Dua hari sudah berlalu, dirinya tetap belum bisa bertemu dengan samurai bersurai langit yang kabar angin sebutkan.

"Cih. Merepotkan..." gumamnya, kakinya melangkah keluar penginapan yang ia tempati sementara, menuju jalan penuh manusia. "Aku hanya akan-uff!"

"Nakigitsune?!"

"Ah, maafkan saya," suara berat dan dalam terdengar sangat asing. "Mari..."

Ia menatap ke atas, menemui sepasang mata merah dan berkilau, surai panjang seputih miliknya diikat ke belakang, menampilkan dada dan bahunya yang kekar walaupun di balut dengan nagajubin.

"A-ah, terima kasih," tuturnya, menerima uluran tangan berbalut kain hitam pelindung tangan berotot itu. "Maaf, aku tidak melihat arahku pergi."

"Tapi akulah yang menabrakmu," balas orang tersebut. "Setidaknya, terimalah permintaan maafku dulu."

"...aku terima maafmu, tuan tanpa nama," daripada berlama-lama disini. "Kalau begitu, aku permisi dulu-!"

"Kogitsunemaru-dono!"

Ia terdiam.

Suaranya...lain...

Maniknya menoleh, mendapati pemuda bersurai langit yang panjangnya hampir sama dengan tuan tak di kenal yang telah menabraknya, bedanya, pemuda itu tidak mengikatnya.

"...Ichigo..." bisikan pilu keluar dari bibirnya sebelum ia sadari, yang berhasil membuat pria di sebelahnya melirik kearahnya.

"Kau penggemarnya..?" pertanyaan penuh...kekecewaan.

Hah..?

Ia menggelengkan kepala.

"Tidak...dia mengingatkanku dengan bocah ceroboh yang kuasuh dulu...mungkin, usianya sudah sekitar 25 musim semi," Jawabnya dengan senyum kecil merias wajah awet mudanya. "Entahlah, aku melewatkan banyak musim semi tanpanya..."

Pemuda bersurai langit akhirnya berdiri di depan mereka, manik matanya tidak lepas dari sang Dewa dalam penyamaran.

"Ah, maaf, Toushirou," ujar pria yang baru ia temui. "Aku tidak sengaja menabrak-?!"

"Nakigitsune-dono...!"

Nakigitsune mendapati dirinya di dalam dekapan pemuda bersurai langit, membuat siapa saja yang lewat berhenti dan menatap.

"...kau sudah besar, bocah," ucapnya sebagai sapaan. "Hampir 10 musim semi..." gumamnya dengan senyuman kecil.

"Aku bukan bocah...!" balasan otomatis yang membuat si bocah yang tumbuh menjadi pria dewasa merona malu. "Kau...jadi pendek..!"

Mata kirinya berkedut, dan sebagai balasannya, tangan pucat itu menarik pipi kiri bocahnya.

"Tidak sopan," dengusnya dengan kesal. "Dua hari aku mencarimu di kota ini. Suratmu yang terakhir lebih pendek dari sebelumnya, tidak rapi, bernoda juga, dan itu membuatku khawatir...apa kau baik-baik saja, bocah?"

"Aku bukan bocah lagi..." gerutu kesal hanya terdengar di telinga yang dekat. "Soal itu...Akita tak sengaja menumpahkan tintanya tanpa sepengetahuanku."

Mata mengerjap sesaat, sebelum sebuah tawa terlepas.

"Ya...aku tahu..." gumam Ichigo, namanya Ichigo. "Aku di beri tahu saat merpatinya sudah pergi...maaf, aku harusnya langsung memberitahumu.."

"Tak apa," ujar Nakigitsune setelah tawanya terhenti. "Sudah lama juga aku tidak pergi keluar rumah...banyak hal telah berubah...salah satunya kau, bocah."

"Berhentilah memanggilku dengan sebutan itu..."

Nakigitsune terkekeh, dan berjinjit untuk mengacak-acak rambut bak langit biru tak berawan.

"Na-!?"

"Kau masih bocah di mataku," sela Nakigitsune, menyunggingkan senyuman hangat kearah Ichigo. "Entah apa yang telah kau capai atau siapa saja yang sudah kau taklukan, kau masih bocah dengan mimpi besar bagiku..."

Ichigo masih merah, dirinya tak bisa berkata apa-apa sebab dirinya memang ingin bertemu dengan pengasuhnya.

Tapi...

"Takluk...? Kau dengar...?" tanya dengan perlahan. "Itu bisa saja palsu bahkan kebohongan.."

Mata penuh pengetahuan menatap Ichiho kesal.

"Dasar bocah," omelnya. "Tidakkah aku pernah mengajarimu, bahwa di setiap kebohongan-

"Pasti ada kebenaran."

Ichigo membuang muka, niatnya merajuk tapi dia tahu, dirinya hanya akan di goda tanpa ampun oleh Nakigitsune.

Senyuman menghias wajahnya.

"Nah, karena aku tahu kau masih utuh dan sehat, aku akan kembali," tuturnya, sebelum ia memindahkan pandangan ke arah pria kenalan Ichigo. "Tolong pastikan dia tidak melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya, tuan."

"Oi!"

Pria bermata rubi itu menyeringai ke arah Ichigo.

"Kau akan terkejut akan hal apa saja yang telah ataupun ingin dia lakukan."

Ichigo menggeram kearah keduanya, kesal karena mereka langsung akrab dan bekerja sama.

"Ichi-nii!"

Manik miliknya menoleh kembali, hanya untuk mendapati segerombolan anak berlari menghampiri mereka.

"Mereka anak-anak yang sering kau tulis dalam suratmu, bocah?" tanyanya ketika anak-anak itu mengelilingi Ichigo dan menatap dirinya penuh kecurigaan.

Ah, dia ingat wajah dan mata itu.

Sama seperti milik bocahnya ketika dia masih..bocah.

"Berhentilah memanggilku bocah..." pinta Ichigo yang ia hiraukan. "Dan ya, merekalah anak-anak yang aku asuh sejak lima tahun lalu."

Ia tersenyum lembut kearah anak-anak yang sepertinya masih diantara 7-15 tahun.

Sangat muda untuk merasa kepahitan dunia.

"Aku bangga padamu, Ichigo," ujarnya seraya menyembunyikan irisnya dibalik kelopak mata.

Beberapa pasang mata mengerjap kaget.

"Kau selalu membuatku bangga," lanjutnya. "Setidaknya, sekarang aku yakin, kau bisa menjaga dirimu dan melindungi adik-adikmu..."

"Nakigitsune..."

Ia menarik nafas dan menghembuskannya. Kedua matanya terbuka, menyambut manik penuh kebingungan.

"Hadiah ulang tahunmu yang ke-25," tuturnya, seraya tangannya melepas untaian kain hitam di dadanya. "Dulunya milik ayahandamu, beliau ingin kau memegangnya saat usiamu menginjak 25 tahun, sebagai tanda bahwa kau berhasil menemukan tujuanmu dibalik kesedihan yang pernah kau alami. Terimalah." Ujarnya, menyerahkan buntalan kain hitam kaku seakan membalut sesuatu yang cukup panjang.

Tangan bergetar menerimanya, manik milik Ichigo melebar saat membuka kain hitam tersebut.

Sebuah Tachi yang sangat Ichigo kenali.

"Ini..."

Ia mengangguk.

"Kau sudah dewasa, Ichigo," ujarnya, tersenyum ke arah adik-adik asuh Ichigo. "Kau bisa menentukan perjalanan hidup dan masa depanmu sendiri. Tetaplah maju, karena kesempatan hanya datang satu kali semasa hidup."

Sebuah nasehat, mungkin juga sebuah perpisahan.

Dirinya yang abadi di mata manusia, sementara Ichigo yang hanyalah seorang manusia biasa dan tak lebih.

Pada akhirnya, pertemuan adalah awal perpisahan.

"...kau akan pergi...? Sekarang?!" pertanyaan anak manja, tapi Ichigo tidak peduli. "Tapi kau belum berkenalan dengan adikku...!"

Irisnya kembali tertuju ke arah adik-adik Ichigo yang penuh akan rasa penasaran.

"Aku tahu nama mereka masing-masing," ujarnya, memiringkan kepala. "Kau sering menulis tentang mereka di suratmu."

"Nakigitsune-dono..."

Oh, ia benci suara itu.

Ditambah tatapan yang seharusnya sudah Ichigo lupakan.

"Haaah...dasar bocah..." helaan panjang terselip. "Aku hanya punya waktu kurang dari lima petang...entah jadi apa rumah sampai aku pergi lebih dari tujuh petang."

Ichigo tersenyum lebar, dan dengan cepat meraih tangan rampingnya.

"Ayo, semua," ujar Ichigo ke arah adik-adiknya yang bingung. "Kita ajak Nakigitsune-dono berkeliling."

"Eh? Baik!"

Astaga...dia salah ambil langkah.


"Ummm...apa anda Nakigitsune-san yang Ichi-nii ceritakan...?"

Pertanyaan itu datang dari Gokotai, cukup mengejutkan karena Ichigo menulis bahwa Gokotailah yang paling pemalu.

Dua hari dirinya berada di rumah Ichigo, rumah yang hampir sama luasnya dengan miliknya.

Ichigo memaksa dirinya untuk tinggal bersamanya sampai waktunya ia harus pulang, tapi baru kali ini salah satu adik Ichigo menghampirinya.

"Tergantung," jawabnya. "Dia menceritakan apa?"

Gokotai mengalihkan pandangan.

"B...bahwa anda...adalah pengasuh Ichi-nii waktu dia kecil...dan bahwa anda satu-satunya yang menerima dia setelah kejadian itu..."

Jadi mereka tahu masa lalu Ichigo.

"Menurutmu bagaimana, Gokotai-kun?" tanyanya kembali.

"E-eh?! Me-menurutku...andalah orang itu.."

Dirinya tersenyum.

"Hampir benar," jawabnya, mengagetkan Gokotai dan yang bersembunyi dibalik pintu geser di belakangnya. "Kami saling menerima satu sama lain...Ichigo dulunya anak yang sangat keras kepala, suka mencuri-curi jam latihan, ceroboh, bahkan pernah sekali, dia terpeleset ke dalam kolam ikan saat berniat lari dari pelajaran sastra."

Gokotai terlihat terkejut.

"Tapi...Ichi-nii melakukan segala hal dengan sempurna...!"

Protes bukan datang dari Gokotai, melainkan dari Midare dan Shinano, sebelum anak-anak yang lain menampakkan diri dari tempat persembunyian mereka.

Dirinya menaikkan sebelah alis.

"Ada alasan kenapa dia ku panggil bocah," ujarnya dengan nada terhibur. "Dulu, saat pergi kehutan untuk memetik stroberi liar kesukaannya, bocah itu malah memetik beri beracun. Dia sempat sakit, tapi untungnya, aku tahu cara meracik obat. Dia ceroboh, bahkan sampai sekarang...bukankah itu benar, bocah?"

Pandangan berpindah ke arah koridor, maniknya penuh pengetahuan menatap Ichigo yang mengintip dari balik pintu geser.

"Aku masih berharap kau melupakan kejadian itu..."

Ia tertawa.

"Ingatanku kuat, bocah, kau saja yang pikun di usia muda."

"Nakigitsune-dono..."

"Jadi! Nakigitsune-san! Bisa ceritakan kisah tentang Ichi-nii yang lain?!"

Ia dengan senang hati menceritakannya.


"Hei, kenapa kau belum tidur, bocah?"

Ia tersenyum saat melihat mata kiri Ichigo berkedut kesal.

"Aku bukan bocah lagi, Rubah tua..." gerutu Ichigo kesal. "Berhentilah melihatku sebagai seorang bocah, aku sudah 25.."

Ia menghela nafas pelan, melangkah mendekati sosok yang tengah duduk di beranda, menatap bulan penuh ditemani camilan dan sake.

"Memang benar," ia mengiyakan seraya duduk di sebelah Ichigo. "Bukan salahku jika terakhir aku melihatmu kau hanyalah anak ingusan dengan mimpi besar..."

Ia menatap keatas.

"Hmmm, apa kabar Mikazuki-san, ya?" gumamnya. "Kudengar, dirinya menemukan seseorang, ah, kurang tepat, se-ekor Nekomata bermanik lautan berkarang hijau."

"Dia sempat berkunjung," ujar Ichigo. "Dia akan menikahi Yamanbagiri-dono dalam waktu singkat."

Menikah...

"Tidakkah kau ingin menikah, Ichigo?" tanyanya. "Adik-adik butuh kasih sayang seorang ibu pada akhirnya."

Ichigo terdiam.

Dan ia hanya menunggu.

Duka dan lara inilah yang ia lihat. Pikiran kelut dan tidak selaras membuat hati Ichigo terombang-ambing tanpa tujuan.

"...Aku...tidak ingin menikahi siapa-siapa..."

Ia mengangguk.

Dirinya paham sifat bocah satu ini.

Dendam sirna, digantikan oleh belah kasihan.

Ichigo memang sayang adik-adiknya, amat sangat menyayangi mereka, alhasil, dirinya tidak yakin apa ia bisa membagi kasih sayang, belum lagi, adik-adiknya jelas-jelas akan memilah pendamping hidup yang cocok untuk kakak mereka tersayang.

Sungguh merepotkan.

"Hidupmu, bukan pilihanku," ucapnya, tersenyum tipis kearah mimik wajah terkejut milik Ichigo. "Hidupmu adalah pilihanmu. Lakukan semua hal yang kau inginkan, konsekuensi tetap dipikirkan tapi jangan di anggap beban. Jika kau yakin, apa salahnya mencoba kan?"

Ichigo kembali terdiam.

Ia hanya bisa menasihati, pilihan kembali ke tangan Ichigo.

Pada dasarnya, sebelum di lahirkan, kita disuruh memilih. Hidup adalah pilihan kita, kematian juga pilihan kita.

Kita hanya dapat memilih antara yang buruk dan tidak cukup buruk. Yang terbaik bagi kita atau orang lain.

Hidup itu membingungkan, tapi...

Dengan hidup kita bisa merasakan kebahagiaan.

"Keyakinan..."

"Hmmm?"

Ichigo membalikkan badan kearahnya.

"Naki..."

Ia memiringkan kepala heran.

Lama tak mendengar nama kecil itu.

Lagi pula, hanya manusia ini yang memanggilnya dengan sebutan itu.

"Aku minta maaf."

Ia mengerjapkan mata, belum sempat membuka mulut, ia telah dibungkam.

Oleh bibir dingin Ichigo.

Kerja otaknya terhenti, tanpa pikir panjang menyambut kembali ciuman yang seharusnya dilarang itu.

Dirinya tak peduli.

Salahkan dirinya yang tak sengaja melewati pikiran Ichigo tentangnya saat ia menerima surat tak karuan itu, salahkan dirinya yang masih merasakan hawa nafsu duniawi.

Salahkanlah saja ia.

Ia dapat merasakan sake yang Ichigo telah konsumsi, serasa manis dan sedikit panas di lidah.

Apa itu karena lidah milik Ichigo?

Entahlah, ia tak peduli.

Ia bahkan tak tahu apa milik siapa sekarang.

Dua tangan lebar mulai berkelana sampai pada akhirnya-!

"Tunggu..." bisiknya, menahan kedua tangan Ichigo dari menyelinap lebih jauh dan dalam. "A...apa kau sadar apa yang sedang kau lakukan, Ichigo?"

Tidak mungkin ia memanggilnya 'bocah' jika kelakuannya tidak seperti bocah.

Ia harap ini bukan karena sake yang Ichigo minum.

"Aku sadar penuh, Naki..." bisikkan kecil lirih dan penuh penyesalan. "...I...inilah alasan kenapa aku pergi...aku tidak ingin kehilanganmu karena keegoisanku...maaf..." isak kecil terdengar sebelum Ichigo mendekap erat dirinya.

Seakan Ichigo tak ingin ia pergi..

Ia mengerjapkan matanya beberapa kali saat ia merasa tubuh Ichigo bergetar.

"...minta maaf tak ada gunanya, bocah," helaan nafas panjang terselip seraya kedua tangannya merangkul tubuh kaku Ichigo. "Ayo, sudah larut. Kau juga perlu istirahat."

Ia tersenyum lembut saat kedua manik itu menatapnya kaget. Tangan pucat mengelus surai langit milik Ichigo, sebuah cara untuk membujuk dan menenangkan bocah yang pernah ia asuh.

Ah, dia harus berhenti menggunakan panggilan itu.

"...baik..."

Ia mengecup kening Ichigo sebagai balasan.