Cherry Lips
Pair : Chwe Hansol (Vernon) x Wen Junhui
Genres : Romance, Fluff
Rated : T
Enjoy~
.
.
Bibirmu itu persis buah ceri. Iya, buah ceri. Kau tahu, kan? Yang warnanya merah merekah, bagian bawahnya tebal dan ada lengkungan indah di bagian atasnya? Aku yakin, jika aku diperbolehkan untuk mencicipi bibir itu, rasanya juga pasti akan semanis buah ceri.
Hansol meneguk ludahnya setelah membaca deretan tulisan yang terpampang di layar komputer. Akhir-akhir ini Hansol memiliki hobi baru. Yaitu, selain menuliskan lirik rap, ia juga senang membaca cerita-cerita yang ditulis oleh para fans, atau orang-orang biasa menyebutnya dengan fanfiction.
Dari semua fanfiction yang pernah ia baca, fanfiction yang baru saja dibacanya kali ini adalah favoritnya, ehm, maksudnya yang paling menarik perhatiannya sejauh ini. Ia tertarik karena author yang menuliskan fanfiction tersebut seolah-olah dapat menggambarkan bagaimana bentuk bibir Jun dengan baik. Ya, fanfiction itu bercerita tentang Jun. Dan, dipasangkan dengan dirinya. Dan, mereka berciuman.
Tunggu dulu. Sebelum membayangkan dirinya berciuman dengan Hyung Chinanya itu, Hansol masih membayangkan, apa benar bibir Jun sama seperti buah ceri? Selama ini, ia tidak pernah menaruh perhatian lebih pada bibir para hyungnya.
"Hansol-ah! Hansol-ah! Hansol-ah!"
Hansol mendengar namanya dipanggil-panggil, diiringi dengan suara derap kaki yang berlarian mendekati kamarnya. Ia tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa gerangan yang telah memanggil-manggil namanya seperti bocah berumur lima tahun. Siapa lagi kalau bukan Wen Junhui. Tepat ketika sosok itu mendudukkan diri pada kursi di sebelahnya, Hansol telah berhasil mengganti halaman web fanfiction favoritnya pada tab yang lain.
"Lihat ini! Salah satu fans memberikan ini padaku. Kupikir ini sebuah mainan?" Seru Jun antusias.
Tanpa ada aba-aba dari otaknya, mata Hansol langsung tertuju pada bibir yang disebut-sebut persis dengan buah ceri itu. Menelitinya, mengamatinya lamat-lamat. Sampai sesuatu yang berbentuk seperti telur disodorkan oleh Jun tepat di depan matanya. Hansol tanpa sadar mendengus, ketika jarak pandangnya menjadi terganggu.
"Lihat iniii..." Kata Jun lagi, sambil menggerak-gerakkan benda itu dengan tidak sabaran.
Dengan merasa sedikit terpaksa, Hansol mulai mengalihkan perhatiaannya pada sesuatu berbentuk seperti telur yang disodorkan di hadapannya itu. "Ini namanya Tamagotchi." Kata Hansol kemudian, lantas menyambar benda itu dari tangan Jun untuk mengamatinya lebih jelas. "Kukira benda ini sudah punah. Sudah lama sekali aku tidak melihatnya."
"Tunjukkan aku bagaimana cara memainkannya!"
Alis mata Hansol yang tebal saling bertaut, bingung dengan kenyataan bahwa ada manusia di dunia ini yang tidak tahu cara memainkan Tamagotchi. Konsol game yang satu ini kan sangat terkenal di zamannya.
"Hyung tidak pernah memainkan ini sebelumnya? Ini adalah permainan favoritku sewaktu masih kecil." Hansol mengotak-atik benda oval di tangannya itu. Sedikit banyak, Hansol mulai lupa juga dengan cara pengoperasiannya. Sudah bertahun-tahun semenjak Tamagotchi miliknya dirusak oleh adik perempuannya, Hansol tidak pernah lagi memegang konsol game sejenis ini.
"Tidak." Kata Jun, disertai dengan gelengan. "Kau tahu kan, aku sudah menjadi aktor sejak masih kecil, jadi jadwal syutingku itu sangat padat. Mana sempat untuk bermain hal-hal seperti ini."
Hansol memutar bola matanya. "Aku juga aktor sejak masih kecil, tapi aku tidak ketinggalan zaman sepertimu."
Jun membalas gerutuan Hansol dengan tertawa renyah. "Oke, oke! Itu kan hanya masa lalu. Yang penting sekarang, kau ajari aku cara memainkannya!" Seru Jun, ketika Hansol masih juga sibuk dengan dunia Tamagotchinya sendiri.
"Sebentar, aku kan harus mengingatnya dulu."
Merasa bosan melihat tangan Hansol yang sejak tadi hanya menekan tombol yang sama, Jun mulai mengalihkan perhatiannya pada layar komputer di depan. Layar itu dipenuhi dengan tulisan-tulisan korea dengan background berwarna biru muda. Oh, itu adalah halaman web twitter. Jun menjadi tergugah untuk mengecek kicauan-kicauan yang kebanyakan berasal dari para fans mereka itu.
Jun fokus pada layar komputernya, sementara Hansol fokus pada Tamagotchi di tangannya dengan sesekali mencuri lirik pada bibir Jun yang komat-kamit melafalkan tulisan-tulisan yang ia baca. Oh, astaga! Sekarang Hansol mulai berpikir bahwa bibir Jun memang benar-benar terlihat seperti buah ceri. Mungkin jika ia diperbolehkan untuk mencicipi bibir itu, rasanya pasti akan...
Demi Bibel suci milik Jisoo hyung, Hansol tidak boleh memiliki pemikiran sekotor itu! Dengan cepat, Hansol menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Membuyarkan pikiran-pikiran aneh yang semakin mendistraksi fokusnya pada Tamagotchi.
"Eh? Yang ini artinya apa, ya?" Jun bergumam kebingungan, mendapati sebaris kaliamt dalam Bahasa Inggris yang tidak dimengertinya.
Fanbases giving out idv stuff and people are like "eh i don't want Jun's stuff".
"Oh." Jun mengklik tulisan Terjemahkan dari Inggris, yang tepat berada di bawah tulisan itu.
Dahi Jun mengkerut setelah tulisan lain yang diyakininya sebagai terjemahan dari tulisan tersebut, muncul setelahnya. Kumpulan kata-kata dalam hangul tersebut justru membuatnya semakin tidak mengerti. Jadi, ia mencoba untuk membacanya lagi pelan-pelan, mengulanginya lagi sampai beberapa kali, hingga samar-samar otaknya mulai mengerti maksud dari tulisan itu.
"Mereka tidak menyukai barang-barang yang berhubungan denganku?"
Hansol refleks menolehkan kepalanya, setelah mendengar gumaman Jun yang kali ini. Ia memandang wajah sedih Jun, memandang layar komputernya, dan kembali memandangi Jun. Duh, sejak kapan dadanya menjadi nyeri ketika melihat hyungnya itu bersedih? Sejak kapan ia mulai peduli dengan kesedihan Jun?
Mungkin semenjak dirinya mulai memutar otak untuk mencari sesuatu yang dapat mengalihkan Jun dari kesedihannya. Hansol memaksa otaknya untuk mencari pertanyaan apa yang paling tepat untuk merampas perhatian Jun.
"Hyung!" Jun menoleh. "Apa kau pernah berciuman sebelumnya?"
Oh, bagus sekali Hansol. Sekarang perhatian Jun sudah benar-benar hanya tertuju pada dongsaeng aneh di bawah umur yang bertanya tentang ciuman.
Hansol menekan bibirnya. Menyesali, dari sekalian banyak pertanyaan bagus yang seharusnya dapat ia tanyakan, mengapa justru pertanyaan semacam itu yang meluncur keluar. Salahkan bibir Jun yang terlihat semakin manis ketika mengerucut, membuat otaknya hanya dapat memikirkan tentang hal-hal kotor saja.
Namun, tidak disangka-sangka, bukannya melemparkan tatapan aneh seperti apa yang dibayangkan oleh Hansol, Jun justru tertawa heboh. "Kau bertanya soal ciuman? Tentu saja pernah. Aku ini ahlinya!" Aku Junhui, menepuk-nepukkan dadanya bangga.
Tanpa sadar Hansol menghela napasnya lega. "Apa benar? Memang, kapan hyung sempat melakukannya?" Tanya Hansol kemudian, lantas kembali mengotak-atik Tamagotchi yang sesaat sempat terabaikan.
"Tentu saja saat berpacaran." Kata Jun. "Kuberitahu, ya. Saat seusiamu, aku ini sudah berpacaran sebanyak tujuh kali... eh tidak, tidak... sepuluh kali! Dan setiap kali berpacaran, aku selalu mendapatkan ciuman paling tidak satu kali dari pacar-pacarku."
Hansol melirik Jun sekilas, lalu tersenyum miring. "Wow! Itu artinya, hyung sudah sangat berpengalaman, ya?" Ia meletakkan Tamagotchi, dengan monster kecil yang sedang tidur di dalamnya, ke atas meja. Dengan gerakan perlahan, Hansol memajukan badannya mendekati Jun. "Bisa hyung ajarkan aku caranya berciuman?" Bisik Hansol, ketika hidung mereka sudah hampir bertabrakan.
Tubuh Jun bergerak-gerak gelisah, ketika kedua lengan Hansol telah berada di kedua sisi kursinya, mengunci pergerakannya. "Ha-Hansol-ah.. k-kurasa..." Jun membasahi bibirnya. Bertambah gelisah saat menyadari mata Hansol hanya terpaku kepada bibirnya saja.
Detik berikutnya, Jun menyesali perbuatannya tersebut. Air liur justru menambah kesan mengkilap yang membuat bibirnya menjadi semakin mempesona.
"Hyung, kau tahu? Semakin kuamati, bibirmu semakin mirip dengan buah ceri. Membuatku semakin ingin mencicipi rasanya."
Jun buru-buru menutupi mulutnya dengan tangan. Hansol semakin memajukan tubuhnya, sementara Jun mencoba menghindar dengan membawa tubuhnya ke belakang. Sampai punggungnya menabrak punggungan kursi yang ia duduki, Jun tidak dapat melakukan apa-apa lagi selain memejamkan matanya dan pasrah.
Pasrah, bahkan ketika Hansol membawa tangannya ke samping, membuat akses menuju bibirnya menjadi lebih leluasa. Pasrah, bahkan ketika Hansol menyatukan kedua bibir mereka, memberikan kesan menggelitik yang aneh. Sungguh, rasanya seperti ada jutaan kupu-kupu yang memaksa keluar dari perutnya.
Terlebih ketika Hansol melumat bibirnya pelan. Kenyal dan manis, adalah hal yang melintas di pikiran Hansol untuk mendefinisikan bagaimana rasa dari bibir yang disebut-sebut persis dengan buah ceri itu. Harus Hansol akui, rasanya memang manis seperti buah ceri. Namun, author itu kekurangan satu hal. Selain manis, bibir ceri itu juga memabukkan.
Hansol melepaskan tautannya pelan-pelan, antara tidak rela, namun tidak tega juga karena Jun sudah bergerak-gerak gelisah, tanda dirinya membutuhkan pasokan oksigen. Jun terengah-engah. Ia membuka matanya perlahan untuk melihat Hansol yang kini sedang terkekeh di hadapannya.
"Apa ini reaksi dari seseorang yang ahli dalam berciuman?" Goda Hansol. Selama bercumbu tadi, tidak ada tanda-tanda dari seorang Jun yang mencoba untuk mendominasi. Yang ada hanya Hansol yang sibuk mencecap rasa manis di bibirnya.
Jun mengalihkan pandangannya ke samping. Ciuman tadi ternyata belum cukup untuk membuat dirinya kepanasan, karena sekarang ia dapat merasakan wajahnya seperti terbakar, semakin membuatnya memerah karena malu.
"Kau berbohong kan, hyung? Saat seusiaku kan, kau sudah menjadi trainee. Bagaimana mungkin kau memiliki waktu untuk berpacaran, apalagi sampai berciuman." Goda Hansol lagi, lantas kembali tertawa saat melihat Jun yang menutup matanya rapat-rapat. Sudah tidak sanggup lagi menahan malunya.
Wajah Jun memerah, telinganya juga memerah. Bibir ceri itu apalagi, semakin memerah setelah Hansol melumatnya tadi. Sekarang Hansol jadi ingin merasakan bibir itu lagi. Mumpung posisi mereka masih mendukung, Hansol segera menempelkan kembali bibirnya pada bibir ceri itu, untuk merasakannya lagi. Dan, satu kali atau dua kali lagi jika Jun mengizinkan. Atau tiga kali juga lebih bagus.
Hansol sudah bilang kan, bahwa bibir itu memabukkan?
.
.
"Hyung, sebenarnya, jika kau menerjemahkan kalimat itu dengan cara seperti ini, terjemahannya tidak akan sesuai."
Saat itu, Jun kembali menatap layar komputer dengan wajah sedih dan Hansol mencoba untuk menghiburnya.
"Aku tahu, tapi intinya kan sama saja. Orang-orang itu tidak mau menerima barang yang berhubungan denganku." Kata Jun sedih.
"Bukan begitu, kok. Terjemahan itu salah! Hyung mau tahu apa arti kalimat itu yang benarnya?"
Jun menoleh. "Apa?"
"Katanya, aku sangat menyukai bibir Jun yang terasa seperti ceri." Dan, Hansol tertawa setelahnya.
Setelah berhasil membuat Jun ternganga untuk beberapa detik, bule tengil itu pantas untuk mendapatkan cubitan oleh Jun di perutnya. Mentang-mentang kemampuan berbahasa Inggris Jun tidak begitu bagus, bukan berarti dirinya dapat dibohongi dengan candaan semacam itu. "Jangan bercanda, Hansol-ah!" Seru Jun.
Hansol masih tertawa sambil memegangi perutnya. "Sungguh!" Balasnya. Lalu, dalam hitungan detik, dirinya telah kembali mengurung Jun di kursi yang ia duduki. "Aku ingin mengecap rasa manisnya lagi. Boleh, ya?"
Jun meronta-ronta di tempatnya, yang benar-benar hanya memiliki sedikit sekali ruang untuk bergerak. "Tidak boleh! Bibirku sudah sebengkak ini, jangan membuatnya menjadi lebih dower lagi!" Rengeknya.
Namun, Hansol tidak mengindahkan penolakan itu. Tidak ada yang dapat menghalangi keinginannya untuk merasakan rasa manis nan memabukkan dari bibir ceri itu. Tidak peduli Jun yang masih meronta bahkan ketika bibir mereka telah saling menempel. Toh, Jun juga akan menikmatinya, setelah Hansol berhasil membuatnya melayang dalam lumatannya.
-End-
Here, it is! Meme squad, special for ya all! Hehe :3
Maafkan aku yang telah membuat Hansol menjadi semesum ini, ya. Hope you guys like it!
Last, review juseyooo :3
