya.

Siapa Karin?

Apa hubungannya dengan Sasuke, apakah ia adalah seseorang yang special sampai Sasuke menjadi sepanik ini?

Pertanyaan itu terlintas di kepalanya. Memikirkan kemungkinan yang ia terka sendiri membuat Sakura merasa nyeri di dadanya. Apakah ia kambuh lagi? Bukankah ia telah dinyatakan sembuh total?

Saat Sakura tengah meringis merasakan dadanya yang terasa sesak, Sasuke menghampirinya.

"Sakura maaf, sepertinya aku harus segera kembali ke Konoha, kurasa aku masih sempat jika mengejar keberangkaran kereta terakhir. Dan sepertinya aku tidak akan kembali lagi kesini," ucap Sasuke masih dengan ekspresi panik. Sekarang ia telah membereskan seluruh pakaiannya ke dalam koper dengan asal-asalan.

Sasuke menyeret kopernya menuju pintu keluar, "Aku pergi dulu, jaga dirimu."

Tidak, Sakura tidak bisa membiarkan Sasuke pergi. Lagi-lagi perasaan egois itu seakan memerintahkan Sakura untuk menahan Sasuke agar tetap berada disisinya.

Tiba-tiba suara Sakura menginterupi tepat saat tangan Sasuke menyentuh pintu keluar, "Tidak. Kau tidak akan pergi kemanapun tanpa seizinku."

.

.

.

.

.


TBC


A.N : Hehe, gimana ceritanya?*tertawa garing* Ceritanya kepanjangan ya?*semakin tertawa garing*

Readers-san, aku pengen nanya, di fict ini perlukah aku nambahin satu lagi tokoh cowok utama buat ngelengkapin jalan cerita?

Untuk chapter-chapter selanjutnya, mungkin beberapa tokoh bakal bersifat kebalikan dari versi canonnya karena aku sengaja minjem karakter mereka kayak di RTN. Dan chapter depan mungkin bakal ada special appearance dari Nee-chan ku yaitu . . .

Pojok Bales Review (Yang login cek PM ya )

NecromancerYuu: OK, ini udah apdet biarpun ngga kilat*nyengir*

May: Wah, kalo itu err gimana yah, kita liat nanti aja kali ya*digeplak*

Eaniyy: OkeSipp!

Guest: Ini udah di apdet. Iya, soalnya aku suka ngeliat Sasuseksoy dibikin ngegemesin

Sakumori Haruna: Salam kenal juga Runa-chan*kecup*. Sasu setuju kok tinggal bareng, dia memang tersiksa, tapi disiksa dengan manis sama Saku*abaikan*. Next chapternya mungkin minggu depan, Sankyu .

Salam,

FM

Mind to REVIEW ?