"Tetsu?"
"Aomine-kun?"
"Apa yang kau lakukan disini?! Kudengar ka-..."
"Kita bicara di tempat lain, Aomine-kun"
Tangan si gadis biru muda menarik lengan pemuda dim di dekatnya. Menariknya ke ruang rawatnya dengan langkah tergesa-gesa membuat yang di tarik merasa heran dengan tingkah sahabat yang ia kenal sejak SMP itu.
Title : Hope
Pair : AkaxFem!Kuro, slibing AkaxFem!Furi, AoxFem!Kuro
Genre : Hurt/Comfort, Romance
Rate : T
Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi
Warn : OOC, Typos, abal-abal, angst gagal(?) Romance hancur lebur/?. AU!Hospital, Doctor!Akashi, Pasien!Kuroko, Pasien!Furihata
Happy Reading
Pintu ruang rawat VIP itu di tutup oleh gadis bersurai biru langit itu. Menunduk dalam dan merosot terduduk di bawah pintu. Pemuda dim bernama Aomine Daiki itu langsung menahan tubuh Tetsuna yang tampak sangat rapuh, membawanya kedalam pelukan hangat si pemuda dim.
"O-oi Tetsu, kau baik-baik saja? Ada apa? Kenapa kau menangis?" Tanya Aomine khawatir.
"Aku... Aku..."
"Tenangkan dirimu dulu, Tetsu."
Pelukan hangat seorang Aomine membuat Tetsuna tidak lagi bisa menahan tangisan kencangnya. Jujur saja, hati Tetsuna sudah benar-benar hancur saat ini. Nasib baik bagi Aomine yang mendadak bosan membaca majalah nistanya dan datang ke rumah sakit untuk menemui Tetsuna, sahabatnya sejak dulu. Pikiran Aomine penuh dengan pertanyaan dan makian bagi siapapun yang telah berani melukai sahabat dekatnya. Siapapun itu tidak akan mudah di maafkan, tapi yang terpenting adalah membuat Tetsuna bicara tentang siapa yang telah berani membuatnya menangis.
Suara tangisan mereda, bibir tipis itu mulai bercerita pada sang sahabat tentang apa yang terjadi. Aomine hanya bisa mengelus punggung sang gadis biru langit dengan penuh keprihatinan dan merapalkan sumpah serapah bagi Akashi Seijuro yang berani-beraninya membuat Tetsuna-nya menangis.
"Lupakan saja dokter sialan itu, Tetsu. Banyak orang yang menginginkanmu menjadi kekasih mereka!"
"Sudahlah Aomine-kun... Aku baik-baik saja"
"Aku akan mengurus kepindahanmu dari rumah sakit ini, kalau tidak aku ingin kau ditangani dokter lain!"
"Jangan pindah! Itu akan memakan biaya lagi..." Tetsuna menghela nafas. Ia tidak bisa menyangkal kalau ia tidak bisa lagi bertemu atau tatap muka dengan Akashi.
Aomine geram. "Aku akan meminta Midorima yang merawatmu dan melarang si brengsek Akashi itu menemuimu"
Langkah kaki dan bantingan pintu penuh emosi menjadi ketukan palu final tentang keputusan sepihak seorang Aomine Daiki. Tetsuna hanya bisa terdiam diatas kasurnya, menatap nanar pintu yang baru saja ditutup kasar. Mungkin pemandangan Akashi dan Kouri tadi adalah kali terakhir Tetsuna melihat sosok yang dicintainya. Melihat pemandangan menyakitkan lalu sosok itu menghilang.
Menyakitkan.
Menyesakkan.
Tapi ia bisa apa?.
Pagi itu, Tetsuna dibangunkan dari tidurnya untuk pengecekan rutin. Bukan merah darah yang menyambutnya melainkan hijau klorofil dengan kacamatanya. Dadanya nyeri, ia ingin Akashi-nya, ia ingin bersama dengan Akashi, orang yang ia cintai.
Namun di tepis lagi keinginan itu. 'Dia sudah menjadi milik Kouri. Lupakan Akashi-kun'
Hari demi hari, bulan demi bulan terlewat, kondisi Tetsuna terus memburuk. Aomine terus menerus menunggui dan menjaga Tetsuna. Akashi sendiri berusaha senormal mungkin menjalani aktifitasnya walau dalam hati ia sangat mencemaskan Tetsuna. Ia tidak mengerti mengapa ia sangat mencemaskan Tetsuna dibanding senang dengan kesembuhan Kouri.
Semakin lama Kouri menyadari keanehan pada Akashi. Kondisi Tetsuna yang memburuk membuat Akashi terus merasa lesu seolah benar-benar tidak ada semangat, belum lagi larangan keras untuknya agar tidak menemui Tetsuna itu membuatnya frustasi dan jengkel setengah mati. Ia ingin memastikan kondisi adik angkatnya dengan mata kepalanya sendiri, bukan melalui perantara Midorima.
Lalu, bagi Akashi hari-hari selanjutnya bagai klise tidak berwarna. Hitam dan putih dengan latar abu-abu.
.
.
.
.
.
.
Januari, 29. Kouri datang ke rumah sakit untuk menemui Akashi. Tekadnya sudah bulat dan ia sudah yakin dengan keputusannya. Membuat si sahabat yang sudah dekat selama di rumah sakit menderita. Walau tidak rela, Kouri harus melakukan ini.
"Seijuro-san, aku ingin kita putus!"
.
.
.
.
.
.
Januari 30, cincin dipegang Akashi. Ia berdiri di depan ruang rawat VIP dengan wajah geram. Ia ingin masuk menemui Tetsuna, tapi kenapa Aomine terus menerus melarangnya masuk ke dalam? Akashi benar-benar ingin meminta maaf karena terus menerus menyakiti Tetsuna. Ia ingin masuk. Tapi, apa daya lagi-lagi Akashi terusir dan tidak bisa masuk karena ketatnya penjagaan Aomine.
Akashi ingin memberikan cincin yang dikembalikan Kouri pada Tetsuna. Betapa bodohnya ia, Tetsuna menginginkan cincin itu, tapi ia malah memberinya pada orang lain. Akashi hanya bisa merutuki kebodohannya di ruangannya. Memukul tembok sekeras mungkin untuk melampiaskan emosinya.
.
.
.
.
.
Pagi hari di tanggal 31 januari, kondisi Tetsuna sudah sangat buruk. Tangan yang hanya tampak seperti tulang dibungkus kulit itu di genggam erat oleh Aomine dan kerabat yang menungguinya. Tetsuna membisikkan hal yang berhasil membuat mata Aomine membulat. Ia tidak bisa berkata tidak untuk Tetsuna saat ini.
"Aomine-...kun... To-long... A-ku ingin ber-temu A-kashi-kun..."
.
.
.
.
.
Pintu di buka kasar, sosok Akashi masuk dengan tergesa-gesa. Memeluk sosok ringkih itu dengan erat seolah jika ia melepaskannya, Tetsuna akan menghilang menjadi sepihan abu. Tidak! Akashi tidak mau itu terjadi. Ribuan kata maaf keluar dari bibir Akashi, tangisan pecah seolah tidak malu ditonton, permintaan janji yang tidak mungkin di penuhi Tetsuna.
Bibir tipis itu terbuka melantunkan sebuah permintaan dari gadis senada langit cerah itu.
"A-ku mencin-tai A-kashi-kun... M-maaf aku me-nyembunyi-kan... Cin-cin pasangan un-tuk Kou-ri-chan"
"Aku juga mencintaimu Tetsuna, maafkan aku."
"A-kashi-kun... Aku p-punya permintaan..."
"Katakan saja Tetsuna, apapun akan kuberikan!"
"A-ayo bertukar C-cincin..."
Anggukan dan Akashi langsung mengambil tangan kanan Tetsuna yang sudah sangat kurus itu dengan hati-hati melingkarkan cincin kesukaan Tetsuna itu di jari manisnya, begitu pula Tetsuna yang menyematkan cincin pasangan itu di jari manis Akashi. Tepukan tangan orang-orang yang ada di ruangan itu membuat Tetsuna senang juga pelukan dari Akashi.
Atmosfir haru biru sangat kuat di ruangan itu hingga terakhir ia menghembuskan nafas terakhirnya setelah melantunkan kata cinta untuk Akashi. Dan kemudian tangisan dan panggilan namanya menjadi pengantar kepergian Kuroko Tetsuna ke alam lain yang lebih indah. Surga.
-FIN-
