Note: Cerita ini tidak murni dari kepala saya. Original cerita ini dari manga berjudul Hidoku Shinaide/Don't be so cruel (rated: explicit) tetapi karena baru pertama kali memposting lebih baik yang ringan-ringan dulu aja hehe~ dalam cerita ini banyak sekali yang BERUBAH. Dari nama sampai situasi sesuai kondisi termasuk adegan dewasanya^^ Jadi kalau teman2 pernah baca komiknya jangan heran yah~

Kim Jonghyun siswa polos yang terjebak situasi dan Lai Kuanlin yang mengandalkan situasi tersebut untuk keuntungan pribadi.

Kim Jonghyun adalah murid kelas 2 yang bisa sekolah karena bantuan beasiswa penuh dan terancam tidak mendapatkannya tahun depan jika gagal dalam ujian percobaan yang terakhir.

Lai Kuanlin murid malas nan kaya raya yang mendapatkan keuntungan besar karena melihat Jonghyun mencontek.

Apa yang dia inginkan?

p/s: italic: isi hati / suara hati (?) | no mature content | menyebutkan kata-kata sensual

STARTEU!

"Bercinta denganku!"

"Aku tidak menyuruh mu membuka celana sekarang..."

"...aku yang akan menentukan nasibmu selanjutnya"

Dengan wajah kusut, rambut yang sudah tidak beraturan lagi dan mata seperti panda membuat Jonghyun terlihat seperti zombie. Dia berjalan dengan kepala tertunduk dan mengabaikan semua orang yang ia temui dijalan. Didalam kepalanya hanya suara Kuanlin yang mengintimidasinya sejak kemarin. Gangwon-do boy ini terus melangkahkan kakinya dan saat sampai di tempat kakinya menghentikan langkah barulah dia mengangkat kepalanya dan menarik nafas sangat dalam lalu membuangnya dengan lemah.

"Hey!" suara yang paling menyebalkan saat ini ditelinga Jonghyun tiba-tiba terdengar. Jonghyun berbalik melihat sumber suara itu dan terlihatlah sosok 'setan' dimatanya yang sedang duduk sambil menghisap rokok. Jonghyun menatapnya sinis 'Bukankah merokok disekolah itu melanggar peraturan' benaknya.

Melihat tatapan si kutu buku itu, Kuanlin menyatukan tangannya kehadapan Jonghyun.

"Aku mohon jangan ceramahi aku..." Kuanlin tersenyum menyebalkan dan Jonghyun hanya memutar bola matanya kesal.

"Jadi sudah siap untuk membuka celana? Lebih cepat dari yang ku duga" berjalan menuju Jonghyun tapi si kutu buku langsung mengakat tangannya untuk menyuruhnya berhenti tapi Kuanlin tidak peduli dan terus berjalan kearahnya. Merasa terintimidasi, Jonghyun ikut mundur bersamaan dengan kaki Kuanlin yang terus kearahnya sampai Kuanlin menarik tangannya dan membawanya lebih dekat lagi.

"Sejujurnya aku bukan orang yang suka membuat kesepakatan. Lagi pula kau pihak yang lemah" meskipun suaranya terdengar pelan tapi Jonghyun selalu terintimdasi dengan semua tindakan Kuanlin.

"Aku datang jadi menurut mu apa?" Jonghyun membuang pandangannya yang dari tadi memandangi bibir Kuanlin yang kissable itu. Panda Taiwan itu hanya menarik garik lengkung tipis dibibirnya mendengar perkataan Jonghyun. Kuanlin melepaskan genggamannya dan sesaat membuat sedikit jarak antara keduanya. Setelah itu Kuanlin merangkul bahu Jonghyun dan menarik si kutu buku yang punya kaki lemah itu dengan paksa.

"Kita mau kemana?" Jonghyun berusaha melepaskan rangkulan Kuanlin tapi sangat sulit. Mungkin si kutu buku ini lupa dia jauh lebih kecil dengan ukuran Kuanlin. Karena kesal, Kuanlin melepaskan Jonghyun dan menatapnya datar. Si kutu buku Jonghyun yang merasa terintimidasi sadar dirinya akan ada dalam masalah lainnya jika melawan.

"hmm..." Jonghyun berdehem sambil merapikan kembali kemejanya dan mengambil langkah didepan Kuanlin

"Ayo! Dimana rumah mu?" lalu melanjutkan lagi langkah kakinya. Panda Taiwan hanya bisa menaikkan alisnya melihat tingkah 'mainan' barunya itu... well, mainan tersayang.

Kuanlim tahu benar apa masalah Jonghyun disekolah ini, jadi dia membatalkan untuk bolos dan membiarkan Jonghyun masuk kelas. Sejak tadi pagi mereka bertukar nomor telepon dan sejak tadi pagi pula ponsel Jonghyun tidak berhenti bergetar. Malangnya Jonghyun lagi, dia menggunakan nomor ponsel nya itu dia sambungkan dengan Kakao sehingga itu semakin merusuhi ponselnya.

1 Pesan Diterima:

Kuanlin

Jangan lari kau!

Jonghyun tidak membukanya, hanya melihat tampilan notifikasi ponselnya saja. Si kutu buku ini lebih memilih mengabaikannya dan fokus dengan pelajarannya.

Drttt!

'Lagi?' Namun tidak menggubrisnya dan terus fokus pada guru yang sedang mengajar bahasa Inggris.

Drrtt!

Drttt!

Drrtt!

Terlalu berisik, Jonghyun menghela nafasnya cukup panjang dan melihat semua pesan yang dikirim si pendatang kejam itu

1 Pesan Diterima:

Kau mengabaikan ku?

1 Pesan Diterima:

KAU MAU MATI YA!

1 Pesan Kakaotalk:

I WILL JILL YOU!

Jonghyun tersenyum kecil saat melihat bagaimana orang itu mengetik. Apakah dia benar mengetik dengan amarah sampai-sampai membuat kata ancaman terlihat lucu. Meski begitu, dengan pengorbanan hati yang dalam akhirnya dia membalas satu pesan.

"Aku tidak akan lari Kuanlin-ssi, tenang saja"

'send! jangan ganggu aku lagi bodoh!' Jonghyun sudah benar-benar kesal karena ada yang melihatnya mencontek ditambah lagi dia mengetahui anak itu orang kaya. Berenca menyuapnya dengan uang 12,000 Won tapi nominal itu sepertinya bagaikan uang jajannya dalam satu hari. Tidak berguna.

11-9

Kuanlin menggerutu melihat ponselnya, meremas bahkan memukulnya. Berbeda dengan kelas si kutu buku Jonghyun, semua murid disini bebas melakukan apapun tetapi tidak semua manusianya seperti Kuanlin. Terlihat didepan kelas ada yang sedang menggambar dipapan tulis dan ada yang menari. Mungkin impiannya menjadi idol.

"Ya Tuhan! Jika orang disamping ku ini tidak mengininkan ponselnya lagi maka beritahu dia bahwa aku akan menerima barang bekas nya" ucap seseorang yang tak lain Yoo Seonho. Kuanlin hanya melihatnya datar dan yang dipandangi tersenyum lepas dan menyeruput susu strawberry nya seperti tidak ada yang harus dikhawatirkan.

Sedikit bercerita tentang kelas ini...

Apakah kelas ini hanya berisi orang bodoh? Tidak! Seperti sekolah swasta lainnya, kelas dibagi sesuai nomor induk pendaftaran. Jika berada diposisi bawah dan ingin masuk kelas unggulan harus mendapatkan beasiswa saat naik kelas 2 seperti si kutu buku Jonghyun.

Kelas Kuanlin adalah kelas yang tercampur sama rata. Tidak seperti di dalam drama, kelas yang punya semua golongan akan terjadi diskriminasi. Tidak! Kelas ini sangat damai dan orang-orang lemah (re: miskin) sama rata dengan orang kaya. Seperti biasa barisan depan diisi para murid berprestasi lalu selanjutnya menengah dan yang terakhir golongan oang – orang tidak tertolong. Seperti Kuanlin dan Seonho sahabat sejak kelas 10.

11-1

Kuanlin berdiri bersandarkan tembok sambil melipat tangannya. Satu persatu dipandanginya anak-anak yang keluar dari kelas itu tapi si kutu buku tetap tidak keluar.

'Kabur?' benaknya. Kuanlin tidak sabar lagi dan ingin masuk tapi tiba-tiba orang kecil itu muncul tepat didepan pintu. Jonghyun hanya menatapnya datar dengan mata sayunya sementara orang yang dilihati malah tersenyum kilat dan langsung menarik tangan Jonghyun.

Jonghyun harus mengimbangi langkah besar Kuanlin jika tidak dia bisa terjatuh dan terseret layaknya pelastik sampah. Rasanya dia ingin sekali menghentakkan tangannya agar lepas dari genggaman Panda Taiwan itu tapi tenaganya sudah habis memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Gudang Belakang.

Jonghyun terkejut dia membawanya ke tempat ini. 'Bukankah ke rumah?' Jonghyun hanya bisa melihat sekeliling apa ada orang laim yang ikut dan sesaat dia sadar dari fantasi liarnya itu.

"Bukankah kau bilang mau ke rumah mu?" dengan sangat hati-hati Jonghyun bertanya.

"Aku sudah tidak tahan, setiap saat aku membayangkannya..." Kuanlin terlihat mendorong meja dan kursi lalu berlari mengunci pintu ruangan itu. Si kutu buku yang masih belum mengerti keadaan hanya melihat Kuanlin berjalan kesana-kemari. Jika saja ketanggapannya secepat dia saat berhitung dia harusnya sudah lari dari tadi tapi dia manusia lamban dan punya kaki lemah jelas dia masih disitu.

"Apa sih yang kau lakukan sebenarnya?" masih melihat Kuanlin kemanapun dia melangkah.

"Membuat arena permainan. Menurut mu apa?" sedikit melihat kearahnya tapi tetap sibuk.

"Permainan apa?" dengan mata sayu dia bertanya membuat Kuanlin benar-benar gila dan ingin menerkamnya tetapi tidak bisa... jika ingin dinikmati bersama harus mau satu sama lain kalau tidak ini pelecehan. Wait... ini paksaan bukankah tindakan pelecehan juga? Dasar golongan tidak tertolong!

Kuanlin menggenggam lengan Jonghyun dan menariknya hingga mereka sangat dekat. Dekat seperti perangko dan amplop yang sangat susah untuk dilepaskan. Jonghyun mau tidak mau harus mendongakkan wajahnya, jika tidak bibirnya pas sekali didepan tulang lehernya yang membuat Jonghyun merasa risih tetapi saat melihat keatas matanya sangat dekat dengan bibir Kuanlin jadi Jonghyun melemparkan pandangannya kesembarang arah yang jelas jangan sampai melihat wajahnya.

"Kita akan melakukannya disini" dengan datar dan terdengar mengintimidasi seperti biasa. Mata Jonghyun refleks terbuka lebar saat mendengar itu dan matanya langsung melihat pada mata panda Taiwan itu dengan wajah penuh tanya tetapi sekali lagi mata si kutu buku Jonghyun seakaan melompat dari tempatnya saat Kuanlin menempelkan bibirnya pada milik Jonghyun.

Kuanlin benar-benar mendominasi ciuman lembut itu dan Jonghyun tidak banyak berbuat apa-apa tapi semua manusia punya naluri saat nafsu mulai menguasai diri. Walaupun tidak membalas ciuman manis itu, kutu buku ini cukup mengerti untuk mengarahkan wajahnya kearah berlawanan Kuanlin, tangannya pun hanya menggantung saja dibawah tidak tahu harus melakukan apa.

Sesaat kemduian Kuanlin menghentikan pekerjaannya pada bibir mungil itu. Bulu kuduk Jonghyun berdiri saat bibir keduanya terpisah. Kepalanya seakaan penuh, peurtnya terasa banyak kupu-kupu yang berterbangan ini keluar.

'Apa ini? Aku menyukai yang tadi itu' Jonghyun hanya tertunduk malu dan mengutuk perasaan yang dirasakannya saat ini. Sementara itu, Kuanlin duduk diatas meja dengan menggunakan kedua tangannya sebagai penopang tubuhnya dan mendekatkan tubuhnya pada Jonghyun yang diam saja.

Sangkin dekatnya, Kuanlin bisa mencium aroma mint dari rambut Jonghyun. Sebelum mulai bicara Kuanlin terlebih dahulu menjauhkan tubuhnya lagi, ya, wajahnya bisa terluka mengingat kebiasaan Jonghyun yang refleks mengangkat kepalanya.

"Buka celana mu." Sekali lagi... datar dan terdengar mengintimidasi. Seperti biasa, kebiasaan si kutu buku mendongakkan kepalanya sekaligus matanya yang membesar. Benar dia melakukannya, beruntunglah Kuanlin menjauhkan wajahnya tadi.

"Apa? Disini?" dengan nada yang memelas dan dengan ekspresi anak anjing yang lucu Jonghyun menatap Kuanlin. Sementara pria yang ditatap semakin tidak terkendalai melihat semua itu.

'Jangan lakukan itu atau aku lakukan dengan sepihak' dia hanya bisa memejamkan matanya dan mengepalkan tangannya.

WELL WELL! GUE TAU INI PENDEK BANGET HAHA! Sesuai konsep, next chapter bakalan benar-benar smut well bukan explicit yah hehe belum sanggup~ Gue ga bakal menjelaskan detail per detail yang jelas kalian tau apa yang mereka laukannnn eaa haha!