KUROSHITSUJI FF: Children of Demon
Chapter .2: That Butler, Egoist
"Sebastian, apa tamu kita sudah datang?" tanyaku.
"Belum, Tuan Muda. Daripada itu, saya ingin Anda menjelaskan apa yang terjadi kemarin," kata Sebastian.
"Duh, kau ini merepotkan. Kan seharusnya kan sudah mengerti," keluhku.
"Saya sudah menduga, tapi yang saya ingin Anda jelaskan adalah kenapa Anda tak pernah memberitahukan hal itu pada saya?" kata Sebastian.
"Heee? Kupikir kau pasti bakal sadar suatu hari nanti, hehehe…"
Sebastian tampak kesal. "Lucifer, saya tak sedang main-main!"
Aku sedikit terkejut dengan kata-kata Sebastian. "I…iya, aku mengerti! Ayah galak, ih!"
"Hhh…saya tak akan seperti ini kalau saja Anda mau bersikap dewasa sedikit," keluh Sebastian.
"Apa boleh buat! Aku kan memang masih kecil!" kataku seraya menjulurkan lidah.
"Hhh…lalu, bisakah Anda mulai menjelaskannya pada saya?"
"Baik, baik!" kataku. "Aku menyadari kalau kami punya kemampuan itu setahun yang lalu."
"Setahun yang lalu? Dan Anda tak pernah menceritakannya pada saya?" tanya Sebastian.
"Habisnya menurutku kau akan menyadarinya. Ternyata kau malah tak sadar-sadar," kataku.
"Hhh…Tuan Muda, saya tak mungkin bisa menyadari perubahan dalam tubuh Anda dengan mudah."
"Apa-apaan itu? Bukannya kau ayah kami?" kataku sedikit kesal.
"Itu benar. Tapi, Anda tentu tak lupa kalau ibu Anda manusia biasa, jadi ada kemungkinan Anda tak akan memiliki kemampuan itu," jelasnya.
"Iya, aku tahu!"
"Lalu, kemampuan seperti apa saja yang kau punya?" tanya Sebastian.
"Menurutku aku sepertinya memiliki semua kemampuan yang kau miliki, walau aku punya pemikiran dan sifat yang hampir sama dengan manusia," jawabku.
"Dengan kata lain, yang membedakan Anda dari manusia biasa hanya kekuatan dan keabadian Anda?"
"Yap! Benar sekali!" kataku.
"Lalu, bagaimana dengan Nona Lucia?" tanyanya lagi.
"Lucia, ya? Kekuatanmu seperti apa, Lucia?" tanyaku pada Lucia yang sedang duduk di pangkuanku.
"Mata…" jawab Lucia.
"Ah, iya! Mata!" seruku.
"Mata?" tanya Sebastian bingung.
"Lucia memiliki kemampuan untuk melindungi dirinya. Seperti yang kau tahu, Lucia bertubuh lemah, jadi dia memiliki kemampuan untuk membunuh atau menyiksa seseorang dengan hanya melihatnya," jelasku.
"Jadi, karena itu anjing-anjing itu…"
"Benar! Itu adalah kemampuan Lucia," kataku. "Selain itu, mata Lucia punya kemampuan lain."
"Kemampuan lain?"
"Ya. Matanya mampu membaca kebenaran masa lalu, masa kini, dan masa depan. Jadi, tak akan ada yang bisa berbohong di hadapannya!" jelasku.
"Ah, kemampuan itu menurun dari ibu Anda," kata Sebastian.
"Eh? Bukannya ibu hanya manusia biasa?" tanyaku.
"Ya, tapi beliau memiliki keistimewaan itu," kata Sebastian.
"Ah! Pantas saja kau tertarik padanya!" seruku.
Sebastian tesenyum, "saya tak menyangkalnya."
"Oh, ya! Lucia juga kan separuh manusia, jadi dia punya kelemahan juga!" kataku.
"Apa itu?" tanya Sebastian.
"Kau tak menyadarinya, Sebastian?" kataku. "Lucia berbeda denganku. Dia tidak abadi."
Sebastian terkejut. "Tak kusangka hal seperti itu bisa terjadi."
"Ya, aku juga kaget. Tapi, karena itulah aku akan melindungi Lucia apapun yang terjadi," kataku. "Tak akan kubiarkan siapapun menyentuhnya!"
Sebastian tersenyum. Sepertinya ia masih akan mengatakan sesuatu, tapi tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu.
"Ya, masuk!" kataku.
Celine membuka pintu. "Tuan Muda, tamu yang Anda tunggu sudah datang."
"Oh, akhirnya! Baiklah, aku akan segera ke sana," kataku. "Sebastian, kau sambutlah tamu kita!"
"Saya mengerti," kata Sebastian. "Ayo, Celine!"
"Ba…baik!" kata Celine seraya segera keluar dari ruangan mengikuti Sebastian.
"Hmm…orang itu berani juga. Ayo, Lucia, kita ke ruang tamu. Ada tamu istimewa yang menanti kita."
"Iya, oniisama…"
Sementara itu, Sebastian pun menyambut pria itu di pintu depan dan mengajaknya ke ruang tamu.
"Selamat datang, Tuan Millian. Tuan Muda sudah menunggu kehadiran Anda."
"Tuan Muda? Apa maksudmu?" tanya pria itu.
"Oh! Inikah tamu istimewa kita, Sebastian?" seruku tiba-tiba.
"Si…siapa kau?" tanya pria itu heran.
"Hah? Seharusnya aku yang bilang begitu, kan?" kataku. "Ya, sudahlah. Sekalian aku juga ingin memperkenalkan diri. Aku adalah Kepala Keluarga Middleford yang baru, Lucifer Cronqvist Michaelis. Ah, dan ini adikku, Lucia Philomena Middleford."
"Kepala Keluarga katamu? Bagaimana dengan Ciel?" tanyanya.
"Ah, kau kenal ibu kami?" tanyaku.
"Ibu katamu? Jadi, kalian ini adalah anak Ciel?" tanya pria itu heran.
"Benar. Memangnya kau ini apanya ibu?" tanyaku lagi.
"Kalian tidak tahu? Aku ini adalah ayah ibu kalian," katanya.
"Heee? Jadi, maksudnya kau ini kakek kami?" tanyaku. "Apa dia sungguh-sungguh, Sebastian?"
"Itu benar."
"Hee? Tak kusangka kami masih punya kakek," kataku.
"Apa Ciel tak pernah menceritakannya pada kalian?" tanyanya.
"Menceritakan? Yang benar saja. Ibu meninggal segera setekah kami lahir," kataku.
"La…lalu, di mana ayah kalian?" tanyanya lagi.
"Hah? Ayah kami? Dia, kan?" kataku seraya menunjuk ke arah Sebastian.
"Eh? Apa maksudnya?" tanya Sir Millian bingung.
"Makanya, kubilang Sebastian itu ayah kami," jelasku.
"Tidak! Tidak mungkin!" serunya tiba-tiba. "Tidak mugkin Ciel menikah dengan seorang butler!"
"Apa maksudnya tidak mungkin? Mungkin saja, kan?" kataku.
Sir Millian tampak kesal. "Hei, apa benar kau ayah mereka?" tanyanya pada Sebastian.
"Saya tak akan menyangkalnya. Itu memang benar," jawab Sebastian.
"Yang benar saja! Aku tidak terima!" serunya.
"Kenapa, kakek?" tanyaku.
"Kenapa? Tentu saja itu jadi masalah! Mana ada seorang Lady menikah dengan seorang butler!" serunya.
Kami semua hanya terdiam mendengar perkataannya. Setelah dia puas, dia lalu terdiam beberapa saat dan akhirnya memutuskan untuk pulang. Sebastian mengantarnya ke pintu depan. Sir Millian sepertinya membicarakan sesuatu dengan Sebastian. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi sepertinya jawaban Sebastian telah membuatnya sangat kesal. Melihat tingkahnya itu, kami dapat meramalkan kalau sesuatu akan terjadi.
"Lalu, ke mana kau akan membawa kami, kakek?" tanyaku.
"Ke rumah kakek tentu saja," kata Sir Millian.
"Hee…,"
Seperti dugaan kami, Sir Millian menjalankan rencananya di keesokan harinya. Dia membawaku dan Lucia pergi ke rumahnya tanpa sepengetahuan Sebastian. Itu adalah pertama kalinya kami keluar rumah, pertama kalinya kami melihat kota.
"Kakek, apa tak sebaiknya beritahu Sebastian? Dia pasti akan khawatir kalau kami tak ada," kataku sambil berusaha menahan tawa saking merasa lucu dengan kata-kataku sendiri. Sebastian khawatir? Sampai kiamat pun hal itu tak mungkin terjadi?
"Kalian adalah cucuku. Aku tak perlu ijin seorang butler hanya untuk mengajak kalian pergi!" serunya.
"Tapi, Sebastian kan ayah ka—"
"Jangan sebut dia ayah kalian! Dia hanya seorang butler," katanya kesal.
Aku hampir tertawa mendengar kata-katanya. Iya,benar. Sebastian hanya seorang butler. Akumade shitsuji…
Tak lama, kami tiba di mansionnya. Tak disangka dia punya anak buah yang banyak. Aura mansion itu benar-benar menjijikkan, membuatku hampir muntah.
"Selamat datang, Millian-sama!" kata seorang anak buahnya.
"Ada kejadian apa selama aku pergi?" tanya Sir Millian.
"Sebenarnya…" anak buahnya membisikkan sesuatu pada Sir Millian. Sir Millian tampak terkejut dan kesal mendengar hal itu, tapi ia menyembunyikan amarahnya karena kehadiran kami. Kemudian dia membisikkan sesuatu pada anak buahnya itu. Foolish human! Apapun yang dia sembunyikan, tak akan ada gunanya.
"Lalu, kakek? Ada apa?" tanyaku.
"Ah, tidak ada apa-apa," jawabnya.
"Bohong…" kata Lucia tiba-tiba.
"Kakek tidak berbohong," katanya.
"Bohong…" kata Lucia lagi.
"Tidak. Aku tidak—" kata-katanya terputus ketika tiba-tiba saja telepon di ruang kerjanya itu berbunyi. Ekspresi wajahnya langsung berubah saat mendengar suara telepon itu.
"Ada apa, kek? Kenapa teleponnya tak diangkat?" tanyaku.
"Ah, iya ya," katanya seraya mengangkat telepon. "Halo!"
"Halo, apakah benar ini dengan kediaman Sir Millian?" jawab suara di balik telepon.
"Benar! Siapa ini?"
"Ah, syukurlah. Dari tadi saya menelepon, tapi tak ada satupun jawaban…"
"Kau siapa? Ada perlu apa denganku?"
"Wah, kebetulan sekali, Sir Millian rupanya. Saya ingin bertanya apakah Tuan Muda…ah, bukan…apakah anak-anak saya ada di sana?"
"Ka—kau! Tidak! Mereka tidak ada!"
"Hmm…begitukah? Sebenarnya mereka tiba-tiba saja menghilang, saya khawatir kalau mereka datang ke rumah Anda dan merepotkan Anda,"
"Kubilang mereka tidak ada di sini! Jangan menelepon lagi!" Sir Millian langsung saja menutup telepon.
"Dari siapa?" tanyaku tiba-tiba.
"Ah, bukan siapa-siapa. Hanya salah sambung," jawabnya.
"Bohong…" kata Lucia.
"Tuh, kata Lucia kakek bohong," kataku.
"Kakek tidak bohong," jawabnya.
"Bohong…" kata Lucia lagi.
"Tapi, Lucia bilang kakek bohong. Tadi itu dari siapa?" tanyaku. "Dari Sebastian?"
"Bu—bukan! Sudah kubilang itu salah sambung!" serunya panik.
"Bohong…" kata Lucia.
"Ka—kakek tidak berbohong," katanya.
"Bohong…bohong…bohong…"
"SUDAH KAKEK BILANG KAKEK TIDAK BERBOHONG!" Sir Millian yang kehabisan kesabarannya langsung memarahi Lucia dan melayangkan sebuah tamparan ke pipinya.
"Lucia!" seruku.
"Ah, ma—maaf, maafkan kakek…kakek tidak—"
"Oi, kakek…"
"Eh?"
"Tahu gak sih? Aku paling gak suka sama orang yang berani memukul adikku," kataku.
"Lucifer, kakek minta maaf. Kakek tidak sengaja," katanya membela diri.
"Tidak sengaja? Berhentilah berbohong, Sir Millian."
"Eh?"
"Jangan kau pikir kami hanya anak-anak yang tak tahu apa-apa. Sebastian sudah memberitahukan semuanya pada kami," kataku.
"A—aku tak tahu apa yang dia katakan pada kalian, dia berbohong!"
"Bohong?"
"Ya, dia berbohong. Dia menipu kalian agar dapat menguasai harta kalian!" serunya.
"Haah? Jangan membuatku tertawa. Yang ingin menguasai harta kami itu kau, kan?" kataku. "Sebastian pembohong katamu? Sebastian tak pernah berbohong. Hanya dia saja yang tak akan berbohong. Beda dengan kalian, manusia!"
"E—eh? Apa maksudmu?"
"Aku sudah muak denganmu. Manusia rendah sepertimu yang hanya mementingkan harta dan pembohong, benar-benar membuatku ingin muntah!" dalam kemarahan aku melepaskan wujud Iblisku. Mata semerah darah, rambut panjang hitam sepekat malam, serta taring dan kuku yang tajam, yang dapat mencabik-cabik seseorang. Mad!
"Ka—kalian ini apa?" seru Sir Millian ketakutan.
"Kami? Bokutachi akuma de kodomo desu yo…"
"I…iblis…?"
"Kau telah berani memukul adikku dengan tangan kotormu. Bahkan ayah kami pun tak pernah memukul kami seperti itu!" seruku seraya mencengkeram kerah baju Sir Millian.
"Mo…monster…"
"Ha? Monster katamu? Manusia busuk sepertimulah yang pantas disebut monster," kataku. "Aku akan membuatmu menyesali perbuatanmu!" aku bersiap mencabiknya dengan kukuku.
"Tidak boleh, Tuan Muda!" tiba-tiba saja Sebastian muncul dan menahan tanganku sebelum berhasil mencabik-cabik Sir Millian.
"Sebastian, kenapa kau menahanku? Manusia ini telah berani memukul Lucia," kataku.
"Saya tahu. Tapi, saya tak ingin Anda sampai mengotori tangan Anda dengan darah orang seperti dia," kata Sebastian.
Aku kembali tenang mendengar kata-kata Sebastian. "Aku mengerti."
Sebastian tersenyum. "Nah, Tuan Muda sebaiknya Anda pulang. Saya sudah menyiapkan kereta kuda di luar."
"Kau? Dari mana kau masuk? Di mana semua anak buahku?" seru Sir Millian.
"Oh, maafkan saya. Karena mereka melarang saya untuk masuk, saya terpaksa membuat mereka tertidur," kata Sebastian seraya tersenyum.
"Apa?"
"Nah, Tuan Muda, ayo cepat."
"Baiklah," kataku. "Sebastian."
"Ada apa?"
"Bahkan sampai ke neraka pun, aku tak mau lagi melihat wajahnya. Ingat itu!" kataku.
"Yes, my Lord!" jawab Sebastian.
Aku pun keluar dari ruangan itu bersama Lucia. Aku berjalan menuju pintu keluar menyusuri jalan yang penuh dengan mayat-mayat anak buah Sir Millian. Aku tak menoleh ke belakang lagi, bahkan ketika aku mendengar suara teriakan Sir Millian menggema di angkasa.
Lalu, di malam harinya…
"Tuan Muda, hari ini saja saya akan mengijinkan Anda tidur dengan Nona," kata Sebastian.
"Iya, aku mengerti," jawabku.
"Oh, ya, Sebastian, ada yang ingin kutanyakan?"
"Apa itu?"
"Ibu kami itu orang yang seperti apa?" tanyaku.
"Dia adalah satu-satunya orang yang dapat membuatku cukup gila untuk melakukan hal-hal yang tak pernah kulakukan sebelumnya," jawab Sebastian.
Aku sedikit terkejut mendengar jawabannya. "Ahahahahahaha…benar. Kalau tidak, tak mungkin kau menjadi ayah kami."
Sebastian tersenyum.
"Nee, Sebastian, apa menurutmu ibu akan marah kalau aku mencelakai ayahnya?" tanyaku.
"Menurut saya, ibu Anda tak akan mungkin berbuat seperti itu," jawab Sebastian.
"Benar juga," kataku.
"Nah, sekarang sebaiknya Anda tidur, Tuan Muda," kata Sebastian sambil menyelimutiku.
Aku menutup mataku. "Selamat tidur, otousama," gumamku.
Dalam kelelahan, sayup aku mendengar suara Sebastian, "Selamat tidur, Lucifer."
Malam itu, saat kami tertidur, Sebastian melakukan sesuatu yang tak kami ketahui. Di bawah sana—di ruang bawah tanah ada sebuah ruangan besar. Sebastian sepertinya selalu ke sana setiap malam. Dan, yang ada di dalamnya adalah…
"Apa malam ini pun Anda tak bisa tidur? Tak baik bagi seorang Lady untuk masih terbangun di tengah malam seperti ini."
Semilir angin yang keluar dari jendela menyibakkan tirai jendela dan menampakkan sosok seorang wanita bergaun putih di dalamnya.
"—apa cahaya bulan yang tampak dari ruangan begitu indahnya sampai-sampai Anda terpesona dan tak bisa tidur, my Lady…ah, bukan,…Ciel."
Wanita itu berbalik. Angin menyibak rambut panjangnya yang berwarna hitam, dan cahaya bulan memantulkan cahaya di matanya yang berwarna biru bagai batu sapphire. "Kau datang lagi, Sebastian…"
To be continue…
