Ameagari
.
.
.
Chapter 2
.
.
.
Sejak hari itu, Himawari selalu menghindari Inojin, sebisa mungkin ia tidak lagi berjumpa dengan lelaki itu. Namun, sekuat apapun Himawari berusaha melupakan Inojin, meskipun ia tak bertatap wajah dengan Inojin selama berminggu-minggu, gadis itu tak bisa mengusir nama pemuda itu dari kepalanya. Hal apapun yang Himawari kerjakan, sesibuk apapun kegiatannya, hatinya tidak pernah sedetikpun berhenti menyebutkan nama Yamanaka Inojin.
Semua hal mengingatkannya pada pemuda itu.
.
.
.
"Apa yang kau lakukan di sana?" Inojin bertanya tanpa bangkit dari posisi duduknya.
Himawari tak kuasa menjawab, ia hanya mengintip lawan bicaranya dari balik pohon yang ia pegang dengan kedua tangan. Himawari tak mungkin berani menunjukkan wajahnya yang sempurna memerah.
Inojin akhirnya berdiri. "Tak perlu malu-malu! Kemarilah!" Inojin tersenyum, tangannya mengisyaratkan agar Himawari mau melangkah maju.
Saat itu Himawari yakin, momen sederhana yang terjadi padanya saat itu adalah momen terpenting dalam hidupnya yang tak akan pernah bisa ia lupakan.
Di tengah musim panas yang cerah, lelaki yang selama ini ia kagumi berbicara padanya untuk pertama kalinya. Hal yang terlampau sederhana untuk membuatnya merasa tak pernah merasa sesenang ini sebelumnya.
Himawari kecil tersenyum lebar, masih bersembunyi di balik pohon.
.
.
.
Kedua kaki Himawari melangkah di tengah-tengah jalan Konohagakure yang lebih mirip disebut kota dibandingkan desa. Sejak usainya perang dunia shinobi keempat, seluruh desa mulai membenahi diri, melengkapi segala fasilitas yang dibutuhkan warga desa.
Kini, konsentrasi para pemimpin bukan lagi mengenai penyerangan atau pertahanan desa, tetapi kedamaian dan keadaan para penduduk. Jadi, kini di era shinobi modern, Himawari tak lagi mendapati suasana Konoha yang lengang.
Meskipun Himawari ingin rasanya melihat wajah Konoha yang lama, ia menyukai suasana Konoha yang ramai dan bersahabat seperti sekarang, membuatnya tidak merasa kesepian meski berjalan sendirian.
Sudah cukup lama ia menyibukkan diri sendirian dan mengurung diri di rumah, sekarang adalah waktu baginya untuk menghibur diri. Ia pergi ke toko kue dan membeli beberapa kotak kue kering. Membelikan keluarganya makanan selalu berhasil membuatnya senang.
Himawari membelah jalanan Konoha yang ramai di malam hari, ya desa ini selalu hidup bahkan setelah langit gelap.
Gadis itu berhenti melangkah saat mendapati sosok yang beberapa minggu ini ia hindari. Sesosok pemuda tampan yang berdiri di depan kedai dango itu membuat kedua kaki Himawari menegang dan dadanya memanas. Tapi, setiap kali Himawari menatapnya, ia tidak pernah berhasil melarikan diri dari pesona lelaki itu walaupun mati-matian ia mencoba menghindarinya.
Himawari diam-diam memandangi wajah Inojin yang sedang tersenyum dan tertawa bersama Chouchou dan Shikadai. Pipi Himawari merona, kini ia menyadari bahwa ia sungguh menyukai perasaan yang ia dapatkan katika melihat lelaki itu tersenyum. Saat itu, tanpa diperintahkan otaknya, Himawari tersenyum, senyuman yang begitu tulus. Entah kenapa, melihat Inojin tersenyum membuat Himawari otomatis ikut tersenyum.
Ya Tuhan… Himawari tidak ingin beranjak dari sini, ia ingin terus memandangi Inojin. Sekarang ia mulai bingung dengan arah pikirannya sendiri, ia berusaha menghindari pemuda itu kemarin, tetapi sekarang rasanya Himawari ingin selalu berada di sekitarnya, di tempat di mana ia bisa memperhatikan Inojin.
Saat Himawari masih betah dengan posisinya, tiba-tiba Inojin memergoki Himawari sedang memandanginya. Saat itu Himawari reflek membuang muka yang justru semakin jelas membuatnya terlihat salah tingkah. Jantung Himawari berdegup kencang, ia malu setengah mati sampai membuatnya sibuk merutuki dirinya di dalam hati. Kenapa aku bisa sebodoh ini?! Baka! Baka! Baka!
Akan tetapi, respon Inojin kemudian membuat Himawari terkejut sehingga berani menatap Inojin.
"Uzumaki-san! Ayo bergabung dengan kami!"
Himawari masih berdiri diam. Merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya serta didengarnya dan tidak percaya dengan apa yang dirasakannya. Ia merasakan… perasaan yang ia rasakan sekitar empat tahun lalu.
Inojin tersenyum. "Kemarilah! Tidak perlu malu-malu!"
Himawari membalas senyuman Inojin, kali ini bukan senyuman palsu seperti beberapa minggu lalu. Tanpa perlu merasa harus memberanikan diri, Himawari melangkah menuju tim InoShikaChou tersebut.
"Apa kabar," Inojin masih tersenyum, "Uzumaki-san?"
Himawari merasakan hangat di dadanya, sepertinya lelaki yang berdiri di depannya sekarang berhasil membuatnya berdamai dengan masa lalu, Himawari mulai menyukai nama panggilan itu… 'Uzumaki-san'.
"Kabarku baik…"ucap Himawari dengan ramah, "Yamanaka-senpai."
Dan Himawari mulai terbiasa dengan panggilan itu… 'Yamanaka-senpai'.
Himawari saat ini mengerti, tidak ada perbedaan antara Jin-kun dan Yamanaka-senpai. Mereka berdua sama, seorang Yamanaka Inojin yang selalu diam-diam ia kagumi. Meskipun sekarang Inojin telah melupakan masa lalunya dengan Himawari, perasaan Himawari yang ia dapatkan dari Inojin sekarang masih sama seperti Inojin sekitar empat tahun yang lalu.
Baik Inojin melupakan atau tidak melupakan masa lalu mereka berdua, Himawari akan tetap merasa senang selama ia bisa berada di sekitar Inojin. Mulai saat ini, Himawari memandang Inojin yang sekarang dengan cara yang sama seperti caranya memandang Inojin sekitar empat tahun yang lalu.
Chouchou yang tiba-tiba bicara membuat Himawari tersentak dan kembali dari lamunanya.
"Himawari-chan! Kau bisa pesan dango sepuasmu! Aku yang traktir!" seru Chouchou.
"Hey, Himawari-san, kau tidak bisa menolaknya. Walaupun dengan alasan ingin tidur, Chouchou akan terus memaksamu!" ucap Shikadai ogah-ogahan sambil menguap. Jelas sekali bahwa sebenarnya ia yang ingin menolak traktiran Chouchou dengan alasan ingin tidur.
Himawari membalas perkataan mereka dengan tawa, begitu juga Inojin.
.
.
.
Aku merasa beruntung… bisa tertawa bersamamu.
Himawari tersenyum mengingat kejadian tadi sambil meringkuk dan memeluk guling dengan erat. Ia selalu menyukai saat-saat bersama Inojin. Ia sungguh merindukan perasaan ini, perasaan senang yang membuat hatinya hangat. Saat Inojin mengajak bicara, Himawari selalu takut menatap wajahnya, dan ia takut salah bicara. Karena setiap kali ia berada dekat Inojin, otaknya dipenuhi oleh satu kalimat 'Kami-sama, aku bahagia sekali' yang membuat ia tidak pernah bisa berpikir dengan baik.
Himawari tidak pernah berani memimpikan masa depannya dengan Inojin, itu mengerikan, masa depannya bersama Inojin adalah mimpi yang terlalu tinggi untuk berani ia impikan. Dan ia tidak pernah sekalipun berharap bisa menjadi pendamping hidup Inojin, lelaki itu terlalu sempurna untuk gadis biasa seperti dirinya.
Tapi bukan itu! Oh bukan! Bukan ketampanan Inojin yang membuatnya jatuh hati! Sama sekali bukan itu. Alasan Himawari mencintai Inojin adalah… ia sendiri bahkan tidak tahu. Yang ia tahu, Himawari merasakan perasaan yang berbeda saat bersama dengan Inojin, perasaan nyaman dan bahagia yang tidak pernah ia rasakan bersama lelaki lain. Mungkinkah itu alasannya? Entahlah, Himawari pun belum pernah bisa mengerti.
Namun, meski Himawari tidak pernah berani berharap, ada satu hal yang selalu Himawari harapkan… ia berharap Inojin bahagia dan Himawari selalu berada di sekitarnya untuk memastikan hal itu. Saat Inojin bahagia, maka Himawari akan senantiasa bahagia untuknya.
Bukankah jika kita mencintai seseorang… kebahagiaan orang itu adalah satu-satunya hal yang kita harapkan?
Bagi Himawari cinta adalah tentang kesetiaan… dan yang pasti… melepaskan.
.
.
.
Tsuzuku
.
.
.
Update every week.
