Disclaimer : Tite Kubo ~ My Favorite Author
A/N : Ini merupakan seri kedua dari The Series of Songz.
Lagu yang jadi inspirasi kali ini adalah lagunya Justin Bieber, Pray.
Dengan tema: drama dan tokoh: Hinamori Momo.
Selamat menikmati!
But Warning : Abal, Typo (s), OOC, alur berantakan, dsb!
Pray
Hinamori Momo, gadis 14 tahun ini tinggal bersama sang ibu yang berperan sebagai single parent sejak 4 tahun yang lalu. Ayahnya, Gin, telah meninggal dunia dalam perang di Libanon. Ya, ayahnya merupakan tentara berani mati yang dikirimkan ke Libanon menjadi tentara sukarela. Setelah 6 bulan kepergian ayahnya ke Libanon itu, sang ibu pun menerima surat kematian Gin yang sungguh membuat wanita berambut orange itu menangis hingga jatuh pingsan. Hinamori yang saat itu masih berusia 10 tahun memang belum mengerti benar kesedihan yang ibunya rasakan. Di pemakaman sang ayah, Hinamori hanya menunjukkan rawut wajah kebingungan melihat orang-orang di sekitarnya menangisi ayahnya yang sedang tertidur. Tapi sekarang berbeda, 14 tahun sudah cukup membuat Hinamori semakin dewasa. Ia sudah bisa menerima kepergian sang ayahnya dan kondisi tanpa ayah ini membuatnya menjadi gadis yang tegar.
Di SMP Karakura, kelas 2-1.
"Hinamori, kau tahu? Bu Nanao keguguran lagi. Kasihan sekali! Aku dengar ini sudah ketiga kalinya Bu Nanao keguguran." Chizuru memberitakan kabar duka itu pada kedua temannya.
"Iya, iya. Kasihan sekali. Padahal janinnya sudah 7 bulan. Kok bisa gitu ya?" Michiru berkomentar. Gadis berambut coklat itu mengangguk-angguk kecil pada Hinamori dan Chizuru.
"Hmm, keguguran ya. Sudah banyak sekali kasus seperti itu. Aku prihatin. Lihat ini, Koran saja sampai meliput gejala keguguran di ibukota." Hinamori yang sudah hobi membaca koran menunjukkan pojok peristiwa kesukaannya pada kedua temannya itu.
"Wah, kau ini, Hinamori! Masa kau sampai membawa koran ke sekolah sih?" kedua temannya itu heran dan menertawai gejala aneh temannya itu.
Sampai tengah hari, akhirnya Hinamori meninggalkan sekolahnya dan bergegas pulang kembali ke rumah. Kali ini, ia pulang sendiri. Chizuru dan Michiru sedang ikut kegiatan ekstra 'kecantikan' yang menurut Hinamori sangat membosankan. Di pintu gerbang sekolah, tiba-tiba, Keigo Asano menabraknya dari belakang.
"Hey, hati-hati dong!" tegur Hinamori pada laki-laki aneh di sampingnya itu.
"M..ma..af.. Aku buru-buru. Nenekku sekarat. Jantungnya kambuh. Aku harus segera pulang," katanya dengan nafas yang tak terkendali. Tanpa menunggu balasan dari Hinamori, Keigo langsung 'tancap gas' berlari sekencangnya.
"Hey, Keigo, hati-hati!"
Berjalan setengah jam, akhirnya Hinamori tiba di rumah mungilnya. Dari halaman depan, ia dapat melihat ibunya di dapur mempersiapkan makanan.
"Momo, kau sudah pulang? Mau makan?" tanya Rangiku, sang ibu pada anak semata wayangnya itu.
"Iya, bu. Hmm, apa makan siang kita siang ini?" tanya Hinamori dengan nada semangat.
"Aha, ini dia, omelet spesial." sang ibu meletakan dua piring omelet yang baru saja dipanaskannya.
"Ah, ibu. Tadi pagi kan kita sudah makan omelet. Ya. tepatnya dari dua hari yang lalu. Aku bosan. Ibu tak bisa masak yang lain?" keluh Hinamori pada sang ibu. Ia mengekspresikan keluhannya itu dengan melipat tangan dan memasang tampang cemberut.
"Momo, kau harus bisa menerimanya. Nanti sore ibu akan buat nasi goreng omelet untukmu, ya?"
"Huh," hanya itu yang terdengar. Setelahnya mereka langsung menyantap omelet hangat yang sedari tadi telah menatap mereka. Dan dari meja makan mereka menyalakan TV dan menonton channel berita.
'Tentara kembali menjadi korban perang. 20 orang tentara meninggal akibat bom rakitan yang sengaja dibuat untuk…' sang ibu langsung mengganti ke channel berita lainnya.
'Kelaparan di Afrika menewaskan 200 penduduk yang sebagian besar adalah anak dibawah umur 16 tahun. Diperkirakan angka kematian tahun ini akan terus bertambah…' dan sang ibu kembali mengganti ke channel berita yang lain.
'Bencana gempa bumi kembali menghantam Indonesia. Gempa berskala 7,1 skala richer itu menghantam Mentawai dan sekitarnya. Gempa ini berpotensi tsunami…' dan lagi-lagi channel diganti.
'Anak-anak yang kehilangan orang tuanya ini terpaksa tinggal di panti asuhan. Orang tua mereka meninggal akibat bencana Gunung Merapi yang sampai saat ini masih mengeluarkan laharnya…' dan Rangiku pun kembali mengganti saluran TV.
'Sate kuda ini berkhasiat untuk… (blah, blah, blah)'
"Ibu kenapa dari tadi diganti sih? Aku kan mau menonton berita." protes Hinamori lagi kepada ibunya.
"Momo, ibu sedang mencari acara yang bisa membangkitkan nafsu makan kita. Bagaimana sih kamu ini?" kata Rangiku kembali memprotes anaknya itu.
"Terserah deh," kata-kata Hinamori barusan yang dibarengi ambekan pada wajahnya menemani makan siang yang buruk itu.
Malam harinya, Hinamori dengan mood yang masih buruk baginya membuat ia tidak bisa tertidur lelap. Gerakan bolak-balik di atas tempat tidur empuknya itu tak ada artinya, tetap sulit baginya untuk terlelap. Padahal burung hantu yang bertengger di pohon jambu halaman belakang rumah kecil Hinamori telah memberikan peringatan-peringatan padanya, langit telah gelap. Memang waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam dan ini sudah melewati batas waktu tidurnya.
Hinamori terlihat cemas, entah apa yang dipikirkannya. Semua kejadian hari ini membuatnya merasa sangat down. Semua yang ia lihat dan yang ia dengar. Sekarang ia memikirkan mendiang ayahnya, ia juga memikirkan ibunya, dan ia memikirkan setiap orang di sekitarnya, teman, kerabat dan saudara. Tak ada happy news yang ia dengar dari mereka, semuanya menyedihkan. Kehilangan rumah, orang yang disayang, segala penderitaan semua orang seakan menyiksa batin Hinamori.
Keringat membasahi wajah kecilnya. Dinginnya malam sama sekali tak dirasakannya. Dengan pakaian yang tipis, ia keluar dari pelukan selimutnya dan bangkit dari tempat tidur kecilnya. Ia berjalan kecil menuju lemari tempat ia menyimpan koleksi CD-nya. Mengambil satu dari puluhan CD di sana. Cover akustik Justin Bieber. Ia memutarnya. Kemuadian menyalakan TV tanpa volume. Dengan iringan lagu 'Pray' Justin Bieber, ia menonton berita malam. Ia menonton dari tempat tidurnya. Tak ada suara dari saluran TV itu, hanya iringan lagu akustik.
I just can't sleep tonight,
knowing that things ain't right.
It's in the papers, it's on the TV,
it's everywhere that I go.
Children are crying, soldiers are dying,
some people don't have a home.
Ia mendalami setiap lirik yang terucap. Semuanya sama persis dengan berita hari ini. Kematian para sukarelawan dalam perang, bencana alam yang merenggut kebahagian setiap anak. Seandainya ada jalan keluar di depan matanya sekarang. Setiap masalah Di depan matanya dapat terhempas. Meski ada tekad dan kemauan dari setiap jiwa, semua akan tiada artinya jika tidak disertai keyakinan.
But I know there's sunshine behind that rain,
I know there's good times behind that pain
Can you tell me how I can make a change?
Dan…
I close my eyes, and I can see a better day,
I close my eyes and pray.
I close my eyes and I can see a better day,
I close my eyes and pray.
Tersentuh, lagu ini membuatnya terhanyut. Ia sekarang benar-benar menutup matanya. Bukan untuk tidur, ia ingin pray.
I lose my appetite, knowing kids starve tonight
Am I a sinner? Cause half my dinner,
Is still there on my plate.
I got a vision, to make a difference,
and it's starting today.
Cause I know there's sunshine beyond that rain,
I know there's good times beyond that pain
Heaven tell me I can make a change
Dengan posisi melipat tangan, ia berbisik dalam hatinya. Mengucap setiap lirik lagu itu. I close my eyes and pray.
I pray for the broken-hearted,
I pray for the life not started.
I pray for all the ones not breathing,
I pray for all the souls in need.
I pray, can you give em one today?
Untuk semua…
I just can't sleep tonight,
Can someone tell me how to make a change?
I close my eyes and pray.
Lagu berakhir. Berita malam televise pun ikut berakhir. Tangisan dan doa yang dipanjatkan seorang gadis 14 tahun yang peduli dan sadar akan situasi dunia pun diakhiri dengan tidur pulasnya, ia memang sudah mengantuk. Tapi, bisakah doa Hinamori merubah semuanya?
Keesokan paginya.
"Hinamori, bangun! Ayo, bangun! Kita sarapan omelet dulu, ibu sudah buatkan untukmu," Rangiku membangunkan anaknya yang masih terlelap. Hinamori terbangun dan menatap ibunya yang telah rapi dengan pakaian yang sedikit formal. Hinamori memandang wajh ibunya itu, seperti mengamati-amati.
"Hey, hey, Momo! Jangan bilang kau mau protes tentang omelet buatan ibu lagi, hah!" Rangiku menatap anaknya serius, dan… Hinamori membalasnya dengan pelukan.
"Aku mau omelet, omelet buatan ibu enak, kok! Aku mau memakannya setiap hari," katanya.
"Haha, kau ini berlebihan sekali, haha,"
Akhirnya Hinamori menjadi semakin dewasa, dirinya bukan gadis 14 tahun biasa. Kekuatan pray yang dimilikinya mampu merubahnya menjadi pribadi yang memberkati.
~THE END~
A/N : Selesai! Yes!
Akhirnya jadi nggak karuan~
Tapi saya pray supaya semua yang baca nggak kecewa.
Review-nya please!
Kalau sudah baca yang ini, baca-baca fiksi lainnya ya~ GBU
