Moshi – moshi ...
Sampai di Chapter 2...
Membuat konflik dan klimaks memang tidak mudah, perlu suasana yang mendukung agar emosi saat menulis bisa didapat, aku bisa merasakan perjuangan para author saat menulis sebuah fic sekarang. Sengguh luar biasa, apalagi jika bisa menulis fic panjang yang penuh emosi dan ketegangan pasti sangat tidak mudah. Kalian semua sangat hebat!
Saat menulis chapter ini aku mendengar sebuah lagu " colour of the winds, ost pocahontas" dan " hurt by Ali, ost rooftop prince". Kenapa bertambah menyedihkan ... tapi membangun begitu banyak ide...! luar biasa..!
Kepada para pembaca terima kasih sudah membaca beberapa fic dengan penuh pemahaman, para pembaca sungguh luar biasa, dalam mengimajinasikan dan menggambarkan sebuah fic hingga tulisan – tulisan para author bisa tersampaikan pesannya!
Teman – teman terima kasih sudah membaca hingga sampai chapter ini!
Selamat membaca kelanjutannya...! ^_^
...
.
.
.
...
Disclaimer : Masashi Kashimoto
Pair : Sasuke x Naruto , Sai x Neji , Shikamaru x Kiba
Warning Genre : Yaoi,romance,cumfort/hurt, drama
...
.
.
...
Sumary:
Hujan deras masih belum reda. Terjadi berbagai macam hal saat hujan turun, suasana romantis bahkan menyakitkan sering terjadi.
SPECIAL PEOPLE
Chapter 2
DEBARAN HATI NARUTO
" oke pelajaran hari ini cukup!" Guru perempuan itu menutup jam pelajaran." Hari ini aku berbaik hati tidak akan memberikan PR! Oke selamat siang!" Guru berambut coklat yang sering disebut Anko itu pergi keluar kelas.
TENG
TENG
Semua siswa berhamburan keluar kelas, dan sesegera mungkin meninggalkan sekolah. Hujan di luar begitu deras, seakan enggan untuk reda.
" Sai...! kita pulang sama – sama Yuk...!" ajak seorang siswi pada Sai
" sama aku saja!"
" aku saja!"
" aku!"
Sai dikerumuni begitu banyak wanita, hingga dia tak terlihat. Mengingat sekarang ini hujan, akan sangat romantis jika pulang bersama orang yang disukai entah itu naik mobil, berjalan dibawah hujan sama – sama, apa lagi dibawah satu payung, sungguh romantis.
" maafkan aku! Aku tidak bisa pulang bersama wanita manapun...!" Sai mengeluarkan senyum khasnya yang bisa melelehkan para wanita.
Sasuke yang melihat semua itu seakan ingin muntah. Dia bergegas pergi, namun sebelum beranjak, Sasuke menyempatkan diri untuk melihat Naruto yang masih membereskan buku – bukunya di meja. Sasuke tersenyum, Hinata tak sengaja melihat Sasuke yang mengamati Naruto, lalu Sasukepun melangkah pergi lagi, Hinata mengikuti pergerakan Sasuke hingga hilang. Tapi sepertinya ada sesuatu yang di jatuhkan Sasuke.
" sasuke tunggu!" hinata berusaha mengejar Sasuke
Sasuke berhenti, lalu menoleh
" Sasuke!"
" hnnn?!"
" i - ini!" dengan memerah menyerahkan sebuah buku pada Sasuke.
Sasuke terkejut, bahkan wajah stoicnya berubah, Hinata juga kaget. Sesegera mungkin Sasuke meraih buku itu, dan memasukannya ke dalam tas.
" bagaimana kau bisa menemukan buku ini?!" tanya Sasuke, membetulkan kacamata sekaligus merubah ekspresinya.
" itu tadi terjatuh, a - aku sama sekali tidak melihat isinya kok! " entah kenapa Hinata jadi salah tingkah.
"terima kasih!" Sasuke sedikit lega
" ya sudah! Aku permisi, kak Neji pasti sudah menunggu!" Hinata langsung pergi.
Setelah memastikan Hinata pergi, dia mengambil buku itu dari dalam tasnya, dan mengambil sebuah lipatan kertas dari dalam buku itu. Sasukepun tersenyum lega.
"untung saja tidak di buka, ini adalah gambar Naruto yang di gambar Sai. Kalau dia tau bisa gawat, lebih baik tak usah aku bawa lagi!" batin Sasuke dengan kelegaan.
Sementara itu di balik sebuah tembok, Naruto mengamati Sasuke diam – diam, dia melihat semua kejadian tadi, dan mengasumsikan hal yang berbeda dari kenyataannya. Menurutnya tadi pasti Hinata sudah memberikan sesuatu pada Sasuke, mungkin surat cinta yaitu lipatan kertas yang kini di pegang Sasuke. Alasannya ingin mengembalikan buku namun ternyata memberikan surat cinta, apalagi ekspresi Sasuke tampak begitu lega, seakan cinta sudah terbalas. Tentu saja ini membuat Naruto sakit hati, kembali dia amati Sasuke, Sasuke langsung pergi.
...
.
.
...
Tampak banyak siswa yang pulang menerjang hujan deras itu, mereka semua memakai payung dan naik kendaraan pribadi mereka. Naruto termenung sendiri, hanya dia siswa yang tidak membawa payung.
" hai Naruto kau tidak pulang?!" sapa temannya
" eh Sakura...! hehehehe !" Naruto menggaruk belakang kepalanya sambil meringis.
" kau lupa bawa payung lagi ya?!"
" iya begitulah! Lebih baik ku tunggu hingga reda!" tanggap Naruto
" hujan ini tidak akan reda! Hujan ini akan reda besok siang!" tambah shikamaru yang baru saja muncul bersama kiba. Naruto dan Sakura langsung menoleh.
" tapi prakiraan cuaca mengatakan hujan ini berlangsung selama 2 hari!" bantah Sakura, yang tak pernah suka dengan pendapat Shikamaru.
"eh benarkah?! tapi Shika kenapa kau bisa tau baru besok siang akan reda?! tidak 2 hari?!" tanya Naruto
" kau itu jangan terlalu percaya teori - teori Shika yang kadang sulit dimengerti itu!" tambah Sakura, Kiba sudah biasa mendengar perdebatan seperti ini.
" Shika sudahlah! terlalu merepotkan berdebat terus bukan?!" Kiba melerai
" itu terserah kau saja! sebenarnya kalau kalian bisa merasakan pergerakan angin pergantian musim, mereka bergerak dan menerbangkan awan lebih cepat kali ini. kalian lihat awan itu!" Shikamaru menunjuk langit, dan semua memperhatikan." Itu awan nimbus, angin menggerakan mereka dengan teratur. Jika bisa di hitung kecepatan rata – rata angin itu akan merendah sampai besok!"
Naruto dan Kiba hanya ternganga mendengar penjelasan Shika yang panjang, mungkin mereka tidak mengerti. (authorpun juga)
"itu mutlak hanya teorimu sendiri shika...! tapi kita tidak akan tau kapan hujan ini akan berhenti! Yang pasti hari ini hujan deras akan terus turun!" Sakura membuka payung pink – nya.
"itu terserah kau! wanita memang sangat merepotkan!"
" hhh... kau pikir kau tidak menyusahkan! penjelasan aneh yang kau ucapkan selalu menyebalkan di telingaku!" Sakura berbalik badan
NAruto dan Kiba merasakan aura kebencian yang tidak enak. Kiba harus melakukan sesuatu sebelum Shikamaru melawan sangkalan - sangkalan Sakura yang menyebalkan itu.
" hei Sakura, kau kan membawa payung, ajak saja Naru pulang bersamamu! Rumah Kalian kan searah! kalian bisa menggunakan payung itu" pinta Kiba
" eh ?!" naruto jadi kikuk
" eh ?! maksudmu aku dan naruto berjalan bersama di bawah payung yang sama?!" tanya Sakura menegaskan
" tentu saja!" jawab Kiba, sementara shika sedang memandang dengan malas wajah Sakura, yang tampak menghina Naruto dengan pertanyaan yang seharusnya semua orang sudah tau jawabannya.
CKKKKIIIIIT
Sebuah mobil mewah berhenti, dan menurukan kaca mobilnya
" Kalian semua belum pulang?!"
Sakura dan Naruto kaget mendengar suara Sasuke.
" Sasuke-kun?!" Sakura bereaksi
" kalian semua bisa pulang bersamaku! Naiklah!" ajak Sasuke kepada seluruh temannya yang ada disitu
BRUK
BLAM
Naruto dilempar payung oleh Sakura, dan Sakura masuk ke dalam mobil Sasuke sendirian, mendahului teman – temannya. Lalu sesegera mungkin menutup kaca dan mengunci pintu mobil.
" hei tunggu! Sasuke bilang kita pulang bersama!" Kiba menagih janji
Seakan tak ingin kehilangan kesempatan, sakura tak mempedulikan teriakan Kiba, dan menghalangi Sasuke agar bisa kontak dengan Kiba.
" ayo sasuke kita pulang! Kau mengajak pulang bersama bukan?! Kau sudah tau bukan shika dan kiba sepasang kekasih, akan lebih baik jika biarkan mereka pulang bersama. Sementara naruto, dia sudah ku pinjami payungku dia bilang mau pergi dulu ke suatu tempat sendirian!" Sakura tersenyum sangat manis.
" sendirian?!" Sasuke agak terpukul dengan ekspresi tenang yang masih terjaga. Naruto hanya ingin sendiri sekarang, tidak ada kesempatan untuk mendekatinya sekarang.
"benar! Kita tidak bisa mengganggu orang yang butuh waktu sendiri bukan?!"
Sasuke tidak bisa menyangkal Sakura, dan dia kembali pasrah harus di paksa mengantarkan pulang. Dia tidak punya alasan kuat untuk menyangkal Sakura. Apalagi menyangkal naruto yang ingin pergi sendiri. SENDIRIAN.
Sasuke memutar mobil, dan melaju sambil melihat bayangan Naruto yang sendu dari spion depan yang sedang memegang payung pink basah karena hujan.
Mobil Sasuke sudah menghilang, Naruto menunduk kearah payung yang ada di tangannya.
" naruto...!" Kiba merasakan Naruto sedang sakit hati, tapi Shika menahannya agar tidak mengganggu Naruto terlebih dahulu, Shika menggelengkan kepalanya sementara Kiba terkejut dan segera mengerti maksud Shikamaru.
" kalian pulanglah dulu...!"
Kiba dan Shikamaru dengan hati yang berat meninggalkan Naruto, tinggalah Naruto seorang.
"sendiri..."
Harus bagaimana lagi, jika orang yang kita sukai tiba – tiba diajak pergi orang lain yang mungkin memang lebih layak untuk orang yang kita sukai. Kita bisa apa lagi?! Walau sakit, pasti kita tidak bisa menghentikannya. Bahkan tidak boleh, karena kebahagiaan orang kita sukai itu lebih penting.
Lebih penting
Sangat penting
Jika lebih lama lagi bersama kita, tentu orang yang kita sukai akan lebih menderita...
Naruto merasakan hal ini terpaku, seakan ada pasak yang tertanam dalam, dalam sekali ke hatinya. Rasa sesak dan ketidak berdayaan ini begitu mencekik.
" aku harus bagaimana?!" batin naruto bergolak
" mana mungkin aku menghalangi Sakura! Mana mungkin aku meminta padamu sesuatu hal yang besar, padahal aku sendiri bukan siapa - siapa... ! aku hanya orang yang menyuakimu secara sepihak!"
" Sasuke ...!"
Tes
Tes
Tes
Air mata naruto tidak bisa terbendung lagi. Mungkin dia cemburu, tapi dia juga sangat sedih dengan keadaannya sebagai laki - laki. Kondisinya sebagai anak yatim piatu dari keluarga sederhana, bahkan menengah ke bawah yang mencintai pemuda terpandang.
" sasuke ...!"
" kau tiba – tiba muncul di depanku, tampak begitu indah dan begitu cepat pula perasaan sukaku muncul. Tapi kenapa aku harus menyukaimu...! kenapa dari sekian manusia hanya kau yang memkat hatiku! Begitu banyak wanita cantik, hanya kau ...!"
" kau ...!"
" kau yang seorang pemuda tampan ... juga sangat baik hati ...! secara perlahan tertanam dalam hatiku..."
" kau ...!"
WUUUUS
Angin berhembus begitu kencang, hingga membuat rambut hitam Sasuke bergerak mengikuti hembusan angin yang seakan membisikan sesuatu ke telinganya. Dia segera berbalik dan merasakan sesuatu.
" Sasuke cepat turun! Katanya kau mau makan bersamaku, di cafe ini makanannya enak – enak!" Ajak Sakura yang sudah turun dari mobil dan mengajak Sasuke segera turun.
" maaf Sakura, aku tidak lapar...!"
Sasuke menaikan kaca mobil, dan melajukan mobilnya meninggalkan Sakura.
" hei Sasuke!"
Bergegas Sasuke kembali menuju sekolah, sesampainya di sekolah dia tak mendapati siapapun ada disana, hanya sebuah payung terbalik di beranda pintu utama gedung sekolah. Payung yang basah kuyup diterpa hujan yang enggan reda.
Sasuke berjalan perlahan mendekati payung itu. Perlahan memungut payung itu dan merasakan sisa – sisa pegangan Naruto yang mungkin bisa dia rasakan. Menunduk dan merasakan dirinya yang sedikit kecewa, andai saja tadi dia menolak Sakura terang – terangan, naruto tak perlu memaksakan pulang sendiri, bahkan dia meninggalkan payung yang seharusnya dia pakai agar tidak terkena hujan.
" apa dia akan baik – baik saja?! Tadi pagi dia juga hujan – hujanan...!"
" dasar Dobe...!" Sasuke jadi tersenyum geli dan agak sedih
" yah... memang anak itu sedikit bodoh!"
" hanya dia yang bisa membuatku sedih dan tertawa dasar...!"
...
.
.
.
...
DOBE...
" HACHHHIIIIIII"
"HACHHHIIIII"
" HACHIIUUUUU...!"
" naruto kau benar – benar masuk angin...!" kata sang kakek sambil mengompres cucunya dengan air hangat
" HHHHAAACHHHIII... !"
" bahkan mungkin kau flu...!"
" tidak ... aku baik – baik saja! Kakek sudah mengompresku, panasnya akan segera turun...!"
" baiklah aku akan ambilkan makan! Setelah itu kau harus segera tidur!"
" tidak perlu ... aku akan langsung tidur saja...! kakek segera istirahat juga ya ...!"
Sang kakek hanya bisa tersenyum, lalu meninggalkan cucunya sendiri. Naruto memandangi foto kedua orang tuanya dengan seksama.
" ibu ... Ayah ... malam ini hujan ... benar – benar dingin... lebih baik aku cepat tidur."
...
.
.
.
.
...
Pagi – pagi sekali di SMU Konoha bahkan belum banyak siswa yang datang, Naruto yang sudah lebih baikan daripada semalam juga sudah berada di sekolah, lalu dia sempatkan diri melihat papan pengumuman. Naruto melihat dan memperhatikan satu lembar pengumuman baru tertera disana.
"mmm … akan ada perayaan ulang tahun sekolah ya …, setiap kelas harus menampilkan pertunjukan seni, dan mengadakan bazaar … wah lumayan berat juga ya.., akan diselenggarakan 2 minggu lagi?! Hah What?!" Naruto histeris
" mmmm …!." Tiba – tiba seseorang berdiri dibelakang Naruto, dan melihat dengan teliti pengumuman yang dibaca Naruto. " apa ini ?!"
" eh?! " Naruto agak kaget saat punggungnya menyentuh dada orang itu
" hai … selamat pagi …..! " orang itu menyapa Naruto
" P a – pa …. Sel ….!" Naruto sangat deg – degan saat tau orang itu Sasuke, wajahnya memerah seperti kepiting rebus.
" ini bukan 2 minggu lagi Naru …, acaranya diselenggarakan 1 bulan lagi, 2 minggu ini paling lambat mendaftarkan diri ke panitia…!" Sasuke sedikit tersenyum pada Sasuke, .Sasuke kaget karena Naruto mematung, dan wajahnya memerah sekali.
"Kau tidak apa – apa? Apa kau demam ?!" tanya Sasuke sambil menghadapkan wajahnya ke wajah Naruto.
" PER...MISI ….!"
Naruto langsung kabur saat wajah Sasuke kian mendekat, Sasuke ditinggal begitu saja
" Eh?! " Sasuke sampai terjatuh, dan hanya bengong kaget melihat Naruto yang kabur, kacamatanyapun miring. Segera dia bangun dan tersenyum, berpikir ada apa dengan naruto.
...
.
.
...
BRUGHT
Karena tidak memperhatikan jalan, Naruto menabrak seseorang.
" maafkan aku!"
Orang ditabrak Naruto itu, tak langsung saja menjawab. Dia memperhatikan Naruto yang berusaha berdiri. Memperhatikan rambutnya yang bergerak lembut tersapu angin, rambut pirang keemasan milik Naruto, mata shapirenya, kulit tan-nya yang eksotis membuat pandangan mata orang itu tak berkedip, Naruto sangat mempesona pikirnya.
" Kau tidak apa – apa?" Naruto mengulurkan tangannya untuk menolong orang itu
" tidak apa – apa ? namaku Yahiko… kelas 3 – 1, kau?!" kata laki – laki yang baru saja dibantu berdiri oleh Naruto
" a – aku Uzumaki Naruto …!"
" baiklah akan aku ingat, aku duluan!" laki – laki itu langsung pergi
...
.
.
.
...
NAruto kembali ke kelas, saat sampai pintu kelas, dia melihat beberapa siswi sedang bergosip dan mengerumuni Sakura, dan tampak Ino sangat kesal dan kembali ke bangkunya dengan sebelumnya menyapa Naruto.
Tidak memerlukan waktu lama untuk mengetahui apa yang membuat Ino sangat kesal. Ino benar - benar sangat kesal dengan kesombongan Sakura, Hinata dengan setia menenangkan temannya ini. dengan suara agak keras sakura memamerkan foto – foto Sasuke pada waktu kerja kelompok waktu itu dan saat mereka pulang kemarin yang ada di ponselnya, dan beberapa foto yang menunjukan kedekatan mereka, tak lupa Sakura juga menceritakan kalau dia diantar Sasuke pulang dan rencana mereka makan siang di sebuah cafe.
Mendengar kalimat mengantar pulang saja membuat Naruto tercekat, apalagi saat makan siang di cafe. walaupun dia mengetahui hal itu memang kenyataan yang terjadi kemarin tapi entah kenapa dia merasakan sesuatu yang menyakitkan. Dan sebenarnya Naruto tau kalau Sasuke memang dipaksa Sakura untuk mengantarnya pulang.
"hhhh... semua jadi semakin rumit...!" batin Naruto
Naruto kembali ke tempat duduknya dengan tubuh yang tidak enak lagi. Sesaat kemudian ke dua pasangan stoic memasuki ruang kelas, suara gemuruh yang biasa didengar Naruto sama sekali tidak membuat Naruto kaget dan panasaran. Dengan malas dia melihat ke arah pintu, dia melihat Sai dengan senyum manisnya memasuki kelas. Sementara sepupu Sai yang disampingnya sama sekali tanpa senyuman, dan masuk dengan mata tertutup, entah kenapa Naruto ingin berlama – lama memandang mata yang masih tertutup.
Perlahan – lahan kelopak mata Sasuke terbuka, dan mata indah sehitam malam itu terbuka. Mata biru Naruto yang memandangnya sedikit terbelalak, dan terbuai masuk dalam pesona mata malam itu. Tiba – tiba pupil mata Sasuke menemukan mata yang mengawasinya, memandang mata itu dengan hati – hati dan tersenyum. Naruto tercekat dan agak kaget dengan senyuman Sasuke dan baru sadar bahwa mereka bertemu mata dan saling berpandangan. Hal itu mampu membuat Naruto langsung berdegup kencang, bahkan sangat kencang, suhu badannya juga naik.
" kau tidak apa – apa Naruto ?" tanya sai yang sudah dihadapannya
" ti – tidak …! " jawab Naruto, dia merasakan kepalanya berndenyut – denyut sakit, suhu tubuhnya sangat naik. Pipinya memerah sekali kepalanya bertambah sakit. merasakan panas yang mendadak itu.
" sudah Sai jangan ganggu dia …!" kata Sasuke agak dingin
Sai langsung duduk ditempat duduknya, dan dikerumuni beberapa siswi. Ada beberapa siswi yang ingin mengkonfirmasi cerita Sakura, tapi kelihatannya agak sungkan untuk mendekati Sasuke.
Sementara Naruto masih meremas dadanya dan agak bingung dengan keadaannya kali ini, tidak seperti biasanya berdegup sangat kencang seperti sekarang bahkan kepalanya sakit, dan tubuhnya juga terasa sangat panas, saat sesekali melihat Sasuke dan teringat dengan kejadian tadi di papan pengumuman, napasnyapun tersengal – sengal.
BRUK
...
.
.
.
...
Naruto berusaha membuka matanya, terasa sangat berat. Dia merasakan ada tangan besar dan hangat menyentuh pipinya, tangan yang begitu lembut dan wangi, sungguh nyaman. Dia juga merasakan ada sentuhan ujung hidung yang lembut di keningnya, ada hembusan napas hangat, lalu matanya terbuka sempurna. Dia kaget dan tak percaya apa yang dia lihat.
" kau sudah bagun …?!" sasuke memundurkan kepalanya dan mengangkat wajahnya serta kembali duduk.
" a – aku dimana? "Tanya Naruto yang shock
" di UKS…!" Sasuke berdiri " karena kau sudah sadar aku kembali ke kelas!" Sasuke pergi
Naruto memandang punggung Sasuke yang begitu lebar pergi dan menutup pintu UKS. Naruto hampir tak menyangka apa yang sudah terjadi padanya, apakah Sasuke tadi mau menciumnya. Tapi apapun itu dia harap bukan mencium atau semacamnya, dia tidak ingin berharap terlalu tinggi, wajah sendu kembali menghampiri Naruto. Selang beberapa menit Sasuke pergi beberapa temannya datang dan menanyakan kabar Naruto.
...
.
.
.
...
Jam pulang sekolah, seluruh siswa berhamburan untuk pulang sekolah, begitu pula Naruto. Dan shikamaru benar, siang ini hujan sudah reda, Naruto memuji kemampuan shikamaru. Dia pulang sendiri hari ini, di halaman sekolah langkahnya terhenti saat seseorang memanggilnya, dia berbalik dan orang yang menyapanya adalah orang yang dia tabrak tadi pagi.
" kudengar kau tadi pingsan? Apakah kau tidak sehat?!" Yahiko tiba – tiba bertanya pada Naruto, dan Naruto heran kenapa dia bisa tau.
" bagaiman Senpai tau hal itu?"
" yah kau bisa menganggap kabar itu di bawa angin dan apakah itu benar? " tanya Yahiko lagi
"hehehehe ...! iya benar …!" jawab Naruto sambil meringis
" mungkin kerena kau sempat kehujanan!" Yahiko seakan tau Naruto kehujanan kemarin.
"Eh?!"
Naruto jadi tambah kaget kenapa dia juga tau hal itu. (Tentu saja orang yang cerdas akan berpikir seperti ini karena semua orang tau, hujan turun dengan lebatnya kemarin)
"hari ini kau pulang sendiri Naruto ? bolehkah aku mengantarmu pulang? "Yahiko menawarkan diri untuk mengantar Naruto pulang.
Naruto sangat terkejut dengan tawaran pria tampan didepannya, dia bingung harus menjawab apa. Disaat kebingungannya itulah, dia melihat sosok Sasuke yang tengah memandang Naruto dengan tegas diantara kerumunan gadis - gadis. Mata onyxnya menatap tajam Naruto, dan mengawasi seluruh tindakan yang dilakukan Yahiko pada Naruto.
" Naruto kau tidak apa – apa ? kau kelihatan pucat?" Tanya Yahiko penuh perhatian
" a – a …?!" Naruto sangat bingung dia harus bagaimana, dia ingin sekali pulang diantar seseorang, tapi akan lebih baik jika orang itu Sasuke, dan ide yang buruk jika menerima tawaran Yahiko, ini bisa merenggangkan hubungan Sasuke dan Naruto. Tapi dilain pihak, Naruto tak ada jaminan hubungannya dengan Sasuke akan berkembang jika dia menolak tawaran Yahiko.
WUUUS
Sasuke berpapasan dengan Naruto dan meninggalkan Naruto tanpa menyapanya sama sekali. Seketika itu pula hati Naruto hancur, ingin sekali menangis. tubuh Naruto sudah bergetar, meski sisi lain dirinya mungkin ini jawaban yang tepat.
" Naruto kau tidak apa - apa.?!" Yahiko benar – benar khawatir dengan berani memegang lengan Naruto untuk memeapahnya.
DEG
Naruto kaget karena ada tarikan kuat dari belakangnnya, yang membuat peganggan Yahiko pada lengan Naruto terlepas. Sasuke menarik Naruto dan mendekapnya, tidak hanya Yahiko yang terkejut, semua siswa yang ada disana sangat histeris melihat pujaan mereka mendekap Naruto, Sasuke menatap Yahiko penuh tantangan, sesegera mungkin Sasuke membawa pergi Naruto.
Sesampainya di tempat parkir, Sasuke melepaskan genggaman tangannya pada tangan Naruto.
" untuk kali ini kau tak boleh menolak ajakanku!" dengan tegas Sasuke langsung memasukan NAruto ke dalam mobil, pintupun di tutup.
Sasuke masuk ke dalam mobil dan memasang sabuk pengaman.
" maaf jika aku sudah memaksamu seperti ini!" dia memasangkan sabuk pengaman untuk Naruto yang masih terbengong dan tak mampu menolak Sasuke.
" ku kira tadi Yahiko menyakitimu, dan ku dengar dia mengatakan kau pucat, ku pikir sesuatu terjadi diantara kalian atau malah kau mau pingsan lagi …!" lanjut Sasuke dan menyalakan mesin mobil
" eh …!" Naruto sangat heran kenapa Sasuke bisa berpikir sedemikan banyak, dia kira Sasuke akan meninggalkannya tadi.
" mari aku antar pulang?! " sasuke mengulurkan tangannya.
Naruto sangat terkejut dengan tindakan Sasuke, dia ingin sekali berharap ini adalah jalan untuk dekat dengannya. Dia kembali menguatkan dirinya dan memalingkan wajahnya, agar hasratnya tidak meningkat, namun sulit sekali. Sasuke masih mengulurkan tangannya, membuat Naruto memerah.
" baiklah!" Naruto memegang pergelangan tangan Sasuke.
Membuat Sasuke merasa lega karena tangannya di sambut. Tapi itu tak lama, saat Sasuke sadar tangannya ada di kemudi. Ternyata Naruto tidak menyambut tangan Sasuke, dia hanya mengalihkan tangan Sasuke agar memegang kemudi. Wajah Naruto sama sekali tidak memandang Sasuke. Sasuke hanya tersenyum, menganggap ini respon malu – malu dari Naruto.
Sasuke segera melajukan mobilnya keluar dari halaman sekolah, hembusan angin mengantarkan kepergian mereka.
...
.
.
...
Langit sore sangat indah, apalagi jika di pandang dari balkon menshion mewah sang Uchiha. Sasuke duduk memandang langit jingga yang hangat dan menentramkan, tanpa kacamata. Dia sangat terlena hingga sedikit melamun.
" langit sore yang indah...!" Sai tiba – tiba muncul dan membuyarkan lamunan Sasuke.
" kenapa kau masih di rumah! Bukankah kau harusnya keluar dengan Neji?!" tanya Sasuke
" dia dalam perjalanan kesini, dia akan memasak makan malam yang enak disini! Kau ingin di masakan apa?!" Sai memberikan air minum pada Sasuke
" Neji benar – benar tau cara memuaskan dirimu!"
" hehehe..., dia memang sangat terampil...!" Sai meneguk minumannya.
" Sasuke... lalu bagaimana dengan hubungan kalian?! "
" eh?!"
" buku itu akan segera selesai, aku harap hubungan kalian ada kemajuan, tapi jika aku lihat kenapa Naru sedikit jadi pemikir jika dekat denganmu." Tambah Sai
" maksudmu?!"
" hnnn... kau tentu tau maksudku." Timpal Sai
" dasar mata – mata!" sanggah Sasuke
" hnnnnhhh... memang sepertinya banyak hal yang dia pikirkan saat dekat denganku, sedikit menghindariku juga!" tambah Sasuke
" memang apa saja yang sudah kau lakukan hingga dia bisa seperti itu?!" tanya Sai
" kemarin pagi dia menolak ajakanku untuk berangkat bersama, dia langsung kabur. Padahal hujan sangat deras, dan dia basah kuyup, lalu siangnya dia juga menolak, hingga aku harus memaksanya hari ini!" Sasuke tampak berpikir
" sungguh Unik...! "tambah Sasuke
" tapi kenapa dia jadi begitu?!" sai juga berpikir
" hnnn... kenapa ya?!"
"itu karena dia laki – laki!" Neji tiba – tiba saja muncul dan sedang bersandar pada tembok dekat dengan jendela geser menuju balkon.
" eh ?!" Sai dan Sasuke sangat kaget
" kau sudah datang?!" Sai masih terkejut
" kalian pikir apa lagi yang bisa membuat Naruto mengindar terus?!" tambah Neji dan berjalan mendekat pada Sai dan Sasuke.
" laki – laki ...?!" Sai bertanya dan Sasuke tampak berpikir keras memahami maksud Neji
Neji memandang Sasuke, lalu mengangat wajah Sasuke agar lebih dekat dengan wajahnya.
" lihat aku! Kita ini sama – sama pria kau ingat?!"
"hnnn...!" Sasuke langsung mundur dan mengerti maksud Neji dan pergi menjauh
" Sasuke! dia itu special! lakukan yang terbaik untuk mendapatkannya!" Tambah Sai
"hnnn..!" jawab Sasuke sambil melambaikan tangan.
Sasuke masuk kamarnya, dan merenungi perkataan Neji. Sekali lagi dia mengambil gambar buatan Sai, dan memperhatikan sosok Naruto yang ada di gambar itu.
" Naruto...!"
...
...
...
Sementara itu hari di rumah sederhana Naruto. Tepatnya di kamar sederhana milik Naruto, dia tengah terduduk di tepi tempat tidurnya, memandangi tangannya yang sempat di genggam Sasuke tadi.
" Sasuke …!"
" kau semakin membuatku bingung Sasuke !" mengambil figura dan berjalan menuju jendela
" Ayah ... Ibu ... aku harus bagaimana?!"
" sejak 4 bulan yang lalu kau menyita perhatianku! Kau membuatku sesak!"
" aku tak bisa melanjutkan perasaan ini, semua ini tidak benar!" hatinya sungguh sakit
" haruskah aku membunuh perasaan ini?!"
...
.
.
...
TBC
Terima kasih sudah membaca chapter ini...
Masih belum begitu klimaks ya ...?!
Maaf...
Aku akan lanjutan fic ini hingga tamat! Aku akan berusaha!
Mohon dukungannya teman – teman!
Mohon maaf karena selalu merepotkan!
R&R Please...!
