Magic Bunny

© Miss Hyuuga Hatake

Genre : Rommance, Humor

Rated : T

Hatake Kakashi x Haruno Sakura

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning : AU, OOC, abal, gaje, typos, dll

Disini Kakashi 18 th dan Sakura 16 th ^^

.

.

.

.

.

.Ino mengerutkan keningnya bingung. Saphire-nya mengawasi Sakura yang kini melangkah memasuki kelas dengan wajah pucat , juga sweater yang lengannya diikatkan pada lehernya. Hey, apa Sakura sedang sakit?

"Kau sakit, forehead?" tanya Ino saat Sakura sudah duduk di sampingnya. Gadis merah muda itu meliriknya sekilas, kemudian menggelengkan kepalanya dengan cepat. Kening Ino kembali berkerut, "lalu kau kenapa, huh? Kau terlihat, err—mencurigakan."

Sakura kembali melirik Ino, sebelum kemudian menghela napas pelan, "pig... sepertinya boneka itu tidak benar-benar mengabulkan permintaan."

Alis Ino terangkat mendengar perkataan temannya itu, "tidak benar-benar mengabulkan permintaan? Apa maksudmu, Sakura? Bukankah kemarin kau sudah lihat sendiri kalau boneka itu benar-benar mengabulkan permintaanmu, huh?"

"Masalahnya, pig—" Sakura menggigit bibirnya pelan, kemudian mendengus. "Aku mau menunjukkan sesuatu padamu, pig."

.

.

.

.

.

"Kenapa kau mengajakku kesini, forehead?" Ino mengerutkan kening bingung saat Sakura menyeretnya ke toilet. Sakura tak menjawab, hanya melepas sweater yang melilit lehernya, mencondongkan dadanya ke arah Ino, "lihat ini, pig."

Ino kembali mengerutkan keningnya bingung, "eh? Lihat apa?"

"Dadaku, pig... dadaku!" ujar Sakura sambil menunjuk-nunjuk dadanya. Ino menyipitkan matanya, menatap dada Sakura yang memang agak terlihat berbeda. "Err—ada yang berbeda, forehead..."

"Tentu saja ada!" seru Sakura tiba-tiba membuat Ino terlonjak kaget. Sakura menghela napas pelan dan menyandarkan tubuhnya pada wastafel dengan lesu, "dadaku rasanya semakin rata setelah aku meminta pada boneka itu untuk membuat dadaku sedikit lebih besar, pig..."

Mata Ino membulat sempurna, "kau meminta boneka ajaib itu untuk membuat dadamu lebih besar?" Sakura hanya mengangguk lemah sebagai jawaban. Ino menghela napas pelan. Apa yang harus dia lakukan sekarang untuk membantu Sakura? Rasanya, dia jadi ikut bingung.

"Err—lalu, untuk apa sweater ini?" tatapan Ino beralih pada sweater di tangan Sakura. Gadis merah muda itu melirik tangannya dengan wajah murung, "tentu saja untuk menutupi dadaku. Memalukan sekali rasanya kalau semua orang tahu kalau dadaku semakin rata."

Dua gadis itu terdiam, saat bel masuk berbunyi. Ino menatap Sakura yang kini kembali memasangkan sweaternya, menepuk bahu temannya itu sekali.

"Kita akan memikirkannya bersama-sama nanti."

.

.

.

.

.

"Oke. Jadi, kau meminta boneka itu untuk membuat dadamu menjadi lebih besar, begitu?" tanya Ino lirih saat istirahat, melirik sekitar, memastikan tidak ada yang mencuri dengar pembicaraan mereka. Sakura mengangguk pelan sebagai jawaban.

"Tapi kemudian, dadamu malah menjadi semakin rata, begitu?" tanya Ino lagi, dan Sakura kembali mengangguk sebagai jawaban. Ino mengerutkan keningnya, mengusap dagunya berpikir. "Mungkin, kau masih bisa membatalkan permintaanmu, Sakura?"

Sakura menatap Ino lesu, sebelum kemudian menggelengkan kepalanya, "aku sudah mencobanya berkali-kali tadi pagi, tapi tetap tidak bisa, pig... sepertinya boneka ini bisa mengabulkan permintaan, tapi tidak bisa membatalkan permintaan."

"Mungkin boneka ini butuh waktu untuk memproses pembatalan permintaanmu?" ujar Ino, membuat Sakura melayangkan tatapan tajam pada temannya itu. Ino meringis.

"Oi! Haruno!" panggilan itu membuat Sakura mendengus kesal. Yeah, tanpa menoleh pun Sakura tahu kalau yang memanggilnya itu Hatake Kakashi. Berdecak pelan, gadis merah muda itu melirik malas ke arah Kakashi yang kini melambai ke arahnya dengan mata menyipit.

"Kakashi-senpai memanggilmu." Goda Ino. Sakura menatap gadis pirang itu kesal, sebelum kemudian bangkit dan menghampiri Kakashi.

"Kau bisa membantuku lagi?"

.

.

.

.

.

Sakura melipat tangannya di depan dada, menatap kardus berukuran besar di depannya dengan alis berkedut. Kakashi mau menyuruhnya mengangkut kardus lagi, huh? Tsk, lama-lama Sakura jadi seperti kuli.

"Aku sudah meminta bantuan anak laki-laki, tapi mereka tidak ada yang bisa mengangkut kardus ini. Sepertinya isinya buku-buku yang sudah tidak dipakai lagi." Jelas Kakashi tanpa diminta. Sakura melirik pemuda itu tajam, "kalau anak laki-laki saja tidak bisa, apalagi aku?!"

Kakashi meringis, menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "kau 'kan kuat, Haruno... siapa tahu kau bisa mengangkut kardus itu. Coba saja dulu..."

Sakura mendengus pelan, kembali menatap kardus di depannya dan mencoba mengangkatnya, "bagaimana mungkin aku bisa mengangkat kardus in—whoa!" Sakura berseru kaget saat dengan mudahnya dia bisa mengangkat kardus itu. Sementara Kakashi yang berada di dekatnya cengo—agaknya dia tidak percaya gadis kurus seperti Sakura bisa mengangkat kardus yang bahkan lebih besar darinya.

"K-kau benar-benar bisa mengangkatnya, Haruno—"

.

.

.

.

.

Berita tentang kekuatan Sakura sudah menyebar ke seantero sekolah. Dari klub tinju bahkan pernah meminta bantuan Sakura untuk mengangkat samsak dan membawanya ke ruang klub tinju di lantai dua. Dan dengan ajaibnya, Sakura bisa mengangkat samsak itu sendirian! Sakura juga ditawari untuk ikut berbagai klub beladiri, mulai dari tinju, judo, karate, dan sebagainya.

"Kau benar-benar kuat Sakura... aku tidak menyangka kau sekuat itu." ujar Ino saat dia dan Sakura tengah berada di kelas saat istirahat. Sakura nyengir, menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "aku juga tidak tahu, pig... tapi—" menggantungkan kalimatnya, Sakura menunduk menatap dadanya sendiri, dan menghela napas pelan, "—rasanya dadaku semakin rata saja. Bahkan tubuhku jadi lebih mirip dengan tubuh pria."

"Apa ini mungkin karena boneka itu?" tanya Ino hati-hati. Sakura menatap temannya itu, kemudian menggeleng pelan, "entahlah, pig... aku tidak tahu." Dua gadis itu terdiam selama beberapa saat. Sebelum kemudian terdengar sebuah suara dari luar kelas mereka.

'oh, si Haruno itu, ya?' sontak Sakura menolehkan kepalanya saat mendengar namanya disebut. Gadis itu melihat beberapa siswa yang sepertinya kelas tiga.

'Dia kuat sekali! Dia bahkan bisa mengangkat kardus yang lebih besar darinya!' Sakura nyengir bangga, melirik Ino yang hanya mengedikkan bahunya.

'Dia memang kuat... tapi dadanya rata sekali! Hahaha!' wajah Sakura memerah menahan marah saat mendengarnya. Bagaimana tidak? Mereka mengejek dada Sakura! Gadis merah muda itu sudah mencakar siswa-siswa tidak tahu diri itu kalau saja Ino tidak menahan lengannya, menenangkan temannya itu.

'Tsk, kenapa kalian terus membicarakan gadis berdada rata yang sama sekali tidak menarik itu, hn? Lebih baik membicarakan yang seksi saja.'

Deg!—suara itu...

Sakura menoleh, menatap ke arah segerombolan siswa di depan kelasnya. Dan seperti dugaannya; pemuda berambut perak dengan masker putih ada diantara mereka. Dan pemuda itu baru saja mengatainya tidak menarik.

Ino yang duduk di depannya menghela napas pelan, menepuk lengan temannya itu berusaha menenangkan. Namun Sakura bergeming. Kemudian gadis itu bangkit dan berlari keluar dari kelas.

.

.

.

.

.

Dan disinilah Sakura, di atap sekolah, duduk dengan bersandar pada pagar pembatas. Gadis merah muda itu memejamkan matanya, menghela napas pelan. Dia tidak tahu kenapa mendadak dadanya terasa nyeri saat mendengar kata-kata Kakashi tadi. Bahkan pemuda itu mengatakannya tanpa merasa bersalah.

Sakura tahu dirinya sama sekali tidak menarik; berambut merah muda mencolok dengan tubuh kurus seperti lidi dan dada yang rata seperti dada laki-laki. Gadis itu mendengus pelan, mengambil boneka kelinci itu dari dalam sakunya, menatapnya dengan kesal.

"Ini semua gara-gara kau, dasar Magic Bunny bodoh!" Sakura berteriak kesal, melemparkan boneka itu sembarang kemudian menekuk lututnya dan menyilangkan tangannya diatas lutut, menunduk dalam-dalam hingga jidatnya yang lebar itu menyentuh lengannya.

"Dasar boneka bodoh! Kakashi bodoh!" Sakura menjerit kesal, kemudian terisak pelan.

Kalau Kakashi menganggapya tidak menarik, kenapa Kakashi selalu meminta bantuannya?—ah ya, tentu saja karena Sakura itu kuat. Saking kuatnya dia bahkan tidak seperti seorang wanita. Ditambah dadanya yang rata. Dan ini semua gara-gara boneka sialan bodoh itu. Seandainya Sakura tidak hal yang konyol seperti itu, seandainya Sakura tidak percaya dengan sihir itu, seandainya—

"Akhirnya aku menemukanmu." Suara itu membuat Sakura mendongak, menatap sepasang onyx yang balas menatapnya lekat. Gadis itu mendengus pelan, membuang muka dan menyeka air matanya. "Mau apa kau kemari?"

"Hey, kau menangis?" tanya Kakashi yang kini sudah mendudukkan diri di depan Sakura. Gadis itu melirik pemuda di depannya, sebelum kemudian mendengus kesal, "bukan urusanmu!"

"Tentu ini urusanku," Kakashi meraih dagu Sakura, memaksa gadis itu untuk menatapnya, "kau menangis karena aku 'kan?"

Emerald Sakura melebar, tapi cepat-cepat gadis itu menepis tangan Kakashi dan kembali memalingkan wajahnya, "kenapa aku harus menangis karena pemuda mesum menyebalkan sepertimu?!"

Kakashi menghela napas pelan, menyentuh lengan Sakura lembut, "gomen."

Sakura melirik Kakashi yang menatapnya lekat. Pemuda itu tampak bersungguh-sungguh dengan kata-katanya. Sakura menggigit bibirnya pelan, menunduk, "untuk apa?"

"Aku tahu kau mendengar kata-kataku tadi. Aku juga melihatmu berlari keluar dari kelas tadi." Sakura dapat merasakan Kakashi menyentuh sisa-sisa air mata di pipinya. Namun gadis itu tetap bergeming. "Kau tahu, aku mengatakannya karena telingaku panas mendengar pemuda-pemuda itu selalu membicarakanmu. Aku tidak suka mereka membicarakanmu seperti itu. Jadi lebih baik aku mengatakannya. Maaf ya, kalau kata-kataku menyakitimu."

Sakura tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Yang dia tahu, mendadak jantungnya berdegup dengan kencang dan wajahnya memanas. Perlahan, gadis itu mendongak, menatap Kakashi di depannya yang balas menatapnya lekat, membuat Sakura jadi salah tingkah sendiri.

Tiba-tiba pemuda itu mendekatkan wajahnya, berbisik, "aku menyukaimu, Sakura..."

Sakura tertegun selama beberapa saat, mencerna apa yang baru saja Kakashi lakukan. Kakashi menyukainya? Bahkan pemuda itu memanggilnya dengan nama kecilnya?

"A-aku—" Sakura tidak tahu apa yang harus dia katakan. Kakashi menyipitkan matanya tersenyum, kemudian menurunkan maskernya membuat Sakura menatapnya tak berkedip.

Ya Tuhan... Sakura tidak tahu kalau ada pemuda setampan ini di dunia—ah, bahkan mungkin kata 'tampan' tidak cukup untuk menggambarkan sosok pemuda di depannya itu. Bahkan, sesaat Sakura sempat berpikir kalau Kakashi adalah malaikat.

"Aku menyukaimu, Sakura..." Sakura menatap bibir tipis Kakashi yang bergerak saat mengatakannya. Kemudian tatapannya beralih pada sepasang onyx pemuda itu yang tengah menatapnya lekat.

"Aku juga..." hanya itu yang meluncur dari bibir Sakura, sebelum kemudian Kakashi menghapus jarak di antara mereka dengan sebuah ciuman lembut. Sakura memejamkan matanya, mencengkeram bagian depan seragam Kakashi saat pemuda itu melumat bibirnya lembut. Dua orang itu tengah hanyut dalam ciuman mereka, saling memagut. Hingga kemudian sebuah suara menginterupsi kegiatan mereka.

"Forehead! Sudah kuduga kau disini! Aku mencarimu dari ta—ups!" mata Ino membulat melihat dua orang itu berciuman. Mendengar suara cempreng khas milik Ino itu, Sakura segera mendorong tubuh Kakashi menjauh dengan gugup, "I-Ino pig..!"

Kakashi menaikkan kembali maskernya sebelum kemudian menoleh menatap Ino sembari mengusap tengkuknya gugup. Sementara Ino meringis, menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "gomen... aku tidak tahu kalau kalian sedang—yah, aku akan pergi sekarang." Gadis pirang itu berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Kakashi dan Sakura yang tampak salah tingkah dengan wajah memerah.

Sakura menggigit bibirnya gugup sembari menunduk. Tapi kemudian mata gadis itu membulat sempurna saat melihat dadanya yang kembali normal—walaupun masih rata, tapi setidaknya tidak serata setelah dia mengucapkan permohonannya pada magic bunny.

"Akhirnya dadaku kembali normal!" seru Sakura senang sembari menyentuh dadanya sendiri, mengabaikan Kakashi yang menatapnya bingung. Kemudian, pemuda itu mengulurkan tangannya dan mendaratkannya tepat di atas dada Sakura, mengerutkan kening, "apanya yang normal? Dadamu tetap rata."

Sakura membulatkan matanya, menatap tangan Kakashi yang bertengger di atas dadanya, sebelum kemudian melotot galak ke arah pemuda itu.

"KYA! DASAR MESUM!"

—seperti halnya putri salju yang terbangun setelah sang pangeran menciumnya. Dada Sakura kembali normal setelah Kakashi menciumnya.

.

.

End

.

.

Ah, akhirnya fic ini selesai juga~~ #tebarsandal

Tapi gomen kalau endingnya kayak gitu #bow

Special thanks to yang udah review~~~

Dan makasih yang udah nge-follow atau nge-fav cerita ini...

I Love You all #cium