Dihibrid

by

sakhi

.

Shingeki no Kyojin © Hajime Isayama

.

Cover Art © majesticeagle111

.

Warning: semi canon, possibly OOC, missed typo(s)

.

Enjoy!

.

.

"Kita memancing titan wanita itu kemari untuk menangkapnya, 'kan? Aku memaklumi jika hanya beberapa orang terpilih yang mengetahui rencananya … tapi di dalam pasukan ini, ada orang yang mencoba membuat dinding itu hancur, 'kan?"

Setelah aksi nekad mereka menantang titan wanita, formasi awal yang dibentuk dapat dipastikan telah kacau, yang artinya seharusnya komandan menembakkan sinyal mundur. Nyatanya tidak. Seolah prajurit-prajurit masih baru itu mempunyai tujuh nyawa, mereka tetap melanjutkan ekspedisi. Kali ini dengan perintah berdiri di dahan pohon besar, memonitori pergerakan titan apa pun itu dan menghalangi mereka untuk masuk ke dalam hutan.

Jean memang tidak pintar. Barangkali juga ototnya lebah besar ketimbang otaknya. Tapi sama sekali tak butuh kepintaran untuk memahami situasi sekarang. Mereka diperintahkan menjaga garis depan, menghalangi titan untuk masuk ke dalam hutan, pasti karena orang-orang di dalam sana tengah menyiapkan kejutan. Dan Eren ada di dalam sana, titan wanita itu juga.

"Nah, Armin. Apa menurutmu … mereka yang di dalam akan baik-baik saja?" ujar Jean sejenak setelah terdengar tembakan meriam dari dalam hutan.

Kepala kuning berbalut perban itu menoleh, rautnya menunjukkan seseorang yang tengah berpikir, sama seperti Jean.

"Tentu. Senior-senior kita adalah yang terbaik dalam bertahan hidup. Dan suara itu, kupikir itu adalah tanda kalau jebakan di dalam berhasil."

"Ya, tentu saja. Karena yang kutahu, misi Pasukan Rivaille adalah untuk memastikan Eren sama sekali tidak terluka. Meski nyawa … taruhannya."

"… hanya saja jika si bodoh itu keras kepala dan tetap menggunakan kekuatan titannya … Kapten Rivaille akan mengoyak tengkuk titannya. Lalu tangan dan kakinya akan terpotong. Itu memang akan tumbuh lagi seperti ekor cicak, sih. Tapi kurasa akan tetap terasa sakit."

Lebih dari itu, Jean mulai memikirkan siapa gerangan mata-mata musuh di dalam pasukan ini sampai-sampai petinggi Pasukan Pengintai menjadikan Eren umpan. Tidakkah itu membahayakan nyawa Eren?

"Setidaknya sekarang titan jalang itu sudah masuk perangkap."

.

.

Entah bagaimana, Jean baru mengetahui mereka gagal mengandangkan titan wanita itu hidup-hidup sehari setelah mereka kembali ke dalam dinding. Fokusnya mungkin berceceran di perjalanan pulang sehingga telinganya tidak menangkap informasi apa-apa dan isi kepalanya sibuk menebak-nebak skenario yang dirancang penghianat umat manusia sampai-sampai menumbalkan Eren benar-benar memancing mereka.

"Bagaimanapun kita harus mengeluarkan Eren dari sana sebelum mereka membedah Eren," Armin berujar sembari bergerak bolak-balik memikirkan rencana paling masuk akal untuk saat ini.

"Jean?" ia bergumam. "Jean!" ia mulai histeris mencengkram pundak Jean dan menggoyang-goyangkannya. Semua orang disini memang sudah agak kehilangan kewarasan. Jean maklum.

Kemudian Jean melihat bibir Armin bergerak cepat dan bersemangat. Armin mengatakan sesuatu padanya, tetapi terlalu irasional sehingga otaknya menolak untuk mengerti.

Namun sepuluh detik setelah itu, ia mengerti.

"Apa katamu? Hahaha. Yang benar saja! Aku tidak akan pernah mau!"

.

.

Membebaskan Eren untuk menjalankan misi yang kemungkinan dapat mengungkap identitas titan wanita rasanya lebih menguntungkan umat manusia ketimbang membiarkan Eren terkurung untuk selanjutnya dibedah dengan alasan pengetahuan, padahal mereka sendiri tak tahu apa yang ingin mereka capai. Kira-kira itu abstrak yang dipakai Armin untuk membujuk Jean yang tadinya mati-matian menolak dan menyangkal ia punya kemiripan dengan Eren. Padahal dilihat dari arah mata angin mana pun, mereka mempunyai gaya pria jahat yang sangat mirip.

"Kita tidak seharusnya merasa beruntung, tetapi mereka memang terkenal dengan ketidaktelitian mereka."

"Mereka bahkan tidak memeriksaku ketika aku berada disana."

"Walaupun begitu, kuharap mereka tidak segera menyadari Jean yang menyamar menjadi dirimu."

"Hahaha. Lucu sekali. Aku dan Jean sama sekali tidak mirip!"

"Tidak apa-apa, Eren. Bentuk tubuh dan tinggi badan kalian mirip, mata jahat kalian juga mirip."

"Tapi aku tidak berwajah kuda seperti dia!"

"Kau harus berterimakasih pada Jean setelah ini. Kalau bukan karena dia, kami tidak akan bisa membebaskanmu."

"Hahahaha. Tidak akan pernah!"

.

.

Jean cukup bisa bernapas dengan lega sebab pada misi kali ini ia tak jadi salah satu prajurit di barisan depan yang berhadapan langsung dengan titan. Ia cukup lega, sebelum mendengar langsung seorang prajurit dari barisan depan yang berteriak menyampaikan laporan.

"Situasi disana sangat kacau! Dan bahkan tiga dari anggota Pasukan Pengintai dapat berubah menjadi titan!"

Ini memang kedengaran tidak lucu di telinga Jean. Setelah Eren, lalu Annie, dan sekarang ada tiga? Jean benar-benar ingin tertawa rasanya, tapi ia malah berteriak bagai prajurit yang kesetanan.

"Apa kau bilang?! Diantara mereka ada tiga orang titan?! Siapa?!"

Orang-orang sudah banyak yang mulai tidak waras saat ini. Barangkali, pikirnya, ia salah satu diantara mereka. Bahkan Komandan Erwin secara pribadi memintanya untuk tetap tenang.

"Apa yang terjadi setelah identitas mereka terungkap?" ujar Erwin.

"Saat ini Pasukan Pengintai dipimpin Ketua Hanji sedang bertarung dengan Titan Kolosal dan Titan Armor! Kami terlambat tiba disana dan pada akhirnya mereka menculik Eren!"

"Mereka menculik … Eren?" Jean membeo, merasa dungu seketika.

Permainan konyol ini rasanya semakin tidak masuk akal. Maksudnya, untuk apa mereka menculik Eren? Bahkan anak laki-laki itu tidak bisa mengendalikan imajinasinya dengan benar mengenai dunia luar, terlebih ocehan mulutnya. Sepertinya, pikir Jean, ia harus ikut serta misi penyelamatan Eren agar bisa langsung mengajari idiot itu sesuatu yang disebut logika berpikir dan berpikir rasional. Lebih dari itu, mengapa orang-orang disana tidak berusaha menyelamatkan Eren? Bukankah semua teman-temannya, termasuk Mikasa dan Armin, bahkan Ketua Hanji, ada disana?

Sial! Sial! Apa yang kupikirkan disaat seperti ini?!

To be continued