Vocaloid isn't mine, dan produk komersial di dalamnya, tapi ide cerita milik saya
Ini atasanku, mana atasanmu?-part 2
Sebuah fanfiksi yang mengambil judul dari iklan mie terkenal-sebuah fiksi yang menceritakan duka kaum adam berparas hawa. Dan, oh yeah, hanya lelucon. Bukan bashing.
Sang atasan berbaju lengkap duduk dengan damai di kursi-yang seharusnya untuk para tamu sambil menyesapi teh daarjeling buatan koki nomor satunya, Yuuma. Dengan tenang, seakan ia tidak pernah melakukan perbuatan haram seperti pemaksaan terhadap bawahan sendiri-nama disamarkan-padahal ia bahkan lebih cantik dari bawahannya itu, tetapi dia menolak dengan alasan 'Karena aku adalah majikan'.
Seseorang, tolong ingatkan Piko kalau tempat ini adalah restoran. Bukan gerai budak.
"Menyesap teh siang, bos?"
Meletakan cangkir dan tersenyum ke sang koki "Seperti yang kau lihat Yuuma-kun,"
-tunggu, sebenarnya siapa yang membuat teh itu?
Piko melirik Yuuma yang jauh lebih terlihat bahagia dari hari-hari sebelumnya."Yuuma-kun,"
Membalas sapaan sang bos "Iya, bos?"
"Masih jomblo?"
Semprotan berwarna kuning yang diduga cairan pembersih terjun bebas dari tangan Yuuma dan bertemu sang pujaan hati, lantai. Dengan terbata, Yuuma menjawab "Ma-masih bos,"
Yuuma takut. Takut tiba-tiba Piko jadi om homo pedofil. Ah, kenangan buruk kembali terputar di pikiran Yuuma.
Itu semua berawal dari sang pemuda berambut jambu mencari pekerjaan. Bukan untuk uang, hanya untuk menghabiskan waktunya saja-daripada terpuruk karena tidak kunjung mendapat pasangan. Saat itu ia menemukan pekerjaan yang ia anggap cocok untuknya. Yaitu menjadi pelayan di tempat karaoke, siapa tahu ia bisa ketemu cewek dan mengajaknya jalan. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Atasannya merupakan paman semacam Big Al, awalnya ia bersikap baik-baik saja, sampai sang bos tiba-tiba bertanya,
"Yuuma-san sudah punya pacar?"
"Belum, pak,"
"Kalau gitu mau pergi dengan paman? Nanti gajinya ditambah fantastis,"
"..."
Sejak saat itu Yuuma trauma berkepanjangan, bahkan ia trauma hanya sekedar melewati tempat karaoke. Tolong, Ia masih perawan nan polos. Soal nasib sang bos karaoke itu, ia sudah diringkus aparat keamanan. Kebenaran harus ditegakkan, kawan.
-mungkin itu juga menjadi alasan kenapa Yuuma sangat mengabdi dengan Piko saat ini, masih untung dapet atasan polos seperti Piko (dalam pikiran Yuuma tentunya, ia belum mengetahui kejamnya kenyataan).
"Tenang, aku bukan om pedofil seperti bosmu sebelumnya," kenapa Piko bisa tahu, bukan misteri lagi. Piko memang dikenal sebagai atasan yang tahu segalanya tentang puluhan bawahannya, seperti Len alergi apa, gebetan Gumiya siapa, sampai berapa jumlah celana dalam Oliver. Oke, memang sedikit seram memiliki atasan yang serba tahu.
"Memangnya kenapa, bos?"
"Pantas saja, wajahmu masih jomblo,"
Wajah jomblo itu seperti apa ya, bos?! Entah kenapa Yuuma merasa tersinggung.
"Tapi sepertinya akhir-akhir ini kamu terlihat senang, apa nemu gebetan baru?"
Yuuma tersenyum penuh arti, "Ehem, aku kira bos serba tahu, aku senang akhirnya ada pegawai wanita di restoran ini,"
"Lalu?"
"Aku gak tahu bos dapat darimana,"
Tunggu...
"Dan mengapa Oliver jarang masuk saat gadis itu ada,"
Jangan bilang...
"Tapi gadis itu manis sekali, walau bukan tipeku sih,"
Oh. Piko berdehem "Yuuma-kun," menimbulkan suasana mencekam "Jangan bilang... Kamu jatuh cinta sama Olivia?"
Hening, Yuuma menggeleng "Nggak kok, bos!" ya, kan sudah Yuuma bilang bahwa gadis itu bukan tipenya "Aku sukanya sama gadis yang dewasa kok."
Piko menyesap tehnya dengan lega, syukurlah. "Yuuma-kun, mau aku beritahu rahasia Olivia?" Piko tersenyum sok misterius.
"Boleh, jika bos berbaik hati-"
"Dia itu cowok,"
"Eh?!"
"Cowok tulen."
Mungkin selanjutnya Yuuma trauma jatuh cinta.
Mari kita turunin view kita ke tokoh utama yang lain,
"H-Hentikan!"
Tenang. Fiksi ini masih rate aman. Oliver memandang horror ke arah tiga gadis di depannya, ia menyilangkan kedua lengannya untuk melindungi diri-dan malah membuat ketiga gadis itu menjerit 'Kawaii'. Ia melirik Mikuo dengan sinis di belakang ketiga gadis tersebut, dasar kawan durhaka.
"Olivia-san, ini yang terakhir deh, sekali lagi," tapi kenyataannya ini sudah yang ke tujuh kalinya.
"Lagipula Piko-san boleh-bolehin saja tuh," jangan menyebut nama setan itu, tolong.
"Kumohon..." jangan memberi tatapan itu, Oliver sangat lemah jika diberi tatapan anjing kehujanan itu apalagi jika yang ngelakuin-
"Baiklah, ini yang terakhir,"-adalah wanita. Oliver pasrah dan membiarkan Gumi, Rin, dan Luka memilih-milih baju lainnya. Iya, mereka memilih baju untuk wanita masalahnya. Tapi Oliver bersyukur mereka tidak memilihkan baju dalam wanita. Harus berapa kali ia bilang bahwa ia adalah lelaki tulen. Neraka ini berawal dari ketiga gadis itu berkunjung ke restoran milik Piko dan secara tidak sengaja berpapasan dengan Oliver. Melihat keimutan wajah Oliver, mereka meminta ijin Piko untuk memperbolehkan mereka membelikan baju maid yang cocok untuk dia. Jaga-jaga, Piko menyuruh Mikuo untuk mengikuti mereka.
Oliver adalah bagian terpenting dari restoran Piko, restoran tanpa maskot bisa jadi bahan guningan (sungguh pikiran Piko terlalu over).
Intinya itu, singkat kan? Hanya ikut mereka sebentar berbelanja baju setelah itu sudah, mudah kan? Setidaknya Oliver akan berlaku normal jika ia merupakan wanita sungguhan. Tapi, tidak, Oliver adalah cowok tulen. Sekali lagi, tulen.
"Heyya, Oliv, kok elu cemberut?" selesai sesi belanja dan berpamitan dengan kaum-kaum hawa, Mikuo mengayunkan tangannya di depan wajah cemberut-imut Oliver.
Masih ngambek, Oliver menatap Mikuo dengan berbisa "Elo, ninggalin di tengah neraka gitu, pengkhianat lo,"
"Ahahaha, tugasku kan ngikutin doang, ga nyelamatin,"
"..."
Sontak Mikuo menepuk bahu Oliver "Liv, kalau elu ga kuat, berhenti saja. Cari pekerjaan yang lebih menjanjikan masa depan lo," loh, bukannya elu disuruh untuk ngejagain Oliver agar ga putus kerja ya, Mik? Kok kebalik gini?
Oliver hanya menghela nafas mendengar perkataan Mikuo "Elu sendiri kenapa ga putus kerja saja, Mik?"
"Ga bisa, Piko merupakan pundi-pundi uang berhargaku soalnya,"
-Mikuo, 23 tahun, tercatat sebagai bawahan durhaka.
"Aku juga sama, Mik. Hanya Piko yang mau mengambilku di pinggiran kumuh kota ini, Mik-"
"Nah kalau gitu jangan ngeluh,"
"-Tapi bohong, dunia kiamat kalau dia melakukannya. Hidup tidak seindah Black Butler," tragis memang.
Oliver merupakan penggemar komik-komik seperti itu. Kadang ia berdelusi menjadi bos mafia atau pemain basket bayangan, tapi kenyataannya ia kerja sebagai tukang kasir yang merangkap menjadi maskot di sebuah restoran kecil pinggiran kali. Hidup ini sangat kejam memang. Mana sang bos sangat kejam dan semua perintahnya mutlak, Oliver dendam sejak sang bos membakar semua komiknya dengan alasan 'Ga boleh kerja sambil baca hentai' Oliver berani bersumpah ia tidak memiliki komik jahanam seperti milik Akaito.
Sejak saat itu, Oliver berusaha tidak memedulikan sang bos, eh, malah dibilang kurang fokus sampai sesponsor-sponsornya; 'Kurang fokus? minum aqua' (Apa sang bos memiliki pekerjaan gelap sebagai spg merk minuman? itu masih misteri).
Sejujurnya, Oliver nggak ingin kembali ke restoran, tapi berhubung bersama Mikuo jadi, ya... "Kami kembali~" Mikuo merentangkan lengannya lebar-lebar, sontak seluruh penghuni restoran menutup hidungnya. "Mik, bau ketekmu mencemari udara bersih restoranku," Piko melihat kedatangan Mikuo dengan wajah flat.
"Ayolah sobat kecilku, Piko, Apa kau tidak mau memberi salam untuk sahabatmu tercinta ini?" Mikuo merangkul Piko, membuat Piko mau tak mau menyemprot baygon ke kelek Mikuo "Najis, Mik," Mikuo tidak mengerti, padahal dia ganteng gini kok najis?
Ganteng ganteng bau sapi. bau badan bisa menjadi hal krusial bagi pria, Mikuo.
Pandangan Oliver teralihkan ketika melihat Yuuma tengah bermesraan ria dengan tali sumbu kompor, niat bunuh diri mungkin. "Lha, itu Yuuma kenapa?" Piko menoleh sebentar lalu mengalihkan perhatiannya "Sakit hati. jangan dipedulikan, nanti dikira kenal."
Seandainya kau tahu kalau penyebab Yuuma begitu adalah gendermu, Oliver.
Tapi bagaimana pun Piko termasuk atasan yang baik, ia agak gak tega ngelihat Yuuma begitu, jadi ia memutuskan untuk mendekati pemuda jangkung itu dan menendangnya pelan. "Woi, di dunia ini masih banyak wanita yang imut kok, Yum,"
"Hiks,"
"Kalau restoranku becek, kamu yang ngepel ya,"
"..."
"Hidup lu berakhir dengan cewek normal kok, Yum..."
Kok Yuuma mendadak jadi gadis kehilangan keperawanannya sih? Bahkan hiburan Piko si pembaca masa depan pun ga mempan.
"Aku shock, bos, kenapa aku bisa tertipu..."
Oh. Ok, lanjut kerja.
"Biarkan itu berlalu, Yum,"
Oliver berkedip melihat situasi sinetron di depannya. Ia gak paham sama situasi. Oliver langsung menyimpulkan mereka sedang latihan untuk tayang sinetron jam lima sore nanti. Pasti seluruh penonton di belahan dunia manapun akan terharu melihat adegan ini.
Kata mutiara: Jangan kecanduan sinetron atau iklan, berakibat fatal.
Fakta: Yuuma, pelayan berbakti. Tercatat mengalami dua trauma yang menyangkut pekerjaan.
Tambahan:
"Piko, tadi lu lihat tarian gue?"
"Ah, iya, tarian dangdut kan, Mik?"
Sebenarnya itu adalah tarian tango.
A/N:
Setelah dipikir-pikir, kok pendek ya? Oke, saya memutuskan membuat chap 2 (enggak tahu yang terakhir atau bukan, akan saya lanjutin kalau nonton spongebob lagi yah) karena saya dapet inspirasi.
Ga tau sampai chap berapa karena ini plotless wwwww. Chap ini maunya diisi dengan deskripsian yang banyak, tapi takut reader bosen duluan, jadi percakapan yang dibanyakin.
Maaf seribu maaf.
Saya ngebut buatnya, sambil curpan (curi pandang) ke mamah, takut ketahuan.
besok saia TO tapi malah ngetik fic, saya telah gagal menjadi pelajar.
P.S: ini based dari nonton spongebob yang episode petrik behidung
