Mon amour à Paris
.
.
Sequel from "Idol's Love Story"
.
.
Kamichama Karin ; Kamichama Karin chu © Koge Donbo
Mon amour à Paris © Invea
.
.
Warning : GaJe! OOC! OC! OOT! Drabble! Typo! De eL eL
.
.
Second Day : Shock With You
.
.
Terik mentari pagi menyilaukan mata pemuda berambut hitam yang tengah tertutup. Tubuhnya sesaat sempat bergerak sebelum pada akhirnya pemuda tampan itu terbangun. Hampir saja ia hendak bangkit sebelum ia melihat sosok kekasihnya yang tertidur lelap di atas tubuhnya. Pemuda itu terkekeh sesaat dan kemudian mengusap lembut kepala sang gadis. Gadis itu langsung terbangun tak berapa lama. Wajahnya langsung memerah melihat pemuda itu.
"Gya! Mesum! Ngapain kau tidur di tempatku!"
Plak! Sebuah tamparan sekuat tenaga menjadi santapan Jin di pagi itu. Pemuda itu mendengus sementara kekasihnya menutup tubuhnya dengan selimut.
"Dasar bodoh, kau yang tidur di atasku!" keluh Jin. Kekasihnya itu─Kazusa─berusaha tak peduli dan bergegas menuju kamarnya.
.
.
Jin tengah menyeruput kopi panas yang ia seduh saat matanya menatap ke arah Kazusa yang membawa tas mininya.
"Mau ke mana?" tanya Jin heran.
"Belanja," jawab Kazusa dengan dingin.
"Oh," tanggap Jin tak kalah dinginnya dari kekasihnya itu. Kazusa menjadi sedikit kesal karenanya.
"Kok cuma oh sih tanggapannya?" keluh Kazusa. Jin tersenyum menyeringai mendengarnya. Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke arah Kazusa.
"Xixixi, memangnya kau mengharapkan apa dariku? Kau ingin ku antar ya?" goda idola berambut hitam sekelam langit malam itu. Wajah Kazusa memerah. Otak pintarnya dengan segera memerintahkan tangan kanannya untuk mengepal dan langsung melayangkan tinju pada pipi sang idola. Sontak sang idola langsung terpelanting ke belakang dan terjatuh dengan sangat tidak elitnya. Kalau ada wartawan Jepang di sana, ini akan menjadi skandal besar!
"Jangan harap!" bentak Kazusa seraya membanting pintu depan. Jin yang masih tersungkur hanya mengusap-usap pipi putihnya yang kini tampak membengkak. Dalam hati, ia sedikit merutuk. Gengsi dong langsung mental waktu dipukul, sama cewek lagi!
'Sampai kapan sih dia bersikap tsundere? Saat di Tokyo dia patah hati gara-gara aku. Giliran aku telah membuka hatiku, kenapa dia jadi bersikap seperti itu sih? Dasar aneh,' pikir Jin. Ia kemudian tak mau ambil pusing dan bergegas mengambil mantel hangatnya. 'Sebaiknya aku ikuti saja dia,'
.
.
Jin masih mengenakan kaca mata hitamnya seraya berbunyi di balik sebuah gang yang sempit. Pandangan matanya masih tertuju pada Kazusa yang tengah memilih sayuran dan buah-buahan segar di sebuah toko. Perlahan, Jin berusaha memandang gadis berambut pirang itu dengan jelas.
Namun, naas baginya. Ketika ia tengah melangkahkan kaki kanannya, alas kakinya menginjak sesuatu yang lembut. Jin mengerutkan keningnya. Rasanya ia mengenal kelembutan itu. Ia berpikir dan terus berpikir, sampai—
"Miauwww!"
—seekor kucing menjerit. Rupanya kaki Jin menginjak ekor kucing jalanan. Kucing tersebut merupakan kucing kampung berwarna hitam keabu-abuan dan memiliki cakar yang tajam. Sontak saja Jin melepaskan pijakannya pada ekor kucing tersebut. Kucing itu langsung saja mengajak Jin berkelahi. Rupanya sang kucing tak bisa memaafkan kelakuan Jin yang tak sengaja menginjak ekornya. Perkelahian pun tak dapat dihindarkan lagi dan yang sangat menyedihkan, Jin sampai ambruk karenanya. Ia terjatuh ke jalan dicakar dan diserang kucing itu. Jelas saja hal ini menarik perhatian pejalan kaki, termasuk Kazusa yang tengah menimbang buah apel dan jeruk yang ia beli.
"Mr, can I borrow my items purchased later?" tanya Kazusa pada pedagang buah dan sayur di toko itu. Entah mengapa, ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi di antara kerumunan orang di dekat gang. Sang penjual tersenyum ramah padanya.
"Sure, Miss,"
Kazusa kemudian menghampiri kerumunan itu. Diperhatikannya sang pembuat keramaian itu. Rasanya gadis itu mengenalnya. Rambut hitam itu, mantel itu, kaca mata itu dan—
"Ah, Kazusa, please help me, my darling!" seru pemuda berambut hitam yang tengah berkelahi dengan kucing itu seraya menatap ke arah Kazusa. Setiap orang di sana pun langsung menatap gadis itu. Membuat wajah gadis itu memerah padam.
—dan gadis itu pun merutuk. Seandainya saja aku mati detik ini.
.
.
"Kazusa, kau tega sekali!" keluh Jin seraya mengelusi wajahnya yang kini dipenuhi dengan cakaran dari sang kucing jalanan.
"Dengar ya, idola mesum. Hari pertama kau telah mempermalukanku dengan makan di restaurant bintang lima dengan jaminan kartu paspor dan tadi, kau kembali mempermalukanku dengan tingkah laku kekanak-kanakkanmu berkelahi dengan kucing! Itu sangat konyol dan memalukan!" seru Kazusa dengan nada ketus tak menghiraukan orang-orang di sepanjang jalan yang menatap mereka—bertanya-tanya, tak mengerti dengan bahasa Jepang yang mereka berdua katakan.
"Semua itu kan kecelakaan!" sahut Jin membela diri. Hh, terima kasih atas perbuatanmu, kucing sialan! Keluhnya dalam hati.
"Hh, terserah dan ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan di tempat itu?" tanya Kazusa sedikit curiga.
"Err—hanya berjalan menuju restaurant kemarin untuk membayar hutangku," jawab Jin mencari-cari alasan. Bisa berabe masalahnya jika gadis itu tahu bahwa ia tengah membuntutinya. Oh bagus, Jin, kau mungkin akan beralih profesi menjadi seorang stalker!
"Dan sudahkah kau membayar hutangmu itu?" tanya Kazusa dengan tatapan seram. Jin langsung bergidik.
"Kucing itu menyerangku sebelum aku sampai di restaurant," ujar Jin.
"Good! Kalau begitu, jangan pulang sebelum kau selesaikan urusan hutangmu!" seru Kazusa seraya menendang Jin dan membuat pemuda itu melayang jauh ke belakang. Gadis itu langsung memasuki apartemennya dan Jin yakin—ralat, sangat yakin gadis itu akan mengunci apartemennya.
.
.
Jin menatap restaurant yang ia masuki bersama Kazusa kemarin. Dengan sedikit keluhan, ia memasuki tempat itu dan bergegas mencari manajernya. Mereka kemudian berbincang sejenak sebelum pada akhirnya Jin mengeluarkan dompet hitam di saku celananya. Dan saat ia membuka dompetnya—
Jeng! Jeng! Jeng!
—kosong melompong pembaca! Mata Jin terbelalak menatapnya. Ia baru ingat kalau ia salah membawa dompet. Jin langsung nyengir menatap manajer yang tampak semakin marah—merasa dipermainkan oleh pembeli yang berani mengutang padanya.
.
.
Jin memasukkan tangannya ke dalam mantelnya. Cukup hangat meski itu masih belum cukup untuk menghangatkan tangannya yang terasa beku. Matanya tampak menatap sekeliling. Salju turun perlahan menghiasi jalanan Paris malam itu. Dengan ragu, ia mengetuk pelan apartemen yang ia tempati bersama Kazusa.
Brak! Kazusa membuka pintu apartemen dengan cepat. Alangkah senangnya ia mendapati kekasihnya ada di depan pintu.
"Jin!"
Pemuda itu langsung terjatuh saat gadis itu memanggil namanya.
.
.
Kazusa memegang tangan Jin yang kini terasa beku sedingin salju. Nafas pemuda itu tampak tergesa dan asap putih terlihat keluar setiap ia bernafas. Pemuda itu tampak sangat kedinginan bahkan meski Kazusa telah membaringkannya di atas kasurnya yang hangat plus selimut tebal. Tak lupa ia pun menyalakan pemanas ruangan, tapi pemuda itu masih tampak kedinginan.
Perlahan dengan sedikit berat, Jin membuka matanya. Sosok Kazusa lah yang pertama kali ia lihat.
"Ka—Kazusa, maaf," gumamnya—samar namun terdengar jelas.
"Astaga Jin! Apa yang terjadi sampai kau bisa pingsan karena kedinginan seperti ini?" tanya Kazusa berusaha menyembunyikan rasa kekhawatirannya.
"Hanya menyelesaikan masalah hutang kita," jawabnya pelan.
"Menyelesaikannya? Dengan cara apa? Kok bisa sampai kayak gini?"
"Kau tahu kan, kecelakaan kecil bisa terjadi kapanpun," ujarnya. Kazusa mengangguk dan menatapnya dengan penuh kekhawatiran yang berusaha ia sembunyikan.
"Kecelakaan itu terjadi lagi. Aku salah mengambil dompetku. Aku malah mengambil dompet yang kosong. Mereka kemudian memintaku mencucikan peralatan kotor sampai restaurant tutup dan kebetulan pemanas ruangan di sana tengah rusak," ujar Jin. Kazusa tersentak. Pemuda itu rupanya mencuci piring di restaurant sampai selarut ini hanya untuk membayar hutang! Aih, aih, dimana harga dirimu sebagai seorang artis idola, Jin Kuga!
"Astaga! Kau ini benar-benar bodoh! Sangat bodoh! Bodoh!" Kazusa tak dapat lagi menyembunyikan perasaannya. Pertahanannya runtuh dengan meluruhnya air matanya.
"Hei, sudah. Jangan menangis! Setidaknya aku tidak mempermalukanmu dengan mengajakmu mendatangi restaurant hari ini," hibur Jin. Dan setidaknya itu bisa membuat Kazusa sedikit menghentikan tangisannya.
Jin tersenyum. Ia kemudian menarik tubuh Kazusa agar turut berbaring di tempat tidur tersebut. Dengan segera pemuda itu memeluknya. Kazusa hendak protes namun, sebelum itu terjadi, Jin kembali bergumam.
"Paris jauh lebih dingin daripada Tokyo. Hangatkan aku seperti kemarin malam, Kazusa-chan... Zzzz,"
Kazusa terdiam dalam helaan nafas tenang Jin. Pemuda itu telah tertidur dengan pelukan erat pada Kazusa.
'Da—Dasar idola mesum yang baka!' rutuk Kazusa dalam hati.
.
.
End of Second Day
Do you want to continue third day?
Review Please?
