Copyright © 2015 by Happyeolyoo

All rights reserved

.

.

Bad Oppa

Genre : Romance, Drama

Rate : T

Pairing : HunHan as Maincast.

Chapter : 2/7

Warning : Genderswitch. Miss typo(s).

Disclaimers : The cast is belonged to God, their parents, and their company. All text here is mine. Dilarang memproduksi atau memperbanyak seluruh maupun sebagian dari cerita ini dalam bentuk atau cara apapun tanpa izin dari penulis.

Summary : Kisah percintaan yang dimiliki Luhan terkesan sempurna. Dia dicintai sepenuh hati oleh Oh Sehun, kekasih yang enam tahun lebih tua darinya; begitu pula sebaiknya. Hubungan mereka berjalan mulus, nyaris tanpa cacat sehingga Luhan merasa terbuai. Namun berkat sebuah pesan chatting yang ditemukannya di ponsel Sehun, untuk yang pertama kali dalam dua tahun terakhir, kecurigaan muncul dan mengacaukan kepercayaan Luhan.

BGM : 겁이 나 by 릴리 M

Akhir minggu. Saat Sehun terbebas dari kerja lembur, Luhan sudah merengek agar ditemani pergi jalan-jalan ke mall. Awalnya Sehun sempat menolak dengan melontarkan alasan bahwa dia capek setengah mati. Tapi karena Luhan terus memaksa sambil melakukan aegyo, akhirnya mereka berdua pergi ke Seoul Mall dan berakhir sambil menenteng beberapa goodie bag yang menyimpan barang-barang pilihan Sehun.

Selama dua jam berjalan-jalan menyusuri tiap lantai mall, Sehun mendapatkan beberapa barang yang menarik perhatiannya. Beberapa kemeja dan celana pullover, jeans santai, serta arloji yang dipilihkan Luhan. Sehun meluangkan lebih banyak waktu di butik yang memamerkan gaun-gaun edisi musim panas. Berkonsultasi sebentar dengan salah seorang karyawannya dan membeli pakaian yang dianggapnya cocok untuk Luhan.

Selama Oh Sehun bersikap bossy seperti itu, dia sama sekali tidak bisa dihentikan oleh siapapun. Kartu kreditnya digesek beberapa kali dan Sehun tampak tidak keberatan saat menerima struk pembayarannya.

Luhan yang diajak berkeliling mencari baju-baju baru, hanya diam. Sesekali menggeleng untuk mengutarakan ketidak setujuannya, dan sesekali mengangguk antusias sambil menggumam, "Kurasa ini oke."

Terlalu banyak goodie bag yang ditenteng oleh tangan Sehun, tapi yang paling sering mengeluh capek adalah Luhan. Gadis itu merengek minta dibelikan es krim dan sekarang mereka berakhir di sebuah kursi mall—tentu saja sambil makan es krim.

Keadaannya akan tetap menyenangkan selama Sehun bisa menahan hasratnya untuk tidak melirik cewek lain. Iya, cewek lain. Lebih tepatnya para cewek cantik berpakaian ketat yang kebetulan lewat. Luhan tahu jika Sehun sempat bermain mata dengan gadis-gadis yang suka menggoyangkan bokongnya untuk merayu cowok seksi.

Dan seketika itu pula, ingatakan mengenai Krystal kembali mengambang. Padahal Luhan sudah berusaha untuk melupakannya selama tiga hari ini. Tetapi karena saat ini dia mendapati sikap playboy Sehun, semuanya jadi teringat.

"Berhenti,"

Sehun mengerjap, menoleh menatap kekasihnya yang berhenti menjilati es krimnya yang mulai mencair. "Apa, Lu?"

Luhan membalas tatapan tanpa rasa bersalah yang coba dilayangkan Sehun padanya. "Bisakah oppa berhenti melirik cewek lain saat oppa sedang bersamaku?" tanyanya sambil menyempitkan mata.

Ekspresi terkejut yang dilukis oleh Sehun sungguh kelihatan jelek. Sorot matanya melemah dan dia kelihatan seperti seorang penjahat yang ketahuan akan mencuri sebuah berlian. "Tunggu, kau mengira aku melirik cewek lain?"

Luhan mengalihkan pandangan, "Apakah aku tidak cukup?"

Sehun semakin tidak mengerti.

"Oppa menyebalkan," Luhan menggigit bibir. "Padahal aku bisa lebih seksi dari semua cewek-cewek itu."

Mendengar hal itu, tanpa diduga Sehun malah menyipitkan mata. Bibirnya berkerut aneh untuk menahan tawa. Namun akhirnya, tawanya yang cukup keras lepas juga dari mulutnya. "Yaampun, Lu. Kau cemburu?"

"Kenapa oppa selalu tertawa saat aku mengatakan hal seperti itu? Apa oppa menganggapku bayi?" Luhan mengepalkan tangan. Ada banyak sekali ingatan yang menyangkut-pautkan Krystal dan kalimat percakapan di SNS milik Sehun, berputar-putar membentur dinding pertahanannya. "Kenapa oppa selalu melirik cewek lain sedangkan ada aku?"

Gadis itu mulai menitikkan air mata dan beberapa orang ada yang memandang Sehun dengan tatapan penuh tuduhan karena sudah membuat cewek secantik Luhan mengeluarkan air mata. Pemuda itu segera membuang es krimnya, meraih es krim milik Luhan yang sudah mencair dan menetes-netes, ikut melemparkannya ke tempat sampah. Dia meraih sapu tangan kain yang selalu dibawanya di saku jeans, mengelap jemari Luhan yang lengket akibat terkena cairan es krim.

"Maaf," kata Sehun begitu lembut sehingga Luhan mampu diluluhkan dalam sekejap. "Aku janji tidak akan melakukannya lagi. Kau tahu, naluriku sebagai laki-laki terkadang memang sulit dikendalikan."

Dalam kesunyian batin Oh Sehun, akal sehatnya melukis seringai licik sambil bertepuk tangan angkuh. Bagus, pujinya.

"Kalau aku ada di sampingmu, seharusnya oppa bisa mengendalikannya," Luhan mengelap jejak air mata pada pipinya dengan sebelah tangannya yang bersih, mendeguk begitu memilukan saat Sehun masih mengelap jemarinya. "Aku tahu selama ini oppa sering melirik cewek lain."

Sehun terkejut (tentu saja). "Kenapa kau bisa mengira seperti itu?"

"Karena aku tahu!" Luhan membentak. "Berulang kali aku mengatakan jika aku juga wanita, tapi kenapa oppa tidak pernah memperlakukanku layaknya seorang wanita?"

"Kalau semisal aku tidak menganggapmu sebagai wanita, lalu kenapa aku mau menjadi kekasihmu?"

Luhan mendeguk lagi, merunduk dalam-dalam karena sebenarnya dia malu sebab menangis di depan umum. Sehun yang menyadari hal tersebut langsung memeluk Luhan, menyembunyikan wajah kekasihnya di balik dadanya.

Sialan. Sehun kelepasan sehingga bentakan itu terlontar mengagetkan kekasihnya.

"Jangan membebani pikiranmu dengan argumen-argumen seperti itu, Luhan. Yang ada, kau hanya akan berprasangka buruk padaku," kata Sehun, penuh nada-nada bijak khas orang dewasa. "Aku menganggapmu sebagai wanita dan aku mencintaimu. Soal aku yang melirik cewek lain, tolong maafkan aku, hm?"

Sebenarnya Luhan ingin memaki Sehun lebih banyak dan lebih kejam lagi. Tapi karena dia sudah dihinggapi rasa malu karena menyadari tingkahnya yang seperti anak kecil, Luhan memilih untuk mengangguk pelan. Marah di tempat umum bukanlah pilihan yang bagus.

"Jangan menangis dong. Semua orang mulai menyalahkanku," Sehun mengatakannya dengan nada penuh canda. "Cup-cup. Apa kau mau kucium di sini agar perasaanmu bisa lebih tenang?"

Luhan merona saat Sehun mulai mendekatkan bibir pada bibirnya. Mereka nyaris saja berciuman jika saja satu panggilan masuk tidak mampir ke nomor Sehun. Pemuda itu terkejut, meraih ponselnya demi melihat siapa si penelepon lancang yang telah merusak momen romantisnya bersama Luhan.

"Tunggu sebentar," Sehun beranjak dari duduknya, melangkah menjauh beberapa meter dan menerima telepon.

Telepon dari Krystal. Luhan tahu itu.

OoO

"Oppa, Krystal itu siapa?"

Luhan sempat melontarkan kalimat pertanyaan itu saat Sehun baru selesai makan siang di luar dengan Krystal. Sekretaris yang selalu bersiaga di depan ruangannya mengatakan jika Luhan sudah menunggu cukup lama di ruangannya, dan Sehun tentu saja terkejut. Luhan tidak menelepon jika dia akan kemari siang ini.

Tentu saja sekretarisnya yang bodoh mengatakan jika Sehun pergi makan siang dengan Krystal; karena memang begitulah keadaannya. Sehun tidak bisa memarahi sekretarisnya karena hal itu akan mencoreng imejnya sebagai atasan yang baik. Jadi, dia diam saja dan menjelaskan dengan sebaik mungkin pada Luhan.

Dengan mengatakan jika Krystal hanyalah teman kerja biasa yang kebetulan juga suka makan makanan yang sama di restoran langganan Sehun. Luhan tidak bertanya lagi, gadis itu diam saja sambil berbicara pada pikirannya sendiri. Sehun menganggap bahwa semuanya sudah selesai. Sepulang kerja nanti, dia akan membeli dua pak sushi udang kesukaan Luhan sebagai sogokan agar Luhan tidak merasa aneh.

"Sedang memikirkan apa, Sehun?" Seseorang bertanya, sambil menjatuhkan dua telapak tangannya di pundak lebar Sehun. Jemarinya yang lentik menari-nari menimbulkan alur ketukan teratur yang membuat Sehun geli setengah mati. Lalu, gadis itu melingkarkan lengannya yang sekurus ranting, memeluk Sehun dari belakang sehingga dagunya bertengger seperti burung di pundak Sehun. "Luhan?"

"Hm, begitulah," Sehun kelihatan kurang suka saat lidahnya bergerak mengucapkan jawaban tersebut. Dia menggenggam pergelangan tangan Krystal dan meremasnya lembut.

"Kapan sih kau memutuskan bocah itu?" Krystal mengerutkan bibir, menghela napas kasar agar Sehun tahu jika dirinya amat membenci gadis manja yang sekarang menjadi kekasih Sehun. "Katanya kau mencintaiku, tidak bisa berpaling dariku setelah kita putus dua tahun lalu."

"Ya, aku memang begitu," Sehun menarik tubuh lencir Krystal agar gadis itu menjatuhkan diri ke pangkuannya. Dengan begitu mudah, dia menangkap pinggul Krystal dan memegangnya penuh kelembutan. "Tunggulah sebentar lagi. Aku sedang menunggu waktu yang tepat."

"Tapi kapan?" Krystal makin cemberut. "Kapan, Oh Sehun?"

Sehun juga tidak tahu. Selama ini, dia memang memikirkan kapan waktu yang tepat untuk memutuskan hubungannya dengan Xi Luhan. Cerita cintanya yang sekarang memang terkesan lebih rumit.

Krystal Jung adalah kekasihnya sekitar dua tahun lalu. Mereka putus karena Krystal ketahuan punya affair dengan cowok bule yang dikenalnya sewaktu gadis itu liburan di kampung halamannya di California. Dan beberapa bulan berpisah dengan Krystal, tiba-tiba dia bertemu dengan Luhan, yang waktu itu masih menjadi siswi sekolah menengah atas, yang dianggapnya mampu memalingkan dunianya dari Krystal.

Sehun pikir, waktu itu dia jatuh cinta. Dan karena argumen itu, akhirnya dia mulai meluncurkan aksi pendekatannya. Semua berjalan dengan mulus, Sehun berhasil memikat Luhan dengan mudah dan mereka menikmati status berpacaran mereka. Kendati Sehun sempat merasakan kebahagiaan tatkala bersama Luhan, perasaannya pada Krystal tetap mudah digoyahkan.

Krystal tiba-tiba datang kembali kekehidupan Sehun, melamar kerja di perusahaan yang sama dengan Sehun. Dan semua affair yang melibatkan Oh Sehun dengan Krystal akhirnya dimulai.

"Ayolah, Sehun. Kau harus memutuskan Luhan secepat yang kau bisa. Tidak lucu kalau kita terus menyembunyikan hubungan kita," Krystal kian merajuk. "Aku juga ingin menggandeng tanganmu saat kita pergi makan siang bersama. Aku juga ingin kita pergi kencan seperti dulu."

"Sebentar lagi, Krys. Kau harus menunggu sedikit lebih lama," Sehun mencoba membela diri. "Sulit sekali menentukan waktu yang tepat."

"Sepertinya kau lebih mementingkan hubunganmu dengan Luhan daripada denganku."

"Bukan begitu, astaga," Sehun mencoba menenangkan Krystal, menyibak helai rambut Krystal yang berterbangan di sekitar pundaknya. "Luhan masih kecil dan aku harus menyusun kata-kata yang tepat untuk memutuskannya."

"Well, who's care?" Krystal menangkup rahang tegas Sehun, memandang lekat-lekat ke manik hitam kelam milik Sehun. "Putuskan Luhan atau kita tidak akan pernah bersama lagi."

Sehun makin terpojok dengan segala persepsi yang dilayangkan Krystal. "Hei, jangan memberiku pilihan yang sulit seperti itu, Sayang."

Krystal mengerjapkan kelopak matanya yang seindah mawar, bibirnya berkedut dan pada akhirnya melengkung melukis senyum sebab panggilan sayang yang dilayangkan Sehun sanggup membuatnya tersipu bahagia. "Kau selalu tahu bagaimana cara merayuku," katanya, memeluk leher Sehun dan menghujani bibir pemuda itu dengan kecupan ringan.

"Astaga, berhenti," kata Sehun sementara dua telapak tangannya yang besar bergerak menelusuri alur lekuk tubuh Krystal yang dibalut kemeja ketat. Kendati dia ingin menghentikan ciuman ini, bibirnya tetap saja terjulur ke depan, mencoba membalas dengan ritme yang lebih cepat sehingga menimbulkan suara kecipak. "Aku tidak mau ada seks di kantor, Krys."

"Oke, baiklah," Krystal menarik diri lalu terkikik anggun. "Nanti malam, oke?"

"Oke," Sehun mengial genit saat melihat Krystal berjalan menjauhi meja kerjanya, menghampiri pintu keluar sambil menggoyangkan pantatnya yang sintal. "Kau yang bawa kondom."

"Sialan," Krystal berbalik sebentar. "Kau mencintaiku tidak sih?"

"Apa hubungannya dengan kondom?"

"Jawab saja, Oh Sehun," Krystal mengaitkan dua lengannya di depan dada. "Kau mencintaiku, 'kan?"

Sehun tertegun selama beberapa saat, lalu pada akhirnya kepalanya mengangguk sambil menggumam tidak jelas. Krystal tampak puas dengan anggukan kepala yang dilayangkan Sehun, lalu dengan hati berbunga-bunga, dia keluar dari ruang kerja Sehun.

TBC

Perlahan namun pasti, aku akan buka rahasia Oh Sehun :") Ini bakal hurt buat para cewek. Well, dikhianati pasti menyakitkan, 'kan? Apalagi kalau kita cinta sama doi, tapi akhirnya dikhianati -_- kampret banget. Sorry malah curhat hehe tapi yang penting ini bakal happy end kok. Masak iya sih kasih yang sad ending wkwk

Waktu aku baca review kalian, sumpah rasanya seneng banget /hug satu-satu/ thanks alot udah mau baca dan review. Kalian bikin aku pengen cepet-cepet update :") nggak nyangka chap 1 bakal mendulang respon yang bagus. Well, aku tunggu review kalian lagi buat chap ini, ya. jangan sungkan-sungkan buat ngetik respon kalian—even you'll write something disgusting abt our sehun, well, its okay hahaha

Xoxo.