ANOTHER ONE

REMAKE NOVEL CHANBAEK VERSION

Separuh Bintang By Evline Kartika

BYUNNERATE

Main cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol

Genre: Romance

Rated: T

Warning: Genderswitch! Typos!

Enjoy and Review Juseyooooo

.

.

.

.

SUASANA makan hari ini sangat tidak mengenakkan. Setelah seminggu yang lalu papa dan mama Chanyeol berangkat ke Singapura, suasana rumah jadi hening. Sebenarnya tadinya suasananya juga sudah hening, tapi sekarang jadi lebih hening lagi. Sejak pertama kali masuk ke rumah ini, Baekhyun merasa sedikit heran. Keluarga ini suka sekali dengan keheningan ya? Jarang banget Baekhyun melihat Chanyeol ngobrol dengan mama dan papanya. Dia lebih suka menghabiskan waktu di kamar dan di depan komputernya. Sedangkan Baekhyun, mulutnya sudah gatal pengen ngomong, meskipun tentang hal-hal yang nggak penting.

Chanyeol sendiri masih tidak begitu memahami apa yang ada di pikiran cewek yang sekarang tinggal serumah dengannya. Terkadang Chanyeol mendapati cewek itu melamun dengan tatapan sedih menyayat hati. Tapi di saat lain, dengan gampangnya cewek itu tertawa riang tanpa peduli apa pun yang ada di sekitarnya. Bukan cuma sekali-dua kali Chanyeol memperhatikan Baekhyun, mulai dari cara bicara, cara berjalan, dan cara mengekspresikan sesuatu. Chanyeol tahu, apa pun itu, ada yang tersamar dari setiap tingkah lakunya.

Dan yang jelas, walaupun Chanyeol tahu, dia tidak peduli... Dan tidak mau peduli. Karena cewek ini yang merebut perhatian papanya. Huh!

"Yeollie...," panggil Baekhyun. Tapi Chanyeol tetap asyik menikmati roti bakarnya tanpa peduli Baekhyun memanggilnya.

Baekhyun mendengus. "Yeollieeee!" kali ini panggilan Baekhyun terdengar lebih panjang dan lebih lama.

Dan sepertinya tetap tidak berhasil.

Chanyeol tetap bergeming. Akhirnya Baekhyun melemparkan serpihan roti ke muka cowok itu.

Sekali... Tak ada reaksi.

Dua kali... Tetap tak ada reaksi.

Tiga kali... Dan BERHASIL! Chanyeol akhirnya melihat ke arah Baekhyun.

Sayangnya, dengan mata yang hampir copot keluar. "Mau apa sih?!"

Baekhyun mendelik saat tahu dia dibenak. "Galak amat sih! Emangnya kenyang apa makan roti doang? Nggak ada makanan lain apa? Orang kaya kok makannya cuma roti? Gue aja dulu biar nggak kaya-kaya banget, tiap pagi makan nasi."

"Cerewet! Kalo masih mau makan, masak aja sendiri. Perut kok kayak gentong!"

"Eh! Gue kasian sama lo, tau! Nggak liat ya, badan lo kaya cicak kering? Heran gue, kok banyak ya cewek yang mau sama lo?!"

Patut diketahui, Chanyeol tingginya 185 cm dengan berat 53 kilo. Untuk ukuran cowok, itu termasuk sangat kurus.

Tapiiii, ternyata Chanyeol sangat terkenal PLAYBOY! Sampai saat ini, rekornya yang tertinggi adalah empat kali putus dan empat kali jadian dalam satu bulan.

Bisa dibilang, waktu jadian sama satu cewek cuma satu minggu. Sinting ya? Walaupun rekor itu terjadi setahun yang lalu, bersadarkan isu yang beredar, nggak ada tuh masa jadian yang lebih dari satu bulan.

Kerennya lagi, Chanyeol itu dinobatkan sebagai cowok populer di sekolah biarpun waktu itu baru kelas 1. Mantan-mantannya itu memiliki sepuluh kategori:

1. Populer

2. Cantik

3. Mesti pake rok mini

4. Tinggi

5. Putih mulus

6. Berdada ukuran minimal 34B

7. Ramping

8. Rambut bonding (masih zaman ya?)

9. Berpinggul besar dan berpinggang kecil

10. Tapi goblok!

Iya lah... Mau-maunya aja jadian sama orang gila kayak Yeollie.

Seenggaknya, itu menurut Baekhyun. Sebenarnya Chanyeol itu tampan. Sangat tampan malah. Hidungnya mancung, matanya cokelat terang, kulitnya putih. Maklum, gitu-gitu Chanyeol kan ada darah Korea-nya.

Tapi jujur saja, selain cakep, Baekhyun tidak Okelah, dia termasuk salah satu gitaris di band sekolah_ini juga yang membuat cewek-cewek lebih histeris_tapi kalau hanya ditunjang dengan sifatnya yang pemarah dan emosian, apalagi suka nyuekin orang, menurut Baekhyun nggak ada bagusbagusnya.

Pokoknya, menurut kamu Baekhyun, Chanyeol itu belagu! BELAGU!

Chanyeol hendak membalas ucapan Baekhyun. Namun, baru saja mulutnya mau terbuka...

"Baekhyun..." Ada orang asing yang masuk ke ruang makan itu.

Baekhyun mengembangkan senyumnya melihar siapa yang datang. "Hei, Kai! Tunggu ya, gue ambil dulu di atas," ujarnya sambil berlari tanpa memedulikan rotinya baru setengah dimakan dan Chanyeol yang sedang menahan geram.

Ini dia nih, teman yang dibilang Baekhyun bakal mengantar-jemput. Namanya Kim Jongin. Biasanya dipanggil Jongin. Pengecualian untuk Baekhyun, Baekhyun lebih suka memanggil dia Kai. Biar lebih gampang manggilnya, kilah Baekhyun.

Tapi emang dasarnya Baekhyun aja yang suka ganti-ganti nama orang seenaknya. Jongin lebih tua satu tahun daripada Baekhyun.

Sejak pindah ke SMA-nya yang "baru", mereka memang tidak bersekolah di tempat yang sama lagi, tapi masih dalam kategori searah, jam masuk dan pulang sekolahnya pun sama. Jadi dia menyempatkan untuk menjemput Baekhyun dulu. Bisa dibilang Jongin itu kecil sekaligus cinta pertamanya Baekhyun. Sayangnya, cinta Baekhyun hanya bertepuk sebelah tangan.

Waktu itu Baekhyun kelas 5 SD. "Kai, Baekkie suka sama Kai." saat itu, entah keberanian dari mana yang membuat Baekhyun berani mengungkapkan perasaan yang telah dirasakannya sejak umur lima tahun.

Jongin adalah satusatunya orang yang selalu ada di samping Baekhyun, selain Sehun. Dari TK, mereka bersekolah di sekolah yang sama dan tinggal di rumah yang berhadapan. Tetanggaan maksudnya. Rumah Baekhyun yang dulu berada di depan rumah Jongin. Waktu kecil, hampir setiap hari mereka main bertiga. Mau melakukan apa dan pergi ke mana selalu bertiga. Setiap menangis dan tidak ada Sehun yang menghiburnya, Baekhyun pasti akan datang pada Jongin.

Pernah suatu hari, saat berumur tujuh tahun, Baekhyun digigit anjing. Waktu itu Sehun sedang menemani mamanya ke supermarket sedangkan papanya juga belum pulang kerja. Akhirnya, Jongin-lah mengoleskan obat merah, menempalkan tensoplas, dan membujuk Baekhyun berhenti menangis. Karena Baekhyun tidak mau berhenti menangis, Jongin mengajak Baekhyun ke taman, di sana ada rumah-rumahan kecil tempat mereka bersembunyikan kalau sedang dimarahin. Jongin mendongengkan cerita dan bernyanyi sampai Baekhyun tertidur. Jongin ikut tertidur dan baru terbangun saat matahari sudah terbenam.

Saat mereka pulang ke rumah, mamanya hampir-hampir memarahi Baekhyun karena pergi tanpa izin. Namun berkat bujukan Jongin, mama Baekhyun tidak jadi marah. Jongin adalah orang yang paling berarti buat Baekhyun. Sejak kecil, Sehun dan Jongin adalah sabuk pengaman bagi Baekhyun.

Tetapi semua rasa "berarti" dari Baekhyun hanya dibalas dengan kata-kata, "Baekkie, Baekkie kan masih kecil. Belom boleh suka-sukaan dulu." Jeng... Jeng... Jeng... Masih kecil apaan? Jongin kan cuma lebih tua setahun? Dasar cowok sok tua!

Buat Baekhyun itu hal paling memalukan seumur hidupnya. Walaupun Jongin tidak mengatakan hal-hal yang menjurus pada penolakan, buat Baekhyun itu penolakan terbesar yang pernah diterimanya.

Sejak saat itu Baekhyun tidak pernah lagi menggunakan kata-kata "Baekkie dan Kai" dalam percakapannya. Berganti dengan kata-kata "gue dan elo". Kalaupun setelah itu Baekhyun menemukan seseorang yang lebih berarti dalam hidupnya, tetap saja Jongin adalah cinta pertamanya.

Wajah Jongin juga tidak kalah tampan dibandingkan dengan wajah Chanyeol. Bedanya, Jongin lebih bertampang orintal khas Asia. Kulitnya juga lebih cokelat. Tapi justru itu yang membuat Baekhyun suka. Dia tidak suka dengan cowok berkulit putih, kesannya penyakitan.

"Dahh, Yeollie...!" teriak Baekhyun sambil berlari dari tangga dan menggandeng Jongin keluar.

Tapi sedetik Baekhyun berbalik lari menghampiri Chanyeol. Chanyeol sudah bersiap menerima permintaan maaf. Tetapi dia salah besar! Baekhyun hanya mau mengambil sisa rotinya yang belum termakan, kemudian kembali berlari menyusul Jongin, meninggalkan Chanyeol melotot.

Deru mobil terdengar menjaug. Chanyeol masih bengong dengan kejadian yang membuat amarahnya kembali meledak. Kalau saja dia tidak ingat jarum sudah menunjukkan pukul setengah tujuh, mungkin dia masih sempat mematahkan sendok yang ada di tangannya menjadi dua bagian.

.

.

.

.

Chanyeol melepas helm dan turun dari motornya. Beberapa motor lain sudah berjajar di sampingnya.

Ah, tetep nggak ada yang bisa nyaingin motor Harley gue, ujarnya dalam hati menghibur diri sendiri.

Sejenak dia tersenyum, sebelum, dua detik kemudian , sebuah motor lain parkir di sampingnya. "Hey, what's up, man? Tampang lo kusut banget. Kenapa lagi?" Kris melepas helmnya dan mematikan mesin motor.

Kris adalah teman dekat Chanyeol sejak kelas 1 SMP. Jadi jangan heran, dengan sekali lihat, Kris bisa tahu suasana hati sahabatnya yang lagi kacau-balau itu.

Sebenarnya Chanyeol pengen banget cerita soal kekesalannya pagi ini. Tapi nggak mungkin dong. Bisa-bisa seisi sekolah tahu bahwa dia dan teman cewek sekelasnya tinggal di bawah atap yang sama. Turun harga dong ntar!

Jadi, yang keluar dari mulutnya cuma, "Biasalah..." sambil menyelempangkan tasnya dan berjalan ke arah sebaliknya.

Sebenarnya, para sisiwa sekolah ini sangat jarang ada yang membawa motor. Rata-rata kalau nggak dianter-jemput, ya bawa mobil. Chanyeol juga bukannya nggak punya mobil, hanya saja dia lebih suka naik motor. Menurutnya, naik motor lebih berseri. Entah dalam segi mananya yang dimaksud dengan seni.

Kris menyandang ranselnya dan berjalan mengikuti Chanyeol.

Nah, dari sini penderitaan para pengendara motor di sekolah ini dimulai. Bayangkan saja! Sekolah ini luasnya sepuluh hektar, terdiri atas Play Group, TK, SD, SMP, SMA, dan SMK Pariwisata.

Semuanya berada dalam gedung-gedung yang berbeda (masing-masing berjarak kira-kira sepuluh meter satu sama lain). Gedung SMK Pariwisata terletak di sebelah utara, di kanannya terdapat gedung SMA (di lantai tiga) dan SMP (di lantai dua), dan kirinya terdapat gedung SD dan TK. Di sebelah selatan terbentang lapangan bola yang dikelilingi area running track dengan ukuran sebenarnya.

Di antara lapangan bola dan gedung SMK, terdapat_juga dengan ukuran yang sebenarnya_ dua lapangan basket, dua palangan tenis, dan dua lapangan voli. Belum lagi kantin yang berukuran 10x10 meter persegi, perpustakaan dengan buku superlengkap mulai dari buku pelajaran sampai resep makanan, laboratorium kimia, fisika, dan biologi yang terpisah, ruangan kelas seluas band, serta gimnasium yang dilengkapi panggung besar. Sementara area parkir mobil seluas dua puluh lima kali dua puluh meter persegi terletak di sebelah barat. Mantep nggak tuh!

Masalahnya, lapangan parkir motor terdapat di dekat gerbang masuk. Dari situ mereka harus berjalan melewati gedung TK, SMK, lapangan basket, dan lapangan voli, yang kalau diukur dengan garis lurus, panjangnya mencapai seratus meter.

Lumayang juga sih olahraga pagi-pagi. "Eh, lo bukannya udah putus sama si Jessica?" tanya Kris saat melewati lapangan basket.

Chanyeol manggut-manggut. "Emangnya kenapa? Lo mau? Ambil aja!"

Kris mencibir. "Bukan! Tuh liat! Dia lagi nungguin lo!" ujung bibir Kris yang agak dimonyongkan tepat menunjuk ke arah cewek dengan seragam ungu SMK Pariwisata, yang sedang menyandarkan punggungnya dan sesekali berjalan-jalan kecil mengelilingi ring basket.

Untuk catatan, TK, SD, SMP, SMK Pariwisata ,dan SMA memiliki seragam yang coraknya berbeda. TK mengenakan baju bebas, SD mengenakan kemeja putih dan bawahan (celana pendek untuk cowok dan rok lipit untuk cewek) kotak-kotak biru, SMK Pariwisata mengenakan kemeja dan bawahan ungu (lengkap dengan skarf dan dasi) yang mirip pelayang restoran, SMA mengenakan kemeja putih dan rok kotak-kotak biru dengan satu belahan, sedangkan cowoknya mengenakan kemeja kotak-kotak biru dengan celana panjang biru.

Chanyeol menarik napas panjang. Nggak bosen-bosennya nih cewek ngejar-ngejar dia. Mulut Chanyeol aja udah hampir berbusa untuk melancarkan berbagai penolakan.

Ketika melihat Chanyeol, cewek itu langsung berhenti mondar-mandir dan memamerkan sederetan gigi putihnya. "Gue duluan ya, bro!" ujar Kris seraya berbisik.

"Dia itu cewek tercakep di SMK lho!" kemudian Kris menggabungkan diri bersama beberapa anak cowok lain yang juga sedang berjalan menuju gedung SMA. Sementara Chanyeol mau tak mau harus membelokkan arah tujuannya ke kanan menuju cewek yang notabene adalah mantannya.

Tanpa disadari siapa pun, ada sepasang mata yang memperhatikan gerak-gerik Chanyeol tadi.

"Lagi liat apa, Baek?" Xiumin ikut melongokkan kepalanya melalui jendela, berusaha melihat apa yang dilihat Baekhyun.

Baekhyun mengangkat bahu. Baru saja ingin mencari-cari jawaban, tiba-tiba Xiumin sudah berteriak histeris. "Oh my God, Chanyeol ganteng sekali ya?! Lo juga lagi liatin dia ya, Baek?"

Baekhyun melongo.

Yang bener aja! Masa nggak ada sih cewek di sekolah ini yang nggak ngefans sama Chanyeol. Baekhyun mau bilang nggak, tapi memang kenyataannya dia sedang memerhatikan Chanyeol dari jendela kelasnya.

"Siapa cewek itu?" tanya Baekhyun kemudian, menunjuk sosok yang kini sedang berbicara dengan Chanyeol.

Kini giliran Xiumin yang melongo.

"Hah? Lo nggak tahu? Dia kan mantannya Chanyeol. Namanya Jessica. Baru putus dua bulan yang lalu. Katanya sih gara-gara si Jessica ketauan ngeduain Chanyeol sama si Kyuhyun. Lo tahu si Kyuhyun anak kelas 3 itu, kan?" Xiumin mengguncang-guncang bahu Baekhyun semangat.

"Gila aja! Kyuhyun tuh nggak ada apa-apanya dibandingin Chanyeol. Kalo gue jadi dia, gue sih nggak bakal ngelirik cowok lain selain Chanyeol."

Xiumin mendekapkan kedua tangannya di dada, mendramatisir. "Seandainya gue bsa jadian sama dia..."

Baekhyun menatap Xiumin dengan tatapan aneh seakan memohon, "Please deh! Nggak ada cowok lain apa ya?" tapi sepertinya Xiumin tidak peduli, buktinya dia tetap nyerocos.

"Oh iya, si Jesse, panggilannya Jessica, itu kan cewek paling cakep di SMK. Pantes aja dia sombong. Pake acara ngeduain Chanyeol segala. Sekarang pas diputusin beneran, malah pengen minta balik lagi. Gimana sih?!"

Mau tidak mau Baekhyun harus melebarkan bibirnya melihat tingkah sahabatnya itu. Xiumin dan Chanyeol adalah lulusan SMP sekolah sini juga. Sekadar catatan, Chanyeol udah bergelut dengan sekolah ini sejak zaman SD. Tidak seperti Baekhyun yang anak pindahan dari SMA lain. Jadi... Jelas Xiumin tahu tentang Chanyeol jauh lebih banyak daripada yang Baekhyun ketahui.

Menurut Xiumin, sejak SMP Chanyeol memang sudah menjadi idola. Jangankan cewek-cewek SMP, cewek-cewek SMA sampai guru cewek pun terpikat dengan wajahnya. Iya sih, Baekhyun sendiri juga mengakui Chanyeol itu sangat tampan. Otaknya memang tidak terlalu pintar, tapi Chanyeol memang memiliki karisma yang bisa membuat semua orang terkagum-kagum dengan ucapan dan tingkah lakunya. Itu juga, masih menurut Xiumin, yang membuat Chanyeol terpilih menjadi ketua OSIS waktu di SMP dulu. Dan patut diketahui, walaupun sedemikian besarnya Xiumin mengidolakan Chanyeol, dia sudah punya cowok kok. Namanya Jongdae.

Ceritanya begini, gara-gara naksir sama Chanyeol tiga tahun silam, Xiumin berusaha mendekati Jongdae yang notabene teman dekatnya Chanyeol. Tapi ujung-ujungnya, dia malah jadian sama Jongdae. Lucu ya?

Baekhyun melihat Chanyeol sudah berjalan meninggalkan lapangan basket. Sepertinya mereka bertengkar, karena Jesse berlari ke gedung SMK sambil menangis.

Baekhyun mengangkat bahu, tak mau ambil pusing dengan urusan mereka. "Eh, jangan-jangan lo naksir Chanyeol juga ya, Baek?" Xiumin melayangkan pandangan curiga.

Baekhyun melotot mendengar kata-kata Xiumin barusan. "Iya, gue naksir dia. Tapi kalo otak gue udah ketuker sama dengkul."

Chanyeol membanting tasnya ke meja. Otomatis mata semua makhluk di kelas itu (termasuk Baekhyun) menatap ke arahnya. Tampangnya lebih kusut dibandingkan saat Baekhyun meninggalkannya di meja makan.

Sebelum menyadari keadaan di sekelilingnya itu, Chanyeol sudah ngacir ke WC. "Heh, kenapa lo? Masuk-masuk malah banting-banting tas," ujar Kris yang mengikuti Chanyeol ke WC, sekarang dia berdiri di samping Chanyeol sambil merapikan rambutnya.

Chanyeol menyemprotkan air ke wajahnya. Maksudnya sih biar bisa mengurangi rasa kesalnya. Tapi sepertinya nggak ngefek tuh.

Chanyeol menghela napas sambil mengelap wajahnya dengan tangan. "Sinting ya tuh cewek! Garagara gue nggak mau balik lagi sama dia, masa dia tadi bilang gue cowok murahan! Dia yang nyeleweng, kenapa malah jadi gue yang salah? Emangnya kalo sekarang dia putusin sama Kyuhyun, itu salah gue? Enak aja!"

Kris tersenyum. Sebenarnya dia ingin mengatakan bahwa ucapan Jessica itu tepat sekali! Tetapi bukan hanya akan memperburuk suasana hati Chanyeol, hal itu bisa-bisa membuat lidahnya juga bakal kena potong.

Sehingga kata-kata yang keluar dari mulutnya diubah menjadi, "Terus tadi lo bilang apa ke dia?"

Chanyeol berjalan keluar WC, tidak peduli dengan wajahnya yang masih basah. Kata orang, kalau cowok habis cuci muka, kesannya seksi.

Dan Chanyeol memang menerapkan pepatah itu sejak dia duduk di bangku SD. Tahu deh orang mana yang bilang. Orang luar angkasa, kali ya?

"Gue bilang aja kalo dia juga sama murahannya sama gue." Kris malah tertawa ngakak mendengar pilihan kalimat Chanyeol.

"Eh, kok lo malah ketawa sih?" ujar Chanyeol tidak terima.

"Sori... Sori... Lagian, kalo lo bilang kayak gitu, tandanya lo setuju sama dia kalo lo itu murahan. Dasar bego!" Kris membelok ke kelas masih dengan cekikikan.

Sementara Chanyeol memandang sahabatnya itu masih dengan tatapan tidak senang.

"Udahlah, Yeol. Masa cuma gara-gara gitu aja lo banting-banting tas segala? Cuekin ajalah! Entar juga dia bosen sendiri kalo ditolak lo terus-terusan. Kalo gue jadi lo sih gue bangga bisa dikejarkejar cewek tercakep se-SMK." Kris duduk di belakang bangku Chanyeol.

Sekolah mereka menerapkan sistem satu meja untuk satu orang. Jadi nggak ada tuh istilah teman semeja.

Kemudian Kris berujar lagi, "Daripada lo uring-uringan kayak gitu, mendingan juga lo cari cewek baru." Chanyeol mendengus.

"Gue lagi bete sama yang namanya cewek!" Kris melongo. Serius nih? Park Chanyeol yang selalu merasa mati dan selalu dikelilingi cewek-cewek, bete sama makhluk yang namanya cewek?

"Heh, lo salah makan ya?" Kris memandang Chanyeol terheran-heran.

Chanyeol mengibaskan tangannya, tanda tidak menginginkan komentar.

"Asal lo tahu ya, di rumah, gue mesti berhadapan sama cewek aneh yang baru dibawa sama bokap gue. Dan di sekolah, gue mesti ketemu sama cewek yang lebih aneh lagi yang tiap hari kerjaannya cuma bilang, 'Chanyeol, kita balikan lagi yuk!' lama-lama gue bisa gila." Chanyeol menelungkupkan kepalanya ke meja.

Kris masih terbahak melihat tingkah sahabatnya yang satu ini. "Lo mau taruhan berapa sama gue? Gue yakin nggak nyampe seminggu, lo bakal udah lupa sama ucapan lo barusan." Dia menepuk punggung Chanyeol agar kembali duduk tegak karena Pak Niel sudah masuk ke kelas.

"Asal lo inget aja ya, cewek itu inceran gue! Jangan lo ambil!" Telunjuk Kris menunjuk ke salah satu cewek yang duduk di pojokan.

Mata Chanyeol melotot begitu tahu siapa yang dimaksud. "Hah?!"

Menyadari bahwa seluruh kelas memandanginya akibat teriakannya barusan, Chanyeol mengubah ucapannya menjadi bisikan.

"Mata lo juling ya?" Kris mengangkat bahu.

"Tipe gue kan emang beda sama lo. Baekhyun itu manis kok." Chanyeol benar-benar mau pingsan dengan tiga kejadian yang dialaminya berturut-turut pagi ini.

"Eh iya, cewek yang dibawa sama bokap lo itu siapa? Jangan bilang kalo itu istri kedua!" Chanyeol benar-benar merasa lemas sekarang.

Tadinya Chanyeol mau bilang, "Cewek yang lo taksir tuh, yang dibawa ke rumah gue." tapi berhubung gengsinya cukup tinggi, dan memang belum ada yang tagu dia dan Baekhyun tinggal serumah, dia hanya menjawab sekenanya. "Pembokat."

.

.

.

.

HARI ini cukup panas. Matahari memang sudah tidak muncul. Tapi udara malam ini cukup membuat Chanyeol tergoda untuk berenang. Sambil ditemani orange juice yang tadi dibuatkan Bik Nah, Chanyeol menikmati suara percikan air serta suara penyiar Prambors_Chanyeol membawa radio ke pinngir kolam renang biar nggak terlalu sepi_yang sedang berceloteh tentang makna cinta.

Chanyeol mendengus. Apaan tuh makna cinta? Iya sih, sejak kecil Chanyeol memang kekurangan yang namanya cinta. Asal tahu aja, kata pertama yang berhail diucapkan oleh Chanyeol bukan "mama" seperti anak-anak lainnya, tetapi "bibi".

Amber dan Henry memang jarang sekali mengunjungi anak semata wayangnya itu. Mereka terlalu sibuk dengan bisnis, bisnis, dan bisnis. Chanyeol memang tidak mengenal apa itu cinta orangtua.

Makanya, saat dia tahu papanya sangat memperhatikan Baekhyun, dia uring-uringan. Dari sekian banyak cewek yang jadian dengannya pun, nggak ada tuh yang terhitung "jadian karena cinta". Selama cewek itu memenuhi sepuluh kriteria yang telah dijelaskan, Chanyeol sih oke-oke saja.

Tiba-tiba Chanyeol teringat pada satu sosok. Do Kyungsoo... Cewek yang selalu menemaninya semasa kecil. Chanyeol lebih suka memanggil cewek itu Kyungie yang menghiburnya.

Saat Chanyeol kesal, kesepian, Kyungie selalu ada untuknya. Saat Chanyeol sakit pun, Kyungie yang paling panik. Kehidupannya sampai kelas 6 SD hanya dipenuhi dengan Kyungie, Kyungie, dan Kyungie. Kalau mau membahas makna cinta, mungkin satu-satunya cewek yang mengenalkan kata cinta hanya Kyungie. Dahulu mereka tinggal bersebelahan. Chanyeol masih ingat dengan jelas awal mula pertemuan mereka.

Chanyeol baru kelas satu SD saat menemukan seekor anjing pudel kecil yang tanpa sengaja masuk ke dalam rumahnya. "Minie... Minee..." tiba-tiba seorang gadis kecil melongokkan wajahnya dari balik pagar. "Itu Minie!" gadis itu tertawa pada baby sitter-nya saat melihat anjing yang dipegang Chanyeol. Tawa yang lucu. Tawa yang polos. Tawa yang membuat Chanyeol tidak bisa melepaskan pandangannya sedetik pun.

Chanyeol membuka pintu pagar. "Ini anjing kamu?" Gadis itu mengangguk bersemangat. Sejak itu mereka berteman, menghabiskan waktu bersama, bermain dan tertawa bersama.

Namun, sejak Papa Kyungie memusatkan bisnisnya ke Taiwan, tepat pada saat kenaikan SMP, Kyungie dan keluarganya pindah ke sana. Tidak ada tangis perpisahan, tidak ada pelukan perpisahan, tidak ada benda kenangan, tidak tersisa apa pun tentang kepergian Kyungie. Kyungie hanya tersenyum sambil melambaikan tangan saat Chanyeol mengantarnya ke airport. "Aku pasti kembali lagi!"

Hanya lima patah kata itu yang keluar dari mulut Kyungie. Entah kenapa, saat itu Chanyeol sangat percaya. Chanyeol merasa sangat percaya Kyungie akan kembali lagi. Dia menunggu, menunggu, dan terus menunggu.

Kepergian Kyungie cukup membuat Chanyeol sangat kesepian. Awalnya mereka terlalu rutin mengirim surat. Maklum, dulu kan SMS dan internet belum populer. Ada sih, tapi kan belum setenar sekarang. Kalau telepon, bisa-bisa papanya bangkrut gara-gara ngebayarin anaknya telepon Jakarta-Taiwan tiap hari. Jadi, alat paling populer untuk berhubungan jaraj jauh cuma surat. Pertama, seminggu sekali... Lama-lama dua minggu sekali, sebulan sekali, sampai akhirnya tidak ada kabar sama sekali. Chanyeol capek menunggu. Dia ingin Kyungie kembali. Dia benci sendirian.

Nah, dari sinilah awal masa-masa ke-PLAYBOY-an Chanyeol dimulai. Saat masuk SMP, banyak cewek yang mendekatinya. Sebenarnya Chanyeol tidak tertarik pada mereka. Tapi merekalah yang membuat Chanyeol tidak lagi kesepian. Setiap dia bosan dengan satu cewek, cewek yang lain sudah mengantre untuk menjadi pacarnya. Dan Chanyeol menikmati itu. Setidaknya dia merasa tidak sendirian.

Tanpa sengaja. Pandangan Chanyeol tertuju pada kamar Baekhyun. Cewek itu membuka pintu balkon dan menarik bangku ke sana. Tadinya Chanyeol ingin menenggelamkan kepalanya ke bawah air agar Baekhyun tidak melihatnya, tetapi sepertinya Baekhyun memang tidak tertarik melihat ke bawah. Pandangannya tertuju ke langit dan bintang-bintang di atas sana.

Chanyeol mengecilkan suara radionya. Sekilas dia melihat Baekhyun berkomat-kammit seperti orang yang sedang ngomong sendiri.

Tapi tiba-tiba... Ada sesuatu yang berkilau tertimpa sinar lampu di pipi Baekhyun. Air matakah?

Hah? Yang bener aja! Masa sih cewek itu bisa nangis juga? Chanyeol mengucek-ngucek matanya. Memastikan penglihatannya tidak salah.

Tapi itu benar-benar air mata... Baekhyun menangis? Chanyeol cepat-cepat memasukkan tubuh dan kepalanya ke dalam air ketika pandangan Baekhyun beralih ke bawah setelah tidak kuat lagi menahan napas, dengan hati-hati dia memunculkan matanya untuk melihat keadaan Baekhyun.

Chanyeol melongo. Baekhyun menopang kepalanya dengan kedua lengan yang dilipat dan disandarkan ke pagar balkon. Yang benar aja! Dia tidur? Ngapain dia tidur di balkon begitu?

Chanyeol mengambil handuknya dan bergegas ke atas. Dia mendapati pintu kamar Baekhyun terbuka setengah. Dengan mengendap-endap, Chanyeol masuk dan menemukan Baekhyun benar-benar tertidur di balkon. Chanyeol menggumam setelah melihat wajah Baekhyun lebih dekat, "Beneran air mata."

Sesaat dia tergugah untuk menghapus air mata di pipi Baekhyun. Dan bertepatan dengan itu, suara SMS membuat Baekhyun terbangun.

Jeng... Jeng... Jeng...

Bisa ditebak, Baekhyun membuka mata dan mulutnya ternganga lebar-lebar melihat Chanyeol masuk ke kamarnya dengan setengah telanjang. "YEOLLLL!" Lemparan sandal menerjang tubuh Chanyeol.

"Mau apa ke sini? Kenapa nggak pake baju?" Baekhyun mengambil gunting dan menyorongkannya.

"Dengar ya! Gue ini cewek baek-baek. Belom pernah begituan. Jangan macem-macem!"

Mendengar itu, bukannya marah, Chanyeol malah timbul isengnya. Dia malah berjalan mendekati Baekhyun.

"YEOLL... Jangan ke sini. Ini liat!" jari Baekhyun menunjuk gunting yang dipegangnya.

"Jangan maju lagi! Gue takuut!"

Chanyeol berusaha menahan tawa melihat tingkah cewek di depannya itu. Tapi dengan tampang sok serius, dia tetap berjalan mendekati Baekhyun, merebut gunting kemudian mendorong tubuh Baekhyun sampai terentang di ranjang. Kedua tangannya memegang kedua tangan Baekhyun erat-erat. Saking dekatnya wajah mereka berdua saat ini, Baekhyun memejamkan mata erat-erat sambil menyerukan berbagai gumaman.

"Tuhan, bunuh cowok ini, Tuhan. Biar dia disambar petir, disambar geledek, disambar apa pun boleh. Mau pake kayu, martil, gergaji, pisau, obeng, semuanya boleh. Tuhan, cowok ini memang kurang ajar. Lempar dia, Tuhan. Ayo, Tuhan..."

Mendengar itu, tawa Chanyeol meledak. Dia melepaskan kedua tangan Baekhyun dan tertawa sampai terjongkok-jongkok di lantai.

Baekhyun membuka mata. Dahinya berkerut melihat tingkah cowok itu. Apaan lagi nih?

"Heh! Kenapa ketawa?" Baekhyun berdiri dan mengambil jarak agak jauh. Chanyeol masih tetap dengan posenya sambil cekikikan.

"Elo lucu banget! Tadi gue cuma bercanda! Lagian gue juga nggak nafsu sama cewek kayak lo!"

Baekhyun mengatupkan bibir. Sedetik kemudian dia menangis. "Tadi gue beneran ketakutan setengah mati, tau nggak!"

Kontan Chanyeol menghentikan tawanya. Dia berjalan menghampiri Baekhyun. "Jangan deket-deket! Keluar sana! Dasar jahat!" Chanyeol merasa bersalah.

"Sori, tadi gue cuma bercanda." Tapi Baekhyun masih memandangnya dengan tatapan curiga.

"Terus ngapain lo nggak pake baju?"

Chanyeol memperhatikan badannya yang hanya mengenakan celana renang. Iya sih, dengan penampilan kayak gini, siapa yang bakalan nyangka perbuatannya tadi nggak serius. "Ini... Ini tadi gue abis berenang. Terus gue lihat lo tidur di balkon. Jadi..." Chanyeol menghentikan perkataannya saat melihat mata Baekhyun yang sangat tidak bersahabat.

"Iya deh, gue salah. Maaf..." Nggak dimaafin!" ujar Baekhyun sambil mengusap air matanya.

"Bawain gue cokelat dulu, baru dimaafin!" Chanyeol bengong. Beneran nih cewek ini udah umur enam belas tahun?" Ngapain bengong?! Cepetan ambilin cokelat sana!" Chanyeol mendengus, tapi kakinya tetap melangkah keluar menuju lemari es.

Chanyeol menepuk-nepuk kepalanya. Sepertinya telanjang dalam waktu cukup lama malam tadi baru terasa efeknya sekarang kepalanya terasa pening. Dia turun dari motoe dan merapikan seragamnya yang lecek terkena sapuan angin. Hari ini dia juga tidak memakai jaket, yang membuat pusingnya semakin menjadi-jadi karena saking kerasnya angin yang menerpa tubuhnya saat naik motor.

Chanyeol masih memijit-mijit dahinya saat melewati lapangan basket dan... Yaak... Kembali dia menemukan sosok cewek yang paling tidak ingin ia temui.

"Tidaaakk! Jangan lagi!" teriaknya dalam hati.

Entah sudah berapa minggu cewek itu terus-terusan memburunya dengan pertanyaan yang sama, "Chanyeol, mau nggak kita balikan lagi?" Chanyeol saja sudah bosan mendengar kata-kata itu. Bukan hanya karena dia memang nggak ada feeling dengan Jessica, tetapi hal itu juha mengurangi jumlah cewek yang mendekatinya karena takut kehidupan SMA mereka terancam. Jessica kan terkenal suka ngelabrak siapa pun yang mendekati Chanyeol. Dan bagi Chanyeol, kehilangan fansnya adalah bencana besar! Oleh karena itu, dia memutuskan harus menghentikan Jessica saat ini juga.

Begitu melihat Chanyeol, Jessica langsung berlari ke arahnya. Niat Chanyeol yang ingin menyelesaikan masalah tiba-tiba lenyap begitu saja.

Dia malah refleks ikut berlari menghindari kejaran Jessica. Sekilas mereka tampak seperti pasang kekasih di film-film India yang sedang kejar-kejaran. Untung hari itu masih terhitung sangat pagi, sehingga belum banyak murid yang datang. Kalo nggak, bisa-bisa mereka jadi tontonan.

Sampai di gedung SMA, akhirnya Chanyeol menghentikan langkahnya. Dia sudah tidak kuat berlari lagi. Dengan napas terengah-engah, dia duduk di bangku panjang di depan laboratorium biologi.

Jessica, juga dengan napas terengah-engah, duduk di sampingnya. "Jesse, kita temenan ajalah. Gue capek tiap hari terus-terusan kayak gini. Gue yakin lo pasti bisa nemuin cowok lain yang lebih baik dari gue," kata Chanyeol setelah berhasil menenangkan detak jantungnya.

Jesse memandangnya, seakan sudah bosan dengan kata-kata yang Chanyeol ucapkan. Sama bosannya dengan Chanyeol yang sudah dapat menebak kata-kata apa yang akan Jessica katakan.

"Kenapa?" Tuh, bener kan? Chanyeol mengembuskan napas panjang, "Soalnya gue udah jadian sama cewek gue yang baru. Jadi, plleeeeaaaasssseeeee! Jangan ganggu gue lagi! Jangan ngejar-ngejar gue lagi!" kata-kata itu tiba-tiba tanpa sadar terucap begitu saja. Jessica mengerutkan kening mendengar perkataan Chanyeol barusan.

Jadian? Kok nggak pernah ada beritanya?

"Sama siapa?"

Toeeng! Chanyeol sama sekali tidak memikirkan hal itu. Kata-kata jadian benar-benar di luar pikirannya.

Tapi tiba-tiba sebuah nama melintas. "Namanya Baekhyun."

Waduh! Kok bisa dia ya? Chanyeol menepuk dahinya sendiri, tapi dia cepat-cepat memamerkan senyum lagi_lebih tepatnya menyeringai_saat menyadari Jessica memperhatikan perubahan wajahnya.

"Ngerti kan sekarang alasannya? Jadi jangan ganggu gue lagi!" ujarnya sambil berlalu menuju tangga. Belum lagi tiga langkah, Chanyeol berbalik.

"Oh iya, jangan sekali-kali merusak ketenangan cewek gue! Kalo sampe gue tahu macem-macem sama dia, lo bakal berhadapan sama gue! Ngerti?!"

Chanyeol menepuk kepalanya kencang-kencang. Haduh! Gimana ini? Kenapa bisa nama Baekhyun yang kusebut? Mau nggak mau mesti ngajak dia buat kerja sama.

Tapi, kemudian Chanyeol teringat peristiwa dua jam yang lalu...

Wangi nasi goreng menggelitik hidung Chanyeol saat memasuki ruang makan. Dia melihat Baekhyun, masih memakai celemek renda-renda, sedang menuangkan susu ke dalam dua gelas. Memang, Baekhyun tidak suka sarapan hanya dengan roti bakar, jadi sejak dua minggu yang lalu

Baekhyun selalu membantu Bibi Jung menyiapkan sarapan. Kadang-kadang masak bubur, kadang-kadang masak nasi goreng.

Sebenarnya tidak dibantu Baekhyun pun, asalkan Baekhyun memberi perintah, Bibi Jung pasti akan memasakkan apa pun yang mereka inginkan.

"Lo, nggak kasihan ya! Bibi Jung kan udah 60 tahun. Bantuin sedikit nggak ada salahnya, kan?" ujar Baekhyun saat Chanyeol bertanya kenapa Baekhyun ikut memasak.

Baru kali ini Chanyeol melihat ada cewek seumuran dia yang bisa masak. Semua mantan pacarnya biasanya nggak ada yang bisa masak.

Sebenarnya, Chanyeol menikmati masakan Baekhyun. Memang tidak seenak masakan restoran, tapi benar-benar memberi kesan masakan rumah. Sesuatu yang sangat jarang dirasakan Chanyeol.

Sejak dua minggu yang lalu itu juga, Chanyeol mulai merasakan adanya perasaan sedikit akrab dengan Baekhyun. Memang sih, masih tersisa rasa cemburu tentang perlakuan papanya yang agak berbeda, tapi mereka sudah mulai banyak bicara. Seenggaknya, lebih banyak bicara dibanding pertama kali Baekhyun datang.

Namun, pagi tadi Chanyeol hanya melihat ada satu piring di meja.

"Lo nggak makan?" tanya Chanyeol pada Baekhyun.

"Makan kok. Tapi gue nggak mau makan satu meja sama lo! Gue mau makan di ruang TV aja. Mulai sekarang, jangan deket-deket gue kurang dari dua meter! Awas lo!" lalu Baekhyun ngeloyor membawa piring dan gelasnya ke ruang TV.

Chanyeol benar-benar lupa peristiwa itu. Tapi, pokoknya dia harus berhasil mengajak Baekhyun kerja sama. Apa pun caranya!

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Jangan protes ya? Namanya aku ganti tapi settingnya ttp di indonesiaaa. Anggep aja mereka mainnya di Indonesia wkwkwkw.

Iya aku tau kok kalo ini aneh:DDD Kalo aneh gausah dibaca, beres kan?:p

Thanks To:

Whey.K, KimSora94, Baeks06, chan, ByunJaehyunee.

So, review?