"Patience"
.
Taehyung x Yoongi
Slight! Jimin x Yoongi
.
.
.
warning : Typo(s) - Boys Love
Story Copyright © Littlesugar
6116
"Aku mencintaimu."
"Jangan mengejarku, aku hanya senang bermain."
"Tolong aku."
"Datanglah padaku, aku akan memelukmu."
6116
Malam itu menjadi malam yang berbeda bagi Yoongi. Kini dirinya sedang duduk nyaman disebuah kursi pada ruang makan, sesekali menyeruput coklat hangat ditangannya. Untuk beberapa saat, ia tidak memikirkan apa yang selalu ia pikirkan. Hatinya tak harus lagi terasa nyeri akibat kalimat dingin yang diucapkan kekasihnya sendiri.
Mata Yoongi terus bergerak mengikuti pergerakan lelaki yang tak jauh didepannya. Ia tampak serius dengan bahan makanan yang tengah ia potong menggunakan pisau dapur, Yoongi tersenyum tipis kala ia melihat lelaki didepannya berdecak sebal, mungkin karena kesulitan.
Karena tak tega, Yoongi akhirnya memilih untuk bangkit dan menghampiri lelaki itu.
"Jimin, mau ku bantu?"
Suara Yoongi disampingnya membuat Jimin sedikit tersentak namun kemudian ia tersenyum kikuk. "Terima kasih Hyung, aku benar-benar tidak pandai memasak."
Yoongi membalas senyumnya. "Tidak masalah."
Akhirnya, Yoongi mengambil alih pekerjaan Jimin sebelumnya. Tidak seperti Jimin, Yoongi kelihatan mudah mengayunkan pisau dapur itu.
Jimin memandangi sosok manis disampingnya, pandangan Jimin berubah sendu. Jimin kembali mengingat kenapa Yoongi dapat berada disini. Yoongi yang menangis sendirian, Yoongi yang membutuhkan kehangatan, Yoongi yang terlihat begitu rapuh, Yoongi yang selalu Jimin cintai dari masa sekolah. Ya, Jimin memang mencintai Yoongi. Namun, sialnya ia tidak seberuntung Taehyung. Taehyung berhasil mengambil hati Yoongi dan menjalin kasih dengannya.
Dulu, Jimin dan Taehyung memang bersaing untuk mendapatkan Yoongi. Keduanya mendaftar pada klub dimana Yoongi berada, hanya untuk melakukan pendekatan. Jimin dan Taehyung berhasil menjadi teman dekat Yoongi. Jimin yang selalu berhati-hati tidak seperti Taehyung yang dengan mudahnya bicara seenaknya. Dulu, Ya dulu. Jimin akui Taehyung memang pantas menjadi kekasih Yoongi, Taehyung memang orang yang ceroboh, aneh, tapi ia begitu serius saat menyatakan cintanya pada Yoongi. Awalnya Jimin menerima kekalahannya. Hingga mereka masih saling berhubungan baik setelah lulus sekolah.
Tapi, begitu tau bagaimana nasib hubungan Yoongi beberapa bulan terakhir ini, membuat Jimin geram. Ia selalu mengikuti Yoongi yang sendirian, menangis dipinggir jalan, berdiam diri begitu lama dipintu apartemennya dengan bahu bergetar dan puncaknya ia kembali melihat Yoongi menangis sendirian di taman membuatnya tidak bisa menahan diri lagi.
"ㅡMin?"
"Jimin?"
Jimin mengerjapkan kedua matanya tiba-tiba, melihat Yoongi dihadapannya mengibaskan tangannya. Yoongi terkekeh. "Kau melamun."
"Ah, maafkan aku." Jimin menggaruk tengkuknya yang tak gatal, kemudian matanya melihat bahwa masakannya sudah jadi diatas dua piring, Yoongi membuat nasi goreng kimchi.
"Sudahlah, Ayo makan, Jim."
Yoongi membawa kedua piring itu dan menaruhnya berhadapan diatas meja makan. Yoongi mendudukan dirinya diikuti oleh Jimin yang duduk didepannya.
"Hyung?" Jimin menatap Yoongi yang mulai menyendokkan nasi ke dalam mulutnya. Dan Yoongi hanya bergumam menjawab Jimin.
"Apa kau akan pulang?"
Pertanyaan Jimin sukses membuat Yoongi terdiam. Jimin masih terus menatap Yoongi sampai Yoongi menelan nasi didalam mulutnya.
"AㅡAku tidak tau." Yoongi mengangkat bahunya, kembali menyendokkan nasi kedalam mulutnya. "Tapi sepertinya, aku memang harus pulang."
"Biarkan aku mengantarmu, Hyung." ucap Jimin sembari meraih sendoknya, memakan nasi goreng kimchi buatan Yoongi.
Yoongi melirik Jimin dihadapannya. Sebenarnya, Yoongi ingin Jimin melarangnya, Yoongi masih tidak ingin bertemu dengan Taehyung dan sikap dinginnya. Tapi, mungkin bukan ide buruk jika Ia pulang bersama Jimin dan Taehyung melihatnya.
6116
"Apa yang kau lakukan bersama orang itu?" tanya Taehyung begitu menarik lengan Yoongi untuk memasuki apartemen mereka.
Taehyung menatap tajam Jimin yang masih berdiri didepan pintu dengan wajah datarnya. Jimin mengantar Yoongi sampai didepan pintu apartemennya. Yoongi sudah menyuruh Jimin untuk pulang saja, tapi Jimin keras kepala dan tetap diam ditempat sambil berkata kalau dia akan pergi jika Yoongi sudah masuk kedalam dengan selamat.
"Dia hanya mengantarku, Taehyung." lirih Yoongi sambil menunduk tak berani menatap Taehyung. Tangan Taehyung yang menggenggam lengannya begitu kasar, tidak seperti dulu lagi. Yoongi sedikit menggerakan lengannya supaya Taehyung melepaskannya.
"Lihat, ini sudah jam berapa, Min Yoongi?" Taehyung menghentakan tangannya pada lengan Yoongi. Yoongi terlonjak kaget. Jimin mengepalkan kedua tangannya, melangkahkan kakinya memasuki pintu apartemen Yoongi. Jimin segera berdiri membelakangi Yoongi dan menghadap Taehyung. Membuat Yoongi terlepas dari tatapan dingin Taehyung.
"Hei Kim, aku hanya mengantarnya pulang setelah menemukan dia menangis ditaman." Jimin merasakan tangan Yoongi meremas jaket belakangnya. Ia melirik sebentar dan kembali menatap Taehyung.
"Akan kupastikan dia akan datang padaku, jika kau terus begini."
"Apㅡ"
"Sudah!" Baru saja Taehyung akan berbicara dengan nada tingginya, suara Yoongi berhasil menengahi mereka. Yoongi beringsut mendorong Jimin keluar apartemennya dengan lembut. "Sebaiknya kau pulang, terima kasih banyak sudah mengantarku Jim."
Jimin hanya menuruti Yoongi dan terdiam melihat Yoongi tersenyum sedih sebelum ia menutup pintunya. Ingin sekali rasanya ia menarik Yoongi dari dalam sana, dan membawa Yoongi jauh dari Taehyung. Jimin akan memastikan Yoongi bahagia bersamanya. Akan Jimin buat Yoongi mencintainya.
"Argh, sialan!"
Jiminpun meninggalkan apartemen Yoongi.
6116
Sesampainya Yoongi di dalam kamar, ia melepaskan jaketnya, matanya melirik Taehyung yang tengah duduk memandanginya ditepi kasur.
"Apa yang kau lakukan dengan Jimin?" Taehyung mulai bertanya menginterogasi Yoongi. Bagi Yoongi aura gelap seperti telah memenuhi ruangan jika Taehyung sudah begini.
Memang ini yang Yoongi mau, Taehyung yang cemburu padanya. Taehyung yang takut jika Yoongi melakukan hal aneh bersama pria lain. Memikirkan kalau memang Taehyung tengah cemburu membuat Yoongi mengangkat sudut bibirnya.
"Kenapa kau malah tersenyum, Hyung? Jawab pertanyaanku." Taehyung terlihat semakin kesal, ia berjalan medekati Yoongi dan memegang kedua bahu sempitnya. Membuat Yoongi mau tak mau mendongak untuk menatap Taehyung.
Yoongi kembali tersenyum tipis. "Aku hanya kebetulan bertemu dengannya ditaman, dan mampir ke apartemen Jimin untuk minum coklat hangat bersama."
Mendengar penjelasan Yoongi, Taehyung hanya menghela nafasnya. Ia melepaskan pegangan pada bahu Yoongi. "Kalau memang begitu, cepat mandi dan istirahat."
Taehyung melangkahkan kakinya pada tempat tidur, dan bergelung dengan selimut membelakangi Yoongi yang masih berdiri ditempatnya.
Yoongi memandangi punggung Taehyung dengan tatapan tidak dapat diartikan. Respon Taehyung hanya seperti itu? Ah, bukankah harusnya Yoongi baik-baik saja? berarti Taehyung mempercayai Yoongi, 'kan?
Beberapa lama terdiam, Ia melangkah pergi memasuki kamar mandi. Yoongi membasuh wajahnya dengan air pada wastafel dan beralih menatap pantulan dirinya dicermin.
Yoongi menunduk dalam dan meremas dada kirinya. Bahkan sebelumnya ia sudah yakin, jika ia sudah pulang hatinya akan terasa nyeri lagi. Sudah tidak ada air mata yang bisa ia keluarkan untuk hal seperti ini lagi.
"Ah?" Tiba-tiba Yoongi teringat kata-kata Jimin didepan Apartemennya tadi.
"Akan kupastikan dia akan datang padaku, jika kau terus begini."
Yoongi merasa ada yang aneh. Yang dimaksud Jimin itu kalau dia merasa sedih karena Taehyung dia bisa datang padanya, begitu kan?
Atau hal lainnya?
TBC
.
.
.
Awalnya ngga akan ngelanjutin, eh tapi gatau pengen lanjutin aja. Hahaha :'D
