Chapter Sebelumnya – Perang dengan armada Vargoba berpindah ke Stasiun Sunnova karena Stealthbot tidak jadi dibawa ke TAPOPS, menyelamatkan BoBoiBoy dan kawan-kawannya dari serangan Vargoba. Di zona perang, Kaizo berupaya mengalahkan Vargoba sendirian namun ia kalah telak.
.
.
Episode 23
Ancaman Armada Bag. 2
.
Chapter II : Suara-Suara Berbisik
.
.
Kapal Angkasa Kapten Besar Vargoba
Tubuhnya sulit digerakkan.
Kaizo merasa jika ada tumpukan logam-logam kapal angkasa yang menimbunnya. Ia juga merasa ada beberapa lembing menusuk tubuhnya. Paru-parunya menjerit meminta udara lebih, lambungnya seperti habis dikoyak-koyak dengan benda tumpul. Darah yang hangat dan bau amis menganggu pernafasannya dan membuat kulitnya lengket saat mengental, tapi itu perkara sepele.
Sekarang semua saraf di tubuhnya berteriak-teriak memperingatkan kesadarannya kalau ia terluka parah, namun Kaizo bisa menulikan kecerewetan mereka. Dia pernah selamat dari luka-luka seperti ini dan ia harus segera bangun, bukan bermalas-malasan.
Ia tahu tubuhnya berada pada shock mode. Pendarahan internal terjadi dengan kecepatan yang cukup mengkhawatirkan. Kepalanya mulai terasa ringan, tapi ia bisa bertahan. Ia hanya harus membuka matanya dan mengumpulkan tenaga—masalah semangat untuk hidup, ia tak pernah kehabisan itu. Ia hanya harus membuka matanya dan berbuat sesuatu.
Matanya terbuka perlahan dan ia mengangkat tangan kanannya yang terasa agak berat. Jam kuasanya masih berfungsi dengan baik, maka Kaizo dengan jari gemetar menekan layarnya. Tampak tulisan "transmisi dihubungkan" dan tak lama kemudian wajah Laksamana Tarung muncul.
"Kapten Kaizo! Ternyata kau masih hidup," ujar Laksamana. Ia sedang berlari. "Aku tengah mengejar Vargoba, ia berhasil masuk ke Sunnova."
"Itu merepotkan," komentar Kaizo, nafasnya tersengal. "Aku akan segera ke sana."
"Jangan. Aku sudah mengirim medis ke tempatmu, biar aku tangani Vargoba," kata Laksamana Tarung. Komunikasi terputus. Kaizo pikir tampaknya Laksamana Tarung terlalu senang akan bertarung lagi dengan musuh bebuyutannya. Meski begitu ia agak lega karena di pihak mereka ada Laksamana Tarung yang bisa mengimbangi Kapten Vargoba dan mungkin menyelamatkan Sunnova dari bajak angkasa. Kaizo hanya perlu keluar dari timbunan besi-besi dan logam yang beratnya ratusan kilogram ini.
Agak sulit ia menarik dirinya dari timbunan logam-logam besar tersebut. Kaizo pikir kedua kakinya sepertinya sudah remuk dan takkan bisa diselamatkan.
Dengan menggunakan kedua tangannya, Kaizo menyeret tubuhnya keluar dari reruntuhan. Rasa perih dan sakit luar biasa tiba-tiba menyerangnya, ia mengigit lidahnya agar tidak berteriak. Dia tentara. Bukan kadet cengeng. Kaizo melihat ke belakang dan benar saja, kedua kakinya sudah hancur akibat serangan Vargoba tadi. Kaizo mengepalkan tangannya.
Ia tahu klan-nya adalah klan yang berumur panjang dan berdaya tahan tubuh kuat. Anggota klan mereka itu terlalu keras kepala untuk menyerah dan mati. Kaizo akan malu bertemu dengan nenek moyangnya karena ia mati di usia muda.
Kaizo kemudian berhasil melepaskan diri dan berupaya duduk meski sulit. Kakinya sudah remuk parah dan tubuhnya sudah melemah karena ditembusi beberapa logam tumpul. Ia kemudian berhasil duduk menyandarkan diri, nafasnya mulai terputus-putus. Ia pikir paru-parunya sudah robek akibat lukanya dan sulit mengembang untuk menarik oksigen.
Dengan mata sayu, Kaizo melirik jam kuasanya. Sekarang topeng pengendali kuasa energinya sudah hancur akibat Vargoba, menyebabkan kuasa Kaizo menjadi tak terkendali—dan itu mengejutkannya. Kenapa kuasanya tak terkendali? Kenapa ia harus bergantung pada topengnya agar ia bisa menumpukan kuasanya? Sesaat sebelum kuasanya melakukan anomali itu, terjadi hal tak biasa pada tubuhnya—ia seolah bisa merasakan semuanya. Merasakan sekelilingnya. Seolah ia menyatu dengan semua atom dan partikel pada alam semestanya.
Dengan maksud menguji, Kaizo berusaha memanggil lagi kuasa energinya untuk membentuk wujud—tapi yang terjadi malah bola energi terlalu besar berwarna jingga-keperakan, bukan biru terang. Bola energi itu hampir meledak di dekat Kaizo tapi berhasil ia kendalikan.
Kenapa...?
Tiba-tiba ia teringat masa bersama ayahnya dahulu. Kaizo saat itu berumur 9 tahun dan baru saja mereka pulang dari rumah sakit saat ibunya melahirkan Fang. Ayahnya mengajak Kaizo masuk ke suatu ruang rahasia dalam rumah mereka—Kaizo saat itu terkejut mereka ada ruang rahasia.
Ayahnya memindai kelima jarinya, mata dan wajahnya. Akhirnya pintu brankas besar berlogam kuat itu terbuka, memperlihatkan sebuah ruangan steril. Dari sana Kaizo baru tahu mereka mengamankan sebuah power sphera Enerbot dan ayahnya adalah petarung yang handal. Enerbot diwariskan dari generasi ke generasi dan ayahnya ingin mendidik Kaizo agar menjadi penjaga Enerbot kelak.
"Enerbot ini bisa sangat berbahaya," kata ayahnya. "Kau tahu kenapa?"
"Semua power sphera bila disalahgunakan akan berbahaya," jawab Kaizo sambil menatap ayahnya dengan matanya yang bulat. Ayahnya hanya tersenyum sambil menepuk kepalanya.
"Benar sekali, Kaizo. Sayangnya Enerbot ini agak istimewa sedikit," ujar ayahnya. "Enerbot jika lepas kendali akan bisa meledakkan apa saja yang disekitarnya. Kau tahu jawabannya?"
'Ayah seperti guruku di sekolah saja, selalu memberiku pertanyaan," jawab Kaizo, tersenyum tipis. Ayahnya balas tersenyum.
"Aku sedang mengujimu apakah kau suka memakai otakmu atau tidak."
"Tentu saja aku pakai! Ayah kemana saja saat pembagian laporan akhir tahun?"
'Aku selalu sibuk, maaf ya," jawab ayahnya sambil tersenyum sedih. Wajah Kaizo langsung muram mendengar kearah mana percakapan ringan mereka.
"Tak apa bila Ayah tak pernah datang. Ibu bisa cerita semuanya," ujar Kaizo. Anak itu kemudian mengalihkan pembicaraan. "Jadi, mengapa Enerbot bisa meledakkan apa saja di sekitarnya? Itu 'kan hanya manipulasi energi?"
Ayahnya menatap Enerbot yang tampak dari kaca tebal brankas steril tersebut. Benda kecil seukuran kepalan tangan yang bisa menghancurkan dengan daya hancur yang masif dan menakutkan. Benda kecil yang membuatnya kerap terjaga malam hari dan tak bisa hidup tenang.
"Kaizo, Enerbot memang manipulasi energi. Tapi energi ada dimana saja. Energi itu kekal. Enerbot bisa memanfaatkan seluruh energi di lingkungannya, ia dianggap sebagai power sphera sangat berbahaya bila tak terkendali," kata ayahnya. Ia lalu menoleh ke arah anaknya. "Aku kenal Laksamana Maskmana, pahlawan yang memakai topeng. Aku pikir Enerbot akan lebih mudah dikendalikan bila memakai metode topeng miliknya. Mungkin suatu saat nanti aku akan mengenalkanmu padanya."
Sayangnya Kaizo tak pernah dikenalkan oleh Laksamana Maskmana oleh ayahnya, tapi mereka bertemu saat situasi mengerikan dimana ayah dan ibunya harus mati demi benda kecil itu. Kaizo ingat wajah sembab Fang dan dirinya ketika mereka menangis tersedu-sedu di pemakaman orang tua mereka. Semenjak hari itu, Kaizo ingin menjadi pasukan khusus penyelamat power sphera. Mungkin ia akan mengajak Fang juga karena ia tahu Fang juga memiliki hutang yang ingin ia tagih pada semesta. Ia mau adiknya bisa menjaga diri, bukan anak kecil yang selalu berteriak memanggil abangnya saat dihinggapi bahaya, seperti Bora Ra hari itu.
Semenjak itu, Kaizo melihat kepolosan adiknya memudar, seperti darah yang dibasuh air mengalir. Fang sekarang selalu menatap semua orang dengan mata yang sendu. Bagi Fang, hatinya adalah penjaranya. Kesunyian seolah jemari bercakar runcing yang dengan erat meremas jantung-jantung mereka, tapi kebersamaan dan kepercayaan seperti ide yang terlalu muluk rasanya. Rumah sudah tiada, pergi bersama dengan asap yang membumbung ke langit.
Memutus ke arah mana pikirannya akan berlabuh, Kaizo menatap lagi jam kuasanya yang berlumur darahnya sendiri. Fokus sekarang, bukan membolak-balik album masa lalu.
Kaizo ingat dahulu ketika melawan Bora Ra ia memakai Enerbot tanpa topeng dan hasilnya memang tak begitu baik karena saat itu ia baru berumur 12 tahun. Sekarang jika ia menggunakan Enerbot tanpa topengnya, Enerbot akan bereaksi berbeda juga karena tuannya bukan lagi anak kecil dengan emosi meletup-letup. Tapi patut ia coba. Tak mungkin ia diam saja di sini dan menunggu ajal.
"Kaizo!"
Kaizo tersentak dari pikirannya, ia menoleh saat mendengar suara yang sangat familiar.
"Kaizo, astaga, dungu sekali kau ini," ujar Ramenman, marah. Ia datang bersama dokter militer TAPOPS, seorang perempuan alien. "Mohon rawat si kapten pandai ini, aku mau ketuk kepalanya kalau ia sudah sembuh."
Kaizo menepis tangan si dokter itu. Sang dokter mundur.
"Tak perlu," ujar Kaizo, mulai gerah. "Sedang apa kau ke sini? Seharusnya kau jaga sayap Utara! Untuk apa aku menyusup masuk ke kapal Vargoba dan diam-diam berusaha sabotase kalau kau juga ada di sini? Kita sudah kekurangan personel dan aku sengaja meninggalkan mereka padamu!"
"Ugh, Kaizo semua pasukan Vargoba sudah ada di Sunnova—"
"Dan kau malah di sini bukan membantu mereka," sambar Kaizo.
"Kaizo," ujar Ramenman. Ia lalu menghembuskan nafas, berusaha bersabar. "Aku diperintahkan kemari oleh Laksamana Tarung untuk menjemputmu dan membawamu ke ruang perawatan..." ujaran Ramenman berhenti saat ia memperhatikan baik-baik kedua kaki Kaizo yang sudah hancur. Kaizo paham ke arah mana pikiran kenalannya itu.
"Tak perlu, aku bisa memakai Enerbot agar pulih lagi," gerutu Kaizo. Ramenman mengerutkan alis.
"Bagaimana caranya?"
Kaizo menyeringai.
.
.
.
Stasiun Sunnova
Laksamana Tarung dengan sarung Bearimau miliknya berlari tanpa henti sambil menyerang para prajurit bajak angkasa dengan mudah. Di samping Laksamana Tarung, ada beberapa prajurit TAPOPS dan Tempur-A ikut serta memerangi pasukan Vargoba. Keributan dan kekacauan terjadi dimana-mana, korban yang mati dan terluka bergelimpangan dan bau terbakar tercium keras di setiap sudut.
"Kalian terus bertarung di sini, aku akan cari Vargoba!" teriak Laksamana Tarung pada seorang kapten perempuan.
"Baik Laksamana!"
Laksamana Tarung menerobos terus ke jantung Sunnova tempat Stealthbot diamankan bersama Bellbot. Ia mengkhawatirkan dimana Nut serta rekan satu timnya, mengingat mereka yang mengamankan Stealthbot. Vargoba pasti mencari dimana power sphera itu dan membunuh siapapun yang menghalanginya. Laksamana Tarung khawatir tim teknologi TAPOPS akan dibunuh oleh Vargoba, mereka adalah aset berharga bagi kesatuan ini—di samping itu, sang laksamana juga sudah cukup dekat dengan mereka.
Tiba-tiba terdengar suara sangat nyaring—seperti dua tiang besi raksasa dipukulkan bersamaan. Laksamana Tarung langsung mempercepat laju larinya. Sepanjang jalur larinya, pasukan bajak angkasa semakin banyak ia temui dan ia habisi, itu berarti ia berada pada jalur yang benar untuk bertemu dengan Vargoba. Benar saja, dari kejauhan ia melihat Vargoba sudah berhasil mendobrak pintu besar ruang pengamanan Stealthbot dengan kuasa magnetnya.
Dari dalam ruang pengamanan, tampak Nut dan rekan-rekannya ketakutan sambil memegang senjata apa adanya. Stealthbot dan Bellbot tampak berada di belakang Nut dan timnya, dalam satu kapsul transparan.
Melihat Stealthbot itu, Vargoba langsung berteriak senang sekaligus marah.
"Pencuri! Mari sini Stealthbot-ku!" seru Vargoba sambil mengeluarkan kuasanya. Kapsul steril berisi Stealthbot dan Bellbot itu segera tercabut dari dindingnya dan terbang cepat ke arah Vargoba. Vargoba menangkap kapsul tersebut dengan seringaian puas. Matanya nyalang ke arah Nut dan rekan-rekannya.
"TAPOPS akan mendapat balasannya—"
Sebuah terjangan kuat menghantam sisi tubuh Vargoba. Vargoba yang tak sadar ada serangan langsung terlempar dan menabrak dinding besi hingga hancur. Kapsul berisi Stealthbot dan Bellbot terjatuh, terlepas dari pegangannya. Vargoba segera bangkit dan mencari siapa penyerangnya.
"Akhirnya, setelah sekian lama aku memburu kau," ujar Laksamana Tarung. Wajahnya memang tampak mengintimidasi, hanya kostumnya saja seperti badut ulang tahun. Vargoba kenal sekali dengan kuasa berupa konyol tapi sangat berbahaya itu.
"Hrgghh," geram Vargoba. "Rumor mengatakan kau sudah hilang lama sekali. Tak kusangka kau kembali bergabung dengan TAPOPS."
Laksamana Tarung segera menyingkirkan kapsul Stealthbot dan Bellbot agar Vargoba tak bisa mengambilnya. Ia kemudian berkata.
"Kau takkan mendapatkan lagi dua power sphera ini dan kali ini akan kupastikan kau menerima hukuman mati di pengadilan."
Vargoba menggeram marah, ia kemudian mengangkat kedua tangannya. Laksamana Tarung langsung bersiaga.
"KUASA TARIKAN MAGNET!"
Semua logam konduktor segera tercabut dari dinding-dinding dan dilemparkan ke arah Laksamana Tarung. Tapi alih-alih dihindari, Laksamana Tarung dengan brutalnya menghancurkan setiap potongan besi yang menyerangnya, sang laksamana kemudian berderap menuju Vargoba dan menghantamkan tinjunya. Vargoba menahan tinju itu dengan tangannya, Laksamana Tarung lantas melayangkan tinju kirinya dan mengenai sisi kepala Vargoba hingga gadingnya patah. Vargoba jatuh tersungkur, Laksamana Tarung kemudian menendang sisi tubuh Vargoba dengan brutal hingga kapten besar itu terlontar dan menabrak dinding dekat pintu keluar.
Sementara itu, Nut dan timnya ketakutan langsung lari berlindung di balik dinding besi, sambil berdoa—mereka tak bisa lari keluar karena Vargoba sengaja berdiri di pintu.
Sambil mengelap darah di ujung bibirnya, Vargoba menahan murka. Dia tahu kuasa-nya tidak berfungsi kepada Laksamana Tarung, maka daripada itu ia harus memikirkan cara lain. Mata birunya melirik ke arah kumpulan tikus-tikus kecil teknisi yang ketakutan, meringkuk berlindung di pojok ruangan. Tiba-tiba Vargoba menyadari mereka semua memakai lambang "T" pada seragam mereka, menandakan mereka dari TAPOPS. Vargoba menyeringai senang, ia bisa tahu dimana lokasi TAPOPS dari mereka, alih-alih balas dendam atas penghinaan yang dilakukan oleh para agen TAPOPS. Mereka harus membayar kelancangan mereka memasuki koloni perompak angkasa dan mengobrak-abrik seenaknya. Vargoba takkan lupa pada sesiapapun yang kurang ajar padanya.
Nut dan timnya tampak gemetar menyadari Vargoba memandang mereka dengan seringaian licik. Laksamana Tarung langsung paham dan waspada.
"Jangan kau sentuh mereka," ultimatum Laksamana Tarung.
Vargoba menyeringai licik. Ia sudah punya rencana sekarang. Tangan besarnya ia arahkan ke atas dan kemudian sinar kemerahan muncul—kuasanya kembali aktif namun Laksamana Tarung merasa tenaganya lebih besar. Ia kemudian bersiap.
"KUASA TARIKAN METAL!"
Sama seperti tadi, semua reruntuhan logam-logam konduktor yang ada di lantai dan di dinding mulai tertarik masuk ke dalam pusaran magnetnya. Logam-logam itu berputar sangat kencang seperti tornado raksasa—Laksamana Tarung waspada dan bersiap. Tiba-tiba tornado itu kemudian mengarah ke Nut dan timnya. Laksamana Tarung dengan sigap menghadang serangan Vargoba untuk melindungi Nut serta timnya.
Tornado itu akhirnya datang dengan huru-hara serangan yang cukup merepotkan Laksamana Tarung. Dengan cekatan ia menghajar tiap logam yang hendak menyerang Nut dan timnya—logam-logam itu banyak sekali terdiri dari pipa-pipa besi, lempengan-lempengan metal konduktor, alat-alat berat dan tiang-tiang penyangga Stasiun Sunnova. Begitu banyaknya logam-logam itu, Laksamana Tarung baru sadar Vargoba sudah tidak ada di hadapannya, tapi kapten licik itu sudah menangkap Nut selama ia lengah.
Vargoba tampak puas. Di tangan kirinya ia mencengkram bahu Nut dan di tangan kanannya ia menyandera tiga anggota tim teknisi yang lain. Laksamana Tarung marah.
"Berani kau kesini akan kupecahkan batok kepala mereka," ancam Vargoba.
"Lak-Laksamana," isak seorang tim teknisi, ketakutan.
"Memang pantas kau menjadi bajak angkasa, cocok dengan tabiatmu," ludah Laksamana Tarung.
"Oh, jangan berkata demikian sahabat lamaku," ejek Vargoba. "Jika mereka sangat berharga, nah aku kembalikan!"
Vargoba tiba-tiba melempar tiga orang teknisi di tangan kanannya. Laksamana Tarung dengan sigap menangkap ketiga teknisi itu, namun karena lengah, ia malah dihantam tenaga penuh oleh Vargoba. Laksamana Tarung terlontar jauh dan menabrak dinding besi hingga dinding itu berlubang dan menembus ke ruangan yang lain—saking kuatnya tenaga penuh Vargoba, Laksamana Tarung hingga menabrak dinding lapis kedua sampai hancur dan akhirnya ia terlempar ke angkasa bebas.
Akibat terciptanya lubang besar di dinding Sunnova, pasokan oksigen mulai menderu keluar menciptakan hisapan kuat ke arah angkasa lepas. Ketiga teknisi teman Nut ikut terhisap dan terlempar ke luar angkasa sambil menjerit-jerit ketakutan namun mereka akan menemui ajalnya di sana. Beberapa logam cukup berat ikut terhisap keluar juga, bersamaan dengan prajurit-prajurit Vargoba sendiri yang ikut terhempas keluar Sunnova. Vargoba sendiri cukup tangguh untuk tidak terpengaruh dengan hisapan kuat akibat melesaknya oksigen keluar angkasa itu. Kapsul besar beriisi Stealthbot dan Bellbot ikut juga terbang dan terhisap, namun berhasil Vargoba tangkap dengan kuasa magnetnya. Ia lalu tersenyum puas dan menoleh ke arah Nut yang masih ia cengkram di tangan kirinya.
"Nah, makhluk kerdil, kau bisa antarkan aku ke TAPOPS dan dapatkan semua power sphera," kata Vargoba, tenang. "Atau kau bisa tetap di sini dan melihat semua teman-temanmu aku habisi satu per satu sebelum kau kuhabisi. Pilih power sphera atau nyawa teman-temanmu?"
Nut menangis sedih, air matanya lenyap bersamaan dengan deru angin oksigen yang terus terkuras habis keluar lubang. Dengan hati berat, ia kemudian mengangguk perlahan.
"Baiklah, aku akan tunjukkan dimana TAPOPS..."
Tawa Vargoba terdengar menggelegar.
.
.
.
Stasiun TAPOPS
Boboiboy terjaga dan ia menoleh ke arah samping. Jam masih menunjukkan pukul 10.45 a.m, waktu bumi. Ochobot masih "tidur" di tempatnya, lampunya berkedip perlahan.
Dengan jantung berdegup kencang, remaja itu bangkit dan berjalan terseret-seret ke westafel. Kaus putih polosnya tampak agak lembab karena keringat, rambut cokelatnya berantakan karena tidur tak nyenyaknya. Ia bertumpu pada keramik dingin itu dan kemudian menatap ke cermin.
Cermin itu agak retak sedikit, membuat bayangan wajahnya menjadi dua. Dari bayangan itu, Boboiboy dapat melihat dua wajah yang sama namun ekspresi mereka berbeda. Satu adalah wajahnya sendiri, satu adalah wajah orang lain yang meminjam wajahnya. Wajah yang lain itu tampak menatapnya, seolah menunggu. Ia kenal raut itu—raut yang serupa dengan Halilintar namun penuh kesombongan daripada amarah layaknya Halilintar.
Boboiboy menghela nafas. Ia mulai gila dengan kuasanya ini, yang terkadang mengacau isi kepalanya. Terkadang ia seperti ingin membentak siapapun setelah berubah menjadi Halilintar. Terkadang ia seperti ingin tertawa sepuas hati setelah menjadi Angin atau Taufan. Terkadang ia menjadi sangat sensitif dan cermat setelah berubah menjadi Tanah. Ochobot berkata itu wajar selama Boboiboy terus ia pantau agar tidak menjadi hilang akal dan salah satu elemen menguasai pikirannya, atau malah merebut tubuhnya sendiri. Boboiboy merinding. Ia merasa tiba-tiba saja ketujuh persona kuasa elemental itu menggerayangi otak dan kesadarannya, hendak hidup juga dan hendak memiliki tubuh sendiri daripada terus "menumpang" pada manusia lemah.
Boboiboy beranjak dari westafel, bersiap hendak tidur lagi. Tiba-tiba ia merasa ada keberadaan yang sangat familiar namun sangat asing di belakangnya. Boboiboy berbalik dan ia terkejut mendapati dirinya sendiri di sana, namun sosok serupa dirinya itu memakai atribut elemen serba putih. Boboiboy pikir ini kuasa Cahaya yang selama ini ia kejar dan cari.
"Selalu ada harganya," kata Cahaya. Wajahnya mengeras, Boboiboy merasa ngeri melihat sosok asing memakai wajahnya sedingin itu.
"Harga apa?"
"Harga untuk kekuatan besar, bocah."
Setelah Cahaya mengatakan itu, muncul percikan kembang api membakar seluruh baju Cahaya. Dari bekas bakaran itu, Cahaya perlahan berubah menjadi Solar—elemen itu begitu terang, cemerlang dan memesona, menjanjikan hal-hal yang luar biasa. Boboiboy terkesima melihatnya, ia bisa merasakan kekuatan besar menguar panas dari tubuh Solar. Panasnya sebuah bintang Betelgeuse dan benderang melebihi matahari.
Solar menyeringai melihat ekspresi terkesima Boboiboy. Ia kemudian berjalan menghampirinya. Tangannya yang terbalut sarung menyentuh pipi Boboiboy—Boboiboy merasa telapak tangan Solar hangat, berdenyut panas di pipinya.
"Apa kau tahu apa harga kekuatan kami, kuasamu sendiri?" tanya Solar. Matanya yang keperakan memandang tajam ke arah manusia itu. Boboiboy mengggeleng.
"Apa harganya?"
"Penderitaanmu."
Boboiboy tersentak. Ia kemudian menepis tangan Solar dari pipinya. Solar tersenyum mengejek.
"Kau pikir kekuatan besar akan datang percuma? Semakin besar penderitaan dan rasa sakitmu, semakin besar pula kekuatannya," kata Solar. Boboiboy mundur ke belakang, menghindari Solar—namun ia tiba-tiba menabrak sesuatu. Lebih tepatnya seseorang. Boboiboy berbalik dan melihat elemen Halilintar yang tersenyum sinis.
"Kau pikir setelah memakai kekuatan kami, kami tidak akan menagihnya dan kau bisa seenaknya menyuruh-nyuruh kami melakukan semua perintahmu?" tanya Halilintar. Boboiboy menghindari elemen kilat merah itu, jantungnya berdegup kencang.
"A-apa mau kalian?"
"Mau kami?" tiba-tiba sebuah suara lain muncul. Boboiboy menoleh dan melihat Taufan di dekat tempat tidur, duduk dekat Gopal. "Apa ya mau kami?" tanya Taufan dengan senyum jahil.
"Kami mau tubuhmu!" jawab dua suara lain berbarengan. Boboiboy melihat Blaze dan Thorn berjalan mendekatinya, wajah-wajah kekanakan mereka tampak dingin. Boboiboy semakin ketakutan.
"Tubuhku? Kenapa kalian mau tubuhku?"
"Agar kita hidup kembali," jawab suara satunya. Boboiboy memalingkan kepalanya dan melihat Gempa serta Ice berjalan juga mendekatinya. "Kami sudah terlalu lama terkurung dalam jam kuasa terkutuk itu, kami sudah terlalu lama terkurung dalam Ochobot," kata Gempa. Mata emasnya tampak berkilat-kilat marah.
"Kau memperbudak makhluk yang bernyawa, Boboiboy. Kau pendosa. Kau tidak sebaik yang kau sangka," kata Ice, matanya tampak seperti badai yang mengamuk—dingin dan ganas.
Ketujuh elemen itu kemudian berdiri mengelilingi Boboiboy, mengepungnya. Boboiboy tak pernah merasa setakut itu dalam hidupnya, ia berharap semuanya hanya halusinasi belaka. Boboiboy ingat Ochobot pernah berkata kalau 7 kuasa elemental berasal dari 7 power sphera yang berbeda-beda, itu menjelaskan kenapa setiap elemen memiliki sifat yang berbeda-beda juga seperti Angin yang periang dan Api yang kekanakan. Mungkinkan ketujuh power sphera itu disegel paksa ke dalam Ochobot? Apa tujuannya? Kenapa? Apakah mereka bertujuh benar-benar makhluk bernyawa yang disiksa?
"Lepaskan kami!" jerit Blaze dan Taufan. "Kau tak pantas!"
"Beraninya kau menikmati kebebasan tapi kau memenjarakan kami!" tuding Halilintar.
"Nama saja penyelamat bumi," cibir Solar.
"Eksploitasi, sama saja seperti Bora Ra dan penjahat lain," ujar Ice.
Riuh ramai suara-suara ketujuh elemen mengatakan hal-hal mengerikan tentang dirinya dan teman-temannya. Boboiboy kemudian memejamkan matanya erat-erat dan menutup telinganya rapat-rapat, berharap suara-suara mereka tidak mempengaruhinya. Ia tidak mau mendengar bagaimana Halilintar akan mencelakai Yaya dan Ying nanti, ia tak mau mendengar bagaimana Solar akan mencelakai Ochobot, ia tak mau mendengar—
"Boboiboy," panggil sebuah suara lain. Suara hangat itu tiba-tiba memecah semua suara-suara tujuh elemen tersebut. Boboiboy membuka mata dan melihat ketujuh sosok elemental sudah sirna, menghilang tanpa bekas digantikan sosok Tok Aba yang tersenyum ramah, berdiri di depannya.
"Cucuku sudah besar. Bangganya Atok memiliki cucu seperti ini," katanya. Tok Aba kemudian menepuk kepala Boboiboy dengan lembut, Boboiboy tiba-tiba merasakan rindu yang amat sangat pada kakek, bapak sekaligus penasihatnya ini.
"Atok," seru Boboiboy. Ia kemudian memeluk pria tua itu, kedamaian mulai menyerapi setiap kalbunya. Ia merasa aman, seperti berlindung di dalam rumah yang hangat ketika badai menerjang.
Tanpa sengaja, dari sisi matanya, Boboiboy menengok ke cermin dan melihat tujuh wajah-wajah asing dengan ekspresi mati. Ia merinding ngeri.
"Boboiboy, bangun! Bahaya!" teriak sebuah suara lain, mengejutkan remaja tersebut. Sontak Boboiboy membuka matanya dan baru menyadari kalau sejak tadi Ochobot mengguncang-guncang bahunya, berusaha membangunkannya. Rupanya hanya mimpi saja semua itu. Boboiboy terduduk di ranjangnya dengan lega. Syukurlah bukan kenyataan.
"Ada apa Ochobot, malam-malam begini?"
Ochobot tampak panik sekaligus takut. Ia kemudian mengutarakan sesuatu yang cukup mengerikan.
"Radar TAPOPS mendeteksi kedatangan kapal angkasa asing! Vargoba dan armadanya sudah tiba, Boboiboy!"
Tak lama kemudian terdengar suara ledakan besar menggetarkan dinding-dinding kamar mereka. Gopal sampai terbangun dan berteriak panik. Bunyi sirene alarm meraung-raung seperti prolog ke sebuah hukuman mati, bunyinya membuat seluruh darah dalam tubuh Boboiboy terasa beku. Mimpi buruk sesungguhnya telah tiba, dan kali ini ia takkan bisa terbangun.
Tiba-tiba Boboiboy mengingat nada sinis Solar dan berpikir betapa benarnya perkataannya.
.
.
Bersambung
.
.
Terimakasih kepada reviewer chapter lalu yaitu Shaby-chan – Fanlady – kurohimeNoir – Raisya Azzahra – Harukaze Kagura semua saran dan masukan sudah saya terima dan bagi kak Noir yang koreksi cara penulisan, terimakasih juga, dah saya perbaiki kok UwU maklum lagi teler micin abis ngetiknya tadi.
Silakan bila ada pertanyaan, kritik, saran, dan sebagainya! Sampai jumpa di chapter selanjutnya yang mudahan gak begitu lama hahaha
