Detektif YuRi

Final Fantasy VII © Square Enix

Final Fantasy X © Square Enix


Chapter 2: Rencana 1

teng… teng… teng…

Lonceng istirahat pun berbunyi. Seperti biasa, mereka berlima: Yuffie, Rikku, Tidus, Yuna, dan Lulu berkumpul di kantin sekolah Midgar. Entah kenapa, atmosfir lonceng istirahat kali ini sangat berbeda. Kenapa? Lihat aja Tidus yang lagi mengerjakan PRnya. Biasanya cowok atletis ini pasti sudah ke kolam renang main blitzball. Tentu saja hal itu menarik perhatian si Rikku.

" Eh, Kak Tidus. Tumben banget kerjakan PR. Biasanya kan, udah ke kolam renang?" tanya Rikku dengan penuh keheranan.

" Tentu saja rajin, bukankah dari dulu sudah memang begitu?" balas Tidus sambil menyalin PRnya.

" Bohong tuh, dia lagi diancam sama Pak Sephiroth, guru fisika kita," timpal Yuna dengan senyum simpul, seolah-olah itu adalah hal yang biasa.

" Kan, udah kubilang gak mungkin si Tidus bisa rajin kalau bukan karena Pak Sephiroth," ejek Rikku.

" Perasaan aku tidak mendengar kamu mengatakan itu?" balas Tidus dengan jengkel.

" Dalam hati," balas Rikku tak mau kalah.

" Ish, udahlah! Give me peace, ok? Habis nanti dia bakal nagih PRnya sesudah lonceng ini," kata Tidus.

Keadaan pun menjadi hening seketika sampai pada akhirnya, Tidus merasa ada yang aneh. Entah kenapa Yuffie tidak seperti biasanya, kalau gak ribut,… yah cerewet. Sepertinya kata diam itu tidak ada di kamusnya. Ada apa ya?

" Yuffie, kok hari ini kamu diam banget. Aku bahkan tidak tahu kalau kamu ternyata ada dibelakangku," kata Tidus yang rada terkejut karena ternyata orang yang dia maksud tepat duduk di belakangnya.

" Katanya jangan ribut, ehh… tapi kamu sudah mulai duluan," timpal Lulu tidak setuju dengan pernyataan Tidus tadi.

" Kan, ini beda lagi persoalannya," bantah Tidus.

" Iya, biasanya Yuffie selalu berantem sama Tidus. Kamu sakit ya? " tanya Yuna dengan khawatir.

Yuffie hanya bisa diam dengan muka secemberut jeruk purut.

Melihat Yuffie yang sedari tadi cuek aja, Yunapun mengalihkan pertanyaannya kepada Rikku," Apa yang terjadi, Rikku?"

" Uhm, sebenarnya…. Yuffie lagi dapat undian untuk jadi partner dansa sama Reno," jawab Rikku.

" Lah, kok bisa?" tanya Lulu dengan terkejut.

Pantas saja Yuffie cemberut, mereka semua pada tahu kalau Yuffie sangat tidak menyukai si rambut merah itu. Mau dibilang nakal, sama saja kayak Yuffie. Ribut, juga sama. Hanya saja , Yuffie tidak suka dengan kesombongan Reno. Itulah kenyataannya, mereka tetap saja beradu mulut dimanapun dan kapanpun kalau bertemu. Pertengkaran mereka bahkan lebih heboh dari Tidus.

" Erk, siapa sih, yang memonopoli surat undian itu. Bakal kubakar seisi kelas itu!" Teriak Yuffie tak jelas.

" Oh, iya, kalian kan, ada camping natal minggu depan. Jadi kalian pasangan, wah hebat tuh! Jangan bilang sesudah camping, kalian pacaran loh," sindir Tidus.

" ERK, AKU TIDAK MENYURUHMU UNTUK BICARA!" balas Yuffie menendang kaki Tidus.

" ADUH," teriak Tidus hanya bisa berteriak kesakitan sambil memegang kakinya.

' Dasar, siapa suruh dia gak lihat keadaan. Udah tahu kalau Yuffie bad moodnya gimana, masih mending tuh ditendang,' batin Rikku.

" Yuffie, ingat kalau Tidus adalah seniormu. Jadi perlakukan dia dengan baik. Lagipula Tidus tidak bermaksud jahat. Minta maaf pada Tidus," perintah Lulu.

" Tak mau, lagipula itu bukan salahku," elak Yuffie.

" Jangan bertingkah seperti anak-anak, Yuffie. Kamu sudah 15 tahun," kata Lulu mulai geram.

Melihat keadaan yang semakin memanas, tiba-tiba Rikku mendapat inspirasi-yang-entah-datang-dari-mana. Sambil memegang tangan Yuffie, Rikkupun berkata," Oh iya, Yuf. Bukankah tadi rencana kita mau ketemu Elena? Ayo, jangan murung lagi. Masih ada misi yang harus kita kerjakan loh."

" Iya, juga, ya. Yuk, kita cari Kak Elena itu," sahut Yuffie.

Lagi-lagi, moodnya berubah dengan sangat cepat.

Mungkin dia itu penderita bipolar, pikir Tidus.

" Cepat pigi. Aku gak mau lihat muka kamu lagi. Sudah nasehatin baik-baik, ditendang pula," tambah Tidus.

" TIDUS!," Yuna peringatkan agar segera mengerjakan PRnya.

" Ya, Ma'am. I got it," jawab Tidus.


Sementara di koridor sekolah, Yuffie dan Rikku sibuk mencari kelas X-2. Untung Yuffie mempunyai denah sekolah, jadi pencariannya menjadi lebih mudah. Akhirnya, merekapun sampai di kelas X-2. Ternyata kelas X-2 berada di lantai 1 paling ujung. Pantas saja mereka sulit mencarinya karena rata-rata kelas X itu ada di lantai 4 dan 5. Gak nyangka juga, sih.

" Yess, kita sampai juga!" sahut Rikku dengan senang.

" Yuk, kita hampiri kelas itu," balas Yuffie.

Mereka pun menghampiri kelas X-2. Kelas itu agak sedikit berbeda dengan kelas Yuffie dan Rikku yang masih SMP. Terutama, roknya. Kalau yang SMP warna biru, yang SMA warna abu-abu. Ternyata, kelas X sudah diperbolehkan membawa laptop. Gak kayak kelas SMP yang masih agak diharamkan. Tapi mereka tetap bawa juga meski sembunyi-sembunyi.

Ketika mereka sudah berada di ambang pintu X-2, Yuffie menarik tangan Rikku sampai ke ruang konsultasi mereka. Rikku bingung. Bukankah tadi rencananya mau interogasi Elena?

" Rikku, aku tahu apa yang kamu pikirkan. Tapi, setelah kupikir-pikir sepertinya tidak bijaksana kalau kita langsung menginterogasi Elena. Malahan dia bakal curiga, mana tahu kalau dia itu kaki tangan Bu Johnson. Jadi lebih sulit untuk menyelidiki." Jelas Yuffie ketika mereka sampai di ruangan mereka.

'Masuk akal, sih.' Batin Rikku.

"Jadi apa rencanamu sekarang, Yuf? Menyelidiki kos rumah Bu Johnson secara diam-diam?" Tanya Rikku.

"Yup, tepat. Jadi kita bagi tugas. Aku akan berbicara dengan orang di sekitar kos dan kamu akan mengawasi rumah kos itu. Bukankah kamu ada teropong mata-mata itu?"

"Ya, masih ada. Aku masih ingat ketika kita pakai itu untuk memata-matai Tidus waktu lagi nyatain cinta sama Yuna.

Bulan itu kamu

Aku mataharimu

Yevon memberkati kita temu

Aku jatuh cinta padamu

Bolehkah aku bersamamu?"

" Ishh... mau muntah aku dengarnya. Dia sudah terpengaruh sama monyet playboy itu. Karena Tidus itu polos, makanya kedengarannya tulus. Coba kalau si Zidane itu bilang..." Kata Yuffie sambil merinding.

"Kamu benar, Yuf. Ok, kembali ke kasus kita. Jadi, aku bakal ngintai rumah itu pakai teropong mata-mata itu, kan?"

"Benar. Lalu tulislah laporan mengenai kondisi fisik rumah itu dan lihatlah siapa yang keluar masuk rumah itu. Sedangkan aku, aku akan dengar gosip. Memang gosip itu separuh benar. Lalu, besoknya kita akan nginap di kos itu, mumpung lusa libur. Tapi kalau kamu tidak mau, aku sendiri juga tidak apa-apa. Aku akan meneliti interior rumah itu." Jelas Yuffie.

"Bukannya aku tak setuju. Tapi, bukankah itu berbahaya setelah Kak Tifa cerita..." Tanya Rikku dengan gugup.

"Apakah kamu jadi terpengaruh sama supernatural itu? Yah, bisa jadi kamu benar. Kalau seandainya, kali ini adalah supernatural. Aku pun tak bisa berbuat apa-apa. Kita tutup kasusnya. Kita panggilkan pendeta. Jadi kita harus mengetahui apakah ini tindakan setan atau musuh licik yang bersembunyi di rumah itu." Timpal Yuffie.

" Jadi sekian rencana kita. Sampai ketemu lagi, Rikku. Besok, aku akan sampaikan laporanku." kata Yuffie dengan riang.

"Ok, sampai ketemu lagi juga besok." Jawab Rikku dengan riang. Mereka pun melakukan tanda persahabatan mereka yaitu mempertemukan materia mereka. Mereka pun kembali ke kelas.


A/N: Maafkan aku karena terlalu lama updatenya. Semoga chapter ini menyenangkan untuk dibaca. Thx.