Between Hate and Love
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
This story belongs to HinataHyuuga8
Happy Reading ^^
.
.
Bisakah kau hanya menatapku?
Bisakah kau memahami diriku?
Bisakah kau mencintaiku?
Dan bisakah kita melupakan masa lalu?
.
.
.
Review Chapter:
Sebuah tangan kekar mencengkeram bahu Sasuke. Menarik tubuh Sasuke menjauh dari Hinata. Dalam satu detik, lelaki itu telah mengarahkan tinjunya pada sang Uchiha. Sasuke menatap sosok tubuh yang meninjunya.
"Bersikap kasar pada seorang gadis adalah perbuatan rendah."
.
.
.
"Apakah sakit?" dengan hati-hati, Hinata menempelkan plester di pipi Gaara. Gaara hanya tersenyum menenangkan Hinata.
"Aku tidak apa-apa," Gaara mengusap pipinya yang diplester.
"Seharusnya, Senpai tidak perlu emosional begitu," Hinata membereskan kotak P3K.
"Bagaimana aku tidak emosional? Jelas-jelas Sasuke memperlakukanmu dengan begitu kasar. Aku tidak suka melihatnya," Gaara memasang tampang sebal.
Hinata tertawa kecil. Tangannya lincah memasukan bulatan kapas yang sempat berserakan di atas meja kerjanya. "Senpai tidak perlu khawatir. Untung saja aku sempat melerai. Kalau tidak? Kalian berdua akan babak-belur."
"Huh, aku tidak mungkin kalah dari Sasuke. Tch, lelaki seperti dia tidak pantas disebut lelaki. Hanya berani menyiksa perempuan saja," Gaara semakin gemas mengingat kejadian yang baru saja menimpanya.
Hinata berusaha menaruh kotak P3K yang ia ambil di atas rak. Namun, tampaknya rak itu terlalu tinggi untuk ukuran tubuh Hinata. Hinata berjinjit, berusaha menggapainya. Namun, sepertinya sia-sia. Ia terlalu pendek.
Gaara terseyum simpul. Ia bangkit berdiri dari kursinya, membuat kursi itu mundur, memunculkan bunyi berderit. Tanpa sadar, tangan Gaara melingkar di pinggang gadis indigo di hadapannya. Hinata begitu terkejut. Namun, belum pulih keterkejutannya, ia merasa dirinya terangkat.
"S-senpai? A-apa yang k-kau l-lakukan?" wajah Hinata memerah hebat.
"Cepat taruh kotaknya, adik kecil," Gaara tersenyum usil.
Hinata cepat-cepat menaruh kotak P3K yang ia pegang. Ia menunduk dalam-dalam, membunyikan semburat merah di pipinya. "B-bisa t-turunkan a-aku, S-senpai?"
Alis Gaara bertaut. Tak lama, senyum usil kembali terlukis di wajahnya. "Menurunkanmu?" tanya Gaara.
Hinata diam tak berkutik. Jantungnya berdegup kencang. Wajahnya yang sudah memerah semakin masuk dalam lindungan surai indigonya.
"Kita berjalan-jalan dulu ya?" tanpa persetujuan Hinata, Gaara mengubah posisi Hinata. Tangannya bergerak cepat, membuat Hinata kini dalam posisi bridal-style di tangannya.
"Kyaaaa… S-senpai! Turunkan aku," pekik Hinata.
Gaara tidak memperdulikan Hinata. Ia membawa Hinata menuju ke pojok perpustakaan. Hinata dapat membayangkan hal-hal buruk yang akan menimpa dirinya. Apa yang akan Gaara lakukan. Tubuh Hinata bergetar hebat. Ia takut.
Gaara mendudukan Hinata di atas sebuah kursi. "Di sini tidak ada siapa-siapa." Ia menarik sebuah kursi lagi dan menempatkannya tepat di depan Hinata.
"A-apa yang a-akan kita la-lakukan?" tanya Hinata takut-takut.
Gaara memajukan wajahnya. Pipi Hinata kembali memerah. Pikiran buruk kembali melayang-layang. Ia menutup matanya rapat-rapat.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Tidak terjadi apa-apa. Hinata membuka matanya bingung. Gaara masih di hadapannya. Menatap Hinata lurus dan dalam.
"Ceritakan padaku."
"A-apa?"
.
.
.
Flashback…
"Jitensha.. Jitensha.. Jitensha.." Hinata bersenandung kecil mengikuti iringan lagu anak-anak yang akhir-akhir ini sedang naik daun. Tangannya menari lincah di atas tuts hitam putih. Kakinya terlalu kecil untuk menggapai pedal di bagian bawah, namun, alunan yang terdengar terasa menyambung dan mengalir indah.
Pintu terbuka. Hinata sontak menghentikan permainan pianonya. Lavendernya cepat menangkap siapakah yang datang. Seorang anak lelaki bermandikan keringat. Nafasnya terengah-engah. Tangannya memegang rangkaian buku yang cukup tebal. Rambutnya yang berawarna kepirangan sedikit tertiup angin dari jendela yang sengaja kubuka.
"Hosh.. hosh.. Hi-hinata-chan," lelaki berambut pirang itu memanggil namaku.
"Akhirnya.. kau datang Naruto-kun!" seru Hinata nyaring. Hinata meloncat turun dari kursi piano yang sebelumnya ia duduki. Kakinya segera berlari menghampiri lelaki yang sedikit lebih tinggi darinya.
"Jadi kita mulai latihannya?" tanya Naruto tak kalah bersemangat.
Hinata mengangguk bersemangat. "Ha'i!"
Hinata dan Naruto segera menuju piano yang terletak di tengah ruangan besar itu. Ruangan bernuansa merah muda itu tak hanya dilengkapi dengan piano, tetapi juga dilengkapi dengan berbagai macam alat musik. Cello, biola, suling, terompet, harpa, juga beberapa kursi yang diletakkan secara acak. Secara singkat, ini adalah ruang musik.
Naruto duduk di atas kursi yang sebelumnya Hinata duduki. Sementara Hinata mencari sebuah benda kesayangannya. Sebuah biola. Hinata mengelus biola itu. Hinata ingat, ayahnya memberikannya sebagai hadiah ulangtahun saat umurnya baru menginjak lima tahun. Hinata berusaha keras untuk bermain biola itu. Naruto memandang Hinata penuh arti. Hinata segera menyadarinya. Tangannya bersiap dalam posisi bak pemain biola profesional. Keduanya akan mengikuti konser besar beberapa hari lagi dan kebetulan keduanya akan bermain duet, piano dan biola.
Tak butuh waktu lama sampai bunyi indah mengalir keluar dari ruangan itu. Hinata memainkan biola sementara Naruto memainkan piano. Sesekali pandangan keduanya bertemu. Naruto tersenyum lembut tatkala pandangan keduanya bertemu, semenatara Hinata hanya dapat mengarahkan pandangannya pada sisi yang lain, menyembunyikan semburat merah yang selalu muncul di saat yang tidak tepat.
Di saat itulah, Hinata tahu, sosok lelaki raven itu mengintip dari sela pintu yang sedikit terbuka. Matanya menatap tajam ke arah Hinata dan Naruto. Sasuke Uchiha. Begitu permainan Hinata dan Naruto berakhir, Hinata segera memanggil Sasuke.
"Sasuke-kun!" panggil Hinata.
Sasuke keluar dari persembunyiannya. Tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hai semua," sapanya canggug.
Hinata menarik tangannya, memaksa Sasuke masuk dalam ruangan itu. Begitu melihat Sasuke, Naruto langsung tersenyum lebar.
"Yo! Teme!" Naruto berseru riang.
"Hn," seperti biasa Sasuke hanya menjawab singkat.
"Naruto-kun, ayo kita latihan lagi. Nanti Sasuke-kun yang menilai ya," Hinata menarik tangan Naruto memaksanya duduk di atas kursi piano. Naruto tertawa seperti biasa.
"Tunggu sebentar, Hinata-chan," Naruto memasang tampang memelas. "Aku bosan main lagu itu."
"Lalu Naruto-kun mau main lagu apa dong?" tanya Hinata. Ia duduk di samping Naruto.
Naruto mengadah ke atas. Berusaha berpikir lagu apa yang hendak ia mainkan. Hinata sabar menunggu. Iris matanya tak lepas dari sosok berambut pirang itu.
"Nah, aku tahu!" Naruto berseru riang.
"Apa?" tanya Hinata penasaran.
"Aku akan memainkan sesuatu untukmu," wajah Naruto sedikit memerah. "Ini khusus untukmu lho. Kau harus mendengarkannya baik-baik." Kini tarikan wajah Naruto berubah menjadi serius.
Hinata menatap Naruto penuh minat. Ia menelengkan kepalanya membuat wajah mungilnya tampak sangat manis. "Baiklah," ujarnya kemudian.
Naruto bersiap dalam posisinya. Kedua tangannya menari lincah. Memadukan tuts ptuih dan hitam, melantunkan melodi-melodi indah yang sulit ditebak maknanya. Hinata tercengang. Jantungnya berdegup kencang. Ia merasakan melodi itu mengaliri tubuhnya. Ia seakan tahu bahwa Naruto ingin menyampaikan sesuatu. Sesuatu yang sangat sukar dijelaskan. Namun, Hinata dapat merasakannya. Hangat.
Naruto dan Hinata hanyut dalam alunan musik itu. Keduanya sama sekali tidak menyadari bahwa adanya kehadiran orang lain dalam ruangan itu. Seseorang yang memandang keduanya dengan tatapan iri, benci, dan… cemburu. Onyx matanya hanya menatap lurus dan tajam.
Begitu lagu itu berakhir, Naruto berbalik menatap Hinata. Betapa terkejutnya Naruto mendapati Hinata meneteskan air matanya. Naruto turun dari kursi pianonya dengan panik.
"Hinata-chan, kau kenapa?" tanya Naruto. Tangannya terulur mengusap puncak indigo gadis yang lebih muda darinya itu.
Hinata mengusap air matanya. "Tidak.. hanya saja.. lagu yag dimainkan Naruto-kun itu bagus sekali. Aku bisa memahami maksud Naruto-kun."
Naruto tercengang. Ia menggenggam tanagn Hinata dengan erat. "Benarkah kau memahaminya?" tanya Naruto bersemangat.
Hinata mengangguk senang. "Karena kau juga merasakan hal yang sama."
Naruto memeluk gadis di hadapannya. "Aku…"
Sebuah tangan membuat Naruto menjauh dari Hinata. Naruto memandang heran ke arah lelaki yang menariknya.
"Teme?"
"Kau tidak boleh dekat-dekat Hinata-chan," Sasuke masih memegang erat lengan Naruto.
"Kenapa? Dia kan sahabat kita," Naruto membela dirinya.
"kalau tidak boleh ya tidak boleh," Sasuke bersikeras. "Kau harus mengikuti apa yang aku katakan, Dobe. Atau…."
"Atau apa?" tanya Hinata bingung.
"Aku akan melaporkanmu pada ayahku. Nanti kau bisa dikeluarkan dari sekolah ini," ancam Sasuke.
"Apa?" mata Naruto melebar.
"Kau tidak boleh begitu, Sasuke-kun," Hinata membela Naruto. Ia tahu ayah Sasuke adalah pemilik sekolah music tempat ia dan Naruto belajar. Sejujurnya, Hinata punya perasaan khusus pada Naruto. Begitu pu sebaliknya. Jadi tidak mungkin Hinata membiarkan Naruto pergi begitu saja.
"Kenapa tidak?" tanya Sasuke kesal.
"Itu perbuatan tidak baik. Namanya kau egois," nasihat Hinata.
"Tch," Sasuke hanya membuang muka.
Naruto melempar senyum tanda terimakasih pada Hinata.
.
.
.
"Aku tidak suka melihatnya, Aniki," Sasuke duduk dengan kesal di atas sofa.
Itachi, kakak Sasuke, mengambil dua kaleng jus. "Tidak suka bagaimana, Otouto?" tanya Itachi.
"Hinata itu suka pada Naruto, bukan padaku! Dasar baka aniki," Sasuke menggerutu.
"Hm.. Aku punya ide. Bagaimana kalau kita memberi Naruto beasiswa saja?"
"Beasiswa?"
.
.
.
"Bunga sakuranya indah," Hinata mendongak. Menatap pohon sakura yang tumbuh tinggi menjulang.
"Iya," Naruto ikut mendongak.
"Kau mau kemana nanti liburan?" tanya Hinata.
"Liburan tengah semester nanti?" tanya Naruto.
Hinata mengangguk. "Entahlah. Orangtuaku tidak punya cukup biaya untuk bertamasya," keluh Naruto.
"Benarkah?"
Sekali lagi Naruto mengangguk lemah. "Mungkin hanya akan membantu otou-chan dan okaa-chan berjualan."
"Kau rajin sekali," puji Hinata.
"Tentu saja," jawab Naruto bangga. "Aku harus bekerja keras untuk mencapai cita-citaku."
"Memangnya cita-cita Naruto-kun apa?" tanya Hinata.
"Aku ingin menjadi seorang musisi terkenal. Aku akan berkelana keliling dunia dan menyebarluaskan komposisi musikku. Akan aku akan melegenda seperti Mozart dan Beethoven. Dan yang terpenting," Naruto berhenti sejenak.
"Apa yang tepenting?" tanya Hinata penasaran.
"Aku ingin selalu bersama orang yang kucintai," jawab Naruto. "Dan orang itu.. adalah kau."
Wajah Hinata memerah hebat. "A-aku?" Hinata menunjuk dirinya sendiri.
"Ya, kau. Aku mencintaimu," Naruto menggenggam kedua tangan Hinata.
"A-aku ju-juga," jawab Hinata malu-malu.
Naruto memeluk Hinata, bahagia. "Arigato, Hinata-chan."
.
.
.
"Beasiswa?" Naruto mendelik tak percaya. Sejak kapan impiannya selama ini jadi kenyataan.
"Tapi jadwal keberangkatannya bertabrakan dengan jadwal konsermu. Jadi terpaksa kau harus membatalkan konsermu dan Hinata," Itachi menatap Naruto dalam-dalam.
"Membatalkan konser? Tidak mungkin. Kami sudah berlatih keras," ujar Naruto tidak senang.
"Maaf, tapi tiket pesawat yang tersedia bertabrakan jadwalnya," Itachi menjelaskan. "Kau harus memilih."
Naruto meremas kedua tangannya. 'Apa yang harus kulakukan?'
.
.
.
Hinata berdiri dekat pintu masuk dengan gelisah. Bagimana tidak? Konser akan segera dimulai, namun, Naruto sama sekali tidak terlihat dimanapun. Batang hidungnya pun tidak. Hinata melirik jam tangannya. Sebentar lagi. Tangannya semakin memegang erat kotak biola di tangannya. Dimana Naruto?
"Hinata," seseorang menepuk pundak Hinata.
"I-Itachi-san?" Hinata menatap seniornya itu.
"Kau belum masuk ke ruang persiapan?" tanya Itachi.
Hinata menggeleng. "Aku akan menunggu Naruto. Konser ini tidak ada gunanya kalau tidak ada Naruto."
Itachi mengangguk-angguk. "Memangnya Naruto tidak memberitahumu? Ia kan pergi hari ini."
"Pergi? Ke mana?" Hinata terperanjat.
"Ia mendapat beasiswa bebrapa waktu lalu. Ia akan dibawa ke Wina," jelas Itachi.
"Wina?" Hinata mengulang nama kota itu. "Naruto tidak pernah memberitahuku. Aku harus menysulnya." Hinata bergegas keluar dari gedung tempat konser dilanksanakn.
Itachi menahan pergerakan Hinata. "Hinata! Apa yang kau lakukan? Kau hanya akan membuat konser menjadi kacau,"
"Tapi aku harus menyusulnya," Hinata berbalik, menampakan wajahnya yang sudah berurai air mata. "Kau belum mengucapkan salam perpisahan."
Itachi menghelas nafas. Tangannya mencengkeram erat pundak Hinata. "Dengar, Naruto ingin untuk tampil di konser ini bersamamu. Ia bilang, kau satu-satunya orang yang dapat menghangatkan hatinya. Ia ingin kau bermain di konser ini. Ini adalah kesempatan terbesarmu."
Hinata terdiam. Berusaha meresapi apa yang Itachi katakan. "Naruto-kun…"
.
.
.
Naruto duduk dengan gelisah di dalam taksi. Matanya tak lepas menatap keramian kota. Lelaki berumur tiga belas itu menhela nafas berat.
'Hinata-chan, maafkan aku,' bisiknya pada dirinya sendiri.
Tak disangka, taksi yang ia tumpangi melewati gedung tempat ia dan Hinata seharusnya konser. Naruto memandang gedung yang semakin terlihat kejauhan. Rasa bersalah menyelimuti hatinya. Paling tidak, ia harus mengucapkan salam perpisahan pada Hinata.
"Tolong berhenti sebentar!" perintah Naruto kepada supir taksi. Segera taksi itu menyingkir ke sisi kanan jalanan. Naruto berlari sekuat tenaga menuju gedung yang terletak di sisi kiri. Dari kejauhan, iris safirnya mampu menangkap sosok Hinata yag sedang beradu mulut dengan Itachi, kakak Sasuke.
Naruto hendak memanggil nama Hinata sebelum akhirnya seseorang menghalangi pandangannya. Orang dengan iris tajam itu.
"Cepat kembali ke taksimu. Apa kau ingin ketinggalan pesawat?" tanya orang itu dingin.
"Aku hanya ingin mengucapkan salam perpisahan pada Hinata. Tidak lebih," bantah Naruto. "Minggirlah, Teme."
"Kau harus segera pergi!" Sasuke bersikeras.
"Kenapa? Kenapa kau selalu menghalangiku bertemu Hinata?" tanya Naruto sengit.
"Karena aku mencintainya!" teriak Sasuke. "Aku tidak ingin melihat orang lain bersanding dengan dirinya kecuali aku!"
Emosi Sasuke memuncak. Naruto juga tampak marah melihat reaksi Sasuke. "Hinata mencintaiku bukan kau!"
Mendengar keributan yang terjadi, Hinata menoleh cepat. Matanya menangkap sosok Naruto dan Sasuke yang tengah bertengkar. Kakinya melangkah cepat menghampiri keduanya. Jantungnya berdegup kencang. Akankah Naruto kemari untuk mengucapkan salam perpisahan pada dirinya?
"Na…" iris mata Hinata melebar.
DUG!
Hinata tak mampu mengucapkan satu patah kata pun. Diam membeku. Diiringi teriakan orang-orang yang semakin meramai.
"NARUTO-KUN!" teriak Hinata sembari menghampiri Naruto yang terbujur kaku di tengah jalanan.
Sasuke hanya memandang dari pinggir jalan. Matanya ikut menatap tak percaya. Ia tak menyangka, dorongan pelan yang ia berikan pada Naruto dapat berakibat burukseperti ini.
"Naruto-kun, bangunlah... aku mohon," isak Hinata.
Naruto menatap Hinata dengan sisa-sisa tenaganya. "Hi-Hinata-chan.."
Hinata terus terisak. Darah banyak mengalir keluar dan mulai menghiasi jalanan. Hinata tidak peduli jika gaun mahalnya akan ikut dinodai oleh cairan amis itu.
"A-aku i-ingin me-mengucapkan sa-salam p-perpisahan," ujar Naruto dengan nafas tersengal-sengal.
Hinata menggeleng. Ia tak mampu menerima kenyataan ini.
"Aishiteru.."
.
.
TBC
.
Author's Note:
Yo, Min'na ^^ ketebak kan plotnya gimana kira-kira hehehe… maaf kalau lama update. Banyak halangan hehehehe. Makasih buat semua yang udah me-review buat fic chapter I kemaren. Banyak yang minta dibikinin fic dengan pairing kesukaan mereka tapi gomen, Author belum bisa menuhin sekarang. Mungkin lain waktu ya. Semoga author bisa menuhin keinginan kalian. Terus baca kelanjutannya ^0^
