Bleach © Kubo Tite

AU, OOC, Typo bertebaran

IchigoXRukia

..

.

~Just Marry Me~


Aku menatap beberapa digit nomor di kertas yang sedang ku pegang. Aku menatapnya dengan tertawa kecil, lalu menyimpan kertas kecil berisi digit nomor itu kedalam laci kecil samping tempat tidurku. Tidak sekarang untuk meneleponnya, mungkin besok?

Aku menatap langit-langit kamarku. Aku kembali mengingat usahaku untuk mencari seorang lelaki untuk kunikahi. Neliel, temanku yang cantik juga kekanakan—membantuku untuk mencarikanku seorang pria. Pertama, Neliel memberikan secarik foto pria bernama Madarame Ikkaku, saat aku melihat fotonya pertama kali aku langsung menolak mentah-mentah. Info tentangku yang seharunya diketahui Neliel adalah, aku tidak terlalu suka seorang pria dengan kepala musim gugur yang rambutnya hilang bak ditelan tsunami, tidak, terimakasih.

Kedua, Neliel memberikan secarik foto pria bersurai perak yang tatapannya cukup dingin dan wajahnya benar-benar menunjukan 'anti sosial'. Aku menolak lagi usulan kedua Neliel. Sebenarnya pria bersurai perak yang Neliel informasikan bernama Hitsugaya Toushiro ini cukup tampan, tapi, Neliel memberikan informasi tambahan yang membuatku menolaknya yaitu; tinggi Hitsugaya Toushiro tidak berbeda jauh denganku. Bukannya aku melihat dari fisiknya seperti itu tapi, hei—aku juga butuh seseorang untuk memperbaiki keturunanku kelak. Ya, walaupun ini bukan untuk menikah sungguhan sih, tapi, tak apakan untuk berjaga-jaga? Lagipula, setelah kuselidiki lebih lanjut, Hitsugaya Toushiro ternyata mencintai rekan kerjanya yang bernama Hinamori Momo sudah lebih dari 5 tahun. Jadi, aku menolak usulan kedua Neliel, oke, terimaksih.

Ketiga, Neliel memberikan foto seorang pria berkulit putih pucat dengan ekspresi wajah lurus, kosong dan tampak tidak mempunyai semangat hidup. Tapi, Neliel megatakan, pria bernama Ulquiorra Schiffer ini adalah seorang pengusaha muda sukses diumurnya yang ke 27 tahun. Wow! Benar-benar lelaki idaman para wanita materialistis. Neliel juga mengatakan, Ulquiorra yang seorang intelektual muda juga tidak segan-segan menghancurkan seseorang yang menurutnya menghalangi jalannya di tengah pesatnya dunia bisnis saat ini. Oke, tarik kata-kataku tentang ia tidak mempunyai semangat hidup.

Sebenarnya aku agak tertarik dengannya, tapi informasi terakhir yang diberikan Neliel membuatku mengurungkan niatku untuk bertemu dengannya. Bisa sajakan setelah kami benar-benar menikah dia memanfaatkanku untuk merebut perusahaan kakek? Lalu aku dibuang begitu saja? Dan keluarga kami akan jatuh bangkrut lalu kakek dan kakak akan terpuruk dan mereka—tidak, tidak! Oke, lupakan, aku terlalu banyak menonton drama-drama picisan yang sering tayang setiap sore hari.

Tiba-tiba aku teringat sebuah map yang diberikan Ishida-san saat sore tadi. Ishida-san mengatakan untuk membukanya di rumah saja. Kalau tidak salah aku menaruhnya di meja kerjaku. Aku pun menuju meja kerjaku dan mengambil map cokelat yang tergeletak diatasnya. Setelah mengambil map cokelat itu, aku kembali menuju tempat tidurku, mulai membuka map cokelat yang kupegang.

Aku mengangkat alisku, isinya adalah foto-foto yang kurasa seseorang didalam foto ini bernama Kurosaki Ichigo karena, didalam foto tersebut adalah potret seorang pria yang memiliki surai oranye terang. Ishida-san bilang, Kurosaki Ichigo mempunyai surai oranye yang menyilaukan mata, jadi, kurasa ini tidak salah, ini memang Kurosaki Ichigo.

Aku melihat-lihat foto Kurosaki Ichigo yang berjumlah kurang lebih 20 foto didalam map ini. Aku heran, kenapa Ishida-san sampai repot-repot menyiapkan foto Kurosaki Ichigo sebanyak ini?

17 dari 20 foto ini aku selalu menemukan ekspresi wajahnya yang terkesan masam dan sangat tidak enak dilihat dengan kerutan di dahinya yang selalu muncul. Aku bertanya-bertanya, apakah muridnya nyaman berada di kelas dengan guru yang mempunyai wajah semasam ini?

Dari 20 foto ini, aku menyukai satu foto dirinya yang sedang tertawa lebar dengan mata yang hampir tak terlihat, wajahnya polos seperti tanpa beban, kerutan di dahinya hilang dan aku merasa gemas ingin mencubit pipinya. Sungguh.

Ah, mungkin nanti saja aku mencubit pipinya.

Aku memasukan kembali foto-foto itu kedalam map, lalu aku mengambil secarik kertas didalam laciku. Sepertinya aku mengurungkan niatku untuk meneleponnya besok. Aku menekan beberapa digit nomor seperti yang tertera di kertas itu menggunakan ponselku, kemudian aku menekan panggilan.

Tersambung.

"Halo—

"Halo Kurosaki Ichigo, aku Kuchiki Rukia ingin meminta waktumu besok siang di kafe dekat tempatmu mengajar, ada keperluan penting yang perlu kubicarakan berdua denganmu."

Setelah aku megatakan jam pertemuan besok, aku menutup sambungan kami. Aku tidak menunggu jawabannya untuk menyetujui pertemuan ini. Aku hanya berkata akan menunggunya besok.

Semoga dia bukan seseorang yang sulit untuk diajak berbisnis.

Kurosaki Ichigo, aku pasti akan mendapatkanmu.


"Sampai jumpa Kurosaki-sensei!"

Aku melangkah keluar kelas. Ini adalah jam terakhirku hari ini, dan sekarang menunjuk pukul 1 siang. Aku kembali menuju ruangan guru untuk menyimpan buku-buku materiku. Di setiap langkahku menuju ruang guru pasti ada saja siswi yang tersenyum-senyum melihatku. Kadang aku heran, apakah penampilanku sebegitu aneh sampai mereka tersenyum-senyum seperti itu?

Aku juga pernah bertanya pada Ishida—seorang guru biologi di sekolah ini, apakah ada yang aneh dengan wajahku, dan Ishida hanya menanggapinya dengan menggelengkan kepalanya lalu berlalu begitu saja. Kadang aku juga tidak mengerti dengan jalan pikiran si mata empat itu.

Ck, walaupun mengajar di sekolah ini cukup menyenangkan tapi, orang-orang disini kadang membuatku geleng kepala.

Sesampainya aku di ruang guru, Inoue menyapaku, kurasa ia juga baru selesai mengajar. Inoue adalah seorang guru seni di sekolah ini. Dia wanita cantik yang cukup populer dikalangan siswa-siswa. Dia mempunyai rambut cokelat gelap panjang yang sangat indah. Sifatnya begitu ramah dan lembut, tidak heran ia begitu di gemari di antara murid-murid bahkan guru sekalipun.

"Kau tidak ada jam lagi Kurosaki-kun?"

Aku hanya mengangguk sembari tersenyum. Aku merapikan buku-buku yang berserakan diatas mejaku.

"Mau makan siang bersama dulu?"

Aku menoleh ke arahnya. Jika aku tidak salah, sepertinya ada semburat merah diwajah Inoue, wajahnya menunjukan harap-harap cemas tentang jawabanku. Aku tidak tega untuk menolaknya, tapi…

"Maaf aku tidak bisa, aku ada keperluan siang ini."

"A-ah begitu ya, ka-kalau begitu lain kali saja."

Inoue menggaruk belakang lehernya yang kurasa tidak gatal sama seakali, dia tersenyum kikuk dan aku meminta maaf sekali lagi. Rasanya tidak enak sekali menolak ajakannya.

Tapi mau bagaimana lagi?

Aku melangkah keluar. Aku tidak berbohong tentang ada keperluan siang ini. Seorang wanita yang tidak kukenal meneleponku semalam berkata ingin bertemu denganku siang ini, katanya ada keperluan penting.

Kalau tidak salah namanya Kuchiki Rukia. Aku tidak tahu siapa itu Kuchiki Rukia, namanya begitu asing dan suaranya juga. Sebelum aku bertanya lebih lanjut tentang dirinya, dia sudah memutus sambungan lebih dulu. Benar-benar tidak sopan.

Aku berpikir positif, mungkin dia salah satu orangtua dari muridku yang ada keperluan denganku menyangkut anaknya, ya mungkin saja.

Aku menguap di tengah jalanku. Aku adalah seorang guru matematika di sekolah menengah atas yang cukup ternama di Tokyo. Hidupku biasa-biasa saja—maksudku, aku tidak terlalu suka dengan hal-hal rumit dan membuat sesuatu hal menjadi rumit. Pengecualian untuk matematika. Awalnya aku sama sekali tidak tertarik untuk menjadi seorang guru. Berinteraksi dengan banyak orang menurutku adalah hal rumit, tapi, bekerja sebagai seorang dokter seperti kemauan ayahku juga merupakan hal paling rumit karena harus mengurus keselamatan orang lain yang bahkan aku tidak peduli dengan orang-orang disekitarku apalagi orang asing. Akhirnya, pilihan terakhirku jatuh untuk menjadi seorang guru. Padahal banyak pekerjaan lain didunia ini yang tidak membutuhkan terlalu banyak interaksi, tapi pilihan terakhirku tetap menjadi guru. Tapi, lama-lama aku mulai terbiasa dengan profesiku ini, kadang banyak murid yang menjengkelkan kadang pula banyak yang membuatku gemas karena kelakuannya. Mereka adalah remaja-remaja labil dan aku memakluminya karena aku juga pernah menjadi seperti mereka.

Lagipula, guru itu merupakan pekerjaan yang mulia bukan?

Tidak terasa aku sudah berada di depan kafe yang wanita bernama Kuchiki Rukia maksud. Kafe ini tidak terlalu jauh dari tempatku mengajar. Hanya butuh waktu 10 menit untuk berjalan kaki. Dengan tas yang kusampingkan di pundakku, aku mulai memasuki kafe ini. Pukul 1 lewat 17 menit, kurasa aku datang terlalu awal untuk bertemu dengannya. Kami berjanji untuk bertemu pukul 1.30, jadi aku 13 menit datang lebih awal, tak apa, aku seorang guru dan aku sudah biasa datang lebih awal dari yang dijadwalkan.

Mataku berkeliling mencari tempat kosong untuk kusinggahi, sampai mataku tiba-tiba menangkap seorang wanita yang melambaikan tangannya ke arahku, dengan menggumamkan sesuatu seperti 'disini'

Apakah itu Kuchiki Rukia? Tapi ini masih sangat awal dari janji pertemuan kami.

Daripada aku berdiam diri seperti orang bodoh, aku pun menuju tempat wanita yang sedang melambai-lambaikan tangannya.

Aku duduk dihadapannya, dia tersenyum padaku, "kau Kurosaki Ichigo?"

"Ya."

"Senang bertemu denganmu, aku Kuchiki Rukia."

Benar, dia Kuchiki Rukia. Tapi, jika kuingat-ingat—hei, kurasa aku tidak mempunyai murid dengan nama Kuchiki, jadi, dia bukan orangtua dari muridku? Lagipula, sepertinya ia seumuran denganku.

Aku menjabat uluran tangannya, "senang bertemu denganmu."

"Kita pesan makanan dulu."

Dia memanggil pelayan kafe ini dan memesan makanan untuknya. Aku hanya memesan secangkir Americano untuk sekedar formalitas, lagipula aku tidak lapar sama sekali.

"Jadi, apa yang mau kau bicarakan?"

Jika dia memang orangtua dari muridku atau walinya, kurasa omonganku sangat tidak sopan.

Dia tertawa kecil menanggapi pertanyaanku. "Santai sedikit, apa kau sedang buru-buru?"

"Tidak."

"Baguslah."

"Lalu?"

"Aku hanya ingin berbisnis denganmu."

Bisnis? Apakah ini hal rumit? Aku hanya mengangkat sebelah alisku untuk menanggapi perkataannya.

Dia berdeham pelan sebelum melanjutkan maksud pembicaraannya, "aku mengenalmu dari Ishida-san,"

Oh—si mata empat Ishida.

"aku bertanya-tanya tentangmu pada Ishida-san, bukankah dia temanmu?"

Dia bertanya tentangku pada Ishida, mau apa dia? Aku hanya mengangguk menanggapi pertanyaannya.

"Ishida-san adalah teman dari temanku, Neliel. Ishida-san mengatakan bahwa ia mempunyai teman yang lajang, dan ia menyebutkan namamu,"

Obrolan kami terpotong oleh pesanan kami yang baru diantar, lalu aku mengucap terimakasih pada pelayan tersebut. Dan aku masih menunggu lanjutan dari ceritanya.

Dia meneguk jus stroberi miliknya sebentar, "aku bertemu dengannya di kafe kemarin sore dan dia memberitahukan tentangmu dari umur, pekerjaan, hobi juga info tentang kau yang tidak terlalu tertarik pada wanita. Aku cukup senang mendengarnya waktu itu."

Dahiku berkerut, apa-apaan Ishida memberikan informasiku ke sembarang orang dan menyebarkan rumor tidak jelas pula. Benar-benar.

Aku ingin membuka mulut namun dia memotong sebelum kata-kata keluar dari mulutku.

"Dengarkan aku dulu," ia berdehem sekali lagi dan melanjutkan ceritanya, "kurasa aku tertarik padamu saat Ishida-san mengatakan semua tentangmu, kau tahu Kurosaki-san—ah, tidak, maksudku Ichigo, kita harus menggunakan panggilan akrab untuk lebih dekat bukan?" dia tertawa sebentar, "Begini, aku wanita berumur 24 tahun dan aku sedang mencari seseorang untuk bisa kunikahi tanpa sebuah ikatan yang sering orang bilang seperti—um, cinta,"

Entah kenapa aku mulai merasakan firasat tidak enak dari omongannya ini.

"bukankah kau adalah lelaki lajang yang tidak terlalu tertarik terhadap wanita? Kalau begitu, bisakah kau membantuku?"

Aku meneguk Americano yang ada dihadapanku, aku tidak menanggapinya.

"Tenang, kita akan berbisnis, aku bisa membayarmu kalau kau mau."

Mataku memicing, aku menatapnya tajam, membayar katanya? Apa-apaan dia.

"Apa maksudmu?"

Dia tertawa renyah, lengannya mengambil gelas dihadapannya, "Oh iya, apa kau suka stroberi?" dia menegeuk jus stroberi miliknya lagi sampai habis, lalu matanya mengerling padaku.

Dan aku hanya memutar mataku malas, "Aku benci stroberi."

Dia menatapku dengan mata besarnya lalu megedip berkali-kali. "Tapi namamu stroberi."

Aku tidak mengerti dengan 'bisnis' apa yang dia maksud, apakah bisnisnya harus membahas namaku terlebih dulu?

"Namaku bukan stroberi, sialan."

Dia tertawa santai, mata besarnya menyipit seperti bulan sabit. "Maaf, maaf, tapi aku suka stroberi dan oh—

aku juga suka namamu." Kemudian ia tertawa begitu lebar dan tangannya mengibas-ngibas. Aku tidak mengerti dimana hal lucu tentang namaku yang membuatnya begitu mudah tertawa.

Aku menatapnya malas, dan kurasa ia menyadari arti dari tatapanku. Dia berdeham, matanya kembali serius menatapku. "aku sungguh akan membayarmu jika kau bisa menyetujui bisnis ini, bisnis ini mungkin terdengar berat tapi, sesungguhnya ini bisnis mudah, menurutku."

Aku ingin memprotes kata-katanya namun tiba-tiba ia mengulurkan tangannya kehadapanku, aku menautkan alisku, bingung dengan maksudnya. Namun, ia hanya tersenyum manis menanggapi kebingunganku. Senyumnya benar-benar kelewat manis yang membuatku sedikit bergidik.

Aku ingin menanyakan sesuatu padanya namun lagi-lagi mulutku dibuat bungkam. Kali ini dia membungkam mulutku dengan mengatakan sesuatu yang menurutku sangat gila dan tidak habis pikir. Perkataannya benar benar membuatku ingin menuangkan Americano ini ke wajahnya.

Kuchiki Rukia benar-benar wanita gila.

"Kurosaki Ichigo, maukah kau menikah denganku?"


To be continued.


Ch 1 is Up!

Kritik dan saran saya tunggu.

Arigatou~