Seokmin terbangun karena merasakan sebuah gerakan yang tidak membuatnya nyaman, ia tahu bahwa itu adalah Soonyoung yang berusaha melepaskan diri dari pelukannya. Untuk beberapa saat, ia membiarkan Soonyoung hingga dapat terduduk di tepian tempat tidurnya untuk beberapa saat ㅡmemunggungi Seokminㅡ.
Matahari belum terbit, Soonyoung pasti berusaha bangun pagi buta agar dapat pergi dari apartemen ini tanpa bertemu Seokmin.
Bagaimana cara terduduknya, bagaimana sikap tubuhnya yang begitu lemas, Seokmin mengerti bahwa semua itu menyiratkan rasa sesal.
Beberapa menit kemudian, Seokmin berhasil mencegah Soonyoung beranjak dari duduknya dengan cara menggenggam pergelangan tangan Soonyoung yang berada di dekatnya. Yang digenggam tangannya tentu terkejut, ia mengira Seokmin masih terlelap.
"Apakah orang yang beruntung itu adalah Jihoon hyung?"
Soonyoung salah karena telah mengira Seokmin tertidur lenyap sejak beberapa jam lalu. Pada nyatanya, Seokmin hanya tertidur dengan setengah jiwanya, setengah yang lain ia biarkan terjaga untuk merasakan tiap detik pelukannya dengan lelaki berwajah hamster ini.
Soonyoung menunduk dalam, dan mengangguk pelan. Nyaris tak terlihat anggukannya apabila Seokmin tidak menatap ke arahnya begitu tajam.
Dan hatinya sakit lagi.
Seharusnya Seokmin tidak bertanya apabila ia sudah mengetahuinya.
Kemudian Seokmin kembali membiarkannya melepas genggaman yang masih tersemat pada pergelangan tangannya, sehingga Soonyoung dapat berdiri.
"Terima kasih atas segalanya, selama tiga ratus enam puluh lima hari ini, Lee Seokmin."
Seokmin tentu saja ingat, seharusnya saat ini mereka merayakan tepat satu tahun hubungan.
Akan tetapi Soonyoung pergi begitu saja menyisakan suara decitan pintu yang kemudian tertutup.
Saat ini ruang tidur Seokmin semakin hampa saja.
Hari ini ia memiliki jadwal kelas pagi dan tak ada lagi niatannya untuk kembali terlelap. Maka ia tergugah untuk duduk di tepian ranjangnya.
Termenung untuk beberapa saat, menunduk dalam, membungkuk dengan kedua sikunya yang menumpu di atas kedua pahanya yang terbuka. Menatap lantai kamarnya dalam diam.
Tanpa ia sadari kini kedua matanya juga membasah hingga air matanya terjatuh dan tetesannya menghujani lantai tak bersalah itu.
Ia terisak hingga merasakan sesak dalam saluran pernapasannya.
Rasa cintanya itu tidak main-main lagi.
Bodohnya, ia mengira Soonyoung juga merasakan rasa yang sama.
Saat ini kita bisa mendapati sebuah ponsel pintar menempel pada daun telinga Seokmin. Sementara Seokmin sendiri tengah berjalan di salah satu koridor untuk menuju ruang latihan klub vokal.
"Iya, Eomma. Aku sudah sarapan dengan baik tadi."
Suara Seokmin serta langkahan sepatu kets-nya begitu menggema di koridor tempatnya berada.
"Wonwoo hyung yang memasaknya."
"..."
"Part time job-ku? Besok, tidak hari ini."
"..."
"Aku sekarang akan latihan klub vokal, Eomma."
"..."
"Ya, mereka membutuhkanku, mereka akan berpartisipasi dalam pertunjukkan bulan depan."
"..."
"Iya, aku akan menjaga kesehatanku, Eomma. Bagaimana keadaan Minha?"
Seokmin menghentikan langkahnya karena mendengar jawaban sang ibu dari ujung sana.
"Hmm.. adikmu,, keadaannya sedikit melemah.."
"Kambuh lagi?"
"Sedikit, Seokmin-ah. Kau tak perlu khawatir, belajarlah dengan baik di Seoul, oke?"
Seokmin kembali berjalan mendekati tujuannya yang berjarak tidak jauh lagi.
"Ku pikir cacar tidak membuatnya separah itu."
"Eomma juga." Terdengar helaan napas dari ibunya sebelum sang ibu melanjutkan, "demam masih sering menyerangnya, padahal sudah beberapa bulan semenjak cacarnya menghilang waktu itu."
"Maaf aku tidak menghubungimu selama sebulan ini."
Benar ucapan Seokmin ini, bahkan komunikasi dengan ibunya yang terjadi saat ini mungkin tidak akan terjalin kalau saja ibunya tidak menelepon terlebih dahulu.
"Tidak apa, anakku. Pasti kau sibuk akhir-akhir ini untuk memenuhi tugas semestermu."
Seokmin bergumam mengiyakan.
"Ah, bukankah kau ada latihan? Pergilah. Maaf ibu mengganggu waktumu. Jagalah kesehatan dan makan yang banyak."
Sudah terhitung dua kali sang ibu menyampaikan dan memberi pesan padanya untuk menjaga kesehatan.
"Baiklah, Eomma. Aku pergi, sampai jumpa."
"Ya.."
Pip.
Sambungan terputus. Ibunya yang memutuskan sambungan itu.
Dan ia sampai di sebuah ruangan berukuran sedang. Di dalamnya terdapat sekitar dua puluh orang mahasiswa serta Mrs. Jung selaku pembina klub. Raut wajah wanita umur kepala empat itu semakin cerah ketika mendapati Seokmin tengah berdiri di depan pintu ruangan. Seraya hampir seluruh mahasiswa dari berbagai tingkat ikut tersenyum melihat kedatangan Seokmin.
Mrs. Jung berdiri dari bangkunya sembali menepuk tangannya sekali.
"Seokmin sudah datang. Ayo kita mulai latihannya."
"Neowa na jabeun sone naeiri isseo
Du nune pumeun bicheun garil su eopseo
Apeurodo yeongwonhi
Meotjige neoreul bitnaejulge
We gonna make it shine
Duryeowo heundeullineun ireun eopseolgeoya
Neoui misoe nae modeungeol matgilteni baby
Du gwie nareul dama
I norae deullimyeon geuttaeui urireul gieokhae
Ijeneun chueoki doen geuttaeui urireul gieokhae
We gonna make it shine
We gonna make it shine"
"Ya, grup selanjutnya!"
Mendangar arahan dari Mrs. Jung, lima orang yang tadinya masing-masing terduduk di sebuah kursi segera beranjak agar dosen seni musik itu dapat melihat hasil latihan grup lain setelah lima jam ini.
"Beruntung lagu ini bernada rendah hampir seluruhnya, kalau tidak, mungkin pita suaraku sudah putus." Eluh Seungkwan. Mahasiswa jurusan jurnalistik itu membuka tutup botol air mineralnya dan meneguknya hingga air di dalamnya tersisa separuhnya.
"Itu berlebihan.." ujar Seokmin sembari duduk diatas lantai dan mengistirahatkan punggungnya pada tembok ruangan. Sementara Seungkwan terkekeh ringan karena mendengar ujaran Seokmin.
Mereka berempat ㅡSeokmin, Seungkwan, Jihoon, dan Jeonghanㅡ berkumpul pada salah satu sudut ruangan untuk jeda sejenak. Seokmin baru menyadari bahwa hyung yang beberapa bulan lalu berambut panjang ㅡyaitu Jeonghanㅡ kali ini telah memotong rambutnya dan mengubah warnanya menjadi coklat.
Dan banyak hal lain yang baru ia ketahui soal grup vokal. Seperti ruangannya kemungkinan telah ditata ulang beberapa kali, atau mungkin beberapa alat musik yang masih mengilap dan merupakan fasilitas baru pemberian universitas.
Beberapa saat kemudian pandangannya menangkap sebuah botol air mineral yang diarahkan padanya, seolah air itu memang untuknya. Kemudian mendapati pemilik tangan pemberi botol plastik itu, Hong Jisoo namanya. Biasa ia panggil Jisoo hyung sejak beberapa bulan lalu. Satu grup dengannya untuk menyanyikan 'We Gonna Make It Shine' tadi.
Dan saat itu juga ia menyadari bahwa hanya dirinya diantara kelima orang itu yang belum memiliki air minum.
Tentu saja ia menerima dengan senang hati.
"Terima kasih, hyung."
Jisoo berdeham sambil tersenyum untuk menggubrisnya. Lalu hyung bermata kucing itu mengambil tempat tepat di samping Seokmin tatkala Seokmin membuka tutup botol itu dan meneguk airnya.
"Kau akan bergabung untuk seterusnya, 'kan?"
Itu tadi Jeonghan yang bertanya. Seokmin tentu saja menyadari bahwa pertanyaan itu untuknya.
Beberapa hembusan napas kemudian Seokmin menjawab.
"Akan aku pikirkan lagi."
Selama beberapa saat mereka sama-sama berdiam diri. Mungkin canggung semenjak kembalinya Seokmin.
"Demam yang diderita adikku belum membaik, padahal cacarnya sudah menghilang lama."
Seokmin hanya berharap curahan hatinya itu dapat membuat empat orang di sekitarnya memaklumi perihal dirinya yang tidak seceria dulu.
"Aku turut bersedih mendengarnya." Kali ini Jihoon turut bersimpati.
Seokmin merasakan tepukan pada sebelah bahunya. Jisoo yang kini telah tersenyum menepuknya.
"Adikmu pasti akan segera sembuh."
Tak ada yang dapat Seokmin lakukan selain tersenyum tipis.
"Terima kasih, lagi, hyung."
Esoknya, di waktu makan siang, Seokmin duduk berhadapan dengan sang kekasih. Bertempat di salah satu bangku kafetaria dan menyantap makan siang bersama. Keduanya larut dalam diam bersama makanan masing-masing. Sayangnya, sikap Yuju yang tidak lepas dengan ponsel pintarnya sungguh membuat Seokmin gerah untuk menegurnya. Sesekali Yuju terkikik karena sesuatu yang sama sekali Seokmin tak ketahui.
Hingga Seokmin sampai pada batas kesabarannya.
"Yuju-ya, simpan ponselmu dan makanlah dengan baik."
"Ha ha,, oke maaf, Oppa."
Yuju segera mengunci layar ponselnya dan memasukkan benda itu ke dalam tas mahalnya.
"Kudengar Oppa bergabung lagi dengan klub vokal." Basa-basi Yuju agar mencairkan suasana.
"Ya.. kau sendiri, sejak kapan berhenti? Mengapa kau tak bilang kalau kau juga tak lagi aktif di klub vokal?"
"Kupikir saat ini juga banyak yang aku tak ketahui tentangmu, Oppa." Kemudian Yuju melahap kembali sesuap nasi campurnya.
"Ini tidak baik, Yuju-ya. Kita harus perbaiki ini."
Yuju terdiam, ia mengambil seteguk air setelah mengunyah dan menelan makanannya yang tadi ia suap. Setelah kembali menaruh gelas ramah lingkungan itu, ia kembali berbicara.
"Apa maksudmu, Oppa?"
"Hubungan kita, sudah jauh dari kata sehat."
"Ini bukan waktunya kita membahas hal itu, Oppa. Jangan sampai kau dan aku kehilangan nafsu makan. Kita baik-baik saja, oke?"
Seokmin meletakkan sumpit kayu yang sedari tadi ia gunakan untuk memakan tteokbokki-nya. Nafsu makannya sudah hilang bahkan sejak sang kekasih mulai asyik bersama ponselnya.
"Aku selesai. Aku ada kelas sesaat lagi." Seokmin membual sembari membenahi beberapa barangnya yang tergeletak di atas meja "Besok hari libur, dan aku akan mengujungi apartemenmu."
Seokmin beranjak dari bangkunya tanpa mendengar persetujuan sang kekasih.
Beberapa waktu lalu, mengunjungi apartemen Yuju adalah suatu hal yang biasa terjadi. Ia hampir melakukannya tiap minggu, ㅡjangan salah, mereka tidak seburuk itu untuk melakukan hal macam-macam sebagai sepasang kekasihㅡ. Tetapi entah mengapa ucapan tadi terasa tabu dalam perasaannya.
"Itu tidak salah, Seok. Kau sudah terdiam selama ini. Kau tak bisa seperti itu dalam waktu yang lama."
Ponselnya menyambung dengan handsfree yang di dalamnya terdapat panggilan suara bersama Minghao. Sahabatnya itu sedang tak ada kelas sehingga ia lebih memilih berada di apartemen mereka.
"Entahlah, ini kali pertamaku agak keras terhadap perempuan."
"Tidak apa. Itu wajar."
Seokmin membenturkan kepalan tangannya pada besi pembatas gedung di lantai tiga kampusnya, ㅡbukan atap, gedung fakultasnya memiliki enam lantaiㅡ.
"Arggh! Seharusnya aku tak meninggalkannya tadi."
Ia mengerang frustasi.
"Tidak, Seok, Tidak! Sikapmu sudah tepat. Tinggal jalani saja. Tenanglah!"
Beberapa saat tak ada percakapan antara kedua sahabat itu, meski panggilan suara mereka belum diakhiri. Minghao mengerti, Seokmin perlu menjernihkan pikirannya.
Sementara Seokmin saat ini hanya mengarahkan pengelihatannya ke bawah, menatap lapangan basket outdoor kampusnya, lapangan dengan cat hijau itu terhampar tepat di hadapannya dan tengah terpapar sinar matahari siang.
Disana terdapat belasan mahasiswa tengah memperebutkan sebuah bola karet jingga dan berlomba-lomba memasukkannya ke dalam ring lawan.
Seokmin kenal beberapa di antaranya.
Jaehyun ㅡteman satu fakultasnyaㅡ, Jungkook ㅡadik Wonwoo, yang merupakan salah satu mahasiswa kedokteranㅡ, Junhui ㅡkekasih Minghaoㅡ, Jeonghan, Jisoo ㅡhyung yang kemarin memberinya sebotol airㅡ, dan Soonyoung, ya, Soonyoung. Laki-laki bermata sipit itu kini mengubah warna surainya menjadi lebih tua. Benar, Seokmin memerhatikannya.
Tangan Soonyoung terjulur untuk mengusak rambut seseorang bertubuh lebih mungil darinya ㅡsiapa lagi, kalau bukan Jihoonㅡ sebagai selebrasi setelah dirinya berhasil mencetak poin, meski Jihoon membalasnya dengan tepisan agar Soonyoung menjauhinya mungkin karena bau tidak sedap yang timbul dari kulit Soonyoung. Hubungan mereka tampak semakin baik. Oke, ia rasa perasaannya kini memburuk.
"Seokmin, kau masih di sana? Kau tidak menjatuhkan diri dari atas sana, 'kan?"
"Aku bersumpah tidak terpikir untuk melakukan apa yang kau katakan tadi, Hao. Tapi, itu ide yang bagus."
Di ujung sana Minghao mendengus.
"Dasar sinting."
Seokmin kali ini terkekeh.
"Membaik?" Suara Minghao terdengar lagi.
Kekehan Seokmin sirna seketika, kemudian ia menjawab dengan pelan setelah menghela napas.
"Tidak sama sekali."
"Lee Seokmin!"
Langkahnya menuju toilet kampus terhenti akibat mendengar seseorang memanggil namanya beberapa meter di belakang dari lantai dimana dirinya terpijak. Saat ini Seokmin tengah berada di koridor kampus.
Ia memutar tubuhnya dan mendapati Jihoon setengah berlari mendekatinya, sementara Soonyoung tertinggal jauh di belakang Jihoon dan tengah melangkah santai membuntuti sang kekasih.
"Besok! Datanglah untuk latihan!"
"Aku kira tidak ada latihan untuk besok."
"Mrs. Jung baru saja mengirimkan pesan padaku." Jihoon sembari menunjukkan ruang obrolan pesan singkat dari Mrs. Jung sebagai bukti.
"Hoi! Seokmin!" Sapa Soonyoung yang telah berdiri tepat di belakang punggung Jihoon.
"Hoi, Soonyoung."
Seokmin sendiri tentu saja berusaha keras mengatur napasnya serta wajahnya, setelah dua bulan ini tidak lagi bertegur sapa dengan sang mantan kekasih, dan rasanya ini lebih baik daripada terakhir mereka saling menyapa ㅡYuju berkata wajah Seokmin saat itu tak jauh berbeda dengan wajahnya tatkala melakukan duet bernyanyi dengan Kei, seorang mahasiswi dari jurusan seni musikㅡ.
"Pukul berapa?"
"Pukul sembilan, lebih pagi lebih baik, akan aku atur jadwal agar kalian sudah dapat kembali dengan urusan masing-masing pada pukul dua." Jihoon benar-benar niat, puji Seokmin salut.
"Ya, aku akan datang apabila aku sempat."
"Terdengar baik."
"Ada lagi?" Seokmin bertanya.
Jihoon bergumam untuk sesaat kemudian menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu, aku harus pergi. Selamat tinggal, Jihoon, ㅡkau juga, Soonyoung."
"Sampai jumpa.." ucap keduanya hampir bersamaan.
Sesaat kemudian Seokmin berbalik dan berlalu untuk melanjutkan perjalanannya. Ia pikir, ia butuh air untuk membasuh wajahnya agar terasa lebih segar. Seharian ini kejadian yang menimpanya tidak terlalu bagus.
Seokmin sampai pada salah satu toilet laki-laki di lantai dasar. Di dalam sana, tepat di hadapan wastafel yang dilengkapi cermin besar, Seokmin mendapati dua orang laki-laki ㅡyang ia yakin keduanya mahasiswaㅡ berada pada jarak yang tidak normal, mungkin apabila Seokmin tiba beberapa detik lebih lambat, Seokmin akan mendapati keduanya tengah melakukan hal aneh.
Seokmin menyadari bahwa ia telah mengganggu keduanya.
Masa bodoh, pikirnya. Ini tempat umum. Berjalan memasuki toilet bukanlah sebuah kesalahan.
Seokmin berjalan menuju salah satu wastafel ketika keduanya bercakap sebentar. Setelahnya salah satunya ㅡyang ia yakin Si Dominanㅡ mengusak surai satunya lagi sebelum Si Dominan pergi lebih dulu meninggalkan laki-laki yang surainya tadi diusak. Entahlah percakapan macam apa, Seokmin tak peduli selama itu tak merugikan dirinya.
Hingga Seokmin menyadari Si Dominan itu adalah salah satu mahasiswa jurusan manajemen yang dikenal hampir oleh seluruh warga kampus.
Terdengar pintu toilet tertutup.
Beberapa saat setelah ia mulai membasuh wajahnya dan meresapi suhu air keran yang lebih rendah dari suhu kulitnya,
"Seokmin?"
Tentu saja yang terpanggil menoleh.
"Jisoo hyung? Ha ha, aku kira tadi bukan dirimu, hyung."
"Ha ha, aku juga mengira ini bukan dirimu."
Jisoo tersenyum lagi bersama matanya yang menyipit. Seokmin baru menyadari hyung ini memiliki eye-smile semenarik itu, padahal mereka sudah lama mengenal.
"Jadi, itu tadi kekasihmu?" Tanya Seokmin sambil mengeringkan wajahnya oleh handuk kecil yang selalu ia bawa dalam tas punggungnya.
"Hmm,, tidak, kami bukan.."
"Begitu ya? Ternyata aku tidak pandai mengira."
"Cobalah lain kali. Ha ha.."
"Benar, aku akan mencobanya, ha ha.."
Candaan yang cukup buruk.
"Kau dalam perjalanan pulang, atau akan ada kelas malam?" Jisoo bertanya.
"Sangat ingin pulang, aku merindukan kasurku. Tapi shift-ku akan dimulai setelah senja berakhir."
"Part time job?"
"Yep."
Jisoo menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti.
"Keberatan untuk berjalan bersama keluar?" tanya Jisoo sembari mengangkat kedua alisnya.
Seokmin hanya tersenyum tipis sembari mengangguk setuju, kemudian menjawab.
"Eung.. Tidak masalah.."
Kemudian keduanya berjalan bersama menuju halte bus terdekat.
Berlatar dalam sebuah bus dengan keadaan yang tidak begitu ramai, Seokmin terduduk tepat di samping Jisoo. Setelah memberi tahu bahwa Seokmin bekerja paruh waktu di salah satu kafe, Jisoo dengan semangat berkata bahwa ia ingin sekali berkunjung ke kafe tempatnya bekerja. Di sana, ia ingin mengerjakan tugasnya sembari menyicip cheese cake ㅡJisoo jenuh dengan apartemennyaㅡ. Perjalanan mereka didominasi oleh rasa canggung karena pada dasarnya mereka tidak terlalu akrab, hanya kenal sebagai anggota klub vokal.
Seokmin merutuki dirinya sendiri, mengapa bisa ia kehilangan dirinya yang biasanya tak pernah menutup mulutnya untuk berbicara?
"Hei, Seokmin?" Ujar Jisoo yang tengah mengerutkan dahinya sambil menyidik wajah Seokmin.
"Eh,, ya?"
"Kau baik-baik saja?"
"Aku,, baik.. Ehehe.. Kenapa, hyung?"
"Apa aku membuatmu tidak nyaman?"
"T-tidak.. mengapa hyung berpikiran seperti itu?"
Jisoo terkekeh sejenak, kali ini Seokmin yang mengerutkan dahinya.
"Kau ini kaku sekali. Tidak seperti biasanya." Jisoo kemudian menghela napas, "hah,, patah hati memang dapat mengubah ㅡtidak, maksudku, membunuh karakter seseorang, ya?"
"Ya?" Seokmin kebingungan, tentu saja.
"Satu kampus tahu, kau yang saat ini bersama Yuju, tidak sebahagia dirimu yang bersama Soonyoung beberapa bulan lalu. Kupikir aku sudah lama merasa iba padamu."
Seokmin tidak bergeming, apa tampak begitu jelas, ya?
"Jangan-jangan alasan kau keluar dari klub vokal adalah karena Jihoon?"
Seokmin terkesiap dengan pertanyaan Jisoo yang begitu tetiba.
"Apa semua orang yang peduli berpikiran seperti itu juga, hyung?"
"Tidak."
Seokmin menghela napas lega.
"Tahu, aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa yang orang lain pikirkan tentang hal itu. Tapi seingatku, Jihoon tampak berpikir panjang sekali untuk memilih menghubungimu ㅡ memintamu bergabung kembaliㅡ atau tidak. Aku sering kali mendapatinya sedang menatap ponselnya yang menampilkan ruang obrolan antara dirimu dan dia." Setelahnya Jisoo kembali berbicara, "menghubungimu kembali dan melukai hatimu atau klub vokal yang kehilangan orang penting sepertimu, itu yang Jihoon pikirkan sepanjang dirimu yang memutuskan untuk berhenti." Kemudian Jisoo menambahkan, "dan ada satu hal yang mungkin tidak akan kau percaya, Seokmin."
"Apa itu?"
"Jihoon bahkan menangis, kali ini bukan dalam pelukanmu saat ia mendapat penghargaan atas karyanya, tapi dalam pelukanku karena ia senang sekali meneteskan air mata ketika sendiri dan kebetulan hanya aku yang berada disana saat itu. Ia sangat kehilanganmu."
Seokmin hanya terdiam, ia tengah mencerna apa yang Jisoo katakan.
"Jihoon memang telalu mendedikasikan kehidupannya pada klub musik, aku ingat sekali perkataannya 'kalau aku tahu menerima Soonyoung berarti kehilangan Seokmin, aku bersumpah akan mengabaikan rasa cintaku kepada Soonyoung', 'aku seharusnya tidak memperdalam rasaku kepada Soonyoung, aku membenci diriku sendiri, Jisoo hyung'."
"Benarkah?" Seokmin melontarkan pertanyaan retoris.
Jisoo hanya menganggukkan kepalanya. Sama sekali tidak terdapat dusta pada wajah manisnya.
Keduanya bungkam hingga beberapa saat kemudian.
"Ah, maaf.. Aku memperburuk suasana hatimu ya?"
"Kupikir, ya. Tapi tidak apa, hyung." Seokmin tersenyum kecut. Seokmin tidak dapat berkata bahwa dirinya membenci Jisoo karena memperburuk keadaan, justru ia ingin berterima kasih kepada hyung ini karena telah memberi tahu bahwa Jihoon tidak sebahagia itu setelah merebut kekasihnya.
Hingga beberapa menit kemudian, keduanya beranjak turun dari bus tepat di salah satu halte terdekat dengan kafe.
"Astaga sungguh aku merasa bersalah, Lee Seokmin. Pukul berapa shift-mu berakhir? Akan aku traktir kau makan malam!"
"Hingga kafe tutup, hyung. Pukul sepuluh. Kau tidak perlu menraktirku. Tidak masalah."
"Tidak, Seokmin. Akan aku traktir kau suatu saat! Tagih janjiku nanti!"
Seokmin terkekeh. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran Jisoo.
"Terserah padamu, hyung."
Akhirnya mereka sampai pada salah satu kafe sederhana pada jajaran toko di bahu jalan.
"Kau datang, Seokmin!" sapa seorang gadis berseragam pelayan kafe dengan begitu ceria di balik mesin kasir.
"Hai Nayoung noona!"
"Kau bawa seseorang!"
"Ya, seperti itulah.. Dia temanku.." Seokmin melirikkan matanya kearah Jisoo dan mendapati Jisoo yang berucap 'cheese cake' tanpa bersuara. "Berikan dia cheese cake terbaikmu, noona."
Nayoung tersenyum lalu membuat bulatan dari ibu jari dan jari telunjuknya yang berarti 'OK' kemudian berlalu menuju dapur bertuliskan 'staff only'. Setelahnya meja kasir terisi oleh gadis lain ber-name tag 'Sungyeon'.
"Hyung, pilihlah tempat duduk yang membuatmu nyaman, aku akan mulai bekerja."
Dan keadaan berlanjut dengan kafe yang semakin ramai hingga Jisoo merasa iba melihat Seokmin yang tampak kewalahan mengantarkan pesanan dari meja ke meja. Selain mereka bertiga ㅡSeokmin, Nayoung, dan Sungyeonㅡ, Jisoo tidak melihat pekerja lain. Yah, apa yang bisa diharapkan dari kafe sederhana ini meski menu-menu yang ditawarkan cukup baik.
Soora's Note :
Hai kalian pembaca 'Tanju Berma'~ Gimana Chapter 2 nya? Masih kurang banget ya SeokSoo momentnya? Sorry ㅠㅠ Semoga suka ya sama ff ini :" Semoga alurnya dimengerti juga ehehe.. Soora bakal berusaha banget biar ff ini makin seru ^^ Silakan tap/klik fav/follow kalau kalian tertarik sama ff ini ^^ Soora berharap reviewnya jugaa...
Makasih udah nyempetin waktu buat baca ff gaje ini wkwk
다음에 보자 ^^ See you next chapter ^^
