Luhan X Baekhyun

.

.

Do not copy-paste or repost because this story is from my own imagination. I just add names for fill the casts, EXO is belong to their own self.

Close the tab if you don't like it.

Warning! This is YAOI, and some sexual contents for some chapters.

Hope you like it~

.

.


Back to 12th Century...

Kembali ke abad dua belas...

.

.

"Kita harus pergi dari sini!" Jongin berteriak pada kawanannya. Penyerangan yang mereka lakukan harusnya sudah hampir berhasil, namun semuanya ternyata diluar dugaan. Pada akhirnya mereka kalah, untuk kesekian kalinya. Datang ratusan, dan sekarang hanya tersisa empat. Tiga jenis mereka dan satu mata mereka.

Sehun dan Luhan tak langsung menanggapi teriakkan Jongin, mereka hanya ikut kabur dengan keadaannya yang sama kacaunya. Sebelah kaki Luhan terluka, Sehun maupun Jongin tak mempedulikan itu. Yang penting bagaimana caranya kabur, dan bagaimana caranya menyelamatkan nyawa mereka sendiri. Semuanya tidak penting lagi selain itu dan juga memikirkan cara mereka untuk kembali ke markas. Chanyeol terluka dibagian sayap, mau tak mau ia naik diatas punggung Sehun. Berpegangan, berharap tubuh dalam ukuran kecilnya tak jatuh karena goncangan. Mereka berempat menyasak hutan, menyusuri masuk kearah pepohonan pinus yang tinggi. Untuk pertama kalinya mereka berani menaiki gunung, menembus kabut tebal yang memburamkan pandangan karena situasi yang mengharuskan. Tak ada pilihan lain. Masa bodoh dengan hukuman ketua. Kalau perlu, keluar dari kawanan pun akan mereka lakukan.

Andai Chanyeol bisa terbang, andai sayapnya tak terkena tancapan panah beracun. "Akh!" ia mengerang merasakan goncangan saat tubuh Sehun melompat dengan refleks melangkahi akar pohon yang besar. Semuanya keruh, mereka tak bisa melihat apapun. Dan mata mereka satu-satunya hanyalah Chanyeol, dan ia tak bisa melakukan apapun selain merintih. Luhan tertinggal dibelakang, sebelah kakinya masih mengucur darah segar. Luhan terus merutukki kebodohan mereka karena tak sadar kalau pemburu siluman sejenis mereka itu bisa saja membawa air suci. Dan parahnya dicampurkan dalam panah bersama racun.

Lambat laun, malam semakin larut. Suara teriakkan lain terdengar samar, orang-orang itu mengejar mereka. Luhan menyempatkan untuk menoleh dan melihat dari balik kabut disekitarnya kalau dikejauhan sana terdapat penerangan samar. Ia membulatkan matanya, mereka dekat sekali. Ia hendak berteriak namun tak sempat karena tak melihat apa yang ada dikakinya. Ia tersandung akar besar, kepalanya terbentur saat itu juga. Pandangannya menghitam.

.

.

Immortal Beast

.

.

Enam. Ya, lagi-lagi enam keping emas yang Baekhyun dapatkan saat menyetor bunga-bunga segar hasil buruannya sendiri dari hutan dikaki gunung. Sebenarnya kalau dihitung dengan pengorbanannya karena lelah berjalan menanjak tidak sebanding, namun, setidaknya kalau enam keping emas perhari itu sudah lumayan cukup. Baekhyun adalah seorang bocah lelaki yang tahun ini akan genap 20 tahun. Entah, ia juga tidak ingat akan tanggal lahirnya. Tidak ada yang memberitahukannya karena ia seorang yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal secara bersamaan saat umurnya masih sangat muda—sekitar lima tahunan. Latar belakangnya yang tanpa bimbingan orang tua membuatnya menjadi mandiri. Baekhyun sendiri bersyukur karena para dewan yang dermawan di desa tempatnya tinggal sangat baik. Memberikan sebuah rumah kecil yang hangat, dan potongan pakaian normal untuk ia pakai. Ia juga pernah bersekolah, namun Baekhyun bukan seorang anak yang pandai berteman. Ia lebih suka menghabiskan waktu luangnya di kaki gunung untuk mencari bunga sampai petang dan berjalan hingga rumah saat tengah malam.

Anggap saja Baekhyun sok berani, tapi pada kenyataannya ia memang berani. Walaupun untuk seorang laki-laki tubuhnya lebih kecil, ya dilihat dari orang-orang lain yang wajahnya agak berbeda dengannya. Kedua mata miliknya sipit, ditambah lagi banyak imigran dari semacam koloni-koloni yang berasal dari luar. Itu agak sedikit sulit untuk membuat komunikasi dengan yang lain.

Baekhyun hanya menatap kepingan emas itu sebentar, lalu menutup jemarinya dan menggenggamnya erat. Menghela nafas sebentar kemudian memasukkannya kedalam saku pakaian dibalik tudung merah tua yang dipakainya. Ini masih siang, dan biasanya setelah menukar bunga-bunga segar yang ia bawa dengan upah, pemuda bertubuh kecil itu akan menghabiskan waktunya untuk tidur sampai sore. Mengingat ia selalu pulang tengah malam, entahlah.. kalau harus memilih ia bisa mencari pekerjaan lain. Tapi sayangnya dirinya sendiri yang enggan. Ia lebih suka bermain-main karena yah—tidak ada sesuatu yang berarti. Ia benar-benar sebatang kara dan semenjak ayah ibunya meninggal dirinya jadi suka menjelajah dihutan karena tak sengaja mengejar seekor rusa untuk pertama kalinya saat itu. Baekhyun sangat ingat. Terkadang kalau sedang beruntung ia akan mengambil beberapa buah yang mungkin tumbuh. Tetapi minim sekali mengingat cuaca dingin dikaki gunung hanya banyak menampung pohon pinus menjulang untuk dikoleksi. Semuanya tidak menentu. Hampir sepanjang tahun matahari tak pernah tampak, dan jika cuaca dinginnya turun lagi secara abnormal, tempatnya akan dituruni salju.

Baekhyun tiba dirumahnya, masuk ke dalam kamarnya lalu membanting punggungnya keatas ranjang tidur setelah membuang jubah tebalnya ke lantai. Sungguh melelahkan, dan membosankan. Ia terkadang mengeluhkan benci sendirian, tetapi Baekhyun juga tak dapat memungkiri kalau dirinya harus menyadari keadaan. Bagaimanapun ia harus tetap bersyukur, bukan malah mengeluh. Itu yang selalu ia dengar dari pastur digereja. Sedih juga mengingat momen paskah maupun natal tanpa orang tua, tak seperti yang lainnya. Baekhyun mendiskriminasi dirinya sendiri. Baekhyun memejamkan matanya. Merasakan betapa lelah tubuhnya yang semakin hari semakin menyusut. Ia bertambah kurus. Hampir seperti tulang dilapisi kulit tanpa daging apalagi lemak. Inilah mengapa ia jarang mandi, karena dingin, jarang berkeringat, lebih tepatnya ia benci dingin. Tubuhnya akan langsung drop saat terkena cuaca ekstrim.

Kalau diingat-ingat ia belum makan sejak pagi tadi.

.

.

Luhan terbangun saat merasakan cahaya masuk dalam retinanya. Ia refleks bangun dengan gelagapan, namun malah disambut tawa seseorang. "Kenapa kau?" itu Chanyeol. Ya, itu Chanyeol. Luhan meringis tat kala merasakan sakit yang amat sangat pada bagian kepalanya. Chanyeol menghentikan tawanya. "Apakah sakit sekali?"

Luhan mendegus, "Bodoh! Kau pikir terbentur batu itu rasanya seperti terjun ke bulu angsa?!"

"Yayaya, aku tahu." Chanyeol kembali fokus pada api unggunnya yang sangat kecil. Luhan mengernyit. "Kau sedang apa?"

Chanyeol menoleh menanggapi ucapan Luhan, "Membuat obat untukmu." Kali ini ia hanya membulatkan bibirnya tanda mengerti.

Luhan baru sadar akan sesuatu, "Bagaimana kau bisa disini?"

"Tentu saja, aku kembali saat sadar kau hilang dibelakang kami."

"Lalu, orang-orang itu?"

"Mereka menghentikan pencarian karena penerangan yang mereka punya meredup. Kita saat ini berada hampir dititik atas gunung."

"Lalu, Jongin dan Sehun?" Luhan bertanya lagi, seolah sangat banyak hal penting yang ia lewatkan. "Kau penasaran sekali ya.."

"Chanyeol, jawab aku."

"Baiklah."

"..."

"Mereka sudah kembali terlebih dahulu ke markas. Sepertinya Jongin maupun Sehun sendiri tidak sadar kalau mereka berdua kehilangan kita saat menuju sana. Dan kemungkinan yang paling besar adalah mereka mencari kita, atau bahkan sebaliknya."

"Maksudmu?"

"Ya, bisa saja kan mereka asik berduaan atau bagaimana."

Luhan hanya mengangguk. Penjelasan Chanyeol sudah dirasa cukup untuknya sendiri. Chanyeol menyodorkan seduhan panas padanya, "Ini, obatmu." Luhan hanya menurut. Kemudian meminum ramuan itu sedikit demi sedikit.

Syukurlah. Setidaknya dia tidak mati. Ya, setidaknya.

.

.

Baekhyun berjalan sambil menyeret ekor jubahnya dibelakang sendirian. Mengingat ini sudah sore, dirinya harus segera naik ke kaki gunung kalau tidak ia akan pulang larut lagi. Atau lebih parahnya mungkin sampai fajar ia baru bisa menapak dirumah. Bunyi jangkrik yang bersamaan, dan kelelawar yang mengintai sebelum kembali ke gua yang tak jauh dari tempatnya berdiri tidak mengurungkan niat Baekhyun untuk setidaknya berhenti atau berbalik arah. Tangan kirinya memegang lampu sumbu dan sebelahnya membawa keranjang yang agak besar. Ia juga bingung, bahkan tempatnya hampir tak bisa merasakan musim panas atau semi seperti yang orang-orang koloni ceritakan ditempat mereka sebelumnya. Tetapi bunga tetap tumbuh disana.

Baekhyun tak bisa memprediksi segala sesuatunya, tahu-tahu langit sudah memerah dibalik kabut kampung halamannya. Sebentar lagi akan gelap. Sekarang Baekhyun sudah sampai. Ia menyibak jubah besarnya, agar kakinya tak tersandung karena menginjaknya. Dengan sabar ia letakkan keranjang diatas tanah, dan lampu sumbu yang sudah menyala itu juga. Baekhyun mulai memetik beberapa dari tempatnya tumbuh menggunakan belati kecil. Lelaki ini tidak tahu nama bunga yang selalu ia cari. Intinya bunganya bagus, berwarna ungu, mekar sangat lebar dihiasi serbuk sari dan kepala putik yang nampak. Karena ungu termasuk warna kesukaannya setelah merah, jadi ia sangat suka bunga ini. Baekhyun menangkupkan kedua jemarinya, memindahkan bunga-bunga itu kedalam keranjangnya. Sedikit demi sedikit, begitu seterusnya. Mengingat dulu ia tak sengaja menyentuh agak kasar pada kelopak bunganya dan robek, itu berarti bunga-bunga ini sangat rapuh. Tidak seperti mawar merah disemak-semak duri, atau teratai yang mengambang di air rawa dekat jalan setapak yang biasa Baekhyun lewati untuk menuju bagian atas gunung. Bunga ini lebih rapuh dari itu.

Baekhyun mengambil lampu sumbu nya, dan menenteng juga keranjang penuh bunganya. Ia akan menuju rumah, atau akan bermain-main sebentar kalau tak sengaja menemukan mawar tumbuh atau setidaknya buah yang jatuh dibawah pohon nya dari sekian ratusan ribu pohon pinus tinggi yang ada. Baekhyun belum mengisi perutnya sejak pagi.

Baekhyun melangkah, kearah jalan pulangnya menuju desa. Langit sudah gelap, jadi mau tidak mau ia mengarahkan lampu benderang kuning kecil itu ke depan, sungguh membuat tangannya pegal. Tahu begini ia akan membawa obor.

Srek—Srek—

Langkahnya sendiri terdengar sangat nyaring diantara sunyinya malam dalam hutan, mengisi ruang di udara selain suara jangkrik yang terus berbunyi. Baekhyun sering ditanyai orang-orang sekitar rumahnya, apa ia tidak takut kalau habis sendirian dari hutan. Tentu saja Baekhyun menjawab tidak. Tetapi hewan buas pengecualiannya. Tentu saja, Baekhyun tak suka menanggapi mitos tentang hantu atau siluman musang jadi-jadian seperti yang dibicarakan orang-orang setelah berdoa digereja. Karena yah, nyawanya akan nyata terancam karena sesuatu yang nyata juga bukan?

Baekhyun menghentikan langkahnya secara mendadak. Tunggu, ia seperti melihat sesuatu tadi. Baekhyun menoleh ke arah sekelilingnya dengan cepat. Ia menggeleng dan mensugestikan sepertinya aku salah lihat. Mengingat semuanya gelap dan ia agak mengantuk, bisa saja itu hanya halusinasi bawah sadarnya saja. Baekhyun berjalan lagi, hingga menimbulkan suara seret dari kakinya sendiri.

Sret

Kedua matanya otomatis membola, Baekhyun menoleh kearah semua arah dengan gusar. Ia yakin tidak salah lihat, tadi ada sesuatu yang lewat. Entah apa itu. Tetapi cepat sekali. Baekhyun masih diam ditempatnya.

Sret—

Baekhyun tidak akan ikut membalikkan tubuhnya kalau tidak melihat bayangan itu melaluinya sangat cepat menuju arah belakang. Tetapi tidak ada siapapun selain dirinya. Kalaupun ia para pemburu yang akan menyetorkan ke pasar, Baekhyun sudah pasti bertemu dengan mereka. Mereka itu manusia, sudah pasti berbicara dan melangkah menyeret seperti dirinya. Bukan seperti sekelebat yang lewat tadi. Sungguh, Baekhyun tak ingin mengingat-ingat mitos yang suka orang-orang katakan karena sialnya bulu kuduknya sudah meremang.

Kwak—kwak—

Baekhyun mengarahkan pandangannya ke ranting pinus yang rendah itu. Seekor gagak hitam, ya Baekhyun yakin dari suaranya itu adalah gagak sedang menatapnya dengan kepala yang digerakkan ke kanan dan ke kiri. Gagak hitam, lambang kematian.

Sial! Baekhyun langsung berjalan cepat meninggalkan tempatnya. Hampir terpeleset saat menuruni setapak menuju desa yang licin. Ya Tuhan, kalau yang mengintainya tadi gagak, lalu yang lewat tadi apa? Atau siapa? Kalau gagak yang menjelma jadi bayangan hitam kala burung itu terbang, sungguh sangat tidak mungkin. Bayangan yang lewat tadi besar, seperti bayangan seseorang namun bedanya hanya sekelebat. Dan Baekhyun yakin telinganya yang tajam tadi sempat menangkap bunyi suara kaki selain punyanya sendiri. Itu tadi apa? Baekhyun mulai bertanya-tanya. Tanpa sadar ia mengeratkan pegangannya pada keranjang dan mengarahkan lampu kedepan sambil gemetaran. Apa itu siluman yang selalu orang-orang bicarakan? Atau hantu yang menjelmaatau

Baekhyun menggeleng cepat, mengusir pemikiran tak masuk akal miliknya. Lelaki mungil itu memutuskan untuk lari setelah melihat keanehan ketiga tadi. Ekor jubahnya ia apit dengan telapak tangan, menghimpit lampu dan keranjang yang bergoyang kencang karena langkahnya sendiri. Ia sudah sampai didesa, dan ia sudah sampai dirumah lebih cepat dari biasanya. Sungguh, ia tak bisa berhenti memikirkan sosok apa yang ia lihat barusan tadi di hutan.

.

.

"Siapa disana?!" serunya takut-takut. Melihat kearah seluruh penjuru yang sepi, hanya bunyi gagak hitam ditangkai pinus, ia sendirian.

"Astaga!"

Baekhyun menjatuhkan keranjangnya. Bayangan itu, lewat lagi. Itu manusia atau apa? Apakah itu hantu? Cepat sekali. Anak itu berjalan lagi, mengitari hutan dengan takut-takut, tak bisa ia hilangkan semua pikiran buruk. Ia terus menuntun dirinya sendiri dengan lampu sumbunya dengan tangan bergetar.

Namun langkahnya terhenti, dua mata merah itu menatapnya dari balik semak-semak bunga. Semuanya terasa begitu cepat karena Baekhyun tak sempat merespon. Baekhyun berteriak saat merasakan nafas hangat itu tepat berada diatasnya. Tetapi membuka matanya ketika tahu tak terjadi apa-apa, tatapan itu tak menggambarkan seolah dia liar. Ia seperti pernah melihat mata itu. Tapi dimana?

.

.

Baekhyun terbangun dari tidur panjangnya semalam. Ia merenggangkan kedua tangannya keatas, dan bangkit dari balik selimut tebal berbahan bulu domba—barang peninggalan ayah yang satu-satunya ia punya. Baekhyun merasa separuh nyawanya mengumpul dengan cepat, lebih cepat dari biasanya. Tiba-tiba pikirannya tertuju kepada sosok sekelebat hitam entah apa itu yang ada dihutan kemarin. Baekhyun tak bisa berhenti memikirkannya, bahkan ia baru bisa tidur sekitar tengah malam hanya karena memikirkan hal seperti itu. Dan tetap saja ia mengalaminya lagi dalam mimpi! Sungguh, ia tak bisa untuk menjeda benaknya yang terus bergumam seperti Apa itu hantu? Atau siluman musang? Musang kan lambat, atau mungkin seperti yang orang-orang koloni luar bilang—apa itu, hewan yang sangat cepat? Apa namanya C-C-Cheetah? Tapi itukan motifnya tutul-tutul. Lalu itu apa? Kenapa warnanya hitam? Atau itu malaikat maut yang sedang ditemani gagak?

"Ya Tuhan Baekhyun, kau ini memikirkan apa?!"

Anak itu mengusak rambutnya yang berantakan, berdiri setelahnya dan menatap cermin yang terpasang tegak di dinding rumahnya. Menatap dirinya sendiri. Menatap tubuhnya yang semakin kurus dari hari ke hari karena dimakan dingin, dan ia juga jarang makan. Ah, iya! "Kan kemarin aku belum makan." Serunya pada diri sendiri. Baekhyun berjalan menuju sekat dapur sederhananya, melihat apakah masih ada stok buah setidaknya untuk seminggu atau tidak karena—sungguh, Baekhyun malas untuk membelinya ke pasar padahal ia selalu kesana dan terlalu malas juga meminta tolong kepada tetangga sebelah-sebelah rumahnya seperti titip uang untuk membeli buah atau anak kalkun.

Baekhyun mengernyit, saat melihat lemari kecilnya ternyata kosong. Ia tidak punya makanan sama sekali. Sial, ini gara-gara makhluk hitam aneh itu!

"Eh?" Kenapa ia jadi memikirkannya lagi? Ia kira sudah melupakan makhluk aneh itu dalam otaknya tadi. Ia akhirnya memutuskan untuk mencuci wajahnya—ya, wajahnya saja dengan menggunakan air yang sangat dingin seperti es batu sambil memekik kecil dan menyambar jubah merah tebal dari pinggiran kasur. Dan tak lupa membawa keranjang bunganya yang masih sangat segar menuju pasar.

Baekhyun berjalan keluar rumah, melewati orang-orang sekitar dan jika ada yang menegurnya ia akan menyempatkan diri untuk berhenti dan mengulas senyum terbaik yang ia punya. Terlalu malas untuk bicara. Melewati gereja, lalu beberapa langkah didepan kedai yang menyediakan arak untuk orang-orang yang hobi mabuk dan tak lama setelahnya ia tiba dipasar. Hari ini pasar sangat ramai seperti biasanya, dan ia menuju tempat penjual bunga lalu menyodorkan keranjang anyam kayu miliknya. "Seperti biasa ya, Baekhyun." Orang itu menyambarnya sambil tersenyum, menggunakan logat bicara yang berbeda. Baekhyun hanya balik tersenyum.

Setelah memindahkan bunga indahnya, lelaki didepannya mengembalikan keranjang kepada Baekhyun dan mengambilkan enam keping emas. Seperti biasanya. "Bunga-bunga yang kau miliki memang yang terbaik." Baekhyun hanya mengangguk kecil, lalu tersenyum dan menggumamkan terima kasih kemudian berlalu. Menuju stan penjual buah dan sayur, ingin membeli daging tapi terlalu mahal.

Ia menyerukan delapan buah apel, dan sekantung jagung juga bayam untuk dimasak nanti. Memberikan uang, kemudian berjalan lagi menuju rumah.

.

.

Ia sungguh merutukki sikap nekadnya karena—Ya Tuhan.. sungguh! Baekhyun sekarang benar-benar merasa cengeng dan ingin pulang saja. Ia telat bangun sore ini, sungguh bodoh untuk menyadari itu sudah petang. Baekhyun merasa benar-benar konyol kali ini. Ini bahkan melewati batas waktu malamnya. Ia terus membatin kalau dirinya benar-benar akan sampai dirumah saat fajar tiba. Siang ini Baekhyun juga sudah berjanji pada diri sendiri untuk membawa obor, bukan lampu sumbu kecil berpenerangan minim seperti sekarang.

Ditambah lagi, entahlah Baekhyun terus mengumpatkan kata-kata aneh karena suasana dihutan terasa mencekam, entah kenapa. Hanya perasaannya saja atau bagaimana, Baekhyun juga tidak tahu. Suara-suara gagak yang ikut bernyanyi diheningnya malam membuat bulu kuduknya merinding. Yang benar saja! Bagaimana bisa ia melangkah dengan benar, tangannya gemetaran sejak tadi. Rasanya lampu sumbunya ingin jatuh saja.

Bunyi kwak-kwak yang diketahuinya sendiri bunyi apa itu terus mendengung di sepanjang relung gendang telinganya. Semuanya gelap.

Baekhyun sekali lagi berjengit karena sekawanan kelelawar lewat menyenggol pundaknya dengan sengaja. Kenapa semua-semua suka sekali menakutinya seperti ini? Ia hampir saja sampai. Tangannya mengulur, mencari kejelasan pada jalan yang tercetak diatas rumput rimbun. Baekhyun melirik sedikit kearah kanan maupun kiri dengan takut-takut. Ia menghela nafas berkali-kali saat menyadari tak ada siapapun disana. Syukurlah.

Sret—

Sekali lagi, untuk kesekian kalinya Baekhyun ingin pingsan. Jantungnya berpacu berpuluh kali lebih cepat. Bayangan itu lagi. Bayangan hitam itu lagi.

Kwak—Kwak—

Tuhkan benar. Anak itu tanpa sadar memejamkan kedua matanya, Bahkan tempat semak berbunga itu ada sekitar beberapa langkah didepannya. Almost there. Hampir. Ya, hampir. Tidak ada suara apapun lagi. Baekhyun membuka matanya perlahan. Ia tak merasakan pergerakan apapun disekelilingnya kecuali angin. Dan..

Keranjangnya jatuh.

Baekhyun membeku sebentar. Memproses segala halnya. Semuanya begitu cepat, Baekhyun hampir tak bisa bernapas dan dua mata nyalang yang menyala merah itu—entah apa, mendekatinya secepat kelebatan bayangan hitam. Anak itu tak bisa menjelaskan lagi, tahu-tahu ia sudah terjatuh dengan keras menimbulkan buk samar ditanah, posisinya terlentang dan sosok itu mengaum keras. "Aaaaaaa!" Baekhyun berteriak nyaring tat kala merasakan udara panas sangat dekat menyentuh permukaan wajahnya. Makhluk itu tepat berada diatasnya. Ia bisa menilai dengan benar, manusia tidak akan mengaum seperti itu. Itu pasti binatang buas.

Baku tangannya memutih, kedua matanya menutup erat seperti menahan ketakutan yang mendalam. Nafas panas itu masih ada, masih sangat panas diatas wajahnya dan sosok itu masih sangat terasa menindih nya walaupun tidak benar-benar bersentuhan. Namun satu hal yang Baekhyun sadari, sosok itu tak lagi menggeram. Ayo Baekhyun buka matamu! Ia menyemangati dirinya sendiri. Dengan ragu membuka kedua matanya.

Tak bisa lagi ia jelaskan. Sosok itu adalah benar adanya—binatang buas. Seperti serigala, tapi kedua matanya merah dan warna bulu nya hitam pekat dan berantakan seperti habis menyusup dibalik semak. Binatang itu menatap dalam kearahnya, air liur menggantung disudut bibir seperti anjing lain kebanyakan. Tapi hal ganjil dirasanya, entah pengelihatannya yang terlalu halusinasi atau bagaimana—bulu anjing itu menyala, seperti ada percikan api. Anak itu tak bisa berhenti menatap takut kearah serigala diatasnya. Bahkan kedua matanya hampir terpejam lagi. Namun ia urungkan, tak sampai berapa lama binatang itu menghilang. Menghilang seperti kelebat bayangan yang sudah beberapa kali dalam dua hari ini ia lihat. Bayangan itu pasti serigala itu. Yang sudah semalaman tadi mengganggu pikirannya.

Baekhyun merenung sebentar sebelum bangkit dari posisinya. Ia terduduk, menatap semak berbunga yang biasa ia petik. Anjing tadi tidak menatapnya seperti binatang lapar, binatang itu menatap seolah ia adalah sesuatu untuk diincar.

Ia seperti pernah melihat tatapan seperti itu. Tapi dimana?

.

.

.

.

To Be Continued—

.

.

.

.

Or End?


Need reviews please... Yang banyak buat penyemangat untuk lanjut. Walaupun ada yang diam-diam baca eonni juga gabakal menghakimi kok. Eonni juga mantan siders karena gatau cara review pas itu wkwkwk. Maaf jika tak memuaskan karena eonni suka menggambarkan suasana abad dua belas seperti apa yang ada diimajinasi eonni. Untuk inspirasinya sendiri sebenernya hanya latar dari film "Red Riding Hood" kalau ada yang tau.. latarnya doang, ceritanya mikir sendiri.

Untuk pairnya, udah jelas, jelas dan jelassssss banget LUBAEK^^

Want to give me some review?


Sebenernya males nunggu review yang teaser kemaren jadi sekalian aja ya..


Thanks To:

[NoonaLu][aboutselu] [shebaek661192] [LussiaArchery] [utsukushii02] [baekhyunniewife] [baekyeonra] [cc] [Yulyulbaek] [YOONA] [KeepbeefChikenChubu] [m2qs] [mashuang] [L] [HyuieYunnie] [Zy] [PokerBaconDeer] [jasminejas]