Halo pembaca 'Roar!' sekalian~
Saya tidak menyangka jika fic abal saya kali ini mendapat banyak sambutan, dan banyak yang suka. Terimakasih semuanya~
#deepbow
..
Ruangan serba putih itu nampak sangat sunyi.
Seorang pemuda dengan tubuh mungil tengah terbaring lemah diatas ranjang mini ruang kesehatan. Hanya deru nafas teratur yang menandakan jika pemuda itu masih bernyawa.
Didekat ranjang yang ditempati pemuda mungil, seorang pria muda tengah duduk di sebuah kursi. Kedua tangannya bersedekap dada, dengan netra birunya yang menatap lekat pemuda manis diatas ranjang dengan wajah datar.
Bulu mata lentik dan panjang itu bergerak seiring dengan kelopak mata yang mengerjab pelan, membiasakan diri dengan cahaya terang yang melingkupi tempat keberadaannya.
Ia merasakan kepalanya berdenyut pelan ketika ia mencoba untuk setengah duduk dari posisi berbaringnya diatas ranjang. "Uh," lenguhnya seraya memegangi kepalanya yang terasa pening.
"Akhirnya kau bangun juga."suara dingin disertai dengusan mengejek yang mengalun dari sampingnya membuat pemuda mungil itu menoleh ke sumber suara.
Deg!
Seketika jantungnya berdetak dua kali lipat disaat bola mata hitamnya bertatapan dengan sepasang netra biru jernih. Iapun menundukkan kepalanya takut-takut.
Dari sudut matanya, Sasuke melirik pria muda bersurai pirang yang—katanya, dosen barunya. Mengingat detik sebelum Sasuke tak sadarkan diri, Sasuke ingat betul jika pria muda itu memakai kemeja biru tua. Namun saat ini, pria muda itu berganti memakai kemeja berwarna putih polos. Ah! Pasti karena kemeja yang dipakainya kotor akibat cairan akibat muntahannya.
Perasaan nyeri serta rasa bersalahpun mendominasi hatinya.
Dia berusaha mengingat nama dosen muda dihadapannya, walaupun hanya marga pria itu yang Sasuke tahu. "Ma-maafkan saya, U-uzuma—"
"Diam." Naruto memotong perkataan Sasuke dengan suara dingin, kali ini dengan intensitas suara yang lebih keras. Dan bagi Sasuke, suara itu sudah bisa diartikan sebagai sebuah bentakan.
Pria itu beranjak dari duduknya, lalu berjalan mendekat. Sasuke merasakan sebuah tangan besar yang dibalut kulit sewarna tan, mencengkeram dagunya, mendongakkan wajahnya secara paksa. Netra biru sang dosen muda menatap mata bulat Sasuke yang mulai berkaca-kaca. Uh—oke. Sasuke memang bukan seorang yang cengeng, dimana dirinya akan menanggapi segala sesuatu dengan deraian air mata. Tapi dalam kondisi seperti ini, memang sudah sepatutnya aku menangis—batin Sasuke. Bermasalah dengan seorang dosen di tahun pertama kuliah, bukanlah impian dari setiap mahasiswa. Selain itu, Sasuke adalah salah satu dari beberapa anak beasiswa yang bisa masuk di kampus Tokyo ini. Seharusnya siswa dengan otak jenius sepertinya menjadi contoh yang baik, bukan sebagai contoh yang buruk. Walaupun dalam kasus ini, Sasuke tidak terlalu yakin, kesalahan mana yang membuat dosen itu terlihat sangat benci dengan dirinya. Entah dirinya yang tertidur di kelas—plus melewatkan sesi acara perkenalan dosen baru, ataupun dirinya yang secara tidak sengaja mengotori kemeja sang dosen dengan muntahannya.
"Dengar ya, Uchiha Sasuke." dosen muda itu mendesis lirih, dengan netra biru yang menatap Sasuke dengan kilatan tajam. "Jangan pernah kau memanggil namaku ataupun menyebut namaku. Satu kalipun, aku tidak akan pernah rela jika kau menyebut namaku. Seorang mahasiswa miskin sepertimu sungguh tidak pantas untuk melakukannya. Akan ada yang ternoda, kau tahu." Tambahnya dengan penekanan disetiap kata. Tangannya menghempas dagu milik Sasuke lumayan kuat—mengabaikan mata bulatnya yang membola dalam ukuran maksimum, hingga wajah itu terhempas kesamping.
Sepasang mata bulat milik Sasuke perlahan meredup, menatap kosong pada lantai marmer putih ruang kesehatan.
Selama delapan belas tahun Sasuke hidup, tidak pernah ada satu orangpun yang menghina dirinya secara terang-terangan seperti ini. Sasuke tahu, keluarganya memang keluarga miskin, tapi bukan berarti keluarga miskin bisa seenaknya dihina seperti ini.
Ini penghinaan besar, dan ini sudah sangat keterlaluan. Ini sangat mengena dihati Sasuke, membuatnya tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan lelehan bening dan hangat dari pelupuk matanya. Tapi, tolong.. Sasuke tidak ingin terlihat lemah dimata dosen muda yang secara terang-terangan menghina dirinya.
Wajahnya masih bertahan menoleh kesamping, dengan poni panjangnya yang turun menutupi bola matanya yang masih setia menganak sungaikan cairan hangat. "Bena—Hi—Hiks!" sebelum isakan keluar dari celah bibirnya, Sasuke membungkam bibirnya menggunakan sebelah tangan kanan. "Anda benar sekali, sensei —hiks!— Saya memang tidak pantas melakukannya —hiks!— karena saya hanyalah mahasiswa dari kalangan sampah."Lirih Sasuke diantara usahanya untuk meredakan isak tangisnya.
Ia memalingkan wajahnya kesamping lain, tepat dimana sang dosen muda berada. Ia mengusap anak sungai diwajah sembabnya sebelum mengangkat wajahnya guna menatap lurus netra biru sang dosen yang sedari tadi menatapnya datar. "Tapi.." jeda. Sasuke memastikan bahwa dirinya memberikan senyum terbaiknya pada sang dosen—namun gagal karena wajah sembabnya yang memerah membuat senyumnya tampak pedih dan miris. "..Saya pastikan bahwa suatu saat nanti, sampah seperti saya ini akan bersinar terang, melebihi sinar yang sensei pancarkan diwaktu kini." katanya bijak, namun tidak sebijak tingkahnya yang dengan kasar menggunakan punggung tangannya untuk menghapus sisa cairan hangat yang menganak sungai dipipi sekali.
"Sungguh bijak kata-katamu, bocah. Tapi jika memang begitu, bersiaplah untuk hancur. Seorang sampah selamanya akan tetap menjadi sampah."Setelah berkata demikian, sang dosen muda itu memutuskan kontak mata diantara mereka.
Pasti karena dia tidak ingin melihat wajah serta sorot mataku yang memancarkan kesedihan. Ya, dosen muda itu sepertinya sangat jijik dengan suatu hal yang bernama kepedihan. Dia orang kaya, tak mengenal arti kata kelaparan dan kepedihan. Hidupnya sempurna, tinggal disebuah istana dan bisa makan mewah sepuasnya. Sangat berbeda tiga ratus enam puluh derajat denganku. Sasuke membatin miris.
Tanpa Sasuke ketahui, kedua sudut bibir sang dosen muda mengembang amat tipis.
.
Roar!
Edited!Ver
Naruto (c) Masashi Kishimoto
Main pair; Naruto X Sasuke, Slight pair; NH, SS, dll
Rate; T
Genre; Bad!Romance
Warning; BL! Mpreg! Cute!Sasuke, Cruel!Naruto,
Summ; /Aku tak mengenal apa itu cinta. Tapi satu-satunya hal yang kuinginkan adalah memilikimu sepenuhnya, apapun caranya, bahkan aku tak peduli jika kau akan terluka karena ulahku. Karena kau obsesiku terbesar dalam hidupku./
.
Roar!
.
"Tidak perlu terlalu baik pada saya. Sensei sendiri juga tahu jika saya hanyalah orang miskin dari kalangan bawah—sampah. Sungguh tidak akan pantas jika pria bangsawan kalangan atas seperti anda mengantarkan saya ke daerah kumuh tempat dimana para sampah seperti saya tinggal." Sasuke mencoba menolak 'kebaikan' dosennya dengan baik-baik.
Ini sudah pukul sepuluh malam. Itu berarti dirinya telah tertidur selama kurang lebih delapan jam dihitung dari pukul dua siang tadi Sasuke tak sadarkan baik yang dialaminya adalah; tidur ini adalah kali pertama Sasuke tidak lagi bermimpi tentang kecelakan yang dialaminya seminggu lalu.
Sasuke tidak akan pernah menyangka jika selama berjam-jam itu, justru orang yang amat sangat membenci dirinyalah yang merawatnya—menunggu hingga dirinya tersadar. Entah itu nyata atau hanya kebohongan belaka. Saat Sasuke bertanya sopan. Namun bukan mendapat jawaban yang menyenangkan, malah sebaliknya. 'Tentu saja aku yang menjagamu, bodoh. Teman-temanmu itu terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing, dibanding untuk merawat atau hanya untuk sekedar menjenguk bocah miskin sepertimu.' Yeah, jawaban yang cukup kasar—selalu.
Sepertinya mulai saat ini, Sasuke harus membiasakan diri dengan kata-kata tajam serta penghinaan dari sang dosen yang berikan padanya.
Tak menghiraukan perkataannya, sang dosen bersurai pirang itu menghempaskan tubuhnya supaya masuk kedalam mobilnya—tepat disamping kemudi. Sasuke hanya bisa mencoba menerima perlakuan sang dosen dengan lapang dada. Ia tak mau jika dosennya itu melakukan tindakan gila hanya untuk mengantarkannya pulang dengan selamat sampai tujuan. Sasuke tak ingin mengingat perlawanannya beberapa menit yang lalu, yaitu menolak keluar area ruang kesehatan bersama-sama. Ia kalah telak, dan berakhir dengan dibawa—diseret, oleh dosen muda menuju tempat parkir.
Sasuke melihat dosen Uzu—ups! Ia berusaha untuk tidak menyebut nama itu, baik secara lisan maupun batin. Sasuke ingat wejangan yang diberikan sang dosen suapaya tidak menyebut namanya. Dalam hati, Sasuke takut jika dia benar-benar menyebutkan nama itu, akanada seseorang yang ternoda secara nyata. Fikir pemuda itu. Polos sekali pemikiranmu, nak.
Perlu diketahui, hingga sekarang, Sasuke benar-benar belum tahu nama depan dosen muda itu.
Dosen muda itu berjalan mengitari depan mobil setelah menutup pintu untuknya. Guratan wajahnya masih sama seperti biasa, datar dan susah ditebak. Tangannya membuka pintu mobil, duduk rapi dibelakang kemudi setelah menutup pintu itu dengansedikit tarikan keras dari dalam, membuat Sasuke sedikit berjengit kaget.
Iapun memutar kunci mobil, "Kau tidak membawa kendaraan rongsokanmu, dan tidak ada angkutan umum di waktu seperti ini. Aku tidak mau mendengar kabar bahwa ada seorang bocah dari kampus Tokyo yang berakhir bunuh diri karena menjadi korban pemerkosaan beramai-ramai oleh lelaki hidung belang di sebuah gang sempit." Dosen muda itu berkata ditengah derum halus mesin mobil yang mulai menyala.
"Memangnya aku cukup menarik untuk diperkosa mereka, ya?" sambung Sasuke cepat.
Hanya selang beberapa mili detik sebelum Sasuke mendengar dosen muda itu berdecak pelan dan berkata amat singkat, "Kau gila."
Sasuke hanya mengerutkan alis mendengar balasan sang dosen yang melenceng jauh dari pertanyaannya—yang sejujurnya itu adalah balasan meluncur refleks dari celah bibirnya. Dia memang takut dengan perkataan sang dosen, dan hal itulah yang membuatnya refleks berkata hal yang—setelah Sasuke fikir secara mendalam, memang terdengar... gila.
God! Dosen itu memang tepat berkata demikian. Aku sudah mulai gila!Sasuke mulai mengutuk diri sendiri.
Mobil yang ditumpanginyapun mulai melaju dengan kecepatan -ah. Sasuke menghela nafas letih, untuk saat ini, ia benar-benar merasa nyaman.
"Jangan menghela nafas disini, bodoh. Kau mencemari udara di dalam mobilku." Suara dingin itu mengudara—lagi.
Sasuke hanya mengelus dada sebagaai respon. Dari ekor matanya, Sasuke melirik sang dosen muda yang fokus mengemudi. Dari samping, wajah dosen itu tetap terlihat datar, namun juga.. tampan rupawan.
Sasuke cepat-cepat mengalihkan pandangannya. Ia terheran dengan dirinya sendiri. Bagaimana bisa dirinya memuji seseorang dengan sebutan tampan rupawan, sedangkan orang yang dipujinya nampak sangat membenci dirinya?
Satu menit berlalu dalam keheningan. Merasa ada yang janggal, Sasuke kembali melirik sang dosen. Ia memperhatikan secara detail wajah tampan berkulit tan yang terlihat dari samping. Setelah puas melihat pahatan wajah bagian atas, pandangan Sasuke tertumbuk pada sepasang bibir penuh sang dosen yang berwarna merah pucat. Tanpa sadar wajah itu menoleh penuh—menghadap rupa sang dosen dari sisi samping.
"Aku tahu aku tampan, tapi kau tak perlu memandangiku seperti itu. Bisa-bisa kau jatuh cinta padaku nanti."
Suara khas yang kembali menyapa indra pendengaran Sasuke, membuat Sasuke sedikit tersentak pelan. Buru-buru Sasuke membalikkan pandangannya. Wajahnya yang masih sembab kembali dipenuhi semburat merah berlebih.
.
.
Huweek!
Sasuke memuntahkan seluruh isi perutnya, yang hanya berupa cairan bening kental—menyerupai air liur, dengan wajah tersiksa. Ia membungkuk dalam dan menenggelamkan wajahnya pada wastafel porselen putih dalam-dalam. Sasuke rasa itu memang wajar jika yang dimuntahkannya hanya berupa cairan, Sasuke baru ingat jika dari pagi tadi hingga malamini, ia belum makan apapun untuk mengisi perut kosongnya.
Huweek!
Untuk yang kesekian kalinya, Sasuke muntah dibalik punggung Sasuke, memijit tengkuknya tanpa rasa jijik, namun dengan gerakan tangan yang sedikit kaku.
"Kau hamil, eh, Sasuke?" orang itu bersuara semenjak keterdiaman mereka beberapa puluh menit yang lalu.
Mata bulat yang sempat sayu, kini membola lebar.
Huweek!
Belum merespon, Sasuke lebih memilih untuk membasuh wajah sembabnya dengan air mengalir dari keran wastafel, setelah rasa mual diperutnya berkurang.
Sebuah handuk kering disodorkan, Sasukepun menerimanya. Ia menggunakan handuk kering itu untuk menyapu wajah basahnya. Dari pantulan cermin besar dihadapannya, Sasuke bisa melihat wajah tampan beraut datar. Namun dibalik raut datar itu, Sasuke bisa melihat kening tan-nya yang berkerut samar.
"Tidak mungkin," respon Sasuke seraya memutar balik tubuhnya. Ia menatap netra biru seseorang didepannya. "Aku bukan wanita, sensei." Sasuke menambahi. Mata bulatnya memandang netra biru didepannya dengan pandangan aneh.
Dosen muda bersurai pirang sang lawan bicara hanya mengangkat bahu acuh. Pria itu memutar tubuhnya dan melenggang keluar dari kamar mandi. "Siapa tahu. Keajaiban bisa terjadi pada siapa saja, dimana saja."
Sasuke hanya terdiam memandang punggung lebar sensei-nya menghilang dibalik pintu kamar mandi. Baru kali ini Sasuke mendengar perkataan sensei-nya yang cukup manusiawi.
Tak ingin berdiam lama-lama, Sasuke bergegas keluar kamar mandi menyusul melihat pria itu berada didepan lemari, sibuk memilah baju yang sekiranya pas untuk ukuran tubuh mungil dirinya sendiri.
"Janin hanya bisa diperoleh jika dua orang bercinta—pria dan wanita, jika sensei lupa." Ujar Sasuke. Tapi melihat pria itu tetap menggeluti tindakannya, tanpa berniat merespon balik, lagi, Sasuke mengutarakan kenyataan tentang dirinya. "Lagipula sensei, saya tidak pernah melakukan hal seperti itu. Tapi kalaupun iya, mungkin yang hamil adalah pihak wanita, bukan pria sejati seperti saya." terselip nada bangga disaat Sasuke mengatakan 'pria sejati', dan hal itu sontak membuat pria diseberang ranjang mengangkat alis pirangnya lalu menggelengkan kepala tak kentara. Tak menghiraukan reaksi itu, Sasuke masih kukuh bercerocos mengeluarkan uneg-uneg dikepalanya. "Asal sensei tahu ya, mual serta muntah yang saya alami ini hanyalah karena efek samping obat."
Pria pirang diseberang membalik tubuhnya, dengan sebelah tangan yang menenteng sebuah kemeja putih polos. "Kau pecandu?" tanyanya datar.
"Iya, saya pecan—eh! Tidak tidak! Saya bukan pecandu obat setan atau apapun itu!" suara itu semakin meninggi ke akhir kalimat—penuh emosi. Sasuke tentu saja tidak akan pernah terima jika dirinya dikira seorang pecandu obat setan dan lain halnya. Sasuke itu bersih. Dunia malam penuh kebebasan bukanlah gaya seorang Uchiha Sasuke. Ia lebih memilih menghabiskan waktunya untuk membaca buku sepanjang hari, daripada menghabiskan waktunya dengan hal-hal gila yang bisa membuatnya mati muda. "Saya mual itu karena minum obat xxxx, sensei!" Sasuke berujar galak, setengah berteriak. Hingga nafasnya pun terengah. Sasuke tidak peduli jika pria muda itu marah karena dirinya berteriak di dalam apartemennya itu, dimalam hari pula.
Masih terengah, mata bulat Sasuke menatap pria itu yang menghampiri meja nakas dan meraih sebotol air mineral. Pria itu pun berjalan mendekat kearahnya, dengan raut wajah datar yang susah ditebak.
Fikiran negative mulai merayapi Sasuke. Apakah sensei akan memukulkan botol berisi air mineral itu keatas kepalaku? Sasuke sudah memejamkan mata, bersiaga untuk tidak berteriak kesakitan jika botol itu dipukulkan diatas kepalanya.
Alih-alih merasa sakit dikepalanya, Sasuke merasakan sensasi dingin yang menempel di pipi gembilnya. "Eh?"
"Tenangkan dirimu. Ini sudah jam malam. Aku tak mau pemilik apartemen lain menggedor pintuku akibat ocehanmu yang tidak berguna itu." Ujarnya. Netra birunya menatap Sasuke dengan kilatan tajam. "Atau jangan-jangan… kau lagi datang bulan, ya?" tanya sang dosen penuh selidik.
Mendengar perkataan sensei-nya, kontan saja wajah putih Sasuke memerah hingga telinga. "A-aku pria, sensei."
"Oh, mau kubelikan pembalut?"
Oh—oke. Sasuke mulai berfikir jika sensei-nya ini memang butuh konsultasi ke klinik THT.
Sasuke lebih memilih untuk menormalkan deru nafasnya yang mendadak berat, tak menanggapi perkataan sensei-nya yang kurang waras. Ia lebih memilih untuk membuka segel botol mineral di genggamannya lalu meminumnya penuh perasaan emosi.
"Lagipula, teriakanmu akan lebih berharga jika melakukan hal lain, Sasuke."
Masih dengan mulut botol yang menemel dibibir mungilnya, Sasuke menatap sensei-nya dengan pandangan bertanya.
Tidak langsung membalas perkataannya, Sasuke melihat netra biru sensei-nya menatap dirinya dari ujung rambut hingga ke ujung kaki, lalu melakukan hal yang sebaliknya. "Tinggi tubuh tak lebih dari seratus enam puluh centimeter, dan aku yakin jika lingkar perutmu tak sampai enam puluh centimeter. Seperti kataku, kau itu wanita sekali."
Sasuke hanya menyipitkan mata, memberikan intimidasi kepada sensei-nya karena selalu menyangkut pautkan dirinya dengan topik 'wanita'. Tapi yang kita bicarakan saat ini adalah Sasuke. Dengan mata bulat yang menyipit sedemikian rupa, alih-alih memberikan kesan menakuti, wajahnya justru semakin terlihat manis dan menggemaskan. Tentu saja sang lawan bicara tidak akan merasa takut sedikitpun.
"Dengan fisik seperti itu..ditambah dengan wajah wanita-mu, Teriakanmu cocok untuk mendesah, mungkin?"
Bruushhh!
Sasuke sukses menyemburkan air yang baru diteguknya.
"—Aku yakin kau akan cepat kaya jika melakukannya dihadapan semua orang, terutama laki-laki hidung belang. Kau tak perlu hidup susah lagi, bocah." Lanjut sang dosen.
Sasuke menyeka air yang belepotan disekitar dagu dan lehernya menggunakan tangan kanan secara kasar. Ia menatap marah pada netra biru yang balas menatapnya. "Aku bukan pelacur, sensei."
Tanpa banyak kata lagi, Sasuke menyambar kemeja putih polos yang berada ditangan sensei-nya, lalu melesat cepat masuk kekamar mandi.
Sasuke tidak tahu. Dibalik punggungnya, sebuah serigaian lebar tercetak di bibir merah pucat sang dosen muda.
-TBC-
(Ini baru saja saya edit. Maaf jika dialog antara NaruSasu sebelum saya edit sangat buruk sekali. T_T Semoga ini lebih baik dari sebelumnya, dan tidak mengecewakan pembaca sekalian.)
Di prolog itu, Sasuke bermimipi tentang kejadian seminggu lalu (hampir tertabrak mobil) yang dialaminya.
Yang berdialog antara ayah-anak? Yang nolongin Sasuke? ini masih rahasia, ya *smirk
Adakah unsur supernatural/fantasy di fic ini? Tidak ada sama sekali. Fic saya buat tanpa ada unsur seperti itu. Saya ingin buat sesuatu yang berbeda gitu. Hehehe..
Naruto sadis? Ya. Di 'warning' saya sudah mengingatkan jika disini itu sifat Naruto adalah Cruel!Naru.#muahahaha
Orang yang nabrak Sasuke? Siapa hayo? *smirk
Maksud dari kalimat 'dasar bocah tidak berguna'? Haha. Sudah saya katakan sebelumnya. Naruto itu sifatnya sadis
Sasuke melamun disaat berkendara sepeda(sesaat sebelum –hampir- ditabrak). Yang dia lamunkan itu tentang keadaan keluarganya menjelang tidur. Kalian ada gambaran tentang hidup miskin yang hanya mempunyai rumah kecil? Ditambah dengan pamannya(Obito Uchiha), jadi total ada lima orang dalam sebuah rumah kecil. Kalo belum ada gambaran tentang keluarga yang seperti itu, kapan-kapan akan saya jelaskan dalam cerita.
Oke. Saya kira semua pertanyaan sudah saya jawab.
Ada yang bingung kenapa Sasuke terdampar di apartemen Naruto, bukannya diantar pulang sama Naruto si dosen muda itu?
Di chap depan ya!
Big thanks to ;
kuas biru - gembel - natasya. agustine. 12 – Nariel-Chan – suira seans – Kuro Rozu LA – kise cin – danielkeanumadegani – musriaya – nurin. vip4ever – guest – Call Me Mink – el Donghae – youngnoona – Lhanddvhianyynarvers – langit. cerah. 184 – Lovely SasUKE –Reiko Mika – Oranyellow-chan – MaknaEXO – askasufa – BellaClaw – Ns gues – Uchiha. enji. 1 – NengCece – neko. chan. 75470 – Eun810 – Deidara – dekdes – St YL – InspiritWoohyunI – Uchiha NaruSasu – Erni920 – YoungChanbiased – alta0sapphire
Psst: Saya janji jika di chap depan akan lebih panjang dari ini ^_^
