ANGELS PLEASURES

Author :my love wu yi fan

Cast : KRISTAO and member EXO

Pairing : official couple.

Genre : Fantacy / Drama

Rating : M. konten yang ada dalam FF ini untuk dewasa. Bukan berarti FF ini bakal yadong banget yah meskipun tetep ada dong yadongnya *ketawa setan*... Cuma FF ini bakal berdarah-darah. Namanya juga vampire dan malaikat.

Warning : Author geje tapi cantik.

Mungkin nanti jangan marah yah kalau ada member exo yang perannya jahat atau author nistakan.

FANFIC INI TERINSPIRASI DARI NOVEL NALINI SINGH.

Ga suka ya ga usah baca

REVIEW SEBANYAK-BANYAKNYA YAH JANGAN JADI PEMBACA GELAP. KARENA KEGELAPAN HANYA MILIK KAI *peace*

Enjoy Reading.

Summary

Huang Zi Tao, seorang pemburu vampire yang memiliki keistimewaan yang tidak dipunyai pemburu lain. Keistimewaan itu membuatnya disewa oleh Kris, seorang malaikat tertinggi yang terkenal sangat berbahaya dan mematikan.

Sementara itu, Kris tidak menduga jika Tao ternyata mampu membuat hatinya yang dingin dan keras menjadi goyah. Daya tarik kris yang sulit ditolak tetap merasuk ke jiwanya dan sewaktu-waktu dapat menghancurkannya.

.

.

.

Enjoy Reading.

Hal pertama yang Tao lakukan begitu pulih dari keinginan untuk muntah adalah menghubungi Asosiasi. "aku ingin bicara dengan Luhan", katanya kepada resepsionis.

"tolong tunggu sebentar. Aku akan menghubungkannya pada direktur".

Luhan mengangkat telpon, "wah dari mana ya aku tahu kau akan menghubungiku hari ini?"

Tangan Tao mencengkram erat telpon. "Luhan, tolong katakan padaku bahwa aku sedang berkhayal dan kau tidak menugaskanku untuk bekerja bagi seorang malaikat tertinggi".

"emmmm... hhhmmmm", Xi Luhan, Direktur Asosiasi yang menangani seluruh wilayah Korea dan Tiongkok. Seorang pria yang sangat tangguh walaupun wajahnya sangat cantik dan menggoda iman pria straight untuk menjadi gay. Dan oh Tuhan kenapa dia sekarang terdengar seperti remaja perempuan yang sedang gugup? "aduh, tao aku tidak mungkin berkata tidak".

"memangnya apa yang bisa dia lakukan? Membunuhmu?", teriak Tao kesal.

"mungkin", gumam Luhan. "vampire pesuruhnya menegaskan bahwa dia menginginkanmu. Dan bahwa dia tidak terbiasa ditolak".

"kau berusaha menolak", suara sinis dan menusuk keluar dari mulut kucing tao.

Luhan berdecak sebal, "aku ini teman baikmu. Hormati aku sedikit".

Setelah menghempaskan tubuh ke bantalan sofa, tao memandangi tower. "apa pekerjaannya?"

"aku tidak tahu". luhan mulai berbicara pelan dan lembut. "jangan khawatir, aku tidak akan repot-repot menenangkanmu".

Tao tidak menjawab perkataan Luhan. Otaknya sibuk berpikir memikirkan tuxedo apa yang akan digunakannya jika nanti dia mati. Oh tuhan haruskah aku meyiapkan tuxedo itu sekarang? Sepertinya sebentar lagi aku akan mati. Aku bahkan belum menikah, pikir tao liar.

"hei, tao kau tertidur ya atau kau sedang memikirkan malaikat tertinggimu?"

"pikiran buruk sepertinya. Jika aku mati, maka asosiasi yang akan membayar biaya pembuatan tuxedo mewahku", tuntut tao. Tao memicingkan mata ketika ia melihat seorang malaikat yang mendarat di atas tower. Jantungnya berdegup waktu sayap malaikat itu dikepakkan untuk memperlambat pendaratan. "luhan, apa vampire itu bilang kenapa Kris menginginkanku?"

"tentu. Katanya kris menginginkan yang terbaik".

Seketika tao merasa jantungnya ditusuk besi berkarat. Perkataan itu hanya bermakna satu hal.

.

.

.

"aku yang terbaik", gumam tao keesokan paginya ketika ia turun dari taksi di depan bangunan luar biasa yang bernama Angel Tower itu. "aku yang terbaik".

"hei, bung, kau mau bayar atau terus mengoceh sendiri?"

"apa? Oh". Tao mengeluarkan uangnya, "ambil saja kembaliannya".

Si supir tersenyum cerah, "terima kasih. Apa ada perburuan besar?"

Tao tidak bertanya bagaimana namja itu bisa tahu kalau ia seorang pemburu. Yap, tentu saja karena tompel sialan di jidatku ini yang mengumumkan kedatanganku. "tidak. Tapi kemungkinan besar aku akan mati mengenaskan dalam beberapa jam lagi. Jadi sebaiknya aku berbuat baik dan membesarkan harapan agar aku masuk surga".

Si supir taksi mengira tao sedang bercanda. Ia masih tertawa ketika membawa mobilnya pergi. Tao mengambil kacamata hitamnya di lekukan kerah kemeja hitamnya dan merasakan kelegaan yang luar biasa ketika ia mengenakannya. Seakan-akan kacamata itu dapat melindunginya dari nasib buruk. Oh dan jangan lupakan mata pandanya yang kurang tidur dan kelelahan tentu akan sangat merusak penampilannya karena yang akan dia temui kali ini adalah Kris, malaikat tertinggi.

Indra penglihatan bukan satu-satunya indra yang diandalkan jika sudah berurusan dengan vampire. Tao dapat merasakan beberapa dari mereka berdiri di sepanjang sisi tower tapi masih ada sekitar dua puluh orang lagi yang sedang bersembuyi atau berjalan di semak-semak kebun itu. Semuanya mengenakan setelan gelap yang dipadukan dengan kemeja putih, rambut mereka tertata rapi dan sempurna seperti gaya agen-agen rahasia. Kacamata hitam dan earpiece tersembunyi menyempurnakan kesan agen rahasia yang mereka tampilkan.

Kesan yang sangat ditonjolkan dari vampire-vampire ini adalah bahwa mereka sudah hidup untuk waktu yang lama. Bau mereka kuat—suram, tapi menggelisahkan. Ditambah dengan fakta bahwa mereka menjaga Angel Tower, bukti kuat bahwa mereka vampire cerdas dan berbahaya. Mereka dengan santai dan elegan berjalan menuju jalanan yang bermandikan cahaya matahari. Tidak ada sorang pun dari mereka yang terbakar. Reaksi seperti sinar matahari seperti itu —mitos lain yang digemari para pembuat film. Nyatanya sebagian besar dari mereka bisa berkeliaran dua pulum empat jam perhari. Beberapa vampire yang memiliki kepekaan terhadap sinar matahari pun tidak "mati" ketika matahari menyinari mereka. Mereka hanya perlu memakai kacamata hitam. "dan sekarang kau mengulur-ulur waktu... tidak lama lagi kau akan mengarang syair mengenai kebun ini", gumam tao pelan. "kau seorang profesional. Kau yang terbaik. Kau pasti bisa melakukan ini".

Sambil menarik napas dalam-dalam dan berusaha untuk tidak memikirkan para malaikat yang ia tahu sedang berterbangan di atas kepalanya, tao mulai berjalan menuju pintu masuk. Tidak ada yang memperhatikannya secara terang-terangan. Seorang vampire membukakan pintu untu tao, "langsung saja ke meja resepsionis".

Tao mengerjap dan melepas kacamatanya. "kau tidak mau memeriksa tanda pengenalku?"

"kau sudah ditunggu", jawab resepsionis itu anggun.

Bau vampire penjaga pintu yang terselubung dan menarik itu—suatu ciri yang dianggap sebagai adaptasi evolusioner terhadap kemampuan melacak para pemburu. Vampire ini pasti sudah sangat tua.

Lobi berpendingin yang terlihat luas itu didominasi marmer berwarna abu-abu gelap yang dihiasi oleh garis emas tipis. Kesan yang ditimbulkan adalah kekayaan, selera, dan intimidasi terselubung. Tiba-tiba tao merasa lega karena ia tidak menganakan kaos dan jeans usangnya. Ia kini memakai kemeja hitam yang tampak pas ditubuhnya dengan celana bahan yang membalut indah kaki jenjangnya yang berotot. Hasil dari latihan selama bertahun-tahun dan tentu saja perkerjaannya.

Sepatunya menimbulkan suara tajam yang terkesan resmi di lantai marmer itu ketika ia melintasi lobi. Tao mengamati keadaan sekelilingnya. Resepsionis tadi mengantar tao menuju lift.

"kau pasti terburu-buru tadi. Sekarang baru jam 07.30", resepsionis itu tersenyum. Senyum yang diwarnai pengetahuan kuno dengan pengalaman selama berabad-abad.

"perjalanannya lancar. Apa aku terlalu cepat?"

"tidak. Ia sudah menunggumu". Senyum resepsionis itu memudar, digantikan oleh ekspresi kecewa. "kukira kau akan terlihatt... lebih menakutkan. Kau benar-benar tampan dan manis. Dan tompel itu... benar-benar membuatmu tampak konyol".

Yah dan menurutnya aku adalah seorang Peri Gigi yang lucu. "coba kutebak, kau kira aku akan membawa pedang besar dan memiliki tanduk yang sebesar belalai gajah?". Tao mengeleng-gelengkan kepala. "kau seorang vampire. Kau tahu semua itu tidak benar".

Ekspresi resepsionis itu berubah menjadi sangat gelap dan dingin. "kebanyakan orang tidak bisa menebak bahwa aku adalah vampire".

Tao mengangkat bahunya santai seolah itu tidak penting, "aku punya banyak pengalaman. Kita naik sekarang?"

"oh maafkan aku. silakan ikuti aku".

"apa kau sering bertemu dengannya?" tanya tao.

"malaikat tertinggi? Tidak, untuk apa? Mereka tidak pernah melewati lobi. Dia bisa terbang". Kekaguman dalam suaranya bercampur dengan ketakutan yang sama besarnya.

Tao ingin menampar dirinya sendiri. "kau benar".ia berhenti di depan pintu lift. "terima kasih".

"sama-sama". Resepsionis itu memasukkan kode keamanan ke panel layar sentuh yang terpasang di sebuah tiang kecil sebelah lift. "lift ini akan langsung membawamu ke atap".

Tao berhenti. "atap?"

"dia akan menemuimu disana".

Tao terkejut, tapi ia tahu bahwa mengulur waktu tidak akan menyelesaikan masalah, mungkin malah menambah masalah. Ia pun memasuki lift besar yang berpanel cermin dan membalikkan badan pada resepsionis itu. Ketika pintu ditutup, ia gelisah karena teringat vampire yang terkurung yang ia tangkap semalam. Sekarang ia tahu seperti apa rasanya. Kalau tidak yakin bahwa ia berada dalam pengawasan, mungkin ia sudah menyerah kepada dorongan untuk menanggalkan kedok profesionalitasnya dan mulai berjalan mondar mandir seperti pria gila.

Atau seekor tikus yang terjebak dalam labirin.

Lift itu mulai naik dengan gerakan -angka di panel layar LCD menyala berurutan dengan irama yang membuat perut tao mulas. Tao memutuskan berhenti menghitung ketika lift menunjukkan mereka telah melewati lantai tujuh puluh lima. Ia bercermin sambil berpura-pura membenarkan tas selempangnya yang terbelit, padahal ia hanya sedang memastikan bahwa senjatanya tetap tersembunyi.

Tentu saja tao membawa senjata. Bukankah tidak ada yang melarangnya untuk membawa senjata?

Dengungan mulus menandakan bahwa lift itu berhenti dengan ulus. Pintunya terbuka. Tao tidak akan membiarkan dirinya menjadi ragu. Tao segera melangkah keluar dan memasuki sebuah ruang kecil berdinding kaca. Ia segera tersadar bahwa kurungan kaca itu hanya kerangka yang menaungi lift. Atapnya berada di luar... dan ia tidak menemukan pagar pembatas yang seharusnya ada untuk mencegah orang-orang supaya tidak terjatuh.

Sang malaikat tertinggi jelas ingin mengintimidasi tamunya.

Tapi menurut Tao, Kris bukanlah tuan rumah yang buruk—sebuah meja yang dipenuhi dengan berbagai macam hidangan khas Korea, kopi, jus apel telah disiapkan dengan megah di tengah-tengah ruang terbuka yang luas itu.

Tao memandang ke sekeliling atap itu. Namun Kris tidak kelihatan.

Tao membuka pintu kaca itu dan berjalan keluar. Angin sepoi-sepoi menghantam rambutnya seketika. Menghempaskan topinya hingga tompel seksi itu terlihat. Tao bertanya-tanya, jika topinya saja bisa terhempas oleh angin, bagaimana dengan taplak meja makan itu? Tapi kalau dipikir lagi, mungkin itu ada baiknya. Kegugupan tidak sejalan dengan pencernaan yang lancar.

Setelah meletakkan tasnya di atas meja, tao berjalan ke pinggir atap yang terdekat... dan memandang ke bawah. Semangat melonjak di dalam dirinya karena melihat pemandangan luar biasa ketika para malaikat berterbarangan keluar masuk Tower. Mereka terlihat begitu dekat hingga rasanya ia dapat menggapai dan menyentuh mereka. Sayap kuat mereka tampak begitu menggoda sekaligus berbahaya,

"hati-hati". Kata-kata itu diucapkan dengan lembut, nadanya geli.

Tao tidak melonjak, ia sudah merasakan embusan angin ketika pria itu mendarat. "apa mereka akan menangkapku kalau aku terjatuh?", tanya tao tanpa memalingkan kepala.

"kalau mereka sedang mau melakukannya". Pria itu berjalan untuk berdiri di sebelah tao, sayapnya sudah terlihat di sudut mata tao. "kau tidak pusing".

"tidak pernah". Tao mengakui, begitu takut pada kekuatan besar pria itu sehingga ia terdengar benar-benar normal. "aku belum pernah berada di tempat yang setinggi ini sebelumnya".

"bagaimana menurutmu?"

Tao menarik nafas dalam-dalam dan mundur selangkah sebelum berbalik untuk menghadap pria itu. Tao merasa seperti ditinju. Pria itu... indah. Matanya sangat tajam dan jernih seolah ada seniman surgawi yang menaburkan batu safir ke dalam lukisannya kemudian menyapukan kuas yang terbaik pada iris mata pria itu.

Tao masih memulihkan diri dari keterkejutan visualnya ketika angin tiba-tiba berhembus di atap, meniup beberapa helai rambut hitam pria itu. Tapi hitam masih belum cukup menggambarkannya. Warnanya bergitu murni hingga menyerupai warna malam, cemerlang dan pekat dan tentunya tidak ada ketombe atau makhluk astral (kutu) yang hinggap di rambut itu. Dipotong dengan gaya berlapis-lapis yang berantakan dan mencapai tengkuk, rambut pria itu menunjukkan ketajaman wajahnya dan membuat Tao menekuk jemari saking inginnya ia membelai rambut itu.

Demi Tuhan, pria ini memang indah, tapi keindahan itu adalah keindahan seorang pejuang atau seorang penakluk. Pria ini memiliki cap kekuasaan pada setiap jengkal kulitnya, setiap inci tubuhnya. Dan itu sebelum tao melihat kesemprnaan sayap Kris yang sangat elegan. Bulu-bulunya putih lembut dan tampak berserbuk emas. Tapi sewaktu tao berkonsentrasi, ia melihat yang sesungguhnya—setiap serat dari setiap bulu mempunyai ujung keemasan.

"ya, di atas sini memang indah", kata pria itu menyadarkan tao dari lamunan nistanya akan keindahan dan kesempurnaan tubuh Kris.

Tao mengerjap, merasakan wajahnya merona. Ia bahkan tak ingat berapa lama ia melamun. "ya". Hanya itu saja respon yang dapat ia berikan pada ucapan Kris.

Senyum pria itu kelihatan mengejek, menunjukkan kepuasan khas pria yang selalu dipuja. Tao menggigit bagian dalam mulutnya sebagai teguran. Kris tahu persis seberapa mempersonanya dirinya, dan tahu pengaruhnya terhadap makhluk fana yang polos. Itu membuatnya menjadi bajingan arogan yang seharusnya dapat ditolak oleh Tao mengan mudah.

Menarik sebuah kursi, Kris menunggu. Tao berhenti dengan jarak enam pulh sentimeter, sepenuhnya menyadari tinggi dan kekuatan pria itu. Ia tidak terbiasa merasa pendek. Ataupun lemah. Kris membuatnya merasakan dua sensasi itu—dan tanpa perlu bersusah payah—membuatnya cukup marah sehingga berani menanggapi. "aku merasa tidak nyaman kalau ada orang yang berdiri di belakangku".

Mata indah itu berkilat terkejut. "bukankah seharusnya aku yangmerasa takut kalau-kalau ada belati yang ditodongkan dari belakangku? Kaulah yang membawa senjata tersembunyi".

Fakta bahwa Kris mengetahui keberadaan senjatanya tidak berarti apa-apa. Seorang pemburu harus selalu bersenjata. "perbedaannya adalah, aku bisa mati. Kau tidak"

Sambil melambaikan tangan dengan geli, Kris berjalan menuju ke sisi meja yang satu lagi. Sayapnya menyapu ubin yang bersih mengilap dan meninggalkan jejak emas putih. Tao yakin bahwa pria itu sengaja melakukannya. Malaikat tidak selalu meninggalkan serbuk malaikat. Kalaupun mereka melakukannya, serbuk itu pasti sudah diambil vampire atau manusia fana. Harga dari sedikit saja benda cemerlang itu suah lebih mahal dari pada berlian yang tak bercacat sedikitpun.

"kau tidak takut kepadaku", kata Kris.

Tao tidak cukup bodoh untuk berbohong. "aku takut setengah mati. Tapi kurasa kau tidak mungkin membawaku kesini hanya supaya bisa menodongku dari atap". Ujar tao sesantai mungkin.

Bibir Kris melengkung, seolah Tao mengatakan sesuatu yang lucu. "duduklah, Tao". Namanya terdengar berbeda di bibir pria itu. Mengikat. Seolah dengan mengucapkannya, Kris memegang kendali terhadapnya. "seperti yang sudah kau katakan, aku tidak punya rencana membunuhmu. Tidak hari ini".

Tao duduk membelakangi lift, tahu bahwa Kris menunggu kesopanan kuno hingga ia melakukannya. Sayap Kris terbentang anggun di balik susunan kursi yang dirancang khusus ketika pria itu ikut duduk.

"berapa usiamu?" tahu-tahu Tao sudah bertanya sebelum ia sempat menahan rasa penasarannya.

Kris mengangkat sebelah alisnya yang melengkung sempurna,"apa kau tidak bisa menahan diri?"

Komentar itu sebenarnya diucapkan dengan santai, tapi Tao mendengar nada keras yang terselip disana. Rasa dingin menjalar disekujur tubuhnya. "menurut beberapa orang, tidak. Kau tahu kan aku ini pemburu vampire".

Sesuatu yang misterius dan sangat berbahaya terlintas di kedalaman mata jernih yang tak mungkin bisa dimiliki manusia. "pemburu alami. Bukan yang dilatih".

"ya".

"berapa banyak yang sudah kau tangkap dan kau bunuh?"

"kau tahu jumlahnya. Karena itulah aku duduk disini".

Angin kembali berhembus di atap, kali ini cukup kencang sehingga membuat cangkir-cangkir bergoyang dan menghempaskan poni yang menutupi tompel tao. Ia tidak mau repot-repot merapikannya dan tetap fokus pada sang malaikat tertinggi. Pria itu balas menatapnya.

"beritahukan kemampuan-kemampuanmu padaku". Nada suara kris bagaikan mata pisau yang mengisyaratkan sebuah peringatan. Sang malaikat tertinggi sudah tidak menganggap tao lucu lagi.

Tao tidak mau mengalihkan pandangan, bahkan ketika ia menancapkan kuku jemarinyake paha untuk menguatkan diri. "aku bisa mencium bau vampire, membedakan satu vampire dari kawanannya. Itu saja". Kemampuan yang tidak berarti—kecuali kalau kau menjadi pemburu vampire.

"berapa usia yang harus dicapai oleh si vampire sehingga kau bisa merasakan kehadirannya?"

Pertanyaan itu aneh dan Tao harus diam sebentar untuk memikirkannya. Tao mengerutkan dahinya. Berusaha mengingat. "vampire termuda yang pernah kulacak usianya sekitar dua bulan. Kebanyakan vampire menunggu satu tahun sebelum mereka membuat onar. Tapi yang ini sudah kelewatan".

"jadi, kau belum pernah berhubungan dengan vampire yang lebih muda?"

"berhubungan tentu pernah. Tapi tidak sebagai pemburu. Kau ini malaikat. Pastinya kau tahu bahwa tubuh mereka takkan berfungsi maksimal selama sebulan pertama setelah diciptakan".

Vampire yang baru diciptakan selama beberapa minggu pertama memang menyeramkan. Mata mereka menatap kosong, tubuh pucat pasi dan kurus kering, gerakan yang tidak terkoordinasi. "semuda itu, mereka tidak bisa memberi makan diri mereka sendiri apalagi kabur".

"bagaimanapun juga kita akan melakukan suatu tes". Sang malaikat tertinggi mengambil segelas jus. "makanlah".

"aku tidak lapar".

Kris meletakkan gelasnya. "menolaksantapan dari meja malaikat tertinggi merupakan suatu pelecehan darah".

Tao belum pernah mendengar ungkapan tersebut, tapi kalau sudah menyangkut darah, itu pasti tidak baik. "aku sudah makan sebelum datang kemari". Kebohongan total.

"kalau begitu, minumlah". Instruksi itu disampaikan dengan sangat mutlak. Tao tahu Kris ingin langsung dipatuhi.

Namun, dorongan memberontak muncul dari dirinya, "kalau tidak?"

Angin berhenti berembus. Bahkan awan-awan sepertinya berhenti bergerak.

Kematian berbisik di telingan Tao.

.

.

.

Naluri Tao berteriak agar ia mengambil belati yang terselip di sepatunya, melukai Kris dan pergi dari situ. Tapi ia memaksakan diri untuk tetap duduk. Lagipula, ia tidak mungkin bergerak lebih dari dua langkah sebelum Kris meremukkan setiap tulang di tubuhnya.

Itulah yang akan dilakukan Kris kepada vampire yang berencana untuk mengkhianatinya.

Flash back Tao

*Vampire itu ditemukan di tengah-tengah pusat perbelanjaan. Masih hidup. Dan masih mencoba berteriak, "Jangan! Kris! Jangan!" tapi suaranya sudah serak saat itu, rahangnya tergantung pada sebuah urat yang mirip seperti benang, tubuhnya tercabik-cabik dimana-mana.

Pada saat itu, Tao sedang dalam sebuah perburuan. Ia menyaksikan berita itu melalui siaran berita langsung. Ia tahu vampire itu sudah terbaring sekarat di sana selama tiga jam sebelum diangkat oleh sepasang malaikat. Semua orang di Seoul, sial, semua orang di Korea tahu vampire itu ada disana. Tapi tidak seorangpun berani menolongnya, tidak dengan tanda tangan Kris yang membara di keningnya. Sang malaikat tertinggi ingin hukuman itu disaksikan, ingin mengingatkan orang –orang tentang siapa dan apa dirinya. Kris berhasil. Dan sekarang dengan mendengar namanya saja, tubuh mereka akan bergetar ketakutan*

Tapi tao tidak akan merangkak, tidak demi siapapun. Itulah keputusan yang ia buat ketika ayahnya, Siwon menyuruhnya untuk berlutut dan memohon agar ayahnya itu bisa menerimanya kembali dalam keluarga. Dan sekarang tao sudah tidak berbicara dengan ayahnya selama sepuluh tahun.

"kau harus berhati-hati", ujar Kris dengan ketenangan yang aneh.

Tao tidak mendesah lega, "aku tidak suka bermain-main".

"cobalah". Kris bersandar di kursinya. "hidupmu akan sangat pendek kalau kau hanya mengharapkan kejujuran".

"aku tidak bilang jika aku mengharapkan kejujuran. Orang-orang berbohong. Vampire berbohong. Bahkan...". tao menahan diri.

"apa kau sedang bersikap bijak sekarang?" nada geli dalam suara Kris kali ini sudah kembali, tetapi tetap diwarnai nada tajam yang dapat memotongmu menjadi kepingan-kepingan kecil.

Tao memandang wajah sempurna itu dan tahu bahwa ia takkan pernah bertemu lagi dengan makhluk lain yang lebih berbahaya lagi dalam hidupnya. Jika ia membuat Kris kesal, malaikat itu pasti akan membunuhnya semudah orang memukul lalat. Ia cukup cerdas untuk mengingatnya, walaupun hal itu sangat menjengkelkan. "katamu aku harus melewati sebuah tes?"

Mata Kris bergerak untuk melihat sesuatu di balik bahu Tao. "lebih mirip dengan eksperimen dari pada tes".

Tao tidak menoleh, tidak perlu. "ada seorang vampire di belakangku".

"kau yakin?". Ekspresi Kris tidak berubah.

Tao menahan dorongan untuk membalikkan badan. "Ya".

Kris mengangguk, "lihatlah".

Bertanya-tanya yang mana yang lebih buruk—membelakangi malaikat tertinggi yang membingungkan dan tidak bisa ditebak, atau seorang vampire yang tak dikenal—tao ragu-ragu. Akhirnya, rasa penasarannyalah yang menang. Ekspresi yang puas tampak di wajah tampan Kris. Dan tao ingin tahu apa yang menyebabkannya.

Tao membalikkan badan. Kemudia ia melihat dua makhluk yang berdiri di belakangnya. "ya tuhan".

"kalian boleh pergi". Suara kris menegaskan suatuperintah yang menimbulkan kengerian menyedihkan di mata salah seorang vampire yang agak mirip dengan manusia. Yang satunya lagi lari terbirit-birit seperti seekor binatang.

Tao memperhatikan mereka melewati pintu kaca dan menelan ludah. "berapa usia...". makhluk itu bukan vampire, tapi ia juga bukan manusia.

"kyuhyun baru diciptakan kemarin".

"aku tidak tahu bahwa vampire bisa berjalan pada usia semuda itu".

"dia mendapat sedikit bantuan". Nada suara kris menegaskan bahwa hanya itulah jawaban yang akan diterima Tao. "Sungmin... sedikit lebih tua".

Rasa jijik seketika merambat melewati pori-porinya. Vampire yang lebih tua tidak terlalu menjijikan. Mereka—kecuali yang tidak biasa seperti si vampire penjaga pintu hanya berbau vampire, layaknya ia mencium bau manusia. Tapi yang masih sangat muda, mereka mempunyai bau kol busuk atau daging busuk khas.

"aku tidak tahu bahwa soorang pemburu bisa terganggu dengan bau vampire". Wajah kristampak aneh dan gelap, hingga tao menyadari bahwa sayapnya telah terangkat sedikit.

"tidak... tidak seperti itu. Hanya saja kau seakan dapat merasakan daging busuk di kerongkonganmu. Menjijikan bukan".

Ketertarikan terlihat di wajah Kris. "rasanya sekuat itu?"

Kris menyodorkan jeruk kepada tao untuk mengurangi rasa mualnya. "kalau aku memintamu melacak kyuhyun, apa kau bisa melakukannya?"

"tidak. Kurasa ia masih terlalu muda".

"bagaimana dengan sungmin?"

"dia ada di lantai dasar gedung ini sekarang".bau vampire itu begitu kuat hingga bau busuknya menyebar di seluruh gedung. "di lobi".

Sayap berujung keemasan terentang membayangi meja ketika Kris menangkupkan kedua telapan tangannya untuk bertepuk tangan, "bagus sekali tao, bagus sekali".

Tao mendongak dan terlambat menyadari bahwa ia baru saja membuktikan seberapa hebat kemampuannya. Sial. Tapi setidaknya Kris sudah mengungkapkan pekerjaan macam apa itu. "kau mau aku melacak seorang berandalan?"

Kris bangkit berdiri dari kursinya dengan gerakan mendadak tapi mulus. "tunggu sebentar".

Tao memperhatikan, terpaku, ketika kris berjalan ke tepi atap. Pria itu merupakan makhluk yang luar biasa indah. Dengan melihatnya saja jantung tao sudah seperti diremas. Tao tahu bahwa keindahan itu hanyalah kedok semata. Kris sama mematikannya seperti belati tajam. Tidak ada seorang pun yang dapat menyangkal bahwa kris sang malaikat tertinggi adalah seorang pria yang diciptakan untuk dikagumi. Dipuja.

Pemikiran itu menyadarkan tao dari lamunannya. Sambil mendorong kursinya ke belakang, ia memandangi punggung kuat kris. Apakah pria itu mengacaukan pikirannya? Tepat pada saat itu, kris menoleh dan tao menatap mata sang malaikat yang tajam. Selama sedetik, tao mengira karis mau menjawab pertanyaannya. Kemudia pria itu berpaling dan beranjak dari atap.

Tao melonjak. Hanya untuk kembali duduk, dengan pipi yang merona, ketika kris terbang ke atas untuk menemui seorang malaikat yang belum pernah dilihat oleh tao hingga saat itu. Byun Baekhyun. Pria manis dan cantik yang sepadan dengan kris. Kecantikannya mengalahkan ketampanannya. Kecantikannya begitu kuat sehingga tao dapat merasakannya bahkan dari jarak sejauh ini. ia merasa takjub ketika menyadari bahwa ia sedang menengadahkan kepala ke udara untuk menyaksikan pertemuan dua malaikat tertinggi itu.

"Luhan tidak akan percaya". Ia pernah melihat foto baekhyun tapi tidak ada yang menggambarkan sosok pria cantik itu dengan keadaan yang sesungguhnya. Sangat sempurna.

Malaikat tertinggi itu memiliki kulit seputih susu yang paling indah dan cantik, rambutnya bercahaya dan tertiup angin hingga wanita asli yang melihatnya pun akan merasa sangat iri. Baekhyun memiliki tubuh klasik seorang pria, tidak terlalu tinggi tapi cukup atletis namun cantik dan anggun disaat yang bersamaan. Sayap baekhyun berwarna perunggu lembut dan berkilauan di balik keindahan kulinya. Terasa cukup kontras tapi memiliki keindahan yang unik. Wajahnya dari jarak sejauh ini pun tetap terlihat sempurna. Malaikat itu mempunyai wajah yang bukan hanya isa menghentikan kendaraan di jalan, tapi juga bisa menyebabkan kecelakaan beruntun.

Tao mengerutkan dahi. Walaupun mengagum penampilan baekhyun, ia tetap dapat berpikir dengan baik. Berati kris, si bajingan arogan itu memang mengacaukan pikirannya. Tak ada seorang makhluk pun yang dapat mengubahnya menjadi boneka.

Seolah mendengarnya, Kris mengatakan sesuatu pada baekhyun dan kembali turun ke atap. Pendaratannya lebih mencolok kali ini. tao yakin kris sengaja berhenti sebentar untuk memamerkan pola permukaan dalam sayapnya. Kelihatannya seolah ada kuas yang dicelupkan ke dalam cairan emas dan disentuhkan ke ujung sayap itu kemudian disapukan ke bawah, semakin ke bawah semakin berbaur dengan warna putih. Walaupun marah, tao tetap mengakui kalau Iblis itu—Malaikat itu menghampirinya dan menawarkan sayap kepadanya, mungkin ia rela menyerahkan jiwanya.

Tapi malaikat tidak menciptakan malaikat. Mereka hanya membuat vampire. Dari mana datangnya malaikat, tidak ada yang tahu. menurut tao, malaikat dilahirkan dari orang tua malaikat. Meskipun sampai sekarang tao tidak pernah melihat bayi malaikat.

Pikirannya kembali teralihkan ketika ia memperhatikan kris berjalan dengan anggun dan santai, begitu menggoda, begitu... menggairahkan.

Tao bangkit berdiri, membuat kursinya menghantam ubin, "enyahlah dari pikiranku, brengsek!". Maki tao kepada sang Malaikat tertinggi. Sial, apa yang kulakukan? Menghina malaikat tertinggi?, umpat tao dalam hati.

Kris berhenti berjalan. "apa kau berniat menggunakan belati itu?" kata – kata kris sedingin es. Bau darah tercium di udara, dan tao menyadari bahwa itu adalah darahnya sendiri.

Menunduk, tao mendapati tangannya sedang menggenggam mata belati yang ditarik secara naluriah dari sarung belati di pergelangan kakinya. Kris menggerakkannya untuk menyakiti diri sendiri, menunjukkannya bahwa tao hanyalah sebuah mainan bagi kris. Bukannya melawan, tao malah mempererat genggamannya. "jika kau ingin aku bekerja untukmu, aku setuju. Tapi jangan pernah memanipulasiku". Desis tao pada kris.

Mata kris berkilat ketika melihat darah yang mengalir dari kepalan tangan tao.

"kau mungkin bisa mengendalikanku". Kata tao sebagai tanggapan atas cemoohan yang bersirat di wajah kris, "tapi kalau kau bisa menuntaskan masalahmu, kau tak mungkin mempekerjakanku. Vampire bodoh ciptaanmu tak bisa menyelesaikan urusan ini bukan?". Ujar tao telak.

Genggaman tao terlepas, tangannya mengejang hebat ketika kris membuatnya melepaskan belatinya. Tao tidak bergerak. Tidak berusaha menghentikan aliran darahnya.

Kris mendekat hingga mereka berjarak kurang dari tiga puluh sentimeter. Tao berdiri. "jadi kau berpikir aku tidak berbahaya?"

"tidak". Tao membiarkan bau kris—bau laut yang jernih dan menyenangkan menghilangkan bau vampire dari tubuhnya. "aku sudah siap untuk pergi tanpa menoleh lagi. Aku akan mengembalikan uang deposit yang kau bayar ke asosiasi".

"itu". Kata kris, mengambil serbet dan membungkus tangan tao dengan serbet, "bukanlah pilihan".

Terkejut dengan tindakan yang tak terduga ini, tao mengepalkan tangan untuk membantu memperlambat pedarahannya. "kenapa begitu?"

"aku mau kau yang melakukannya", jawab kris.

"apa pekerjaannya? Pelacakan?"

"ya".

Kelegaan mulai menyirami tao bagaikan hujan yang sudah terasa begitu dekat dengannya. "sebagai permulaan, yang kuperlukan adalah benda yang baru-baru ini dipakai oleh si vampire. Kalau kau tahu lokasinya itu lebih baik lagi. Kalau tidak, aku akan meminta orang-orang genius di Asosiasi untuk melacak transportasi umum, laporan bank, dll selagi aku berburu di lapangan".

"kau keliru mengartikanku, tao. Bukan vampire yang ingin aku temukan".

"kau mau aku melacak manusia? Yah aku bisa melakukannya, tapi aku tidak mempunyai kelebihan apa-apa dibandingkan dengan detektif swasta".

"coba lagi".

Bukan vampire, bukan manusia. Berati tinggal... "malaikat?" bisik tao. "pasti bukan".

"bukan". Kris membenarkan, dan lagi-lagi tao merasakan kelegaan yang menyejukkan. Kelegaan itu bertahan hingga kris berkata, "MALAIKAT TERTINGGI".

Tao menatap kris, "kau bercanda".

Rahang kris mengeras, "tidak. Kelompok sepuluh tidak pernah bercanda".

Perut tao bergolak ketika mendengar kelompok sepuluh disebutkan—kalau kris merupakan contoh dari kekuatan mutlak mereka, ia tidak mau bertemu dengan kelompok yang agung itu. "kenapa kau mencari seorang malaikat tertinggi?"

"kau tidak perlu tahu. yang perlu kau ketahui adalah jika kau berhasil menemukannya, kau akan dibayar dengan uang yang bisa kau habiskan seumur hidupmu".

Tao memandang serbet yang bernoda darah itu. "dan kalau gagal?"

"jangan gagal, tao". Mata kris lembut, tapi senyumnya itu menyampaikan berbagai hal yang lebih baik tidak diutarakan. "kau membuatku penasaran... aku tidak suka kalau aku harus menghukummu. Kecuali hukuman ranjang, tentunya".

Pikiran tao melayang ke liputan tentang vampire di Plasa itu, tubuh hancur itu dudunya merupakan sosok makhluk... itulah definisi hukuman menurut Kris. Dan mendengar kris menyebutkan kata ranjang, pikiran tao sudah melayang-layang memikirkan betapa indahnya bercinta dengan kris di ranjang. Tapi itu tidak mungkin terjadi. Karena tao yakin paling lama dua hari lagi ia akan mati dan tak akan dapat merasakan dekapan hangat kris.

~TBC~

Annyeong readers sekalian. Terimakasih buat para readers yang sudah review, follow dan fav FF ini yang author tidak bisa sebutkan satu-satu

Gimana nih Chapter yang ini? belum ada yang hot-hotnya hehehe

Sebagai author pemula, saya bingung mau nulis NC yang gimana abis biasanya kan baca eh sekarang harus nulis hehehe

Ada kritik dan saran? Bisa tulis di review ok