Chapter 2

DARK LOVE

Cast: Lee Donghae (Aiden), Lee Hyukjae

Genre: Crime, Romance & Psycho

Rate: T+

WARNING!

BOYS LOVE, typo (s), kekerasan, sadisme

DON'T LIKE? DON'T READ!

DON'T COPY PASTE WITHOUT MY PERMISSION ^^

DON'T BE SILENT READER

.

.

.

Happy Reading ^^

.

"Maaf, Hae hyung ini bukan jalan yang kutunjukkan padamu."

"..."

Tak ada jawaban

Hyukjae ingin menangis saja, betapa bodohnya ia menerima begitu saja tawaran pria asing. Apa ia sekarang sedang diculik?

'Kyu hyung tolong aku'

~Chapter 2~

Hyukjae tidak bisa tenang selama duduk di mobil bersama orang asing yang ia ketahui bernama Donghae itu. Semakin lama jalan yang dituju semakin sepi dan gelap, Hyukjae tak pernah tahu daerah ini. Sepanjang ruas jalan hanya ada pepohonan, seperti di hutan. Setelah menempuh jarak yang lumayan jauh dari restaurant tadi, Donghae menghentikan mobilnya di depan rumah kuno yang lumayan besar. Rumah ini berada di antara hutan, tak ada rumah lain disini. Pikiran negatif sudah bermunculan di otak Hyukjae. Apa yang akan dilakukan Donghae nanti bersamanya di tempat mengerikan ini.

Tanpa bicara, Donghae menarik tangan Hyukjae untuk turun dari mobil setelah membukakan pintu untuknya. Mereka berjalan memasuki rumah bernuansa suram itu. Hyukjae sebenarnya sangat takut dan ingin kabur, tapi ia juga tak berani berbuat apa-apa. Ini di tengah hutan, bagaimana bisa ia pulang jika tak seorang pun lewat di daerah ini.

"Masuklah..." Dengan ragu Hyukjae menuruti perkataan Donghae.

Rumah ini cukup luas tapi tak banyak perabotan di dalamnya. Hyukjae mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah, banyak kamar-kamar yang berjejer. Kalau dilihat-lihat, rumah ini lebih mirip rumah kost atau penginapan. Seorang wanita tinggi berambut pirang tiba-tiba keluar dari salah satu ruangan, paras cantik keturunan asing. Hyukjae berasumsi dia adalah saudara Donghae, karena mereka memang mirip.

"Kau membawa 'sesuatu', oppa?" Wanita itu berjalan ke arah Hyukjae, dipandanginya tubuh Hyukjae dari atas sampai bawah.

"Jangan memandanginya seperti itu! Dia bukan apa-apa, dia temanku. Dokter penyelamatku."

Senyuman tulus yang kini terukir di bibir tipis Donghae mampu menghancurkan ketakutan di hati Hyukjae. Entah mengapa senyuman manis Donghae bagai mantra yang bisa membuat Hyukjae larut dalam ketenangan. Hyukjae memang takut dengan wanita di depannya ini, wajahnya terlihat sadis dan menguarkan aura yang dingin. Tapi ketakutan Hyukjae seakan lenyap saat Donghae berbicara seakan melindunginya walau ia tak tahu apa yang dimaksud mereka.

"Maaf harus membawamu ke rumahku. Bajuku kotor terkena noda darah 'hewan tangkapanku' tadi. Setelah mengganti kemeja akan kuantar kau pulang. Oh iya, dia adikku namanya Irene."

Wanita bernama Irene itu menyunggingkan senyum misterius kepada Hyukjae yang dibalas senyum tipis oleh namja manis itu. Bingung harus bereaksi seperti apa lagi, Hyukjae berjalan menuju sofa berwarna merah maroon dan duduk disana. Suasana mendadak canggung. Hanya ada Hyukjae dan Irene di ruang tamu. Tanpa Hyukjae sadari Irene berjalan dibelakang sofa yang diduduki Hyukjae kemudian berbisik.

"Kau manis..." Tangan wanita itu meraba sensual kulit tangan Hyukjae membuat seluruh tubuh Hyukjae kaku.

"Kulitmu halus, itu akan lebih mudah."

Wanita itu beranjak pergi setelah mengatakan hal aneh barusan. Hyukjae sama sekali tidak mengerti apa maksud perkataan adik kandung Donghae itu, namun meski Hyukjae namja yang polos ia masih paham wanita itu mencoba mengatakan 'sesuatu' padanya.

Donghae keluar dengan kemeja yang berbeda dengan yang dikenakannya tadi, lalu menyambar kunci mobil. Tangannya menggandeng Hyukjae, membuat Hyukjae sontak menatap Donghae. Ini memang bukan pertama kalinya Hyukjae berkontak fisik secara langsung dengan namja tampan itu, tapi Hyukjae cukup dibuat berdebar dengan sentuhan halus di lengannya.

Tanpa sepatah kata pun Donghae menarik Hyukjae keluar dari rumah itu dan segera memasuki mobilnya. Hyukjae membuang jauh-jauh perasaan curiganya terhadap Donghae, karena ia yakin Donghae tak bermaksud jahat padanya.

Benar, tadi Donghae hanya bermaksud mengganti kemejanya yang kotor dan sekarang terbukti mereka sedang berada di jalan menuju rumah Hyukjae.

Begitu sampai di depan rumah Hyukjae, Donghae langsung membukakan pintu untuk Hyukjae. Menggandeng tangan namja manis penyuka strawberry itu, meperlakukannya bak seorang putri. Hyukjae benar-benar berfikir Donghae adalah seorang pangeran yang dikirim malaikat untuknya. Pemikiran bodoh yang hanya dimiliki remaja, bahkan Hyukjae sudah akan lulus sarjana kedokteran.

"Terima kasih..." Semburat merah menghiasi kedua pipinya.

"Kau pasti lelah menempuh perjalanan jauh, maafkan aku tak langsung mengantarmu pulang." Hyukjae mengangguk manis sambil tersenyum.

"Masuklah, pipimu merah pasti karena kedinginan. Kau bisa sakit nanti jika berlama-lama berada di luar." Donghae mengelus pipi halus Hyukjae. Tindakan yang sama sekali tak membantu, pipi itu malah semakin merah.

"I..iya, selamat malam..." Donghae mengangguk lalu masuk ke dalam mobilnya untuk pulang.

Belum sampai masuk rumah, Hyukjae sudah dikagetkan oleh hyungnya yang berlari dari arah jalan raya kearahnya sambil meneriakan namanya. Dari ekspresinya, Kyuhyun tampak stres mungkin dia baru sadar dari kebodohannya. Hyukjae sedang sebal pada hyungnya itu. Gara-gara hyung pabbonya itu Hyukjae hampir mati ketakutan saat menuju rumah Donghae tadi.

"Kau baik baik-saja, sayang? Kau dari mana saja? Aku mencarimu keliling dunia, aku kira kau akan pulang bersama Sungmin. Dan sialnya Sungmin malah menanyakan apa kau sudah pulang atau belum..."

Kyuhyun memeluk erat adiknya itu, yang malah membuat Hyukjae ingin mencakar-cakar wajah tampannya. Bisa-bisanya tanya seperti itu, dia sendiri yang tak mau menjemputnya tadi.

"Lepaskan hyung pabbo! Aku benci padamu. Benci benci benci! Kau bohong, mana mungkin keliling dunia mencariku. Kau tadi bilang sedang sibuk sampai tak mau menjemputku, kau jahat! Kalau tadi aku mati kau pasti akan senang."

Hyukjae berteriak-teriak sambil tangannya beraksi entah itu mencubiti, mencakari dan memukul-mukul tubuh Kyuhyun. Memang itulah kebiasaannya jika marah pada Kyuhyun.

"Mianhae sayang mianhae... Barbie, kau manis jika sedang marah hahaha... Dan apa kau bilang tadi, aku senang jika kau mati? Omong kosong, aku juga mati jika kau mati, sayang"

"Mati saja sana!"

Kyuhyun mencolek dagu adik manisnya, ia benar-benar menyayangi Hyukjae. Jika diperhatikan, kasih sayangnya sedikit mencurigakan sebagai kakak. Kyuhyun malah menunjukkan kasih sayangnya seperti seorang kekasih. Kyuhyun pernah berfikir andai saja Hyukjae bukan adiknya ia akan rela menjadi gay untuk memiliki Hyukjae. Tampaknya Kyuhyun memiliki cinta yang lebih untuk adik manisnya.

"Kau pulang dengan siapa tadi Hyukkie? Kenapa sampai selarut ini?"

"Dengan pangeran" Hyukjae menjawab cepat, setelahnya ia menutup mulutnya imut. Malu sekali mengatakan hal bodoh seperti itu. Karena malu ia langsung berlari ke kamarnya.

'Kau sedang jatuh cinta ya... Namja brengsek mana yang sudah mencuri hatimu, adik manisku...'

.

.

.

"Siapa dia? Dan untuk apa kau membawanya kesini?"

Irene, adik Aiden menatap penuh selidik pada kakaknya itu. Iris dengan warna dominan biru itu memicing tajam. Berkat kebodohan Aiden, ia harus mau dibuat repot mengangkat puluhan kilo daging dari bagasi mobil ke tempat penyimpanan.

"Aku berniat mengantarnya pulang tapi aku lupa masih ada bahan di mobil. Kau yakin tak ketahuan olehnya kan saat mengeluarkannya dari mobil? Aku takut di Seoul ada pemeriksaan, maka dari itu aku membawanya pulang."

"Sejak kapan kau berbuat baik? Ingat, suatu saat identitasmu bisa terbongkar jika tak hati-hati. Kau masih ingat peraturannya, kan? Kita ditakdirkan untuk tidak mencintai ataupun dicintai, jika kau ingin dia selamat maka jauhi dia atau kita yang tak akan selamat!"

"Aku tahu! Aku tak mencintainya."

'Aku tak mencintainya. Entah mengapa perasaanku melemah saat melihat ketakutan diwajahnya. Seakan aku ingin melindunginya dan meyakinkannya bahwa ia akan aman berada bersamaku. Entah mengapa niatku yang akan menjadikannya 'bahan' malah hilang begitu saja saat dia menatapku penuh harap. Ini bukan cinta... kuharap ini bukan cinta...'

Aiden dibuat bingung oleh perasaannya, selama bertahun-tahun ia hidup tak pernah ada manusia yang dapat membuatnya berbelas kasih dengan tulus. Bahkan anggotanya sendiri pun bisa mati kapan saja jika mereka tak menemukan bahan. Tapi mengapa rasa berbeda muncul saat namja manis yang baru beberapa waktu lalu bertemu dengannya. Siapa sebenarnya Lee Hyukjae...

.

.

.

Pagi hari, sebuah laboratorium Fakultas Kedokteran sedang gempar membicarakan kasus langka pada seorang pasien penderita The Sickness Laughing atau tim medis menyebutnya 'Kuru'. Penyakit langka ini belakangan sedang marak di sekitar daerah Hanam. Masih belum diketahui penyebab penyakit ini. Menurut riset, angka kematian efek penyakit ini adalah 75%. Hal ini membuat beberapa Instansi yang bergerak di bidang kesehatan membahas kasus ini termasuk Fakultas tempat Hyukjae saat ini. Hyukjae dan beberapa mahasiswa lain yang sebentar lagi lulus menyandang gelar Dokter berkumpul di laboratorium untuk melakukan observasi terhadap sample korban penyakit Kuru.

"Kau tahu Jae, orang yang menderita penyakit ini bisa tertawa terbahak-bahak sampai mati dan juga marah-marah seperti orang gila." Seorang mahasiswa bernama Junsu yang merupakan teman dekat Hyukjae berbisik sambil mengambil tabung kecil berisi beberapa cairan. Kira-kira ada lebih dari sepuluh tabung yang berisi larutan bercampur sel tubuh mayat yang meninggal karena penyakit Kuru.

"Jadi, karena kebanyakan tertawa mereka mati?" Tanya Hyukjae bodoh dengan wajah polos.

"Iya, makanya kau jangan banyak tertawa Jae..." Junsu makin senang menakuti Hyukjae yang kelewat polos. Sebenarnya Junsu tidak berbohong soal yang dikatakannya tadi. Penderita penyakit langka itu memang memiliki gejala yang mirip dengan orang gila, yaitu tertawa kencang kemudian marah-marah, terkadang mengalami pusing serta nyeri sendi dan kehilangan nafsu makan. Perubahan suasana hati yang parah ini seperti rasa marah yang seketika berubah menjadi serangan tawa yang menakutkan. Tawa seram dan mengganggu ini mendorong orang orang menyebutnya The Sickness Laughing.

Tiga jam sudah mereka melakukan riset dan hasilnya keluar, Hyukjae yang membawa hasil print out-nya disuruh membacakannya.

"Hasil riset mengatakan, penyebab gejala Kuru adalah masuknya protein yang terinfeksi oleh prion. Zat ini menyerang otak sehingga beresiko pada kerusakan saraf otak dan lebih parahnya menimbulkan bakteri aktive yang menyebabkan pembusukan."

Mereka yang ada disana langsung saling berbisik dan melontarkan pendapat masing-masing tentang hal ini. Ada yang menduga ini bukan penyakit tapi kutukan, karena di Korea semua orang makan dengan makanan terjamin kebersihannya terutama pada makanan mengandung protein seperti ikan, daging, telur dan lain sebagainya. Mana mungkin protein yang masuk ke dalam tubuh membawa dampak infeksi.

"Ya! Kau percaya mereka jadi gila karena makan makanan mengandung protein?"

"Apa kau gila? Jika hal itu benar, penjual ikan dan daging tidak akan laku."

"Apa ini kutukan?"

"Mungkin orang-orang itu makan daging busuk."

"Yang benar saja, masih ada orang yang mau makan daging busuk?"

Begitulah tanggapan-tanggapan yang terdengar setelah Hyukjae selesai membacakan hasil observasinya.

.

.

Kembali Hyukjae terjebak gerimis saat akan pulang, kali ini ia menurut pada Kyuhyun untuk menelpon jika hujan. Hyukjae tak sedang sendirian, ada Junsu disana. Mereka sedang berdiri di halte bus. Jika berteduh dihari hujan di halte bus begini ia jadi ingat pertemuan pertamanya dengan pangeran tampannya. Melihat hujan, Hyukjae jadi merindukannya. Tawa kecil terdengar dari bibir sensual namja polos itu saat mengingat Donghae mengatakan ia pasien pertama bagi Hyukjae.

"Hey, Jae..." Junsu memandang aneh sahabatnya yang tertawa sendiri itu.

"JAE..."

"Su-ie! Kau bisa tidak teriak, kan!" Hyukjae mengelus telinganya yang berdengung akibat teriakan Junsu yang dengan kurang ajarnya berteriak tepat di telingnya.

"Kau melamun lalu tertawa sendiri, aku takut kau terkena The Sickness Laughing..."

PUK

"Enak saja, aku tidak gila tahu!" Hyukjae memukul kepala Junsu kesal.

"Lalu?"

"Aku teringat sesuatu... Su-ie, daging mengandung protein, kan? Dan asal mula penyakit Kuru dari daerah Hanam, kan?"

"Humm..." Junsu mengangguk saja mengiyakan.

"Bagaimana jika kita meneliti restoran daging di tempat aku biasa makan?" Tanya Hyukjae sambil senyum, senyum manis penuh arti. Hyukjae hanya sedang rindu namja itu, ia sebenarnya ingin menemui pangerannya bukan mau mengadakan riset. Hyukjae merindukan aroma maskulin yang menguar dari tubuh atletis itu. Suara rendah sexy yang menggairahkan serta wajah tampan bak pangeran dari negeri sebrang. Mungkin hormon Hyukjae mulai tumbuh. Ia seperti remaja kasmaran, baru kali ini ia mengagumi seseorang.

"Lihat itu, senyummu ini mencurigakan tahu! Kau pasti sedang merencanakan sesuatu, kan? Kau yang tak tertarik mengenai penyakit itu tiba-tiba ingin menyelidikinya. Katakan kau mau kemana?" Junsu memang sudah mengenal Hyukjae sejak kecil, jadi ia tahu kebiasaan Hyukjae dan senyum aneh itu.

"Kita ke Hanam, disana ada restaurant daging yang enaaak sekali. Kau tak akan menyesal jika kuajak kesana. Pemiliknya sangaaat tam- ups hehe" Hyukjae tersenyum malu, sakarang Junsu pasti tahu apa maunya.

"Oh... Pemiliknya tampan? Jadi kau mau melakukan riset daging? Daging manusia maksudmu, hum? Manusia tampan hahaha... Oke aku akan menemanimu, aku juga mau lihat objek risetmu itu" Junsu menggoda Hyukjae.

.

.

Hyukjae dan Junsu saat ini sedang menuju Hanam, sedikit sulit meyakinkan Kyuhyun yang melarang mereka pergi karena jarak Hanam dengan Seoul lumayan jauh. Berbeda dengan saat Kyuhyun menyuruh Sungmin menemani Hyukjae, karena Sungmin pandai matrial art nah Junsu? Bahkan membunuh kecoa saja dia takut.

"Kau bilang apa pada hyungku?"

"Kubilang kau dapat tugas akhir sebelum lulus, dan harus menyelesaikan sekarang kalau tidak kau tak jadi lulus."

"Hahaha, kau memang sahabatku, Su-ie..."

"Ngomong-ngomong, siapa nama pemilik restaurant yang kau maksud?" Junsu masih fokus mengemudi karena jalanan cukup licin pasca hujan.

"Lee Donghae, tapi aku pernah dengar seseorang memanggilnya .. Emm siapa ya Ai.. Ah aku lupa siapa." Hyukjae juga merasa aneh, saat itu ada seseorang memanggil nama yang berbeda tapi Donghae tetap merespon, apa mungkin nama panggilan.

"Apa dia tampan? Memangnya berapa usianya?"

Hyukjae melirik Junsu sambil memicingkan matanya tajam. Jangan sampai sahabatnya ini menyukai pangerannya.

"Kau tak boleh menyukai pangeranku! Pokoknya dia milikku Su-ie. Sudah jangan tanya tanya lagi!" Junsu menahan tawanya, Hyukjae memang pencemburu dan kekanakan.

"Hahaha lihat saja nanti, akan kugoda pangeranmu."

"YA!"

.

.

Mereka sampai di restaurant yang selalu menguarkan aroma menenangkan dengan lilin-lilin indah berjejer rapi. Hyukjae langsung saja memesan menu favorite-nya dua porsi sembari menanyakan keberadaan Donghae pada pelayan.

"Tolong panggilkan Donghae hyung, bilang padanya Lee Hyukjae ingin menemuinya. Dan ini untukmu..." Hyukjae memberi beberapa lembar uang untuk pelayan itu agar menyampaikan pesannya.

"Dasar orang kaya!" Cibir Junsu, sedang Hyukjae cuek saja.

Di lantai atas restaurant itu, pelayan menyampaikan pesan Hyukjae pada atasannya. Donghae bingung, apa ia akan turun menemui Hyukjae atau tidak. Donghae sadar pesona alami Hyukjae berbahaya bagi kesehatan jantungnya. Tapi bukan itu yang membuat Donghae tak mampu lagi menemui Hyukjae. Ia menyadari ia mulai memiliki perasaan lebih pada Hyukjae. Ia sudah terikat suatu janji, jika ia nekat mendekati Hyukjae itu akan membahayakan namja manis itu nantinya.

"Katakan padanya aku sibuk."

"Baik Tuan"

.

Hyukjae cukup kecewa saat pelayan tadi bilang Donghae tak bisa menemuinya karena sibuk. Jika tahu begini, untuk apa ia jauh jauh ke Hanam. Junsu yang ingin menghibur Hyukjae memiliki ide untuk mengusir kebosanan. Kan sayang sudah jauh-jauh ke Hanam hanya untuk makan.

"Jae, tak usah sedih begitu. Kau bilang kesini untuk riset, kan? Bagaimana jika kita melakukan riset sungguhan?"

"Aku tidak mau." Hyukjae cemberut saja dari tadi, makanannya pun tak ia habiskan. Hyukjae mengira Donghae juga menyukainya, tapi jika begini sudah kelihatan kalau namja tampan itu tak tertarik sama sekali padanya. Mungkin Donghae sudah lupa padanya, menemui dirinya saja tak mau.

"Yakin tidak mau? Biasanya jika kita akan melakukan riset suatu tempat kita akan meminta ijin pemiliknya dulu, kan? Ini, tunjukkan lisensimu lalu kita temui dia." Junsu langsung menggeret lengan Hyukjae menuju dapur restaurant untuk menanyakan keberadaan pemilik restaurant.

BRAAK

"Maaf anda tidak boleh ma-" Terlambat. Junsu dan Hyukjae sudah masuk dan Hyukjae terkejut saat kakinya menginjak rambut hitam panjang yang basah penuh darah. Hyukjae mundur perlahan, kakinya bergetar. Sedangkan Junsu berusaha bertanya pada beberapa orang disana. Seorang chef bernama Yunho mendekat kearah Junsu dengan pisau daging di tangannya.

"Kau tanya itu apa?" Yunho semakin mendekat, Hyukjae seakan terpaku di tempatnya berdiri. Semua chef mendekat mengelilingi Junsu, seakan mau mengulitinya.

Krieeet

"Oh, Hyukjae ada disini? Aku baru saja menyelesaikan rapat, maaf baru menemuimu."

Donghae datang dan semua chef mundur. Sebelumnya, mereka menatap Donghae penuh tanya. Donghae mengisyaratkan mereka untuk kembali ke tempat masing-masing.

"Melihat ekspresi tegang kalian, pasti sudah terjadi sesuatu... Apa para chef disini menakuti kalian dengan pisau? Hahaha mereka memang suka bercanda seperti itu."

Donghae dengan santainya memainkan pisau di tangannya, sedangkan tangannya yang lain merangkul pundak Hyukjae yang masih bergetar.

"Kau kenapa Hyukjae? Badanmu bergetar." Donghae memutar tubuh Hyukjae untuk menghadap dirinya. Tangannya mengelus lembut punggung Hyukjae untuk memberi ketenangan. Senyum angelic-nya ia pamerkan begitu menawan meyakinkan Hyukjae kalau semuanya akan baik-baik saja. Rasanya nyaman selalu muncul ketika Donghae berlaku demikian.

"I..itu rambut..." Hyukjae menunjuk rambut di bawahnya.

"Oh itu, kau tahu Irene adikku kan? Semalam ia meninggalkan hairclip-nya disini, mungkin jatuh lalu terkena darah dari daging segar." Donghae berbicara dengan sangat santai, Hyukjae juga tidak menemukan kebohongan dari matanya yang teduh itu. Hyukjae mengangguk pelan lalu mereka keluar dari dapur untuk berbicara di depan saja.

"Sudah makan?"

Mereka sedang duduk di kursi VIP restaurant tersebut. Sebenarnya Junsu masih bertanya-tanya apa benar itu hairclip. Ia ingin memastikannya tapi ia juga takut.

"Sudah, Hae hyung. Perkenalkan ini Junsu, temanku." Junsu membungkuk sopan.

"Kami kesini sebenarnya ingin melakukan riset terhadap daging-daging di restaurant. Ini tugas kampus." Junsu berbicara blak-blakan. Donghae sedikit terperanjat, ia tak menduga restaurant-nya akan dijadikan tempat riset. Ia tak bisa membiarkannya. Ia harus mencari cara untuk mencegahnya.

"Tapi untuk hari ini kita tidak bisa." Donghae berkata cukup tegas.

"Tapi mengapa hyung?" Hyukjae mulai curiga lagi. Donghae harus mencari cara lain untuk mencegahnya. Dengan mengatakan tidak boleh akan menambah kecurigaan mereka.

"Karena aku mempunyai rencana lain untukmu hari ini..." Donghae berjalan kearah panggung kecil yang dikelilingi lilin-lilin wangi. Ia duduk di belakang piano mewah disana.

Hyukjae tak mengerti apa yang akan namja itu lakukan disana.

Perlahan alunan nada-nada indah terdengar, lantunan lagu Always With Me membawa hati Hyukjae berkelana ke tempat yang indah penuh bunga. Suara Donghae begitu menghipnotisnya, membuatnya melayang. Apa maksud semua ini, mengapa Donghae melakukannya. Namja itu begitu tampan di depan sana, jari-jari jenjangnya menari di atas piano itu. Setiap kata cinta, Donghae ucapkan dengan mata mengarah ke Hyukjae. Hal ini benar-benar membuat Hyukjae ingin berhenti bernafas. Hingga lagu habis pun Hyukjae masih terpana menatapnya. Semua orang disana bertepuk tangan dan berdecak kagum dengan penampilan Donghae barusan.

"Lee Hyukjae... Hari ini aku ingin mengungkapkan sesuatu padamu."

Donghae berjalan mendekat kearah Hyukjae yang menatapnya gugup. Donghae mengambil kedua tangan Hyukjae.

"Lee Hyukjae, aku mencintaimu." Donghae menatap dalam mata indah itu. Hyukjae tak sanggup untuk berkata apapun, ia begitu gugup sekaligus senang. Jantungnya ingin melompat saat ini juga.

"Apa kau mau jadi kekasihku?"

"..."

"Hyukjae?"

"Aku..."

.

.

.

TBC

.

.

Ini aneh? Entahlah yang pasti ini asli dari hasil pemikiran buntu saya. Penelitian penyakit Kuru pastinya nanti akan ada sangkut pautnya dengan restaurant Donghae. Jika readers masih menemukan typo atau kata yang kurang pas harap maklum. Ini FF lama yang ngaret gak dilanjut-lanjut kkkk~ Maaf untuk readers di grup FB *sungkem

Silahkan beri pendapat kalian. Maunya saya akan memberi adegan seperti menguliti anggota tubuh, potong lidah dan lain-lain. Tapi jika readers mual saya akan mengurangi adegan seperti itu.

Terima kasih untuk review di chapter sebelumnya. Saya sangat menghargai review kalian. Review lagi ya. Jika hanya ada silent readers saya tak mampu melanjutkan *lebay hehe saya lanjut kok.

Thanks

sherlyxiu