Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: KonoHana

Warning: OOC, OC, alur ngebut, cerita GaJe, dll


Kisah cintaku

chapter 2


Normal POV

Hari ini adalah hari yang monoton bagi Konohamaru, kegiatan belajar mengajar masih berjalan seperti biasa, sementara guru menjelaskan, Konohamaru hanya sibuk dengan obrolannya dengan Udon yang melenceng jauh dari pelajaran. Namun kebanyakan guru memakluminya, karena Konohamaru tergolong siswa yang cerdas di sekolahnya, dan selalu bersifat baik pada teman-temannya.

Kini tibalah pelajaran matematika, pelajaran dengan guru yang amat sangat membosankan, Genma-sensei, begitu para siswa memanggilnya. "Bakka! benar-benar bakka! kapan istirahat tiba? aku benar-benar lapar..." ujar Konohamaru dengan air liur yang mengalir deras. Konohamaru masih memegang perutnya, tak peduli pandangan orang-orang disekitarnya, termasuk gadis itu yang memandangnya sinis.

...

Empat jam pelajaran dilewati bocah bermarga Sarutobi dengan rasa jenuh dan perut yang kosong, membuat bunyi bel isitraharat terdengar seperti sangkakala dari surga. Kini konohamaru dan sahabatnya sedang berada di kantin dan menikmati ramen cup spesial yang mereka berdua beli, sambil beberapa kali mereka mengobrol tentang anime atau tokutsatsu seperti gundam, atau kamen ryder.

"Ngomong-ngomong, kenapa kau sangat suka ramen sih? terlalu banyak makan ramen kan tidak sehat." Udon menasehati Konohamaru.

"Karena Naruto-niisan juga suka ramen hehehe." ujar Konohamaru dengan santai, sementara sahabatnya tak peduli dan memilih melanjutkan makannya.

Setelah selesai makan, mereka berdua memutuskan untuk pergi ke atap sekolah, kadang atap sekolah bisa jadi tempat yang damai sekaligus menyenangkan bagi dua anak yang tidak populer ini. Konohamaru memilih untuk merebahkan diri di lantai, sementara Udon asyik melihat-lihat pemandangan di bawah sana, dimana para siswa lainnya berlalu-lalang.

"Hei lihat! ada Hanabi-san lewat lorong sekolah." seru Udon seraya menunjuk objek yang dituju

"Aku tak peduli." balas Konohamaru singkat.

"Nah kan! kau memang ada masalah dengannya." seru Udon lagi, berusaha menyudutkan Konohamaru agar ia mengaku.

"Kenapa kau ingin tahu urusanku dengan dia sih?" tanya Konohamaru risih.

"T-tidak apa kalau kau tidak ingin menjawabnya, bakka." jawab Udon dengan muka merah.

"Umm.. ngomong-ngomong, hari ini aku ada ekstrakulikuler, apakah kau bisa mengerjakan tugas matematikaku?" tanya Konohamaru dengan pandangan memohon.

"Haaah... apa boleh buat,, hanya tugas matematika saja, oke." Udon mengiyakan.

Akhirnya mereka berdua turun ketika bel masuk telah berbunyi, di perjalanan menuju kelas mereka berpapasan dengan Hanabi yang langsung menegur mereka, atau lebih tepat jika disebut memaki, "KALIAN DARIMANA SAJA? APAKALIAN TULI? KALIAN TIDAK MENDENGAR BEL KAH? HINGGA AKU YANG DISURUH UNTUK MEMANGGIL KALIAN BERDUA?" maki Hanabi, kini ia mencoba diam, meski dengan gigi yang tetap menggeretak.

"Ma-maafkan kami berdua, kami hanya dari atap sekolah." ujar Konohamaru mencoba meredakan emosi gadis didepannya itu. Hanabi terlihat masih menahan amarahnya, ia pun masih melipat tangannya, tanda bahwa ia sedang emosi, Konohamaru tahu hal itu, karena dari kecil ia sudah sering bermain bersama hanabi.

"Kau dan Sarutobi-san, kali ini ku maafkan dan tidak akan kuberi point minus, namun jika kalian melakukan kesalahan yang sama sekali lagi, sebagai asisten wali kelas aku akan menghukum kalian berdua." ujarnya dingin, dan Hanabi pun langsung membalikkan badan, dan dengan cepat menuju kelas.

Namun Konohamaru menyadari sesuatu, ada yang berbeda dari panggilan Hanabi kepadanya, karena dulu gadis itu memanggil Konohamaru dengan suffix kun, ia masih ingat kala Hanabi memanggilnya "Konohamaru-kun" dengan lembut, tidak seperti sekarang, dengan nada dingin dan tak bersahabat memanggil bocah Sarutobi yang notabene teman sekelasnya.

"Tunggu! Hanabi ada yang salah dengan cara pemanggilanmu kepadaku! seakan-akan kita baru saling kenal! tunggu!" ujar Konohamaru yang mengejar bungsu dari klan Hyuuga itu. Kini Konohamaru berlari berusaha mengejar Hanab.

Akhirnya ia dapat menghampri Hanabi yang sepertinya berpura-pura tidak mendengar, Konohamaru menarik kerah seragam bagian belakang gadis itu, hanabi berbalik dan..

PLAAK

Gadis bermata lavender itu menampar pipi Konohamaru, "APA MASALAHMU KEPARAT?" makinya. Sementara Konohamaru masih memegang bagian pipinya yang merah. "Masalahku? masalahku ada panggilanmu kepadaku yang tidak seperti biasanya, aku tidak suka itu!" ujar konohamaru dengan tatapan serius namun tenang.

"Mulai sekarang anggap kita tidak saling kenal! dan jangan pernah bicara padaku, kecuali jika memang sangat darurat! atau kau akan aku adukan pada guru bimbingan konseling dengan tuduhan siswa yang cabul!" ujar Hanabi yang mulai bisa mengendalikan dirinya. Sementara konohamaru masih terpaku dan diam, ia kaget akan ucapan yang baru terlontar dari lawan bicaranya itu, sungguh besarkah rasa benci gadis ini terhadap dirinya?

Sakit yang Konohamaru rasakan sangat besar hingga mengalahkan rasa sakit akibat tamparan yang diterima dirinya, ia masih tak dapat berkata-kata hingga sahabatnya datang menghampirinya.

"Udon..."

"Aku teman yang buruk, bukan" sementara yang ditanya hanya terpaku.

~OoO~

Normal POV

Sepakbola adalah hobi Konohamaru, sekaligus ekstrakulikuler yang ia geluti di sekolah ini, sepakbola seperti penawar penat dan menurutnya sepakbola dapat membuat ia melupakan sejenak seluruh masalah bocah ini. Ia meliuk-liuk menggiring bola, melewati para pemain lainnya, terkadang ada satu atau dua orang yang kagum padanya, namun tetap saja ia tidak akan populer di sekolahnya.

"Oke, karena sudah terlalu sore, latihan kita akhiri, arigatou gozaimashita, errr... jangan lupa, aku mohon bantuan kalian untuk mencari manajer baru untuk tim sekolah kita, karena manajer yang sebelumnya telah mengundurkan diri dengan alasan sebentar lagi akan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi." ujar sang pelatih.

Akhirnya konohamaru berjalan ke ruang ganti sambil meminum air mineral miliknya, sambil mengelap keringatnya dengan handuk. Namun hal yang benar-benar tidak ia harapkan terjadi, ia berpapasan dengan gadi Hyuuga yang tadi siang memaki dirinya, ya, ia berpapasan dengan Hanabi yang masih memakai seragam karatenya. Tentu saja Hanabi pasti baru selesai mengikuti ekstrakulikulernya, yakni karate, karena sejak duduk di sekolah menengah pertama, hanabi sangat tekun menggeluti karate.

Konohamaru bergidik ngeri, ia memilih bergegas melewatinya begitu saja. Sementara Hanabi pun sama saja, tak sekalipun ia melirik Konohamaru, ia benar-benar tak menganggapnya ada. Angin serasa menganggu, mungkin karena aura Hanabi yang dingin, membuat suasana kala itu benar-benar tak enak untuk dirasakan

...

Diperjalanan pulang Konohamaru terlihat kelelahan, mungkin karena tai ia terlalu bersemangat untuk latihan, dan cuaca mulai berubah, awan gelap mulai datang, walau sekarang sudah memasuki pertengahan bulan April yang notabene musim semi, namun cuaca tak bisa diprediksikan. "Sial, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan." ujar bocah Sarutobi itu, seraya menari nafas dalam-dalam dan menghembuskannya, ia mulai mempercepat langkahnya.

"Pasti Kurenai ba-san dan Yui mengkhawatirkanku, aku harus buru-buru." ujarnya sambil merogoh sesuatu di dalam tasnya.

"Arrgh... aku lupa membawa payungku, sial." ujarnya yang mulai berlari kecil.

Hujan semakin deras, mau tak mau ia harus berteduh, Konohamaru sibuk mencari tempat untuk berteduh. Akhirnya ia menemukan tempat untuk berteduh di sebuah halte bus yang sepi, hanya ada seorang gadis yang memakai jas hujan berwarna kuning, dari raut wajahnya ia terlihat kebingungan. Konohamaru mencoba tuk menghampirinya, siapa tahu ia dapat membantu gadis itu.

"N-nona kelihatannya kau sedang bingung, apa ada yang bisa kubantu?" tanyanya mengajukn diri.

Akhirnya gadis yang dari tadi gelisah itu menangis dan menjawab dengan spontan, "hwaaaa... aku lupa jalan pulang..." ujar gadis itu. "Apakah kau bisa mengantarkanku pulang ke rumahku?" tanyanya memaksa.

"Apa-apaan ini, mana ada orang yang lupa jalan ke rumahnya sendiri?" tanya konohamaru sweatdrop.

"Bakka, aku baru pindah ke kota ini, maklumi saja kalau lupa... hiks...hiks..." jawab gadis itu yang kini menyeka air matanya.

"Tapi sekarang masih hujan, dan aku tidak membawa payung, kau tahu." jelas Konohamaru.

"Aku membawanya kok, aku berteduh disini karena aku lelah berjalan." elak gadis itu.

"Tapi aku sedang buru-buru untuk pulang, sebentar lagi malam akan datang." Konohamaru mencari alasan.

"Kau tahu, okaa-san pasti khawatir kepadaku, aku tidak bisa membayangkan kesedihannya ketika menunggu anaknya yang tak kunjung pulang, apakah kau tidak ikut merasa sedih...hiks." ujar gadis itu, gayanya terlalu meyakinkan.

"Haaah... apa boleh buat? baiklah, ayo kuantar kau pulang, tapi kau tahu alamat rumahmu bukan?" Konohamaru akhirnya mengalah.

"T-tidak, seingatku rumahku terletak di dekat pertigaan dan dekat kantor polisi." ujar gadis itu polos.

"Eeeeeeeeee nani? hanya segitu saja yang kau ingat" Konohamaru benar-benar tak percaya ada gadis sepolos ini, bahkan dalam sebuah kota megapolitan seperti Tokyo, kantor polisi dan pertigaan tersebar dengan jumlah yang sangat banyak.

Akhinya untuk mempersingkat waktu, Konohamaru dan gadis itu mulai mencari cara untuk mencari rumah gadis yang ia temui. Dalam payung yang melindungi mereka dari derasnya hujan, mereka mulai mencari kantor polisi untuk meminta bantuan. Konohamaru tak habis pikir, seberapa besarkah memori otak gadis ini, hingga bisa melupakan jalan pulang ke rumah.

"Kau baru pindah ke kota ini?" tanya Konohamaru.

"Ya, baru seminggu ini, karena ayahku pindah tempat kerja." jawab sang gadis singkat.

"Huuh... dasar merepotkan, kalau dilihat dari postur badanmu, kau pasti seumuran denganku." tebak konohamaru.

"Ekhem... umurku baru tujuh belas tahun tahu!" sanggah gadis itu.

"Ya memang umurku segitu, bakka!, ngomong-ngomong kau sekolah dimana?" tanya Konohamaru yan sedikit penasaran dengan gadis itu.

"Aku masih mencari sekolah yang tepat di kota ini." jawab gadis itu.

Di derasnya hujan mereka masih terus mencari keberadaan kantor polisi, tak peduli walau angin bertiup kencang. prioritas Konohamaru adalah membawa gadis itu pulang ke rumah, dan ia pun bisa pulang dan bersantai di kamarnya dibalut selimut hangat dan ditemani kaset episode terbaru Kamen Ryder. Namun pertama-tama ia harus mengantar gadis ini pulang.

~oOo~

Di kediaman Hyuuga

Normal POV

"Tadaima..." Ucap Hanabi.

"Okaeri, aah... Hanabi-chan, kau telah pulang rupanya, ayo bantu aku menyiapkan makan malam." ajak Hinata yang sedang sibuk menyiapkan bahan-bahan untuk memasak

"Aku ingin mandi dahulu, Hinata-nee, hujan deras yang datang tiba-tiba membuat aku basah kuyub." ujar Hanabi yang masih kedinginan karena baju yang basah.

Kaget melihat adiknya pulang dalam keadaan basah kuyub, Hinata mulai mengoceh. "Kenapa kau tidak berteduh dulu? kalau seperti ini kau bisa sakit tahu!" ujar Hinata yang khawatir. "Gomen Hinata-nee, aku janji tidak akan mengulanginya lagi, hehehe." ujar Hanabi, kemudian ia langsung menuju kamarnya yang terletak di lantai dua.

...

Air mengalir dari shower yang dinyalakan membasahi ujung kepala gadis Hyuuga turun hingga ke sekujur tubuhnya. Air itu seakan membangkitkan beberapa memori dari dirinya yang hampir ia lupakan. Masa-masa ketika ia masih memiliki keluarga yang utuh, hingga masa-masa kepedihan ketika ibunya meninggal dunia.

"Kenapa kau menangis?"

"Sudah jangan bersedih lagi hahaha."

"Wajahmu jelek kalau sedang sedih, tahu."

"Aku janji aku akan selalu bersamamu, jadi jangan menangis lagi ya, anak cengeng."

Beberapa kalimat terngiang dalam pikirannya, seakan terbayang di kedua iris lavendernya beberapa memori masa silam. Hingga Hanabi tersentak sadar, dan ia pun menyudahi acara mandinya, buru-buru ia lilitkan handuk ke badannya, dan ia pun kembali ke kamar. Kamar yang sderhana untuk ukuran orang sekelas klan Hyuuga. Ia membuka lemari pakaian, disana terlihat boneka beruang yang besar hadiah dari Hinata atas ulang tahunnya beberapa waktu lalu.

Hanabi berjalan menuruni anak tangga, bersiap untuk membantu kakaknya menyiapkan makan malam. Ya, kakaknya adalah wanita yang terlatih mandiri sejak kecil, bagi Hanabi, Hinata adalah pengganti sosok ibunya yang telah lama tiada. Beberapa pelayan juga terlihat sibuk membantu Hinata memasak, Hanabi mengambil celemek dan melilitkannya di pinggangnya, "Hinata-nee, kenama porsi yang kau masak banyak sekali?"

"Malam ini tou-sama akan datang membawa beberapa kolega bisnisnya, jadi kita semua harus memasak kari yang enak dalam porsi yang besar, jadi, ayo bantu kami, Hanabi-chan." ajak Hinata.

"Hmm.. baiklah." ujar Hanabi bersemangat, ia pun segera mengambil pisau dan mulai mencincang daging. Tampaknya kemurungan hanabi dapat hilang sejenak, saat ia bersama kakak yang disayanginya ini. Namun tetap saja terlintas dalam pikirannya tentang bocah yang dulu selalu menemani masa kecilnya, yang membuat masa-masa yang telah ia lewati menjadi bercahaya.

...

Sementara di tempat lain

Sudah sejam mereka mencari alamat yang dituju, mereka telah lapor paa polisi setempat, namun polisi hanya kebingungan saat mereka mengatakan kantor polisi atau pertigaan. Tentu saja mereka kini benar-benar jauh dari tempat awal mereka bertemu, hujan masih sangat deras, angin bertiup dengan kencangnya, tak menjadi halangan bagi mereka berdua yang dipersatukan oleh sebuah payung.

"Sepertinya aku kenal daerah ini." ujar gadis itu yang mulai menemukn titik terang.

"Benarkah?" tanya Konohamaru.

"Ya, ini jalan menuju ke rumahku." ujar gadis itu yang semakin mempercepat langkahnya. Dan ia pun menyeret tangan Konohamaru agar bocah itu ikit mempercepat langkahnya juga. Konohamaru dengan sigap pun membantunya memegang payung, untuk melindungi tubuhnya agar tak basah, "aku mulai mendapatkan titik terang." gadis itu mulai sedikit tersenyum.

Belokan demi belokan mereka lewati, akhirnya rasa lelah yang mereka lewati membuahkan hasil, rumah gadis itu ada di depan mata mereka, dengan mata yang berbinar-binar gadis itu memeluk konohamaru. "Arigatou, aku senang sekali, okaa-san pasti sudah mengkhawatirkanku, untung ada kamu." ujar sang gadis yang sedang gembira.

Entah kenapa, tiba-tiba saja hujan reda, hal yang baik memang, Konohamaru sendiri tak tahu mengapa, ikut merasa gembira. "Hujan memang sudah reda, tapi, apa kau tak mau mampir terlebih dahulu?" tawar sang gadis.

"Mmm tak usah, aku tak apa, bibi dan adikku pasti juga mengkhawatirkanku." tolak Konohamaru.

Ketika Konohamaru hampir meninggalkan rumah gadis itu, sang gadis memanggil dari kejauhan. "Maaf tidak memperkenalkan diri, namaku Moegi." ujarnya diiringi dengan lambaian tangan. Konohamaru hanya tersenyum dan lekas meninggalkan tempat tersebut, sebelum hari makin gelap.

~oOo~

Sesampainya di rumah

Kamar Konohamaru terlihat rapi, mungkin Yui yang membereskan kamarnya, ia memang adik yang rajin. Konohamaru masih terus mencoba konsentrasi dalam membaca beberapa buku pelajaran. Kini membaca buku ia jadikan sebagai pengganti pekerjaan rumah jika tidak ada yang harus ia kerjakan, dulu ada seorang gadis cerewet yang terus-menerus memaksanya untuk belajar melebihi gurunya sendiri, dan kini gadis itu membenci dirinya.

"Onii-san, makan malam telah siap! turunlah!" panggil Yui.

Mau tak mau konohamaru harus segera turun dan ikut makan bersama mereka, ia turun ke bawah dan menuju meja makan. Mereka bertiga makan dengan tenang, seperti keluarga yang harmonis dan memilii kebersamaan yang erat. Memang, sepeninggal Asuma ji-san keluarga mereka terlihat sedikit sepi, namun mereka masih terus menjalaninya dengan tabah dan semangat.

...

Keesokan harinya di sekolah

Pagi hari yang ramai di kelas, Konohamaru hanya duduk dan membaca komik yang belum sempat ia baca tadi malam. Sementara Hanabi sibuk mengulang pelajaran, ia memang siswa paling rajin di kelas. Suasana yang sangat berisik seketika menjadi hening ketika wali kelas mereka, Ebisu-sensei datang bersama seorang gadis yang asing dimata para siswa.

"Minna-san, mulai hari ini, akan ada siswa baru di kelas kita, silakan perkenalkan dirimu." ujar Ebisu.

Gadis itu pun berdiri tepat di depan papan tulis, banyak siswa membicarakan dirinya, termasuk Udon, namun Konohamaru hanya diam dan bergidik.

"K-kau..." Konohamaru benar-benar tak percaya.

Bersambung...


Sebelumnya aku mau bales review dulu (walauun hanya sedikit hahaha)

deesquare: iya di chapter 1 masih banyak typo, tapi kuusahakan dichapter ini hampir tidak ada typo, makasih ya udah review

Lenovo axioo: makasih ya udah ngereview fic ini hehehe

Haru Dei: aaaaaaaaaaaaaa arigatou udah ngereview fic gaje ini, tenang kok ini udah aku lanjutkan, jangan lupa reviewnya lagi yaaa *memohoon* :3

Author Note

Mau ngomong apa ya?... oh iya, makasih ya minna-san yang rela nungguin fic yang gaje ini, aku suka banget sama fic ini, hehehe, banyak chara yang ada di chapter ini akan memiliki perannya di chapter2 selanjutnya...

Dan aku lagi pengen bikin fic baru lagi, doakan ya semoga berhasil :*