Author's POV
Malam itu begitu sunyi. Waktu sudah menunjukkan tengah malam, namun orang itu terus saja melompat dengan cepat di daerah pesisir dahan-dahan pohon di hutan itu. Langkahnya begitu cepat, hingga dengan mata biasa pun tidak akan bisa terlihat. Jubah pelindung itu berkibar saat dirinya melayang dikala bulan bersinar. Rambutnya yang mencolok itu melambai tertiup angin saat ia turun menginjak tanah.
Matanya terbuka, menampilkan sepasang sharingan yang kelam, dilengkapi dengan perasaan kosong yang hampa.
Uzumaki Naruto mengadah, ia hanya terdiam disana, memandangi tanjakan gunung yang begitu tinggi dan curam. Naruto pun menghela nafas pelan, kemudian dalam sekejab ia sudah ada di puncaknya, dengan posisi yang sama—berdiri sambil melipat kedua tangan di dada.
Naruto menatap kedua batu insan itu dalam diam. Ia berjongkok dan menundukkan kepalanya sebentar—sekedar menghormat pada kedua benda mati tersebut. Pria dengan rambut pirang mencolok itu tersenyum kecil saat melihat sebuah nama yang tak asing di kedua matanya.
Uchiha Madara (19XX)
"Hei," Setelah lama dalam keheningan, Naruto akhirnya mulai bersuara. "Sudah lama kita tidak bertemu, ne, Madara?"
Naruto kembali teringat dengan masa-masa ia bertemu dengan pria itu. Saat Madara dibangkitkan dengan edo-tensei, mengalahkan semua kage, dan melawan dirinya dengan Sasuke.
Ia menghela nafas.
Hidup itu memang sulit ditebak.
Lihat saja, Naruto yang dulu mengelu-elukan bahwa dia akan melindungi semua teman-temannya, berkata bahwa ia akan menjadi Hokage terhebat, dan bersumpah akan melindungi Konoha, kini telah berbelok arah. Pria itu benar-benar bukan pribadi yang dulu lagi. Dia jahat... Naruto jahat.
Dia sudah tidak bisa lagi dibilang pahlawan desa.
Dan sekarang, Naruto kini adalah cerminan dari seorang Uchiha Madara, seorang ninja terhebat dalam dunia shinobi, ninja yang bisa menciptakan mugen tsukiyomi, serta menjadi seorang Uchiha pertama yang membangkitkan rinnegan.
"Kau pasti sudah tertawa jika melihat keadaanku yang seperti ini," Naruto menyeringai, membayangkan kalau Madara kini telah ada di hadapannya. "Aku nuke-nin. Sekarang aku dipandang rendah, seperti dirimu dulu."
Angin berhembus.
"Aku mengerti perasaanmu," Naruto mengubah posisinya menjadi duduk dengan kaki menyilang. "Merasa dikhianati itu memang menyakitkan, 'kan? Aku benar-benar tidak menyangka kalau aku menjadi orang yang sama sepertimu."
"..."
"Kau pasti bertanya..." Naruto berkata dengan suara rendah. "Kenapa hidupku menjadi seperti ini, menjadi nuke-nin yang paling diincar oleh negara Hi, terutama Konoha?" Naruto terkekeh pelan. "Saat mendengar jawabanku, kau pasti tertawa di neraka sana, Madara." Pria itu bertopang dagu."Salahkan saja anak cucumu itu merebut semuanya dariku."
Suara gesekan dedaunan menjadi saksi bisu dari pembicaraan sepihak dari pemuda itu.
"Aku tidak tahu kenapa aku jadi seperti ini," Naruto menghela nafas. "Awalnya aku menerimanya. Sasuke-teme memang pantas mendapatkan jabatan hokage, dia bisa memiliki dua kekkai-genkai sekaligus, rinnegan dan sharingan, jadi aku tidak heran..." Hening. "Tapi entahlah, semakin lama aku tinggal di desa, aku tidak bisa menahan diri—" Suara pelan itu berubah menjadi geraman. "—kalau aku tinggal lebih lama, aku tidak bisa menjamin keselamatannya."
Naruto terdiam lagi.
Jujur, dia mungkin menganggap dirinya telah gila karena berbicara dengan batu nisan yang nyatanya merupakan benda mati. Tapi Naruto tidak bisa memungkiri kalau dirinya butuh seseorang untuk mendengar keluh kesahnya. Berkelana selama dua tahun, sendirian, tidak memiliki siapa-siapa... itu bukan sesuatu yang mudah, 'kan?
Sekarang Naruto sendirian.
Dia sudah tidak punya siapa-siapa.
.
.
ETERNITY
Naruto by Masashi Kishimoto
Eternity by stillewolfie
Rated T
[ Uzumaki Naruto & Hyuuga Hinata ]
Adventure/Drama
OOC, AR, typo(s), etc.
.
.
CHAPTER II. Perasaan
.
.
"... h-hah.. hah.."
Hinata mencoba mengatur nafasnya. Tangannya bertumpu pada kedua lututnya, sekedar untuk memikul berat tubuhnya yang terasa lelah. Rambut indigo miliknya kusut, wajahnya kotor dipenuhi oleh lumpur tanah, serta kedua telapak tangannya terdapat lecet dimana-mana.
Namun hal tersebut sama sekali tidak memadamkan semangat heiress Hyuuga itu.
Hinata mulai berdiri tegap, kedua tangannya membentuk sebuah segel tangan, gadis itu mulai mempersiapkan kuda-kuda. Dan tak lama setelah itu, untuk ke enam kalinya, byakugan kembali diaktifkan.
"Shōtei!"
Setelah meneriaki nama jutsu khas Hyuuga itu, Hinata segera melancarkan serangan secara telak pada batang pohon yang ada di hadapannya. Dorongan yang dialiri oleh chakra pada telapak tangan itu menyerang target sehingga kulit batang pohon tersebut mengelupas. Hinata terus menyerang, membayangkan batang pohon itu adalah seorang lawan. Hingga—
"Oi, Hinata!"
Merasa dipanggil, Hinata segera menghentikan latihannya. Ia menolehkan kepala sehingga menemukan Kiba yang sedang melambaikan tangan kepadanya. Gadis itu tersenyum, segeralah ia rapikan pakaiannya yang sempat berantakan akibat latihan rutin yang biasa ia lakukan setiap pagi.
"Hei," Kiba menyapa. Hinata ingin bertanya mengapa Akamaru tidak bersamanya, namun Kiba sudah berhasil memotong ucapannya. "Nanti malam ada waktu?"
"Eh?" Hinata mengerjap, ia menggelengkan kepalanya. "Tidak.. m-memangnya ada apa?"
Kiba tersenyum lebar. "Mungkin kau akan kaget, tapi—" Kiba meletakkan kedua telapak tangannya di belakang kepala. "—Shikamaru dan Temari-san sudah bertunangan!"
Hinata terdiam. Dan gadis itu melongo tak percaya.
"B-Benarkah?"
"Ya! Awalnya aku tidak percaya sih, aku tidak menyangka orang seperti itu mendahuluiku." Kiba tertawa keras, ia meminta pada Hinata agar melupakan leluconnya tadi. "Jadi bagaimana? Kau mau 'kan?"
"Tentu saja," Hinata tersenyum. "Berarti, keluarga Kazekage-sama akan datang?"
Kiba mengangguk semangat. Dia berbalik pamit dan melambaikan tangan pada Hinata. Meminta gadis itu harus datang ke Yakiniku Q tepat pukul tujuh malam nanti. Hinata pun membalas lambaiannya, tersenyum dan mengucapkan terimakasih.
Setelah melihat keberadaan Kiba yang sudah tidak ada, Hinata kembali menghela nafas. Ia tak bisa memungkiri kalau hatinya sedikit tidak nyaman di saat pembicaraannya tadi bersama Kiba. Mereka semua sudah berumur 18 tahun, tidak banyak shinobi maupun kunoichi yang sudah menikah di usia muda seperti ini. Hinata pun tahu, kalau pasangan Shikamaru dan Temari juga mendapatkan keuntungan tersendiri bagi Konoha. Dengan terjalinnya antara penasehat Konoha dan ketua Anbu Sunagakure itu, bisa memicu perjanjian damai antara Konoha dan Suna semakin erat.
Siang itu begitu terik, begitu panas. Namun tidak dapat memadamkan semangat Hyuuga Hinata yang terus saja melanjutkan latihannya. Gadis itu terus berlatih lebih keras sejak insiden paling mengerikan di dalam hidupnya, dimana sang terkasih telah pergi meninggalkannya.
"Jyuuken!"
Hinata tahu, ini bukan keputusan yang mudah. Ia sudah membulatkan tekadnya untuk membawa Naruto pulang. Dia sudah tidak tahan lagi. Hinata ingin Naruto kembali, kembali ke masa-masa mereka, masa-masa dimana rookie 13 ditambah Sasuke kembali bersama, canda tawa terus tergelak ketika ada pemuda itu. Si kyuubi jinchuuriki yang merupakan pahlawan sekaligus matahari bagi mereka.
.
.
~ eternity ~
.
.
"Sasuke."
Oh, dia tahu suara siapa itu. Yang dipanggil sama sekali tidak berbalik. Ia hanya menatap desa Konoha yang ada di bawah sana. Ia sama sekali tidak peduli pada hawa hitam yang sudah menguar dari tubuh tamu tak di undang yang sudah berdiri dibelakangnya. Ingin sekali ia tidak peduli pada keberadaan orang itu, namun karena gelar yang dipakai membuat Sasuke sukses memutar bola mata.
"Percuma saja, kau tidak akan bisa membawanya kembali."
"Apa maumu, Gaara?" Sasuke melipat kedua tangannya di dada, ia masih tidak mau menampakkan wajahnya ke arah Kazekage kelima itu. "Kalau kau ingin mengganggu, sebaiknya kau pergi."
Gaara terdiam. Ia tidak memperdulikan suruhan sang Uchiha mengenai kepergiannya. Dia jauh-jauh datang ke Konoha, membatalkan semua rapatnya, meninggalkan surat-surat berharga yang ada di mejanya karena ada suatu alasan. Selain menghadiri pesta pertunangan Temari, ia harus berbicara empat mata dengan Uchiha Sasuke.
Ini mengenai Uzumaki Naruto, sahabat mereka.
"Bagaimana usahamu selama dua tahun ini?" Gaara berkata dengan nada yang cukup datar, namun Sasuke tidak memungkiri kalau ada nada tidak senang yang terselip di dalamnya. "Apa kau berhasil?"
"Aku berhasil atau tidak, itu sama sekali bukan urusanmu." Sasuke menjawabnya dengan nada tak kalah sinis. Ia berbalik dan bersandar di pagar besi yang ada dibelakang tubuhnya. "Dan Naruto—dia sudah bukan temanmu lagi, jadi jangan ganggu aku dan sebaiknya kau pergi dari sini."
"Apa maksudmu berbicara begitu?" Iris zambrud itu sedikit menyipit, menantang kedua onyx yang juga memandangnya dengan tak kalah sengit. "Aku sahabatnya, dan kau tidak berhak berbicara seperti itu."
"Tidak ada seorang sahabat yang membunuh temannya sendiri." Sasuke melipat kedua tangannya di dada. Rambut harajuku miliknya bergerak tertiup angin. "Sejak kau menyetujui perjanjian itu, kau bukanlah sahabatnya lagi, Gaara."
Gaara terdiam. Ia tahu apa maksud dari perkataan Sasuke tadi. Perjanjian para kage—benar. Di saat musim panas tahun lalu, pemimpin dari Kirigakure memutuskan untuk memanggil seluruh para kage untuk membahas suatu masalah, dan masalah tersebut tak lain dan tak bukan ialah Uzumaki Naruto, seorang nuke-nin baru saat itu. Dengan lantang Mei Terumi mengatakan kalau pemuda anak hokage keempat itu telah membunuh seseorang dari desanya, yang merupakan seseorang pemegang tujuh pedang legendaris, Hozuki Mangetsu. Dan yang membuat Gaara sekaligus Sasuke terkejut adalah ketika Mei mengatakan kalau pedang mereka telah diambil oleh Naruto.
Pada saat itulah, perburuan untuk menangkap Uzumaki Naruto telah dimulai.
"Aku terpaksa melakukannya," Gaara berkata dengan nada sarkastik. Ya, dia menyesal telah menyetujui hal itu. Namun lain di hati lain di mulut, pria muda itu tetap menganggap Naruto sebagai seorang sahabat. "Lagipula aku bukanlah seorang teman yang merebut impian temannya sendiri, benar begitu?" Anggaplah itu adalah kalimat balasan untuk sindirian Sasuke tadi.
"Aku hanya menggantikannya untuk sementara," Sasuke tahu kalau Gaara berniat membalasnya. Namun perkataan tadi bukan bualan semata, ia akan memutuskan untuk mundur dari jabatan ini dan membuat Naruto menjadi penggantinya, meski itu banyak melakukan pengorbanan. "Setelah semua ini selesai, aku akan berhenti menjadi hokage, Gaara."
"Oh benarkah? Baguslah." Sasuke menggertakkan gigi saat melihat Gaara yang tersenyum jengkel. "Tapi aku tidak yakin kalau Naruto akan langsung mempercayainya, Sasuke—" Senyuman Gaara perlahan menghilang. "—dia sudah berubah, dia bukanlah Naruto yang kau kenal lagi."
"Aku tahu," Sasuke menghela nafas. Ia berjalan memasuki kantornya. Namun saat ingin melewati Gaara, pria itu berbisik tepat disamping telinganya. "Tapi aku akan berusaha untuk membawanya pulang, apapun yang terjadi. Ingat kata-kataku, Gaara."
Dan Sasuke pun menghilang.
Gaara yang ditinggal pun hanya bisa menghela nafas. Kazekage muda itu hanya menunduk seiring dengan poni panjangnya yang tergerak tertiup angin. Namun perlahan, senyuman tipis mulai muncul di bibirnya. Otak miliknya terus merekam apa yang dikatakan oleh Uchiha Sasuke beberapa detik yang lalu.
"Tapi aku akan berusaha untuk membawanya pulang, apapun yang terjadi."
"Hn—" Seringai tipis itu semakin mengembang. "—semoga berhasil, Uchiha."
.
.
~ eternity ~
.
.
"APA!?"
Suara seorang wanita tampak menggelegar di ruangan itu. Chojuro Mifune sontak langsung berdiri ketakutan saat melihat pemimpinnya berteriak seperti orang gila. Pria itu mundur beberapa langkah, lalu langsung membungkukkan badan dengan tubuh bergetar hebat. "M-Maafkan saya, M-Mizukage sama! Tapi itulah yang dikatakan oleh H-Hokage-sama..."
Mei Terumi menghela nafas keras, ia langsung melemparkan tubuhnya di kursi duduk miliknya. Ia memijit-mijit keningnya yang mulai sedikit mengerut, lalu menggigit bibirnya frustasi. "Sebenarnya apa yang diinginkan bocah itu, Chojuro? Aku sama sekali tidak mengerti!"
"M-Mungkin dia hanya ingin kesabaran Anda, Mizukage—"
"Kesabaran? AKU SUDAH MENUNGGU SELAMA DUA TAHUN DAN KAU MASIH MENYURUHKU UNTUK SABAR!?" Chojuro langsung menjerit takut dan bersembunyi di lemari kecil yang ada di pojok ruangan. Iris abu-abu miliknya sudah sedikit mengeluarkan air mata ketika melihat Mei mengamuk seperti ini.
"K-Kalau s-saya salah bicara, maafkan saya, Mizukage-sama...!"
Mei hanya mengangguk dan kembali menghela nafas.
Ini semua berawal dari Chojuro yang membanting pintu ruangannya keras, lalu berkata bahwa Uchiha Sasuke telah mengirimkan sebuah pesan untuknya. Namun bukan suatu hal yang mampu membuat Mei tersenyum sumringah, isi surat itu malah membuat Mei mengamuk tak karuan.
Sasuke mengajukan permohonan untuk memberikan perpanjangan waktu mengenai penangkapan Uzumaki Naruto. Lagi.
"Tidak." Suara lantang sang Mizukage kelima terdengar menggema di ruangan itu, membuat tubuh Chojuro sontak berdiri tegap. "Aku sudah tidak bisa menunggu lagi, hal ini sudah terjadi terlalu lama..."
Chojuro terdiam.
"Kirim pasukan terkuat dari Anbu dan bawa mereka kesini, Chojuro," Wanita yang kini statusnya masih single itu perlahan mulai tersenyum, menciptakan seringai berarti yang sanggup membuat anak buahnya itu mengernyit. "Aku akan mendiskusikan sesuatu."
.
.
~ eternity ~
.
.
Naruto memakan kue dango di sebuah desa terpencil di perbatasan antara Konoha dan Suna. Pemuda itu dalam diam memakan makanan yang sudah di pesan, tidak peduli dengan hiruk-pikuk yang dikeluarkan oleh pelanggan di restoran kecil itu. Rambut kuning miliknya tertutupi oleh topi jubah yang ia pakai, sehingga dengan begitu orang-orang desa tidak terlalu memperhatikannya.
Mereka sama sekali tidak sadar kalau pembunuh nomor satu yang paling dicari seluruh negeri telah ada di antara mereka semua.
Naruto menelan satu dango, lalu memakan satu tusukan lagi.
Dan mereka juga tidak menyadari kalau sudah ada Uzumaki Naruto duduk disana, sendirian dilindungi dengan hawa menakutkan.
Tuk.
"Ini tehnya tuan, silahkan dinikmati."
Seorang gadis berambut coklat sepunggung itu tersenyum manis, lalu membiarkan sang tamu makan di tempat duduknya dan pergi. Namun hal tersebut malah membuat Naruto menghentikan kunyahannya, lalu menatap gadis itu sekilas saja.
Kemudian ia menghela nafas.
Dengan tenang, Naruto menyesap teh hangat itu dan meminumnya perlahan, membiarkan teh tersebut memasuki tenggorokannya dan menghangatkan tubuhnya. Ia tidak peduli dengan cuaca terik yang membuat orang-orang lebih menyukai minuman yang dingin dan menyegarkan, Naruto lebih menyukai bau ocha hangat yang sudah menyegarkan tubuhnya.
Tapi saat ia ingin meminumnya lagi, pembicaraan dua pemuda yang ada disampingnya mampu membuatnya berhenti.
Kedua sepasang shappire yang awalnya kosong itu perlahan membulat sempurna.
Hanya sebuah percakapan simpel sebenarnya, mengenai permasalahan keseharian mereka. Namun saat pemuda berambut coklat itu membuka topik mengenai pernikahan seorang penasehat jenius yang berasal dari Konoha itulah yang membuat Naruto tersentak. Tak perlu berusaha keras untuk memikirkannya, sudah pasti Naruto tahu yang dimaksud adalah Nara Shikamaru, teman kecilnya dulu dan kini menjadi penasehat pribadi sang hokage.
Dan berita yang tidak terlalu mengejutkan adalah—Shikamaru menikahi seorang gadis yang berasal dari Suna, Sabaku Temari.
Oh.
Naruto mendengus.
Dengan sentakan Naruto berdiri dan meninggalkan sebuah uang beberapa ribu ryo di atas meja, lalu meninggalkan desa itu secepat kilat. Pria itu pergi menuju arah selatan; tempat Konoha berada.
Ini akan sangat menyenangkan.
.
.
.
Malam yang disinari oleh cahaya bulan itu kembali muncul bertepatan dengan langkahan Naruto di atas pohon. Ia menatap gerbang Konoha itu dalam diam, tak bersuara sedikit pun. Matanya lurus menatap sepasang jounin Konoha yang bertugas menjaga gerbang yang mengobrol disampingnya.
Naruto terdiam sebentar, kemudian menghela nafas.
Pria itu lebih memilih untuk duduk disana dengan kedua kaki menyilang. Hiramekarei tampak sudah ada di pelukannya, kedua sepasang safir itu perlahan berubah menjadi mata berwarna merah dihiasi dengan tiga tomoe yang berputar.
Dan saat ia menemukan suatu objek yang selama ini dicarinya, Naruto tersenyum puas.
.
.
Sabaku Gaara membiarkan semilir angin yang kebetulan lewat menghantam wajahnya, sehingga rambutnya yang semerah darah dapat bergerak mengikuti arahnya. Ia lipat sebelah kakinya dan meletakkan tangan kanannya sebagai tumpuan, lalu memandang lurus ke depan—menatap Konoha yang jelas-jelas ada dibawahnya.
Kazekage muda itu memutuskan untuk tidak mengikuti acara yang dibuat oleh Sabaku Temari untuk merayakan pertunangannya dengan penasehat Konoha, Nara Shikamaru. Banyak hal-hal yang bisa dibuat jadi alasan. Gaara benci keramaian, Gaara benci keributan, dan Gaara sedang ingin tidak bertemu dengan Uchiha Sasuke.
Ia tahu hokage itu ada disana; diundang oleh seseorang yang Gaara tidak mau tahu siapa dia.
Sepasang hijau susu itu mengalihkan pandangannya, dari Konoha menuju gerbang masuk sebelah utara. Mata pemuda itu sedikit menyipit, lalu membulatkan matanya tanpa alasan yang jelas.
Gaara tahu, chakra ini tak pernah ia lupakan. Chakra yang sangat ia kenal, chakra yang dulu begitu hangat namun kini telah ternodai oleh amarah dan kegelapan. Beberapa ratus meter dari desa, Sabaku Gaara dapat merasakan chakra menusuk yang sengaja dilemparkan oleh Uzumaki Naruto.
Pria yang memiliki rambut semerah darah itu segera berdiri. Dan di detik berikutnya, pasir pria itu sudah mulai berputar-putar di kaki tuannya—kemudian menghilang dalam sekejap.
.
.
~ eternity ~
.
.
"Kau mau kemana, Sasuke-kun?"
Haruno Sakura yang sedari tadi duduk di samping Uchiha Sasuke menoleh kearah hokage muda itu. Ia melirik sang Uchiha yang sudah berdiri, kemudian berjalan menjauh di antara kerumunan mereka. Tanpa mereka sadari, sepasang biru dan merah muda itu sudah hilang di antara kerumunan para shinobi maupun kunoichi di kedai tersebut. Sakura dengan setia mengikuti langkah sang hokage yang berjalan tenang di depannya.
"Sasuke—"
"Sakura."
Langkah Sakura terhenti ketika ia melihat Sasuke berbalik menghadapnya, menatapnya dengan pandangan serius.
"Apa kau merasakannya?"
Sakura terdiam, kebingungan dengan jelas terpatri di wajahnya.
Tanpa berpikir apa maksud pemuda itu, Sakura menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku tidak merasakan apapun, Sasuke-kun."
Sasuke mengangguk mengerti. Kembali ia memfokuskan penglihatan ke arah utara desa, tempat pintu masuk gerbang berada. Sebagai seorang ninja sekaligus hokage yang memiliki intuisi yang tajam, Sasuke memiliki firasat ada sesuatu yang terjadi di luar sana. Entah apa sebabnya, Sasuke belum memastikannya.
"S-Sasuke-kun, kau mau—"
"Panggil Hyuuga Hinata, Nara Shikamaru, dan Inuzuka Kiba, Sakura. Aku membutuhkan mereka, sekarang."
.
.
~ eternity ~
.
.
Uzumaki Naruto dengan santai meniup daun yang ada di tangannya, sehingga dengan perlahan daun kecil itu mulai bergerak dan perlahan mulai turun ke pangkuan keturunan Uzumaki itu. Ia tersenyum sinis. Tangan pria itu kembali bergerak dan mengambil daun tersebut lalu menjepitnya dengan jempol dan jari telunjuk. Dengan satu tekanan rendah, daun tersebut sudah hancur menjadi serpihan, membuat seringai kemenangan kembali muncul di bibir miliknya.
Tep.
Suara langkah kaki dan desisan angin sontak membuat Naruto terlempar ke dunia nyata. Tanpa bergerak sedikitpun, ia melirik Sabaku Gaara yang sudah berdiri dua ratus meter dari tempatnya. Naruto mendengus malas saat melihat pria itu sudah berada di sikap siaga—tangan terlipat di dada dan pasir yang dengan gelisah sudah mengelilingi tubuh tegapnya.
"Sudah lama tidak bertemu, Gaara." Naruto menaikkan kepalanya, menyeringai penuh arti kepada Gaara yang hanya memandanginya dengan tatapan tajam. "Bagaimana kabarmu?"
"Apa yang kau lakukan disini—Uzumaki Naruto?" Bukannya membalas, Gaara malah menjawabnya dengan pertanyaan yang lain. "Tidak seharusnya kau berada disini."
"Apa kau memiliki hak untuk melarangku kesini?" Uzumaki Naruto mendengus kesal, wajahnya kembali serius, namun seringai menyebalkan masih terlihat di wajah tampannya. "Kau bukanlah siapa-siapa, Gaara."
"Ingat posisimu, Uzumaki." Gaara berdesis tak suka, ia merasa diremehkan. "Lihat pada siapa kau berbicara sekarang."
Naruto tertawa pelan. Ia meletakkan hiramekarei disampingnya, membuat Gaara langsung terfokus ke pedang legendaris tersebut. Kazekage itu berdecak, perkataan Mei waktu itu memanglah benar.
"Memangnya kau siapa?" Naruto menjawab dengan nada sarkastik, pemuda itu tak mau kalah. "Kau hanyalah seorang pemimpin yang lemah—" Gaara tersentak. Naruto mendengus. "—mengalahkan satu akatsuki saja tidak bisa, memang apa yang bisa diharapkan oleh orang lemah sepertimu?"
"Itu sudah tidak ada hubungannya dengan masa sekarang, Naruto." Gaara mencoba untuk menenangkan amarah pasir yang ada di guci dibelakangnya. "Itu hanyalah masa lalu. Aku yakin kau pun merasakan hal yang sama, bukan? Jadi jangan seenaknya kau menyindirku seolah-olah kau belum pernah merasakannya."
"Huh? Tentu saja, aku akui kalau perkataanmu memang benar." Keturunan Uzumaki itu segera menarik bungkusan yang melindungi pedangnya dari udara luar. Kemudian dengan kepercayaan diri yang tinggi, pemuda itu mengayunkan hiramekarei tepat ke mata Gaara, mencoba untuk menantangnya. "Tapi masa lalu itu telah membuat kita berdua berubah, dan aku bersyukur akan hal itu." Naruto tertawa, Gaara hanya terdiam.
"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan disini?" Gaara merentangkan tangannya, secara otomatis gumpalan pasir yang sedari tadi bergerak gusar di kakinya segera bergerak dengan cepat dan menerjang Naruto. Pria berambut pirang itu menyeringai seram, dengan kecepatan yang tak kalah cepat, Naruto berhasil lolos dari terjangan pasir maut Gaara.
Syat syat syat!
Lompat, lompat, dan lompat. Naruto tertawa nyaring saat merasakan hawa chakra Gaara mulai memberat, dan seiring itu pun kecepatan pasir yang dikendalikan semakin kencang. Tapi hal itu tidak berhasil membuat Naruto kewalahan, justru pemuda itu malah menikmatinya.
Mata Gaara dengan lihai memperhatikan gerak-gerik Naruto yang lincah. Namun ia tidak kaget saat melihat tiga tomoe yang tidak terlalu asing di matanya telah Naruto keluarkan. Sharingan—benar. Naruto menggunakan kekkai-genkai itu untuk memperhatikan gerakan pasir Gaara.
Pemuda yang menjabat sebagai kazekage itu segera merentangkan kedua tangannya, lalu dengan lihai ia gerakkan tangannya ke sebelah kanan, dan hal itu berhasil membuat pasir yang dikendalikannya ikut bergerak dengan cepat.
Pohon-pohon yang sedari tadi menjadi lindungan Naruto kini tak sanggup untuk menjadi tameng. Naruto mencoba berpikir strategi yang cukup untuk menghambat pasir Gaara dan mengajak pemuda itu untuk bertarung jarak dekat.
Senyumnya mengembang.
Naruto tahu apa yang harus ia lakukan.
.
.
~ eternity ~
.
.
Keadaan desa begitu tenang di malam hari. Hari sudah menunjukkan tengah malam, sudah sewajarnya lampu-lampu desa dimatikan. Pria itu melompat dari atap ke atap menuju arah utara desa, diikuti oleh teman-teman seperjuangannya dibelakang. Kiba beserta Akamaru sudah ada tepat dibelakang Sasuke, pria keturunan Inuzuka itu dengan wajah heran sekali lagi mengecek sesuatu melewati indera penciumannya. Namun nihil. Tidak ada apapun yang dihasilkan dari penciuman Kiba.
"Oi Sasuke! Kenapa kau tiba-tiba manggil kami kesini, sih!?" Dalam kegelapan malam, Kiba berteriak lantang. "Aku tidak menemukan apapun yang mencurigakan di luar desa!"
"Bisa kecilkan suaramu? Kau bisa membuat penduduk terbangun," Sasuke tanpa menoleh berkata pada Kiba yang cemberut. "Kita akan kesana, untuk mengecek keadaan."
"Lalu kenapa tidak mengirimkan pasukan penjaga?" Memang dasar keras kepala, Kiba malah semakin mengeraskan suaranya. "Kenapa harus kami—!?"
"Kiba-kun, sudahlah... ikuti saja perkataan Sasuke-kun." Hinata menginterupsi, gadis itu berlari paling belakang, di depan Shikamaru. "Mungkin Sasuke-kun menyuruh kita karena a-ada maksud tertentu..."
"Hinata benar, Kiba." Shikamaru menguap sebentar, lalu melanjutkan pembicaraannya. "Sebaiknya kau kembali saja kalau kau memang tidak mau ikut pergi kesana."
"Jadi kau ingin mengusirku heh, Shikamaru—!?"
"Hentikan kalian berdua." Perintah mutlak sang hokage sanggup membuat mereka berdua bungkam. Sasuke menghela nafas perlahan lalu menutup mata, dan munculah sepasang mata semerah darah dengan tiga tomoe yang sangat tidak asing. Sharingan telak diaktifkan. "Sebentar lagi kita akan sampai, jadi siapkan mental kalian untuk yang terburuk."
Sasuke dapat merasakannya. Ya, meskipun terasa samar, tapi ia dapat mengetahui kalau ada dua chakra ninja yang begitu ia kenal. Entahlah siapa mereka, yang jelas Sasuke ingin mengetahuinya.
Maka dari itulah, ia kesana untuk memastikannya sendiri.
Sungguh, untuk Kiba yang pemikirannya dibawah rata-rata, pemuda itu sedikit tidak mengerti apa makna dari perkataan ambigu dari Sasuke. Tapi untuk Hinata dan Shikamaru, mereka berdua tahu apa maksud dari sang hokage. Ia menyuruh mereka untuk bersiap siaga.
Dalam larinya, Hinata menghela nafas pelan. Meski di antara mereka berempat Hinata adalah orang yang paling pasif, tapi nalurinya sebagai kunoichi tidak boleh dianggap remeh. Ia setuju tentang pendapat Sasuke, gadis itu juga dapat merasakan sesuatu yang hebat diluar sana. Hinata tahu Sasuke tidak memberikan perintah langsung untuk pasukan Anbu maupun penjaga tentu karena ada alasan khusus, dan Hinata rasa ia bisa menebak apa itu.
Deg.
"Berhenti!"
Teriakan Hinata sanggup membuat para pria tersentak. Setelah instruksi dari Sasuke, mereka segera berhenti di perumahan desa empat ratus meter dari gerbang. Sasuke mendekati Hinata, meminta penjelasan. "Ada apa?"
Kiba begitu terkejut saat melihat pupil serta urat-urat di sekeliling mata Hinata mulai menonjol, menandakan gadis itu sudah mengaktifkan kekkai-genkainya.
"S-Sasuke-kun—" Hinata mendekati Sasuke, gadis itu tampak kebingungan. "Rasanya, d-disana—" Ia menunjuk ke suatu objek di luar desa. "—ada yang m-mengganjal..."
"Apa maksudmu, Hinata?" Kiba mengernyitkan dahinya. Dan sekali lagi ia menciumi aroma yang ada disekitarnya, namun pada saat itulah, kedua pupil coklatnya membulat sempurna. "Bau apa—o-oi, Sasuke! Ada yang tidak beres disini—!"
"Apa—"
"Sekitar beberapa meter dari sini, Sasuke-kun. Meski sedikit agak jauh, tapi kami bisa merasakannya..." Hinata menahan nafasnya, wajahnya terlihat sedikit heran sekaligus ketakutan. "D-Di perbatasan desa, ada sesuatu yang terjadi. Dan aku merasa ada seseorang yang mengakibatkan itu semua..."
Shikamaru dan Sasuke tersentak hebat. Mungkinkah?
"Hinata benar, Sasuke! Aku tahu ini tidak masuk akal, tapi aku yakin aku mencium sesuatu seperti lumpur dan... d-darah!" Kiba berteriak histeris. "Dan juga—!"
"Kiba, tenanglah! Oi Kiba!"
"Bagaimana aku bisa tenang Shikamaru!? Aku tahu ini gila, tapi—"
"S-Sasuke-kun, Kiba-kun benar..." Hinata menggigit bibir bawahnya, menatap Sasuke yang kini menatap tajam dirinya, meminta gadis itu untuk langsung menjelaskan.
"A-Aku merasakan chakra seseorang yang begitu kuat, d-dan juga..." Hinata menelan ludah. "Chakra kazekage-sama yang hampir tidak terasa..."
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Ng... ._. /ditabok duluan/
M-Maafin aku udah ngelantarin fict ini berbulan-bulan, padahal udah lima bulan tapi baru menghasilkan dua chapter, maaf banget ya teman-teman. Serius deh, aku minta maaf. /nangis di dada Sasori/
Terus, khusus buat ff ini, aku mutusin buat bikin alurnya sedikit lambat. Yah well, jadi jangan heran ya kalo tamatnya bisa sampe bertahun-tahun, hehe. /dibom
Ng, apa lagi ya? Oiya! Maafin aku juga karena chap dua ini kurang maksimal, karena sengaja adegan pertarungannya kupindah ke chap tiga, biar nggak terlalu panjang sih. hihi. :"
Sekali lagi, maafin aku untuk semua kesalahan di ff adventure pertamaku ini. Maklum ya teman-teman, buat genre adv. kayak gini aku masih di tahap belajar. :')
Maaf di chap ini ga ada NaruHina-nya, seperti adegan Gaara ama Naruto, scene NaruHina nya sengaja kuhilangkan, kupindah ke chap tiga, sekali lagi... maaf. /digamvar rame-rame/
.
.
SPECIAL THANKS TO
dshadow7x, uchiha leo, MAGENZ, shinobi hunter 003, Guest, Tamma, Yukari, Hayati JeWon, antoni yamada, Guest, Nyuga totong, iibjunior, LyaHoneyDew, Itanatsu, Yami Alay007, Blue-Temple Of The King, mitsuka sakurai, barryjohn7330, atosetiawaw, 2nd silent reader, Dark Namikaze Ryu, Vin'Diesel D' Newgates, juanda blepotan, chrizzle, Hyuuga Divaa Arashii, hqhqhq, Guest, putchy-chan, Guest, rifal-chan, ailla-ansory, alvaro d diara, Naminamifrid, Namikaze Rezpector, Kazehana Koyuki, uchiha drac, Guest, MORPH, issei-shan, Darkshinobi22, Namikaze Naruhina, Guest, Pain Tendou, Nyuga totong, YonaNobunaga, 25june, Guest, uzumakimahendra4, bohdong palacio, ranggagian67, akari yuka, Guest, May, Yogi 35912, muharrom catang, Kyosuke Kitsune, Guest
.
.
Quest's
Naruto dapat sharingan darimana? Udah ketebak di chap ini. Kurama dimana? :) Penulisannya rapi. Makasih. Neji masih hidup ya? Silahkan ditebak. Naruto kok bisa dapat sharingan? Nanti dibahas. Hidup NaruHina! Yeay, hidup NaruHina! xD Suka NaruHina yang kayak gini. Hehe, makasih. Chap ini gak ada kesalahan. Makasih atas koreksinya. Panjangin dikit ya. Kuusahain. Suka deh, ada adventure terus ada dramanya juga. Iya, pengen coba yang gak mainstream sih, hehe. Gambar pertarungannya bagus, tapi harus ditingkatkan lagi ya. Iya, makasih ya dukungannya. Kalo bisa pakai taijutsu, biar gak mentok di sharingan ama pedang. Chap tiga nanti ya. Sip, aku berlangganan fict kamu. Haha, makasih. Naruto punya alasan tersendiri 'kan buat hancurin Konoha? Dibahas di chap ke depannya yaa. Jangan lama-lama updatenya. Maaf, aku gak bisa jamin loh. Naruto punya rinnegan? :) Miris banget. Makasih. Kapan Beside Me dilanjutin? Habis fict ini. Gue galau thor. Jangan galau dong :/ Tsunadenya kemana? Nanti dia muncul, tapi masih agak lama. Pengen tau usaha Sasuke buat nyelamatin Naru. Hehe, iyaa. Bosen kalo Sasuke yang diselamatin mulu ama Naruto. Maka dari itu terciptalah ff ini :) Alasan Naruto kok simpel banget? Namanya juga fanfict mbak. Pairnya Naruto sama siapa? Hinata. Sharingannya dari Obito ya? Dari mbah Madara tepatnya :) Adakah alasan tertentu yang ngebuat Sasuke jadi hokage? :') Idenya menarik loh. Makasih. Gak mungkin banget kalo Sasu jadi hokage. Adoh, namanya juga fanfiction mbak, segalanya yang gak mungkin jadi mungkin loh. Mimpinya Hinata jadi kejadian gak ya? Silahkan ditebak. Cepet buat Naru ketemu Hina. Iyaa. Naruto jadi dark ya? Bisa jadi. Jangan pisahin NaruHina. :') Rasanya kurang masuk akal kalo Naru jadi evil karena jabatan, kenapa gak kasih alasan kalo desa uzu dihancurkan? Itu mah udah mainstream om. Adventure gak selalu ada pertarungannya, jadi harus lanjut ya. Aku seneng ada ngereview begini, karena kamu, aku jadi semangat loh. Makasih banyak!
.
.
Terima kasih sudah membaca!
Mind to Review? :)
