.

.

APAPUN BISA TERJADI

.

.
Chapter 2

.

-::-::-

Ying mencoba untuk menjaga jarak dengan sang mantan kekasih. Ia mencoba untuk menghindar saat berada di kantin pada siang hari di setiap hari Selasa, di dalam on-call room setiap detik di hari Rabu malam, dan di depan rumah sakit setiap hari Jumat pukul sepuluh ketika ia pulang. Ia bahkan menyibukkan diri dengan mengambil lebih banyak bagian operasi sehingga mereka tidak akan saling bertemu satu sama lain.

Ying benar-benar telah mencoba. Tapi entah kenapa... entah bagaimana, pemuda itu tetap berhasil menemukannya. Meskipun sebenarnya pemuda itu tak mendekatinya. Tapi bukan berarti Ying akan berpikir ia bisa mengatasinya jika ia berjalan di dekatnya dan mencoba untuk memulai percakapan. Ia hampir tak bisa mengabaikan keberadaan pemuda itu saat di kantin (meskipun ia berusaha keras menghindar untuk tidak memandang pada pemuda itu sama sekali), kedua mata pemuda itu terus menatap begitu tajam padanya. Seolah tatapan itu bisa membakar bagian belakang kepalanya.

Satu bulan terakhir, Suzy telah menemaninya setelah kejadian di pagi hari saat itu. Ketika ia terbangun dan menyadari bahwa pemuda yang ia cintai telah meninggalkannya, ia memanggil nama pemuda itu, dan terus-menerus menangis. Dan Suzy ada di sana, menyeka air matanya dan membawakan makanan yang ia beli dalam perjalanan saat ia tahu apa yang terjadi malam itu. Suzy ada di sana ketika pikirannya mulai berjalan normal, membawanya kembali fokus pada hari esok. Tapi minggu ini Suzy memiliki pertemuan di luar kota, jadi ia terpaksa melewati koridor-koridor Rumah Sakit tanpa Suzy di sampingnya, yang selalu mendukungnya.

"Kau akan baik-baik saja," Suzy berkata sambil memasukkan sweater ke dalam koper biru tuanya. "Kau kuat. Kau bisa melakukannya. Tapi jika kau butuh sesuatu, cukup telepon aku. Atau berbicaralah dengan Melody, atau bahkan Nana. Oke?"

Itulah yang diucapkan Suzy sebelum pergi.

Mendesah pelan, Ying menempatkan kepalanya di tangannya, sikunya bersandar di meja perawat. "Hei Nana."

Dari belakang meja, senyum letih dari seorang perawat bernama Nana mengembang. "Hai. Bagaimana perasaanmu?"

"Sepertinya aku perlu minum."

"Aku mendengar itu," kata suara lain.

Ying menoleh, ia melihat Melody—yang juga seorang dokter bedah seperti dirinya—tengah berjalan gembira ke arah mereka, dan Ying dengan sigap menjangkau lengan Melody, menangkapnya. "Ayo kita pergi ke Vidia's Pub. Aku yang traktir." Ying tersenyum cerah.

"Operasinya sukses?" tanya Nana yang sedang menumpuk beberapa dokumen.

"Yup." Melody menyandarkan dirinya di meja, memungkinkan Ying untuk menyandar di lengannya. "Pasienku itu sekarang sudah siuman, berbicara dengan baik dan keterampilan motoriknya berfungsi normal."

"Itu berita bagus," Ying tersenyum.

"Terima kasih! Jadi? Masih ingin minum?"

"Tentu." Ying mengangguk.

"Aku tak bisa ikut," Nana tersenyum menyesal. "Aku ada shift awal besok, dan tunanganku menungguku di rumah."

Selanjutnya, percakapan seru terjadi diantara mereka, menarik perhatian orang lain di sekitar mereka saat ketiganya cekikikan entah apa.

.

.

Berjalan masuk ke Vidia's Pub, Ying bisa merasakan rasa stresnya mulai mereda di tengah-tengah gelombang suasana hangat dan ringan di dalam sana. Banyak ahli bedah dan perawat sering datang ke tempat ini setelah shift mereka berakhir karena tempat ini berada tak jauh dari rumah sakit, sesekali ia dan Melody menyapa wajah-wajah yang mereka kenali ketika mereka berjalan mencari tempat yang cocok untuk mereka berdua.

"Aku yang memesan minumannya!" seru Melody saat mereka telah duduk di sudut bar. Sedangkan Ying, ia setengah melamun dan merasa seribu memori mengisi setiap celah dari otaknya.

Hari ini adalah hari yang panjang dan ia berharap Melody mendapatkan sesuatu yang lebih baik daripada segelas iced tea. Ia bahkan tak ingin keluar dari tempat tidur pagi tadi, terutama setelah ia hanya tidur selama empat jam, tapi otaknya memaksa dirinya, berseru berulang kali tentang bagaimana semangatnya itu akan menjadi bukti kemauan dan kekuatan untuk menghadapi hari tanpa bantuan Suzy. Lebih tepatnya untuk menghadapi wajah Fang tanpa Suzy.

Jujur saja ia tak pernah mengakui hal ini kepada siapa pun tapi kadang-kadang ketika ia sendirian di tempat tidur, ia akan menangis. Ia akan berpikir tentang bagaimana jika kehidupan mereka berbeda dari yang sekarang, apakah mereka akan tetap bersama-sama saat ini? Menikah dengan bahagia? Mengharapkan kehadiran anak pertama mereka? Hampir setiap malam ia memeluk bantal yang biasa mantan kekasihnya itu gunakan ketika tidur di apartemennya, meringkuk lebih dalam seolah menggantikan tubuh hangat pemuda itu yang sangat ia rindukan.

Ying menggeleng pelan, mencoba menghilangkan bayangan seorang pemuda yang selalu berada di kepalanya. Tepat saat itu, minuman yang Melody pesan telah datang, ia tak pernah begitu bersyukur ketika Melody menyerahkan gin dan tonik padanya. Ia menyesapnya sedikit saat Melody mulai menceritakan operasinya secara rinci.

Sementara Melody terus mengoceh, Ying merenungkan tentang dirinya sendiri. Seringkali ia bermimpi berulang-ulang tentang satu hal. Tentang malam ketika ia dan Fang... berpisah. Dalam mimpinya itu, ketika ia bertanya alasan pemuda itu menginginkan hubungan mereka berakhir adalah 'Aku gay,' 'Ada orang lain,' atau yang sangat membuatnya terkejut hingga terjaga dari tidurnya semalam dengan keringat dan air mata adalah jawaban 'Aku tidak mencintaimu lagi'.

Suara Melody tiba-tiba menyentak dan mengganggu pikiran Ying ketika Melody menyenggol lengannya, "Uh.."

"Apa?" tanya Ying, ia mengikuti arah tatapan Melody. Di sana, Fang sudah setengah jalan dari pintu, pemuda itu mengedarkan pandangannya, mencari tempat yang sekiranya nyaman. Dan Ying menahan napas ketika matanya bertemu dengan mata mantan kekasihnya itu.

"Apa kau ingin pergi?"

Ying memutuskan kontak mata dengan Fang dan beralih pada Melody, ia menggeleng, "Tidak," jawabnya gemetar. "Aku bisa mengatasinya."

"Apa kau yakin?"

"Kurasa begitu."

"Baiklah." Melody meremas tangan Ying meyakinkan. "Katakan padaku jika kau tak bisa dan kita akan pergi dari sini. Kapan saja."

Seraya tersenyum penuh terima kasih, Ying membalas sebentar remasan tangan Melody sebelum meneguk sisa minumannya hingga tandas. "Lagi?"

Ying baru saja selesai mengatakan pesanannya untuk dua gin dan tonik ketika ia merasa ada seseorang duduk pada kursi di sampingnya. "Hai."

Ying merasa tak harus berbalik untuk tahu siapa itu. Bahkan tanpa bicara sekalipun ia tahu siapa yang telah duduk di sampingnya. Ia bisa merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, rambut halus di belakang lehernya meremang dan sudut mulutnya akan berkedut sedikit setiap kali pemuda itu di dekatnya. "...H-Hai." Ia berharap pemuda itu tak memperhatikan nada goyah dalam suaranya.

"Jadi, Suzy mengeluarkan ide-idenya untuk membantu anak-anak jalanan di terminal."

Suzy. Sebuah topik yang aman. Ying bisa melakukan itu.

"Ya." Ying mengetukkan jari-jarinya ke tepi meja, menunggu dengan tidak sabar minuman pesanannya. "Dia mengirim sms siang tadi. Dia sangat gugup."

"Tak seharusnya dia begitu. Dia tahu apa yang dia bicarakan, dan ide-idenya sangat bagus."

Ying mengangguk sopan dan menarik sudut bibirnya membentuk senyuman.

"Bagaimana... bagaimana kabarmu?" tanya Fang ragu-ragu.

"Aku sudah lebih baik."

"Hari yang melelahkan? Apa yang terjadi?"

Gara-gara kau, batin Ying. "Kurang tidur semalam." Kau membuatku terjaga, dan kemudian membuatku sulit tertidur, lanjut Ying membatin.

Dari sudut matanya, ia melihat Fang mengangguk dengan kerutan sedikit di wajahnya.

Ying tak bisa lebih lega ketika bartender datang dengan minuman pesanannya. Ketika ia bergerak untuk meraih minumannya, Fang berdiri dan mengulurkan tangan padanya, tersenyum penuh harap. "Berdansa?"

Lagu cinta yang terputar malam ini adalah, 'I Will Always Love You' lalu dilanjut dengan 'When You Say Nothing At All'. Dan dapat dipastikan Ying tak berminat untuk berdansa.

Ying melirik gugup pada Melody, sahabatnya itu tengah menatap mereka dengan mata melebar dan sedotan tergantung di antara bibirnya yang sedikit terbuka.

"Aku tidak tahu..."

"Ayolah, jangan biarkan tanganku menggantung," Fang bercanda pelan. Ketika Ying tak bergerak, pemuda itu mendesah dan menarik tangannya kembali. Bukannya kembali duduk di tempatnya; ia mengambil langkah lebih dekat dengan gadis yang kini menjadi mantan kekasihnya itu. "Kau teman baikku sebelum kita mulai menjalin hubungan," ia memulai.

"Kau teman baikku ketika kita telah menjalin hubungan. Kupikir kita berdua cukup dewasa untuk tetap menjadi teman setelah apa yang terjadi. Apa kau tak berpikir begitu?"

Ying menggigit bibirnya untuk menyembunyikan ringisannya.

"Lihat, ini hanya salah satu dansa sederhana." Fang merentangkan lengannya, seakan mengekspos dirinya. "Sebagai teman."

Benar. Sebagai teman. Tapi bagi Ying, ini tak sesederhana itu.

"Teman," ucap Ying. "Benar. Fang... kau... Kau memutuskanku. Aku tak mengerti..."

"Kita berdua telah dewasa, dan profesional. Kupikir kita bisa tanpa satu sama lain, tanpa membuat ini sulit. Kita sedang berada di Vidia's Pub dan kita adalah teman."

"Kau..." Ying tertawa miris lalu mendesah pelan. "Fang, kau yang membuat ini menjadi lebih sulit. Kita sudah berakhir, dan aku mencoba untuk menghindar darimu. Dan kau terus bermunculan di tempat-tempat di mana aku berada. Ketika suatu hubungan berakhir, mereka akan menghindar satu sama lain, mereka mencoba untuk mendapatkan orang lain yang lebih baik dan mereka tidak berteman."

Fang kembali ke tempat duduknya dan menghembuskan napas letih, tangannya sedikit mengacak-acak rambutnya. "Aku tahu. A-Aku tahu, aku hanya... Aku merindukanmu. Apa kau tak merindukanku?" Fang menatap sedih mata milik gadis di hadapannya itu, seolah mencoba untuk menemukan sesuatu di mata indah itu.

Ying mengangkat tangannya dan berniat menempatkannya di atas tangan Fang dengan gugup, tapi sepertinya Fang lebih cepat meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya.

"Aku juga merindukanmu," Ying mengaku dengan suara pelan, ia menikmati kehangatan genggaman tangan Fang. Ia menyadari bahwa dirinya tak pernah sedekat ini lagi dengan Fang setelah beberapa minggu; tak pernah menyentuhnya lagi setelah satu bulan.

"Jadi kumohon," Fang menatap Ying dalam, meremas tangan Ying di antara kedua tangannya. "Aku hanya ingin... berdansa sekali. Sekali saja."

Ying menggigit bibir bawahnya. "Baiklah," ucapnya akhirnya, meskipun sedikit enggan.

Fang tampak tak keberatan dengan keengganan Ying padanya. Ia menempatkan tangannya di punggung Ying dan membawa gadis itu ke lantai dansa kecil di sudut pub.

Tangan mereka bergerak canggung ketika mencoba untuk menemukan tempat yang tepat untuk berpegangan. (Dimana ada mantan kekasih diperbolehkan untuk menempatkan tangannya di tubuhmu? Tak ada instruksi tentang hal itu di buku Kencan 101. Karena memang tak ada orang waras yang akan menerima ajakan berdansa dari sang mantan.)

Senyum sederhana terpatri di bibir Fang seraya menggeleng atas kekonyolan mereka. Kedua tangannya bertumpu di pinggul Ying dan kedua tangan gadis itu berada di pundaknya, tepat pada saat itu suara lagu terdengar semakin samar, 'You say it best when you say nothing at all...'

Detik kemudian, awalan lagu lainnya terdengar, Ying mencengkeram bahu Fang mendengar lagu familiar itu, ia merasa ada duri di tenggorokannya. Ia menjatuhkan tatapannya ke kaki mereka saat lirik lagu itu menembus telinganya, dan menyebar di sekitar otaknya. Menyebabkan keributan di dalam kepalanya sebelum jatuh menancap di hatinya.

Tentu saja lagu ini sangat mengena. Ying menghabiskan satu bulan untuk mencoba melupakan Fang, lalu tiba-tiba orang itu datang padanya dan menginginkan berdansa dengannya, tapi lagu yang pada dasarnya menggambarkan kehidupan mereka ini ternyata juga membuat ruang dansa kecil itu terasa menyesakkan dengan melodi melankolis dan kata-kata patah hati dari lagu itu.

Ying terkejut ketika Fang menariknya lebih dekat, tangan gadis itu terlipat di antara mereka dan dahinya menempel di dagu sang pemuda tepat saat terdengar lirik 'Remind me, remind me'.

Ying melirik Fang, mengintip ke arah pemuda itu dari bawah bulu matanya. Mata itu terlihat begitu suram. Membuat Ying sangat ingin membelai rambut pemuda bersurai hitam-keunguan itu dan berbisik di telinga pemuda itu betapa ia mencintainya. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, ia malah memeluk dan menyembunyikan kepalanya di lekuk leher pemuda itu. Fang bereaksi dengan menarik pinggul gadis itu erat, dan menyembunyikan wajahnya di atas kepala gadis itu.

Ying tak akan menangis.

Ying merasakan getaran dari leher Fang saat pemuda itu bersenandung sebuah lagu. Tanpa sadar tubuh Ying gemetar dan ia mencoba untuk berpegangan pada Fang dengan melilitkan lengannya lebih kencang di leher pemuda itu.

Fang menggeser kepalanya dan bernapas dekat telinga gadis itu sebelum ia bersenandung, "Terlihat di matamu bahwa aku sangat merindukanmu."

Ying mulai merasakan kedua matanya memanas di sekitar sudutnya dan ia memilih memejamkan matanya.

Ia tak akan menangis.

Tubuh tegap dan hangat ditambah dengan gumaman senandung lembut membuat tubuh Ying yang memang kurang beristirahat mengendur, tapi gadis itu percaya bahwa Fang ada untuk memeluknya saat ia merasakan tubuhnya sedikit melayang, ia mendengar gumaman terakhir Fang untuknya sebelum ia benar-benar jatuh tertidur. "Baby, ingatkan aku, ingatkan aku... Semua hal yang kau lakukan yang membuatku jatuh cinta padamu... Kau akan bangun menggunakan kemeja lamaku... Baby, ingatkan aku."

.

.

.

"Ini tidak baik," ucap Ying, tiga hari setelah kejadian di pub. Saat ini Ying tengah menarik selimut untuk menutupi dadanya, Ying memandang Fang yang bergeser di ranjang dan memakai boxernya lalu melemparkan kemeja miliknya pada Ying.

"Kita sudah bersama selama lima tahun dan kemudian tiba-tiba berhenti bertemu satu sama lain selama satu bulan. Kurasa tidak apa-apa jika hal ini terjadi sekali atau dua kali." Fang mengedipkan mata sambil merangkak kembali pada Ying yang bersandar di kepala tempat tidur. "Atau empat kali." Ia menempelkan bibirnya pada bibir gadis itu dan menghisapnya pelan.

"Aku serius, Fang," Ying mengerutkan kening, berusaha mengabaikan desiran di hatinya saat tangan pemuda itu membelai pahanya yang terlapisi selimut dan mulut pemuda itu yang bermain di lehernya.

"Aku merindukanmu, baby."

"Ini yang terakhir."

"Itu yang kau katakan tadi malam. Dan malam sebelumnya. Dan—"

"Kali ini aku serius."

"Oke," Fang terkekeh, lalu mencium leher Ying.

"Kita tak bisa memberitahu siapapun tentang hal ini,. Bahkan Suzy." Ying mendorong Fang sehingga ia bisa menatap wajah pemuda itu. "Berjanjilah padaku."

"Dia teman baikmu. Kau menceritakan apapun padanya."

"Aku tahu, tapi... ini akhir bulan, dia tak akan melakukan apapun selain membantuku untuk melupakanmu. Dia akan membunuhku jika dia tahu bahwa kita... Kau mengerti maksudku?"

Fang mengubah posisinya sehingga ia duduk di antara paha Ying yang masih terlapisi selimut.

"Kita tidak kembali bersama." ucap Ying pelan, ia tidak menginginkan hal itu terjadi—terutama jika Fang masih berpikir bahwa itu bisa menghalangi karirnya. "Kita juga bukan... teman yang saling memanfaatkan." Ia mengernyit. "Kita hanya saling membutuhkan." Ia memberi jeda sejenak. "Kecuali kau—"

"Tidak, aku tidak pernah melakukannya dengan siapapun," Fang berdeham. "Hanya denganmu."

Ying menggigit bibir sehingga ia bisa menahan senyumnya. Tentu bohong jika ia tak senang mendengar pengakuan Fang. Ini bukan hal yang buruk untuk ia ketahui, tapi juga bukan hal yang baik. Ini hanya akan memberinya harapan palsu. Dan ia tak menginginkan hal itu. "Aku merasa ini tak baik."

"Kau suka cokelat putih dan akan merasa lebih baik jika kau menghirupnya saat kau bernapas. Dan aku adalah cokelat putihmu." Fang membungkuk ke depan, menyentuhkan hidungnya dengan hidung Ying, kemudian menempelkan bibirnya pada bibir gadis itu.

"Katakan saja," bisik Fang sambil menekan bibirnya, napasnya terasa menggelitik bagi Ying. Kedua mata gadis itu mulai terpejam.

"Jika kau ingin berhenti, kita akan berhenti. Katakan saja." Fang menekan lagi bibirnya pada bibir gadis itu dan memberi ciuman penuh.

.

.

.

To be Continued

.

.

Well, review please...
Thank you ^_^