-from : MuscleRabbit-

Aku akan mentraktirmu secangkir kopi

sebagai ucapan terima kasih, —pukul 14.45

.

.

Daddy, Don't Kill Them © Cyreela

KookV Fanfiction

[ BoysLove, Romance, Drama – M – MissTypos ]

.

Chapter 2

.

.

"Apa itu panggilan dari Sugar Daddy-mu?"

Taehyung mendongak dan tersedak keras, "Uhuk!"

"Maaf," ucap pemilik iris hitam kelam setelah si iris hazelnut berhasil menenangkan diri, "Aku tidak bermaksud macam-macam. Hanya teringat pada salah satu postinganmu yang—bisa kubilang cukup berani," jelasnya dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan.

Taehyung mengangguk pelan. Paham bahwa unggahan yang dimaksud telah menimbulkan banyak kontroversi. Dan sebagai mahasiswa yang ingin menjaga nama baiknya demi kepentingan karier di masa depan, dia merasa perlu mengakhiri kesalahpahaman dengan menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Terutama di hadapan 'pelanggan potensial' ini.

"Itu bukan ideku," dia memulai, "Aku dan teman-temanku memainkan truth or dare. Dan ya...—aku tidak mau menjawab pertanyaan. Jadi mereka memberiku tantangan," jelasnya lebih lanjut, merujuk pada unggahan provokatif dan menggoda yang dia unggah semalam.

"Pertanyaan itu pasti bersifat sangat pribadi," komentar si raven.

Taehyung tersenyum miring. Menahan bantahan di ujung lidahnya ketika pelayan wanita datang untuk meletakan pesanan. Kali ini dia mengedip genit padanya. Namun sebelum mahasiswa tahun kedua itu sempat bereaksi, pemuda di hadapannya berdeham keras. Membuat si pelayan pergi dengan hentakan kasar high heels.

Taehyung meringis ketika mendengarnya.

Kemudian pemuda pirang itu mengingat apa yang hendak dia katakan. Seraya menggeser lebih dekat cangkir caffè latte, iris hazelnut-nya menatap lurus, "Sebenarnya bukan pertanyaan yang benar-benar pribadi," dia memutar cangkir.

Kening pemilik iris hitam kelam itu mengerut.

"Hanya saja semalam aku terlalu mengantuk untuk bisa berpikir jernih."

Ekspresi tidak puas tergambar di wajah si raven. Namun tidak ada balasan yang terdengar.

Seakan-akan memahami pikiran satu sama lain, mereka berdua meraih cangkir dan mulai menyesap minuman masing-masing. Menikmati aroma americano—dan caffè latte—bersama dengan citra rasa yang meresapi indra pengecap. Keheningan melewati menit pertama. Satu di antara mereka mulai tergelitik mengungkit pertanyaan yang belum terjawab.

"Jadi, siapa namamu?" Taehyung memiringkan kepalanya sedikit, "Kau belum memberitahuku,"

Alih-alih memberi jawaban lisan, pemilik surai hitam pekat itu justru menaikan sebelah alis tebalnya.

Jemari-jemari lentik si pirang mengetuk meja, mengikuti tempo adagio musik indie pop yang mulai mengalun. Memasang ekspresi tidak peduli. Meskipun hatinya merengut sebal pada kenyataan bahwa dia belum mengetahui nama asli si pelanggan setelah mereka mengobrol dan duduk bersama selama belasan menit.

"Atau kau ingin kupanggil Rabbit?" Taehyung mengulum senyum geli seusai mengatakannya.

Jika bukan karena bahu lebar, rahang tajam, dan sorot mata dingin serta aura dominasi yang kuat, mahasiswa tahun kedua itu dengan senang hati memanggilnya 'Rabbit,'—atau 'Bunny'. Karena, demi tuhan, sepasang gigi kelinci teman nongkrongnya itu benar-benar sempurna.

"Rabbit terdengar sedikit aneh untuk menjadi nama panggilan, terlebih untukku,"

"Benarkah?" Taehyung tidak mengerti, "Itu panggilan yang imut,"—untuk anak-anak.

Si raven menyesap kopinya dengan gerakan yang biasa terlihat di dalam drama kemudian menjelaskan, "Rabbit merujuk pada salah satu jenis obat terlarang yang mematikan dan...—"

Tanpa sadar, Kim Taehyung mencondongkan tubuh ke depan, "Dan...?"

Sebelah sudut bibir pemuda itu terangkat. Dia turut mencondongkan tubuh hingga iris hitamnya sejajar dengan iris hazelnut yang berkilat penuh keingintahuan, "Dan... kau tahu—"—ada jeda lain yang menarik kerutan di dahi lawan bicaranya—"—Rabbit juga bisa digunakan sebagai kata ganti model majalah panas,"

"—dan kau cocok menjadi salah satunya,"

Secara refleks si raven menegakkan tubuh dan menghapus seringai di bibirnya. Dia berdeham sekali. Memasang ekspresi tenang. Seolah-olah kalimat yang baru saja didengarnya bukan sesuatu yang mengejutkan, "Kuanggap itu sebagai pujian," ucapnya datar.

Detik berikutnya Taehyung tersentak kaget. Menegakkan tubuh secara kaku. Kesadaran menghantamnya seperti badai musim dingin. Sial. Dia tidak bermasud mengatakan kalimat tidak sopan semacam itu. Terutama tepat di depan wajah pemuda yang belum genap sehari ditemuinya. Sialsialsial.

"Ma-maaf," pinta Taehyung lemah seraya menutupi wajah merahnya dengan sebelah tangan—tanpa berani mengintip ekspresi lawan bicaranya dari balik sela jemari yang renggang, "Aku—"

"—tidak masalah," potong si raven cepat, "Kita bisa menganggap kau tidak pernah mengatakannya," dia melanjutkan, mencoba menghapus rasa malu si pirang.

Namun Taehyung tetap diam. Tidak menurunkan tangan apalagi membuka mulut. Terlampau sibuk memilih rangkaian kata yang tepat untuk diucapkan. Tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Yang tidak dia sadari adalah tingkahnya telah mengundang dengusan geli si raven.

"Jeon Jungkook."

Itu terdengar seperti sebuah nama.

Diam-diam mahasiswa tahun kedua itu membuka kelopak mata, mengintip pemuda di hadapannya dari sela jari. Ekspresi kesal atau tersinggung yang dia bayangkan tidak terlihat. Hanya seringaian tipis. Taehyung pikir tidak masalah menurunkan telapak tangan yang sejak tadi menutupi wajahnya.

Karena si pirang tidak kunjung bersuara seperti yang dia harapkan, pemuda itu meneruskan, "Itu namaku. Sekarang kau mengetahuinya,"

Taehyung mengangguk bodoh lalu tersenyum cerah. Senang karena berhasil mendapatkan dua hal secara bersamaan. Sebuah nama dan pujian yang tepat untuk diucapkan, "Nama yang bagus,"

.

.


.

.

Jeonghan mendesah panjang. Lelah dan kesal. Bertemu dengan Choi Seungcheol adalah hal terakhir yang ingin dia lakukan setelah sejumlah otopsi panjang yang menguras pikiran dan tenaga.

Mereka pernah berkencan di masa lalu sebelum dia melarikan diri ke Inggris demi mengejar gelar doktor. Itu merupakan perpisahan paling keji yang pernah si brunette lakukan.

Tidak perlu bertanya, rasa bersalah tentu bersarang di benaknya—bahkan hingga detik ini. Namun Jeonghan adalah pengecut dalam urusan meminta maaf. Harga dirinya setinggi langit. Maka yang selama ini dia lakukan hanya fokus mengejar gelar dan mengabaikan hal lainnya di belakang.

Jadi ketika dia dituntut bertemu langsung dengan sang mantan kekasih atas dasar pekerjaan, kalut dan takut melebur menjadi satu. Si brunette tidak bisa membayangkan bagaimana cangguhnya pertemuan mereka nanti. Dan pertanyaan-pertanyaan yang menggantung di otaknya memperburuk segala aspek.

Bagaimana kabarnya sekarang? Apa dia makan dengan baik? Apa dia masih menyebalkan? Apa dia masih marah padaku?

Jeonghan menggerang frustasi di atas kursi. Mengacak rambutnya sekilas lalu meraih laporan yang tergeletak di atas meja dengan gerakan kasar. Membaca larik-larik kalimat di atas kertas putih secara acak untuk mengalihkan pikiran dan membunuh waktu tunggu yang menyiksa ini—bukan berarti Yoon Jeonghan ingin segera bertemu Choi Seungcheol. Dia sebenarnya ingin menghindar saja.

"Kerusakan yang ditimbulkan meliputi perubahan warna iris mata menjadi merah gelap, kerusakan pada otak besar, penyempitan saluran pernafasan... pertama ditemukan pada tahun dua ribu enam belas... merupakan turunan dari obat terlarang SVT tiga belas," Jeonghan menarik nafas, "—kami menyebutnya Red Rabbit—"

Pintu ruangan berederit.

"—Dirahasiakan dari media dan masyarakat umum."

Si brunette mengatupkan bibir. Menyisir rambutnya dengan jemari seraya bangkit. Berdiri tegak. Memasang ekspresi datar yang telah terlatih untuk mengabarkan kematian pada keluarga pasien. Ini bukan mengenai pertemuan dengan sang mantan kekasih.

Ini tentang pekerjaan dan rasa kemanusiaan.

"Inspektur Choi telah menunggu di ruang delapan,"

Jeonghan mengangguk. Dia tidak pernah merasa lebih siap dibanding ini.

.

.


.

.

Menghabiskan waktu dengan Jeon Jungkook adalah sesuatu yang menyenangkan.

Pemuda itu merupakan pembicara sekaligus pendengar yang baik. Dia memiliki banyak pengetahuan tentang hal-hal yang diminati si iris hazelnut. Mereka melakukan diskusi menarik tentang perkiraan tren warna musim semi di dunia fashion, teknik-teknik fotografi hingga pergantian aliran musik grup band paling laris tahun ini.

Di samping itu, Jeon Jungkook juga memiliki selera humor yang sejalan dengan si pirang. Mereka saling melempar lelucon di beberapa kesempatan lalu tertawa secara bersamaan.

Taehyung merasa seperti menemukan seorang teman lama.

Sayangnya dia tidak bisa terus berada di tempat hangat penuh aroma kopi ini dan menghabiskan waktu bersama pelanggan barunya. Taehyung memiliki sejumlah agenda penting yang harus segera dikerjakan. Jadi dengan berat hati si iris hazelnut pamit setelah menghabiskan potongan terakhir cheese cake yang sempat dipesan Jungkook.

Namun sebelum Taehyung beranjak dari kursinya, pemuda dengan iris sehitam malam kembali menyeringai tipis lalu mengajukan sebuah penawaran, "Jika kau membutuhkan Sugar Daddy, kau bisa langsung menghubungiku,"

Si pirang tergelak. Menganggap tawaran itu sebagai bagian dari lelucon, "Apa kau punya cukup uang untuk menghadiahiku seluruh koleksi musim dingin Gucci?"

Jungkook melebarkan seringaiannya, "Aku punya lebih banyak uang dari yang bisa kau bayangkan,"

.

.

TBC

.

.

A/N :

Sebelumnya saya mau ngucapin terima kasih buat kalian yang sudah baca, follow, dan favorit cerita ini #bow

Terima kasih juga buat kyunie & Fun F & noonim & Guest yang udah ninggalin jejak di kotak review #flykiss

Tolong dimaklumi kalo masih ada kesalahan di sana sini dan misstypo ...

Terakhir... review please? #wink