A/N : Terima kasih y yg udh riview cerita sy, tiba-tiba riviewnya tiga lagi hehe, pdhal kemarin-kemarin g ad riview. Sy belum membaca riview kalian, jd sy g tw itu kritik, saran, ataupun pujian hehehe, tp yg pasti sy senang kalian riview cerita sy. Sebelumny sy mw mengucapkan minal aizin wal faizin mohon maaf lahir dan batin, gpp kan meski musim lebaran dah lewat hehe, slmt membaca :)
Sinar matahari menembus kaca jendelaku, terdengar kicauaan burung yang merdu. Sebenarnya aku masih ingin tidur, tetapi aku tak kuasa menahan sinar matahari, akupun bangun dan duduk sebentar diranjang, merasa sudah agak segar, aku bangun dari ranjangku dan melihat kalender. Hari Minggu tanggal 11 Agustus, hari yang sudah ku nantikan, untuk berkencan dengan Roxas.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan, meskipun ini hari Minggu, aku tetap menjaga rutinitas bangun pagi, aku segera pergi kedapur, melahap roti panggang dan meminum segelas susu hangat, lalu pergi ke kamar mandi dan pagi. Ini kencan pertamaku, aku harus mempersiapkan penampilaanku dengan baik.
Seusai mandi, aku menaruh handukku dan pergi ke ruang tamu, kulihat ayah sedang menonton channel tv kesukaannya, dan ibu sedang mencuci piring. Ayah melirikku dan menyapa.
"Pagi-pagi dah rapi nih anak ayah, mau kemana?"
"Ke stasiun kereta api, temanku sudah menungguku"
"Bukannya kamu janjian jam 10 ya?" Tanya ayahku dengan tatapan heran
"Ya, memang janjiannya jam 10, tapi tidak apa-apa kan aku bersiap-siap lebih awal hehe, ayah sedang nonton apa?"
"Berita"
Acara tvpun sudah dimulai, ayah memperhatikaan dengan serius, aku duduk disamping ayah dan ikut menonton juga.
Pada tanggal 10 Agustus 2013, ditemukaan seorang pemuda yang pingsan. Dan disebelahnya ada sebuah makhluk aneh berwarna hitam, apakah ini heartless? Yang menjadi misteri beberapa hari yang lalu di kota kita, dan juga muncul penampakaan seorang pemuda misterius berjubah hitam yang sepertinya megendalikan heartless tersebut.
Kakiku gemetar, rasanya aku ketakutaan, dan sepertinya aku pernah melihat kejadian ini disuatu tempat, tetapi entahlah aku tidak ingat. Sesaat aku terdiam memikirkaan berita tersebut, tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh.
"Hei, Namine"
"Ehh, ayah, ada apa?" Tanyakku kaget
"Sudah jam setengah sepuluh, ayo berangkat, jarak dari stasiun ke rumah kitakan cukup jauh"
"Oh, iya, aku hampir lupa"
Aku berlari dengan sangat cepat, aku tidak ingin terlambat pada kencan pertamaku. Sesampainya di stasiun, aku melihat jam, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh. Dan di statsiun, aku juga melihat Roxas yang berdiri menungguku, dengan nafas tersengal-sengal aku menghampiri Roxas. Saat nafasku mulai teratur, aku meminta maaf.
"Maaf, aku terlambat"
"Iya, tidak apa-apa, aku juga belum lama sampai kok"
"Oh iya, mengapa kamu mengajakku ke..."
Ucapanku terhenti, kereta api telah datang. Roxas menarik tanganku, dan kamipun masuk kedalam kereta api. Aku benar-benar bingung, sebenarnya Roxas mau mengajakku kemana? Aku sempat bertanya padanya, tetapi dia hanya berkata.
"Aku ingin memberimu kejutaan, kamu sabar aja ya"
Perjalanan panjang tersebut akhirnya berakhir, kami berduapun turun dari kereta. Ternyata tempat tujuan kami adalah Disney Town, aku jadi ingat, saat aku berumur 5 tahun, bersama ayah dan ibu aku pergi ke Disney Town, masa kecil yang indah, saat-saat yang paling ku sukai adalah menaiki merry go around. Tetapi, itu semua hanya kenangan, sekarang aku sudah sibuk dengan kegiatan di sekolahku, dan ayah sudah sibuk dengan pekerjaannya, sedangkan ibu sibuk mengurus aku dan ayahku.
"Namine, kamu mau naik apa?" Tanya Roxas
"Entahlah, aku bingung"
Tiba-tiba saja aku tertarik dengan sebuah wahana permainan, sebenarnya aku tidak tau jelas itu wahana permainan apa, tetapi sepertinya seru. Akupun menunjuk wahana permainan tersebut, ciri-cirinya ada beberapa orang yang naik kereta, dan mereka melintas dengan sangat cepat di rel.
"Kamu mau naik roller coaster?"
"Eh, roller coaster?"
"Iya, tanganmu menunjuk roller coaster, baiklah ayo kita naik, aku tau tempatnya"
Rasanya jantungku berdetak dengan kencang, apa aku tidak salah dengar? Wahana yang aku tunjuk adalah roller coaster, padahal wahana yang paling aku takuti adalah roller coaster. Tetapi, aku hanya mencoba berani, aku tidak ingin merusak suasana hati Roxas, karna sepertinya dia senang aku menunjuk wahana permainan roller coaster.
Selama aku menaiki roller coaster, aku terus berteriak, sedangkan Roxas sepertinya dia sangat menikmati, rasanya kepalaku pusing, dan perutku mual. Setelah selesai, aku langsung turun dari kereta, rasanya aku tidak kuat, aku berjalan sempoyongan dan hampir pingsan. Tanpa ku sadari, Roxas memelukku dengan erat dari belakang, sehingga aku tidak terjatuh, lalu dia menggendongku, dan kami berdua dilihat oleh banyak orang.
Rasanya mukaku benar-benar merah, aku mengoyang-goyangkan bahu Roxas supaya dia menurunkanku, sepertinya Roxas mengerti isyaratku, diapun menurunkanku, dan kami berduapun berjalan menuju taman, suasana benar-benar hening, aku masih memikirkaan kelakuan Roxas tadi.
"Namine, kamu haus?"
"Iya" Jawabku singkat
"Tunggu sebentar"
Roxas pergi menuju ke sebuah toko minuman, dia memberikaan ku segelas jus jeruk. Langsung saja aku meminumnya, tenggorokanku benar-benar kering rasanya.
"Kamu kehausan ya?" Tanya Roxas
"Iya begitulah"
"Kamu marah padaku?"
"Marah? Karna kelakuanmu yang tadi?"
"Iya, kamu marah ga?"
"Enggak kok :) Aku malah mau berterima kasih"
"Berterima kasih untuk apa?"
"Aku berterima kasih karna, jika kamu tidak memelukku erat-erat mungkin aku jatuh, ini kedua kalinya kamu menolongku"
"Kedua kalinya?" Tanya Roxas terheran-heran
"Iya, masa kamu lupa, saat di sekolah, kamu rela babak belur demi mengambil buku gambarku"
"Oke, aku ingat...Aku juga mau berterima kasih padamu"
"Karna apa? Aku tidak pernah menolongmu, malah kamu yang sering menolongku"
"Karna kamu, hidupku lebih berwarna dan terasa lebih menyenangkan"
Roxas menatapku dengan senyumnya yang menawan, mukaku tiba-tiba memerah. Benar juga, semenjak ada Roxas, aku tidak pernah kesepian lagi, setiap didekatnya aku merasa nyaman dan terlindungi. Apa mungkin aku jatuh cinta pada pandangan pertama? Entahlah, aku tidak tau, suasana yang romantis tersebut, buyar karna suara HP, sepertinya bunyi HP Roxas, karna aku tidak membawa HP.
"Hmm...Namine.."
"Iya?"
"Maaf, aku ada urusan, aku harus pergi sekarang"
"Ya sudah, tidak apa-apa"
"Kamu tidak marah kan?"
"Tidak"
"Kamu bisa pulang sendiri?"
"Iya, aku bisa, terima kasih ya, aku senang"
"Yeah, aku juga, meskipun kita bersama hanya sebentar, semoga bisa lebih lama...Oh iya, salam perpisahaan dariku"
Roxas megangkat daguku lembut, lalu dengan lembutnya juga dia menciumku. Roxas memberikaan sebuah bisikaan padaku "Aku suka kamu" Setelah membisikaan itu, Roxas beranjak dari kursi, dan melambaikan tangannya padaku, aku juga segera pergi dari taman bermain dan menuju stasiun. Tak lama menunggu, kereta apipun datang, aku segera naik dan duduk.
Aku masih saja memegang pipiku, apa benar tadi aku dicium oleh Roxas? Ataukah aku hanya mimpi? Rasanya aku tidak mimpi, ciuman tadi benar-benar terasa nyata. 1 jam kemudian, akupun sampai di Twilight Town, aku berjalan dengan sangat lambat karna masih memikirkaan ciuman Roxas yang tadi, tiba-tiba saja sebuah makhluk hitam muncul, dia mendekat ke arahku dan mencoba menyerangku.
Dengan gesit akupun menghindar, aku berusaha berlari sekuat tenaga, tetapi aku jatuh dan sepertinya kakiku terluka. Apa itu heartless? Mengapa dia menyerangku? Heartless tersebut mengayunkan tangannya, sepertinya aku akan dicakar olehnya, aku hanya bisa menutup mataku dan pasrah.
Saat aku membuka mataku, didepanku ada seorang pemuda yang memakai jas hitam dan topeng, sepertinya dia telah menolongku. Heartless tersebut telah mati, pemuda bertopeng tersebut menglurkan tangannya, aku menerima uluran tangannya dengan senang hati.
"Terima kasih"
"Ya, mau aku antar ke rumahmu?" Tanyanya menawarkan
"Tidak apa-apa, aku bisa pulang sendiri?"
"Dengan kaki terluka? Tidak aku akan megantarmu pulang"
"Kamu tau rumahku?"
"Tentu, aku tau, di jalan kingdom no 10 kan?"
"Ya, kamu benar"
Akhirnya pemuda bertopeng tersebut megantarku pulang, setiap melihatnya aku teringat Roxas, tingginya sama dengan Roxas, dan setiap aku didekatnya, aku merasa seperti Roxas yang melindungiku. Akhirnya, aku pun sampai di rumahku, tak lama kemudian ayah datang dan menghampiriku.
"Namine, kamu pulang sama siapa?" Tanya ayahku khawatir
"Aku diantar oleh pemuda bertopeng"
"Mana dia?" Tanya ayahku bingung
"Mungkin sudah pergi"
"Ohhh, pemuda yang kamu ceritakan itu aneh, masa dia bisa tau alamat rumahmu? Kenal saja belum"
Aneh, pikirku, padahal tadi dia masih disebelahku, dia benar-benar misterius. Bagaimana dia tau alamat rumahku? Apa dia sering megintaiku diam-diam? Apa mungkin dia Roxas yang menyamar? Dia sedikit mirip dengan Roxas, entahlah, aku tidak tau. Itu sebuah misteri, jika suatu saat bertemu kembali, mungkin aku akan mengetahui dia itu siapa.
Bersambung...
A/N : Gmn? Penasaran? Seru? Biasa aja? 2-3 riview lanjut ke chap 3 hehe, nanti di chap 3 muncul Ventus, riview dihitung per chapter, di chap 1 sy liat ad 4 riview ya, jadi chap 2 minimal 2 atau 3 riview
Thx To :
Ibiriah
Code XVI
Luna Metacore
audey
yang sudah meriview cerita saya :) Klo ad riview susulan, sy jg berterima kasih. Jgn lupa riview lagi ya, arigatou
