Title: Hurt Me
Character: Lee Jihoon, Kwon Soonyoung, Jeon Wonwoo, Kim Mingyu
Disclaimer: I don't owned anything except the plot
Summary:
Melukai atau dilukai, itu pilihan untuk semua orang yang berhadapan dengan Lee Jihoon. Berawal dari self-injury, berakhir dengan memintamu untuk melukainya atau dia yang akan melukaimu.
Story Start!
Hurt Me
[Chapter 1: Rash]
Soonyoung piket hari ini, membuatnya pulang lebih akhir bersama tiga teman satu kelasnya. Berkat permainan batu gunting kertas yang membuatnya kalah, dia harus pulang paling akhir karena harus membuang sampah di tempat pembuangan akhir yang ada di belakang gedung sekolah. Dia membawa dua tempat sampah besar di kedua tangannya. Itu berat sebenarnya, tapi Soonyoung terlalu malas bolak-balik TPA-kelas jika harus membawa satu-satu.
"Ah, akhirnya selesai juga!" seru Soonyoung lega karena pekerjaannya memilah sampah antara organik dan nonorganik selesai. Anak-anak benar-benar tak peduli tentang pemisahan sampah. Meski sudah ada dua tempat sampah dengan warna berbeda sebagai tanda bahwa tempat sampah itu juga harus diisi dengan sampah berbeda, nyatanya petugas piket masih harus memisahkan sampah itu ketika sampai di tempat pembuangan. Soonyoung bisa saja tak peduli, tapi dengan konsekuensi membuat semua petugas piket hari itu dari seluruh kelas menjadi petugas piket selama satu bulan. Satu orang membuat kesalahan, banyak orang yang jadi korban. Itulah alasan anak-anak di kelasnya menentukan pembuang sampah ke tempat pembuangan akhir dengan permainan batu gunting kertas, semua orang berusaha untuk menghindarinya. Tapi sepertinya kebijakan itu harus diganti, sudah dua minggu berturut-turut Soonyoung jadi korban.
"Tas siapa itu?" gumaman bernada tanya itu terucap dari bibir Soonyoung ketika melihat sebuah tas punggung berwarna navy blue teronggok di dekat pohon besar tak jauh dari tempatnya berdiri. Tas itu terlihat familier bagi Soonyoung. Tapi entah, dia tak yakin. Untuk itu Soonyoung mendekati tas itu, mungkin saja dia menemukan identitas pemilik tas itu dari barang yang ada di dalamnya. Bisa jadi tas itu milik korban 'kejahilan' murid lain kan?
Belum sempat tangan Soonyoung meraih tas itu, di balik pohon itu Soonyoung menangkap pemandangan sahabatnya yang tengah melukai lengan sosok yang belakangan mencuri atensinya setiap dia melihatnya. Tidak peduli sahabat atau siapa pun, tidak ada yang boleh melukai pujaan hatinya. Soonyoung bergerak cepat menendang tangan yang tengah memegang cutter itu sebelum tangannya mengepal dan melayangkan pukulan di wajah sahabatnya.
"Ya! Kwon sialan, kenapa memukulnya, ha?" Jihoon berteriak marah.
"Dia melukaimu, Jihoon!" Soonyoung balas berteriak. Dalam pikirannya dia mengira Jihoon bodoh karena marah saat Soonyoung berusaha menolong.
"Aku yang meminta," perkataan datar dari Jihoon membuat Soonyoung kesulitan berkata. Otak Soonyoung lambat memproses makna kata-kata Jihoon hingga akhirnya Soonyoung bertanya, "Apa?" setengah tak percaya bahwa Jihoon minta dilukai.
Selagi Soonyoung masih terpaku, Jihoon sudah bangkit berdiri meraih blazer sekolahnya dan juga tasnya. Melangkah meninggalkan dua pemuda seusianya dengan berkata, "Terima kasih, Jeon. Dan Kwon, merusak kesenangan orang itu tidak baik. Sampai jumpa."
Soonyoung hanya memandang kepergian Jihoon dalam diam. Lalu dia berbalik menatap Wonwoo yang masih terduduk. "Apa maksud semua ini? Ya! Wonwoo-ya jelaskan padaku?" Soonyoung menuntut jawaban dari sahabatnya. Dia tak paham dengan keadaan ini. Tapi Soonyoung hanya mendapat keheningan dari Wonwoo dan sahabatnya itu memilih memalingkan wajah menghindari tatapan Soonyoung. Mendapat reaksi seperti itu membuat Soonyoung merasa bersalah, Wonwoo pasti kecewa padanya. Harusnya dia tak langsung memukul sahabatnya dan bertanya baik-baik atas apa yang telah terjadi.
"Maafkan aku. Aku akan mengobati lukamu," Soonyoung berkata lembut kepada sahabatnya sebagai bukti bahwa dia benar-benar merasa bersalah. "Ayo!" kata Soonyoung dengan menarik lengan Wonwoo mengajaknya berdiri. Lalu dia menyadari bahwa dia baru saja menyentuh sesuatu yang agak basah. Soonyoung melihatnya, sebuah luka sayat sepanjang kurang lebih 5 cm yang masih baru. Terlihat dari luka yang belum menutup dan darah yang agak mengering. Sekali lagi, Soonyoung dibuat tertegun. Sungguh dia tak tahu berada di situasi apa sekarang ini.
"Aku benar-benar minta maaf. Ayo!" hanya itu yang bisa Soonyoung katakan sebelum menggiring Wonwoo ke ruang kesehatan.
Beruntung ruang kesehatan masih terbuka karena ada rapat guru dan staf sekolah sepulang sekolah. Otomatis semua guru dan staf sekolah masih berada di sekolah, termasuk dokter yang biasa berjaga di ruang kesehatan. Hanya saja ruang kesehatan itu kosong ditinggal rapat. Jadi Soonyoung tak bisa meminta bantuan untuk mengobati luka Wonwoo, dia sendiri yang turun tangan. Tapi, itu lebih baik daripada harus memutar otak mencari alasan karena dokter itu akan selalu bertanya asal mula luka para pasiennya.
Soonyoung mengobati luka Wonwoo dengan hati-hati. Sedang Wonwoo hanya terdiam dengan tatapan kosong. "Nah, selesai!" seru Soonyoung setelah memasang perban pada luka sayat di lengan Wonwoo.
"Wonwoo-ya," panggil Soonyoung seraya menepuk bahu Wonwoo meminta perhatian. Wonwoo hanya melirik sekilas sebelum kembali memalingkan wajah.
"Maafkan aku. Aku tahu aku salah. Harusnya aku bertanya baik-baik. Bukan asal pukul seperti tadi," Soonyoung kembali berusaha meminta maaf, tapi Wonwoo hanya diam. Wonwoo berdiri dari duduknya dan melangkah keluar ruang kesehatan, meninggalkan Soonyoung tanpa sepatah kata.
Setelah terdiam beberapa saat, Soonyoung menyusul Wonwoo. Menengok ke kanan dan kiri ketika sampai di pintu ruang kesehatan, mencari keberadaan sahabatnya. Dia melihatnya. Melihat sahabatnya yang berada dalam pelukan seorang pemuda yang lebih tinggi dari Wonwoo. Mereka berjarak kira-kira 10 meter di arah kiri dari tempat Soonyoung berdiri.
Soonyoung berjalan mendekat, matanya bertemu pandang dengan pemuda yang tengah memeluk Wonwoo erat, dia terlihat posesif. "Mingyu, bisakah aku bicara dengan Wonwoo?" tanya Soonyoung pelan.
"Soonyoung hyung, apa hyung yang membuat Wonwoo hyung terluka? Kenapa hyung melakukannya? Bukankah kalian bersahabat?" bukannya menjawab, Mingyu malah memberondong Soonyoung dengan pertanyaan.
Tanpa peduli pertanyaan yang diajukan Mingyu, Soonyoung mengungkapkan apa yang diinginkannya, "Wonwoo-ya, aku tahu aku salah. Jika memang tak bisa memaafkanku, setidaknya katakan sesuatu," jeda sejenak sebelum Soonyoung berteriak, "Jangan diam saja!"
Wonwoo tetap diam. Lalu dia berbisik pada sosok yang masih setia memeluknya, "Mingyu, aku ingin pulang."
Mingyu menghela napas sebelum berkata, "Baiklah." Mingyu tahu Wonwoo tak ingin mengungkit masalahnya sekarang.
Mingyu melepas pelukannya, menangkup pipi Wonwoo lalu berujar, "Aku tidak tahu masalah seperti apa yang terjadi di antara kalian. Tapi, aku harap masalah itu segera kalian selesaikan. Bukankah kalian sahabat? Aku rasa ini tak akan sulit jika kalian membicarakannya baik-baik." Mingyu memang berbicara pada Wonwoo, tapi Soonyoung yang ada di dekat mereka bisa mendengar jelas perkataan Mingyu. Hal itu membuat Soonyoung semakin menyesal.
Wonwoo dan Mingyu berlalu dari hadapan Soonyoung. Membuat Soonyoung tertinggal sendirian dengan banyak pertanyaan tanpa jawaban. Soonyoung pun berbalik, berjalan menuju ke kelasnya untuk mengambil tas dan pulang.
End or Continue?
See me again! Ini dia chapter pertama.
Saya tahu chapter ini pendek. Saya memang memakai words sedikit untuk tiap chapter-nya. Jadi di sini memang belum ada apa-apa. Saya minta maaf kalau chapter ini jatuhnya malah membosankan.
Untuk yang punya akun, review-nya udah saya balas lewat PM. Untuk yang tidak punya akun, saya balas di sini.
belaaa: Ini udah lanjut. Kayaknya ada beberapa ff Soonhoon yang pake tema psikologi deh, tapi udah lupa judulnya. Dan maaf nih, sebenarnya romance Soonhoon dan Meanie itu hanya tambahan (tapi penting). Soonyoung punya peran penting buat Jihoon. Thanks for review.
Terima kasih untuk HameChang, absoonyoung, belaaa, Sheryl010, 21Alynn, seeuhun, byeolie, Oraeruh dan oxydien. Kalian berhasil membuat saya memposting chapter ini.
Jika ingin cerita ini berlanjut, silakan memberi respons yang baik. Entah itu dalam bentuk saran, kritik, atau pendapat tentang ff ini. Jika tidak, silakan berimajinasi sendiri.
Thank you^^
Kalium Iodida
140117
