A Buskin [SEQUEL]

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Rated M

Firecracker56

Disclaimer : Story it's my mine. Don't plagiat, copy-paste etc without my permission!

Warning : GS (Gender Switch) content if you not like that just close ur tab! TYPO everywhere.

Summary :

Ini hanya sepenggal kisah tentang ku dan juga... paman Chanyeol'

Happy Reading!

1.

Terhitung sudah satu minggu aku menghindari Paman Chanyeol. Aku merasa sangat canggung jika harus berada dalam satu ruangan bersama dengan Paman setelah kejadian malam itu. Beruntungnya adalah Bibi pulang lebih cepat dari yang direncanakan. Oh aku sangat bersyukur untuk itu.

Beberapa kali Paman Chanyeol datang menghampiri ku, namun aku berusaha menghindar dan membuat kontak mata seminimal mungkin. Dan tentu saja itu semua tidak lepas dari jangkauan mata Bibi.

Pernah selepas makan malam, Bibi datang ke kamar ku dan memulai perbincangan yang sesungguhnya sudah bisa ku tebak arah pembicaraan itu.

"Apa kau bertengkar dengan Paman mu?" Tanya Bibi

Aku hanya menggelengkan kepala ku sambil melukis senyum simpul di kedua sudut bibir ku. "Tidak kok, Bi." Ujar ku

"Lalu kenapa kalian terlihat seperti menghindar begitu? Biasanya kalian akan bermain bersama dengan si kembar."

Oh seandainya Bibi tau apa yang telah aku lakukan bersama Paman. Mana mungkin dia bisa tenang seperti ini. HAH

Aku menghela napas tanpa sadar yang membuat kerutan di dahi Bibi ku semakin terlihat, "Aku hanya merasa lelah akhir-akhir ini Bi. Jadi tidak bisa bermain bersama duo Park seperti biasa." Jawabku dengan lemas.

Biasanya setelah makan malam berakhir aku dan kedua keponakan ku yang bernama Jisoo dan Jieun akan menghabiskan waktu dengan bermain bersama di ruang keluarga. Terkadang Paman Chanyeol juga ikut bermain bersama kami.

Tapi karena 'tragedi' minggu lalu, rutinitas kami menjadi berubah. Mungkin hanya aku, karena Paman Chanyeol akan tetap menemani anak-anaknya bermain, walaupun tatapan matanya tidak bisa lepas dari punggung mungil ku.

Bagaimana aku bisa tau?

Oh tentu saja, aku bisa merasakannya. Sampai-sampai itu membuat sekujur tubuhku terasa seperti dihunus sebuah pedang melalui tatapan tajam mata Paman.

Jika melihat Bibi aku merasa bersalah karena sempat menikmati kegiatan terlarang itu dengan Paman. Namun di sisi lain aku juga tidak bisa menampik rasa senang tiap kali mengingat sentuhan Paman.

Aku menggelengkan kepala ketika ingatan kejadian minggu lalu mulai kembali menyeruak kedalam otak ku. Aku dapati Bibi memandangku dengan kerutan di dahi yang semakin kentara kemudian bertanya, "Kau yakin baik-baik saja Baek? Jika ada masalah kau bisa berbagi dengan Bibi."

Astaga Bibi, apa aku harus bercerita kalau aku sudah melakukan sex dengan Paman?!

Dewi batinku berteriak, rasanya aku ingin menangis saja. Perasaan bersalah itu kian menjadi saat melihat tatapan lembut dari sang Bibi.

"Aku baik-baik saja kok,bi. Bibi kembalilah bermain dengan si kembar. Aku akan beristirahat."

Kemudian Bibi mengusap lembut rambutku sebelum pergi keluar dari kamarku.

~oOo~

2.

Akhir pekan akhirnya tiba, aku dan keluarga Paman berencana pergi bertamasya ke resort milik keluarga Bibi yang katanya dekat dengan pantai itu.

Aku tidak bisa menahan senyuman karena ini merupakan liburan pertama ku selama berada di Korea. Tanganku terayun kedepan dan kebelakang akibat gerakan si kembar yang menggandeng tanganku dengan semangat.

Saat ini kami sudah berada di basement apartemen kediaman Paman. Bibi dan juga Paman sedang merapihkan barang-barang yang akan kami bawa ,sementara aku bertugas untuk menjaga si kembar yang imut. Rencananya kami akan menghabiskan waktu selama 3 hari di villa, dan karena disana tidak terdapat supermarket makan Bibi membawa seluruh isi kulkas kedalam list perjalanan kali ini.

Aku tertawa saat mendengar suara cempreng dari kedua keponakanku itu saat mereka mencoba untuk bernyayi lagu tamasya sambil menggoyangkan kepalanya.

"Jieun senang sekali ya sepertinya?"

"Heum, aku senang sekali bisa berlibur dengan Kak Baekhyun." Ucap Jieun sambil memamerkan deretan gigi susunya yang rapih.

Oh betapa imutnya keponakan ku ini.

"Kakak juga senang kok bisa pergi dengan Jieun." Ujar Baekhyun dengan senyum lembutnya.

"Jadi kak Baekhyun tidak senang denganku?"

Suara lainnya terdengar. Baekhyun menoleh kesisi sebelah kirinya dan menemukan Jisoo yang menundukkan kepalanya dengan lesu.

"Eh tidak kok. Kakak juga senang bisa liburan dengan Jisoo. Jisoo kan anak baik jadi tidak boleh sedih begitu ya."

Jisoo yang masih menundukkan kepalanya itu sedikit mengangguk samar. Baekhyun yang merasa bersalah kemudian mengangkat wajah keponakannya itu dan mencium kedua pipi gembil Jisoo dengan gemas.

"Baekhyun! Bisa tolong ambilkan tas si kembar di kamarnya? Sepertinya itu tertinggal. Bibi tidak kuat jika harus berjalan lagi kedalam apartemen." Ucap Bibi

Akupun menganggukkan kepala patuh dan melepaskan diri dari jeratan tangan si kembar yang masih sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

~oOo~

3.

Aku melangkahkan kaki ku menuju pintu apartemen yang sudah ku tempati untuk beberapa bulan ini. Ketika akan menekan kata sandi yang sudah aku hapal diluar kepala, terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahku.

Mataku membulat ketika mendapati sosok yang selama beberapa hari ini ku hindari berjarak tidak jauh dari ku. Aku menelan ludah gugup ketika Paman sudah berdiri di sampingku.

Dapat kurasakan degub jantung ku yang bertalu-talu tidak dapat dikendalikan. Keringat dingin mulai membasahi telapak tanganku. Dengan gugup aku menekan kata sandi apartemen sebelum akhirnya masuk kedalam di ikuti oleh Paman dibelakang ku.

Aku tidak berani untuk menoleh ke belakang dan mengeluarkan suara ku. Dengan cepat aku masuk kedalam kamar tidur si kembar dan mengedarkan mata untuk mencari tas yang dimaksud oleh Bibi.

Aku yang biasanya menyukai aroma kamar ini pun mendadak merasa mual karena rasa gugup yang mendera. Beberapa kali aku menghembuskan napas, mencoba menenangkan diri ku sendiri. Setalah dirasa cukup akupun memberanikan diri untuk membuka pintu dan mengedarkan pandangan kesegala penjuru ruangan.

Hembusan napas lega terdengar cukup keras keluar dari mulutku tanpa bisa ku kendalikan. Dengan menenteng tas berwarna pink milik si kembar aku pun berniat untuk kembali menyusul Bibi di basement apartemen.

Baru dua langkah kaki ku berjalan, sebuah tangan cukup besar menarik lengan ku dengan keras sebelum akhirnya membenturkan tubuhku ke tembok dan melumat bibirku dengan kasar.

Paman Chanyeol!

Aku memukul tubuh Paman beberapa kali, berharap Paman akan berhenti dan membiarkan ku bernapas dengan benar. Karena Demi Tuhan! Aku tidak bisa bernapas sekarang.

Setelah memberi sedikit gigitan kecil dibibirku akhirnya Paman pun melepaskan ciumannya. Dapat kulihat benang saliva menjuntai ketika Paman menjauhkan wajahnya dariku. Hembusan napas yang tidak beraturan menjadi satu-satunya suara yang terdengar di ruangan ini.

Aku tidak berani menatap wajah Paman, karena dapat kurasakan Paman sedang menatapku dengan intens sekarang.

Agaknya aku jadi menyesali karena memakai baju yang cukup terbuka seperti ini. Dress bermotif bunga-bunga dengan tali spaghetti yang mengikat dileher ku. Belum lagi aku mencepol tinggi rambut panjang ku, membuat leher jenjang milik ku tereskpos secara cuma-cuma.

Keheningan ini terpecahkan dengan suara ringtone ponsel milik Paman yang berbunyi, ternyata Bibi yang menelepon,

"Kenapa lama sekali? Anak-anak sudah rewel disini."

"Ya, aku dan Baekhyun akan turun sebentar lagi."

~oOo~

4.

Sepanjang perjalanan menuju tempat wisata kami, aku lebih banyak terdiam dan hanya sesekali berbicara untuk sekedar menanggapi celoteh cerewet dari kedua keponakan imut ku.

Aku yang duduk di tengah-tengah si kembar dapat menangkap beberapa kali kalau mata Paman Chanyeol melirik kearah ku melalui kaca mobil.

Aku menjilat bibir ku ketika ingatan akan kejadian beberapa saat lalu menghampiri otak ku. Rasa bersalah dan malu semakin menjadi di hatiku.

"Kak Baekhyun, apa nanti kita akan berenang di pantai?" Tanya Jieun dengan semangat

Aku hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum manis sebagai jawaban untuk pertanyaan Jieun.

"Yesss! Ibu.. Ibu tidak lupa membawa pakaian renang ku kan?!" Tanya Jisoo tak kalah antusias

Bibi yang duduk di kursi depan pun tertawa melihat tingkah kedua anaknya yang terlihat sangat bersemangat iitu "Oh tentu saja nak.. Ibu tidak lupa membawa baju renang kalian kok.."

Selanjutnya yang terdengar hanyalah suara nyaring yang memekakkan telinga yang berasal dari dua mahluk imut yang sedang bernyanyi-nyayi dengan tidak jelas.

~oOo~

5.

Setibanya kami di resort milik salah satu kerabat bibi, kami pun dipersilahkan memasuki kamar yang telah dipersiapkan. Aku berjalan mengikuti langkah kaki seorang pegawai hotel yang akan menunjukkan kamar yang akan ku gunakan.

Oh yahh, sepertinya aku patut bersyukur karena mendapati kamar yang berjarak agak jauh dari kamar Bibi, Paman, dan si kembar. Agaknya aku ingin menikmati sisa quality time yang kumiliki secara pribadi. Paling tidak untuk hari ini saja, karena sudah dapat dipastikan kalau besok maupun lusa tubuhku akan dimonopoli oleh keponakan imut ku itu.

Setelah meletakkan tas ransel yang ku bawa ke atas ranjang. Aku pun memutuskan untuk berendam sejenak ketika melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul empat sore.

Waktu cepat sekali berlalu ya.

Setelah memastikan kalau pintu kamar terkunci dengan baik, aku pun melangkahkan kaki menuju kamar mandi yang berada disudut ruangan. Mulut kecilku menganga saat melihat interior yang tersaji terlihat sederhana namun tetep berkelas, meskipun hanya terdapat bath up, kamar bilas, dan juga closet, dan juga beberapa jejer meja sebagai tempat meletakan perlengkapan mandi dan juga bathrobe yang telah disiapkan pihak resort , namun tidak bisa dipungkiri kalau interior yang tersaji sangat mewah. Belum lagi terdapat kaca besar yang menghadap langsung ke arah pantai di samping bath up. Seketika aku bergedik ngeri ketika membayangkan kalau-kalau tubuh telanjang ku akan terlihat dari luar sana.

Namun tentu saja itu tidak mungkin terjadi, karena aku percaya jika pihak resort sudah mempertimbangkan privasi tamunnya dengan matang.

Setelah menaburkan garam relaksasi, sabun, dan juga beberapa taburan bunga untuk mempercantik suasana aku pun menceburkan diri setelah sebelumnya melepaskan seluruh pakaian ku dan meletakannya di keranjang pakaian kotor.

"Aahh... nikmatnya..."

Aku tidak bisa mengendalikan suaraku ketika tubuhku sudah terendam dengan nyaman didalam air hangat relaksasi tersebut.

Mataku terpejam untuk beberapa saat. Meninmati momen-momen yang berharga ini. Karena aku tau, sepulangnya aku dari sini maka aku tidak akan menemukan bath up berisi air relaksasi ini lagi.

.

Aku tersentak kaget ketika mendengar suara ketukan pintu kamar hotel ku. Dan melihat dari jendela jika hari sudah gelap.

"Sial! Bagaimana bisa aku ketiduran!"

Dengan tergesa-gesa aku membilas tubuhku di bilik kamar mandi untuk membersihkan sisa-sisa sabun yang masih menempel ditubuhku. Tanpa sempat berpakaian, dan hanya bermodalkan sebuah bathrobe aku pun membuka pintu dengan sekali sentak dan menemukan Paman berdiri disana.

~oOo~

6.

Entah siapa yang memulai lidah kami sudah saling bertaut. Aku dapat mendengar suara erangan Paman saat tanpa sengaja pahaku menggesek bagian jeans nya yang agak keras itu.

Aku terengah-engah saat Paman akhirnya melepaskan ciumannya. Kupikir sudah berakhir. Namun ternyata tidak, karena saat itu aku merasakan sebuah telapak tangan meremas bokong seksi ku. Dan mendorong tubuhku untuk semakin merapat ke tubuh Paman.

Oh yang benar saja. Sekarang rasanya seperti aku mengundang singa kedalam kamar tidurku.

Tangan paman terus meremas bokong ku dari dalam bathrobe yang tidak terbalut oleh sehelai benang ku. Sesekali jemarinya mengusap daerah kewanitaan ku yang sudah terasa lembab.

Paman terus mengulangi perbuatannya itu hingga kaki ku terasa lemas dibuatnya. Tangan Paman membelai lembut pahaku yang terbuka sedangkan mulutnya sibuk menciumi leher ku. Aku hanya bisa menutup mata menikmati setiap sentuhan yang Paman berikan.

Paman menggiring tubuh ku untuk duduk diatas meja yang terdapat di tengah-tengah ruangan. Setelah itu mengangkat kedua kaki ku terbuka lebar yang mempertontonkan vagina ku yang berkedut-kedut.

Helaan napas penuh napsu terdengar sangat jelas ditelinga ku. Baik suara Paman maupun dari diriku sendiri. Terdapat sisi dari jiwaku yang menyuruh ku sadar dan menghentikan aksi penuh kegilaan ini, namun di satu sisi aku juga tidak mau melepaskan begitu saja momen penuh keintiman ini, apalagi aku juga sudah dalam mode turn on seperti ini. Rasanya semakin enggan saja.

Maka dengan sisa kewarasan yang aku punya, aku bertanya dengan suara bergetar menahan napsu, "Dimana Bibi?"

"Tidur."

Hanya itu karena setelahnya Paman melahap habis vagina ku. Lidah lihainya menari-nari disekitar klitorisku sambil sesekali menghisapnya dengan kuat. Sedangkan aku hanya bisa mendesah dan mencengkram erat helai rambut Paman yang terasa lembut ditanganku itu.

Hisapan Paman semakin kuat dan lidahnya mulai menusuk-nusuk lubang vaginaku. Rasa gatal yang menyengat vagina ku pun semakin menjadi-jadi. Suara desahan ku terdengar menggema didalam ruangan ini, aku berdoa agar suaraku ini tidak terdengar sampai luat ataupun kamar lain. Apalagi kamar Bibi!

Tubuhku bergetar hebat saat orgasme pertama ku hari ini. Napasku tersenggal-senggal dengan peluh yang menetes disekujur tubuhku. Terlihat olehku kalau bathrobe yang ku gunakan pun sudah terbuka talinya dan mempertontonkan sebelah payudara ku dengan puting yang sudah menegak keras.

Paman berdiri dari posisi jongkoknya dan mendekatkan wajahnya ke arah payudaraku lalu menghisap putingnya dengan kuat. Lagi-lagi yang dapat kulakukan hanyalah mendesah dengan kuat karena tidak terbiasa dengan rangsangan yang diberikan.

Sebuah benda tumpul dan keras terasa menusuk-nusuk paha dalamku. Dan aku menyadarai kalau itu adalah penis milik Paman.

Aku membuka pahaku semakin lebar seakan memberi akses untuk Paman memasuki diriku. Menangkap sinyal dariku, Paman pun mengarahkan penisnya kelubang vagina ku yang sudah berkedut minta diisi dengan sekali hentakan keras.

"Aaah... Paman.. eummmm..."

Mulutku terus menyuarakan desahan demi desahan yang mungkin saja bila didengar orang lain akan menganggap suara itu seperti suara seorang jalang kelas kakap.

Namun aku tidak peduli karena yang kupedulikan untuk saat ini hanya hentakan penis Paman yang terasa sangat nikmat, apalagi ketika Paman dengan sengaja memutar pinggulnya untuk menggodaku.

Yang ku ingat tentang malam ini hanyalah sebuah kenikmatan yang luar biasa.

~oOo~

7.

Ketika matahari sudah terbit aku baru membuka kedua mataku. Pinggul ku terasa ppegal belum lagi lubang vaginaku yang terasa perih dan agak mengganjal. Aku tidak yakin bisa berjalan dengan normal ketika kenyataan nya rasa nikmat semalam masih mendera bagian kewanitaanku.

Aku merenggangkan tubuh dan tersadar kalau tubuhku hanya terbalut dengan selimut tanpa sehelai benang pun yang membalut tubuhku. Kamar terasa kosong setelah Paman pergi sesaat setelah menyelesaikan persetubuhan panas kami yang entah terjadi berapa ronde semalam. Yang ku ingat hanya kami melakukannya di seluruh sudut kamar ini, meja, kasur, kamar mandi, bahkan didalam bath up pun kami melakukannya.

Aroma seks yang kental juga memenuhi kamar tempat ku menginap. Sepertinya aku harus melarang Bibi masuk kalau-kalau ia ingin datang berkunjung ke kamarku.

Suara dering ponsel menyadarkan ku dari lamunan kotor dipagi hari, terdapat pesan masuk yang dikirimkan oleh Paman.

From : Paman Chanyeol [10.52 KST]

'Bersiaplah, anak-anak meminta mu untuk menemani mereka bermain di pantai.'

From : Paman Chanyeol [10.53 KST]

'Sent a Picture'

'Sent a Picture'

'Sent a Video

Aku nyaris membanting ponsel digenggaman ku saat melihat foto-foto yang di kirimkan oleh Paman.

Foto pertama menampilkan diriku yang tertidur dengan tubuh nyaris bugil, karena hanya selimut yang menutupi bagian pinggul kebawah, sedangakan payudara ku terpampang jelas dikamera.

Foto kedua, menampilkan Paman yang sedang menyusu pada payudara ku.

Dan yang terakhir Paman mengirim sebuah video singkat. Oke kali ini aku nyaris dibuat serangan jantung oleh Paman! Gila!

Bagaimana bisa Paman mengirimkan video yang memperlihatkan penisnya yang menusuk-nusuk lubang vagina ku secara dekat. Benar-benar orang ini!

To : Paman Chanyeol [11.07 KST]

'PAMAN GILA YA! BAGAIMANA BISA MENGIRIMIKU HAL SEMACAM INI !?'

From : Paman Chanyeol [11.10 KST]

'Kita lanjutkan nanti.'

Ya Tuhan! Kenapa sekarang rasanya aku seperti menjadi seorang selingkuhan si.

.

.

.

.

.

.

.

Thanks, and sign

Frckr56