"Hentikan! Kau vampire tak berperasaan!" teriak seorang perempuan yang tak lain adalah ibu Kyousuke.

"Hoo...Kalau menurutmu begitu aku juga akan menjadi tak berperasaan," kata vampire itu yang lalu membunuh ayah Kyousuke dengan sadisnya.

"Kyaaaa!" teriak ibunya Kyousuke saat ia pun dibunuh oleh vampire itu.

"Ayah...ibu...Ti...Tidak!" teriak Kyousuke yang saat itu baru berumur 12 tahun.

Kyousuke mengalami trauma yang berat selama bertahun-tahun. Hingga ia akhirnya bisa melepaskan kepergian orang tuanya.

"Ayah... Ibu maafkan anakmu ini... Aku tidak mau anak lain merasakan kepedihan kehilangan orangtua karena berselisih dengan vampire. Karena itu, aku bertekad membuat dunia dimana vampire dan manusia bisa hidup secara harmonis," kata Kyousuke. Ia tidak memikirkan balas dendam melainkan dunia dimana mereka bisa hidup bersama.

Kyousuke terbangun dari mimpi ketika ia ditinggalkan orangtua yang dikasihinya sampai ia menginginkan adanya perubahan antara dunia manusia dan dunia vampire. Namun, tak pernah dipikirkan oleh Kyousuke kalau dia bakal jatuh cinta pada seorang vampire. Kyousuke pun melihat ke Hakuryuu yang sedang tertidur disebelahnya. Kyousuke lalu membelai rambut Hakuryuu dengan lembut, "Hakuryuu...aku sangat mencintaimu...," gumam Kyousuke pelan.


This Way that I Chose

Disclaimer :

Inazuma Eleven GO (c) Level-5

Pairing :

HakuKyou, TenKyou, TenShuu, sligth AtsuShirou, little bit HakuTai

Rate :

M / T+++ (for Safety)

Genre: Romance, Fantasy, Hurt/Comfort & Friendship

Warning: AU, BL,OOC, Lemon, Lime , mengandung konten 17+ itu berarti Dibawah 17 Tahun dilarang keras membaca Fict ini, Bahasa yang ambigu dan tidak dimengerti (?) dan belepotan, Typo(s) berserakan, Alur kecepatan, merusak kesucian iman dan taqwa. Bagi pembenci YAOI ataupun LEMON, tolong segera keluar dari fic ini.

DON'T LIKE DON'T READ

.

.

.


Chapter II :


.

.

.

Paginya...

'Apa yang kulakukan dengan Tsurugi... Sial! Aku harus membuat Tsurugi membenciku..' pikir Hakuryuu menyesal tidak dapat menahan nafsunya.

"Hakuryuu? Kau sudah bangun?" gumam Kyousuke yang mulai terbangun. Tapi Hakuryuu tidak berkata-kata sama sekali sehingga membuat Kyousuke bingung, "Hakuryuu?" tanya Kyousuke lagi.

"Tsurugi... lupakan kejadian kemarin.. Lebih baik kamu segera pulang ke tempat tinggalmu, Tenma menunggumu disana," kata Hakuryuu berusaha untuk tidak menunjukkan perasaannya.

"Hakuryuu?! Apa maksudmu? Bu..bukankah kemarin kamu melakukannya karena kamu mencintaiku?" tanya Kyousuke yang tidak mengerti akan perubahan sikap Hakuryuu yang tiba-tiba saja berubah dingin kepadanya.

"Maaf.. tapi aku hanya terbawa nafsu sesaat. Asal kau tahu.. Aku tidak pernah mencintaimu..," kata Hakuryuu lalu membelakangi Kyousuke. 'Maaf Tsurugi, ini lebih baik daripada kau mencintai orang yang telah membunuh orangtuamu,' batin Hakuryuu sedih.

"Ja...jadi...kau hanya mempermainkanku.. Kau kejam!" Bentak Kyousuke, Ia segera membereskan dirinya lalu segera pergi sambil menahan air matanya agar tidak keluar.

'Kenapa... Kenapa... Hakuryuu mempermainkan perasaanku?! Padahal aku telah memberikan diriku hanya untuknya..'

.

.

.

.

.

Setelah Kyousuke pergi, Shuu mendekati Hakuryuu.

"Hakuryuu... Apa ini yang kau inginkan?" tanya Shuu memandang sedih Hakuryuu.

"A..Aku tidak tahu...aku tidak tahu!" Hakuryuu hanya meringkuk sambil menyesal kenapa dulu ia begitu mudahnya mengambil nyawa seseorang bahkan nyawa keluarga Kyousuke, orang yang paling Hakuryuu cintai.

"Baiklah...aku permisi dulu," kata Shuu sambil perlahan menutup pintu kamar Hakuryuu. Shuu ingin sekali membantu Hakuryuu dan Kyousuke tapi ia tidak tahu harus bagaimana. 'Aku harus bagaimana untuk membantu Hakuryuu.. padahal dia sering sekali membantuku..' Shuu berpikir keras sambil memandang keluar dengan cemas.

.

.

.

.

.

Apartemen Kyousuke

" Tsurugi kenapa kamu lama sekali?" tanya Tenma tapi tiba-tiba dia tersadar ada sesuatu yang aneh dengan Kyousuke, ia menangis, "Tsurugi?! Kamu..apa yang terjadi?" Tenma panik melihat Kyousuke yang begitu rapuhnya.

"Tenma.. Tenma..!" Kyousuke menangis sambil memeluk Tenma, yang membuat Tenma gelagapan. Namun Tenma tahu bukan saatnya untuk merasa senang, ia langsung mengelus kepala Kyousuke sambil memeluknya untuk menenangkan Kyousuke.

"Sekarang kamu pelan-pelan ceritakan padaku ada apa?" tanya Tenma yang masih mengelus-ngelus kepala Kyousuke sambil mereka duduk di sofa.

"...Hakuryuu.. dia..," cerita Kyousuke sambil masih sesengukan.

"A..Apa? Hakuryuu kurang ajar! Biar kuhajar dia!" kata Tenma marah sekali setelah tahu apa yang ia lakukan pada Kyousuke. Bukan karena Hakuryuu telah menyentuh Kyousuke, tapi karena dia telah berani mempermainkan perasaan Kyousuke.

"Tenma..sudahlah aku tidak apa-apa...," kata Kyousuke tapi matanya masih memerah karena terlalu banyak menangis.

"Tsurugi.. kamu istirahatlah. Aku masih ada yang harus kulakukan..," kata Tenma berusaha meredam kemarahannya agar Kyousuke tidak khawatir. Tenma segera pergi dari apartemen Kyousuke setelah menidurkan Kyousuke yang kelelahan—akibat menangis.

.

.

.

.

Markas Hakuryuu

"A..anoo.. Hakuryuu maaf mengganggu tapi Tenma mencarimu..," kata Shuu membuka pintu kamar Hakuryuu.

"Tch! Mau apa dia kesini?" kata Hakuryuu yang masih pusing. Tiba-tiba Tenma menerobos masuk ke dalam kamar Hakuryuu. "Ukh!" gumam Hakuryuu begitu kerahnya langsung ditarik.

"Hakuryuu! Kau tidak bisa kumaafkan bila kau tidak memberikan alasan yang bagus untuk membuat Tsurugi menangis!" geram Tenma sangat marah.

"Itu bukan urusanmu!" teriak Hakuryuu melepaskan tarikan Tenma.

"Apanya yang bukan urusanku! Kau telah membuat Tsurugi menangis!" Pukul Tenma dengan sangat keras ke wajah Hakuryuu hingga Hakuryuu terpental.

"Kau! Kau tidak tahu apa-apa!" bentak Hakuryuu memukul balik Tenma.

"Makanya karena itu beritahu aku kenapa kau berbuat begitu ke Tsurugi!" Tenma yang terpukul langsung memukul balik Hakuryuu lagi.

"Hentikan! Tenma...kau tidak tahu apa-apa.. Hakuryuu berbuat begitu bukan karena Hakuryuu yang mau! Di..dia juga menderita!" teriak Shuu melindungi Hakuryuu sehingga Tenma menghentikan pukulannya.

"Apa maksudmu?!" geram Tenma.

"I..Itu.." Belum sempat Shuu menyelesaikan perkataanya, Hakuryuu memotongnya.

"Itu karena aku..telah membunuh orang tua Tsurugi... dengan tanganku sendiri!" jujur Hakuryuu akhirnya.

"A..Apa?!" kata Tenma kaget.

"Ka...karena itu.. Tsurugi dia tidak boleh jatuh cinta denganku, makanya aku membuat agar aku dibencinya.. Lebih baik Tsurugi tidak tahu kalau akulah pembunuh orangtuanya, biar Tsurugi dapat meneruskan kehidupannya ke depan tidak lagi menghadap ke belakang..," gumam Hakuryuu, "Apalagi kalau dia tahu bahwa akulah pembunuh orangtuanya pasti ia akan lebih sedih daripada ini.."

"Tch! Aku pulang!"

Tenma terus terdiam sampai ke tempat tinggalnya.

.

.

.

.

Rumah Tenma

"Sial! Tak kusangka ada hal yang begini berat.. Kalau aku memberitahu kepada Tsurugi mengenai hal ini.. Apa dia akan berpaling kepadaku?" gumam Tenma. "Ti..Tidak boleh kalau kuberitahu kebenarannya kepada Tsurugi dia...akan makin sedih.. Sial!"

Tiba-tiba ada bunyi bel di pintu rumah Tenma

"Iya..iya.. sebentar.." Begitu membuka pintu tersebut ia sangat kaget, karena yang datang adalah Shuu.

"Tenma...bisa kita bicara?" tanya Shuu. Tenma hanya mengangguk setuju.

"Jadi apa yang mau kau bicarakan?" tanya Tenma sambil melipat kedua lengannya.

"Tenma...kumohon jangan memberitahu hal ini pada siapapun termasuk Tsurugi..." mohon Shuu.

"Huff.. siapa juga yang mau memberitahu ini pada Tsurugi.. Kalau ini kuberitahu aku malah takut dia akan bunuh diri.. karena saat ini dia sangat rentan," kata Tenma sambil sedikit bercanda, tapi Shuu tahu sebenarnya Tenma juga terlihat sangat pusing sama seperti dirinya.

"Tenma.. terimakasih aku tahu, kau itu sangat baik.." senyum Shuu.

"He? Bukankah terbalik harusnya aku yang bilang begitu!" kata Tenma sambil mengacak-ngacak rambut hitam milik Shuu.

Tiba-tiba Tenma tersadar sesuatu, kalau rambut Shuu ternyata begitu lembut, 'Apa karena ia bangsa elf, ya?' pikir Tenma sambil merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya saat menyentuh Shuu. Tenma terus memperhatikan Shuu yang lagi sibuk merapihkan rambutnya. 'Aku baru sadar... beberapa hari ini perasaanku ke Tsurugi lebih seperti kakak kepada adik tersayangnya.. sedangkan sejak aku berbincang-bincang berdua dengan Shuu, perasaanku sangat nyaman.. ini seperti..'

"Tenma? Apa kau tahu bagaimana agar Hakuryuu dan Tsurugi dapat bersatu kembali?" Lamunan Tenma tiba-tiba terputus, "Aku tidak mau kedua temanku terus-terusan bersedih seperti ini.. Apa kau tahu kira-kira apa yang dapat kita lakukan?" tanya Shuu dengan polosnya.

'Sial kenapa aku jadi berpikiran seperti ini?' kesal Tenma. "Aku juga tidak tahu.. tapi aku tidak senang dengan keadaan ini. Baik Tsurugi maupun Hakuryuu juga temanku." jawab Tenma. "Mau kita pikirkan bersama seharian?" tanya Tenma sambil diam-diam berharap Shuu tetap disini untuk sementara.

"Baiklah.." senyum Shuu lagi. 'Asik aku akan lebih lama bersama Tenma kalau gini.. Ekh?! Aku tidak boleh berpikir begitu, saat Hakuryuu dan Tsurugi sedang bersedih.' Shuu langsung menghilangkan pikirannya tersebut.

Lalu Tenma mempunyai ide, "Bagaimana kalau kita rahasiakan hal ini dari Tsurugi jadi Hakuryuu dan Tsurugi bisa seperti biasa."

"Hmm.. itu tidak bisa pasti suatu saat Tsurugi akan tahu dan akan semakin buruk hasilnya," pikir Shuu serius.

"He? Begitu ya… Hmm.." gumam Tenma berpikir lagi untuk memikirkan jalan keluar yang lainnya.

.

.

.

.

.

Beberapa lama kemudian...

"Akhhhh stress, emang lebih baik Hakuryuu sendiri yang memutuskan hal itu," kata Tenma sambil berguling-guling di lantai.

"I…Iya…" kata Shuu agak sedih karena akhirnya sama sekali tidak bisa membantu Hakuryuu.

Tenma yang melihat Shuu yang sedih hanya dapat menghembuskan nafas panjang. Lalu tanpa menunggu tiba-tiba Tenma mencium Shuu dan mendorongnya hingga Shuu terkunci di bawah Tenma. Tenma menciumnya dengan sangat dalam yang membuat Shuu menjadi sangat lemas karena saking kagetnya. Begitu Tenma selesai mencium Shuu, Shuu masih terdiam dengan posisinya karena sangat syok dan dengan muka yang sangat merah.

"Shuu aku baru menciummu sekali, kau langsung seperti ini. Jangan-jangan ini pertama kalinya kau berciuman." Senyum Tenma senang melihat reaksi Shuu yang polos itu. Shuu hanya mengangguk malu apalagi yang menciumnya adalah lelaki yang ia sukai.

"Melihatmu yang seperti ini, membuatku makin ingin untuk menyentuhmu," bisik Tenma yang makin membuat Shuu sangat berdebar-debar namun Shuu teringat sesuatu.

"Te..Tenma..bukankah kau menyukai Tsurugi?" tanya Shuu pelan.

"Iya, tapi aku baru menyadari kalau rasa sukaku kepada Tsurugi bagaikan rasa suka kakak kepada adiknya, sedangkan rasa sukaku ke kamu, Shuu berbeda dari itu. Aku sangat menyukaimu, Shuu," kata Tenma sambil menyentuh wajah Shuu dengan tangannya kemudian mulai menciumnya lagi sehingga Shuu langsung menutup matanya karena malu. Melihat Shuu yang tidak melawan, Tenma perlahan mulai membuka resleting baju Shuu hingga memperlihatkan kulit putih Shuu.

"Hnn…." Desah Shuu ketika Tenma menyentuh tubuhnya dan memainkan nipplenya.

Tiba-tiba datang sesosok makhluk berambut jingga yang mengentikan 'aktivitas' Tenma dan Shuu.

"Boleh kutahu kalian sedang ngapain?" tanya Taiyou yang sudah berada di dalam rumah Tenma.

"Wuoah! Kau masuk dari mana?!" kata Tenma kaget.

"Ta..Taiyou..kamu ngapain kesini?" tanya Shuu sambil membenarkan pakaiannya. Taiyou kemudian melihat ke arah Shuu dengan tatapan tajam.

'Apa yang kulakukan sehingga setiap yang kucintai sudah mencintai yang lain.' Pikir Taiyou kemudian dia menghembuskan nafas panjang. Sebelum akhirnya tiba-tiba dari belakang Taiyou muncul Pino yang langsung menusukkan tangannya hingga menembus tubuh Taiyou "Wuagh!"

"Taiyou!" teriak Shuu.

"Pi..Pino..sudah kuki..ra.. kau.. akan membunuhku.. ukh!" Taiyou kehilangan banyak darah.

"Begitulah pion yang tidak berguna lebih baik dihilangkan daripada merusak pemandangan." Senyum Pino kejam.

"Si…siapa dia?" tanya Tenma kaget rumahnya yang damai menjadi penuh darah sekarang.

"Dia…Pino.. dia vampire bangsawan seperti Hakuryuu. Namun, dia seperti Hakuryuu yang dulu, menganggap semua makhluk selain dia seperti kotoran," gumam Shuu penuh amarah.

"Pino! Sampai kapan kau akan berbuat jahat?!" bentak Shuu.

"Sampai kapan? Tentu saja sampai Hakuryuu merasa tidak ingin hidup lagi. Sekarang kau akan kubunuh!" kata Pino kemudian hendak menyerang Shuu yang belum siap. Namun Tenma ternyata sudah mengambil pedangnya sehingga dapat menangkis serangan Pino sebelum mengenai Shuu.

"Tenma!" Shuu kaget dengan kecepatan Tenma.

"Shuu sekarang pergi! Sudah saatnya kamu kembali ke Hakuryuu!" perintah Tenma sambil menahan serangan dari Pino.

"Ba..baiklah tapi bagaimana dengan kamu?" tanya Shuu panik.

"Hehe.. kamu kira aku ini siapa. Nanti kalau sudah beres aku akan menyusulmu ke tempat Hakuryuu." Senyum Tenma lalu mendorong Shuu pergi dan segera menutup pintunya.

"Sekarang tinggal kita berdua, Pino." Senyum Tenma.

"Heh… Karena kau sangat berani menantangku akan kuberi hadiah yaitu kematian yang cepat." Senyum Pino penuh kemenangan.

Sedangkan Shuu langsung segera berlari menuju tempat Hakuryuu untuk memberitahu mengenai Pino. Namun Shuu tiba-tiba berhenti dia teringat akan Kyousuke. 'Bila Pino sudah bergerak dia pasti mengetahui soal Tsurugi.. Sebaiknya aku membawa Tsurugi ke tempat Hakuryuu, bagaimanapun caranya karena itu tempat yang paling aman dari serangan Pino.' Pikir Shuu langsung berlari lagi menuju rumah Kyousuke.

.

.

.

.

Kyousuke yang saat itu sedang beristirahat tidak tahu saat itu anak buah Pino sudah sampai ke rumahnya. Ia dengan nyenyaknya tertidur hingga akhirnya bangun saat terdengar suara langkah kaki di kamarnya.

"Siapa kalian?" tanya Kyousuke perlahan bangun.

Mereka mulai menampakan diri pada Kyousuke, dan Kyousuke tahu mereka bukan manusia, mereka adalah vampire.

"Kami disuruh oleh Tuan Pino untuk membawamu," kata salah satu vampire tersebut.

"Pino?" Kyousuke pernah mendengar nama tersebut entah dimana. 'Aku ingat saat itu Shuu datang dan bilang ke Hakuryuu bahwa Pino datang ke rumah Hakuryuu, lalu air muka Hakuryuu langsung berubah..'

"Kalau kau mau ikut kami, kami akan berbuat baik padamu. Jika kau menolak, kami akan membawamu dengan paks," kata vampire itu lagi.

'Bagaimana ini apa aku harus menurut?' pikir Kyousuke bingung.

.

.

.

.

" Tsurugi! Lompat keluar!" teriak Shuu tiba-tiba dari luar.

"S..Shuu?" Kyousuke yang mendengar teriakan Shuu langsung menuju jendela.

"Cepat lompat! Kita harus kabur!" teriak Shuu lagi.

Para vampire yang melihat hal itu langsung menyerang Kyousuke, untungnya Kyousuke langsung melompat keluar lalu ditangkap oleh Shuu.

"Sekarang Tsurugi pegangan!" perintah Shuu lalu mengeluarkan sayap hitamnya dan langsung terbang.

"Huaaa!" teriak Kyousuke kaget.

Terlihat para vampire itu masih mengejar dari bawah.

"Tsurugi kau bisa mengeluarkan sihirmu untuk membuat mereka kehilangan kita?" tanya Shuu.

"Bisa." Angguk Kyousuke langsung mengeluarkan sihirnya untuk membuat kabut.

"Si..Sial!" kata para vampire itu yang kehilangan Shuu dan Kyousuke..

.

.

.

.

"Shuu bagaimana dengan Tenma?!" tanya Kyousuke khawatir.

"Di..dia.. menyuruhku pergi ke tempat Hakuryuu terlebih dahulu, dan nanti dia akan menyusul," jawab Shuu walau wajahnya tidak menunjukkan emosi, namun dalam hati sebenarnya sangat khawatir.

Dengan cepat Shuu menurunkan Kyousuke ke tempat kediaman Hakuryuu.

"Tsurugi kumohon beritahu Hakuryuu mengenai Pino. Aku..akan menjemput Tenma," ujar Shuu langsung pergi lagi.

'Tu… Tunggu dulu berarti aku harus bicara sama Hakuryuu? Akh masalah Pino lebih gawat, mau bagaimanapun marahnya aku sama Hakuryuu.. aku harus memberitahunya.' Pikir Kyousuke langsung berlari ke dalam.

"Hakuryuu!" teriak Kyousuke membuka kamar Hakuryuu, hingga Hakuryuu hampir jantungan. Selain sedang ada masalah dengan Kyousuke, ia sedang tertidur.

"A..ada apa, Tsurugi?" tanya Hakuryuu pelan karena melihat wajah Kyousuke kini bercucuran oleh air keringatnya.

"P… Pino dia menyerang aku dan Tenma! Sekarang Shuu sedang mencoba untuk menolong Tenma!" teriak Kyousuke karena khawatir.

"Apa! Pino! Dia sudah memulai taktiknya untuk menjatuhkanku ternyata," geram Hakuryuu langsung memanggil Atsuya dan Fubuki.

"Tuan Hakuryuu memanggil kami?" tanya mereka bersamaan.

"Hhh sudah kukatakan berkali-kali tidak perlu pake 'Tuan'. Ya, sudahlah. Kalian bawa Tsurugi ke tempat persembunyian kita. Lalu aku akan pergi menjemput Shuu dan Tenma," kata Hakuryuu bersiap-siap pergi.

Sebelum pergi Hakuryuu mengelus kepala Kyousuke. "Aku pergi dulu."

Kyousuke yang diperlakukan seperti itu oleh Hakuryuu hanya dapat kaget dengan perlakuannya.

"Tsurugi ayo cepat sebelum ada yang menyerang ke sini," kata Atsuya menarik tangan Kyousuke masuk ke dalam suatu terowongan rahasia.

"Ah..ba..baik." kata Kyousuke yang mengkhawatirkan keadaan teman-temannya.

.

.

.

.

Saat itu Tenma...

"Argh!" Tenma terlempar hingga menabrak dinding rumahnya sampai retak. Tenma langsung tersungkur lemas namun Tenma masih belum mau menyerah.

"Bagaimana kalau kau menyerah? Heh! Tapi menyerah atau tidak aku pasti akan membunuhmu." Senyum Pino yang masih belum terkena serangan apa-apa.

Tenma perlahan bangun walau sudah sempoyongan, "Aku tidak bisa menyerah, aku sudah janji dengan Shuu kalau aku akan menyusul," geram Tenma mulai menyerang Pino lagi, namun Pino langsung mencekik Tenma dengan sangat kuat. Tenma benar-benar tidak ada harapan lagi untuk menang.

"Kh..kh.." Tenma mulai kesulitan bernafas. Sedangkan Pino dia hanya tersenyum sangat licik.

"Lepaskan Tenma!" teriak Shuu yang akhirnya tidak jadi kabur.

"Sh..Shuu.." gumam Tenma.

"Hooo… Kau tidak jadi kabur rupanya, elf.." senyum Pino melepaskan Tenma hingga Tenma langsung terjatuh.

Shuu yang dari bangsa elf dapat merasakan energi jahat yang keluar dari setiap orang, termasuk Pino. Energi jahat Pino sangat besar sehingga membuat tubuh Shuu gemetar.

"Lihat peri kecil ini gemetaran." Senyum Pino sambil hendak menyentuh wajah Shuu.

Shuu langsung memukul tangan Pino, "Kau tidak akan kubiarkan berbuat seenakmu." Shuu yang sangat marah pada Pino, langsung mengeluarkan sayapnya.

"Sayap bangsa elf warna hitam.. menarik sekali," kata Pino mulai menyerang Shuu.

Shuu langsung menangkis serangan dari Pino, sambil sesekali menyerang balik dengan ilmu magicnya. Hingga akhirnya Shuu berhasil melukai tangan Pino.

"Kau.. akan kubuat kau menyesal telah melukaiku," kata Pino terlihat sangat marah.

Dengan cepat Pino menendang perut Shuu dengan sangat kuat, hingga Shuu terbatuk-batuk. Lalu Pino langsung menjambak rambut Shuu.

"Sebenarnya aku penasaran bagaimana rasa darah tubuh elf. Mana yang lebih enak, Elf atau manusia?" senyum Pino yang dengan perlahan mendekati pangkal leher Shuu dan mulai menghisap darahnya.

"Hnnngh…" gumam Shuu kesakitan, namun ia tidak bisa meloloskan diri.

"Shuu!" teriak Tenma tidak bisa bergerak apalagi setelah anak buah Pino menguncinya.

Tiba-tiba Pino melepaskan Shuu, "Hakuryuu.. sedang datang ke arah sini.. Aku mempunyai ide yang lebih bagus. Kalian bawa mereka ke kastilku!" perintah Pino.

"Tuan! Taiyou menghilang!" kata salah satu anak buahnya yang kecolongan.

"Biarkan saja dia, sebentar lagi dia juga akan mati," kata Pino sambil tertawa kecil.

"Hakuryuu… Nanti akhirnya kau akan bertekuk lutut di hadapanku hehehehe…" Senyum Pino lalu pergi.

.

.

.

.

.

Begitu Hakuryuu tiba, ia hanya melihat sisa-sisa pertarungan.

"Sial!" geram Hakuryuu yang tidak sempat untuk menolong mereka.

"..Hakuryuu…"

"Si..siapa itu?" tanya Hakuryuu mendengar suara yang memanggilnya dengan sangat kecil.

"Haku... ryuu…" gumamnya lagi.

Setelah mencari ke segala penjuru ruangan, akhirnya Hakuryuu menemukan Taiyou yang sudah terkulai lemas, dengan melihat lukanya yang sangat parah sungguh ajaib dia bisa bertahan.

"Taiyou!" teriak Hakuryuu panik.

"Haku... kuryuu... syukurlah kamu datang sebelum aku mati.." kata Taiyou lalu terbatuk-batuk sambil mengeluarkan darah.

"Taiyou kamu.. aku harus menolongmu!" kata Hakuryuu hendak memanggil bantuan.

"Tidak perlu… Aku sudah tidak bisa selamat.. harusnya kau tahu itu." Kata Taiyou menarik tangan Hakuryuu.

"Sial!" marah Hakuryuu, sekarang ia sangat membenci Pino.

"Hakuryuu.. aku punya permintaan terakhir.." kata Taiyou sebelum akhirnya dia benar-benar mati.

"Apa itu?" tanya Hakuryuu sambil memeluk Taiyou, teman terdekatnya.

"Tolong.. minumlah darahku sehingga kau bisa mendapatkan kekuatanku," gumam Taiyou yang sudah makin tidak kuat untuk bertahan.

"Aku tidak mau!" kata Hakuryuu kaget dengan permintaan Taiyou.

"Kau harus melakukannya.. Kalau tidak kau tidak akan bisa membunuh Pino," kata Taiyou menarik baju Hakuryuu.

"Tapi… aku.." Belum selesai Hakuryuu menyelesaikan omongannya, Taiyou langsung mencium Hakuryuu untuk memberikan darahnya yang berada dalam mulutnya.

"Hngh!.." Awalnya Hakuryuu menolak namun setelah terminum, ia mulai meminumnya seperti kehausan selayaknya vampire. Selesai meminum darahnya Taiyou, Hakuryuu tersadar.

"A..Apa yang..." kata Hakuryuu yang kaget sifat vampirenya keluar.

"Terimakasih… Hakuryuu.." senyum Taiyou perlahan menutup matanya, kemudian menghilang bagaikan debu.

"Taiyouuu!" teriak Hakuryuu sambil menitikkan air mata, namun ia tahu Taiyou berada di dekatnya hidup dalam darahnya.

.

.

.

.

.

Tempat Kediaman Hakuryuu,

"Atsuya apa benar disini aman?" bisik Kyousuke sedikit ketakutan sambil menunggu kedatangan Hakuryuu kembali.

"Tenang-tenang. Tuan Hakuryuu membuat tempat persembunyian ini dengan sangat baik yang bahkan vampire pun tidak akan dapat mencium bau kita." Senyum Atsuya yang diikuti anggukan dari Fubuki.

"Begitu, ya.. Kira-kira bagaimana dengan yang lain.." gumam Kyousuke meringkuk sedih.

"Tenang saja, Tuan Hakuryuu sangat kuat. Ia bahkan menyelamatkanku dan Atsuya dari perbudakan karena bangsaku adalah bangsa vampire yang paling rendah." Senyum Fubuki mengenang saat dirinya dan saudara masih menjadi budak.

"Iya.. Dia bahkan tidak menghiraukan ancaman-ancaman vampire lain demi kami yang tidak mempunyai nama." Senyum Atsuya juga.

"Sudah kuduga Hakuryuu itu baik, tapi kenapa dia sampai melakukan hal itu walau ia tidak mencintaiku.." gumam Kyousuke teringat lagi.

Fubuki dan Atsuya terdiam karena mereka tahu hal yang sebenarnya terjadi tapi mereka tidak bisa menjelaskan hal tersebut kecuali Hakuryuu sendiri yang mengatakannya.

"Hmm.. Tsurugi aku yakin Hakuryuu tidak bermaksud begitu.. Pasti ada alasannya, ya.." senyum Fubuki menenangkan Kyousuke.

Tiba-tiba Fubuki dan Atsuya merasakan energi yang mereka sangat kenal.

"Eh?" seru Fubuki kaget.

"Kau merasakannya juga?" tanya Atsuya memeluk Fubuki.

"Kalian berdua, apa maksud kalian?" tanya Kyousuke menjadi tidak tenang.

"… Energi kehidupan Taiyou menghilang.." gumam Atsuya yang diikuti tangisan Fubuki.

Kyousuke yang mendengar hal itu tidak percaya, Taiyou vampire yang sangat kuat itu telah tiada.. "Ti..Tidak mungkin.." Kyousukepun tak mampu menahan butir-butir airmatanya yang perlahan-lahan mulai terjatuh satu demi satu.

Walau Kyousuke hanya pernah bertemu dengannya satu dua kali, dan itu pun bukan pertemuan yang mengenakan namun tetap saja Kyousuke merasa sedih ketika ada seseorang didekatnya meninggal.

"Eh apa yang terjadi? Energi kehidupan Taiyou.. bersatu dengan energi kehidupan Tuan Hakuryuu." Seru Atsuya ketika sedang menenangkan Fubuki.

"Sebenarnya apa yang terjadi?" gumam Fubuki, lalu tiba-tiba Fubuki maupun Atsuya seperti tersadar dari sesuatu.

"Jangan-jangan.. Taiyou memberikan kekuatan yang dimilikinya sebagai vampire kepada Tuan Hakuryuu, agar Tuan Hakuryuu menjadi vampire yang bahkan lebih kuat dibandingkan dengan Pino," kata Atsuya yakin karena telah mengenal Taiyou cukup lama.

"Kh! Aku tidak tahan lagi, aku bukanlah manusia lemah. Aku bisa bertarung dan aku ingin menolong kalian dan juga Hakuryuu dengan semampuku, urusan Hakuryuu dan aku adalah urusan belakangan. Sekarang kalian tunjukan jalan menuju kediaman Pino." Kata Kyousuke menetapkan hati dan tujuannya 'Dan ini mungkin yang akan dilakukan kalian berdua juga bukan? Ayah.. Ibu..'

.

.

.

.

.

.

Kediaman Pino.

"Sekarang kalian masukan manusia itu ke penjara bawah tanah dan tinggalkan peri hitam itu disini, karena urusanku dengannya belum selesai," perintah Pino sambil tersenyum licik.

"Baik Tuan!" Lalu dua vampire bawahan tersebut menyeret Shuu yang telah diikat dengan kencang ke arah Pino sedangkan sisanya menyeret Tenma ke penjara bawah tanah.

"Shuuu! Bertahanlahh aku pasti akan menolongmu! Aku janjii!" teriak Tenma sebelum akhirnya suara Tenma makin tak terdengar.

"Tenma…" gumam Shuu gemetaran, takut atas apa yang akan terjadi.

"Kalian berdua berjagalah di depan ruanganku, sekarang biar aku yang mengurus peri kecil ini sendirian," ujar Pino menjambak dengan kasar rambut Shuu.

"Argh!" teriak Shuu kesakitan namun ia tidak bisa melawan karena energinya habis terkuras sebelumnya.

"Hehehe.. Namamu Shuu kan? Boleh kutahu apakah kamu telah memberikan tubuhmu pada Hakuryuu? Apalagi saat kudengar kamu diselamatkan olehnya." Senyum Pino memperhatikan Shuu dengan seksama.

"A..Aku tidak pernah melakukan hal itu termasuk juga Hakuryuu! Dia adalah vampire yang sangat terhormat, ia selalu memperhatikan anak buahnya dengan baik tidak seperti kamu!" bentak Shuu yang tidak terima Pino menjelekan Hakuryuu.

"He… Jadi kamu itu masih 'perawan' ya.. Atau.. jangan-jangan kamu telah melakukannya dengan manusia rendahan itu." Pino mendekatkan mukanya.

Shuu yang sangat kesal langsung meludahi Pino tanpa memikirkan akibat lebih lanjut yang akan dialaminya. "Kau jangan pernah menjelek-jelekkan Tenma!"

Pino lalu mengelap pipinya yang terkena ludah Shuu tersebut dan langsung memukuli bahkan menendangi Shuu tanpa ampun hingga Shuu sangat kesakitan.

"Ukh!" Shuu mengerang kesakitan namun ia tahu bahwa Hakuryuu pasti akan menolongnya.

"Sekarang.. bersumpahlah padaku kalau kau akan menjadi anak buahku selamanya, dengan begitu aku akan membebaskan manusia yang kau cintai itu." Seringai Pino sambil menarik rambut Shuu kembali.

".. Aku tidak akan pernah menjadi anak buahmu dan mengkhianati tuan Hakuryuu.." geram Shuu sangat kesal.

"Hhhh.. Sepertinya percuma ya bernegosiasi denganmu, sayang sekali padahal aku cukup menyukai kekuatanmu itu. Kalau begitu.. Hei kalian!" panggil Pino kepada para penjaganya. "Kalian boleh melakukan sesuai yang kalian inginkan pada peri hitam ini dan juga manusia rendahan itu mau mati juga terserah, jangan lupa beritahu yang lain supaya hal ini akan menjadi menyenangkan."

"Baik Tuan Pino!" senyum para anak buahnya dengan sangat-sangat senang dan juga licik seakan sudah merencanakan apa yang akan mereka lakukan pada mereka berdua.

"Ah sebelumnya agar kekuatan peri ini hilang untuk waktu yang cukup lama.." Pino menjambak rambut Shuu lalu langsung memotongnya.

"Gyaa.. Ahh.." Shuu berteriak ketika semua kekuatannya lenyap dari tubuhnya.

"Nah.. sekarang kalian bebas melakukan apa saja." Kata Pino kemudian duduk mengamati kehancuran Shuu dari tahtanya.

Beberapa anak buah Pino langsung membuka paksa baju Shuu dan yang lainnya menahan Shuu untuk bergerak dan yang lainnya langsung bergerak ke tempat dimana Tenma ditahan. "Hentikan! Tidaaak! Tenmaaaa!" Teriak Shuu putus asa.

.

.

.

.

Di tempat Tenma ditahan...

"Hei manusia.. Tuan kami sudah memberikan perintah pada kami kalau kami bisa melakukan apapun padamu. Ya, tentu saja kami akan meminum darahmu sampai habis." Senyum licik terukir pada salah satu anak buah Pino tersebut.

"Hehehe.. Kau tahu saat ini temanmu si peri hitam itu sedang bersenang-senang dengan teman-teman kami di atas. Ya.. kalau kalian beruntung kalian bisa bertemu di alam sana." Tawa anak buah Pino yang satu lagi.

Tenma hanya terdiam menggeritkan giginya 'Shuu aku pasti akan menyelamatkanmu seperti kamu yang sudah sering menyelamatkan hidupku.'

Ketika mereka berdua mendekati Tenma, tiba-tiba Tenma langsung menendang mereka dengan cepat, merebut pisau yang mereka punya dan langsung menusuk jantung mereka dalam hitungan detik.

"Hhh.. gara-gara aku ceroboh dengan berpikir hampir semua vampire gampang dibunuh, aku jadi terlalu santai dan menyebabkan hampir semuanya jadi berbahaya.. huff.. waktunya menjemput Shuu," gumam Tenma mengambil kedua pisau dari vampire tersebut.

Sementara itu Shuu...

"Argh! Hnnn.. Hen..!.. Hngh!" Shuu tidak bisa melawan sama sekali ketika 5 anak buah Pino, memperkosanya, dengan bergantian mereka memasuki tubuh Shuu entah dari mulut Shuu maupun dari selangkangan Shuu. Shuu hanya bisa berteriak sambil menangis. "Tenma..Tenmaaa!"

"Periku memanggilku?" tanya Tenma ketika ia menghancurkan pintu menuju ruangan dimana ada Shuu tersebut.

"Tenmaaa.. Tenma!" kata Shuu kesenangan ternyata Tenma berhasil lolos dari para vampire di tempat Tenma disekap.

Namun ternyata di pintu tersebut tidak hanya ada sosok Tenma, di sebelahnya terdapat satu sosok lagi. Sosok yang ditunggu oleh Pino.

"Tuan Hakuryuu..." senyum Shuu.

"Maaf Shuu.. Aku terlambat.." kata Hakuryuu lembut.

"Tidak apa-apa tuan.. ini karena aku sendiri yang memutuskan," kata Shuu lagi yang sudah lemas karena perlakuan para vampire-vampire Pino.

"Hehh.. Mari kita mulai, Tenma.. Kau urus saja vampire-vampire yang telah membuat Shuu sakit, sedangkan aku akan membalaskan dendam kalian pada Pino jahanam itu karena telah menantang kita," ujar Hakuryuu sambil menunjuk pada Pino. Hakuryuu saat itu terlihat sangat menyeramkan.

"Kau akan kubuat tidak ingin hidup lagi, Hakuryuu.." senyum Pino sangat-sangat licik.

.

.

.

.

.

Sementara di sebuah hutan pinggir kota menuju tempat Pino,

"Ja..jadi Pino dendam sama Hakuryuu gara-gara sejak dulu Pino selalu kalah darinya mau dari pelajaran sampai popularitas?" kata Kyousuke terkaget-kaget.

"Ngg.. Begitulah, sudah sejak dulu sifatnya sangat menyebalkan.. Dan terus menjadi-jadi setelah kejadian Tuan Hakuryuu terus menerus mengalahkannya dan meremehkannya," kata Atsuya tersenyum kecil sambil menggaruk-garuk pipinya.

Tanpa disadari, mereka akhirnya sudah sampai ke tempat Pino.

"Akhirnya kita sampai juga, waktunya menolong yang lain," kata Atsuya yang diikuti anggukan Fubuki dan Kyousuke.

Saat itu Tenma walau sedang terluka, terus menerus bertarung melawan vampire-vampire yang ada untuk menyelamatkan Shuu.

"Heh! Apa hanya itu kemampuan kalian?" kata Tenma terlihat asyik saat melawan vampire-vampire anak buah Pino yang menyerang. Dengan cepat, Tenma membunuh vampire-vampire tersebut satu persatu namun Tenma yang sedang tidak dalam kondisi sempurnanya sehingga cukup kesusahan dengan tubuhnya yang mulai tidak menurut akibat luka yang ia derita dari pertarungan dengan Pino sebelumnya. Di saat Tenma agak lengah karena sakit yang dideritanya mulai terasa makin sakit, salah satu vampire anak buah Pino menyerang Tenma dari atas.

"Tenma awas! Atas!" teriak Shuu khawatir namun ia sama sekali tidak dapat bergerak lagi untuk menolong Tenma.

Saat itu disaat yang tepat Atsuya langsung menahan serangan vampire itu dan Fubuki langsung membawa Tenma ke arah Shuu sehingga Tenma selamat.

"Nah waktunya kalian istirahat dan biarkan kami yang menyelesaikan tugas ini," kata Atsuya setelah membunuh vampire yang hendak menyerang Tenma tadi.

"Terima kasih.. Atsuya.. Fubuki," kata Shuu tersenyum sambil didekap oleh Tenma yang saat itu sangat panik melihat kondisi Shuu.

"Shuu.. maaf aku terlambat.." gumam Tenma.

"Tidak apa-apa Tenma.. tidak apa-apa.. ahh.. aku ngantuk sekali.." balas Shuu lemah perlahan ia memejamkan matanya.

"Shuu..? Buka matamu Shuu.. Shuu.." Tenma langsung mendekap tubuh Shuu dengan sangat erat, berharap Shuu tidak apa-apa karena ia yakin Shuu hanya tertidur kecapaian, Shuu belum meninggal.

.

.

.

.

.

Di tempat yang lain yang berada di dekat tempat Atsuya dan Fubuki bertarung, Hakuryuu dan Pino sedang bertarung dengan sangat sengit.

"Pinoo! Mengapa? Mengapa kau melakukan ini semua!" marah Hakuryuu sambil terus menerus menyerang Pino, sedangkan Pino terus menerus mengelak.

"Hehehe.. Kau tanya mengapa? Aku hanya ingin melihat kamu menderita sampai tidak ingin hidup lagi! Seperti diriku yang telah kau injak-injak dan kau remehkan!" kata Pino dan langsung menusuk tubuh Hakuryuu disaat Hakuryuu lengah.

"Ukhhh!" gumam Hakuryuu kesakitan dan ia langsung terjatuh terjerembab ke lantai akibat tusukan Pino yang sangat dalam. 'Aku beruntung tusukan tersebut tidak kena ke jantungku.'

"Akan kuberitahukan padamu kalau kemampuan kita sudah sangat berbeda dibandingkan jaman dulu dimana kau menginjak-nginjak harga diriku!" Pino tertawa sambil menginjak bagian tubuh Hakuryuu yang terluka.

"Ukh! Kau sialan!" Hakuryuu langsung menangkap kaki Pino dan langsung melemparkannya jauh dari Hakuryuu. "Hahh..haah.." Hakuryuu berusaha tidak menghiraukan kesakitan yang dia alami. "Kau.. Pedang itu pedang pembunuh vampire ternyata.. Kenapa kau bisa memilikinya?"

"Hmm pedang ini kuambil saat aku berhasil membunuh salah seorang pemburu vampire beberapa selang waktu yang lalu. Kuambil karena kupikir ini bisa kugunakan untuk melawanmu." Senyum Pino penuh kemenangan.

"Heh? Sayang sekali kau tidak akan bisa membunuhku," kata Hakuryuu yang lukanya sembuh sedikit demi sedikit.

"Kau kenapa bisa?" Pino kaget melihat luka Hakuryuu yang perlahan sembuh walau terkena tusukan pedang pembasmi vampire.

"Hehe.. Saat ini aku telah bersatu dengan Taiyou sehingga luka yang disebabkan bisa sembuh dua kali lipat dari semula sehingga walau terkena pedang itu aku bisa sembuh kembali walau memang lama." Hakuryuu tersenyum, "Dan tentu saja kekuatanku juga menjadi dua kali lipat."

Hakuryuu kemudian langsung menendang Pino cukup keras sehingga membuat salah satu dinding di sekitarnya runtuh.

"Ukh! Kau.. Aku tidak pernah menduga kalau kau akan meminum darah Taiyou. Apa kau lupa konsekuensinya?" Pino berusaha berdiri sambil menatap tajam Hakuryuu.

"Tentu saja aku tahu.. Vampire yang meminum darah vampire lain akan langsung diasingkan kalau perlu akan dibunuh oleh vampire-vampire yang lain atas perintah Raja. Tapi aku akan melakukan apa saja untuk membuatmu menyesal telah menyerang kami." Senyum Hakuryuu seakan sudah siap dengan apapun hasil yang akan terjadi.

"Huh! Kau selalu saja bersikap seperti itu.. Menyebalkan!" geram Pino.

"Tuan Pino! Biar kami menolong tuan!" Tiba-tiba beberapa anak buah Pino yang sudah datang ke tempat pertempuran Hakuryuu dan Pino.

Pino saat itu langsung tersenyum licik. "Hehehe!" Pino langsung berlari dengan cepat ke arah anak buahnya dan langsung meminum darah mereka satu persatu dengan cepat tanpa menyia-nyiakan waktu.

"Pinoo! Apa yang kau lakukan!" marah Hakuryuu melihat anak buah Pino dibunuh satu persatu oleh Pino.

"Hehehe.. HAHAHAHA! Dengan begini aku tidak akan kalah darimu." Kata Pino sambil menunjuk ke arah Hakuryuu dengan senyuman yang sangat mengerikan.

"Kau gila.." geram Hakuryuu.

"Iya aku gila karena kau!" teriak Pino langsung berlari ke arah Hakuryuu.

Dengan cepat Pino menyerang Hakuryuu yang belum siap. Ia menendang, memukul, dan melukai Hakuryuu dengan kuku jarinya yang setajam pedang. "Hahaha.. Aku telah meminum darah vampire lebih banyak darimu dan pastinya akulah yang akan menang!"

"Gyaaa!" teriak Hakuryuu terjatuh kesakitan dan terluka dimana-mana akibat serangan Pino yang tidak seimbang itu.

Hakuryuu yang terjatuh langsung dikunci tangannya ke belakang punggung oleh Pino sehingga Hakuryuu sulit untuk bergerak maupun untuk keluar dari kuncian tersebut.

"Kh! Pino!" Hakuryuu terus berusaha untuk keluar dari kuncian tersebut namun yang ada Pino makin mempererat kuncian tersebut sehingga Hakuryuu makin kesakitan "Ugh.."

"Percuma kau tidak bisa bergerak, kalau kau bergerak sedikit saja aku bisa membuat tanganmu patah. Seperti ini!" Pino tersenyum penuh kemenangan ketika dia mematahkan tangan Hakuryuu yang sedang dikuncinya.

"Gyaaaa!" teriak Hakuryuu sangat kesakitan, walau vampire mempunyai kekuatan untuk menyembuhkan luka yang dideritanya namun vampire akan tetap merasakan sakit saat terluka.

Tanpa disadari Hakuryuu, Pino tersenyum licik dan dia membisikkan sesuatu ke Hakuryuu "Hakuryuu.. kau tahu sifatmu itu sangat menyebalkan membuatku ingin menguasaimu dari berbagai sisi termasuk dari sisi ini.."

Dengan perlahan salah satu tangan Pino yang bebas mulai menjelajahi bagian dada Hakuryuu dan Pino sendiri mulai mencium bagian belakang leher Hakuryuu.

"Hngh!" Hakuryuu berusaha tidak mengeluarkan suara saat Pino melancarkan aksinya.

"Hei kau tahu Hakuryuu? Saat Taiyou berusaha membunuh manusia kesayanganmu itu, akulah yang memberikan ide padanya untuk melakukan hal itu untuk mendapatkan dirimu, dan disaat dia berhasil mendapatkanmu, aku akan membunuhnya dan membuatmu menjadi milikku, namun ternyata dia gagal. Yah.. walaupun akhirnya dia mati juga, dan sekarang kamu sedang berada di bawahku." Senyum Pino lalu menciumi leher Hakuryuu lagi.

"Pino kau sialan! Ugh!" Belum selesai Hakuryuu berbicara, Pino menyakiti tangannya yang patah sehingga Hakuryuu merasa sangat kesakitan.

"Hehe.. Kau kalah Hakuryuu.." bisik Pino sambil tangannya yang bebas mulai menuju ke bagian bawah tubuh Hakuryuu.

"Hentikan!" teriak Hakuryuu sangat kesal dengan ketidakmampuannya.

Tiba-tiba tubuh Pino terpental dari Hakuryuu, "Lepaskan tanganmu dari Hakuryuu!" marah Kyousuke setelah mengeluarkan mantranya untuk membuat Pino terluka.

"Hakuryuu aku akan menyembuhkanmu," kata Kyousuke lalu mengeluarkan mantra penyembuhnya sehingga Hakuryuu sembuh total.

"Hhh.. Ini kedua kalinya aku diselamatkan dirimu, terimakasih.." senyum Hakuryuu sangat lembut akhirnya Hakuryuu tidak merasa kesakitan lagi walau sebenarnya lukanya hanya tertutup dan belum sembuh benar.

"Kalian.. akan kubunuh.." geram Pino yang sangat marah dirinya bisa terluka oleh manusia biasa.

"Hakuryuu.. aku akan menolongmu jadi, menangkan pertarungan ini. Dan kutunggu penjelasan darimu kenapa kamu jadi menjauhiku." Kyousuke memandang erat wajah Hakuryuu.

"Hhh.. Baiklah setelah pertarungan ini berakhir aku berjanji akan memberitahukan alasannya.." Hakuryuu tersenyum dan siap menerima apapun yang terjadi dengan hubungan Hakuryuu dan Kyousuke setelah pertempuran ini.

"Kau mengganggu!" Pino hendak menyerang Kyousuke, namun Hakuryuu menebas tangan Pino dengan pedang Pino yang sebelumnya terjatuh di dekat Hakuryuu.

"Ugh! Gyaaaaaaa!" teriak Pino kesakitan.

"Kau akan kumaafkan jika menyentuhku namun aku tidak akan memaafkan kalau kau sampai melukai Tsurugi." Hakuryuu mengacungkan pedangnya tepat di muka Pino.

"Kh..Kh.. Aku pasti akan membunuhmu!" marah Pino langsung melemparkan pasir ke muka Hakuryuu.

"Sial!" Hakuryuu kesulitan melihat karena matanya sakit kemasukan pasir.

Disaat Kyousuke hendak membantu Hakuryuu, Kyousuke langsung ditendang hingga terpental di salah satu dinding hingga mengalami beberapa patah tulang sehingga dia tidak bisa bangkit berdiri lagi. Setelah itu Pino langsung menyerang Hakuryuu tanpa ampun.

"Serangan terakhir ini pasti akan membunuhmu, Hakuryuu!" Pino melompat dan hendak membunuh Hakuryuu yang terluka parah dengan menusuk jantung Hakuryuu.

Namun sebelum itu terjadi, Tenma, Atsuya, dan Fubuki muncul setelah membereskan anak buah Pino yang cukup banyak itu dan langsung menyerang Pino sebelum Pino berhasil menyentuh Hakuryuu.

"Arghhh!" Pino pun ambruk dan langsung pingsan karena serangan gabungan mereka bertiga.

"Tuan kau tidak apa-apa?" teriak Atsuya dan Fubuki langsung memeluk Hakuryuu.

Hakuryuu yang sedang terluka langsung meringis kesakitan "Aw... aw... aw! Aku baik-baik saja dan kalian jangan memelukku seperti ini, aku ini sedang terluka," sungut Hakuryuu.

"Hakuryuu…" panggil Kyousuke dengan lembut dan dengan perlahan Kyousuke berdiri menghampiri Hakuryuu.

"Tsurugi.. Kau tidak apa-apa? Bagaimana dengan lukamu?" tanya Hakuryuu perlahan duduk sambil sesekali meringis kesakitan.

"Hmm.. Tidak apa-apa, aku menyembuhkan sendiri lukaku walau tidak seluruhnya tersembuhkan." Ujar Kyousuke. Hal itu membuat lega Hakuryuu.

Melihat Hakuryuu dan Kyousuke yang sedang seperti berada di dunianya sendiri, Atsuya, Fubuki, dan Tenma pun hendak pergi menuju tempat Shuu yang sedang beristirahat. Namun ternyata sebelum mereka pergi, Pino terbangun dan langsung mencoba untuk membunuh Kyousuke.

"Kau.. Semua gara-gara kau! Kalau kau tidak ada aku pasti sudah berhasil membunuh Hakuryuu!" teriak Pino yang muncul tiba-tiba di belakang Kyousuke.

Namun, takdir berkata lain. Hakuryuu yang masih mampu bergerak langsung mengambil kembali pedang Pino, "Tsuruugiii!" Lalu kali ini Hakuryuu menebas tubuh Pino dan berhasil menebas jantung Pino sekaligus.

"KISAMA! Tidak akan kubiarkan berakhir seperti ini!" Pino sebelum mati menjadi debu berhasil menusuk tubuh Hakuryuu dengan tangannya hingga Hakuryuu terluka sangat berat.

"Hakuryuu.. Bertahanlah Hakuryuu!" Kyousuke berusaha mengeluarkan mantra penyembuhnya namun ternyata ia tidak berhasil menyembuhkan Hakuryuu karena energi Kyousuke yang sudah habis.

"Hehe.. Sebelum aku mati.. Aku sudah berjanji untuk menceritakan semuanya padamu, Tsurugi." Hakuryuu tersenyum penuh arti.

"Jangan bilang kalau kamu akan mati! Lebih baik sekarang kita sembuhkan dulu lukamu!" Kyousuke mulai panik dan tentunya yang lain pun panik.

"Tidak perlu.. Kamu tahu Tsurugi.. Dulu orangtuamu adalah salah satu pemburu vampire yang sangat ditakuti oleh vampire-vampire di sekitar sini. Dan disaat itu pula, aku ditugasi untuk menghabisi seluruh keluargamu."

"Jadi Hakuryuu dulu kamu yang—" Kyousuke mendengar serasa tidak percaya, saat itu Kyousuke masih kecil dan saat itu pula ia melihat seorang vampire menghabisi seluruh keluarganya, namun vampire tersebut tidak tega untuk membunuh dirinya.

"…Saat aku telah membunuh keluargamu, dan hendak membunuhmu.. Kamu menatap diriku seakan tidak percaya dengan apa yang telah terjadi dan tiba-tiba bagian sini terasa sangat sakit... " ucap Hakuryuu sambil menyentuh dadanya. "Aku saat itu walau telah menerima perintah untuk membunuh semua.. aku tidak bisa membunuhmu.. Aku tidak bisa membunuhmu, Tsurugi.. Aku.. minta maaf telah membunuh keluargamu.." Tiba-tiba Hakuryuu mulai mengeluarkan banyak darah dari mulutnya.

"Ha..Hakuryuu! Jangan bicara apa-apa lagi.. Aku tidak peduli tentang masa lalu kita! Aku sudah memaafkanmu sekarang kamu harus cepat kita obati!" kata Kyousuke menangis melihat kondisi Hakuryuu.

"Tsurugi.. Maaf.. Maaf…" Setelah itu Hakuryuu perlahan-lahan menutup matanya.

"Hakuryuuuu!" Kyousuke berteriak sambil menangis memeluk Hakuryuu sedangkan yang lainnya pun tak dapat menahan tangis melihat kondisi Hakuryuu.

.

.

.

.

Beberapa bulan kemudian...

"Untuk kasus Hakuryuu aku hanya akan memberikan sanksi ringan mengenai meminum darah vampire lain karena yang ia lakukan hanyalah untuk melindungi kelangsungan hidup keluarganya. Dengan demikian sidang ditutup."

Begitulah kata pemimpin tertinggi dunia vampire yang akhirnya membebaskan Hakuryuu sehingga Hakuryuu dapat hidup sebagai vampire normal lagi.

"Dan untuk Tsurugi Kyousuke, saya sebagai pemimpin tertinggi dunia vampire akan memberikan satu kota khusus dimana manusia dan vampire bisa hidup bersama setelah merundingkannya dengan beberapa petinggi manusia. Dan tentu saja manusia maupun vampire tidak diperbolehkan saling membunuh di kota damai tersebut," kata pemimpin tertinggi Vampire tersebut.

Kyousuke yang mendengar hal itu sangat bahagia, selain Hakuryuu telah sembuh dan tidak mendapatkan sanksi berat, ia pun dapat mencapai mimpinya dimana vampire dan manusia dapat hidup bersama.

Tak lama kemudian di sebuah gereja kecil...

"Tsurugi, kamu sudah siap?" tanya Tenma kepada Kyousuke yang sedang berada di dalam salah satu kamar.

"Sebentar lagi, Tenma," jawab Kyousuke dari dalam ruangan itu.

Sementara di ruangan dengan altar pernikahan.

"Aku tidak pernah menyangka Kyousuke kecilku akan menikah," ujar walikota di kota tempat Kyousuke dirawat dari kecil.

"Iya, walau aku juga sebenarnya tidak rela dia menikah dengan vampire itu, namun itu sudah pilihannya," kata Yuuichi kakak dari Kyousuke yang kebetulan ikut menghadiri pernikahan adik semata wayangnya itu. Entah bagaimana cara Hakuryuu dapat menyakinkan kakak dari kekasihnya yang terkenal dengan Brother Complex-nya itu.

.

.

.

.

"Fubuki.." panggil Atsuya mesra sambil memegang tangan Fubuki.

"Atsuya…" panggil Fubuki juga mesra sambil mukanya bersemu-semu.

"Kalian.. cobalah bersikap biasa di hari yang spesial ini," tegur Shuu yang malu karena mereka jadi tontonan yang lain.

Tiba-tiba dari belakang Shuu muncul Tenma sambil tersenyum, "Shuu jangan serius begitu, kasian mereka apa-apa tidak boleh."

"Ha..habisnya.." belum Shuu menyelesaikan omongannya, Tenma langsung mencium Shuu di depan semua orang yang ada disitu.

"Bagaimana kalau habis ini kita yang menikah?" tanya Tenma lalu memeluk Shuu.

"Te..Tenma!" Shuu yang sangat malu saat itu langsung memukul Tenma hingga tersungkur.

Atsuya dan Fubuki hanya bisa tertawa melihat kemesraan Tenma dan Shuu.

Lonceng gereja pun berbunyi tanda pernikahan hendak dimulai. Hakuryuu sebagai pengantin pria sudah berdiri di depan altar menunggu kedatangan pengantin 'wanita'nya yang tidak lain adalah Kyousuke. Setelah tak beberapa lama Kyousuke dipanggil oleh pendetanya, Kyousuke pun perlahan masuk dan berjalan menuju altar pernikahan. Walau Kyousuke memakai jas untuk menikah, hal itu tidak menyurutkan kecantikan seorang Tsurugi Kyousuke.

"Ahhh.. harusnya Tsurugi memakai baju pengantin wanita yang kusiapkan.." gumam Tenma yang membuat Shuu mencubit paha Tenma dengan keras.

Hakuryuu yang melihat Kyousuke langsung terpukau dengan kecantikan pasangannya, 'Tsurugi dia sangat cantik dan manis sekali..'

"Hakuryuu, apa Anda bersedia menerima Tsurugi Kyousuke sebagai 'istri'mu dan bersumpah untuk selalu berada di sisinya dalam suka maupun duka, kaya maupun miskin, sakit maupun sehat, sampai maut memisahkan kalian?"

Hakuryuu yang mendengar pertanyaan itu langsung menjawab, "Saya sangat bersedia." Hakuryuu menjawab sambil tersenyum memandang Kyousuke dengan lembut.

"Dan Anda, Tsurugi Kyousuke, apa Anda bersedia menerima Hakuyuu sebagai suamimu dan bersumpah untuk selalu berada di sisinya dalam suka maupun duka, kaya maupun miskin, sakit maupun sehat, sampai maut memisahkan kalian?"

Kyousuke tersenyum dan pipinya merona malu, "Ya, Saya bersedia."

"Pakaikan cincin pernikahan pada jari pasangan Anda," kata Pendetanya kemudian.

Dengan semangat Hakuryuu kemudian mengambil cincin pernikahannya dan memakaikannya dengan manis di jari manis Kyousuke, dan sebaliknya Kyousuke pun memakaikannya ke jari manis Hakuryuu. Setelah prosesi pemasangan cincin pernikahan, Hakuryuu dan Kyousuke terus menerus bergenggaman tangan sambil tersenyum bahagia.

"Sekarang kalian berdua telah sah menjadi suami istri, dan kedua mempelai dipersilakan untuk mencium pasangannya."

Tentu saja Hakuryuu dengan cepat langsung mencium bibir seksi Kyousuke walaupun saat itu Kyousuke belum siap sehingga sempat kaget dengan keagresifan Hakuryuu.

.

.

.

"What? Nani?" Atsuya yang melihat kejadian itu hanya ikutan terkejut melihat keagresifan yang ditunjukan oleh tuannya itu. Bapak walikota, Tenma, Shuu, dan Fubuki sedang menahan Yuuichi yang entah kenapa naluri ingin menonjok suami adiknya datang (?). Omg, barusan rasa-rasanya tadi sedih-sedihan—dalam artian terharu bahagia. Eh, sekarang malah mau tonjok-tonjokan.

"Atsuya! Bantu napa!" Tenma melempar sebelah sepatunya ke arah Atsuya.

"Auch! Iya! Tapi tidak perlu lempar sepatu juga!" gerutu Atsuya lalu mendekat ikut menahan Yuuichi.

"Hei... Yuuichi-san tenanglah.."

Sementara mereka sibuk dengan Yuuichi. Kembali kearah pasangan sho-ai kita...

Namun setelah agak tenang, Kyousuke akhirnya membalas ciuman Hakuryuu. Hakuryuu kemudian memeluk tubuh Kyousuke sambil terus menerus menciumnya. Para pengunjung langsung menahan nafas melihat Hakuryuu dan Kyousuke yang berciuman dengan sangat mesra dan sangat lama itu.

Kemudian setelah puas Hakuryuu langsung tersenyum ke arah Kyousuke dan langsung menarik Kyousuke keluar dari gereja tersebut,"Ayo Tsurugi kita lanjutkan di kamar kita."

"Ha... Hakuryuu!" teriak Kyousuke kaget sekaligus malu.

Sedangkan para pengunjung hanya dalam tersenyum dan tertawa kecil melihat kebahagiaan mereka berdua.

Kemudian dengan perlahan Shuu bersandar ke pundak Tenma sambil melihat ke arah kedua sahabatnya yang sedang bahagia "Hei Tenma.. Apa suatu hari nanti kita bisa menikah seperti mereka berdua?" tanya Shuu dengan suara yang seperti bisik-bisik.

"Hehe.. Pastinya Shuu, mari kita buat pernikahan yang tidak kalah menariknya dengan mereka berdua." Senyum Tenma sambil memeluk Shuu.

.

.

.

.

.


=HAPPY ENDING=


Wah... tak terasa udah tamat (?) yang sesuai apa yang saia katakan di chapter sebelumnya alurnya emang cepet tapi bermakna /dimananya.

Oh.. ya untuk masalah Yuuichi, kenapa ga dihabisi sama Hakuryuu dulu, itu kebetulan saja Yuuichi lagi menginap di rumah bapak Walikota /cerita singkatnya gitu/ jadi ga ikut kebunuh. =3=

Hakuryuu ga mati kok, cuma kelelahan karena energinya habis doang..

Epikkkkkk banget saia nge-ship TenShuu, baru pertama kalinya.. hah... jujur keknya manis aja nge-ship mereka. Tenma yang penyabar, Shuu yang pengertian.. aaaaa... entah kenapa membuat mereka OOC susah, malah Tsurugi yang begitu OOC... mana wajah deadpan-nay DXX /dirajam Tsurugi bersama Fansnya/ aduh... maaf Tsurugi lagi-lagi saia bikin kamu OOC... T^T /sujud/

Ok... dari pada nunggu saia minta maaf pada Tsurugi lewat wallpaper hape (?) saia, saia sudahin sesi tanya-jawab (?). sampai jumpa di lain waktu minna-san... Jaaa~