Yo minna.

Saya kembali dengan chap 2 hehehe. Langsung bales ripiuw aja deh.

Bronze : Baca aja chap ini. Siapa tahu Gaara nongol heheh

Hanazono: udah nih heheh

Sakura Hanami: yang penabrak mobil cuman buat penambah runyam doang. Hehe dan karena yang nabrak Saku itu, SasuSaku harus nerselisih paham. Hehe.

Mikodesu: emang dari awal saya niatin pair GaaSaku. Soalnya Gaara lebih cocok mainin peran angst. *di sabaku kyou Gaara*

Fauziozora: Aduh pennamemu susah banget ~_~. Salam kenal juga hehe. Aa makasih udah mau nungguin hehe. Fauzi-san aja ga rela apa lagi saya yang buat pair SasoIno. Saya sebenernya juga gak rela Saso yang imut-imut sama Ino. Huaaaaa *pundung*

Poo: Huaaa saya juga ga rela. Tapi kemaren Saso udah izin ko sama saya buat mainin peran ini. Katanya dia minta maap gara2udah ngikutin kissing scenenya sama Ino. Tapi dia malah ketagihan katanya #Abaikan.

Berhubung yang reviuw Cuma segitu, saya langsung mempersilahkan minna buat baca fic nista ini. Oke. Cekidot.


Our Love

Chapter 2

.

Dua bulan kemudian..

Sakura masih duduk dengan setengah terbaring di ranjang pasien rumah sakit. Selain kedua kakinya, seluruh bagian tubuhnya berangsur pulih dan normal. Bagian tulang selangkanya pun juga sudah membaik dan hanya meninggalkan sedikit rasa sakit jika ditekan.

Jujur saja, semenjak kecelakan dua bulan yang lalu, kehidupan Sakura sedikit berubah. Ia menjadi sering melamun. Tatapan matanya teramat sangat kosong seperti tidak ada kehidupan dalam tubuh mungil itu. Sakura masih dan selalu bertanya-tanya dalam hatinya, kenapa sampai saat ini kakinya masih belum bisa digerakkan. Bahkan untuk menggerakkan jempolnya pun tidak bisa. Terlebih lututnya yang nyeri bila di gerakkan.

Yang ia dengar langsung dari Tsunade, tempurung lutut kirinya pecah sehingga membuatnya sangat nyeri bila di gerakkan. Dan mungkin hal itulah juga yang membuatnya hingga saat ini tidak bisa menggerakkan kakinya.

Tapi tiap kali ia menanyakan hal itu pada Sasori, Sasuke dan sahabat-sahabatnya, mereka selalu menjawab kalau itu hanya dampak dari kecelakaan hebat yang dialaminya. Sakura juga selalu mencoba menerima kenyataan yang dikatakan Sasori karena ia percaya kalau Sasori tidak akan membohonginya dan juga ia tahu kalau Sasori itu calon dokter muda.

Saat ini Sakura tengah ditemani oleh Sasori yang sedang mengambil cuti untuk kuliahnya dikarenakan ia harus menjaga Sakura. Beberapa potong apel sudah ia potongkan dan siap untuk disantap. Kalau boleh jujur, sebenarnya Sasori ingin sekali mengatakan hal yang sebenarnya pada Sakura. Tapi ragu selalu menyelimuti hatinya. Ia sangat tidak tega melihat sedikit demi sedikit keceriaan yang adik semata wayangnya bangun dalam beberapa hari ini pasca kecelakaan harus kembali pergi saat ia mengatakan hal yang sebenarnya. Biarlah Sakura mengetahui sendiri tentang kakinya, batin Sasori.

Drrt..Drrt..Drrt

Suara deringan ponsel milik Sasori terdengar nyaring diruangan megah yang sepi itu. Sasori dengan gerakan sedikit lambat mengambil ponselnya yang ada di atas laci meja. Setelah membaca isinya, wajahnya sedikit menegang lalu terlihat seperti menghela nafas lega dengan senyum yang terpampang manis di wajah imutnya.

"Ada apa?" tanya Sakura.

"Oh ini, orang yang menabrakmu sudah ditemukan. Ternyata dia bukan hanya mabuk, tapi remnya jebol," imbuh Sasori.

"Syukurlah," ucap Sakura lega. Sungguh hatinya merasa sangat lega mengetahui orang yang tidak bertanggung jawab menabraknya kini sudah tertangkap dan Sakura berharap kalau pengendara mobil itu mendapakan hukuman yang setimpal mengingat pengemudi itu sudah kabur dari tanggung jawabnya.

Sesaat setelah memberitahu Sakura, Sasori segera meletakkan pisau yang dari tadi masih di genggamnya lalu mengambil jaket hitamnya dengan motif awan merah.

"Loh, nii-san mau kemana?" tanya Sakura.

"Aku mau ke kantor polisi untuk melihat siapa orang yang berani membuat adikku dirawat disini," ujar Sasori dengan senyum manisnya sambil mengelus mahkota merah muda milik Sakura.

"Ya sudah, hati-hati di jalan,". Sasori menganggukkan kepala lalu mengecup singkat kening Sakura. "Jaa,"

BLAM

Sakura menghela nafas berat. Lagi-lagi aku sendirian, pikirnya. Ingin sekali ia ditemani oleh keempat sahabatnya. Ino, Kiba, Hinata dan juga si super heboh Naruto. Tapi pasti saat ini mereka tengah kuliah. Dan sekali lagi Sakura menghela nafas. Kamar ini begitu sepi semenjak kepergian Sasori ke kantor polisi. Ia ingin mengambil remot tv dan juga apel tapi terlalu jauh letaknya untuk dijangkau. Sakura malah merutuki Sasori yang menaruh apel dan remot itu jauh dari dirinya. Seperti tidak niat menjaganya saja.

Lalu sebuah pemikiran sederhana terlintas di otak jeniusnya. Dengan senyum yang berkembang, Ia memencet tombol pasien yang ada di dinding belakang atas ranjangnya dan tidak lama kemudian muncullah seorang suster berambut hitam sebahu yang diketahui bernama Shizune.

"Ada apa nona Sakura?" tanya Shizune ramah.

"Ano.. aku bosan dikamar terus. Bisakah kau menemaniku untuk berkeliling rumah sakit ini?" tanya Sakura penuh harap.

Shizune tersenyum. "Tentu. Kalau begitu saya izin keluar untuk mengambil kursi roda dulu,"

"Tunggu," henti Sakura. Shizune yang baru saja menggapai handle pintu menoleh dengan wajah bingungnya. "Boleh aku minta tolong lagi, Shizune-san? Tolong ambilkan ponselku di sofa itu," pinta Sakura tidak enak.

Shizune sekali lagi mengangguk dan terkekeh geli melihat wajah tersipu milik Sakura yang dianggapnya sangat manis itu. Ia mengambilkan ponsel Sakura di sofa lalu beranjak pergi dari kamar Sakura untuk mengambil kursi roda tanpa menutup pintu lebih dulu.

Sakura menunggu cukup lama untuk kedatangan Shizune yang hanya mengambil sebuah kursi roda. Dialihkan pandangannya dari jendela menuju pintu yang terbuka berharap sosok Shizune muncul. Namun bukannya Shizune yang muncul, Ia malah melihat seorang pemuda tampan berambut merah membara acak-acakkan yang berjalan melewati kamar Sakura dengan wajah datar juga tangan yang bersidekap. Tatapan matanya lurus dan jika Sakura tidak salah lihat di dahi kirinya terdapat sebuah tato berwarna merah juga lingkaran hitam yang mengelilingi matanya. Membuat sepasang mata itu terlihat lebih tajam dari seharusnya.

Pemuda yang belum diketahui namanya oleh Sakura itu akhirnya menghilang dibalik dinding dan tanpa terasa jantungnya berdetak cepat membuat wajahnya terasa panas dan tanpa diminta memerah seperti tomat kesukaan kekasihnya, Sasuke. Ah, bicara soal Sasuke, hari ini pemuda Uchiha itu tidak bisa menjenguk Sakura karena ia harus menghadiri mata kuliah yang dianggapnya sangat penting itu. Sakura juga tak keberatan. Justru ia malah senang jika Sasuke tidak terlalu memaksakan diri untuk menjaganya.

Sedang asiknya berbengong ria memikirkan pemuda berambut merah juga Sasuke, Sakura sampai tidak sadar kalau Shizune yang sudah sampai dan sedari tadi memanggil namanya dan mengibaskan sebelah tangannya di depan wajah Sakura hingga pemilik rambut gulali itu mengerjapkan matanya.

"Ah, gomen, Shizune-san," ucap Sakura tidak enak setelah kembali ke dunia nyata.

"Tidak apa. Jadi berkeliling?" tawar Shizune.

Sakura mengangguk. Dengan hati-hati Shizune menaruh Sakura dikursi roda itu lalu berjalan menuju taman belakang rumah sakit yang katanya indah itu.

.

Mereka berkeliling taman rumah sakit yang luas nan indah itu. Sesekali Sakura tersenyum melihat anak-anak yang bermain bersama teman ataupun kedua orang tua mereka. Meskipun mereka juga merupakan pasien rawat inap di rumah sakit ini, hal itu tidak membuat mereka kehilangan keceriaan mereka. Malahan dengan wajah polos dan mata bulatnya berlarian dengan lucunya mengitari taman itu.

Shizune memperhatikan setiap ekspresi wajah Sakura yang terkadang berubah itu. Dari mulai senang, berseri, lalu berubah drastis menjadi sendu. Tak ayal membuat Shizune yang masih baru dirumah sakit itu sedikit bingung karenanya.

"Nona Sakura kenapa? Dari tadi saya perhatikan, sepertinya nona dalam mood yang tidak baik," ucap Shizune sopan. Sakura yang masih memperhatikan anak-anak itu bermain menoleh pada Shizune yang kini duduk di bangku taman disampingnya. Senyum yang tidak bisa di artikan oleh Shizune itu terukir cantik diwajah porselennya yang semakin tirus.

"Tidak ada, Shizune-san. Aku hanya sedikit memikirkan tentang kedua kakiku yang tidak bisa merasakan apapun sampai saat ini,"

Shizune menatap iba pada pasiennya. Gadis itu menyiratkan penderitaan yang mendalam karena kedua kainya yang tak kunjung membaik. "Kalaupun aku patah tulang, pasti akan sakit jika digerakkan. Saso-nii dan Tsunade-baasan hanya bilang kalau tempurung lutut kaki kiriku pecah dan itupun sudah dioperasi dan digantikan dengan tempurung lutut buatan,"

"Seharusnya kalau patah tulang memang membaik dalam kurun waktu dua bulan. Tapi berbeda kasusnya mungkin bisa diasumsikan kalau Sakura-san lumpuh. Itu yang kudengar dari Tsunade-san," gumam Shizune pelan yang sayangnya dapat di dengar dengan teramat sangat baik oleh Sakura.

"Apa kau bilang?" tanya Sakura tajam.

Poor Shizune. Ia bahkan tidak tahu kalau Sakura belum mengetahui perihal kelumpuhan kakinya. Gugup langsung menguasai hati kecilnya yang dirundung rasa bersalah.

"S-saya tidak me–,"

"Bohong! Tadi aku mendengarnya! Aku lumpuh, iya kan?!" bentak Sakura.

Shizune tidak tahu harus bagaimana lagi. Sungguh, kali ini ia sangat merutuki dirinya sebagai seorang suster karena telah bergumam disembarang tempat. Terlebih pasiennya ini tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya dan juga merupakan kerabat dekat Tsunade. Habislah ia dimakan oleh wanita berdada besar tersebut.

"Maaf, Sakura-san," ujar Shizune sambil menunduk. Air mata Sakura langsung menganak sungai. Hatinya tercabik oleh ribuan pisau yang menghujam jantung juga hatinya. Kenyataan baru yang pahit hadir di masa mudanya dan terus hingga masa depannya.

Gadis itu menggeleng tidak percaya. Air matanya tumpah tanpa suara dan bibirnya terbuka seperti hendak mengatakan sesuatu namun mulutnya terasa seperti tercekat. Dijambaknya rambutnya frustasi.

"Tidak! Aku tidak lumpuh! Aku tidak lumpuh! AKU TIDAK LUMPUH! KYAAAAA!" teriak Sakura dengan sangat kencang sambil menjambak helaian softpink miliknya membuat semua orang yang ada ditaman itu menoleh padanya. Anak-anak yang tadinya asik bermain berhenti di tempat dengan wajah polos mereka yang mengernyit heran. Bahkan salah satu diantara mereka yang masih berlari menabrak punggung temannya yang melihat Sakura menangis hingga terjatuh dengan posisi terduduk.

"Tenanglah Sakura-san," ucap Shizune sambil memegangi Sakura agar tidak jatuh dari kursi roda. Namun sayang, kekuatan seseorang yang tengah dilanda emosi ternyata lebih besar dari pada biasanya, tidak perduli laki-laki maupun perempuan dan hal itu sukses membuat Shizune terjatuh.

"Aku tidak lumpuh Shizune-san. Aku tidak mau lumpuh!" teriak Sakura sambil menangis sejadi-jadinya.

Shizune segera berdiri dan kembali memegangi Sakura yang masih histeris tanpa tahu tempat. Jujur, hatinya terasa pilu mendengar tangisan Sakura yang melengking dan meledak seperti orang yang kerasukan. Ia juga bingung harus melakukan apa dan akhirnya tanpa pikir panjang ia memeluk Sakura guna meredam tangisannya.

"Maaf, Sakura-san. Aku tidak tahu kalau nona belum mengetahuinya. Maaf. Saya benar-benar minta maaf," ucap Shizune berkali-kali. Tapi permintaan maaf Shizune seolah tidak di dengar oleh Sakura yang masih memberontak dalam pelukannya. Tangisan itu semakin menjadi sehingga membuat orang-orang yang berada di dalam rumah sakit –tepatnya lantai bawah– keluar sekedar untuk melihat siapa orang yang membuat gendang telinga mereka seakan ingin pecah.

"Aku tidak mau lumpuh Shizune-san! Tidak mau! Aku tidak cacat!" teriak Sakura dalam pelukan Shizune.

"Te–, Sakura-san!" belum selesai Shizune bicara, ia dikagetkan dengan pingsannya Sakura dalam pelukkannya. Tubuh Sakura menjadi condong kedepan karena tidak bersandar pada kursi rodanya. Suster muda itu kebingungan harus berbuat apa. Membawa Sakura yang pingsan di kursi roda itu hal yang sangat tidak mungkin. Satu yang Shizune lakukan sekarang. Menepuk pelan pipi Sakura berharap agar gadis musim semi itu bisa bangun.

Sedang asik menepuk pipi pasiennya, ia dikejutkan dengan suara berat seorang di belakangnya.

"Ada apa dengan gadis itu?" tanya pemuda itu.

"Dia shock karena baru saja mendengar perihal kedua kakinya yang lumpuh," ucap Shizune panik tanpa menoleh.

"Biar aku yang membawanya," ucap pemuda itu dan akhirnya berhasil membuat Shizune menoleh dan betapa terkejutnya Ia saat mengetahui siapa yang akan menggendong Sakura. Bahkan Ia masih terlalu kaget –entah untuk ketampanan pemuda itu, atau karena Ia anak pemilik rumah sakit ini– hanya untuk sekedar menyebut nama pemuda berambut merah dihadapannya kini.

"Kemana aku harus membawanya?" tanya pemuda itu tenang dan langsung membuyarkan lamunan Shizune sambil menggendong Sakura ala bridal style.

"Ke kamar VVIP di lantai tiga," balasnya. Dengan segera pemuda itu membawa Sakura ke kamar yang ada di lantai tiga dengan Shizune yang berada didepannya untuk menunjukkan jalannya.

Sesampainya di kamar Sakura, pemuda bermata jade itu langsung merebahkan si gadis di ranjang. Sementara Shizune izin pamit untuk memanggil Tsunade. Tadinya pemuda itu ingin segera pergi dari kamar itu mengingat Ia bukanlah siapa-siapa sang gadis. Tapi saat melihat sekeliling tidak ada siapa-siapa di kamar ini akhirnya Ia memutuskan untuk tak bergeming dari tempat itu. Sekalian untuk berjaga-jaga siapa tahu saja gadis ini akan berbuat nekat tanpa sepengetahuan siapapun.

Ia memperhatikan setiap lekukan pahatan Kami-sama yang menurutnya indah dan berbeda dari yang lain. Rambut sewarna dengan bunga musim semi yang lembut terurai hingga pinggang gadis itu. Kulitnya putih pucat seperti porselen. Begitu juga wajah tirusnya yang masih menyisakan jejak-jejak air mata. Menambah kesan sendu pada gadis ini.

Ada getaran lain yang merambat dihatinya saat menatap dengan seksama gadis yang menutup mata itu. Rasa hangat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia merasa gadis ini berbeda dengan gadis yang pernah ditemuinya. Karena setiap Ia berkenalan dengan seorang gadis –lebih tepatnya dipaksa– Ia tidak pernah merasakan getaran seperti yang dialaminya sekarang.

Dan Ia juga merasa seperti pernah mengenal gadis ini.

Cukup lama Ia terdiam sembari menatap gadis yang belum dikenalnya sampai terdengar suara pintu terbuka dan menampakkan sosok Tsunade lengkap dengan wajah khawatirnya. Segera, Tsunade memeriksa kondisi Sakura yang masih pingsan tanpa mengetahui kalau masih ada orang lain diruangan itu yang menatap dengan wajah stoicnya.

Tsunade memeriksa dengan seksama keadaan Sakura. Mulai dari denyut nadi sampai detak jantungnya.

Tak lama kemudian suara pintu kembali terbuka dan muncullah Sasori dengan wajah paniknya.

"Bagaimana keadaan adikku?" tanya Sasori kalut sambil menghampiri Sakura.

"Dia baik-baik saja. Hanya sedikit shock," balas Tsunade sambil menghela nafas. "Kenapa kau belum juga memberi tahunya, Sasori?"

"Aku tidak kuasa untuk mengatakannya. Aku mencari waktu yang tepat agar dia bisa menerimanya dengan baik. Tak kusangka Ia akan mengetahuinya lebih dulu," kata Sasori sambil mengacak kasar rambut merahnya dari belakang ke depan. Disenderkan tubuh lelahnya pada dinding di sampingnya.

"Aku sudah mengatakannya padamu. Seperti apapun keadaannya, kau harus memberitahunya. Kalau sudah begini, aku tidak yakin dia mau memaafkanmu ataupun aku," kata Tsunade.

"Aku tahu itu," kata Sasori sambil menatap Sakura yang masih pingsan. "Semoga saja Sakura tidak membenciku,"

"Aku juga berharp begitu. Oh iya, kemana orang tuamu?"

"Mereka sedang dalam perjalanan kemari. Mungkin satu jam lagi akan segera sampai," balas Sasori.

"Sou ka," jeda Tsunade ."Bilang pada orang tuamu agar keruanganku setelah mereka sampai. Ada yang ingin aku bicarakan dengan mereka,"

Sasori mengangguk sebagai balasan tanpa melihat Tsunade. Hazel sayunya yang biasanya mengerling nakal kini meredup saat melihat kondisi adik tercintanya yang sangat mengiris hati.

"Kalau begitu aku permisi dulu," kata Tsunade. "Kalau terjadi sesuatu cepat panggil aku,"

Dokter pemilik mata karamel itu berjalan menuju pintu yang terbuka dengan pandangan menunduk sambil memijit pelan batang hidungnya, sehingga Ia tidak menyadari orang lain yang sedari tadi masih berdiri sambil bersandar pada dinding dan kedua tangannya dimasukkan dalam celana.

Lagi, hening melanda. Sasori yang masih asik dengan pikirannya sendiri masih saja tidak menyadari aura seorang pemuda yang ada di dekat pintu sampai akhirnya pemuda itu tersenyum sangat tipis di wajah tampannya dan mengatakan sesuatu yang membuat Sasori kembali ke alam nyata dan sedikit terlonjak karena kaget.

"Hisashiburi, Sasori," ucapnya.

Sasori refleks mengangkat kepalanya dan menoleh ke sumber suara. Sedikit membelalakkan matanya saat mengetahui siapa yang memanggil namanya lalu tersenyum.

"Hisashiburi mo.. Gaara," balas Sasori.

.

.

.

TBC


Gimana? Jelekkah? Abalkan? Nah disini Gaara udah muncul. Meski belum full. Saya masih mikirin gimana cara muncullin Gaara tanpa bikin OOC. Susah baget soalnya ngedalemin sifat macam Sasuke dan Gaara yang dinginnya kebangetan.

Akhir kata. Reviuw please?