Disclaimer : I do not own Naruto
Warning : SasuFemNaru, one sided SasuSaku, semi-canon, alive Neji, dimensional travel.
Rating : Mature
Genre : Romance, Drama, Adventure, Family
ooOoo
Kasus mengenai sindikat pengelola racun ilegal memang sudah menjadi masalah bagi kelima desa shinobi sejak setengah tahun yang lalu. Pergerakan mereka amatlah hati-hati dan mereka dikenal memiliki cukup banyak informan. Berdasarkan data yang didapatkan oleh Sunakagure, sindikat tersebut didominasi oleh para ninja medis dari desa-desa kecil yang tidak memiliki dana guna mengembangkan penelitian mereka. Belum lagi dengan perkembangan peralatan ninja modern yang menyaingi dana di bidang penelitian kesehatan. Mereka semua dianggap sebelah mata dan cenderung menjalani kehidupan yang berat.
Alasan mengenai kenapa mereka bersikap dengan sangat brutal masih menjadi pertanyaan. Sejauh ini, belum ada orang yang mengetahui kebenarannya. Untuk itulah ketika seorang kunoichi yang ditugaskan dalam misi tersebut kembali dengan tertatih-tatih dan juga pakaian yang tidak bisa disebut layak, dua orang chūnin penjaga gerbang langsung menghampiri dan membantunya.
Haruno Sakura segera kehilangan kesadaran begitu ia menyerahkan sebuah gulungan kepada sosok yang mencoba memapahnya. Mereka yang melihat kondisi tersebut tampak terkejut. Sakura terlihat sangat berantakan dengan tubuh yang penuh dengan noda darah. Rambut merah mudanya kotor oleh tanah. Seragam jōnin yang ia kenakan robek di sana sini, dan seolah semuanya belum cukup parah, noda darah kering menghiasi hampir seluruh wajahnya. Apa yang disaksikan dua shinobi itu amatlah mengerikan. Tidak ada shinobi yang akan bertahan lama dengan kehilangan darah sebanyak itu. Siapa pun dia, entah itu kepala Divisi Medis yang merangkap sebagai istri sang Hokage sekali pun.
Namun, dalam keadaan darurat semacam ini, mereka benar-benar tidak punya waktu untuk bertanya-tanya dan merasa heran. Seorang dari dua orang itu langsung melesat membawa Sakura ke rumah sakit sementara yang satunya segera melapor kepada Hokage dengan sebuah gulungan yang berada di genggamannya. Membawa kabar buruk kepada Hokage selalu tidak menyenangkan. Mereka memang menghormati Hokage Ketujuh, namun aura mengintimidasi yang sering melingkupinya sering membuat para shinobi lebih memilih untuk menjaga jarak sejauh mungkin.
Rasa takut mereka memang terlihat begitu irasional kalau dipikirkan lebih dalam lagi, sebab sejauh Uchiha Sasuke memerintah, tidak pernah ada satu pun orang yang menjadi korban kemarahannya. Mereka yang tidak pernah berhadapan langsung dengan sang Hokage akan mengatakan bahwa rasa takut yang irasional itu benar-benar bodoh. Namun, mereka tidak tahu bahwa bersikap diam jauh lebih mengerikan dibanding meledak marah.
Merasa bahwa pikiran negatifnya semakin menjadi-jadi, chūnin muda itu menggelengkan kepalanya dan mengetuk pintu kantor Hokage. Ia langsung mengutarakan laporan yang didapatnya dan menyerahkan gulungan misi yang dibawa oleh Sakura. Sasuke membacanya sekilas sebelum mengangguk. Ia berterima kasih kepada sang chūnin dan tanpa banyak bicara langsung menyuruh Shikamaru berjaga di kantor sementara ia pergi ke rumah sakit.
Dengan wajah tanpa ekspresinya yang biasa, Sasuke segera menanyakan keberadaan Sakura kepada seorang staf rumah sakit yang merupakan warga biasa. Beberapa pasang mata tampak mengekorinya ketika ia menganggukan kepala dan beranjak menuju kamar pasien yang berada di lantai dua.
Ketika ia tiba di sana, pintu kamar itu tertutup. Sasuke hanya memandang kosong pintu bercat putih tersebut sebelum memutuskan duduk di bangku panjang yang terdapat di tiap lorong kamar rumah sakit. Ia menunggu di sana selama beberapa saat dengan berbagai pikiran yang berkecamuk di kepalanya, suara seorang perempuan berambut panjang kecoklatan yang memakai pakaian perawat rumah sakit pun membuatnya menoleh.
"Maaf telah membuat Anda menunggu, Hokage-sama. Anda sudah bisa melihat Sakura-san sekarang."
Bangkit berdiri, Sasuke bertanya, "Bagaimana keadaannya?"
"Ia tampak terluka parah dengan banyak darah di seluruh tubuhnya. Namun, kami tidak menemukan sedikit pun luka. Sejauh ini, kondisinya baik-baik saja. Ia sudah stabil dan hanya kehilangan banyak chakra."
Anggukan kaku Sasuke mengisyaratkan sang perawat untuk segera pamit pergi. Ia meninggalkan Sasuke yang masih berdiri di ambang pintu, termenung selama sesaat sebelum melangkahkan kaki ke dalam ruangan serba putih tersebut.
Begitu mendaratkan kaki di sana, ia langsung mendapati figur seorang wanita berambut merah muda yang tengah tertidur pulas. Wajah putihnya tampak pucat meski di saat bersamaan ia tampak damai. Pakaian jōnin yang dikenakan Sakura ketika berangkat misi kini sudah diganti dengan piyama putih khas rumah sakit. Selimut biru muda menutupi sebagian tubuhnya, Sasuke memperhatikan Sakura selama beberapa saat sebelum menarik sebuah kursi mendekat dan duduk tepat di samping tempat tidur itu.
Perkataan Sarada kemarin sore masih terngiang di telinganya. Sasuke menunduk dan mengacak rambutnya pelan. Ia hampir selalu merusak segala hal dan hampir selalu menyesali setiap keputusan yang ia ambil.
Dulu, ia terperangkap oleh nafsu balas dendam dan menyesali tindakannya begitu Itachi telah meninggal. Kini, ia dihadapkan oleh hal yang sama. Sasuke menyesal karena telah nekat menerima tawaran Sakura dan tanpa sadar memanfaatkannya ketika ia sendiri tidak bisa membalas kebaikannya. Sekarang, ia harus menanggung kebodohannya dengan menerima fakta bahwa Sakura memang menderita.
Pernikahan mereka hanyalah kebohongan dan ia hampir kehilangan orang terdekatnya lagi sebelum ia sempat memperbaiki semuanya.
Namun, apakah Sasuke bisa memperbaikinya? Bukankah selama ini ia sudah mencoba untuk membuka diri? Ia sudah berusaha...'kan?
Atau hubungan fisik mereka hanyalah tuntutan jasmani dalam diri Sasuke yang memang sedang berada di usia primanya? Apakah tiap malam yang ia habiskan dengan Sakura hanya sebuah pelampiasan atas segala beban di pikirannya? Apakah Sasuke semata-mata hanya memanfaatkan Sakura? Sebenarnya, apa yang ia rasakan kepada wanita ini?
Mendongakkan kepala, Sasuke menatap Sakura lamat-lamat, mencoba mencari perasaan hangat yang mampu melingkupinya tiap kali ia melihat senyum Sarada ataupun ketika dulu ia bergurau dengan Naruto.
Ia tidak menemukannya.
Yang ia rasakan hanyalah gumpalan rasa bersalah dan juga keharusan untuk melindunginya, keharusan untuk membayar kesalahannya.
Dirinya terasa kosong. Sasuke merasa tidak lagi mengenal sosok yang tinggal di tubuhnya ini. Kenapa ia begitu berengsek?
Setelah satu jam penuh menunggu, Sasuke akhirnya melihat tanda-tanda kesadaran perempuan itu. Ia melihat bagaimana tangan Sakura bergerak dan bagimana matanya berkedip-kedip hingga akhirnya sepenuhnya terbuka.
Keheningan melingkupi mereka ketika Sakura mengerjap beberapa kali dan menatap kosong langit-langit kamar rumah sakit. Ia terdiam lama, seperti sedang terhanyut oleh pikirannya sendiri. Lamunan yang tidak biasa itu berhasil menumbuhkan kejanggalan di mata Sasuke. Sakura diam terlalu lama.
Dengan ragu, Sasuke mencoba meraih telapak tangan Sakura dan meremasnya pelan, sebuah gestur yang selalu dilakukan Sakura tiap kali mencoba menenangkan Sasuke. Dengan begini, Sasuke harap ia bisa melakukan hal yang sama kepadanya. Sakura selalu menyambut baik segala kontak fisik yang terjadi diantara mereka. Ia hampir selalu berinisiatif ketika Sasuke menarik diri dan enggan melakukannya. Tanpa usaha Sakura, pernikahan mereka takkan menghasilkan apa pun. Lupakan saja mengenai Sarada.
Jadi, ketika Sakura menoleh dengan cepat dan menarik tangannya dari genggaman Sasuke seolah ia baru saja tersengat listrik, Sasuke pun tidak dapat menahan kenyitan di dahinya. Ia cukup terkejut dengan reaksi itu. Namun, seperkian detik kemudian ia sudah memasang wajah tak terbaca itu lagi.
Suaranya terdengar normal ketika ia bertanya, "Bagaimana keadaanmu?" seolah apa yang barusan terjadi tidaklah terjadi.
Mengerjap beberapa kali, Sasuke memendam pertanyaan di kepalanya ketika melihat sorot terkejut di mata zambrud itu. Sakura terdiam sesaat, ia memandang Sasuke lama sebelum membuka mulut untuk berbicara. Namun, sebelum suaranya terdengar, ia sudah terbatuk terlebih dahulu.
Sasuke segera meraih air mineral di atas nakas dan memberikannya kepada Sakura. Gelas itu langsung diterima dan dihabiskan hanya dalam tiga kali tegukan. Tindakan itu kembali membuatnya terbatuk.
Meraih gelas dari Sakura, Sasuke pun duduk di tepi tempat tidur dan memijat pelan tengkuk wanita itu. Suaranya terdengar lelah ketika berujar, "Kau harus lebih hati-hati."
Kembali mengejutkan Sasuke, Sakura menyentak lengan Sasuke untuk menjauh. Ia kini memandang suaminya dengan alis mengerut.
"Aku... sudah baikan."
Sasuke meletakan gelas kembali ke atas nakas. Ia beranjak duduk ke kursi yang tadi di tempatinya ketika mendengar pertanyaan parau dari mulut Sakura.
"Uhm, Sasuke, apakah ini rumah sakit?"
Sasuke?
Mengerjap pelan, Sasuke mengangguk kaku, menyingkirkan pertanyaan besar di kepalanya ketika mendengar Sakura memanggil namanya secara langsung alih-alih panggilan kasih yang biasa ia berikan kepadanya.
"Apa yang terjadi pada misimu?" tanya Sasuke mencoba mengalihkan pikiran.
Sakura kembali terdiam sesaat. Pandangan matanya mengeruh tanpa sebab dan Sasuke melihatnya meremas selimut yang berada di pangkuannya. Kepalan tangannya teramat kencang hingga membuat buku-buku jarinya memutih.
Merasakan ketidakberesan, Sasuke segera berujar, "Tidak perlu kau jelaskan sekarang."
Seolah teringat akan keberadaan Sasuke, Sakura mendongakkan kepala menatap lelaki itu. Mata keruhnya mulai menjernih. Ketika mengerjap, emosi yang ditafsirkan Sasuke sebagai bentuk kemarahan itu telah menguap entah ke mana. Sorot mata Sakura sudah kembali normal. Namun, tetap terlihat berbeda. Sasuke tidak tahu bagaimana ia bisa menyimpulkan yang demikian. Tapi, apa pun jenis tatapan itu, Sakura tetap terlihat berbeda.
"Mereka semua tidak normal," ungkapnya pendek. Ia menyenderkan diri di kepala tempat tidur dan melanjutkan, "Ada yang salah dengan mereka. Aku tidak tahu bagaimana menyebutnya. Tapi, mereka... mereka seperti orang yang telah dicuci otaknya, mengingatkanku pada Sai ketika ia masih berada di dalam Root. Semua perilakunya seperti disetel sesuai permintaan atasannya."
"Apakah karena pengaruh obat?"
Sakura mengedikkan bahu dan memeluk bantal yang tadi ia gunakan untuk tidur.
"Mungkin? Kukira hanya racikan bahan kimia yang bisa membuat orang-orang gila. Kebanyakan peneliti selalu begitu, bukan?" ungkapnya dengan ringan sebelum kemudian menghela napas pelan dan bertanya, "Sudah bisakah aku pergi? Seluruh aroma obat-obatan ini membuat kepalaku sakit."
Sasuke kembali menaikan sebelah alisnya. Ia menatap Sakura heran, teramat heran.
"Kau bekerja di rumah sakit."
Sakura kembali mengerjap, namun segera menimpali, "Apakah seorang medis dilarang membenci aroma obat-obatan? Aku bertahan dengan semua ini karena hati bersihku yang selalu ingin menolong orang-orang."
Sudut mata Sasuke terasa berkedut.
Sejak kapan Sakura suka bergurau dan mencoba menimpali segala perkataanku?
"Ne, Sasuke, kau masih di sini? Masih dengar suaraku?" tanyanya sambil mengibaskan telapak tangan di depan wajah Sasuke.
Sasuke kembali terkejut. Ia memandang Sakura aneh sebelum wajahnya berubah menjadi khawatir. Tanpa banyak kata, ia segera meletakan punggung tangannya di dahi wanita berambut merah muda itu, merasakan hangat tubuhnya yang normal. Telinganya menangkap protes kecil dari mulut Sakura, namun ia sama sekali tidak mengacuhkannya. Alih-alih membalas ungkapan protesnya, Sasuke mengaktifkan Sharingan, memindai istrinya selama sesaat sebelum menonaktifkannya dan bertanya, "Apa yang mereka lakukan padamu?"
Sakura yang sejak tadi tampak gerah dengan perilaku Sasuke pun segera beringsut menjauh. Dahinya mengerut, ia balik memandang Sasuke heran.
"Penyamaranku ketahuan. Mereka mengejarku dan kami bertarung. Aku melarikan diri dan pingsan ketika sampai tepat di gerbang. Memangnya kenapa? Aku sudah mengatakan bahwa aku baik-baik saja."
Sasuke menatap Sakura sesaat, mengenyahkan rasa janggal yang tiba-tiba menggerogotinya. Ia menjauh dari Sakura dan dengan kering berujar, "Kau... lebih aktif bicara dari biasanya."
Mengerjapkan mata, Sakura menatap Sasuke ragu, "Ah, ya. Terlihat aneh, huh? Kepalaku masih sedikit pusing karena racun dari mereka. Sepertinya obat itu membuatku meracau tidak jelas seperti ini."
Sasuke menyimpan informasi mengenai Sakura yang ternyata terkena racun dari sindikat itu. Ia memilih untuk tutup mulut dan menganggukkan kepala. Mengerling ke arah jam dinding yang menunjukan pukul lima sore, Sasuke pun berdiri dan berniat untuk kembali ke kantor Hokage. Ia memberitahu Sakura yanga masih belum bisa meninggalkan rumah sakit. Jawabannya mendapatkan rengutan dari perempuan itu. Di saat yang sama, Sasuke juga mengatakan Sakura yang tidak perlu mengkhawatirkan Sarada karena Kaoru-san--wanita paruh baya yang biasa membantu keluarga Uchiha--telah mengurus keperluan anak pertama mereka.
Ketika pintu kamar pasien terutup, Sakura segera tiduran dan menutup wajahnya dengan bantal. Helaan napas panjang keluar dari mulutnya sebelum ia memutuskan untuk tidur dengan sorot mata yang kembali mengeruh, seolah terdapat beban yang amat berat yang harus ditanggungnya.
oOo
Uchiha Sarada memang masih berusia enam tahun dan baru memulai tahun pertamanya di Akademi Ninja. Namun, ia dikenal cukup cerdas dibandingkan anak-anak lain di kelasnya--minus Nara Shikadai mungkin, tapi Shikadai terlihat terlalu malas hanya untuk menunjukan potensinya. Oleh karena ketajaman otaknya, Sarada tahu bahwa Ayah dan Ibunya tampak berbeda dari orangtua lain pada umumnya. Ia sudah merasakan ini ketika umurnya menginjak empat tahun. Tepatnya ketika ia sudah pandai berkomunikasi dan mulai bertukar cerita dengan teman-temannya.
Sebagai anak empat tahun yang belum mampu memahami dunia orang dewasa, mereka sering mengeluhkan perilaku para orangtua mereka. Keluhan yang sering didengarnya berasal dari Shikadai--tentu saja. Shikadai sering mengeluhkan okāsan yang akan marah kalau ia dan ayahnya tidak mau bangun pagi untuk sarapan. Menurut Shikadai, ibunya sangat mengerikan ketika marah, bahkan ayahnya juga takut kepada ibu. Begitu katanya. Keluhan pertama ini menanamkan sebuah pertanyaan di kepala Sarada.
Kenapa ayah Shikadai bisa takut pada istrinya? Tidakkah ia seharusnya lebih kuat?
Papa Sarada selalu memberitahu bahwa seorang ayah bertugas untuk melindungi keluarganya.
Jadi, jika seorang ayah tidaklah kuat, bagaimana caranya melindungi keluarga?
Keluhan lain ia dengar dari Hyūga Miyo--sang Heiress klan Hyūga. Ia berkata bahwa ayah terkadang bisa sangat berisik karena sering mengajak ibunya bercanda. Hyūga Hinata yang mampu terhibur terhadap hal-hal kecil tentunya tertawa lepas ketika mendengarkan cerita konyol suaminya, Inuzuka Kiba. Miyo yang sering bermain dengan Tama-nīsan mau tak mau tertular oleh sikap serius anak dari Neji ini. Ia sering merajuk pada ayahnya karena mereka sering sekali tidur larut malam di depan televisi sambil mengobrol.
Sarada hanya menatap Miyo-chan dengan bingung ketika mendengarnya, sebab di keluarganya, ia tidak pernah merasakan sesuatu semacam itu. Papa Sarada selalu pulang terlambat di malam hari, sedangkan Mama sudah lebih dulu mengantarkan Sarada ke kamar. Di lain waktu, Papa bahkan tidak pulang ke rumah karena harus melakukan kunjungan politik di desa lain. Kemudian, ketika kedua orangtuanya sama-sama tidak sibuk, Papa lebih senang mengajaknya ke perpustakaan untuk mempelajari apa itu ninja dan sebagainya. Mereka bisa pulang terlambat dan menemukan Mama yang sudah tidur di sofa.
Melihat kedua orangtuanya berisik?
Tidak pernah.
Melihat mereka berdua bercanda?
Uhm.. Sarada mungkin selalu melewatkan momen itu kecuali kalau mereka memang sama sekali tidak pernah melakukannya.
Keluhan terbaru yang didengar Sarada adalah beberapa hari lalu sebelum mereka mulai masuk Akademi. Ia mendengarnya dari Inojin. Anak lelaki itu memang tidak mengungkapkan keluhannya secara langsung di depan Sarada, namun Sarada mendengarnya dari percakapan para anak lelaki ketika mereka sedang bermain games mobile bersama-sama. Saat itu, kalau tidak salah, para anak lelaki sedang sibuk bermain sehingga tidak terlalu menanggapi sang Yamanaka. Namun, ketika anak berambut pirang itu membahas sesuatu mengenai bagaimana cara membuat seorang adik, Shikadai langsung tersedak minumannya dan menatap temannya dengan horor.
Kalau ingatan Sarada tidak salah, Shikadai bertanya sesuatu semacam, "Kenapa kau bertanya seperti itu?"
Inojin mengedikkan bahu tak acuh dan berujar bahwa ia hanya mendengar percakapan kedua orangtuanya ketika mereka berdua sedang saling merangkul satu sama lain di ruang tengah. Shikadai menatap kosong temannya sambil bertanya, "Kau yakin hanya itu yang kau lihat?"
Waktu itu, ia mengerutkan dahi dan mengatakan bahwa ia yang juga tidak tahu pasti karena ia sering sekali melihat orangtuanya berangkulan atau bahkan berciuman.
Sarada mengerjap ketika mendengarnya. Ia menoleh pada Chocho yang terkikik sambil memakan snack favoritnya. Chocho kemudian memandang langit dengan mata berbinar-binar dan mengatakan bahwa ia harap suaminya nanti di masa depan akan seromantis Papa Inojin.
Kejadian aneh itu kembali menimbulkan pertanyaan di kepala Sarada.
Kenapa Chocho ingin mempunyai suami yang... romantis?
Selain itu, apa pula arti kata itu? Sarada tidak tahu. Ia pusing dan memutuskan untuk menanyakannya pada Chocho. Ketika sudah mendapatkan jawaban, kini Sarada mendapatkan pertanyaan lain. Chocho berkata bahwa gestur yang dilakukan kedua orangtua Inojin adalah bentuk dari rasa sayang. Romantisme juga bentuk dari rasa sayang.
Jadi, kenapa Sarada tidak pernah sekali pun menyaksikannya?
Ia hanya sering melihat kedua orangtuanya bercakapan dan terkadang Mama yang tampak menggenggam telapak tangan Papa. Jadi, kenapa hanya itu? Kenapa orangtuanya berbeda? Tidakkah mereka saling menyayangi?
Dipenuhi oleh berbagai pertanyaan seperti itu, Sarada pun berniat untuk menanyakannya pada Mama nanti karena Papa kelihatannya harus lembur lagi di kantor Hokage.
Jadi, pagi itu ketika Kaoru-san mengantarkannya ke rumah sakit, ia langsung memeluk Mamanya erat, membuat perempuan itu terkejut sebelum tertawa rendah. Sebelum Mama sempat bertanya macam-macam mengenai hari pertamanya di Akademi, Sarada sudah terlebih dahulu menyuarakan pertanyaan di kepalanya.
"Apakah Mama dan Papa saling menyayangi?"
Ekspresi Mama yang tampak terkejut sekaligus bingung membuat Sarada mengulangi pertanyaannya. "Chocho memberitahuku kalau tiap orangtua akan saling menyangi. Bagaimana dengan Mama dan Papa?"
Tiba-tiba Mama tertawa. Tawa yang sama sekali tidak diprediksikan oleh Sarada karena Mama jarang tertawa. Ia lebih sering tersenyum. Senyum manis yang terkadang membuat Sarada ingin menangis karena ada sesuatu yang salah di dalamnya. Tangan Mama yang mengacak pelan rambut Sarada membuat Sarada mencebikkan bibir dan merengut. Namun, ekspresinya malah membuatnya kembali tertawa.
"Mama, apa yang lucu?!" tanya Sarada sambil merajuk.
Mama masih tertawa. Ia bahkan sampai menyeka air mata di sudut matanya karena terlalu geli melihat rajukan Sarada.
"Kami, kau sangat mirip dengan Sasuke," ungkap Mama sambil menyelesaikan tawanya. Sarada mengerutkan alis ketika Mama membandingkannya dengan Papa. "Ekspresi merajukmu, Sarada-chan. Oh, little one, kau benar-benar manis!"
Sarada menjauhkan diri dari pelukan Mama. Ia masih memasang ekspresi merajuk. Kedua tangannya dilipat di depan dada.
"Mama, aku sudah mengatakannya, jangan panggil aku chan! Aku bukan lagi anak kecil."
"Eh, benarkah? Sarada kecil sudah tumbuh besar?" tanya Mama dengan nada main-main.
"Aku sudah masuk Akademi," timpal Sarada keras. Ia menatap Mamanya dengan alis menyatu. "Mama belum menjawab pertanyaanku."
Mama Sarada terdiam. Ia kemudian tersenyum. Senyum yang sama, namun tidak membuat Sarada ingin menangis. Mata Mama tidak memperlihatkan kesedihan! Mama terlihat bahagia.
"Tentu saja kami saling menyayangi. Kenapa kau menanyakannya, hm?" tanya Mama dengan nada bingung.
"Aku tidak pernah melihat kalian berpelukan," gumam Sarada.
Mamanya mengerjap.
Sarada kembali berujar, "ataupun berciuman. Tidak. Pernah."
Mamanya kembali mengerjap. Kini kedua matanya sedikit melebar. Ia menengokkan kepalanya ke arah jendela dan pintu, sebelum kemudian meletakkan tangannya di kedua bahu Sarada.
"Siapa yang memberitahumu tentang ciuman? Kau tidak--kau belum melakukannya... 'kan?"
Wajah Sarada memerah. Ia mengalihkan kedua tangan Mama dari bahunya.
"Televisi! Ada banyak di televisi," timpalnya secepat kilat. "Kenapa Mama malah balik menanyakannya padaku? Aku... tentu saja belum! Belum pernah!"
Helaan napas lega itu membuat Sarada melihat Mama dengan heran.
"Akan kuurus masalah televisi nanti," gumam Mamanya. Ia pun melanjutkan. "Apa pun yang terjadi, jangan sampai kau melakukannya sebelum berumur tujuh belas, Sarada. Tidak boleh. Bahkan ketika kau sudah menjadi genin, mengerti? Menjadi perempuan itu merepotkan. Kau harus lebih menjaga diri."
Menatap Mama dengan bingung, Sarada pun lebih memilih untuk mengangguk.
"Jadi, kau dan Papa saling menyayangi meski tidak pernah berpelukan dan berciuman?"
Kalau penglihatan Sarada tidak salah, ia sangat yakin bahwa sudut mata Mama tampak sedikit berkedut.
"Yeah, tentu saja," balas Mamanya. Ia kembali mengacak rambut Sarada. "Lagi pula, bentuk kasih sayang bisa diungkapkan lewat banyak hal, Sarada."
"Begitukah?"
"Mm-hm."
Sarada tersenyum. Mama juga ikut tersenyum. Namun, senyum itu menampakkan kesedihan. Senyum itu membuat Sarada ingin menangis. Kenapa Mama tersenyum seperti itu lagi? Di mana senyum yang membuat dadanya hangat?
"Bukankah kau harus berangkat ke Akademi?" tanya Mama. Ia memiringkan kepala. "Ingin kuantar?"
Sarada mengangguk antusias. Ia meloncat turun dari tempat tidur yang didudukinya dan segera menggenggam telapak tangan Mama. Mama yang memang sudah siap meninggalkan rumah sakit pun segera berdiri. Ia mengencangkan genggamannya pada Sarada, menutup mata singkat, dan kembali membukanya.
Ketika mata zamrudnya menatap mata oniks Sarada, ia melihat kerlingan jahil yang tidak pernah dilihatnya dari mata Mama. Sorot mata itu mengingatkannya pada Konohamaru-sensei yang kemarin memperkenalkan diri sebagai guru taijutsu mereka dan langsung membuat mereka yang baru memasuki Akademi tergelepar setelah melakukan latihan ketahanan tubuh.
"Ingin bepergian dengan gaya ninja, Sarada?" tanyanya riang.
Sarada hanya mengertkan dahi.
"Huh, apa maksudmu, Mama?"
Mamanya tersenyum. Senyum yang lagi-lagi mengingatkan Sarada pada Konohamaru-sensei.
"Jadi, kau belum tahu? Baiklah, aku sudah memprediksinya, mengenal siapa orangtuamu," ungkapnya sambil menarik lengan Sarada dan menekankan telapak tangannya di lengan sang Uchiha Muda. Sarada melihat pola segel asing di tangannya. Ketika melihat Mama dengan sorot mata bertanya-tanya, Mama segera menjelaskan, "Segel itu adalah tiruan dari jutsu spesial Nara. Nantinya kau bisa meniru gerakan yang kulakukan, lihat?"
Mama melangkah dan Sarada ikut melangkah.
Sarada mengerjap. Mama tersenyum dan senyumnya terlihat begitu indah.
"Seharusnya teknik ini nanti akan mempermudah proses mengajar taijutsu di Akademi bagi kalian para pemula. Nah, tapi kau tidak perlu mengetahuinya sekarang, Sarada. Yang ingin kuajari adalah berpergian dengan gaya ninja. Persiapkan dirimu."
Dengan senyuman itu, Sarada merasa kakinya ikut tertarik ketika Mama meloncat melalui jendela. Sarada melebarkan mata, merasakan adrenalin baru yang belum pernah ia rasakan ketika berdiri tepat di atas dengan kemiringan yang cukup tajam. Angin di pagi hari terasa menyegarkan. Sarada menoleh pada Mama, melihatnya sedang memperhatikan pemandangan desa dengan ekspresi lembut, namun entah mengapa terlihat sendu. Ketika mereka bertatapan, Mama tersenyum. Senyum menular yang membuatnya ikut tersenyum. Setelah itu, Sarada hanya bisa mendengar desingan angin dan suara tawanya sendiri ketika mereka bergegas ke Akademi dengan meloncat dari satu atap ke atap lain.
Sarada benar-benar merasa dirinya sudah menjadi ninja.
Sejak dulu, ia ingin melakukannya. Tapi, Mama melarangnya. Kini, ketika Mama mengajaknya dengan senang hati, Sarada sangat senang. Ia merasa bebas. Ia bahagia.
Mama terlihat berbeda. Tapi, Sarada sama sekali tidak mempermasalahkannya karena ia akan selalu menyanyangi Mamanya. ]
