.

.

YunJae fan-fiction,multichapter!, boyslove, rate T (ada kemungkinan naik jadi M)

Genre: AU! Humor, Romance

Please don't steal any content of this fan-fiction.

Disclaimer: This is a work of fiction. Fictional story about fictional representations of real people. None of them are true. No profit was made from this work.

Enjoy the read!

.

.

.

.

.

Part 02. Santa Claus is Coming to Town

.

.

.

Setelah satu-satunya pelanggan yang mampir ke tokonya hari ini pulang, Kim Heechul segera membalikkan papan persegi bertuliskan 'buka' menjadi 'tutup'. Pelanggan ini memang nyusahin. Udah ngutang, beras yang dibeli cuma satu liter tetapi Heechul harus melayaninya seharian, dari mulai buka toko jam lima subuh sampai jam lima sore dia tutup toko. Pembeli merepotkan itu namanya Lee Sungmin, seolah ahli botani terkemuka seantero kota. Dia begitu presisi, detil, dan penuh perhitungan. Untuk membeli beras satu liter saja, dia selalu memilihnya butir per butir. Dia memperhatikan masing-masing bentuk, struktur, dan ukuran dari beras-beras itu.

Heechul mengambil garam daridapur, kemudian membubuhkannya di halaman rumah, berharap pelanggan itu tidak pernah datang lagi.

"Heechul, kau sedang apa?" tanya suara serak-serak basah yang tidak terlalu seksi, sosok pria paruh baya berperut buncit yang kelihatan habis mandi muncul dari dalam rumah.

"Ayah, lain kali kalo orang itu dateng, aku enggak mau layanin lagi!" rengek Heechul.

Ayah Heechul, yang bernama Kim Daejung menggeleng-gelengkan kepalanya dengan berwibawa, "Heechul, Heechul, yang namanya pelanggan itu ada banyak jenis, ada yang kecil, ada yang besar, ada yang mungil, ada yang ijo, dan ada yang merah... Kau harus memahami mereka,"

Heechul memutar bola matanya, keliatan kesal, "Aku harus memahami orang, tapi enggak ada yang memahamiku,"

Daejung mendesah ketika melihat mata Heechul berkaca-kaca, kelebaian putra sulungnya kadang membuatnya tergelitik, akhir-akhir ini Heechul sering haus kasih sayang. Terutama setelah dia ditinggal sama pacarnya, Hangeng; yang mengadu nasib di Alaska. Hangeng adalah pria yang sangat bertanggungjawab, saking bertanggungjawabnya, Hangeng berjanji akan sehidup-semati dengan sapi yang sudah dia remas-remas area intimnya untuk memerah susu saat lomba memerah di kelurahan, Hangeng merasa sudah menodai kesucian si sapi, maka dari itu dengan berat hati dia meninggalkan Heechul dan ikut bersama si sapi ke Alaska.

Daejung dan istrinya sudah lama mencurigai hubungan Heechul dan Hangeng. Ketika Heechul akhirnya mengakui hubungan gelap mereka, Daejung awalnya tidak setuju akan hubungan sesama jenis mereka, namun istri Daejung yang seorang mantan fujoshimembela hak putranya mati-matian. Suami istri itu bertengkar, mereka mengadakan pertandingan gulat untuk menentukan pendapat siapa yang akan menang, Daejung dan istrinya bergulat lima hari empat malam untuk menentukan pemenang, dan Daejung pun kalah karena salah urat.

"Sudahlah Heechul, yuk kita makan mi goreng bikinan Ayah, rasanya gak enak dan udah mau basi, loh, kamu harus cobain," Daejung menawarkan, dia merangkul Heechul dengan penuh kasih sayang.

Namun tepat ketika Heechul hendak membuka mulut dan protes,tiba-tiba suara deru mesin terdengar, Heechul dan Daejung menengok untuk melihat sumber dari suara itu, dan menemukan motor yang melesat cepat di depan halaman rumah mereka. Motor itu terlihat familiar.

"STOP! STOP! ITU RUMAHKU!" seru Jaejoong yang melihat ke belakang.

"Eh? Kenapa kau enggak bilang?" tanya Yunho asal, dia kemudian segera mengerem, lalu putarbalik, motor Jaejoong akhirnya berhenti di depan Daejung dan Heechul yang masih melongo.

"Jaejoong?" Hanya itu yang Daejung dapat katakan, matanya menyipit menatap sosok pria yang bersama Jaejoong, jenis orang yang mencurigakan. Dia jadi ingat akan perasaan berdebar-debar saat pertama kali Hangeng datang dan memperkenalkan diri sebagai pacar Heechul.

"Hai, Bro! Lama tidak berjumpa!" seru Yunho sambil melambaikan tangan ke arah Heechul, dia masih duduk di motor, Heechul balas melambai dengan ragu.

"Kalian saling kenal?" tanya Jaejoong pada Yunho, dia bolak-balik melirik Heechul dan Yunho.

"Enggak, makanya kupanggil dia 'Bro'," jelas Yunho, sambil mematikan mesin motor dan memarkir dengan benar.

Jaejoong menghela napas lelah, tapi dia sudah lumayan terbiasa dengan ketidakjelasan Jung Yunho, "Hari sudah sore, sebaiknya kau pulang sa-,"

"Aku enggak pingin berpisah denganmu," potong Yunho cepat, dia berjalan mendekati Jaejoong, mengabaikan pandangan curiga Daejung dan Heechul yang masih berdiri di ambang pintu rumah.

"Jaejoong, jelaskan pada Ayah!" sergah Daejung yang membuat Jaejoong terlonjak.

"Jelaskan apaan?! Ini enggak seperti keliatannya!" Jaejoong menyangkal.

Yunho berjalan maju sedikit mendekati Daejung dan Heechul, "Ini seperti keliatannya kok, kita homo dan aku su-UMPH"

Jaejoong cepat-cepat menutup mulut Yunho dengan tangan kirinya, sementara sebelah tangannya menahan tubuh Yunho yang memberontak.

"Jaejoong!" Terdengar nada menuntut dari Daejung sekarang.

"Aku akan tinggal di sini untuk membuktikan cintaku pada Jaejoongie. Tidak perlu sungkan, aku akan menikmati waktuku di rumah sederhana kalian... Aku yakin kau akan jadi mertua yang baik untukku, nanti saat aku dan Jaejoongie menikah kau boleh kok ikut tinggal bersama kami, asal jangan ngintip kalo kita sedang nganu," papar Yunho, lagi-lagi kelewat pede.

"Apa?!" Daejung melotot tidak percaya, Jaejoong terlihat cemas, Heechul memasang ekspresi heran.

"Kau gila ya?! Jangan panggil aku 'Jaejoongie'!" pekik Jaejoong.

"Kau malu kan? Tenang Babe, Ayahmu pasti merestui kita,"

"Enggak! Aku gak mau nikah sama cowok!"

"Hentikan, Jaejoong!" Daejung berseru lagi dengan nada elegan layaknya kaisar-kaisar di film, sudah lama dia pingin ngomong dengan nada berwibawa seperti itu. Menjadi Kaisar adalah impian Daejung sejak kecil, tapi kemudian dia merasa menjadi Ibu Suri hidupnya lebih enak, karena itu dia merubah cita-citanya jadi Ibu Suri. "Aku terkesan. Laki-laki ini mengingatkanku pada Kaisar Jeong Jeon Ho yang memerintah di abad 19-an, begitu percaya diri, mencolok, taat pada orangtua, tidak tahu malu, berwibawa, tidak tahu malu, rajin, tidak tahu malu, sopan, tidak tahu malu, dan setia. Dia cocok denganmu yang kalau mau izin pipis aja malu-malu. Dia betul-betul sosok pria idaman! Kau akan menikah dengannya, Jaejoong!"

Mulut Jaejoong dan Heechul terbuka lebar, mata mereka membelalak seolah bakal keluar dari ceruknya, Yunho diam saja.

"Ayah?" Heechul bertanya tidak percaya.

"Kaisar Jeong Jeon Ho itu siapa?" Yunho ternyata fokus pada hal gak penting.

"Oh, aku juga enggak kenal, aku ngarang tadi," jawab Daejung seenak pantat.

"Ayah! Aku ini cowok loh! Dia juga cowok! Inget kan segimana Ayah nentang hubungan Heechul-hyung sama cowok Cina itu?" Ada nada tidak percaya pada suara Jaejoong.

"Tidak masalah, kau kan bisa operasi ganti kelamin atau gimana kek, kau kan suka baca yaoi pasti lebih paham caranya. Lagian kalau si Hangeng kan orang Cina, Ayah gak suka. Orang Cina kan suka Imlek-an tiap tahun, bisa bangkrut Ayah kalau kita mesti kasih mereka angpao,"

"Jadi Ayah tau aku suka baca yaoi?"

Daejung mengangguk.

"Jadi Ayah menentang hubunganku dengan Hangeng cuma karena itu?"

Daejung mengangguk.

"Jadi aku boleh tinggal?"

Daejung mengangguk.

"Ayah tidak adil!" protes Heechul, dia berlinang airmata dan masuk ke rumah.

.

.

.

.

.

.

Suara desahan demi desahan yang berat terdengar di ruang remang-remang yang terlihat mencurigakan. Ruangan itu menyebar aroma tak sedap, seperti bau anu. Ketika itu seorang pria bertubuh kekar membalikkan tubuh pria lain yang tubuhnya lebih kecil, siap untuk melancarkan aksi selanjutnya. Namun tiba-tiba terdengar suara 'titttt' dan adegan cabul itu menghilang dari layar komputer, digantikan oleh tulisan 'no internet connection.'

"Mas, kok internetnya diputus?" protes Yoochun sambil nyeruput mie instan. Pemuda calon pengangguran itu menatap sinis mas-mas penjaga warnet brewok bertampang susah yang keliatannya madesu. Mas-mas itu berdiri di sebelah Yooochun, menatap Yoochun tak kalah sinis.

"Plis deh, kau ke sini nonton bokep homo terus, aku sebagai pria normal yang ga doyan pedang-pedangan terganggu tau! Lagian di sini banyak ibu-ibu dan anak kecil, ini kan warnet Ibu dan Anak. Udah gitu kau gak pernah bayar billing, sini bayar dulu utangmu!" omel si mas-mas.

Ibu-ibu dan anak-anak yang ada di dalam ruang remang-remang itu menatap Yoochun dengan tatapan merendahkan. Rumah Sakit Ibu dan Anak sih banyak, tapi warnet ini merupakan satu-satunya warnet Ibu dan Anak. Pendiri warnet ini kabarnya memang mother complex sekaligus pedofil kelas ikan bawal.

"Kan aku bilang tagihnya ke Junsu aja!" kelit Yoochun.

"Anak yang namanya Junsu itu mau ngaduin aku ke polisi atas tuduhan pemerasan dan penipuan, udah cepetan bayar!" si mas-mas menjulurkan tangannya.

"Ah, berapa sih emang!" Dengan gaya sok hebat Yoochun mengeluarkan lembaran uang mainan bergambar Lee Soo Man dengan pose menantang dan menaruhnya di tangan si mas-mas, "ambil aja kembaliannya!"

Sebelum si mas-mas sempat protes, ponsel Yoochun berbunyi, Yoochun dengan gaya ganteng membuka flip ponselnya, lalu mengangkat tangan dengan elegan yang menandakan 'tidak perlu berterimakasih' pada si mas-mas yang hendak ngomel, Yoochun segera keluar dari warnet untuk mendapatkan privasi bertelepon, seolah telepon itu adalah dari CEO perusahaan minyak yang hendak meminta penawaran harga barang.

"Kenapa Jaejoong?" tanya Yoochun ketika sudah di luar warnet dan mengangkat teleponnya.

"Kau kemana aja?" Jaejoong balas tanya dari seberang telepon, setengah berbisik.

"Warnet,"

"Harusnya aku gak usah tanya!"

"Ada apa sih? Kok bisik-bisik?"

"... Kau gak akan percaya, ada orang aneh yang mau nikahin aku!"

"Emang gak percaya, kau kan malas, madesu, suka ngutang, dan bukan calon suami yang baik mana ada yang mau," jawab Yoochun.

Jaejoong berdecak, "Kau gak ngaca ya? Jangan bercanda Chun, aku serius. Lagian orang ini cowok, jadi kayaknya gak ngaruh sekalipun misalnya aku beneran malas, madesu, suka ngutang, dan bukan calon suami yang baik... Dia seme soalnya!"

Tawa laknat Yoochun meledak, dia lalu duduk di bangku yang tersedia di jalanan, di sebelahnya ada gadis muda yang sedang makan keripik kentang sambil main ponsel, dengan santai Yoochun nyomot keripik gadis itu. Gadis itu menatap heran Yoochun, Yoochun membalasnya dengan anggukan kecil ramah. "Terus?

"Parahnya, Ayahku suka sama dia. Ayahku yang biasanya beli sayur aja nawar itu bahkan rela ngejual rumah, toko, beserta Ibuku buat modalin kita buat nikah di Negara yang pernikahan sesama jenisnya sudah legal."

"Wow, orang itu pasti pake pelet kalo sampe Ayahmu aja luluh," Yoochun nyomot keripik lagi.

"Woi, itu keripikku!" seru gadis muda yang jadi korban pencomotan keripik.

"Kau sedang bersama siapa?"

"Temanku, namanya Carolyn, " jawab Yoochun ngasal.

"Yoochun, kemarilah dan tolong aku!" pinta Jaejoong putus asa.

"Oke, aku datang nanti malam, siapkan makanan yang enak y-"

Tut... tut... tut...

Telepon terputus sebelum Yoochun selesai bicara, saat itu juga Yoochun menerima tamparan dari gadis di sebelahnya.

.

.

.

.

"Kau nelepon siapa?" tanya Yunho ketika baru masuk kamar Jaejoong, mata kecilnya menatap Jaejoong yang duduk di pojok kamar. Jaejoong duduk sambil memeluk kedua kakinya.

"B-bukan siapa-siapa!" jawab Jaejoong panik, "Lagian kau gak punya hak buat tau! Kita baru kenal dan kita gak punya hubungan apapun!"

Yunho berjalan mendekati Jaejoong, lalu duduk di sebelahnya.

"Memang belum, tapi aku tau akan ada sesuatu di antara kita," kata Yunho sambil tertawa.

"Sebetulnya kau itu kenapa sih? Mengerjaiku itu ada batasnya!" Suara Jaejoong meninggi, dia terdengar kesal.

"Aku tidak pernah berniat mengerjaimu. Baiklah, kali ini aku akan bicara dengan serius." Yunho menghela napas berat seolah mempersiapkan dirinya yang akan mengatakan hal-hal yang rumit, dia tampak begitu serius, "Maaf kalau aku membuatmu repot dan kalau aku kauanggap sudah membohongimu, aku memang bersalah padamu tapi aku terpaksa karena harus melakukan pekerjaanku,"

Jaejoong tercengang karena pertama kalinya melihat Yunho begitu serius, jawaban Yunho membuat perutnya melilit karena gugup.

"Tujuanku bukan kau, tapi Kakakmu," kata Yunho setengah berbisik.

"Kau menyukai Heechul-hyung?"

"Kau percaya kalau aku betulan gay?" Yunho tertawa, "Bukan, orang yang bernama Hangeng itu yang memintaku memata-matainya,"

"Hangeng?" Dahi Jaejoong berkerut.

"Yap, dia masih terus mikirin Kim Heechul, dan aku dibayar mahal untuk mendapatkan foto-foto candid Kim Heechul," jelas Yunho.

Hening sebentar, Jaejoong menatap Yunho dengan curiga, "Jadi kau ini penyusup dong? Sepertinya kau berbahaya,"

"Tidak, tidak, aku mahasiswa biasa yang bekerja sambilan, ini salah satu pekerjaan sambilanku, kau akan membantuku kan? Tentu saja kau akan dapat jatah juga,"

Mata Jaejoong membelalak penuh ketertarikkan, "Oh, ya?"

"Ya, kau perlu membantuku, kita berpura-pura jadi pasangan, aku merasa bersalah sama Ayahmu, tapi dia pasti lebih berharap kau nikah sama cewek,"

"Ya, Ayah selalu mengharapkan menantu yang cantik... Aku setuju, tapi, aku mau 50% dari honormu," Jaejoong bilang, menyeringai.

Yunho memutar bola matanya, tidak disangka ternyata pemuda bertampang cantik di depannya lumayan matre juga, tapi dia sangat membutuhkan peran Jaejoong juga, "Baiklah,"

"Ngomong-ngomong kau jago akting ya, pura-pura suka padaku,"

Yunho menyeringai, "Akting? Aku nggak bisa akting, kau emang manis, bahkan bagiku yang straightini..."

"..."

Dan menggoda Jaejoong adalah hobi baru Yunho sekarang.

.

.

.

.

Foto Heechul pertama yang Yunho dapatkan adalah ketika Heechul melahap sesendok besar nasi yang tercampur dengan potongan sayur. Yunho sengaja membawa kamera mini ketika makan malam. Jaejoong duduk di sebelah Yunho, berseberangan dengan Daejung dan Heechul.

"Aku ingin menyimpan foto calon mertua dan kakak iparku," gumam Yunho.

"Penjilat," desis Heechul jahat. Dia terlihat sangat kesal, daritadi dia masih ngambek soal restu Hangeng dan Yunho yang berat sebelah hanya karena Hangeng orang Cina.

"Yunho, bagaimana masakan Jaejoong? Enak kan?" pamer Daejung bangga.

Yunho mengangguk sambil menyesap sup ikan dari mangkuknya. Jaejoong daritadi hanya memakan makanannya dengan tenang, tidak peduli keadaan sekitar.

Kemudian terdengar suara pintu terbuka, terdengar suara wanita yang mengeluhkan betapa dinginnya cuaca malam itu.

"Selamat datang, Yumi, bawa duit banyak gak?" sapa Daejung ketika seorang wanita cantik dengan kulit cerah dan rambut panjang hitam legam yang kira-kira berusia awal empatpuluh muncul di ruang makan.

"Hari ini aku belum gajian," jawab Kim Yumi ketus, lalu duduk di tempat kosong di sebelah Jaejoong. Dia kemudian menatap Yunho. "Dia..."

"Kekasih Jaejoong," Daejung menjawab cepat, "Anak kita homo semua, kau senang?"

Yumi melongo sebentar, "Benarkah?"

Jaejoong mengangguk ragu, Heechul menggeram, sementara Yunho menunjukkan senyuman lebar, "Iya betul, dan Anda pasti Ibu Jaejoongie, Anda cantik seperti yang diceritakan Jaejoongie!"

Sambil tersenyum, Yumi mengambil piring yang tersedia di depannya, mengambil nasi dari mangkuk besar di tengah meja. "Aku sudah menduga Jaejoong juga homo, tapi dia terus-terusan memaksakan diri berpacaran dengan perempuan, lihatlah, tidak ada yang tahan lebih dari dua minggu, anu-nya Jaejoong kan mungil, cewek mana yang suka,"

Yunho tertawa canggung mendengar fakta memalukan tentang Jaejoong dari mulut ibunya sendiri. Jaejoong mendesis pada ibunya, lalu memegangi pelipisnya dengan frustasi. Heechul menahan tawa, sementara Daejung terus makan dengan lahap.

Terkadang Jaejoong lupa kalo orangtuanya betulan lahir di jaman dahulu, dimana apa-apa masih terkekang budaya dan peraturan. Gimana bisa orangtuanya santai-santai aja anaknya homo? Emangnya itu hal kecil? Orang di berbagai Negara konservatif aja pada saling demo pro-kontra LGBT, bahkan di Indonesia, setiap ada isu LGBT di internet, pasti komen-komennya rata-rata berisi kutuk mati, sumpah serapah kena azab, dan pengusiran terhadap para pelaku LGBT ini. Gimana bisa orangtua Jaejoong membiarkan anak-anaknya memilih kehidupan yang sulit? Memang sih dari kecil mereka selalu mengajarkan anak-anaknya biar gak manja dan selalu berjuang. Tapi kali ini beneran gak wajar. Jaejoong mulai curiga kalau orangtuanya melakukan trik marketing, mereka mungkin pingin anak-anaknya terkenal di seantero Korea sehingga menaikkan omset toko beras keluarga Kim. Lagian Jaejoong gak terima kalo anunya dibilang mungil, itu gak mungil kok, itu minimalis.

Kemudian makan malam berlangsung hening, setelahnya masing-masing membawa piring kotor yang mereka gunakan ke tempat cucian piring. Yunho menawarkan diri untuk mencuci piring, tapi Yumi melarang, dia bilang sebaiknya Yunho menemani Jaejoong di kamar, Yumi menyuruh Heechul yang mencucinya, Heechul tambah kesal dan merasa orangtuanya pada pilih kasih.

Setelah gosok gigi, Yunho berganti piyama baru yang diberikan Yumi, aslinya piyama itu milik Jaejoong. Makanya celananya agak menggantung tidak sampai pada mata kaki Yunho, warnanya pinklembut dan bermotif Hello Kitty.

Jaejoong yang sedang mengerjakan PR memajukan bibirnya ketika melihat Yunho yang berpiyama masuk kamarnya. Padahal dia khusus membelinya untuk dipakai saat pesta piyama bersama Junsu dan Yoochun hari Minggu nanti, tapi malah Yunho yang pertama kali memakainya.

"Seleramu ternyata emang uke banget," komentar Yunho, dia duduk di kasur Jaejoong.

Berhenti menulis, Jaejoong menghela napas, "Banyak juga seme yang suka Hello Kitty,"

"Oh," Yunho bangun dari kasur, lalu mendekati Jaejoong, dia mengintip buku yang ditulis Jaejoong dari balik bahu pemuda itu. "Akuntansi?"

"Yah," jawab Jaejoong seadanya.

"Bukannya prive seharusnya masuk ke debet?" Yunho mengoreksi.

Jaejoong menatap neraca saldo yang sedang dibuatnya, menyadari kesalahannya, "Trims, kau di jurusan Akuntansi juga?"

"Bukan, aku di jurusan Sastra,"

Jaejoong berbalik dan bertemu tatap dengan Yunho, "Lalu kenapa...?"

"Kalau maksudmu kenapa aku tau kesalahanmu, aku membaca buku yang ada di depanmu,"

Di depan Jaejoong memang ada buku Akuntansi keluaran penerbit yang terbuka pada halaman yang menjelaskan cara membuat neraca saldo. Tetapi cukup ajaib bagi orang awam—terutama anak jurusan Sastra yang tidak pernah ketemu hitungan—untuk langsung paham akuntansi hanya dengan membaca penjelasannya sekilas.

"Aku betul-betul belum tau apa-apa soal kau," bilang Jaejoong, kembali pada PR-nya.

Yunho menyeringai, "Aku tidur duluan ya."

"Selamat malam,"

"Tidak butuh ciuman 'selamat tidur'kan?" goda Yunho ketika hendak menarik selimut. Dia membaringkan tubuhnya di bagian pojok kasur yang menempel pada tembok, bagian kanannya masih tersisa luas untuk ditiduri Jaejoong.

Jaejoong mengabaikan Yunho, dia sibuk menghitung dengan kalkulator.

.

.

.

.

.

.

Pada pukul dua belas malam, seseorang dengan pakaian Santa Claus mengendap-ngendap di pekarangan sempit rumah keluarga Kim. Setelah berhasil melompati pagar rumah yang tidak terlalu tinggi dengan memanjatnya. Dia membawa-bawa karung besar yang nyaris sebesar tubuhnya, karung itu berwarna coklat buluk. Dari dalam karung itu dia mengeluarkan tali karmantel yang ujungnya terdapat besi kait bermata empat yang tampak kokoh.

Santa Claus gadungan itu memutar-mutar talinya, kemudian melemparkannya ke dahan pohon, tali itu melilit dengan baik di dahan itu. Si Santa menarik-narik talinya, memastikan tali itu sudah menjerat dengan baik di dahan, mengetes keamanan.

Kemudian si Santa berpegangan pada tali itu untuk membantunya memanjat pohon mangga yang lumayan tinggi itu. Sesampainya di dahan yang tepat menghadap pada sebuah jendela satu kamar di lantai dua, dia berhenti, duduk di dahan dan mengetuk pelan kaca jendela dengan telunjuk.

Jendela itu tirainya ditutup dari dalam, sehingga Santa tidak tahu apa yang terjadi di dalam. Maka karena nyamuk mulai menggigiti lehernya dengan sensual, dia memutuskan untuk masuk ala Santa beneran (atau bisa juga dibilang maling). Si Santa memajukan tubuhnya, berusaha menjaga keseimbangan supaya tidak jatuh dari pohon. Belum pernah ada cerita kalau Santa pernah jatuh dari pohon, bisa-bisa bayangan indah anak-anak tentang Santa bakal berantakan.

Santa itu memasukkan jepitan rambut neneknya yang runcing dan kurus ke dalam celah sempit jendela, lalu dengan profesional membuka kaitan pengunci jendela. Dia berhasil dengan mudah, kemudian segera menggeser jendela penuh kemenangan.

Melompat ke dalam, dia masuk ke kamar Jaejoong yang lampunya sudah dimatikan, satu-satunya penerang hanyalah lampu tidur bercahaya redup yang ada di meja kecil di sebelah kasur.

Si Santa itu aslinya Yoochun, dia melepaskan jenggot palsunya karena gerah, membuangnya ke lantai dan memperhatikan sepasang manusia yang tidur lelap di kasur.

Jaejoong tidur meringkuk-menyamping dan menghadap Yunho, sementara Yunho tidur terlentang. Jarak mereka cukup dekat, tapi tidak sampai menempel. Yoochun menaruh karung besarnya di lantai. Dalam hati dia menggerutu karena Jaejoong malah tidur saat dia datang dan padahal pake bawa hadiah segala. Bukan salah Yoochun kalau dia datang jam dua belas malam, bagi Yoochun jam dua belas malam itu baru bisa dibilang malam. Karena buktinya, Kuntilanak seringnya nongol jam dua belas malam, kalau sore-sore yang nongol Wewe Gombel, mana sudi Yoochun disamain sama Wewe Gombel.

Ya, Yoochun memang suka mempelajari mitologi Indonesia. Padahal itu bukan mitologi sih namanya, woi.

Ya sudah, karena yang lain tidur, Yoochun pun jadi terpancing untuk tidur, maka dia mendorong sedikit tubuh Jaejoong dengan pantatnya, Yoochun berbaring nyempil di sebelah Jaejoong, membuat tubuh malang Jaejoong dan Yunho saling menempel sekarang. Jaejoong bahkan mengira Yunho sebagai bantal guling dan dia menaikkan kakinya ke atas paha Yunho. Yoochun yang melihat kemesraan tersebut tersenyum bangga bagai ibu yang anaknya mulai bisa cebok sendiri, dengan wajah penuh kesejahteraan, Yoochun menutup matanya.

Sudah malam, Santa Yoochun pun bobo.

.

.

.

To be continued...

Bagi yang ngarep romance YunJae, harap bersabar, gue masih menikmati menistakan karakter...