Gekkan Shoujo Nozaki-kun

©Izumi Tsubaki sensei

.

A/N : "Ini bukan soal apa yang anda katakan, tapi bagaimana cara mengatakannya."—Erika Martines (psikolog Miami). Dedicated for #EyesVoiceHear

.

Badai —

Chapter 2

.

.

.

Hentakan-hentakan kaki membuat lantai kayu berdecit. Suara langkah kakinya begitu keras dan membuat khawatir. Tawa itu akhirnya muncul, diantara sulitnya kata terujar tawa itu mengahampiri permukaan. Menerjang angin dan menghempaskan awan sangat jauh. Melompat dari telinga Yuzuki lalu ke telinga Mikoto. Pria yang tengah menikmati kopi di teras dan membaca koran mingguannya hanya tersungging lembut. Sementara sang ibu, "CHIYO! SUDAH KU BILANG JANGAN BERLARI DILANTAI ATAS!" ia berteriak sangat kecang hingga angin pun enggan melawannya.

Tawa itu semakin kencang menyapa telinga Yuzuki, pinggang rampingnya di dekap oleh sang pemilik tawa.

"U... aha.. o" katanya.

Yuzuki melempar pandangannya pada pemilik mata ungu yang—tidak—menatapnya. "Ohayou tuan putri!" Yuzuki mengecilkan api kompor. Lalu ia menyejajarkan pandangan matanya dengan mata Chiyo. "Sudah ibu bilang untuk tidak berlarian di dalam rumah, kan?" anak itu mengangguk. Surai oranyenya menari indah, menggelitik bahunya sendiri. "He... kau nakal ya, tidak mendengar kata ibumu." Kemudian anak kecil di depan sepasang amber menggeleng hebat. Matanya berpijar, ia memang tak dapat memandang sang ibu tapi ia tahu ada sedikit kebahagian dibalik amarah sang ibu.

"AA..AA..." tidak tangannya bergerak kekanan dan kiri. Menegaskan ia tak melawan ibunya.

"Ya... kau anak yang baik, Chiyo jadi berhentilah berlari di dalam rumah."

Ia terdiam. Mulutnya ingin berujar sesuatu, bibir itu sudah sedikit terbuka. Tapi ia menyerah.

Aku hafal isi rumah ini ibu!

"Aku akan membantumu bersiap ke sekolah setelah selesai membuat sarapan. Tunggulah bersama ayah, hm?"

"Ha..." iya.

Dengan cepat langkah kakinya berlari menerjang udara hampa melewati ruang tengah, lalu ke ruang tamu, dan berakhir di teras dengan udara dan hempasan angin yang bebas. Anak perempuan berusia delapan tahun itu mencari sosok ayahnya, ya dia hafal dimana ayahnya duduk tapi kali ini kursi itu kosong. Ia menyentuh dudukan kursi, masih hangat. Tapi ia tak dapat menemukan pria berambut merah itu. Bibirnya mulai mengerucut, sedikit kesal tak menemukan sosok yang akan memeluknya sangat erat.

"Kau tidak bisa menemukanku! Akhirnya!" ujar sang ayah begitu bahagia. Untuk pertama kalinya ia dapat mengerjai putri semata wayangnya.

"uh .. a ..u" tidak ayah, aku menemukanmu!

Anak perempuan itu berhasil menangkap lengan yang ada di belakangnya. Menggenggamnya dengan erat hingga pria itu tidak bisa bersembunyi lagi.

"Kau curang!" sergah sang ayah. Chiyo hanya tertawa, tawanya renyah dengan suara sedikit terputus-putus. Mikoto mengangkat tubuh Chiyo, malaikat kecil itu bisa merasakan kakinya melayang tak menapaki lantai. Tangannya terbentang lebar begitu sang ayah memutar tubuhnya. Menari bersama angin di bawah pohon mangga yang rindang. Bersembunyi dari sengatan matahari dan melompat untuk mendapatkan kehangatannya. Mikoto menangkapnya dengan sempurna, pendaratan paling aman dan nyaman yang selalu Chiyo rindukan dikala sang ayah bekerja.

"HUA! Kau bau, Chiyo!" ucap sang ayah begitu selesai menciumi pipi anaknya.

"A ... ah .." tidak ayah! Ayah yang bau!

Kepalanya bergoyang hebat, menolak segala tuduhan yang terlempar dari bibir sang ayah. "Eh... kau belum mandi yah?" kemudian tawa itu pecah melebur dalam ketidakberdayaan Chiyo. Ia sangat ingin melihat bagaimana wajah ayahnya saat tertawa, seperti apa warna mata ayahnya, apakah warna mata miliknya sama dengan sang ayah? Atau apakah wajahnya persis dengan sang ayah? Ia ingin melihat segala hal yang mengaitkan dirinya dengan sang ayah, sangat ingin.

"CHIYO! MANDI!"

"AH! Benarkan kau belum mandi?"

Tawa di rumah itu tak pernah hilang, bukan dari bibir anak kecil yang mulai bisa mengeluarkan suaranya walau terbata. Tawa itu mengalir dari sepasang insan yang tak pernah siap dengan takdir yang menanti putri mereka. Takdir yang tak pernah nampak begitu jelas. Mata anak itu tidak pernah bisa melihat berbagai macam warna seperti ayahnya yang seorang arsitek, atau bibirnya tak pernah bersenandung seperti sang ibu yang mantan vokalis band indie. Kedua insan itu tidak pernah benar-benar yakin dengan kebahagian yang sesungguhnya.

.

.

"Chiyo-chan?" sapa sebuah suara yang sedikit berat namun begitu lembut. Chiyo tidak tahu jika ia seorang pria dengan mata biru laut dan surai ungu plum. Matanya tak pernah mengijinkan ia untuk melihat semua itu. "Bagaimana kabarmu?" tanyanya.

"a .. hi .. u" baik, sensei.

"Wakamatsu sensei." Sapa Yuzuki. Ia masih menggenggam jemari mungil Chiyo. Tubuhnya lebih kecil dari anak-anak seumurannya. Kepalanya mendongak ke arah sang ibu yang tak pernah ia tahu rupanya. Meski Mikoto berkata tentang mata amber cantik sang ibu, Chiyo tidak pernah tahu seperti apa warna amber itu. Yang ia tahu hanya kegelapan, tanpa cahaya setitikpun. "Hari ini tolong jaga Chiyo, lagi." imbuhnya.

"Tenang saja nona Mikoshiba. Chiyo cukup cerdas dalam membaca huruf braille, ia juga sudah belajar menulis huruf."

Senyuman lebar tertarik dari pipi Chiyo. Begitu banyak yang ingin ia katakan kepada sang ayah, kepada sang ibu. Sangat banyak, mungkin jarinya akan benar-benar keriting untuk menulis semua itu.

"Baiklah." Yuzuki memegang pipi Chiyo lembut. Ia mencium kening putrinya, lalu turun ke hidung, kemudian pipi-pipi tembam itu juga tak luput dari kecupannya. "Ibu akan menjemputmu, jangan kemana-mana sebelum ibu datang. Mengerti?"

"Un..." Rojar!

Jemari mungil Chiyo berpindah tangan. Ia bisa merasakan tangan yang lebih besar dari milik ibunya. Sama seperti ayah, tangan itu besar dan kuat. Menuntunnya ke ruang kelas yang sudah agak bising. Ia dapat mendengar setiap canda dan tawa, ia bisa mendengar umpatan yang cukup kasar dilontarkan anak lainnya, ia sedikit senang karena tak perlu mengumpat dalam bentuk ujaran. Tapi, selalu ada tapi dalam hati Chiyo. Ia hanya ingin tahu, seperti apa Wakamatsu sensei. Apakah dia tampan? Apakah dia tinggi dan besar? Ibunya bilang ayah tinggi namun tidak cukup besar, tapi dia tidak kurus juga. Entah bagaimana imajinasinya bisa menggambarkan sang ayah dengan sempurna. Jika warna putih saja ia tidak tahu.

"Duduklah Chiyo-chan."

Wakamatsu mendudukkan tubuhnya di lantai. Ia tak menggunakan kursi dalam kelasnya, katanya agar lebih nyaman. Jika ia butuh meja maka ia akan mengeluarkan meja. Tapi, guru ini membebaskan muridnya dalam belajar. Ia tahu, sebagai seorang guru dari murid difabel, ia tidak bisa memperlakukan semua murid dengan metode yang sama. Wakamatsu selalu tahu, Chiyo senang membaca tanpa meja. Anak kecil itu akan menelungkupkan tubuhnya, membuat kakinya menari menghempas udara sementara jemari mungilnya meraba setiap lembar buku braille.

Seperti Chiyo, di kelas ini ada empat orang anak dengan kondisi yang serupa dengan Chiyo. Ada yang tak bisa melihat, ada juga yang tak dapat mendengar, dan ada yang tak bisa berujar. Mereka semua sama, butuh seorang guru seperti Wakamatsu yang begitu sabar dengan caranya sendiri. Chiyo mengakui dirinya sangat menyayangi wakamatsu. Ia berhasil menulisnya dalam buku catatan.

"Sensei!" seru seorang anak laki-laki bernama Tomoda. Ia tidak bisa mendengar namun suaranya sangat lantang dan keras. Wakamatsu menoleh pada Tomoda sedangkan Tomoda menunjuk ke arah lain. Ke arah Chiyo yang sedang memamerkan buku catatannya.

Mata biru Wakamatsu membesar, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Matanya hampir menitikan air mata begitu tulisan tangan yang sangat tidak rapi terukir disana.

Aku sayang Waka sensei!

Air matanya benar-benar tumpah. Kalimat sempurna pertama yang berhasil di tulis oleh Chiyo berhasil membuat tanggul pertahanannya bocor. Ia tak berani membuka mulutnya, tangan besar itu menutup celah dimana isaknya akan pecah.

"Un .. nn?" sensei?

Wajah Chiyo murung seketika. Ia bertanya-tanya apakah senseinya tak bisa membaca atau ia tidak senang membacanya. Chiyo membalik kertas catatannya, ia menulis sesuatu. Cukup lama untuk menghasilkan sebuah kata,

sensei?

Wakamatsu tak menjawab, ia masih menahan tangisnya. Sementara murid lain hanya terdiam menatap Wakamatsu yang menangis, beberapa tahu jika Wakamatsu sangat bahagia. Di kelas ini hanya Chiyo yang tidak dapat melihat. Itulah mengapa tak ada yang berani mengeluarkan satu katapun.

Apa kau marah sensei?

Wakamatsu masih bergeming dalam tangisnya. Chiyo semakin khawatir, hingga tak tahu apa lagi yang harus ia tulis. Cukup lama jeda yang dibuat oleh dirinya sendiri.

Apa sensei membenci kata-kataku?

Mata Wakamatsu bergetar. Begitu banyak yang ingin disampaikan oleh Chiyo, ia tak pernah tau itu. Anak perempuan itu selalu bergeming dengan kata-kata tak jelas. Kali ini, ia bisa menangkap semua perasaan Chiyo. Semuanya.

"Aku tidak membencimu, Chiyo-chan."

Sesuatu yang baru menghentak pendengaran Chiyo. Suara Wakamatsu sensei yang begitu ceria kini terdengar parau di telinganya. Ia tidak pernah mendengarnya, meski dari ayah ataupun ibunya. Ia tak pernah mendengar suara tangis menyapa telinganya. Tidak pernah. Chiyo gelagapan, mata ungunya bergetar hebat. Ia sendiri tidak pernah menangis, ia tidak tahu seperti apa itu menangis. Bahkan ketika dokter menyuntikkan jarum pada lengan kirinya ia tak menangis.

"Ja—jangan takut." Sela Wakamatsu begitu melihat air muka Chiyo yang sedikit khawatir. "Aku senang membaca tulisanmu, Chiyo-chan. Sangat senang." Katanya. Dan air mata itu lolos dengan sempurna melewati pipi dan turun ke dagunya, hingga menetes ke lantai.

.

.

Seperti matahari yang bersinar, wajah Chiyo nampak lebih bahagia dari hari-hari sebelum ia bisa menulis. Ayahnya—Mikoto—memberikan sebuah catatan kecil yang bisa ia bawa kemanapun. Yang dapat membantunya untuk mengutarakan perasaannya. Ketakutan, rasa cemas, bahagia, kasih sayang, segala hal yang mengganjal dalam hatinya yang tak pernah terlontar dari bibir tipisnya.

"Bagaimana menurutmu ayam goreng buatan ayah? Lebih enak daripada buatan ibumu, kan?"

Chiyo menggeleng. Lidahnya mungkin tak bisa berujar dengan baik, tapi indra perasanya befungsi sangat akurat. Ia mengambil catatan berwarna merah muda yang manis, mengukir kata-kata didalamnya. Sekarang anak perempuan itu sudah menginjak remaja. Hari ini, usianya tepat lima belas tahun. Satu kata tidak membutuhkan waktu yang lama.

ASIN!

"Eh? Be—benarkah?" Chiyo mengangguk kencang. Mata ungunya ikut terpejam karena takut jatuh.

"Apa ada masalah selama aku pergi?" sela sebuah tawa diantara kehangatan minggu sore.

Chiyo mengambil catatannya kembali, Ayah membuat ayam goreng dan rasanya ASIN!

"HO! CHIYO!"

"Ah... seperti itu rupanya. Kau ingin menyaingi masakanku, Mikoto."

"Ah.. i—itu—"

Suara tawa yang renyah menggema ditelinga Yuzuki dan Mikoto. Chiyo selalu tertawa ketika ayahnya kalah, dan berakhir dengan suara gelagapan. Chiyo selalu suka suara ayahnya yang seperti itu. Ia juga suka suara Ibunya ketika sedang bersenandung. Ia ingat betul setiap nada dan lagu yang di lantunkan ibunya, tapi ia tak pernah bisa menirunya. Meskipun ia menulis semua liriknya, tak ada nada yang terujar tak ada senandung yang terdengar dari bibir mungilnya. Tidak ada.

"Chiyo." Yuzuki menghampirinya. Mencium keningnya dengan lembut, aroma matahari dan mawar menari di hidungnya. Bau ibu. Begitu ia menyebutnya.

"Selamat ulang tahun." Kata Yuzuki kemudian.

"Aa ... ua..ou" terimakasih.

"HI! Kenapa usiamu terus bertambah, Chiyo!"

Chiyo membuat ekspresi kesalnya. Ia tidak pernah tahu seperti apa wajah seseorang saat kesal, tapi beginilah ia ketika kesal matanya akan mengekor pada asal suara dan alisnya akan bertautan. Ia kembali menulis dalam catatannya, Ayah ingin aku kecil terus?

"Tentu saja!"

Tapi tubuhku tidak pernah besar, ayah! Aku masih anak kecil, kau lihat?!

"Un, Ya. Tubuhmu masih kecil tapi, tapi, tapi... YUZUKI!"

Chiyo heran dengan sikap ayahnya dua tahun terakhir ini. Selalu saja sensitif dengan pertambahan usia Chiyo. Dia akan lebih protektif dibandingkan ibunya, ia akan memantau siapa saja teman Chiyo. Atau dengan siapa Chiyo berkirim pesan melalui ponsel. Ayahnya tak pernah membiarkan Yuzuki mengambil tugas untuk membacakan dan mengetikkan pesan di ponsel. Tidak akan pernah. Meski isinya hanya seputar tugas sekolah atau sesekali membahas teman mereka yang lainnya. Mikoto tak ingin terlewatkan satu hal pun.

Jika dibandingkan Chiyo yang terheran-heran dengan sikap over protective sang ayah, Yuzuki lebih suka dengan sikap Mikoto ketika malu atau bingung bagaimana cara mengatakan 'berhati-hatilah bergaul dengan teman laki-lakimu,' atau 'itu menstruasi namanya,' atau juga seperti saat ini 'tubuhmu memang kecil tapi berbentuk! Dadamu mulai tumbuh, dasar bodoh.'

Mikoto selalu menyerahkan hal-hal seperti itu pada Yuzuki. Bagaimanapun anak gadis akan lebih butuh bantuan ibunya daripada sang ayah. Hal-hal yang tak dapat dijelaskan begitu gamblang, hal-hal yang bahkan akan membuat ayahnya malu sendiri.

"Kau tidak akan mengerti perasaan seorang ayah, Chiyo." Ujar Yuzuki akhirnya. Begitu lembut dan menenangkan. Ya, Chiyo tidak akan pernah merasakan perasaan seorang ayah, tapi apakah ia juga bisa merasakan perasaan seorang ibu seperti ibunya.

Apa aku bisa merasakan perasaan seorang ibu?

Chiyo menunjukkan kalimat dari catatannya. Untuk pertama kalinya, rumah keluarga Mikoshiba Mikoto terisi dengan sebuah tangis. Tangis penuh keheningan. Air mata menerobos kelopak mata Mikoto. Sudah lima belas tahun mata merahnya tak basah seperti ini. Takdir putri tunggalnya begitu buram dan tak tentu arah, apakah arsitek atau penyanyi. Yang pasti tidak keduanya. Bahkan sekedar menjadi seorang ibu rumah tangga saja Mikoto tak dapat menerawangnya.

"Ya. Kau akan merasakannya." Jawab Yuzuki. Ia memegang bahu Mikoto begitu kuat. Menenggelamkan kepalanya untuk menahan isak yang akan menerobos telinga Chiyo. Dalam kegamangan, telinga Chiyo dapat mendengar lebih dari yang diperkirakan orang tuanya. Meski samar, ia tahu suara parau Yuzuki persis seperti senseinya ketika sekolah dasar. Kali ini rasanya lebih berbeda, seperti ada dorongan dalam hati Chiyo untuk ikut menangis.

Apa itu tidak mungkin?

Ia hanya dapat membatinkan perasaanya. Berharap kedua orang tuanya tak menangkap kegamangan dari balik senyuman yang ia kembangkan saat ini. Mereka diam-diam saling menyembunyikan perasaan satu sama lain.

.

.

.

To be Continued

.